Meet the new Joker.. (Suicide Squad Review)

IMG_2712

Bercerita tentang suatu kelompok pemerintah yang merencanakan sebuah misi rahasia. Lalu mereka mengumpulkan penjahat-penjahat kelas atas yang dikurung untuk menjalankan misi tersebut. Deadshot, Harley Quinn, Joker, Captain Boomerang, Enchantress, Killer Croc, El Diablo dan lainnya berusaha menjalankan misi tersebut dibawah arahan Rick Flag dan Amanda Waller.

Selanjutnya, anda pasti sudah banyak mengetahui. Film yang gembar gembornya sudah diluncurkan lewat dari 1 tahun lalu itu merupakan adaptasi dari komik terbitan DC Comics, yang bisa kita anggap sebagai “saingan” Marvel. Dan pada dunia film komik, DC yang telah ketinggalan beberapa langkah dari Marvel yang sepertinya lebih sukses menghasilkan film-film adaptasi komik berkualitas mulai mencoba menancapkan kukunya di hati penggemar film komik. Seperti kita lihat sudah ada beberapa plan film yang akan dikeluarkan DC hingga beberapa tahun ke depan dan Suicide Squad menjadi salah satunya tahun ini.

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya amati dari film ini sebelum penayangannya. Pertama, tentu saja kehadiran Joker dan bagaimana Jared Leto bisa atau tidak menandingi kharisma Heath Ledger sebagai Joker “lama” di The Dark Knight yang fenomenal itu. Kedua, apakah film ini bisa memenuhi ekspektasi para penggemar (dan/atau bukan penggemar) film atau film komik secara khusus. Ketiga, saya agak penasaran dengan kemunculan tokoh-tokoh DC lainnya di film ini, yang paling utama tentunya Batman. Dan keempat, bagaimana penampilan para cast di film ini karena menurut saya pribadi, dengan banyaknya tokoh-tokoh penjahat disini apakah masing-masing memiliki peran yang seimbang, atau minimal berarti atau ada “gunanya”, atau cuma numpang lewat saja.

Dan mari kita coba bahas satu persatu.

Pertama, Jared Leto sebagai The Joker. Yang saya bisa katakan adalah, HE DID GREAT. Betapa saya tercengang dengan penampilan Joker yang “baru” ini. Kita tak bisa menyamakan Joker yang ini dengan Joker-nya Ledger atau Joker tua nya Jack Nicholson. Joker yang ini lebih sangar, berandal, lebih menyeramkan, dan.. Argh, saya benci kenapa David Ayer kurang banyak menampilkan durasi Joker disini! Dia tampil tidak dalam part yang banyak dan hanya beberapa kali melakukan adegan atau pembicaraan yang kami semua butuhkan. Dan setiap Joker ini tampil, saya selalu tercengang. Leto memang gila. Ini bukan Joker The Dark Knight yang psychotic, ini Joker yang beringas. Dan apabila memang benar Joker Leto ini menjadi lawan Batman-nya Ben Affleck di film stand alone Batman berikutnya, maka perlu kita nantikan apakah Leto mampu melewati penampilan hampir sempurna Ledger sebelumnya.

Dan chemistry Leto dengan Margot Robbie sebagai Harley Quinn, awesome! Akhirnya menjadi kenyataan bagaimana Joker dengan Harley saling merindukan satu sama lain dan melakukan hal-hal gila. Dan setelah melihat mereka musnah lah sudah anggapan chemistry terbaik hanya ada pada Rangga dan Cinta. We want more, Ayer! Segera lah buat film stand alone Joker & Harley Quinn. Yang kurang dari penampilan Leto hanyalah dia nampak lebih kecil untuk menjadi Joker. Posturnya kurang besar layaknya Ledger. Ah, mungkin ini hanya karena saya telah lama terbius sosok Joker Ledger. Sudahlah, anda juga bagus kok Leto.

Kedua, sepertinya untuk ekspektasi, menjadi beragam. Sebelum film ini tayang ada yang memprediksi film ini akan gagal, tidak sebagus yang diharapkan, atau bahkan para die hard (DC) comic movie yang selalu menganggap film keluaran mereka bagus, apa juga akan kecewa. Dan bila ditanyakan kepada saya yang menggemari film komik (namun bukan die hard DC ataupun Marvel), saya akan jawab bahwa film ini tidak terlalu bagus. Yup, awalnya mungkin saya antusias dan tensi mulai terbangun dengan cepat ketika Waller (Viola Davis) mempresentasikan para penjahat di hadapan petinggi-petinggi militer, beserta latar belakang dan kemampuan mereka. Namun di pertengahan hingga akhir film, menjadi membosankan dan kurang kuat dalam penceritaan, seakan hanya “tempelan” saja dan bagaimana mereka semua bisa menaklukan musuh di akhir laga. Saya tidak pandai berbahasa film atau menggurui, namun bisa saya katakan Ayer gagal dalam mempertahankan irama atau plot film ini. Dan setelah selesai film saya bisa bilang “kok begini amat sih akhirannya”. Ya begitulah.

Ketiga, kemunculan para penjahat juga sepertinya ada beberapa yang kurang begitu berfaedah kemunculannya di film ini. Well, memang apa yang kita harapkan? Dalam 2 jam kurang semua harus memiliki peran yang berarti? Itu mah di film sendiri-sendiri saja. Yup, hal itu bisa dimaklumi dan dimaafkan kalau begitu. Dan Batman? Dia tampil cukup berarti meskipun bisa dibilang hanya cameo. Dan membuat saya beranggapan bahwa Ben Affleck semakin cocok dengan peran Bruce Wayne atau manusia bertopeng setengah ini. Memang agak mengingatkan saya pada Batman lawak nya George Clooney sedikit haha.

Eh maaf, itu lebih cocok untuk bahasan keempat. Ketiga, banyak kemunculan tokoh-tokoh DC lain di film ini, dan sepertinya Suicide Squad memang dibuat untuk pemanasan Justice League. Jadi, nantikan saja kemunculan metahumans lainnya dan jangan beranjak ketika credit title sedang diputar. Akan ada “bocoran” untuk proyek DC selanjutnya. Bukan di after credits. I repeat, tidak ada di after credits seperti layaknya Marvel. Mungkin DC tidak mau meniru, haha.

Demikian ulasan singkat saya, dan subjektif sifatnya. Overall, film ini diselamatkan oleh kehadiran Joker. Dan Margot Robbie sebagai Harley Quinn? Tidak usah diragukan lagi. She was HOT! Oh ya, soundtrack atau lagu-lagu tema di sepanjang film juga bagus-bagus. Ada The Real Slim Shady, Bohemian Rhapsody, Grace yang menyanyikan You Don’t Own Me (ini saya suka sekali lagunya) atau bahkan Twenty One Pilots yang lagunya lama-lama enak juga.

Tagged , , , , , , ,

Sabtu Bersama Bapak movie (The Review)

IMG_3162

Selang beberapa lama setelah saya diberitahu seorang teman bahwa ada novel bagus bertema ayah (ya, saya memang se-baper itu bila ada bacaan atau segala hal yang berkaitan dengan ayah), maka saya segera membeli novelnya dengan melihat pengarangnya bertuliskan: Adhitya Mulya.

Sebelumnya saya mengetahui Adhitya Mulya dari beberapa teman pembaca novel. Saya juga tahu bahwa Adhitya Mulya pernah bermain Multiply, situs blogging yang dulu sempat menjadi wadah saya menulis. Ya, hanya itu. Meskipun hanya bermodalkan itu saja tidak mengurungkan niat saya untuk membeli novel yang menurut saya tidak terlalu tebal itu. Dan bagi saya setelah membaca, Sabtu Bersama Bapak adalah bacaan yang ringan, aktual, hangat, bisa dirasakan hampir semua orang, dan menyentuh.

Berbicara tentang menyentuh, adalah subjektif bila kita memandang dari sisi mana suatu novel dikatakan bagus dan menyentuh bagi kita. Ada beberapa faktor diantaranya, mungkin novel itu mampu membawa pembaca larut dalam cerita, suasana yang dalam dan hangat, pemilihan kata-kata yang tepat dan enak dibaca, alur cerita yang enak diikuti termasuk twist cerita, atau yang terakhir, dan ini yang paling mudah membawa hanyut pembaca, adalah kemiripan cerita dengan kehidupan pribadi kita. Tidak harus sama persis, namun mirip-mirip sekalipun sudah mampu membawa kita larut dalam cerita. Dan perihal terakhir itulah yang menjadi alasan saya menjadikan novel Sabtu Bersama Bapak sebagai novel (dan pada akhirnya film) yang menurut saya bagus dan sangat menyentuh.

Tidak perlu waktu lama bagi saya untuk menyelesaikan novelnya, dan review positif saya beralasan karena novel ini memiliki cerita yang tidak biasa. Bagaimana kehidupan sebuah keluarga kecil dengan 2 orang anak tanpa kehadiran dan bimbingan seorang ayah secara fisik, namun tetap bertahan karena sang ayah telah menyiapkan nasihat  dan pesan-pesan kehidupan yang direkam lewat video sebelum sang ayah meninggal dunia, yang diputar setiap hari Sabtu oleh keluarga tersebut.

Bagaimana kedua anak tersebut menghadapi permasalahan hidup yang berbeda, Satya si anak pertama dengan kehidupan rumah tangganya dan Saka si bungsu dengan perjuangan mencari pendamping hidup. Banyak orang dan teman-teman saya terharu membaca novelnya, bahkan mereka sampai meneteskan air mata hanya dalam hitungan beberapa lembar awal novel. Namun entah kenapa itu tidak terjadi pada saya. Memang sedih dan mengharukan, namun tidak sampai bikin nangis. Malah pada akhir-akhir cerita saya menganggap novel itu telah melenceng alur ceritanya menjadi novel cinta (karena cerita pencarian jodoh Saka menjadi sesuatu yang “cheesy”), karena pada awalnya saya telah larut dalam romantisme kerinduan akan sosok seorang ayah. Meskipun saya segera menyadari bahwa bumbu cinta dibutuhkan dalam novel itu agar lebih menarik.

Memang tidak salah karena bila hanya bersedih-sedihan tentang ayah tanpa ada senyum atau tawa untuk Saka yang berjuang menemukan jodohnya, Sabtu Bersama Bapak tentunya menjadi novel tragedi atau novel sedih yang tidak menarik. Tapi kembali lagi ke pandangan masing-masing pembaca, dan kisah Saka menemukan jodohnya bisa dibilang menjadi bukti kecerdasan Adhitya Mulya dalam meramu cerita Sabtu Bersama Bapak menjadi unik mengundang gelak tawa, disamping tema kesedihan yang diangkat karena kehilangan ayah. Tapi memang dasar saya yang baperan bila menyangkut ayah, maka fokus saya lebih kepada bagaimana sosok ayah berusaha keras hadir dalam nasihat-nasihat meskipun sang ayah telah berpindah tempat (ini meminjam bahasa yang dipakai di film).

Dan itu yang terjadi ketika film Sabtu Bersama Bapak resmi tayang. Sebelumnya, saya sudah menaruh harap yang tinggi ketika melihat cast-nya: Arifin Putra, Abimana Aryasatya, Ira Wibowo, Acha Septriasa adalah nama-nama yang tak perlu diragukan kapabilitasnya dalam akting. Satu nama masih menjadi tanda tanya, Deva Mahendra. Bagaimana kita biasa melihat Deva dalam komedi situasi, nampaknya masih perlu dibuktikan di sebuah film. Dan bagusnya, Deva berhasil membuktikan itu. Perannya sebagai Saka yang nerd, gila kerja, selalu gagal dalam urusan asmara plus tingkah konyolnya berhasil dibawakan dengan baik. Catatan agak minor justru dibebankan pada Arifin Putra. Selama ini kita melihat Arifin sebagai aktor yang bagus bila memerankan tokoh antagonis dalam beberapa film (yang paling memorable tentunya sebagai anak seorang mafia di The Raid: Berandal). Namun ketika menjadi ayah 2 anak di film ini, Arifin justru tampil agak kurang pas dengan karakter Satya di novel, in my opinion. Arifin terlihat seperti kurang mature dan agak bisa dikatakan “melambai” haha, sedikit melenceng dari bayangan Satya versi saya yang tegas dan berkarakter. Malah disini Arifin harus mengakui aktingnya tidak sebanding dengan Acha yang memerankan sang istri yang penuh perjuangan dan dilematis dalam hidupnya untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik. Oh ya, untuk penampilan kedua putra mereka, saya no comment deh. Saya tidak tahu maksud dari sutradara dan produsernya apa memasang 2 anak tersebut dalam film, hanya sekedar tempelan atau ada maksud lain disamping itu. Penampilan mereka anda nilai sendiri saja.

Sementara itu, Abimana membuktikan dirinya sebagai salah satu aktor paling berbakat di Indonesia dewasa ini. Bagaimana ia berakting dengan Ira Wibowo yang dari segi usia lebih senior, namun ia tidak kalah dan mampu mengejawantahkan sosok ayah yang penuh kasih sayang kepada keluarga. Dan bila kita sudah melihat pula bagaimana ia mencoba menjadi Dono di film Warkop DKI yang akan tayang, kita bisa katakan ia bukan aktor sembarangan, dan totalitas aktingnya tidak perlu dipertanyakan.

Kembali ke film. Filmnya sendiri cukup menggambarkan isi novel dengan baik. Malah saya berpikiran ini adalah salah satu dari sedikit film adaptasi novel yang bisa setara bagus dengan novelnya (atau kalau bisa dibilang lebih baik). Tentunya, hal ini subjektif mengingat saya berpandangan film ini sangat mirip kisahnya dengan saya. Oh ya, penyisipan lagu Iwan Fals berjudul Lagu Cinta saat scene Abimana (ayah) dengan Ira (ibu) adalah juara. Bagaimana kesenduan, tone dan nuansa yang dibangun, dengan alunan merdu lagu tersebut menjadikan scene itu menjadi salah satu yang terbaik dalam film.

Pada akhirnya memang saya menganggap film ini adalah salah satu yang terbaik di tahun ini. Saya menangis, benar-benar menangis dari awal film ini mulai berjalan. Bagaimana saya rindu akan kehadiran sosok ayah, bagaimana saya merasakan menjadi anak yang “mengetahui” bahwa akan ditinggal ayahnya sebentar lagi karena sakit. Bagaimana saya merasakan memiliki ibu yang berjuang sendirian dan bertahan hidup sepeninggal suaminya. Bagaimana saya merasakan rindu akan petuah-petuah ayah dalam segala aspek dan problematika kehidupan. Bagaimana saya merasakan permasalahan hidup dalam masa pencarian seperti yang dialami Saka. Ingin rasanya saya juga memiliki kaset rekaman berisi nasihat ayah yang bisa saya putar, bila saya memerlukan arahan dari setiap masalah hidup yang saya alami.

