Tag Archives: wrotebackblog

Batman: A Fanfic #WroteBackBlog

Batcave, 5 PM.

Hari semakin malam ketika aku sudah lelah menunggu Batman pulang bertugas malam ini. Disini, aku bersama Alfred, menjaga kediaman megah Bruce Wayne. Alfred adalah penjaga setia keluarga Wayne. Aku sudah bosan menjaga rumah yang seperti sangkar kelelawar raksasa ini. Dan ketahuilah, ini memuakkan. Ini semakin menegaskan bahwa aku saat ini berada di bawah bayang-bayang Bruce. Parahnya, aku seperti bukan seorang superhero.

Padahal, apa yang membedakan aku dengan Batman? Kami sama-sama berjubah. Sama-sama memiliki sayap. Well, mungkin dia lebih berotot, jelas. Dia lebih dewasa dari aku tentunya, pengalamannya lebih banyak. Sedangkan aku hanya anak muda yang ditemukannya di tempat sirkus, setelah orang tuaku dibunuh oleh penjahat itu, lelaki berwajah dua. Batman pun memburunya. Ia melihat potensiku, dan mengajakku bergabung. Membasmi kejahatan bersama di Gotham City. Bersama? Itu katanya dulu.

Namun kini, ia lebih senang sendiri. Aku ditinggalkannya. Setiap aku ingin pergi, Batman melarangku. Dan karena ia bertempur sendiri, namanya terus terpampang di headline The Gotham Post, dengan sanjungan yang luar biasa. Seluruh warga Gotham memujinya. Dan aku, sudah tak pernah disorot lagi. Mungkin warga Gotham telah melupakanku. Batman menjadi egois akhir-akhir ini. Apalagi kini dengan hadirnya psikolog cantik itu, Dr. Chase Meridian. Aku rasa Batman suka dengannya. Batman dan Bruce Wayne, mereka berdua suka dengannya. Haha, konyol memang. Sudah kubilang seorang superhero tidak boleh jatuh cinta, karena akan merusak konsentrasi.

***

“Alfred, kurasa aku akan tidur sekarang”

“Tuan Dick, anda seperti kurang sehat. Wajah anda pucat, apakah anda butuh sesuatu? Saya akan menyiapkannya untuk anda, Tuan”

“Oh tidak Alfred.. Kurasa aku hanya butuh istirahat, terima kasih”

Aku segera masuk ke dalam lift yang akan membawaku ke atas, ke kamarku. Sudah lebih dari satu jam aku berada di sini, Batcave. Tempat Batmobile dan motorku tersimpan. Motor yang sudah berdebu, karena sudah lama tak dipakai. Di lift ini pun tergantung jubahku yang juga lama tak terpakai, bersanding dengan jubah hitam mengkilap milik Batman. Semua ini menyesakkan dadaku.

Akhir-akhir ini aku lebih senang di Batcave. Menyendiri dan bersembunyi dalam gua. Batcave? Haha, ini menjadi salah satu yang kupertanyakan. Aneh memang kenapa setiap properti yang berhubungan dengan Batman selalu memakai nama “Bat” di depannya. Sudah selama ini kita bekerjasama, dia bilang kami adalah tim, namun tetap saja peralatan ini mematenkan namanya.

Aku gelisah, dan Alfred tahu itu. Ia sepertinya khawatir dengan kegelisahanku. Kadang Alfred menemaniku di gua, membawakan makanan dan minuman. Aku lebih sering bermalam di gua daripada di kamarku sendiri. Gua ini membuatku merasa nyaman. Kegelapan yang menyelimutiku, menghangatkan tubuhku, dan kelelawar-kelelawar yang hinggap disini seakan mengerti kegundahanku.

***

Kubuka pintu kamar, dan kepalaku tiba-tiba berputar. Aku pusing sejadi-jadinya. Keadaan ini sudah kurasakan selama beberapa minggu ini. Mungkin karena sakit di kakiku, yang membuat kepala ini pusing. Tapi tidak, aku tidak boleh melemah. Aku Robin, seorang superhero, dan keadaan ini bukan penghalang bagiku. Tapi dia, dia yang menghalangiku. Dia membatasi pergerakanku, entah sampai kapan. Dia berkata bahwa aku sudah tidak punya harapan untuk pulih, dan tidak mungkin kembali menjadi seorang superhero. Karena kini, aku bergantung pada tongkat ini. Tongkat ini adalah penyangga kakiku yang diamputasi. Tapi aku diberikan kaki palsu, bukan? Memang, kaki palsu dari fiber ini sangat mengganggu. Apalagi tongkat ini membuat aku tak bebas bergerak. Namun, aku percaya masih mampu berbuat banyak dengan kaki seperti ini. Namaku Dick Grayson, panggil saja Robin. Dan kalian tahu, Bruce salah jika harus beranggapan seperti itu, bahwa masa keemasanku telah habis. Haha.

