Category Archives: Books

Sabtu Bersama Bapak movie (The Review)

IMG_3162

Selang beberapa lama setelah saya diberitahu seorang teman bahwa ada novel bagus bertema ayah (ya, saya memang se-baper itu bila ada bacaan atau segala hal yang berkaitan dengan ayah), maka saya segera membeli novelnya dengan melihat pengarangnya bertuliskan: Adhitya Mulya.

Sebelumnya saya mengetahui Adhitya Mulya dari beberapa teman pembaca novel. Saya juga tahu bahwa Adhitya Mulya pernah bermain Multiply, situs blogging yang dulu sempat menjadi wadah saya menulis. Ya, hanya itu. Meskipun hanya bermodalkan itu saja tidak mengurungkan niat saya untuk membeli novel yang menurut saya tidak terlalu tebal itu. Dan bagi saya setelah membaca, Sabtu Bersama Bapak adalah bacaan yang ringan, aktual, hangat, bisa dirasakan hampir semua orang, dan menyentuh.

Berbicara tentang menyentuh, adalah subjektif bila kita memandang dari sisi mana suatu novel dikatakan bagus dan menyentuh bagi kita. Ada beberapa faktor diantaranya, mungkin novel itu mampu membawa pembaca larut dalam cerita, suasana yang dalam dan hangat, pemilihan kata-kata yang tepat dan enak dibaca, alur cerita yang enak diikuti termasuk twist cerita, atau yang terakhir, dan ini yang paling mudah membawa hanyut pembaca, adalah kemiripan cerita dengan kehidupan pribadi kita. Tidak harus sama persis, namun mirip-mirip sekalipun sudah mampu membawa kita larut dalam cerita. Dan perihal terakhir itulah yang menjadi alasan saya menjadikan novel Sabtu Bersama Bapak sebagai novel (dan pada akhirnya film) yang menurut saya bagus dan sangat menyentuh.

Tidak perlu waktu lama bagi saya untuk menyelesaikan novelnya, dan review positif saya beralasan karena novel ini memiliki cerita yang tidak biasa. Bagaimana kehidupan sebuah keluarga kecil dengan 2 orang anak tanpa kehadiran dan bimbingan seorang ayah secara fisik, namun tetap bertahan karena sang ayah telah menyiapkan nasihat  dan pesan-pesan kehidupan yang direkam lewat video sebelum sang ayah meninggal dunia, yang diputar setiap hari Sabtu oleh keluarga tersebut.

Bagaimana kedua anak tersebut menghadapi permasalahan hidup yang berbeda, Satya si anak pertama dengan kehidupan rumah tangganya dan Saka si bungsu dengan perjuangan mencari pendamping hidup. Banyak orang dan teman-teman saya terharu membaca novelnya, bahkan mereka sampai meneteskan air mata hanya dalam hitungan beberapa lembar awal novel. Namun entah kenapa itu tidak terjadi pada saya. Memang sedih dan mengharukan, namun tidak sampai bikin nangis. Malah pada akhir-akhir cerita saya menganggap novel itu telah melenceng alur ceritanya menjadi novel cinta (karena cerita pencarian jodoh Saka menjadi sesuatu yang “cheesy”), karena pada awalnya saya telah larut dalam romantisme kerinduan akan sosok seorang ayah. Meskipun saya segera menyadari bahwa bumbu cinta dibutuhkan dalam novel itu agar lebih menarik.

Memang tidak salah karena bila hanya bersedih-sedihan tentang ayah tanpa ada senyum atau tawa untuk Saka yang berjuang menemukan jodohnya, Sabtu Bersama Bapak tentunya menjadi novel tragedi atau novel sedih yang tidak menarik. Tapi kembali lagi ke pandangan masing-masing pembaca, dan kisah Saka menemukan jodohnya bisa dibilang menjadi bukti kecerdasan Adhitya Mulya dalam meramu cerita Sabtu Bersama Bapak menjadi unik mengundang gelak tawa, disamping tema kesedihan yang diangkat karena kehilangan ayah. Tapi memang dasar saya yang baperan bila menyangkut ayah, maka fokus saya lebih kepada bagaimana sosok ayah berusaha keras hadir dalam nasihat-nasihat meskipun sang ayah telah berpindah tempat (ini meminjam bahasa yang dipakai di film).