Semua yang digambarkan begitu nyata dan hadir jelas di pelupuk mata dan memori saya, membuat tak kuasa saya meneteskan air mata (dalam jumlah banyak sampai pipi saya benar-benar basah haha). Ya, saya memang secengeng itu. Apalagi ada scene dimana Satya dan/atau Saka flashback ke belakang, ketika ayah memberi nasihat dalam masalah-masalah mereka. Momen-momen seperti itu membuat saya agak menafikan scene-scene lain seperti saat Saka pedekate dengan Ayu (oh ya, tidak lupa menegaskan kalau Sheila Dara Aisha cantik disitu) membuat saya tidak terlalu tertawa, well, karena memang sebenarnya juga sudah tahu lelucon itu dari novel.

Pada akhirnya, sebuah film akan dikenang dari kesan yang ditimbulkan oleh penonton yang menikmatinya. Dan, untuk Sabtu Bersama Bapak, sahih menjadi film yang saya kenang karena berhasil membuat saya mewek di bioskop (setelah Toy Story 3 beberapa tahun lalu haha).

Sangat sesuai dengan hashtag promosi film ini di Twitter. Ya, saya memang #RinduAyah

Tagged , , , , ,

Mimpi semalam.

  
Apa kabarmu? Sudah lama sekali kita tidak berjumpa.

Yang aku tahu kau pergi. Aku selalu menyangka kau pergi hanya 1 hari, 2 hari, atau seminggu. Atau 1 bulan, 1 tahun.

Untuk kemudian aku tersadar engkau pergi untuk selamanya.

Banyak sekali yang aku ingin ceritakan padamu. Tentang kehidupanku sehari-hari. Tentang dengan siapa aku bertemu, tentang dengan siapa aku berpisah.

Tentang hidup dan pertanyaan-pertanyaannya yang sungguh aku tak mengerti.

Tentang pekerjaanku, tentang masa depanku. Tentang dia, tentang mereka.

Jika aku bisa meminta 1 hal mustahil pada Tuhan, aku hanya ingin bisa bercerita denganmu kembali.

Jika waktunya tidak cukup, mungkin aku bisa sekedar bercerita tentang tim sepakbola yang kau turunkan darahnya padaku.

Dan malam tadi kau datang. Memang hanya sesaat. Kau tampak berbicara dengan seseorang, yang aku tak tahu itu siapa.

Aku tak perduli dia siapa. Yang aku ingat aku memelukmu erat. Mungkin aku rindu. Rindu teramat sangat.

Kau tersenyum.

Dan seketika aku terbangun. Dan yang tersisa hanya air membasahi dua mata ini.

*dari seorang anak yang merindukan ayahnya. mungkin efek hujan malam ini.*

Tagged , ,

Who Says You Can’t Go Back, To Make A Memory? (Review of Bon Jovi Live in Jakarta 2015) #latereview

IMG_2890

Saya bukanlah fan berat Bon Jovi. Saya hanya memiliki beberapa album mereka, saya tidak menjadi member fans club nya, ataupun tidak mengoleksi atribut-atribut macam kaos dan sebagainya. Namun masa kecil saya yang lekat dengan musik membuat Bon Jovi akrab juga di telinga. Dulu, bermodalkan album Cross Road (1994) punya kakak saya, mulailah “observasi” musik Bon Jovi, dan saya menemukan fakta bahwa mereka merupakan salah satu band besar dunia. Dan, mendengar mereka akan singgah ke Jakarta tahun ini untuk kedua kalinya, man it’s Bon Jovi. Once again, it’s Bon Jovi coming. Tak sulit bagi saya untuk mengambil keputusan bahwa saya harus menonton salah satu band legend ini.

Berprinsip nonton rock itu lebih enak berdiri daripada duduk, saya segera mengincar tiket festival. Menyadari bahwa saya tidak memiliki atribut yang tepat (terutama kaos) untuk nonton, saya segera pesan online. Effort yang saya rasa pantas demi menonton band yang lagu-lagunya (dahulu) menjadi bahan saya belajar gitar. Bon Jovi masuk ke dalam list Band I Have To See Before I Die versi saya. Melihat kedatangan mereka untuk pertama kalinya tahun ’95 silam saya masih piyik, saya membulatkan tekad harus nonton kali ini.

Langsung saja, waktu konser yang bersamaan dengan hari terakhir kerja dan jam pulang kantor membuat kondisi lalu lintas lebih macet dari pengalaman dulu Metallica (Minggu). Saya yang sampai di venue menjelang maghrib bertemu dengan kumpulan orang berkaus hitam yang memadati stadion. Saya kemudian segera mengantri dan memasuki area stadion yang belum terlalu ramai. Sekitar jam 7 mulai ada announcement mengenai do’s and don’ts konser dan penonton mulai riuh. Namun bersamaan dengan itu pula saat-saat membosankan dimulai.

Adalah Sam Tsui, penyanyi yang katanya artis YouTube, dan demi rumput GBK yang telah ditutupi grass cover saya baru mendengar namanya saat itu. Dia menjadi opening act konser. What the.. Seorang artis yang tenar dari YouTube yang beraliran lagu pop dance macam boyband begitu membuka konser rock? Dan konser rock itu Bon Jovi? Wait wait.. Saya mencoba ber-khusnuzon, pasti ada yang spesial dari orang ini. Oke, saya coba mengamati penampilannya yang berjingkrak-jingkrak di atas panggung. Membawakan lagu pertama, saya mencoba mendengarkan. Lagu kedua, saya berucap “oh, okay”. Lagu ketiga, saya mulai mengernyitkan dahi. Lagu keempat, saya mulai bosan. Yang tadinya berdiri mulai duduk. Lagu kelima dan selanjutnya, sepanjang dia bernyanyi yang saya tidak paham musiknya dan dia ngomong apa, saya sudah pasrah dan berharap cobaan ini segera berakhir. Mengesalkan. Untungnya masa-masa itu terobati dengan kehadiran sosok-sosok yang di gelap-gelapan membuat riuh beberapa penonton di festival. Yup, mereka adalah Eross, Duta dan Adam personil Sheila On 7. Langsung saja melihat ada artis di barisan penonton seperti saya, hasrat saya sebagai anak Bekasi tak tertahankan untuk berfoto bersama, haha.

With Eross

With Eross

Ketika kegembiraan datang dikarenakan si Tsui itu telah selesai nyanyi lagu terakhirnya (mungkin juga karena disorakin penonton disuruh turun), saya segera merangsek gak santai ke depan karena ingin melihat Bon Jovi lebih dekat, dan ingin jejingkrakan juga di tengah-tengah crowd. Namun yang terjadi saya dan penonton lain masih harus menunggu selama kurang lebih setengah jam lamanya untuk mempersilakan bule-bule berbadan besar check sound dan mempersiapkan alat-alat. Saya sempat berkenalan dengan mas-mas sebelah yang ternyata datang sendirian dari Surabaya. Wih keren!

Yang mengherankan kenapa setelah Judika menyanyikan Indonesia Raya masih ada jeda 30 menit sebelum Bon Jovi naik panggung. Sependek pengalaman saya ketika Raisa yang membawakan anthem saat Metallica tidak selama itu. Ah tapi biarlah. Yang sedikit mengecewakan saat menunggu Jon dkk naik, penonton diam saja tanpa mengeluarkan panggilan-panggilan pada sang artis. Pengalaman nonton Metallica disini memberikan pengalaman luar biasa saat kita memanggil-manggil sang performer untuk segera naik ke panggung. Tapi tidak menjadi masalah, kehadiran Bon Jovi setelah naik stage dan membawakan lagu pertama, menjadi suatu pengalaman yang luar biasa.

Dengan setting panggung bernuansa biru, band yang 20 tahun silam datang ke Ancol ini memang tetap menebar aura karismatik. Saya yang dulu masih ingusan dan hanya bisa melihat dari YouTube sekarang ini merasa pandai dengan berhasil memprediksi lagu pertama yang dibawakan. That’s What The Water Made Me akhirnya benar-benar menjadi lagu pembuka, dan disinilah sesi awkward dimulai. Saya yang sudah lebih dari 10 hari mengisi playlist dengan lagu-lagu Bon Jovi yang diprediksi bakal dibawakan di konser sangat antusias dengan lagu itu, dan itu jadi favorit saya di album What About Now (2013). Namun yang terjadi, saya saja yang hanya melompat-lompat dan ikut bernyanyi, sedangkan sekeliling saya melongo dan hanya jejeritan tidak jelas. Dan yang pasti, mengangkat gadget masing-masing dengan diam mematung yang mengganggu pandangan. Bitch please, this is a rock concert and enjoy the fucking song! Di kejauhan saya lihat sekerumunan orang yang melompat-lompat dan menikmati lagu. Ah, andaikan saya berada di sana, saya bergumam dalam hati. Tapi biarlah, saya tetap loncat-loncat sampai pegel.

Melihat penampilan Jon, sangat jauh bila dibandingkan 20 tahun lalu ketika dia masih muda dan enerjik melompat ke kanan kiri panggung. Lengkingan suara tingginya pun kini tidak terdengar lagi, ia lebih banyak bernyanyi dengan nada rendah dan malah memberikan lagu-lagu bernada tinggi ke penonton. Jon tua ini lebih berkarakter, dengan keriput-keriput di wajahnya yang terlihat di layar besar kanan kiri panggung (yang cukup membuat heran karena itu layar kok ga taunya cuma persegi panjang ke atas doang bukannya full satu layar). Dan tanpa kehadiran sobatnya, Richie Sambora sang gitaris yang diganti oleh Phil X, memang awalnya agak terasa janggal. Memang secara kasat telinga tak jauh berbeda permainan Sambora dengan Phil, karena chord ataupun melod bisa dikulik, tetap saja ada yang berbeda, khususnya 1 yang tidak dimiliki Phil, kemampuannya untuk menjadi backing vocal suara tinggi yang selama ini diterapkan Sambora dibalik vokal Jon.

Beranjak ke lagu ke-2, Who Says You Can’t Go Home. Lagu dari album Have A Nice Day (2005) ini menjadi salah satu lagu Jon yang catchy dan enerjik. Satu lagu ballad yang asyik untuk dinyanyikan, dan energy saving karena tidak perlu melompat-lompat. Namun seenak-enaknya lagu ini, tetap saja banyak penonton yang diam dan tidak sing along. Ah, mungkin mereka lupa lirik dan nadanya karena sudah 10 tahun lalu. Disambung dengan Lost Highway dari album bertitel sama yang rilis tahun 2007, lagu yang bernuansa rock-country ini memang agak tanggung karena tidak terlalu keras tapi juga tidak slow. Tiga lagu awal yang dibawakan bukan lagu yang benar-benar kencang, namun cukup untuk memanaskan suasana. Beranjak ke lagu selanjutnya yaitu Raise Your Hands.

Sesuai dengan judulnya, Bon Jovi mengajak massa untuk mengangkat tangan mereka setiap lirik “Raise your hands!” dinyanyikan. Dan penonton segera saja mengiyakan keinginan Jon dan memeriahkan lagu ini dengan lambaian tangan ke udara sepanjang lagu. Lagu ini memang bukan menjadi hits Bon Jovi secara general, namun sangat cocok untuk memeriahkan suasana dan memanaskan crowd saat konser. Pemanasan menjelang kalimat singkat “Shot through the heart, and you’re to blame. You give love…..” yang diteriakkan Jon untuk kemudian dibalas crowd dengan teriakan keras “A BAD NAME.” Yup, lagu dari masterpiece album Slippery When Wet (1986) pastinya diketahui oleh semua orang, dan kita semua menyanyikannya dengan lantang hingga lagu usai. Jon kali ini bernyanyi tanpa menggunakan gitar dan ia mulai beranjak kesana kemari, dan ke sisi kanan kiri panggung. Bila melihat dari konser mereka 20 tahun lalu, tentu banyak perbedaan dalam gaya Jon membawakan salah satu hits mereka ini. Tapi tetap saja, lagu ini tetap asik dan menjadi magnet koor penonton hingga selesai dibawakan. Saya sendiri mulai bermandikan keringat mengikuti alunan tembang ini. Dan penonton GBK pun banyak juga yang hapal sehingga membuat suasana menjadi riuh. Yang menjadi renungan adalah, ketika saya mulai mengingat akan ketidakhadiran Sambora di band ini lagi, dimana biasanya melodi dari lagu ini lahir dari sayatan gitar Sambora, namun kali ini Phil X cukup baik dalam menutup ketidakhadiran gitaris iconic itu dari band. Setelah penonton mengumandangkan bait terakhir, baru intro lagu selanjutnya dimainkan. Lantunan backing vocal “Na.. Na.. Nana.. Na.. Na.. Nana.. Na.. Na..” terdengar di sekeliling panggung, dan itu rupanya adalah intro Born To Be My Baby.

Saya yang mengenal lagu ini malah dari aransemen yang berbeda di album This Left Feels Right (2003). Album yang membuat saya terkesima betapa lagu-lagu Bon Jovi dapat ditampilkan begitu asiknya dengan nuansa lain, dalam versi akustik. Dan setelah mengetahui lagunya, saya mendengarkan versi aslinya dan ternyata lagu itu membakar semangat. Lagu cinta yang ini tidak menye-menye, malah terkesan percaya diri. Itulah yang menjadi ciri khas Bon Jovi, bukan? Dandanan metal, musik rock yang keras namun lirik hampir semua bertemakan cinta, bahkan kadang terkesan cheesy. Tak sedikit musisi rock lain yang menyindir “kelakuan” mereka, namun mereka memberikan bukti. Seperti judul album box set mereka, 100.000.000 Bon Jovi’s Fans Can’t Be Wrong. Itulah buktinya.