Kututup pintu kamar, dan berjalan payah dengan tongkat ke arah lemari. Kubuka lacinya, dan kulihat sebuah benda disitu. Benda ini adalah jawaban. Aku tersenyum disirami cahaya temaram dari lampu kamar.

***

Batcave, 11 PM.

Batman masih dalam jubah hitamnya, setelah bertugas malam ini. Di layar televisi diberitakan bahwa Two Face masih saja mengganggu ketentraman Gotham, bahkan Batman kewalahan meringkusnya. Two Face, lelaki yang membunuh orang tuaku. Batman tahu aku menyimpan dendam untuknya. Tapi anehnya, Batman melarangku untuk ikut serta memburunya. Padahal energiku tersimpan banyak dan berlebih. Dia melarangku tepat setelah kecelakaan itu. Kecelakaan yang terjadi ketika kami mengejar Two Face bersama. Saat itu motorku terjatuh, dan kaki kiriku ini dilindas oleh anak buah Two Face dengan motor besarnya hingga remuk.

“Two Face masih berkeliaran, dan sangat sulit menangkapnya”, Batman membuka pembicaraan seraya turun dari Batmobile, dan membuka topengnya. Ia kini menjadi Bruce Wayne.

“Kau tak akan kesulitan bila mengajakku turut serta”

“Kau sudah gila? Lihat kakimu. Itu adalah terakhir kali kita melawannya. Hasilnya itu! Sekarang kakimu terbuat dari plastik, dan kau masih ingin melompat-lompat dan berlari bersamaku?”

“Aku masih bisa bergerak, Bruce! Tenagaku masih kuat. Lihat aku, aku masih muda. Dan yang menjadi masalah, aku tak bisa berdiam terus disini, Bruce!”

“Oke.. Jadi kau mau kemana? Kembali ke tempat sirkus? Kau bahkan sama sekali tak terpakai disitu”

“Whatever. Tapi aku yakin masih bisa berbuat sesuatu, minimal membalas dendamku pada Two Face.. Dan aku tahu itu!”, nadaku semakin keras dan meninggi.

Mendengar kalimat itu, Bruce terdiam, menggelengkan kepalanya, dan berbalik pergi. Ke arah lift, melepaskan jubahnya, dan menuju kamarnya.

Seketika itu pula aku tahu, inilah saatnya.

***

Jarum pendek  menunjukkan pukul 12 tengah malam ketika aku mengendap-endap di lorong menuju master bedroom rumah ini. Diluar hujan, dan suasana tak pernah lebih mencekam dari ini, setidaknya selama aku pindah dari sirkus dan tinggal disini. Aku meyakinkan diri sendiri bahwa hanya akulah yang ada di lorong saat ini. Tidak ada Alfred. Tongkat yang kupakai untuk berjalan menimbulkan suara berderak di lantai kayu. Aku berjalan perlahan, kilatan gemuruh yang masuk dari jendela bagai lampu blitz kamera, dan menimbulkan bayangan panjang diriku di lantai, bagai monster yang siap menerkam siapa saja yang berada di lorong ini. Meskipun hujan, hawa terasa panas. Keringatku bercucuran, detak jantungku berdetak begitu cepat, badanku mendadak panas.

Aku tahu pintu tak dikunci, kubuka, dan itulah Bruce. Membelakangiku, terduduk di sofa, bersandar dan tertidur. Cahaya datang dari layar laptop yang masih menyala. Di sebelahnya ada secangkir kopi, tumpukan buku-buku tebal, guntingan koran beserta surat kabar yang berserakan. Bruce selalu seperti ini. Bekerja hingga larut malam, bahkan hingga tertidur di sofa kamarnya.