Dan itu yang terjadi ketika film Sabtu Bersama Bapak resmi tayang. Sebelumnya, saya sudah menaruh harap yang tinggi ketika melihat cast-nya: Arifin Putra, Abimana Aryasatya, Ira Wibowo, Acha Septriasa adalah nama-nama yang tak perlu diragukan kapabilitasnya dalam akting. Satu nama masih menjadi tanda tanya, Deva Mahendra. Bagaimana kita biasa melihat Deva dalam komedi situasi, nampaknya masih perlu dibuktikan di sebuah film. Dan bagusnya, Deva berhasil membuktikan itu. Perannya sebagai Saka yang nerd, gila kerja, selalu gagal dalam urusan asmara plus tingkah konyolnya berhasil dibawakan dengan baik. Catatan agak minor justru dibebankan pada Arifin Putra. Selama ini kita melihat Arifin sebagai aktor yang bagus bila memerankan tokoh antagonis dalam beberapa film (yang paling memorable tentunya sebagai anak seorang mafia di The Raid: Berandal). Namun ketika menjadi ayah 2 anak di film ini, Arifin justru tampil agak kurang pas dengan karakter Satya di novel, in my opinion. Arifin terlihat seperti kurang mature dan agak bisa dikatakan “melambai” haha, sedikit melenceng dari bayangan Satya versi saya yang tegas dan berkarakter. Malah disini Arifin harus mengakui aktingnya tidak sebanding dengan Acha yang memerankan sang istri yang penuh perjuangan dan dilematis dalam hidupnya untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik. Oh ya, untuk penampilan kedua putra mereka, saya no comment deh. Saya tidak tahu maksud dari sutradara dan produsernya apa memasang 2 anak tersebut dalam film, hanya sekedar tempelan atau ada maksud lain disamping itu. Penampilan mereka anda nilai sendiri saja.

Sementara itu, Abimana membuktikan dirinya sebagai salah satu aktor paling berbakat di Indonesia dewasa ini. Bagaimana ia berakting dengan Ira Wibowo yang dari segi usia lebih senior, namun ia tidak kalah dan mampu mengejawantahkan sosok ayah yang penuh kasih sayang kepada keluarga. Dan bila kita sudah melihat pula bagaimana ia mencoba menjadi Dono di film Warkop DKI yang akan tayang, kita bisa katakan ia bukan aktor sembarangan, dan totalitas aktingnya tidak perlu dipertanyakan.

Kembali ke film. Filmnya sendiri cukup menggambarkan isi novel dengan baik. Malah saya berpikiran ini adalah salah satu dari sedikit film adaptasi novel yang bisa setara bagus dengan novelnya (atau kalau bisa dibilang lebih baik). Tentunya, hal ini subjektif mengingat saya berpandangan film ini sangat mirip kisahnya dengan saya. Oh ya, penyisipan lagu Iwan Fals berjudul Lagu Cinta saat scene Abimana (ayah) dengan Ira (ibu) adalah juara. Bagaimana kesenduan, tone dan nuansa yang dibangun, dengan alunan merdu lagu tersebut menjadikan scene itu menjadi salah satu yang terbaik dalam film.

Pada akhirnya memang saya menganggap film ini adalah salah satu yang terbaik di tahun ini. Saya menangis, benar-benar menangis dari awal film ini mulai berjalan. Bagaimana saya rindu akan kehadiran sosok ayah, bagaimana saya merasakan menjadi anak yang “mengetahui” bahwa akan ditinggal ayahnya sebentar lagi karena sakit. Bagaimana saya merasakan memiliki ibu yang berjuang sendirian dan bertahan hidup sepeninggal suaminya. Bagaimana saya merasakan rindu akan petuah-petuah ayah dalam segala aspek dan problematika kehidupan. Bagaimana saya merasakan permasalahan hidup dalam masa pencarian seperti yang dialami Saka. Ingin rasanya saya juga memiliki kaset rekaman berisi nasihat ayah yang bisa saya putar, bila saya memerlukan arahan dari setiap masalah hidup yang saya alami.

Semua yang digambarkan begitu nyata dan hadir jelas di pelupuk mata dan memori saya, membuat tak kuasa saya meneteskan air mata (dalam jumlah banyak sampai pipi saya benar-benar basah haha). Ya, saya memang secengeng itu. Apalagi ada scene dimana Satya dan/atau Saka flashback ke belakang, ketika ayah memberi nasihat dalam masalah-masalah mereka. Momen-momen seperti itu membuat saya agak menafikan scene-scene lain seperti saat Saka pedekate dengan Ayu (oh ya, tidak lupa menegaskan kalau Sheila Dara Aisha cantik disitu) membuat saya tidak terlalu tertawa, well, karena memang sebenarnya juga sudah tahu lelucon itu dari novel.