Selepas lagu itu, Jon berkata pada penonton bahwa lagu selanjutnya adalah lagu yang pertama kali mereka bawakan live saat konser. Lagu itu ada di album terbaru, Burning Bridges. Saya pikir akan mendapatkan single yang lebih dulu keluar, Saturday Night Gave Me Sunday Morning. Namun yang terjadi adalah single lain berjudul We Don’t Run. Lagu ini agak “bukan” Bon Jovi karena unsur rock nya tidak begitu kentara. Lagu ini pun sukses bikin penonton tidak bergerak (wajar karena mayoritas baru mendengarnya), namun ada juga yang ikut bernyanyi, saya asumsikan mereka sudah men-download (baik legal atau illegally). Setelah lagu baru itu dinyanyikan, Bon mungkin iba melihat penonton diam saja, Tico Torres langsung menggebuk drumnya untuk membawakan intro dari mega hit yang sangat terkenal di Asia dan Indonesia terutama, periode 2000-an. Saat itu MTV masih tayang di ANTV, dan anak nongkrong menjadi sebutan yang akrab untuk generasi muda ketika itu. Semua pasti hapal lagu ini. Yup, It’s My Life akhirnya berkumandang juga.

Lagu yang menurut saya pribadi mainstream, dan sejujurnya saya tidak antusias menunggu lagu itu dibawakan. Karena apa, ya simpel saja, bosan. Bahkan saya lebih menyukai It’s My Life versi piano di album This Left Feels Right. Namun bagi banyak orang, lagu itu sangat ditunggu kemunculannya. Bahkan ada yang nonton konser ini hanya modal pengetahuan It’s My Life saja. Tidak salah, tapi come on, Bon Jovi datang gak hanya nyanyi It’s My Life, atau Bed of Roses, atau Always. Malah lagu-lagu itu nyatanya adalah lagu yang jarang dibawakan mereka secara langsung di atas panggung. Judul pertama pengecualian, karena itu tipikal lagu yang bisa memeriahkan crowd. Ironisnya, saya bisa melihat Jon nampak tidak lagi seperti di video klipnya yang jejingkrakan kesana kemari ketika dia bernyanyi “I just wanna live when I’m alivee…”. Ia hanya berdiri memegangi miknya. Sekali lagi, usia berbicara.

Lagu-lagu Bon Jovi yang paling sering dibawakan ketika konser. (Setlist.fm)

Lagu-lagu Bon Jovi yang paling sering dibawakan ketika konser. (Setlist.fm)

Nah, selepas It’s My Life justru lagu selanjutnya yang saya nantikan. Because We Can dari album What About Now (2013) menjadi lagu yang santai namun tetap berirama mengasyikkan. Namun lagi-lagi saya sayangkan, yang mengapresiasi lagu ini hanya segelintir. Kanan kiri depan belakang saya asyik diam saja sembari (lagi-lagi) mengacungkan gadget mereka yang menutupi pandangan. Bahkan ada yang menggunakan tongsis (ini yang paling menyebalkan), rasa-rasanya kalau saya bawa senapan mau saya tembak saja kamera di tongsis itu, malah mungkin sama orangnya sekalian. Saya sih cuek saja bernyanyi sambil lompat-lompat meskipun pegel dan tidak seru (karena sendirian). Di depan saya malah foto-foto selfie sama pacarnya, ngadep belakang lagi, nutupin pandangan saja, kampret. Akhirnya saya selak aja. Rasakan.

Untungnya Jon tahu mungkin salah satu fan nya (saya) bete, makanya dia langsung mengambil gitar akustik dan menyanyikan salah satu bait yang sangat populer “Hey man, i’m alive i’m taking each day and night at a time..” dan sekejap saja audiens seisi GBK karaoke massal lagu itu. Well, salah satu part terbaik Bon Jovi Live in Jakarta adalah di lagu ini. Dan saya adalah tipe penonton yang menunggu momen dimana band dan penggemarnya sing along, sepanjang lagu dan setiap lirik. Saya pernah merasakan sensasi itu ketika Tender (Blur), dan Nothing Else Matters (Metallica), what a wonderful moment. Dan Someday I’ll Be Saturday Night masuk ke salah satunya. Jon entah disengaja atau tidak, menyanyikan lagu ini dengan suara rendah. Kalau disengaja berarti dia memberikan kesempatan kepada penonton untuk nyanyi, kalau tidak berarti memang suaranya sudah tidak bisa melengking lagi. Ah saya tidak peduli, yang penting semua puas bernyanyi hingga suara asli penyanyinya tidak terdengar.

Setelah koor bareng itu selesai, Jon kembali membawakan lagu di album What About Now berjudul sama. Ini termasuk salah satu lagu yang saya gemari juga, namun sayang nasibnya sama seperti Because We Can, sepi antusiasme. Jika kalian membuka YouTube dengan mengetik kata kunci judul lagu ini ditambah “Bon Jovi Live in Jakarta” maka kalian akan melihat video sang keyboardis David Bryan tersenyum sembari memainkan lagu ini, dengan penonton bagian depan yang rata-rata diam saja tanpa gerakan. Oke, skip.

Lagu selanjutnya, We Got It Goin On, Jon tampak lebih ekspresif dengan joget kesana kesini. Gayanya mungkin sekarang lebih lucu karena mirip orang senam, namun aksi panggung pentolan Bon Jovi itu bisa lebih memancing keriuhan penonton. Selesai lagu itu, intro In These Arms dibawakan. Alamak, lagu yang dulu menjadi bahan saya genjrang-genjreng gitar dan mencari liriknya dengan tape recorder dan kaset kakak saya, membuat saya tak kuasa menyanyikan bait demi bait hingga suara tambah habis. Inilah hebatnya Bon Jovi, lagu-lagu romantis dan agak “cengeng” seperti ini bisa dibungkus menjadi lagu ballad yang digemari. One of the best band’s song. Tidak lama lampu panggung gelap, dan Jon berkata “Any cowboys out here..??” dan kami semua sadar bahwa lagu selanjutnya adalah Wanted Dead Or Alive.

Lagu yang menjadi anthem Bon Jovi di setiap konser ini, dengan intro khas nya memancing histeria penonton, dan Jon dengan baik hati memberikan part awal lagu ini hingga reffrain untuk kami nyanyikan bersama. Amazing feeling tetapi belum bisa mengalahkan performa Saturday Night. Setelah lelah saya (kami) bernyanyi bersama, lagu selanjutnya I’ll Sleep When I’m Dead menjadi agak antiklimaks karena selain lagu ini kurang akrab di telinga, juga energi kami sudah agak habis di masa-masa pertengahan konser. Namun bukan Bon Jovi namanya kalau tidak punya lagu-lagu hits lain yang bisa kembali re-charge semangat penonton. Well, bagaimana kalau kita diberikan Keep The Faith? Hits yang dulu saya ingat selagi kecil, saat stasiun tivi baru 1-2 channel selain TVRI, sering nongol video klipnya di acara-acara musik. Keep The Faith pun bisa memeriahkan suasana karena di akhir lagu masing-masing personil menunjukkan keahlian mereka dengan memainkan alat musiknya secara solo. Hal ini mengundang tepuk tangan meriah penonton sebelum lagu favorit saya dibawakan selanjutnya.

Your love is like bad medicine! Begitu bunyi lirik dari lagu selanjutnya. Lagu yang menjadi simbol glam rock saat jayanya dan juga menjadi icon lagu-lagu Bon Jovi. Lagu cinta romantis parah yang dibalut rock kental ini juga menjadi salah satu penampilan terbaik mereka selama konser. Saya merasakan atmosfir luar biasa di kerumunan penonton ketika menyanyikan bersama lagu ini. Lagu ini menjadi “penutup” konser karena setelah selesai, Jon langsung berpamitan menyudahi konser. Eh, tunggu dulu. Apakah mereka menyerah semudah itu? Dimanakah Always, Bed Of Roses, dan lagu-lagu lain yang dinanti-nantikan penonton? Ternyata seperti biasa, mereka menghilang untuk memancing encore.

Setelah Jon dan teman-temannya menghilang di balik panggung, suasana gelap dan teriakan “KAMI MAU LAGI, KAMI MAU LAGI” berkumandang, kita semua tahu itu hanya trik panitia dan upaya memancing kembali antusiasme penonton. Jon dan band nya pasti akan kembali, dan yang menjadi pertanyaan, lagu apakah yang akan dibawakan? Setelah intro lagu pertama dimainkan oleh keyboardis David Bryan, seisi GBK sontak bersorak gembira bahwa lagu pertama adalah Runaway. Kembali ke jaman dahulu, terus terang saya malah baru mendengarkan dengan seksama Runaway di masa-masa persiapan sebelum konser. Runaway ternyata salah satu lagu yang populer di angkatan lama fans Bon Jovi. Agak mengherankan sekaligus disayangkan, bahwa jika melihat bocoran foto setlist yang tersebar di medsos, pilihan lagu pertama encore sebenarnya ada 3-4 pilihan, termasuk lagu yang paling ditunggu oleh rakyat, yaitu Always. Hal ini semakin menegaskan sekali lagi bahwa Always bukanlah lagu panggung mereka, mungkin hanya cukup diabadikan di album rekaman. Setelah Runaway, Bon Jovi menurut saya menempatkan 1 lagu yang tepat untuk dibawakan menjelang akhir begini: Have A Nice Day.

Lagu yang agak terlupakan, namun menurut saya lebih powerful dibanding It’s My Life. Lagu ini sanggup membawa adrenalin saya kembali naik, dan dengan cahaya panggung warna merah mendominasi, mungkin mengingatkan kita kembali pada cover album Have A Nice Day (2005) yang bergambar coretan wajah bernuansa merah. Have A Nice Day cukup mendapat sambutan meriah penonton sebelum lagu pamungkas ini dibawakan.

Ada beberapa konser dengan ending yang luar biasa indahnya, dengan menampilkan lagu yang paling populer. Saya ambil contoh ketika Shine dibawakan Collective Soul (2013).

Membawakan gitar akustik sembari menyanyikan bait pertama, Jon tampak tenang dan kembali memberikan part reffrain kepada penonton. Sekali lagi formulanya sama, antara sudah tidak kuat nada tinggi atau test the water. Untuk kali ini saya lebih memilih yang kedua. Karena setelah mendengar penonton hapal bener reff lagu tersebut, Phil X mulai membunyikan gitarnya dan memberikan efek khas Livin On A Prayer pada intro. Memang bukan milik Sambora, tapi jika kita memejamkan mata mendengarkan suara gitarnya saja, sulit membedakan ini Sambora atau bukan. Artinya, Phil tried the best, and he’s awesome. Dan lagu penutup ini, adalah yang terbaik dari semua lagu yang dibawakan Bon Jovi sepanjang konser. Lagu penutup yang bagus, lagu pamungkas yang paripurna. Bagaimana Jon membawakan dengan 2 versi, akustik dan full band, benar-benar saved the whole concert dari segala kekurangan dan minusnya. Tidak ada yang bisa saya ceritakan lagi dari penampilan Livin On A Prayer ini. Hanya 1 minusnya, itu juga kalau mau dicari, ya apalagi kalau kurang Sambora.

bimo stand

Akhirnya konser ditutup setelah 2 jam mereka bermain, dengan 20 lagu dibawakan. Salut untuk Tico Torres, sang drummer. Meskipun telah berusia senja, ia masih mampu menampilkan pertunjukan yang bagus. Kredit juga untuk Phil X sebagai gitaris (entah resmi atau additional) lewat permainan gitarnya yang ciamik. David Bryan seperti biasa cool dan menawan. Jon, dia adalah sumber kharisma band ini. Dan selamat untuk saya yang bela-belain nonton meskipun sendirian, karena belum tentu 20 tahun lagi mereka masih bisa main band apalagi mau datang ke Jakarta, bukan?

Tagged , , , ,

5 Bon Jovi’s songs i want to hear at the concert.

bon-jovi-live-in-Singapore

Bon Jovi, salah satu band hard rock legendaris di dunia, bakal datang ke Indonesia. Dan sebagai penggemar musik juga penikmat konser, adalah sunah muakad hukumnya bagi saya untuk hadir dan berjingkrak-jingkrak bersama Jon, Tico Torres dan David Bryan. Mereka adalah salah satu band terbesar di planet ini, menjual puluhan juta kopi album dan telah melakukan konser di hampir seluruh dunia, dengan belasan hits yang akrab di telinga. Meski tanpa Richie Sambora, Bon Jovi tetap menjadi kesempatan once in a lifetime untuk ditonton.

Dan, terlepas dari lagu-lagu mainstream macam Always, It’s My Life ataupun Livin’ On A Prayer, berikut adalah 5 lagu yang saya pribadi harap akan mereka bawakan di atas panggung GBK.

5. Wanted Dead Or Alive.

Sudah lama lagu ini menjadi lagu kebangsaan atau national anthem dari Bon Jovi. Dengan intro gitar yang menjadi ciri khas, saya dulu suka tertukar antara lagu ini dengan Blaze Of Glory. Lagu ini memang salah satu hits dari Bon Jovi dan hampir pasti 99% dibawakan saat nanti di Jakarta. Dan saya lebih menunggu lagu ini berkumandang dibanding hits-hits mainstream mereka lainnya, karena lagu ini menjadi salah satu yang ditunggu untuk sing along.

4. In These Arms.

Saya ingat dahulu sewaktu kecil dan baru-barunya mengenal musik lewat kaset-kaset kakak saya, saya ingin sekali mengetahui lirik lagu ini dan saking penasarannya (karena di sampul album Cross Road tidak ada liriknya), dan sama seperti kebanyakan anak 90’an lain, saya mulai melakukan pencarian manual dengan cara menyetel kaset di tape rekorder dan melakukan stop play stop play setiap Jon menyanyikan 1 bait liriknya haha. Jlep, ctak, jlep, ctak, begitulah bunyi kaset yang saya pencat-pencet di tape rekorder besar dengan tombol yang ditekan ke bawah, hihi. Karena alasan itu, menyanyikan lagu ini secara live dengan penyanyi aslinya akan menjadi pengalaman yang seru.

3. Love’s The Only Rule.

Lagu yang ada di album The Circle (2009) yang merupakan album ke-11 mereka ini menjadi salah satu lagu (yang paling menjadi) favorit saya. Lagu ini bertempo cepat dengan nuansa enerjik dan menampilkan permainan gitar dengan bunyi khas dari Sambora (dahulu masih ada di band). Lagu ini bila saya teliti menjadi lagu penutup Bon Jovi ketika tampil di beberapa konser. Mengusung tema cinta universal, Love’s The Only Rule memang pas bila dijadikan encore dan lagu pamungkas. Memang ada beberapa pilihan lagu penutup konser Bon Jovi, dan lagu ini menjadi salah satu yang ditunggu.