Aku menghampirinya perlahan dari belakang. Kilat saling menyambar, semakin gencar mewarnai nuansa pekat malam. Hujan turun semakin lebat, menimbulkan suara gemericik di atap. Semilir angin masuk melalui jendela yang tidak ditutup rapat, menerbangkan gorden putih, melambai-lambai, bagaikan tangan menggapai di udara. Cahaya menerangi sebelah wajahku ketika aku berhenti tepat di belakang Bruce, diatas kepalanya.

Sambil mengangkat benda itu ke udara, tongkatku terjatuh, dan bersamaan dengan bunyi tongkat yang mengenai lantai kayu, Bruce membuka matanya. Dan menatapku tepat di mata. Kami saling berpandangan sesaat, sebelum…

Secepat kilatan kilat yang menerangi seisi kamar, aku menusuk pisau yang selama ini kusimpan di lemari kamarku, tepat di jantung Bruce. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Bahkan kutambah dengan belasan tusukan lagi yang mendarat membabi buta di sekujur tubuhnya. Darah ini terasa hingga ke ubun-ubun, Nafas ini tersengal-sengal, dadaku sesak. Namun aku malah tersenyum puas. Hingga akhirnya tertawa.

Pfiuhh, entah kenapa, aku gembira melihat tanganku berlumuran darah segar. Dan di bawahku, Bruce terbelalak, tubuhnya penuh darah. Saat itu, Alfred membuka pintu kamar, dan memanggil namaku dan Bruce dengan keras. Aku menoleh ke arah Alfred, dan aku tertawa.

Kalian tahu, ini adalah hari ketika kumulai era baru diriku, sebagai Robin, seorang superhero.

(image from Google)

 

#WroteBackBlog adalah segmen dimana saya menulis ulang tulisan yang pernah saya tulis di blog mendiang thebimz.multiply.com atau tulisan-tulisan yang belum pernah di/ter publish. Tujuannya adalah untuk melestarikan kembali, mengingat kembali dan/atau mengisi masa belum adanya ide membuat tulisan baru.

Advertisements
Tagged , , , ,

Beach, Pleaseee..!! #WroteBackBlog

FullSizeRender

Travelling sebenarnya menjadi hobi terselubung saya. Kenapa terselubung? Alasannya begini. Pertama, siapa sih yang ga suka jalan-jalan? Dari bayi, anak kecil, ABG, remaja, dewasa sampe bokap nyokap atau kakek nenek pasti suka yang namanya jalan-jalan. Jalan-jalan atau istilahnya yang keren sekarang itu travelling, emang paling pas dilakukan kalo pikiran lagi stres atau padat kerjaan. Well, ga padat kerjaan juga ga salah kok. Travelling ke tempat-tempat yang menyegarkan mata dan ada udara segarnya macam gunung, pantai, atau luar kota, tempat wisata, atau bahkan luar negeri, memang menjadi kegemaran (hampir) setiap orang. Tapi tunggu dulu, ada juga yang ga suka travelling. Kenapa ada yang ga suka travelling? Banyak sih alasannya. Bisa jadi ia adalah orang rumahan, lagi banyak kerjaan, atau ini nih menurut saya alasan yang masuk akal: ga punya uang. Atau bahkan pelit.

Klise. Ujung-ujungnya duit. Dan inilah yang menjadi problematika utama orang yang mau travelling. Travelling berkaitan dengan ongkos alias budget. Dan macam-macam tempat yang dituju, macam-macam pula ongkos yang dikeluarkan. Semakin jauh, semakin mahal pastinya. Contoh, jalan-jalan ke Bandung tentu mengeluarkan biaya yang jauh lebih sedikit dengan… Ke Antartika misalnya *halah*. Selain itu, aspek fasilitas tentunya berpengaruh. Kita bepergian dengan ngirit tentunya berbeda dengan kita bepergian dengan lebih nyaman. Irit disini bukan berarti ga nyaman lho ya, itu semua pilihan kok. Ngirit disini maksudnya berhubungan dengan tema tulisan kali ini, yaitu backpacker.

