Category Archives: Thoughts

Sabtu Bersama Bapak movie (The Review)

IMG_3162

Selang beberapa lama setelah saya diberitahu seorang teman bahwa ada novel bagus bertema ayah (ya, saya memang se-baper itu bila ada bacaan atau segala hal yang berkaitan dengan ayah), maka saya segera membeli novelnya dengan melihat pengarangnya bertuliskan: Adhitya Mulya.

Sebelumnya saya mengetahui Adhitya Mulya dari beberapa teman pembaca novel. Saya juga tahu bahwa Adhitya Mulya pernah bermain Multiply, situs blogging yang dulu sempat menjadi wadah saya menulis. Ya, hanya itu. Meskipun hanya bermodalkan itu saja tidak mengurungkan niat saya untuk membeli novel yang menurut saya tidak terlalu tebal itu. Dan bagi saya setelah membaca, Sabtu Bersama Bapak adalah bacaan yang ringan, aktual, hangat, bisa dirasakan hampir semua orang, dan menyentuh.

Berbicara tentang menyentuh, adalah subjektif bila kita memandang dari sisi mana suatu novel dikatakan bagus dan menyentuh bagi kita. Ada beberapa faktor diantaranya, mungkin novel itu mampu membawa pembaca larut dalam cerita, suasana yang dalam dan hangat, pemilihan kata-kata yang tepat dan enak dibaca, alur cerita yang enak diikuti termasuk twist cerita, atau yang terakhir, dan ini yang paling mudah membawa hanyut pembaca, adalah kemiripan cerita dengan kehidupan pribadi kita. Tidak harus sama persis, namun mirip-mirip sekalipun sudah mampu membawa kita larut dalam cerita. Dan perihal terakhir itulah yang menjadi alasan saya menjadikan novel Sabtu Bersama Bapak sebagai novel (dan pada akhirnya film) yang menurut saya bagus dan sangat menyentuh.

Tidak perlu waktu lama bagi saya untuk menyelesaikan novelnya, dan review positif saya beralasan karena novel ini memiliki cerita yang tidak biasa. Bagaimana kehidupan sebuah keluarga kecil dengan 2 orang anak tanpa kehadiran dan bimbingan seorang ayah secara fisik, namun tetap bertahan karena sang ayah telah menyiapkan nasihat  dan pesan-pesan kehidupan yang direkam lewat video sebelum sang ayah meninggal dunia, yang diputar setiap hari Sabtu oleh keluarga tersebut.

Bagaimana kedua anak tersebut menghadapi permasalahan hidup yang berbeda, Satya si anak pertama dengan kehidupan rumah tangganya dan Saka si bungsu dengan perjuangan mencari pendamping hidup. Banyak orang dan teman-teman saya terharu membaca novelnya, bahkan mereka sampai meneteskan air mata hanya dalam hitungan beberapa lembar awal novel. Namun entah kenapa itu tidak terjadi pada saya. Memang sedih dan mengharukan, namun tidak sampai bikin nangis. Malah pada akhir-akhir cerita saya menganggap novel itu telah melenceng alur ceritanya menjadi novel cinta (karena cerita pencarian jodoh Saka menjadi sesuatu yang “cheesy”), karena pada awalnya saya telah larut dalam romantisme kerinduan akan sosok seorang ayah. Meskipun saya segera menyadari bahwa bumbu cinta dibutuhkan dalam novel itu agar lebih menarik.

Memang tidak salah karena bila hanya bersedih-sedihan tentang ayah tanpa ada senyum atau tawa untuk Saka yang berjuang menemukan jodohnya, Sabtu Bersama Bapak tentunya menjadi novel tragedi atau novel sedih yang tidak menarik. Tapi kembali lagi ke pandangan masing-masing pembaca, dan kisah Saka menemukan jodohnya bisa dibilang menjadi bukti kecerdasan Adhitya Mulya dalam meramu cerita Sabtu Bersama Bapak menjadi unik mengundang gelak tawa, disamping tema kesedihan yang diangkat karena kehilangan ayah. Tapi memang dasar saya yang baperan bila menyangkut ayah, maka fokus saya lebih kepada bagaimana sosok ayah berusaha keras hadir dalam nasihat-nasihat meskipun sang ayah telah berpindah tempat (ini meminjam bahasa yang dipakai di film).