2. That’s What The Water Made Me.

Album-album Bon Jovi akhir-akhir ini selalu disisipkan lagu yang berpotensi menjadi single berikutnya dimana lagu tersebut se-enerjik single pertama. Dan ini pula yang terjadi di album What About Now (2013). Setelah menelurkan Because We Can, ada 1 lagu yang patut ditunggu live performance nya. Yup, lagu ini secara mengejutkan mampu menarik perhatian saya, dan saya sangat menunggu Jon menyanyikan ini di GBK bulan depan. Dan bila saya mengamati penampilan Bon Jovi di beberapa konser belakangan (lewat YouTube), lagu ini sering dibawakan di awal-awal konser, bahkan sebagai opening song, dan mereka membawakannya dengan kepercayaan diri yang tinggi. Mendengarkan lagu ini secara live sangat saya nantikan.

1. Because We Can.

Lagu ini menjadi andalan di album paling terakhir yang mereka keluarkan dengan titel What About Now. Album yang dikeluarkan tahun 2013 ini memang menjadi salah satu album yang (mungkin) menyumbangkan lagu paling banyak di konser. Mungkin sudah 2 tahun umurnya, namun album ini tetap menjadi andalan Bon Jovi secara mereka belum mengeluarkan album baru. Oh well tahun ini mereka kembali mengeluarkan album dengan judul Burning Bridges. Because We Can menjadi single yang atraktif, dinamis dan penuh semangat. Cocok untuk menggoyang massa saat Bon Jovi tampil live. Sama seperti Wanted Dead Or Alive, tembang ini hampir pasti dibawakan band asal New Jersey itu. Dengan melodi sederhana dan mudah dinyanyikan semua orang, saya juga sangat menantikan sing along lagu ini.

 

Ada yang bilang bahwa penampilan Jon dan kawan-kawan yang kedua kalinya di Indonesia nanti akan mengecewakan. Mereka beralasan bahwa energi Jon sudah tidak seperti dulu lagi, sehingga mereka akan membawakan lagu-lagu yang bertempo lambat, dan mungkin karena absennya Sambora. Well sebenarnya masuk akal juga. Namun saya sebagai penggemar musik secara umum mencoba melihat dari sisi objektif.

Semua musisi memang menua, dan itu menjadi hukum alam yang tak bisa dihindari. Justru menjadi suatu pertanyaan dan tantangan bagi band sekaliber Bon Jovi apakah mereka mampu menggelar pertunjukan yang bagus meskipun telah dimakan usia. Saya mengambil contoh Metallica yang masih tampil trengginas di usia senja mereka. Untuk Sambora, memang menjadi suatu kerugian ketika ia tidak hadir. Namun posisi gitar masih bisa digantikan meskipun memang jangan diharapkan sama persis dengan permainan Sambora. Intinya, semua bisa dipelajari.

Jadi kesimpulannya, sampai jumpa di GBK 11 September nanti.

Tagged , ,

[Flashback] – MY ROCKIN WEEKEND! (Java Rockin’Land 2013) @ Carnaval Beach, Ancol 22 & 23 June 2013.

Javarockingland_2013

Attention: Tulisan ini bakal (sangat) panjang, dan review ini merupakan flashback dari event yang terjadi sekitar 2 tahun lalu (catatan: JRL 2014 ditiadakan).

Well, 2 hari weekend kemarin, saya baru saja merasakan salah satu konser paling berkesan dalam hidup saya. Bukan karena konser tersebut adalah Java Rockin’Land, karena memang, JRL adalah konser musik yang rutin saya sambangi saban tahun. Mulai dari 2009, dimana pada saat itu MR. BIG yang tampil, kemudian tahun 2010, ketika itu The Smashing Pumpkins dan Stereophonics yang manggung. Tahun 2011 dimana Thirty Seconds To Mars berhasil mengguncang Jakarta bersama The Cranberries. Sayangnya, di tahun 2012 JRL urung diadakan. Dan di tahun 2013 ini, kembali hadir.

Kenapa berkesan? Karena saya hanya membayar kurang dari 100 ribu rupiah untuk menikmati penampilan band legendaris Collective Soul dan band yang hits di era 90-an Sugar Ray, dan banyak lagi. Terutama, band Indonesia yang “kumpul” dan mereka semua adalah favorit saya dan saya mengoleksi kasetnya dulu. Sebut saja GIGI, /rif, PAS Band, bahkan ada Padi KW Super (haha) dalam bentuk Musikimia. Itulah yang membuat saya tertarik! Sebentar.. 100 ribu kurang itu kalau bisa dinominalkan dengan pasti yaitu hanya sebesar 82.500 rupiah saja, hehe.

Kenapa bisa segitu? Cerita berawal di suatu malam dimana saya mendapat pengumuman di Twitter, bahwa JRL 2013 akan segera diadakan, dan salah satu performernya adalah Collective Soul! Wow, saya ingat dulu di kamar kakak saya, saya suka banget nyetel album Collective Soul yang 7 Year Itch. Dan kaset itu adalah salah satu kaset favorit saya, dan saya berkesempatan see them live. Nah besoknya, saya melihat announcement di Twitter yang menyatakan tiket JRL sudah bisa dibeli. Dan ketika saya lihat, early bird awal (banget) hanya seharga 75 ribu rupiah! Haha.. Ditotal total dengan pajak hanya menjadi 82.500 dan tanpa tedeng aling aling ya saya pesan saja.

Day 1 (22 June).

Singkat ceritaa, saya sudah berada di perjalanan datang bersama teman saya. Dan menurut jadwal, di hari pertama (tanggal 22) akan perform Collective Soul as main artist, dan Sixpence None The Richer. Juga untuk band Indo, nama seperti Cherry Bombshell, band Indie jaman dulu yang (ternyata) belum bubar yang menjadi incaran saya. Namun sayang sekali, Cherry Bombshell tidak bisa saya saksikan karena, ya saya baru masuk venue pasca magrib, hehe.

Jadi saya dan teman saya sudah sampai ketika sore hari, namun karena makan dulu biar ga kelaperan di dalem dan juga magriban dulu, jadi pasca sholat di Ancol Mall sebelah Carnaval Beach, kami baru masuk. Dan ketika sampai dalam, Edane sedang perform. Kesan pertama yang tampak di JRL kali ini adalah, venue agak sedikit lebih sempit dari tahun-tahun sebelumnya (apa karena ada jeda setahun mungkin ya), dan audiens tidak terlalu banyak (oke mungkin masih sore). Namun, saya tetap berharap JRL kali ini dapat memberikan kepuasan tersendiri.

Oke, Edane tampil dengan vokalis baru yang saya tak tahu namanya, dan seperti biasa Eet Sjahranie menjadi motor dari band tersebut. Lagu-lagu band tersebut yang saya tak tahu judul-judulnya sempat membuat saya menghentak-hentakkan kaki, sebelum saya tertarik ke venue lain yang kebetulan dekat dengan stand beverages. Oke, disana sedang tampil Morfem.

Morfem yang kebetulan drummer nya adalah kakak dari teman saya seperti biasa tampil menghibur. Apalagi kalo bukan sang vokalis, Jimi Multhazam yang membuat penampilan band tersebut lucu dan penuh banyolan. Jimi yang eks pentolan The Upstairs sangat interaktif dengan penonton, dengan gaya bernyanyi nya yang pecicilan namun tetap dengan kualitas vokal prima, mampu membuat semua orang yang menonton penampilan Morfem menjadi betah. Meskipun agak asing dengan lagu-lagu mereka, namun setelah 2 kali menonton penampilannya (pertama kali ketika konser Blur), Morfem cukup menarik perhatian saya dan aksi panggung mereka pantas diacungi jempol.

Setelah Morfem usai, saya dan teman melihat buku panduan JRL untuk melihat jadwal tampil selanjutnya. Dan guess who, SORE yang selanjutnya siap sedia untuk ditonton. Wow, segera saya tertarik untuk melihat performance mereka, karena Sore adalah salah satu band indie yang bagus dan berkualitas. Dan tentunya, selama ini saya belum pernah menonton performance mereka. Hal ini membuat saya menjadi semakin penasaran dan tak tertahankan untuk menonton Sore (lebay). Akhirnya saya dan teman menuju Dome Stage, yaitu panggung indoor di belakang main stage untuk menonton performance Sore. Dome Stage ini dulunya ada tribun duduk tempat penonton menonton dari atas, namun sekarang tangga untuk akses ke lantai tribun telah ditutup, dan akhirnya kami berkerumun di depan panggung hall yang jaraknya lebih dekat dari stage biasa diluar.

Dome Stage ini memang sepertinya khusus untuk musik rock yang agak lembut dan tidak menimbulkan kebisingan yang terlalu. Tapi ga juga ding, pas JRL tahun berapa itu ada Roxx musiknya kenceng banget juga main di Dome haha. Jadi ya kesimpulan saya itu ga bener lah ya. Singkat kata, Sore tampil dengan ciamik dan benar-benar membawa penonton ke dimensi lain pertunjukan musik rock (halah).. Dan yang saya baru tahu adalah, Sore semua personilnya itu kidal semua ya. Dan ada 3 additional playernya juga, ya ya. Maklum saya baru liat performance nya. Dan kesimpulan setelah saya melihat performance nya adalah, ciamik! Mereka berhasil membawakan lagu-lagu mereka yang pastinya tidak mainstream dengan kualitas dan skill terbaik, dan pastinya membuat penonton riuh dan bernyanyi bersama. Mungkin disinilah kekuatan Sore, memberikan warna musik yang berbeda dari musik kebanyakan, namun tetap pada kualitas yang dimiliki. Dan hal paling esensial yang saya tangkap dari kehadiran Sore di blantika musik (indie) Indonesia adalah, kemampuan mereka untuk menciptakan musik yang memiliki nuansa beragam, dan bermacam-macam hingga terkadang kita mengira bahwa itu bukan dibawakan oleh Sore. Keren!

Setelah Sore selesai membawakan lagu terakhir, saya keluar untuk mencoba melihat yang terjadi di stage utama di depan. Oh, ternyata ada sebuah band lawas yang bernama Sucidal Tendencies bersiap untuk perform. Well, sejujurnya saya tak terlalu mengenal band tersebut. Band lama itu sepertinya legend dan punya nama di blantika musik internasional. Itu bisa terlihat dari animo penonton yang membanjiri stage utama, padahal personil band tersebut belum muncul di panggung. Setelah muncul penonton mulai rusuh mengiringi jenis musik band asal California tersebut. Dan jenis musiknya, harus saya akui bahwa jenis musik crossover metal tersebut (begitulah sebutannya) ga masuk di telinga saya haha. Saya penggemar semua jenis musik, tapi jenis musik yang seperti teriak-teriak itu saya sepertinya ga bisa menikmati, hehe. Mungkin Slipknot dengan teriak-teriaknya masih bisa saya ikuti.. Tapi yang ini meskipun agak mirip Slipknot kok ga masuk ya. Apa mungkin karena usia saya yang telah menua *halah*

Pokoknya Suicidal Tendencies membuat warga JRL 2013 bersuka cita. Mereka menampilkan aksi panggung yang dahsyat yaitu mengajak para penonton untuk naik ke atas panggung. Bukan cuma 1, 2 atau 3 orang, melainkan banyak! Ya, dan para fans yang berhasil menaiki stage langsung bernyanyi dan berpesta bersama vokalis Mike Muir yang berciri khas memakai bandana. Saya ga tahu lagi sisa ceritanya seperti apa, karena saya sudah bergegas masuk ke Dome Stage lagi untuk menonton penampilan sebuah band yang menurut saya berkelas untuk ukuran band Indonesia, yaitu Efek Rumah Kaca. Yap, ERK akan manggung dan saya yang belum pernah melihat langsung performance mereka, berniat sekali untuk menyaksikannya secara langsung. Dan tentu saja, ERK menampilkan kualitas musik yang mumpuni dan berhasil menyedot massa JRL yang cukup banyak. Sebelum tampil penonton ternyata sudah memenuhi hall, ada yang sudah berdiri di bibir panggung dan banyak pula yang masih duduk di lantai. Dan ketika MC mulai announce siapa band yang akan tampil berikutnya, penonton segera berdiri dan menghampiri panggung, dan ERK muncul membawakan lagu-lagu yang cukup akrab terdengar di telinga. Dengan sayatan gitar melengking dan tata cahaya yang apik membuat lagu-lagu ERK yang bernuansa gloomy dan gelap menjadi lebih terasa auranya. Cholil sang vokalis yang tampil dengan menggunakan kemeja tampak menghayati sekali dalam menyanyikan lirik-lirik lagu mereka yang tak jarang diikuti oleh koor penonton. Sayang sekali saya tak sampai selesai menyaksikan ERK mengguncang Ancol, dan tak sampai pula berdendang bersama menyanyikan Kenakalan Remaja Di Era Informatika dan lagu-lagu lain, karena menurut jadwal dan jam di tangan saya, Sixpence None The Richer akan segera tampil.

Well, saya bukan penggemar Sixpence. Dan telah lama band tersebut vakum sehingga saya pun tidak mengetahui lagu-lagu terbaru dan perkembangan musik mereka. Namun sebagai penggemar musik dan pengamat musik amatiran *gaya*, saya ingin melihat penampilan band internasional yang dahulu ngehits abis dengan Kiss Me nya tersebut. Kiss Me itu jaya-jaya nya banget di jaman SMA saya. Dawson’s Creek adalah serial yang pertama kali mempopulerkan lagu tersebut. Belum lagi ketika Freddie Prinze Jr. dengan filmnya She’s All That menggunakan lagu tersebut sebagai soundtrack nya. Dan saya mengharapkan klimaks ketika Sixpence membawakan Kiss Me, atau bahkan There She Goes, atau Don’t Dream It’s Over. Atau malahan saya berharap Leigh Nash sang vokalis membawakan lagu dari single solo album nya yang paling saya suka, I Need To Be Next To You, kalo ga salah dari soundtrack film juga, yaitu Bounce. Ah, saya masih hapal lho ini ga ngeliat Wiki, haha. Kenapa? Karena itu semua muncul di tahun-tahun keemasan saya dulu ketika sekolah, hehe.

Jadi pada intinya, Sixpence mulai tampil dan yang saya masih bingung, kok band macam Sixpence ini diundang ke JRL bisa ya. I mean, come on, memang sih mereka kalo kita lihat di beberapa sumber, genre nya memang rock, pop rock. Namun, saya rasa mereka bukanlah band yang tepat untuk diundang ke JRL. Tapi biarlah, mungkin panpel punya penilaian sendiri. Kita langsung bahas performance nya saja.