Backpacker sendiri kalo kita nyontek ke wikipedia memiliki arti: wisata yang tidak memberatkan (dengan membawa koper, misalkan), atau dengan kata lain, wisata dengan menggunakan tas gemblok (backpack) trus cuma bawa baju dan pakaian secukupnya. Tidur pun ga senyaman di hotel dan sebagainya. Begitulah kira-kira. Ini sebenarnya yang belum tentu mau dilakukan kebanyakan orang. Kalo pergi dengan nyaman alias pake koper (secara harfiah adalah lawan dari backpack), tentunya ga ada yang ga bisa. Nah, lain cerita kalo travelling dengan backpack alias “ngegembel” atau ada juga yang bilang ngeteng, atau apalah. Ini dia yang jarang orang bisa (atau mau). Karena apa? Karena backpacker identik dengan ketidaknyamanan.

Namun bagi beberapa orang, disitulah serunya. Dari sisi mana kita bisa melihat keseruan hal tersebut? Pertama, lagi-lagi berkaitan dengan uang. Dengan ngebackpack, kita bisa mengatur budget bepergian kita. Karena jelas kalo pergi dengan koper akan lebih mahal dibanding backpackeran. Kita bisa memangkas biaya penginapan, akomodasi, konsumsi dan lain-lain..

Kedua, kita akan tertantang untuk menciptakan suasana liburan yang menarik dan seru. Artinya, backpackeran means we create our own trip. Bukan berarti ga bisa pake EO trip atau tour guide, karena ada juga trip yang buat backpackeran. Meskipun ada beberapa yang ga setuju dengan istilah “backpackeran tapi kok pake EO trip”.

Oke, kita ga membahas hal itu. Lebih baik kita membahas, bagaimana menciptakan itinerary yang berbeda dengan trip “koper”, dan saat itulah kita akan menemukan keseruan demi keseruan, baik dari perjalanan itu sendiri, tempat yang didatangi maupun interaksi dengan warga sekitar atau traveller lainnya.

Hmm, sepertinya cukup dengan kalimat pembuka yang banyak diatas. Sekarang saya akan menceritakan pengalaman seru saya sebagai seorang backpacker amatiran, hehe. Ketika itu saya dan beberapa teman mengalami pengalaman indah ketika merencanakan acara tahun baru dengan berkunjung ke suatu pantai di daerah Banten bernama Sawarna Beach (sok keren banget ya, padahal mah Sawarna gitu aja nyebutnya hehe).

Ceritanya begini. Saya dan teman-teman memang sudah merencanakan untuk berlibur ke pantai, dan setelah browsing sana sini, tujuan kami jatuh kepada Pantai Sawarna, dan sepertinya akan mengasyikkan karena kami bermaksud kesana untuk merayakan tahun baru. Man, it’s gonna be fun! Membayangkan bakal malam tahun baruan di pantai, ditemani cahaya rembulan plus desiran ombak yang syahdu.. Kemudian bercerita, sembari menyalakan api unggun, lalu tertawa menertawakan kekonyolan, tak lupa bermain truth or dare agar suasana lebih seru.. Wow, kumpulan bayangan yang menarik, bukan? Bayangan-bayangan yang biasanya hanya terjadi dalam film melayang jelas di kepala saya, dan membuat saya makin tak sabar untuk segera bercumbu dengan air laut dan bermandikan pasirnya.

Dan akhirnya kami pun sepakat untuk bepergian secara backpacker. Meskipun masih memakai jasa tour guide, namun wisata ini menurut hemat saya masuk ke ranah backpack. Kenapa gitu? Karena pertama, biaya yang dikeluarkan relatif murah, dan yang kedua, kami akan menginap di penginapan yang sederhana (namun masih nyaman pastinya, hehe). Anyway, kalau saya tahu apa yang akan terjadi nanti, bakalan masuk kategori lebih backpack lagi deh, haha.

Singkat cerita, setelah tahu tempat dimana kami akan dijemput, kami ber-10 sudah menunggu dengan manis di salah ruang parkir salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat. Dan sekitar pukul 9 malam, akhirnya mobil jemputan datang. Bukan, bukan Alphard atau limousine, melainkan minibus yang biasa disebut “elf”. Orang pada nyebutnya elf-elf aja, tapi tau ga kalian merk mobil itu apa? Isuzu. Haha ga penting memang.