Dan itu yang terjadi ketika film Sabtu Bersama Bapak resmi tayang. Sebelumnya, saya sudah menaruh harap yang tinggi ketika melihat cast-nya: Arifin Putra, Abimana Aryasatya, Ira Wibowo, Acha Septriasa adalah nama-nama yang tak perlu diragukan kapabilitasnya dalam akting. Satu nama masih menjadi tanda tanya, Deva Mahendra. Bagaimana kita biasa melihat Deva dalam komedi situasi, nampaknya masih perlu dibuktikan di sebuah film. Dan bagusnya, Deva berhasil membuktikan itu. Perannya sebagai Saka yang nerd, gila kerja, selalu gagal dalam urusan asmara plus tingkah konyolnya berhasil dibawakan dengan baik. Catatan agak minor justru dibebankan pada Arifin Putra. Selama ini kita melihat Arifin sebagai aktor yang bagus bila memerankan tokoh antagonis dalam beberapa film (yang paling memorable tentunya sebagai anak seorang mafia di The Raid: Berandal). Namun ketika menjadi ayah 2 anak di film ini, Arifin justru tampil agak kurang pas dengan karakter Satya di novel, in my opinion. Arifin terlihat seperti kurang mature dan agak bisa dikatakan “melambai” haha, sedikit melenceng dari bayangan Satya versi saya yang tegas dan berkarakter. Malah disini Arifin harus mengakui aktingnya tidak sebanding dengan Acha yang memerankan sang istri yang penuh perjuangan dan dilematis dalam hidupnya untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik. Oh ya, untuk penampilan kedua putra mereka, saya no comment deh. Saya tidak tahu maksud dari sutradara dan produsernya apa memasang 2 anak tersebut dalam film, hanya sekedar tempelan atau ada maksud lain disamping itu. Penampilan mereka anda nilai sendiri saja.

Sementara itu, Abimana membuktikan dirinya sebagai salah satu aktor paling berbakat di Indonesia dewasa ini. Bagaimana ia berakting dengan Ira Wibowo yang dari segi usia lebih senior, namun ia tidak kalah dan mampu mengejawantahkan sosok ayah yang penuh kasih sayang kepada keluarga. Dan bila kita sudah melihat pula bagaimana ia mencoba menjadi Dono di film Warkop DKI yang akan tayang, kita bisa katakan ia bukan aktor sembarangan, dan totalitas aktingnya tidak perlu dipertanyakan.

Kembali ke film. Filmnya sendiri cukup menggambarkan isi novel dengan baik. Malah saya berpikiran ini adalah salah satu dari sedikit film adaptasi novel yang bisa setara bagus dengan novelnya (atau kalau bisa dibilang lebih baik). Tentunya, hal ini subjektif mengingat saya berpandangan film ini sangat mirip kisahnya dengan saya. Oh ya, penyisipan lagu Iwan Fals berjudul Lagu Cinta saat scene Abimana (ayah) dengan Ira (ibu) adalah juara. Bagaimana kesenduan, tone dan nuansa yang dibangun, dengan alunan merdu lagu tersebut menjadikan scene itu menjadi salah satu yang terbaik dalam film.