Oke, Leigh Nash beberapa kali mengeluh betapa panasnya cuaca Jakarta, dan bagaimana mereka masih kelelahan karena jetlag dan baru sampai beberapa jam sebelum mentas. Dan Nash beralasan bahwa karena alasan itulah mereka tampil agak di bawah standar atau biasa-biasa saja di JRL malam itu. Nash yang tampak sedang hamil membawakan lagu-lagu bertempo pelan agak sedang, dan tentunya penonton yang kebanyakan awam dengan lagu-lagu Sixpence, kecuali Kiss Me, sekali lagi, hanya bisa mengikuti sambil menggoyang-goyangkan kaki, atau mengangkat talenan dan handphone mereka masing-masing untuk memoto dan merekam. Nash yang menggunakan baju dress hijau tampak masih memiliki suara khas, meskipun sound tidak terlalu bagus terdengar. Dan Kiss Me pun mereka bawakan di lagu ketiga, hehe. Saya pikir kan lagu jagoan ditaroh di terakhir. Mungkin Sixpence buru-buru mengeluarkan lagu terkenal mereka karena melihat animo penonton yang adem ayem saja, dan kalo ga dikeluarin lagu yang mereka tahu, akan bubar lama-lama, hehe.

Radio, dari album baru mereka yang saya cukup tahu juga dibawakan. Dan There She Goes ditempatkan di urutan agak belakangan. Well, saya agak menyayangkan penampilan Sixpence yang minim apresiasi. Saya pikir kalau dibuat parameter penilaian, Sixpence yang tampil di JRL 2013 bisa dibilang agak mengalami kegagalan. Hingga mereka menyanyikan lagu terakhir pun, saya sudah berada di stage sebelah. Menantikan Ed Rolland dan Collective Soul. Dan saya hanya bisa melihat salam perpisahan Nash dan kawan-kawan dari layar besar sebelah panggung. Tak ada Don’t Dream It’s Over atau Need To Be Next To You yang dibawakan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Oke tak apa, karena Collective Soul sebagai pemuncak JRL 2013 hari pertama akan bersiap tampil. Meskipun tidak sepenuh orang mengantri penampilan artis di JRL-JRL sebelumnya, namun band jadul yang album the best of nya saya gemari hingga kini tersebut ternyata tampil dengan kekuatan penuh dengan hits-hits nya yang berkekuatan penuh pula (kecuali Perfect Day) dan overall penampilan mereka cadas! Pertama kali Ed muncul dengan menggunakan jubah berwarna putih, so classy dan elegan. Menggebrak dengan hits pembuka, yaitu soundtrack dari Twilight, Tremble For My Beloved, Collective Soul ditemani tata lampu yang megah dan membuat pertunjukan semakin gemerlap. Ed yang semakin menua tidak kelihatan lelah dalam menjelajahi panggung dan meskipun lengkingan suaranya agak kurang seperti dulu, namun karakter suara dalam dan berat tak pernah hilang.

Beberapa saat penonton masih terdiam, entah takjub atau tak tahu lagu atau lupa lirik dari lagu-lagu yang dibawakan, sementara lagu-lagu di album the best 7 Year Itch mulai dihadirkan satu persatu membuat saya bergoyang sendiri, dan bule di belakang saya juga sepertinya mengikuti dengan baik. Memang bule memiliki sense of music lebih baik sedikit dari orang Indonesia yang kebanyakan mementingkan dokumentasi dan narsisme, hehe.

Kemudian berturut-turut Heavy, Listen, December dan Gel dibawakan dan sontak gemuruh mewarnai tanah Pantai Carnaval malam itu. December sebagai salah satu lagu galau tapi gagah milik Collective Soul kemudian sempat menguras emosi para penonton. Setelah koor December, kemudian lagu yang sedikit menghentak, Gel, dibawakan. Gel sempat membuat saya dan audience yang lain lompat-lompat dan agak mengeluarkan peluh sedikit (buat pemanasan, hehe). Dan setelah Gel, Ed tampaknya ingin sedikit slow down dengan She Said. Dibawakan dengan sedikit berakustik ria, lagu ballad ini masih memiliki power dan membuat saya ikut bernyanyi, meskipun agak sedikit di twist di irama reffrain oleh Ed dan kalo yang ga biasa memandang agak sedikit aneh jadi iramanya, namun tetap asik didengar dan dinikmati. Setelahnya, tempo dinaikkan kembali dengan Why Pt. 2. Lagu yang entah kenapa diberi titel “bagian kedua” ini memang asik buat lompat-lompat. Dengan irama heavy rock yang kencang dengan distorsi gitar di intro yang menjadi ciri khasnya, lagu ini sempat mendapat apresiasi cukup meriah dari penonton bagian depan yang histeris dan lompat-lompat seperti layaknya di Woodstock. Why Pt. 2 sukses menjadi lagu yang menghebohkan untuk kemudian disusul dengan Where The River Flows.

Dengan nuansa merah dari tata lampu dan lengkingan vokal Ed yang masih bertaji, lagu ini cukup membuat Pantai Carnaval gerah. Tak berapa lama setelah dibuat ‘panas’, lagu selanjutnya sangat menyejukkan, apalagi kalau bukan Compliments, disusul dengan Needs. Setelah lagu selanjutnya, Hollywood dan Better Now dibawakan, tibalah giliran Run. Soundtrack Varsity Blues tersebut dibawakan dengan versi akustik yang membuat seluruh penonton bernyanyi. Woy, ini lagu jaman gw SMP haha. Setelah puas bernyanyi bersama Run, setlist beralih ke lagu selanjutnya, dan ini adalah lagu favorit saya juga, Precious Declaration! Haha.. Lagu yang menurut saya menjadi lagu paling enerjik dari Collective Soul ini dibawakan dengan apik dan tata lampu yang bagus. Hal ini membuat Ed terlihat bersemangat sekali dan penonton pun mulai terbakar kembali semangatnya.

Setelah itu, The World I Know dibawakan, dan selesailah sudah. Collective Soul menghilang ke backstage, seakan semuanya usai. Namun, it’s part of the show dan kita tahu itu adalah pancingan agar semua penonton berteriak encore. Dan ketika encore encore sudah mulai dikumandangkan, lagu yang hadir sebagai pembuka adalah Counting The Days, untuk kemudian ditutup dengan, well apalagi kalau bukan, Shine.

Shine yang menjadi lagu penutup benar-benar menjadi klimaks. Saya sendiri sebagai “pelanggan” setia Java Rockin’land dari tahun 2009 baru kali ini merasakan atmosfir encore dengan lagu penutup semacam Shine. Lagu yang menjadi icon lagu rock di tahun 90-an tersebut benar-benar membius seluruh penonton yang hadir di malam itu. Ed pun nampak santai membawakan lagu tersebut dengan memainkan intro nya dengan gitar akustik terlebih dahulu, untuk kemudian disambut gerungan rhythm dan hentakan drum. Intro yang familiar itu pun akhirnya terdengar juga hingga ke langit Jakarta, dan kami semua bernyanyi dan berteriak “YEAH!” bersama-sama. Tak lupa dengan lirik “Heaven let your light shine down” yang menjadi hymne kebangsaan musik rock di generasi nya. Konser yang menarik, baik dan enerjik dari Collective Soul. Setelahnya mereka berpamitan dan kami semua, well saya tepatnya, pulang dengan perasaan puas dan telinga agak penging haha.. Karena posisi saya ketika nonton tepat berada di sebelah speaker besar panggung, hehe. Saya pulang, tidur dan bersiap untuk JRL hari kedua.

Day 2 (23 June).

Hari kedua, diwarnai dengan beberapa performance dari band Indonesia yang kebetulan saya suka dan memang saya tunggu penampilannya. Meskipun band Indonesia kata orang kebanyakan adalah “biasa”, tapi bagi saya menonton penampilan langsung mereka menjadi kepuasan tersendiri yang tidak ternilai. Memang cukup hanya 2 sampai 3 kali saya menonton mereka tampil, sekedar untuk merasakan aura performance mereka dan mendapat values “oh saya sudah pernah liat penampilan live mereka”, namun pada festival semacam ini dimana kita telah membayar untuk melihat mereka tampil, setiap performance yang ada wajib dinikmati.

Hari telah sore ketika saya datang dan yang sedang berada di atas panggung adalah Pas Band. Seperti biasa, band yang telah memiliki nama besar dan basis massa sendiri ini atraktif mengguncang panggung dibawah sinar matahari (masih) sore yang cerah. Yuki sebagai vokalis yang dikenal komunikatif sangat menyenangkan, membuat jarak Pas Band dengan penonton menjadi lebih dekat. Lagu-lagu mereka pun dibawakan dengan apik. Kesepian Kita menjadi lagu yang membuat semua penonton bernyanyi. Dan lagu andalan saya dikala mereka manggung, Jengah, menjadi momen puncak kepuasan saya terhadap grub band asal Kota Kembang itu. Pas tampil sebagai pembuka yang enerjik dan cukup memanaskan suasana, hingga akhirnya band yang saya tunggu-tunggu penampilannya hari itu bersiap tampil di panggung sebelah, yang ukurannya lebih besar.

gigi

Armand Maulana dan kawan-kawan, atau yang lebih dikenal dengan GIGI memang seyogyanya tampil sore menjelang maghrib di stage utama tempat artis-artis prime time tampil nanti malam. Well, meskipun telah beberapa kali melihat GIGI live, dan tentunya sudah tidak asing lagi dengan penampilan mereka, namun penampilan 4 orang yang menjadi band favorit saya itu tetap sayang untuk dilewatkan. Kekuatan utama GIGI yang tidak membuat orang bosan adalah aksi panggung Armand yang sama sekali tidak monoton. Gaya komunikasi Armand pun menyenangkan, dan menurut saya menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia. Skill para pemainnya juga mumpuni, dan yang terpenting adalah GIGI selalu membawakan lagu-lagu mereka dengan aransemen berbeda setiap manggungnya. Masih ingat dalam ingatan ketika mereka menjadi band jazz saat tampil di Java Jazz beberapa tahun silam. Dan perform di festival rock macam JRL mungkin seakan membawa kembali mereka ke habitatnya. Armand, Dewa Budjana, Thomas dan Hendy masing-masing memiliki skill di atas rata-rata, dan itu yang membuat GIGI selalu dinanti penggemarnya, termasuk saya.

Hampir 1 jam lamanya sing along, menikmati “konser mini” GIGI. Tidak ada yang berubah, set list berisi lagu-lagu yang itu-itu saja. Diantara sekian banyak lagu GIGI yang saya tahu, jarang saya menemukan lagu-lagu “asing” yang biasanya hanya terdengar dari kaset-kaset GIGI yang saya koleksi. Memang berbeda ketika kita memilih lagu-lagu yang akan dibawakan secara live, tentunya harus lebih menjual. Bila kita ingin membawakan lagu-lagu baru pun yang orang belum banyak tahu, itu hanya terjadi biasanya di konser promo album. Intiya, GIGI tampil hingga maghrib tiba. Armand seperti biasa, rocks!

Setelah selesai sholat maghrib, saya kembali memasuki arena dan memburu band yang ingin saya lihat selanjutnya. Jadwal menunjukkan bahwa saat itu sedang berada di salah satu stage, band yang juga menjadi kesukaan saya, /rif. Ketika saya sampai, Andy dan rekan-rekannya tengah membawakan suatu lagu. Seperti biasa, performa /rif mencengangkan dan menjadi salah satu yang terbaik. Yang saya suka dari /rif adalah pemilihan kostum mereka setiap kali live. Dan bicara skill juga tidak salah tempat. Magi sang drummer masih menjadi salah satu yang teratraktif, dan Jikun sebagai “twenk-twenker” (saya ingat istilah itu didapat dalam lembar kaset album /rif yang bertitel Nikmati Aja), kerap mengingatkan saya pada sosok Slash (secara dandanan, minimal).

Meskipun /rif telah beberapa kali mengganti personil mereka, tidak ada lagi Iwan sang bassis yang tambun dan kocak, namun mereka tidak kehilangan tajinya. Denny yang dulu lebih kalem telah tiada dan penggantinya, Ovy, menurut saya sungguh cadas. Ovy menjadi sosok yang menyeramkan di atas panggung dengan dandanannya yang mirip dengan personil Marilyn Manson atau Guns N’ Roses era masa kini. Dan Andy sebagai frontman juga makin matang kualitas suaranya. /rif, sudah tidak ada sanggahan lagi mengenai bagaimana mereka mentransfer lagu-lagu yang dibawakan ke telinga dan visual penonton.

Kalau tidak salah saat /rif manggung juga hadir Gubernur DKI Jakarta saat itu, Joko Widodo. Jokowi datang menonton dan saya tahunya ketika Andy berteriak “Selamat datang Pak Gubernur”. Oke, sekedar selingan, sudah 2 kali saya menonton konser bersama Jokowi. Yang pertama JRL ini dan yang kedua saat Metallica hadir di GBK. Dan rasanya? Biasa saja sih, wong Pak Jokowi juga jauh dari tempat saya berdiri, hehe. Dulu sempat punya pikiran ketika ada seorang Gubernur yang gemar menonton musik rock, apakah suatu saat bisa sebelahan di kerumunan crowd? Well, agak naif juga mengingat pasti Gubernur nonton pun dikelilingi ajudannya. Oke, skip andai-andainya. Yang jelas penampilan /rif ketika itu seperti biasa, awesome. Dan menariknya, /rif hadir dengan setlist yang agak tidak umum seperti biasanya. Beberapa lagu cover dibawakan mereka, bukan hanya hits-hits standar. Hal ini menjadi menarik karena sebagai penonton, kami jadi tidak bosan. Tapi memang beberapa lagu andalan dibawakan, seperti Radja, dan Loe Toe Ye pasti hadir sebagai penutup, dan lagu favorit saya, Jeni!

Sekitar 1 jam waktu yang diberikan bagi barudak-barudak Bandung itu untuk mengguncang stage dan mereka seperti biasa melakukannya dengan “berkelas”. Penampilan apik dari Andy dan kawan-kawan memang seakan sudah biasa, namun juga kita tidak bosan dibuatnya. Dan setelah kelar menyaksikan Andy dan kawan-kawan, tibalah untuk melihat schedule selanjutnya dan terlihat Musikimia, band jelmaan Padi yang saya puja-puja akan manggung di Dome Stage pukul 21.00. Karena masih ada sekitar 1 jam lagi berselang, maka saya memutuskan untuk menghadiri penampilan Endah N’ Rhesa. Well, saya bukan penggemar mereka, namun musik yang dibawakan 2 orang ini bagus. Dan ketika saya datang ke stage, mereka masih check sound dan konsep tata panggung yang dibawakan adalah santai dimana banyak audience yang duduk di bawah pohon dan ngampar saja begitu di tanah, yang pacaran ya pacaran yang nongkrong sama teman-temannya juga bisa, hehe. Tidak lama kemudian saya segera ke Dome karena Musikimia akan segera memulai pertunjukan.