Pada akhirnya, sebuah film akan dikenang dari kesan yang ditimbulkan oleh penonton yang menikmatinya. Dan, untuk Sabtu Bersama Bapak, sahih menjadi film yang saya kenang karena berhasil membuat saya mewek di bioskop (setelah Toy Story 3 beberapa tahun lalu haha).

Sangat sesuai dengan hashtag promosi film ini di Twitter. Ya, saya memang #RinduAyah

Advertisements
Tagged , , , , ,

Evolution-Cartoon1

Backpacker, sebutan yang belakangan ini begitu populer, seksi dan menjual semenjak bermunculannya buku-buku bertema travelling hingga disusul kemudian selebriti di dunia travelling seperti Trinity, Agustinus Wibowo, Takdis dan masih banyak lagi lainnya.

Yaa, saat ini dunia travelling memang tengah menjadi sorotan sehingga banyak orang yang kemudian latah melakukan perjalanan dan kemudian dengan bangga menyebut dirinya backpacker.

Saya sendiri memendam impian untuk menjadi seorang backpacker namun karena satu dua kendala sehingga belum bisa mewujudkan impian tersebut. Saya pernah melakukan beberapa travelling baik sendiri maupun rombongan namun saya merasa belum pantas menyebut diri ini sebagai backpacker. Namun keinginan untuk berbagi pengalaman dalam perjalanan saya itu terus-menerus mendorong saya untuk suatu saat menerbitkan buku bertema travelling.

Nah, saya merasa sekarang ini saatnya yang tepat bagi saya untuk mewujudkan impian tersebut. Karena saya merasa belum pantas disebut backpacker namun buku ini nanti bertema travelling maka saya memberi proyek antologi saya kali ini:

AUDISI BACKPACKER WANNABE

 

Bagi kamu yang merasa sebagai Backpacker Wannabe saya mengajakmu untuk ikut berpartisipasi dalam proyek antologi ini. Beberapa sub tema yang bisa kamu tulis dalam antologi ini antara lain:

  1. Backpacker pertama kali. Ceritain perjalanan pertamamu, mulai dari persiapannya yang heboh hingga hal-hal tak terduga yang terjadi dikarenakan persiapan dan pengetahuanmu yang masih minim.
  2. Backpacker Terkonyol/Terseru. Ceritain perjalananmu yang konyol atau seru banget sehingga masih kamu ingat sampai sekarang. Karena ini pengalaman yang konyol dan seru maka tulis pengalamanmu itu dengan selucu mungkin.
  3. Backpacker Ternekat. Ceritain perjalananmu yang terasa begitu nekat, entah karena lokasinya yang sangat jauh, persiapan atau budget yang sangat minim. Jangan lupa ceritain juga cara kamu mengatasi semua masalah yang terjadi karena kenekatanmu itu.

Untuk mengikuti audisi menulis BACKPACKER WANNABE  syaratnya mudah sekali.

Syarat Peserta:

  1. Pria atau Wanita berumur minimal 13 tahun.
  2. Berteman dengan Mozaik Indie Publisher dan Ihwan Hariyanto di FB.
  3. Like Fanpage Mozaik Indie Publisher atau follow twitter kami: @mozaikindie.
  4. Sebarluaskan info event ini melalui dua cara yang bisa kamu pilih:

Jika lewat note FB, maka kamu harus mentag minimal 20 teman dan akun FB Mozaik Indie Publisher dan Ihwan Hariyanto.

Jika lewat blog, maka kamu harus publish blogmu di twitter dengan format: Lomba #BackpackerWannabe [link blogmu] mention: @mozaikindie dan minim 5 orang temanmu.

Lalu untuk ketentuan naskahnya sebagai berikut:

  1. Naskah harus pengalamanmu sendiri, jadi ini audisi menulis NON FIKSI.
  2. Naskah ditulis dengan gaya yang popular dan menarik.
  3. Belum pernah dipublikasikan di media apapun, baik online maupun offline.
  4. Panjang naskah antara 4-6 halaman. Diketik di kertas A4, huruf TNR 12, spasi 1,5 dan margin 3 cm tiap sisinya. Kirim naskah ke: audisibackpackerwannabe@yahoo.com dengan judul email: BW-Judul Naskah
  5. Kamu boleh menambahkan foto bacpackermu yang narsis, lucu dan unyu. Maksimal 2 saja ya he3

Jangan lupa sertakan juga biodata naratif Anda maksimal 100 kata di akhir naskah. Semua berkas tersebut dilampirkan di attachment, jangan di badan email.