Jadi kami rencananya bakal sampai ke tempat tujuan dengan naik elf tersebut, kemudian prediksi departure kami di Sawarna adalah ketika subuh hari. Semalaman di perjalanan, kami melakukan banyak hal. Mulai dari ngobrol ngalor ngidul, ngegosip, foto-fotoan meskipun gelap, mengudap makanan kecil maupun besar, ke WC kalo pas lagi berhenti, nonton film di gadget, atau kegiatan yang paling pasti adalah tidur sambil sesekali terbangun karena elf tergoncang sana sini akibat jalanan yang ga mulus.

Hingga pada akhirnya, tetiba udara berubah sejuk dan sesekali nampak di balik kaca jendela dan dibawah pepohonan, desiran ombak yang menerpa pasir dengan suara semilir laut yang khas. IT’S THE BEACH!

Kami semakin antusias untuk turun dan sudah keburu pengen nyebur (belum apa-apa udah mau nyebur aja..), maklum di habitat kami (Jakarta) sama sekali ga ada hamparan laut biru. Volume air banyak hanya muncul ketika banjir besar melanda, dan kami ga mungkin dong cebur-ceburan di banjiran udah gede begini, haha.

Jadi, menurut itinerary yang ada, pagi itu kami begitu sampai langsung dibawa ke penginapan dan mendapat makan. Oke, seketika itu pula kami langsung jalan kaki sambil menenteng ransel yang cukup berat menuju tempat, yang katanya tempat penginapan. Sudah terbayang di kepala, hamparan kasur buat ngerebahin badan setelah semalaman duduk tegak.

Namun apa yang terjadi, setelah ngider cukup lama saya dan teman-teman kok ga masuk-masuk ke dalam ruangan yang namanya kamar atau apalah. Kami muter-muter aja sedangkan pengunjung lain tampak sudah beristirahat sambil nyemil-nyemil selonjoran atau bahkan makan. Wah ada apa ini?

Saya masih inget nasihat guru ngaji saya waktu SD untuk selalu ber-khusnudzon alias berbaik sangka *azek*. Dan itulah yang membuat saya dan teman-teman ga jadi merengut karena bingung. Tak lama, kami akhirnya bisa dapet pit stop, yaitu sebuah rumah yang sepertinya bukan penginapan deh, ga tau rumah siapa. Disitu kami geleparan, ditambah perut keroncongan minta makan.

Setelah menunggu cukup lama, yang punya rumah mempersilakan kami untuk makan. Oh, prasmanan rupanya. Jadi empunya rumah memasak cukup banyak untuk kira-kira 10 orang. Ada ayam, sayur, dsb dan alhasil kami makan dengan bar-barnya.

Setelah kenyang, kucluk-kucluk datang lah seorang wanita muda berusia sekitar 30 tahun lebih, memakai kacamata, dengan postur tubuh agak gemuk dan ga begitu tinggi. Oh rupanya ia adalah EO backpacker kami, atau tour guide, atau apalah yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup kami selama di Sawarna.

Setelah berbasa basi sebentar say hello dan lalala, ia mulai bicara dengan nada agak pelan, sembari merendahkan suaranya ditambah mesem-mesem sedikit.

“Mas, mbak.. Maaf yaa, ternyata penginapannya udah penuh.. Jadi kita ga dapet tempat. Untuk sementara kalian disini dulu ya.. Nanti kita carikan tempat lagi..”

Untung kami udah selesai makan. Kalau belum, bisa keluar lagi makanan yang ada di mulut saking kagetnya. Bahkan bisa sengaja disemburin ke dia. Bayangin aja, udah dibawa muter-muter sampe kaki pegel dan punggung linu karena bawa ransel yang banyak isinya, eh ada kabar ga enak kayak gitu. Meskipun perut kenyang pun tetep aja rasanya pengen nampol itu mbak-mbak abis dia ngomong begitu.

Setelah terjadi percakapan dan komplain yang cukup bikin bete dan dia ngeles sana sini dengan jurus 1001 alasan, akhirnya kami bersedia mengalah dan memilih ngikutin apa maunya dia/mereka.

Kemudian, acara selanjutnya adalah perjalanan menuhu Gua Lalay. Apa dan bagaimana bentuknya gua itu? Silahkan anda googling sendiri, hehe. Yang jelas perjalanan menuju gua ini cukup bikin capek dan gembrobyos (apa tuh artinya? Tanya orang jawa haha). Kita harus berjalan dulu sekitar 1,5 kilometer untuk mencapai gua yang di dalamnya berisi air tersebut. Perjalanannya cukup menyenangkan, dengan melewati sawah yang hijau, satu jembatan gantung dimana di bawahnya terdapat sungai yang arusnya cukup besar, dan rumah-rumah penduduk di perkampungan.