Musikimia

Agak aneh sekaligus senang, juga takjub melihat Fadly dan kawan-kawan setelah sekian lama. Dan yang menyedihkan adalah sang pemain gitar bukanlah orang yang selama ini membuat musik Padi begitu terkenal ke seantero Indonesia. Yup, bukanlah Piyu yang menyayat Les Paul namun saat ini (harusnya) Stephan Santoso, yang biasanya berada di balik layar kini menjadi gitaris Musikimia. Kenapa harusnya karena saat itu pula yang berada di stage adalah additional player karena Stephan berhalangan hadir.

Musikimia adalah project dari para personil Padi (minus Piyu dan Ari) untuk mengisi kekosongan, atau mungkin upaya membuat dapur mereka tetap mengebul. Padi yang entah bagaimana rimbanya kini memang meninggalkan banyak fans, dan Musikimia sebagai Padi kawe membuat para fans (termasuk saya) penasaran. Namun jangan menyamakan Musikimia dengan Padi karena mereka mencoba konsep baru yang pastinya berbeda dengan Padi. Musikimia hadir dengan membawakan lagu-lagu bertema perjuangan dan cinta Tanah Air (saya juga kurang paham maksud di balik ini), tetap dengan nuansa rock. Dan satu yang mengejutkan adalah ketika mereka membawakan Bidadari, single pertama di album pertama Padi, Lain Dunia, yang benar-benar mengejutkan kita semua. Sesaat terasa Padi yang perform di depan saya dan memunculkan kembali kenangan-kenangan lama juga histeria. Well apapun itu, semoga masih ada kemungkinan para Sobat Padi bisa melihat kembali band pujaan mereka berkiprah di blantika musik Indonesia. Meskipun bila dilihat kini, kemungkinan itu terasa menjauh kembali (setelah sempat dekat karena Yoyo telah lama sembuh), namun ditangkapnya Ari juga karena kasus narkoba kembali mengecilkan harapan para Sobat. Yasudahlah, sukses buat sisa personil Padi yang masih bertahan dengan project Musikimia mereka.

Sekitar 1 jam Musikimia tampil, saya segera mengingatkan diri bahwa akan ada artis Internasional utama yang bakal perform di main stage. Mereka adalah Sugar Ray. Well saya sama sekali bukan penggemar Sugar Ray, namun band yang dulunya pernah mewarnai masa-masa sekolah saya dengan lagu-lagunya yang cukup terkenal seperti Every Morning, Someday, dan When It’s Over itu adalah performer utama di JRL hari kedua ini. Saya yakin pun bahwa kebanyakan massa yang berkerumun depan panggung juga bukan merupakan fans mereka, terkecuali mereka yang memang menjadi anak 90-an seperti saya hehe.

64460_large

Sugar Ray terkenal dengan vokalisnya yang mentereng dan banyak gaya, atraktif, lincah dan juga lucu bernama Mark McGrath. Kalau bukan Mark yang menjadi frontman, tentunya Sugar Ray akan garing. Dan Mark benar-benar mampu membawa suasana menjadi hidup dengan banyolan-banyolannya sepanjang performance. Saya masih ingat dulu Mark benar-benar menjadi sorotan di Sugar Ray. Kalau ga salah sempat main film juga dia. Dan malam itu kelucuan Mark timbul lagi dan yang paling saya ingat adalah ketika ia mengomentari stage sebelah yang sedang memainkan lagu-lagu death metal dengan suara vokalisnya yang menggeram, haha. Malam itu pula Sugar Ray membawakan hampir semua lagu-lagu hitsnya dan yang paling bikin penonton bergoyang ya lagu-lagu standar mereka yang terkenal macam Every Morning dan Someday. Oh ya, saya suka Falls Apart. Overall penampilan Mark dkk standar saja dan nilai plus datang dari usaha Mark yang coba lebih menghidupkan panggung.

Ada satu insiden dimana gitaris mereka throw up di tengah pertunjukan, katanya sih karena kepanasan manggung di Jakarta, haha. Memang bagi orang bule panas banget ya main outdoor di Jakarta? Kemarin juga vokalis Sixpence mengeluh kepanasan. Welcome to the jungle kalau begitu. Oh ya, kejadian gitaris Sugar Ray muntah juga seperti menjadi show tersendiri dan cukup membuat penonton riuh hehe.

Sekitar satu setengah jam Sugar Ray manggung dan akhirnya selesai pula, saya langsung melihat jadwal dan menemukan Andra & The Backbone yang sudah tampil di Dome Stage. Wow, saya belum pernah pernah melihat langsung penampilan mereka, jadi saya putuskan untuk mengejar aksi panggung mereka namun sayangnya ketika saya sampai, mereka telah membawakan lagu terakhir. Ah sial, haha. Lain kali saya akan menonton aksi panggung band salah satu pentolan Dewa 19 tersebut.

Malam telah larut dan saya putuskan untuk pulang. Penilaian saya terhadap 2 hari perhelatan Java Rockin Land kali ini, festival yang telah saya ikuti penyelenggaraannya dari awal pertama kali mereka berlangsung (tahun 2009) adalah, memang harus diakui bahwa festival kali ini mengalami penurunan. Dapat kita lihat dari berkurangnya hari, dari yang biasanya 3 hari menjadi hanya 2, hal ini berimbas pada berkurangnya jumlah artis lokal dan internasional yang berpartisipasi. Dan sayangnya pula, nama-nama beken juga menjadi redup. Mungkin memang agak susah mencari nama yang sedang tenar kekinian untuk ikut serta (30 Seconds To Mars adalah satu yang beruntung bisa dihadirkan). Namun tidak apa mengundang nama beken yang sudah tidak lagi memiliki jamannya (dalam artian band lawas), tapi kami para pecinta rock tentunya mengharap lebih dari “sekedar” Collective Soul maupun Sugar Ray. Meskipun bagi saya Collective Soul adalah band besar, saya pun mengharap band-band macam Pearl Jam dan lainnya turut hadir (mari kita aminkan).

Hal ini mungkin disebabkan akibat tertundanya gelaran JRL tahun 2012 lalu, dimana saat itu pihak panitia penyelenggara sempat mengundang beberapa nama yang kurang greget dan tak lama kemudian mereka menyatakan membatalkan acara. Band-band yang kurang terkenal tentunya membuat tiket kurang laku dan hal ini yang harusnya disadari pihak penyelenggara. Bahkan mereka coba “membungkus” JRL yang gagal itu dengan mencampurkannya ke festival musik lain (musik soul atau apa gitu saya lupa). Jadi ada satu festival dimana ada musik rock dan musik jenis lainnya. What the..??

Sebagai seorang penggemar musik rock tentunya saya (dan penggemar lain) merasa kecewa. Kami mau pagelaran rock murni dengan band-band rock betulan. Bukan band yang “di rock-rock-an”. Dan tentunya sebagai pembeli tiket untuk suatu pertunjukan yang kami anggap tepat dan berkelas, kami juga tak akan segan mengeluarkan uang bila band yang dihadirkan benar-benar sesuai. Ambil contoh The Smashing Pumpkins ataupun Mr. Big juga Third Eye Blind (sayang saya tidak menontonnya) yang hadir di 2009 silam.

Demikian review saya kali ini yang lama dan berdebu tersimpan di draft, haha. Thanks for the attention and keep rockin’ on!

Image from Google

Tagged , , , , , ,

Batman: A Fanfic #WroteBackBlog

Batcave, 5 PM.

Hari semakin malam ketika aku sudah lelah menunggu Batman pulang bertugas malam ini. Disini, aku bersama Alfred, menjaga kediaman megah Bruce Wayne. Alfred adalah penjaga setia keluarga Wayne. Aku sudah bosan menjaga rumah yang seperti sangkar kelelawar raksasa ini. Dan ketahuilah, ini memuakkan. Ini semakin menegaskan bahwa aku saat ini berada di bawah bayang-bayang Bruce. Parahnya, aku seperti bukan seorang superhero.

Padahal, apa yang membedakan aku dengan Batman? Kami sama-sama berjubah. Sama-sama memiliki sayap. Well, mungkin dia lebih berotot, jelas. Dia lebih dewasa dari aku tentunya, pengalamannya lebih banyak. Sedangkan aku hanya anak muda yang ditemukannya di tempat sirkus, setelah orang tuaku dibunuh oleh penjahat itu, lelaki berwajah dua. Batman pun memburunya. Ia melihat potensiku, dan mengajakku bergabung. Membasmi kejahatan bersama di Gotham City. Bersama? Itu katanya dulu.

Namun kini, ia lebih senang sendiri. Aku ditinggalkannya. Setiap aku ingin pergi, Batman melarangku. Dan karena ia bertempur sendiri, namanya terus terpampang di headline The Gotham Post, dengan sanjungan yang luar biasa. Seluruh warga Gotham memujinya. Dan aku, sudah tak pernah disorot lagi. Mungkin warga Gotham telah melupakanku. Batman menjadi egois akhir-akhir ini. Apalagi kini dengan hadirnya psikolog cantik itu, Dr. Chase Meridian. Aku rasa Batman suka dengannya. Batman dan Bruce Wayne, mereka berdua suka dengannya. Haha, konyol memang. Sudah kubilang seorang superhero tidak boleh jatuh cinta, karena akan merusak konsentrasi.

***

“Alfred, kurasa aku akan tidur sekarang”

“Tuan Dick, anda seperti kurang sehat. Wajah anda pucat, apakah anda butuh sesuatu? Saya akan menyiapkannya untuk anda, Tuan”

“Oh tidak Alfred.. Kurasa aku hanya butuh istirahat, terima kasih”

Aku segera masuk ke dalam lift yang akan membawaku ke atas, ke kamarku. Sudah lebih dari satu jam aku berada di sini, Batcave. Tempat Batmobile dan motorku tersimpan. Motor yang sudah berdebu, karena sudah lama tak dipakai. Di lift ini pun tergantung jubahku yang juga lama tak terpakai, bersanding dengan jubah hitam mengkilap milik Batman. Semua ini menyesakkan dadaku.

Akhir-akhir ini aku lebih senang di Batcave. Menyendiri dan bersembunyi dalam gua. Batcave? Haha, ini menjadi salah satu yang kupertanyakan. Aneh memang kenapa setiap properti yang berhubungan dengan Batman selalu memakai nama “Bat” di depannya. Sudah selama ini kita bekerjasama, dia bilang kami adalah tim, namun tetap saja peralatan ini mematenkan namanya.

Aku gelisah, dan Alfred tahu itu. Ia sepertinya khawatir dengan kegelisahanku. Kadang Alfred menemaniku di gua, membawakan makanan dan minuman. Aku lebih sering bermalam di gua daripada di kamarku sendiri. Gua ini membuatku merasa nyaman. Kegelapan yang menyelimutiku, menghangatkan tubuhku, dan kelelawar-kelelawar yang hinggap disini seakan mengerti kegundahanku.

***

Kubuka pintu kamar, dan kepalaku tiba-tiba berputar. Aku pusing sejadi-jadinya. Keadaan ini sudah kurasakan selama beberapa minggu ini. Mungkin karena sakit di kakiku, yang membuat kepala ini pusing. Tapi tidak, aku tidak boleh melemah. Aku Robin, seorang superhero, dan keadaan ini bukan penghalang bagiku. Tapi dia, dia yang menghalangiku. Dia membatasi pergerakanku, entah sampai kapan. Dia berkata bahwa aku sudah tidak punya harapan untuk pulih, dan tidak mungkin kembali menjadi seorang superhero. Karena kini, aku bergantung pada tongkat ini. Tongkat ini adalah penyangga kakiku yang diamputasi. Tapi aku diberikan kaki palsu, bukan? Memang, kaki palsu dari fiber ini sangat mengganggu. Apalagi tongkat ini membuat aku tak bebas bergerak. Namun, aku percaya masih mampu berbuat banyak dengan kaki seperti ini. Namaku Dick Grayson, panggil saja Robin. Dan kalian tahu, Bruce salah jika harus beranggapan seperti itu, bahwa masa keemasanku telah habis. Haha.

Kututup pintu kamar, dan berjalan payah dengan tongkat ke arah lemari. Kubuka lacinya, dan kulihat sebuah benda disitu. Benda ini adalah jawaban. Aku tersenyum disirami cahaya temaram dari lampu kamar.

***

Batcave, 11 PM.

Batman masih dalam jubah hitamnya, setelah bertugas malam ini. Di layar televisi diberitakan bahwa Two Face masih saja mengganggu ketentraman Gotham, bahkan Batman kewalahan meringkusnya. Two Face, lelaki yang membunuh orang tuaku. Batman tahu aku menyimpan dendam untuknya. Tapi anehnya, Batman melarangku untuk ikut serta memburunya. Padahal energiku tersimpan banyak dan berlebih. Dia melarangku tepat setelah kecelakaan itu. Kecelakaan yang terjadi ketika kami mengejar Two Face bersama. Saat itu motorku terjatuh, dan kaki kiriku ini dilindas oleh anak buah Two Face dengan motor besarnya hingga remuk.

“Two Face masih berkeliaran, dan sangat sulit menangkapnya”, Batman membuka pembicaraan seraya turun dari Batmobile, dan membuka topengnya. Ia kini menjadi Bruce Wayne.

“Kau tak akan kesulitan bila mengajakku turut serta”

“Kau sudah gila? Lihat kakimu. Itu adalah terakhir kali kita melawannya. Hasilnya itu! Sekarang kakimu terbuat dari plastik, dan kau masih ingin melompat-lompat dan berlari bersamaku?”

“Aku masih bisa bergerak, Bruce! Tenagaku masih kuat. Lihat aku, aku masih muda. Dan yang menjadi masalah, aku tak bisa berdiam terus disini, Bruce!”

“Oke.. Jadi kau mau kemana? Kembali ke tempat sirkus? Kau bahkan sama sekali tak terpakai disitu”

“Whatever. Tapi aku yakin masih bisa berbuat sesuatu, minimal membalas dendamku pada Two Face.. Dan aku tahu itu!”, nadaku semakin keras dan meninggi.