Naskah diterima paling lambat 04 November 2013. (deadline bisa diperpanjang jika naskah yang masuk belum memenuhi kuota)

Meskipun ini hanya audisi namun kami menyediakan gift bagi 3 naskah terbaik:

Naskah Terbaik 1: IC Safety Belt dan Multifunction Pocket
Naskah Terbaik 2: Multifunction Pocket dan Tissue Pocket
Naskah Terbaik 3: Multifunction Pocket

 

Lalu untuk 25 naskah terbaik akan dibukukan dengan naskah Ihwan Hariyanto.  Karena ini diterbitkan secara indie, maka kontributor tidak akan diberikan royalti namun akan mendapatkan diskon 20 persen jika membeli bukunya sendiri.

Jika naskah-naskah yang terpilih mempunyai nilai jual yang tinggi maka akan kami coba ajukan ke investor untuk diterbitkan secara major dan tentunya semua kontributor akan mendapatkan royalti. Oleh karena itu keluarkan kemampuan terbaikmu yaa!!

Please, feel free to copy paste and share to everyone!

Link lomba bisa dilihat selengkapnya disini.

Audisi BACKPACKER WANNABE

Tagged , ,

Audisi Menulis: BUKAN LAJANG DESPERADO (Revisi)

Well, inilah dia lomba yang diadakan oleh teman saya dahulu di MP, ya sekarang juga masih berteman sih, belagu amat jadi ga temenan lagi haha.. Yang merasa mampu dan punya ide, ikutan yah.. Yuk yuk marii.. Baca pengumuman selanjutnya sendiri aja ya, hehehe.

———-Image

Lajang, sebuah status yang mempunyai dua sisi yang saling berlawanan. Di satu sisi Lajang identik dengan kebebasan dalam menjalani hidup dan pencarian pasangan hidup yang sangat menantang. Namun di sisi lain jika terlalu lama melajang dikarenakan pasangan hidup tak kunjung datang, status lajang terasa begitu berat. Apalagi jika ditambah dengan tekanan dari lingkungan sekitar untuk segera mengakhiri masa lajang.

Ternyata hidup sebagai Lajang itu gampang-gampang susah ya?

Nah, oleh karena itu kami menantangmu untuk berbagi kisah tentang bagaimana kamu menjalani kehidupanmu sebagai seorang lajang dalam sebuah lomba bertajuk: BUKAN LAJANG DESPERADO

Tulis kisahmu mulai dari pencarian belahan jiwa yang penuh perjuangan, menghadapi tekanan untuk segera menikah, sebutan sebagai perawan tua atau bujang lapuk hingga bagaimana kamu tetap bisa semangat menjalani hidup meski jodoh tak kunjung datang.

Untuk mengikuti lomba BUKAN LAJANG DESPERADO syaratnya mudah sekali.

Syarat Peserta:

  1. Pria atau Wanita berstatus Lajang atau Mantan Lajang.
  2. Berteman dengan Mozaik Indie Publisher di FB.
  3. Like Fanpage Mozaik Indie Publisher atau follow twitter kami: @mozaik_indie.
  4. Sebarluaskan info event ini melalui dua cara yang bisa kamu pilih:

Jika lewat note FB, maka kamu harus mentag minimal 20 teman dan akun FB Mozaik Indie Publisher.

Jika lewat blog, maka kamu harus publish blogmu di twitter dengan format: Lomba #BukanLajangDesperado [link blogmu] mention: @mozaik_indie dan minim 3 orang temanmu di twitter.

Jangan lupa pasang calon cover buku BUKAN LAJANG DESPERADO di note atau blogmu ya.

Lalu untuk ketentuan naskahnya sebagai berikut:

  1. Naskah harus kisah nyata dan tentang dirimu sendiri.
  2. Naskah ditulis dengan gaya yang populer dan mencerminkan jiwa mudamu. Boleh mengangkat kisah yang sedih namun tetap harus mampu menunjukkan perjuanganmu untuk bangkit agar bisa memberikan semangat bagi para pembaca, khususnya para lajang.
  3. Belum pernah dipublikasikan di media apapun, baik online maupun offline.
  4. Panjang naskah antara 5-8 halaman. Diketik di kertas A4, huruf TNR 12, spasi 1,5 dan margin 3 cm tiap sisinya. Kirim naskah ke: lombabld@gmail.com dengan judul email: BLD-Judul Naskah. Jangan lupa sertakan juga biodata naratif Anda maksimal 100 kata di akhir naskah. Semua berkas tersebut dilampirkan di attachment, jangan di badan email.
  5. Naskah diterima paling lambat 21 April 2013. (deadline bisa diperpanjang jika naskah yang masuk belum memenuhi kuota)

Akan kami pilih 25 naskah terbaik akan dibukukan dengan naskah Mr.Moz.  Karena ini diterbitkan secara indie, maka kontributor tidak akan diberikan royalti namun akan mendapatkan diskon 20 persen jika membeli bukunya sendiri.