Di mulut gua, telah banyak orang-orang yang mengantri masuk ke dalam. Padahal mah gua gitu-gitu aja ya isinya.. Lalu panitia *halah panitia* menyediakan helm 2 in 1, yaitu helm sekaligus senter yang bisa disewa oleh pengunjung. Dan seperti yang saya bilang tadi, kalo guanya ada airnya di dalam. Jadi kalo ga mau basah ya kita harus gulung celana deh. Kedalaman air lumayan tinggi, hingga sepaha orang dewasa.. (kok jadi seperti reportase korban banjir di tv bahasanya, hihi).

Setelah lelah ngubek-ubek gua, rombongan kembali ke penginapan.

Eh, tunggu dulu. Kalo ngomong penginapan saya jadi bete nih, dan teringat kembali wajah mbak-mbak EO yang dengan gampangnya ngemeng kalo kita ga dapet penginapan. Aarrggh..!!

Pokoknya kita kembali pulang deh, dan bener aja kalo kita masih muter-muter lagi-lagi nyari tempat buat nginep, untungnya kali ini dengan elf. Hingga akhirnya kami menemukan satu rumah, sepertinya rumah penduduk yang telah dibayar kepala keluarganya untuk dijadikan semacam “home stay”. Okelah, pikir kami. Lagian viewnya lumayan bagus. Jadi si rumah penduduk itu letaknya berhadapan dengan pantai kecil yang sepertinya masih nyambung dengan Sawarna. Udah gitu cuaca hujan gerimis. Makin syahdu lah situasi.

Yang agak mengganggu adalah interior si rumah. Yaitu kamar mandi dan tempat tidur yang spooky. Spooky bagaimana? Pertama, kamar mandinya terlalu luas, dan ada sumurnya! Kamar mandi old school gitu deh. Kedua, tempat tidur yang nantinya bakal kita inapi juga menyeramkan, karena di tempat tidurnya ada kelambunya, haha. Antara serem atau jadi macam cerita stensilan gitu *ups. sensor, haha* ya pokoknya intinya jaman dahulu banget deh. Dan itu sore hari hawanya aja sudah begitu, ga kebayang kalo malam.

Ndilalah, si mbak-mbak EO ngeselin itu muncul lagi. Kali ini memberi tahu itinerary dan kita disuruh siap-siap karena agenda kami selanjutnya adalah agenda utama, yaitu ke pantai Sawarna. Malamnya, menghadiri acara tahun baru di pantai tersebut. Wah, acara api unggun atau barbequean nih, pasti seru.

Jadilah kita bersiap menuju pantai, naik elf trus diturunin di gerbang semacam pintu selamat datang. Kurang lebih dengan berjalan 100 meter sampailah kita di pantai Sawarna. Pantainya bagus, ombaknya lumayan besar, tapi sayangnya terlalu banyak orang, hiks.

Yeap, pengunjung yang datang banyak sekali, mungkin karena tahun baru ya. Sehingga, suasana pantai yang enaknya dinikmati sunyi dan khidmat menjadi ramai kayak pasar yang pindah ke pantai. Begitulah.

Dan yang selanjutnya terjadi adalah, kami bermain-main menyusuri pantai, berfoto ria. Tak lupa foto yang wajib hukumnya bila di pantai, yaitu berbaris untuk kemudian meloncat dalam hitungan ketiga.. Dengan latar belakang laut dan ombak, dan capture nya pas kita lompat. Kalo ga salah namanya foto levitasi deh, hihi.

Waktu sudah semakin sore menjelang maghrib, tetiba hujan mulai turun. Seketika saya dan teman-teman memutuskan untuk berteduh di warung yang menjual mie instan (sebut indomie aja gapapa kali yah, haha) dan kopi segala macam. Ngomong-ngomong, itu adalah indomie yang paling nikmat yang pernah saya makan, karena suasana, haha. Makan indomie menghadap pantai dan deburan ombak, dengan cuaca dingin hujan.. Ah, makin lengkap apabila engkau ada di sisiku *laah tiba-tiba galau curhat*.