Mendengar kalimat itu, Bruce terdiam, menggelengkan kepalanya, dan berbalik pergi. Ke arah lift, melepaskan jubahnya, dan menuju kamarnya.

Seketika itu pula aku tahu, inilah saatnya.

***

Jarum pendek  menunjukkan pukul 12 tengah malam ketika aku mengendap-endap di lorong menuju master bedroom rumah ini. Diluar hujan, dan suasana tak pernah lebih mencekam dari ini, setidaknya selama aku pindah dari sirkus dan tinggal disini. Aku meyakinkan diri sendiri bahwa hanya akulah yang ada di lorong saat ini. Tidak ada Alfred. Tongkat yang kupakai untuk berjalan menimbulkan suara berderak di lantai kayu. Aku berjalan perlahan, kilatan gemuruh yang masuk dari jendela bagai lampu blitz kamera, dan menimbulkan bayangan panjang diriku di lantai, bagai monster yang siap menerkam siapa saja yang berada di lorong ini. Meskipun hujan, hawa terasa panas. Keringatku bercucuran, detak jantungku berdetak begitu cepat, badanku mendadak panas.

Aku tahu pintu tak dikunci, kubuka, dan itulah Bruce. Membelakangiku, terduduk di sofa, bersandar dan tertidur. Cahaya datang dari layar laptop yang masih menyala. Di sebelahnya ada secangkir kopi, tumpukan buku-buku tebal, guntingan koran beserta surat kabar yang berserakan. Bruce selalu seperti ini. Bekerja hingga larut malam, bahkan hingga tertidur di sofa kamarnya.

Aku menghampirinya perlahan dari belakang. Kilat saling menyambar, semakin gencar mewarnai nuansa pekat malam. Hujan turun semakin lebat, menimbulkan suara gemericik di atap. Semilir angin masuk melalui jendela yang tidak ditutup rapat, menerbangkan gorden putih, melambai-lambai, bagaikan tangan menggapai di udara. Cahaya menerangi sebelah wajahku ketika aku berhenti tepat di belakang Bruce, diatas kepalanya.

Sambil mengangkat benda itu ke udara, tongkatku terjatuh, dan bersamaan dengan bunyi tongkat yang mengenai lantai kayu, Bruce membuka matanya. Dan menatapku tepat di mata. Kami saling berpandangan sesaat, sebelum…

Secepat kilatan kilat yang menerangi seisi kamar, aku menusuk pisau yang selama ini kusimpan di lemari kamarku, tepat di jantung Bruce. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Bahkan kutambah dengan belasan tusukan lagi yang mendarat membabi buta di sekujur tubuhnya. Darah ini terasa hingga ke ubun-ubun, Nafas ini tersengal-sengal, dadaku sesak. Namun aku malah tersenyum puas. Hingga akhirnya tertawa.

Pfiuhh, entah kenapa, aku gembira melihat tanganku berlumuran darah segar. Dan di bawahku, Bruce terbelalak, tubuhnya penuh darah. Saat itu, Alfred membuka pintu kamar, dan memanggil namaku dan Bruce dengan keras. Aku menoleh ke arah Alfred, dan aku tertawa.

Kalian tahu, ini adalah hari ketika kumulai era baru diriku, sebagai Robin, seorang superhero.

(image from Google)

 

#WroteBackBlog adalah segmen dimana saya menulis ulang tulisan yang pernah saya tulis di blog mendiang thebimz.multiply.com atau tulisan-tulisan yang belum pernah di/ter publish. Tujuannya adalah untuk melestarikan kembali, mengingat kembali dan/atau mengisi masa belum adanya ide membuat tulisan baru.

Tagged , , , ,

Beach, Pleaseee..!! #WroteBackBlog

FullSizeRender

Travelling sebenarnya menjadi hobi terselubung saya. Kenapa terselubung? Alasannya begini. Pertama, siapa sih yang ga suka jalan-jalan? Dari bayi, anak kecil, ABG, remaja, dewasa sampe bokap nyokap atau kakek nenek pasti suka yang namanya jalan-jalan. Jalan-jalan atau istilahnya yang keren sekarang itu travelling, emang paling pas dilakukan kalo pikiran lagi stres atau padat kerjaan. Well, ga padat kerjaan juga ga salah kok. Travelling ke tempat-tempat yang menyegarkan mata dan ada udara segarnya macam gunung, pantai, atau luar kota, tempat wisata, atau bahkan luar negeri, memang menjadi kegemaran (hampir) setiap orang. Tapi tunggu dulu, ada juga yang ga suka travelling. Kenapa ada yang ga suka travelling? Banyak sih alasannya. Bisa jadi ia adalah orang rumahan, lagi banyak kerjaan, atau ini nih menurut saya alasan yang masuk akal: ga punya uang. Atau bahkan pelit.

Klise. Ujung-ujungnya duit. Dan inilah yang menjadi problematika utama orang yang mau travelling. Travelling berkaitan dengan ongkos alias budget. Dan macam-macam tempat yang dituju, macam-macam pula ongkos yang dikeluarkan. Semakin jauh, semakin mahal pastinya. Contoh, jalan-jalan ke Bandung tentu mengeluarkan biaya yang jauh lebih sedikit dengan… Ke Antartika misalnya *halah*. Selain itu, aspek fasilitas tentunya berpengaruh. Kita bepergian dengan ngirit tentunya berbeda dengan kita bepergian dengan lebih nyaman. Irit disini bukan berarti ga nyaman lho ya, itu semua pilihan kok. Ngirit disini maksudnya berhubungan dengan tema tulisan kali ini, yaitu backpacker.

Backpacker sendiri kalo kita nyontek ke wikipedia memiliki arti: wisata yang tidak memberatkan (dengan membawa koper, misalkan), atau dengan kata lain, wisata dengan menggunakan tas gemblok (backpack) trus cuma bawa baju dan pakaian secukupnya. Tidur pun ga senyaman di hotel dan sebagainya. Begitulah kira-kira. Ini sebenarnya yang belum tentu mau dilakukan kebanyakan orang. Kalo pergi dengan nyaman alias pake koper (secara harfiah adalah lawan dari backpack), tentunya ga ada yang ga bisa. Nah, lain cerita kalo travelling dengan backpack alias “ngegembel” atau ada juga yang bilang ngeteng, atau apalah. Ini dia yang jarang orang bisa (atau mau). Karena apa? Karena backpacker identik dengan ketidaknyamanan.

Namun bagi beberapa orang, disitulah serunya. Dari sisi mana kita bisa melihat keseruan hal tersebut? Pertama, lagi-lagi berkaitan dengan uang. Dengan ngebackpack, kita bisa mengatur budget bepergian kita. Karena jelas kalo pergi dengan koper akan lebih mahal dibanding backpackeran. Kita bisa memangkas biaya penginapan, akomodasi, konsumsi dan lain-lain..

Kedua, kita akan tertantang untuk menciptakan suasana liburan yang menarik dan seru. Artinya, backpackeran means we create our own trip. Bukan berarti ga bisa pake EO trip atau tour guide, karena ada juga trip yang buat backpackeran. Meskipun ada beberapa yang ga setuju dengan istilah “backpackeran tapi kok pake EO trip”.

Oke, kita ga membahas hal itu. Lebih baik kita membahas, bagaimana menciptakan itinerary yang berbeda dengan trip “koper”, dan saat itulah kita akan menemukan keseruan demi keseruan, baik dari perjalanan itu sendiri, tempat yang didatangi maupun interaksi dengan warga sekitar atau traveller lainnya.

Hmm, sepertinya cukup dengan kalimat pembuka yang banyak diatas. Sekarang saya akan menceritakan pengalaman seru saya sebagai seorang backpacker amatiran, hehe. Ketika itu saya dan beberapa teman mengalami pengalaman indah ketika merencanakan acara tahun baru dengan berkunjung ke suatu pantai di daerah Banten bernama Sawarna Beach (sok keren banget ya, padahal mah Sawarna gitu aja nyebutnya hehe).

Ceritanya begini. Saya dan teman-teman memang sudah merencanakan untuk berlibur ke pantai, dan setelah browsing sana sini, tujuan kami jatuh kepada Pantai Sawarna, dan sepertinya akan mengasyikkan karena kami bermaksud kesana untuk merayakan tahun baru. Man, it’s gonna be fun! Membayangkan bakal malam tahun baruan di pantai, ditemani cahaya rembulan plus desiran ombak yang syahdu.. Kemudian bercerita, sembari menyalakan api unggun, lalu tertawa menertawakan kekonyolan, tak lupa bermain truth or dare agar suasana lebih seru.. Wow, kumpulan bayangan yang menarik, bukan? Bayangan-bayangan yang biasanya hanya terjadi dalam film melayang jelas di kepala saya, dan membuat saya makin tak sabar untuk segera bercumbu dengan air laut dan bermandikan pasirnya.

Dan akhirnya kami pun sepakat untuk bepergian secara backpacker. Meskipun masih memakai jasa tour guide, namun wisata ini menurut hemat saya masuk ke ranah backpack. Kenapa gitu? Karena pertama, biaya yang dikeluarkan relatif murah, dan yang kedua, kami akan menginap di penginapan yang sederhana (namun masih nyaman pastinya, hehe). Anyway, kalau saya tahu apa yang akan terjadi nanti, bakalan masuk kategori lebih backpack lagi deh, haha.

Singkat cerita, setelah tahu tempat dimana kami akan dijemput, kami ber-10 sudah menunggu dengan manis di salah ruang parkir salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat. Dan sekitar pukul 9 malam, akhirnya mobil jemputan datang. Bukan, bukan Alphard atau limousine, melainkan minibus yang biasa disebut “elf”. Orang pada nyebutnya elf-elf aja, tapi tau ga kalian merk mobil itu apa? Isuzu. Haha ga penting memang.

Jadi kami rencananya bakal sampai ke tempat tujuan dengan naik elf tersebut, kemudian prediksi departure kami di Sawarna adalah ketika subuh hari. Semalaman di perjalanan, kami melakukan banyak hal. Mulai dari ngobrol ngalor ngidul, ngegosip, foto-fotoan meskipun gelap, mengudap makanan kecil maupun besar, ke WC kalo pas lagi berhenti, nonton film di gadget, atau kegiatan yang paling pasti adalah tidur sambil sesekali terbangun karena elf tergoncang sana sini akibat jalanan yang ga mulus.

Hingga pada akhirnya, tetiba udara berubah sejuk dan sesekali nampak di balik kaca jendela dan dibawah pepohonan, desiran ombak yang menerpa pasir dengan suara semilir laut yang khas. IT’S THE BEACH!

Kami semakin antusias untuk turun dan sudah keburu pengen nyebur (belum apa-apa udah mau nyebur aja..), maklum di habitat kami (Jakarta) sama sekali ga ada hamparan laut biru. Volume air banyak hanya muncul ketika banjir besar melanda, dan kami ga mungkin dong cebur-ceburan di banjiran udah gede begini, haha.

Jadi, menurut itinerary yang ada, pagi itu kami begitu sampai langsung dibawa ke penginapan dan mendapat makan. Oke, seketika itu pula kami langsung jalan kaki sambil menenteng ransel yang cukup berat menuju tempat, yang katanya tempat penginapan. Sudah terbayang di kepala, hamparan kasur buat ngerebahin badan setelah semalaman duduk tegak.

Namun apa yang terjadi, setelah ngider cukup lama saya dan teman-teman kok ga masuk-masuk ke dalam ruangan yang namanya kamar atau apalah. Kami muter-muter aja sedangkan pengunjung lain tampak sudah beristirahat sambil nyemil-nyemil selonjoran atau bahkan makan. Wah ada apa ini?

Saya masih inget nasihat guru ngaji saya waktu SD untuk selalu ber-khusnudzon alias berbaik sangka *azek*. Dan itulah yang membuat saya dan teman-teman ga jadi merengut karena bingung. Tak lama, kami akhirnya bisa dapet pit stop, yaitu sebuah rumah yang sepertinya bukan penginapan deh, ga tau rumah siapa. Disitu kami geleparan, ditambah perut keroncongan minta makan.

Setelah menunggu cukup lama, yang punya rumah mempersilakan kami untuk makan. Oh, prasmanan rupanya. Jadi empunya rumah memasak cukup banyak untuk kira-kira 10 orang. Ada ayam, sayur, dsb dan alhasil kami makan dengan bar-barnya.

Setelah kenyang, kucluk-kucluk datang lah seorang wanita muda berusia sekitar 30 tahun lebih, memakai kacamata, dengan postur tubuh agak gemuk dan ga begitu tinggi. Oh rupanya ia adalah EO backpacker kami, atau tour guide, atau apalah yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup kami selama di Sawarna.

Setelah berbasa basi sebentar say hello dan lalala, ia mulai bicara dengan nada agak pelan, sembari merendahkan suaranya ditambah mesem-mesem sedikit.

“Mas, mbak.. Maaf yaa, ternyata penginapannya udah penuh.. Jadi kita ga dapet tempat. Untuk sementara kalian disini dulu ya.. Nanti kita carikan tempat lagi..”

Untung kami udah selesai makan. Kalau belum, bisa keluar lagi makanan yang ada di mulut saking kagetnya. Bahkan bisa sengaja disemburin ke dia. Bayangin aja, udah dibawa muter-muter sampe kaki pegel dan punggung linu karena bawa ransel yang banyak isinya, eh ada kabar ga enak kayak gitu. Meskipun perut kenyang pun tetep aja rasanya pengen nampol itu mbak-mbak abis dia ngomong begitu.

Setelah terjadi percakapan dan komplain yang cukup bikin bete dan dia ngeles sana sini dengan jurus 1001 alasan, akhirnya kami bersedia mengalah dan memilih ngikutin apa maunya dia/mereka.

Kemudian, acara selanjutnya adalah perjalanan menuhu Gua Lalay. Apa dan bagaimana bentuknya gua itu? Silahkan anda googling sendiri, hehe. Yang jelas perjalanan menuju gua ini cukup bikin capek dan gembrobyos (apa tuh artinya? Tanya orang jawa haha). Kita harus berjalan dulu sekitar 1,5 kilometer untuk mencapai gua yang di dalamnya berisi air tersebut. Perjalanannya cukup menyenangkan, dengan melewati sawah yang hijau, satu jembatan gantung dimana di bawahnya terdapat sungai yang arusnya cukup besar, dan rumah-rumah penduduk di perkampungan.