Bagi dua naskah terbaik akan mendapatkan bukti terbit.

Jika naskah-naskah yang terpilih mempunyai nilai jual yang tinggi maka akan kami coba ajukan ke investor untuk diterbitkan secara major dan tentunya semua kontributor akan mendapatkan royalti. Oleh karena itu keluarkan kemampuan terbaikmu yaa!!

Please, feel free to copy paste and share to everyone!

Salam Cinta

Tagged , , ,

An Introduction to The Miracle of Giving (Yusuf Mansur)

ImageSaya menyukai buku yang memberikan motivasi dan kita bisa mendapat suatu pelajaran di dalamnya. Meskipun saya ga terlalu ngeh sama yang namanya motivator yang sering berseliweran di televisi, namun untuk beberapa case, saya seakan nurut dengan motivasi yang diberikan segelintir orang, tergantung cara penyampaiannya juga sih. Dan bagi saya, Yusuf Mansur adalah motivator yang bagus (kalau kita tidak menyebutnya sebagai seorang ustadz).

Yusuf Mansur mengajarkan berbagi, dan menurut saya hal ini adalah sesuatu yang universal bagi semua lapisan masyarakat, tidak hanya untuk mereka dari kalangan muslim. Berbagi kebaikan adalah nantinya akan kembali kepada diri kita. Itu esensi yang Yusuf Mansur ajarkan. Intinya, segala kebaikan yang kita berikan dan lakukan hakikatnya untuk diri kita sendiri.

Dalam ajaran Islam, jika kita membutuhkan sesuatu, artinya hidup sedang sumpek, penat dan banyak masalah, maka sudah seharusnya kita menempuh jalan-jalan langit, apalagi bila ikhtiar dunia (usaha yang sehari-hari kita lakukan) menimbulkan kelelahan bagi kita. Atau gampangnya, capek tapi ga dapet-dapet.

Buku ini menganjurkan kita mempercepat keinginan yang kita inginkan (tujuan yang ingin kita raih) lewat jalan-jalan ibadah, diantaranya sholat malam, dhuha, dan sedekah. Bahkan dikatakan kalau kita sedang kesusahan, maka dengan sedekah (berbagi) harta kita malah jadi lapang. Jika mau ditolong Tuhan dalam setiap permasalahan hidup kita, maka tolonglah terlebih dahulu orang lain.

Dan juga tak lupa doa. Saya kira semua agama mengajarkan hal serupa mengenai konsep doa, tapi mungkin aplikasinya yang berbeda. Doa menurut ajaran Islam adalah ibadah, dan itu sangat dianjurkan, terlebih bila kita memiliki masalah. Doa menyiratkan ketergantungan kita terhadap Tuhan, dan kepercayaan bahwa Tuhan lah yang mampu menolong kita dan memenuhi semua kebutuhan kita. Oh ya, buku ini juga mengatakan bahwa apabila kita berbagi atau sedekah (contoh sederhananya, menyumbang ke yatim piatu, baik berupa uang, makanan, pakaian dan lain sebagainya), maka meskipun kita sudah lupa akan perbuatan tersebut, namun Tuhan tidak pernah lupa. Dan balasan dari perbuatan tersebut dalam Islam, akan tetap “dibayar” baik secara kontan (tak lama setelah perbuatan tersebut dilakukan) atau ditunda. Ditunda pun memiliki ketentuan, bahwa nilai kebaikan tersebut akan dilipatgandakan.

Tentunya, apa yang diajarkan buku ini memiliki kaitan dengan iman seseorang. Yang memiliki iman, tentunya akan berusaha mengikuti dan mengamalkan. Sedangkan yang biasa saja, akan menganggapnya angin lalu dan kebetulan. Saya sendiri berada di pihak dimana buku ini memiliki nilai positif yang baik, untuk memberikan semangat kepada saya untuk lebih sering berbuat baik apapun dan dimanapun. Karena memang berbuat baik itu membahagiakan dan dampaknya akan kembali kepada diri kita sendiri juga.

Rate: (3,5/5)

Tagged , , ,