Tapi kok ya, ada yang janggal nih dari perjalanan kami ber-10. Sampe menjelang malam begini, kok kita kayak ga diperhatiin sama EO, padahal kan kita ikut backpacker trip! Dan asal muasal kita sakit hati ya karena ga dapet penginapan yang seharusnya kita dapatkan itu, dan tanpa ada pemberitahuan jelas lho. Di warung indomie tersebutlah terjadi semacam konferensi dan kita seperti tersadarkan untuk kemudian terbersit niat pulang saja ke Jakarta sebelum rangkaian trip diselesaikan.

Niat mau “kabur” yang masih mentah itu menjadi setengah matang dan matang ketika kita masih membahas dalam perjalanan pulang dari pantai ke penginapan, dan lagi-lagi tanpa “bimbingan” mbak-mbak EO yang ngeselin itu. Macam anak hilang lah kita, haha. Sepanjang perjalanan itu juga kita diskusi tuh, untung ruginya apa kalo kita ngelanjutin trip sampai besok pagi atau kalo pulang malam ini.. Dan kesimpulan awal mengatakan, kita pulang aja karena merasa dirugikan.

Pulangnya pake apa? Kepikiranlah buat kongkalingkong sama supir elf yang udah kita kenal sewaktu berangkat. Kasih duit aja gitu ke dia. Begitu deh rencana gerakan makar kita *halah*.

Dan acara barbeque atau api unggun yang masih terngiang di kepala, langsung buyar seketika ketika kami melihat ternyata di tengah pantai ada panggung besar dengan orang-orang yang lagi cek sound dan masang speaker, dengan lagu dangdut sebagai backsound! Astaga ga taunya dangdutan kita di tahun baru. Tarik maanngg..!! Haha.

Udahlah makin ga jelas aja bakalan nih acara di pantai.

Artinya, rencana awal yang memang sudah matang menjadi suatu kesimpulan bulat yang harus segera dieksekusi, ketika kita melewati penginapan yang harusnya kita tempati. Disitu semua peserta dari pengunjung lain selain kita, dengan jumlah biaya yang sama dengan kita, hidup tenteram dalam damai. Lah ini, kita yang harusnya juga berada disitu kok malah dapet rumah tinggal yang spooky dan jauh dari peradaban. Makan pun sepertinya terlantar. Ah pokoknya kacau deh.

Malam ini juga harus pulang ke Jakarta, itu kesepakatan kita ber-10. Dan benar saja, ketika sampai di rumah tinggal, kami merencanakan pelarian. Supir elf telah dihubungi dan ia telah standby bersembunyi di balik pohon, mungkin takut ketahuan mbak-mbak EO itu. Dia sih mau-mau aja kalo pulang sekarang dan dikasih ongkos. Namun kami sebagai backpacker yang masih memiliki etika dan norma-norma, menelpon terlebih dahulu kepada EO, awalnya untuk komplain dan mungkin bisa teratasi dengan mediasi. Tapi apa jadinya, si EO malah lepas tanggung jawab dan drama ga mau melepas kita pergi. Kesalnya, ketika kita mengungkapkan isi hati bahwa kita kecewa, mereka menanggapinya dengan santai saja, dan ketika kita minta penggantian biaya karena ga mengikuti trip hingga selesai, mereka bilang uang ga bisa kembali, baik sebagian maupun seluruhnya.

Ya sudahlah, kita-kita juga udah ilfeel dan maunya pulang aja, hihi.

Akhirnya tepat di malam tahun baru, saya dan rombongan resmi pulang. Eh, kabur lebih tepatnya, menuju Jakarta. Rencana tahun baruan di pantai buyar. Impian menikmati kembang api di malam tahun baru di pantai, sirna. Yang ada kita malah bermacetan ria di elf.. Terjebak pasar tumpah di suatu daerah di mana entah berada. Eh tapi ada kembang api juga lho! Tapi liatnya dari dalam elf haha.

Sekali-kali merayakan tahun baru ga perlu mainstream kan?

 

#WroteBackBlog adalah segmen dimana saya menulis ulang tulisan yang pernah saya tulis di blog mendiang thebimz.multiply.com atau tulisan-tulisan yang belum pernah di/ter publish. Tujuannya adalah untuk melestarikan kembali, mengingat kembali dan/atau mengisi masa belum adanya ide membuat tulisan baru.

Tagged , , , ,