Di mulut gua, telah banyak orang-orang yang mengantri masuk ke dalam. Padahal mah gua gitu-gitu aja ya isinya.. Lalu panitia *halah panitia* menyediakan helm 2 in 1, yaitu helm sekaligus senter yang bisa disewa oleh pengunjung. Dan seperti yang saya bilang tadi, kalo guanya ada airnya di dalam. Jadi kalo ga mau basah ya kita harus gulung celana deh. Kedalaman air lumayan tinggi, hingga sepaha orang dewasa.. (kok jadi seperti reportase korban banjir di tv bahasanya, hihi).

Setelah lelah ngubek-ubek gua, rombongan kembali ke penginapan.

Eh, tunggu dulu. Kalo ngomong penginapan saya jadi bete nih, dan teringat kembali wajah mbak-mbak EO yang dengan gampangnya ngemeng kalo kita ga dapet penginapan. Aarrggh..!!

Pokoknya kita kembali pulang deh, dan bener aja kalo kita masih muter-muter lagi-lagi nyari tempat buat nginep, untungnya kali ini dengan elf. Hingga akhirnya kami menemukan satu rumah, sepertinya rumah penduduk yang telah dibayar kepala keluarganya untuk dijadikan semacam “home stay”. Okelah, pikir kami. Lagian viewnya lumayan bagus. Jadi si rumah penduduk itu letaknya berhadapan dengan pantai kecil yang sepertinya masih nyambung dengan Sawarna. Udah gitu cuaca hujan gerimis. Makin syahdu lah situasi.

Yang agak mengganggu adalah interior si rumah. Yaitu kamar mandi dan tempat tidur yang spooky. Spooky bagaimana? Pertama, kamar mandinya terlalu luas, dan ada sumurnya! Kamar mandi old school gitu deh. Kedua, tempat tidur yang nantinya bakal kita inapi juga menyeramkan, karena di tempat tidurnya ada kelambunya, haha. Antara serem atau jadi macam cerita stensilan gitu *ups. sensor, haha* ya pokoknya intinya jaman dahulu banget deh. Dan itu sore hari hawanya aja sudah begitu, ga kebayang kalo malam.

Ndilalah, si mbak-mbak EO ngeselin itu muncul lagi. Kali ini memberi tahu itinerary dan kita disuruh siap-siap karena agenda kami selanjutnya adalah agenda utama, yaitu ke pantai Sawarna. Malamnya, menghadiri acara tahun baru di pantai tersebut. Wah, acara api unggun atau barbequean nih, pasti seru.

Jadilah kita bersiap menuju pantai, naik elf trus diturunin di gerbang semacam pintu selamat datang. Kurang lebih dengan berjalan 100 meter sampailah kita di pantai Sawarna. Pantainya bagus, ombaknya lumayan besar, tapi sayangnya terlalu banyak orang, hiks.

Yeap, pengunjung yang datang banyak sekali, mungkin karena tahun baru ya. Sehingga, suasana pantai yang enaknya dinikmati sunyi dan khidmat menjadi ramai kayak pasar yang pindah ke pantai. Begitulah.

Dan yang selanjutnya terjadi adalah, kami bermain-main menyusuri pantai, berfoto ria. Tak lupa foto yang wajib hukumnya bila di pantai, yaitu berbaris untuk kemudian meloncat dalam hitungan ketiga.. Dengan latar belakang laut dan ombak, dan capture nya pas kita lompat. Kalo ga salah namanya foto levitasi deh, hihi.

Waktu sudah semakin sore menjelang maghrib, tetiba hujan mulai turun. Seketika saya dan teman-teman memutuskan untuk berteduh di warung yang menjual mie instan (sebut indomie aja gapapa kali yah, haha) dan kopi segala macam. Ngomong-ngomong, itu adalah indomie yang paling nikmat yang pernah saya makan, karena suasana, haha. Makan indomie menghadap pantai dan deburan ombak, dengan cuaca dingin hujan.. Ah, makin lengkap apabila engkau ada di sisiku *laah tiba-tiba galau curhat*.

Tapi kok ya, ada yang janggal nih dari perjalanan kami ber-10. Sampe menjelang malam begini, kok kita kayak ga diperhatiin sama EO, padahal kan kita ikut backpacker trip! Dan asal muasal kita sakit hati ya karena ga dapet penginapan yang seharusnya kita dapatkan itu, dan tanpa ada pemberitahuan jelas lho. Di warung indomie tersebutlah terjadi semacam konferensi dan kita seperti tersadarkan untuk kemudian terbersit niat pulang saja ke Jakarta sebelum rangkaian trip diselesaikan.

Niat mau “kabur” yang masih mentah itu menjadi setengah matang dan matang ketika kita masih membahas dalam perjalanan pulang dari pantai ke penginapan, dan lagi-lagi tanpa “bimbingan” mbak-mbak EO yang ngeselin itu. Macam anak hilang lah kita, haha. Sepanjang perjalanan itu juga kita diskusi tuh, untung ruginya apa kalo kita ngelanjutin trip sampai besok pagi atau kalo pulang malam ini.. Dan kesimpulan awal mengatakan, kita pulang aja karena merasa dirugikan.

Pulangnya pake apa? Kepikiranlah buat kongkalingkong sama supir elf yang udah kita kenal sewaktu berangkat. Kasih duit aja gitu ke dia. Begitu deh rencana gerakan makar kita *halah*.

Dan acara barbeque atau api unggun yang masih terngiang di kepala, langsung buyar seketika ketika kami melihat ternyata di tengah pantai ada panggung besar dengan orang-orang yang lagi cek sound dan masang speaker, dengan lagu dangdut sebagai backsound! Astaga ga taunya dangdutan kita di tahun baru. Tarik maanngg..!! Haha.

Udahlah makin ga jelas aja bakalan nih acara di pantai.

Artinya, rencana awal yang memang sudah matang menjadi suatu kesimpulan bulat yang harus segera dieksekusi, ketika kita melewati penginapan yang harusnya kita tempati. Disitu semua peserta dari pengunjung lain selain kita, dengan jumlah biaya yang sama dengan kita, hidup tenteram dalam damai. Lah ini, kita yang harusnya juga berada disitu kok malah dapet rumah tinggal yang spooky dan jauh dari peradaban. Makan pun sepertinya terlantar. Ah pokoknya kacau deh.

Malam ini juga harus pulang ke Jakarta, itu kesepakatan kita ber-10. Dan benar saja, ketika sampai di rumah tinggal, kami merencanakan pelarian. Supir elf telah dihubungi dan ia telah standby bersembunyi di balik pohon, mungkin takut ketahuan mbak-mbak EO itu. Dia sih mau-mau aja kalo pulang sekarang dan dikasih ongkos. Namun kami sebagai backpacker yang masih memiliki etika dan norma-norma, menelpon terlebih dahulu kepada EO, awalnya untuk komplain dan mungkin bisa teratasi dengan mediasi. Tapi apa jadinya, si EO malah lepas tanggung jawab dan drama ga mau melepas kita pergi. Kesalnya, ketika kita mengungkapkan isi hati bahwa kita kecewa, mereka menanggapinya dengan santai saja, dan ketika kita minta penggantian biaya karena ga mengikuti trip hingga selesai, mereka bilang uang ga bisa kembali, baik sebagian maupun seluruhnya.

Ya sudahlah, kita-kita juga udah ilfeel dan maunya pulang aja, hihi.

Akhirnya tepat di malam tahun baru, saya dan rombongan resmi pulang. Eh, kabur lebih tepatnya, menuju Jakarta. Rencana tahun baruan di pantai buyar. Impian menikmati kembang api di malam tahun baru di pantai, sirna. Yang ada kita malah bermacetan ria di elf.. Terjebak pasar tumpah di suatu daerah di mana entah berada. Eh tapi ada kembang api juga lho! Tapi liatnya dari dalam elf haha.

Sekali-kali merayakan tahun baru ga perlu mainstream kan?

 

#WroteBackBlog adalah segmen dimana saya menulis ulang tulisan yang pernah saya tulis di blog mendiang thebimz.multiply.com atau tulisan-tulisan yang belum pernah di/ter publish. Tujuannya adalah untuk melestarikan kembali, mengingat kembali dan/atau mengisi masa belum adanya ide membuat tulisan baru.

Tagged , , , ,

Nyaman, produktif dan (semoga) konsisten.

Beberapa waktu lalu saya “menemukan” kembali suatu kegiatan yang dahulu sempat saya lakukan rutin bersama teman-teman, yang pada dasarnya bermanfaat bagi saya dalam menjalani hidup di dunia fana ini (halah). Apakah itu? Kegiatan yang bila saya renungkan lebih dalam lagi saya bersyukur bisa berada di dalamnya dan menjalankan sistemnya. Bila dipikir lebih dalam lagi (udah jangan terlalu dalam nanti kecebur), tidak semua orang diberikan “kesempatan” yang sama dengan saya. Seorang bijak pernah berkata bahwa sebenarnya saya telah diberikan “jalan” dan “kesempatan” itu, tinggal bagaimana saya memanfaatkannya. Apakah itu? Well, kegiatan itu adalah pertemuan sepekan sekali dengan teman-teman yang dulu sempat bersama selagi kuliah, lalu kami terpisah oleh ruang dan waktu. Kita bertemu dalam satu perkumpulan, dengan satu orang sebagai narasumber atau bahasa mudahnya, seseorang yang memiliki lebih banyak ilmu dibanding kita. Dan ia setiap minggu membagi ilmunya dengan kita, membahas berbagai hal yang penting bagi bekal kehidupan, dan juga sebagai ajang “curhat” atau menceritakan masalah untuk kemudian dicarikan solusinya, dalam koridor jalan yang benar dan seharusnya dilakukan.

Anggap saja sebagai sarana untuk mengingatkan diri akan hal-hal yang bernilai kebaikan, setelah 1 minggu lamanya selama 7 hari disibukkan oleh hal-hal yang bersifat keduniawian, ini sebagai tools untuk me-refresh kembali mengenai hakikat kehidupan. Setiap orang butuh nasihat, bukan? Dengan nasihat maka hati akan menjadi lunak dan itu menjadi ciri orang yang ingin selalu berada di jalur yang benar. Well, saya juga bukan malaikat yang tidak pernah melakukan kesalahan. Saya itu bandel banget. Bahwasanya saya juga seperti layaknya orang lain yang sering melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan. Namun keinginan untuk tidak menjadi orang yang berperilaku dan berperangai buruk, dalam tatanan hubungan kepada Tuhan dan sesama manusia, itulah yang harus ada pada diri tiap orang.

Kali ini, kelompok mingguan kita mengambil tema utama Nyaman, Produktif dan Konsisten, 3 kata yang kedengarannya sederhana namun memiliki arti yang cukup luas dan bermakna dalam.

1. Nyaman. Kenyamanan adalah hal yang penting dalam kondisi sekarang, dimana saya dan teman-teman sudah tidak lagi muda (halah) dan beringas seperti jaman kuliah dulu (hahaha). Dalam artian, saat ini kenyamanan bisa ditafsirkan dalam beberapa hal, seperti isi/materi dari bahasan setiap berkumpul, atau juga dari beban tugas yang diberikan.

Dalam konteks materi bahasan/diskusi, ada beberapa hal yang sepertinya sudah tidak sesuai dengan kondisi saya dan teman-teman saat ini. Misalkan mengenai tema politik, bolehlah bila dibahas menjadi selingan, namun sepertinya tema kehidupan sehari-hari dan permasalahannya (yang nantinya melahirkan solusi) adalah tema yang sesuai dengan konteks kekinian. Begitu pula dengan beban tugas, hal ini menjadi suatu hal yang (sepertinya) akan menjadi masalah karena waktu yang saya dan teman-teman miliki saat ini sudah jauh berbeda dengan waktu jaman kuliah. Dalam artian, udah males kali ya kalo dapet tugas-tugas, hehe.

2. Produktif. Salah satu tujuan dari diadakannya kembali perkumpulan ini adalah hadirnya nilai-nilai berkualitas dalam kehidupan saya dan teman-teman. Karena semata-mata kebaikan bukan hanya sikap dan perilaku terhadap sesama manusia, namun juga harus hadir dalam ritual kita dan hubungannya dengan Tuhan. Dan itulah yang menjadi salah satu tujuan diadakannya kembali perkumpulan ini, agar nilai-nilai ritual dalam bentuk ibadah kepada Tuhan lahir dengan benar dan konsisten, dalam hal ini bisa kita kaitkan dengan produktifitas.

3. Konsisten. Kata yang paling dalam maknanya dan paling sulit pengejahwantahannya, menurut saya. Konsistensi adalah momok yang menakutkan untuk dihadirkan dalam segala aspek kehidupan. Maaf, sepertinya kata momok kurang tepat. Yang tepat adalah konsistensi adalah tantangan yang harus ditaklukkan meskipun selama ini lebih kalahnya saya, hehe. Konsistensi dalam hal kebaikan, adalah suatu cita-cita bagi saya pada khususnya, dan bagi yang lain pada umumnya.

Demikianlah, postingan kali ini rada bener sepertinya, hehe.

image from Google.

Tagged , , , ,

Mengikuti jejak teman saya, Adhi Rahman, berikut 20 album kesukaan saya hingga kini. Bukan berdasarkan urutan, namun pas lagi ingatnya saja, hehe. Dibacanya dari kiri ke kanan, atas ke bawah:

1. (What’s The Story) Morning Glory (Oasis) – 1996
2. Pandawa Lima (Dewa 19) – 1997
3. Sesuatu Yang Tertunda (Padi) – 2000
4. Kisah Klasik Untuk Masa Depan (Sheila On 7) – 2000
5. Angel Dust (Faith No More) – 1992
6. Hopes And Fears (Keane) – 2004
7. Ten (Pearl Jam) – 1991
8. Metallica “The Black Album” (Metallica) – 1991
9. The Joshua Tree (U2) – 1987
10. The Best of Extreme: An Accidental Collocation of Atoms? (Extreme) – 1998
11. Use Your Illusion 1 (Guns N’ Roses) – 1991
12. MTV Unplugged (Alanis Morissette) – 2001
13. Meteora (Linkin Park) – 2003
14. Dangerous (Michael Jackson) – 1991
15. AM (Arctic Monkeys) – 2013
16. Parachutes (Coldplay) – 2000
17. Free All Angels (Ash) – 2001
18. Torches (Foster The People) – 2011
19. Agustus 1997 (The Fly) – 1997
20. Good Acoustics (Firehouse) – 1996

Agak mainstream memang, hehe. Masih ada beberapa lagi namun segitu saja dululah. Adakah yang sama dengan pilihan anda? 😁 – with Adhi

View on Path