Pada akhirnya memang saya menganggap film ini adalah salah satu yang terbaik di tahun ini. Saya menangis, benar-benar menangis dari awal film ini mulai berjalan. Bagaimana saya rindu akan kehadiran sosok ayah, bagaimana saya merasakan menjadi anak yang “mengetahui” bahwa akan ditinggal ayahnya sebentar lagi karena sakit. Bagaimana saya merasakan memiliki ibu yang berjuang sendirian dan bertahan hidup sepeninggal suaminya. Bagaimana saya merasakan rindu akan petuah-petuah ayah dalam segala aspek dan problematika kehidupan. Bagaimana saya merasakan permasalahan hidup dalam masa pencarian seperti yang dialami Saka. Ingin rasanya saya juga memiliki kaset rekaman berisi nasihat ayah yang bisa saya putar, bila saya memerlukan arahan dari setiap masalah hidup yang saya alami.

Semua yang digambarkan begitu nyata dan hadir jelas di pelupuk mata dan memori saya, membuat tak kuasa saya meneteskan air mata (dalam jumlah banyak sampai pipi saya benar-benar basah haha). Ya, saya memang secengeng itu. Apalagi ada scene dimana Satya dan/atau Saka flashback ke belakang, ketika ayah memberi nasihat dalam masalah-masalah mereka. Momen-momen seperti itu membuat saya agak menafikan scene-scene lain seperti saat Saka pedekate dengan Ayu (oh ya, tidak lupa menegaskan kalau Sheila Dara Aisha cantik disitu) membuat saya tidak terlalu tertawa, well, karena memang sebenarnya juga sudah tahu lelucon itu dari novel.

Pada akhirnya, sebuah film akan dikenang dari kesan yang ditimbulkan oleh penonton yang menikmatinya. Dan, untuk Sabtu Bersama Bapak, sahih menjadi film yang saya kenang karena berhasil membuat saya mewek di bioskop (setelah Toy Story 3 beberapa tahun lalu haha).

Sangat sesuai dengan hashtag promosi film ini di Twitter. Ya, saya memang #RinduAyah

Advertisements
Tagged , , , , ,

Mencari Inspirasi di Hari Guru.

IMG_6042

Sebenarnya tulisan ini harusnya sudah selesai dibuat beberapa bulan lalu, bagusnya pasca Kelas Inspirasi Jakarta, haha. Namun mengendap terlalu lama di draft, hingga akhirnya momen Hari Guru kemarin membuat saya merasa inilah saatnya menerbitkannya.

Kalian semua sudah pada tahu Kelas Inspirasi kan? Well, kalau sudah tahu bagus berarti. Kalau belum, ya tidak apa-apa, hehe. Kelas Inspirasi atau KI adalah suatu program dari Indonesia Mengajar (atau turunannya, atau temannya, atau saudara sepupunya, ya begitulah) yang memiliki program mengajar sehari pada hari kerja bagi mereka-mereka yang ingin memberikan inspirasi pada anak-anak sekolah (khususnya anak-anak SD), dan bisa dikerucutkan kembali sekmennya yaitu anak-anak SD menengah kebawah. Itu sih kira-kira yang bisa saya tangkap. Oke, disini saya tidak akan lagi membahas apa dan bagaimana definisi dari Kelas Inspirasi atau yang selanjutnya akan kita sebut dengan KI. Disini saya akan mencoba menggali lebih dalam lagi, apa yang telah saya dapatkan dari keikutsertaan saya sebanyak 2 kali dalam hal berinteraksi dengan anak-anak tersebut dan mengajarkan mereka ilmu sesat mengenai pekerjaan saya.

Segala puji bagi Tuhan, saya sanggup menyelesaikan 2 kali KI yang saya ikuti. Pertama, di kota yang kalian semua sudah pada tahu pasti dan mungkin juga kalian ikut cintai ngebully, yaitu Bekasi. Oke yang mau ketawa or ngeledek saya silakan. Dan yang kedua adalah di Jakarta. Dari 2 kali keikutsertaan itu saya mendapat 2 pengalaman yang berbeda, yang keduanya sama-sama memberikan arti yang besar bagi saya yang merupakan newbie dalam bidang ajar-mengajar ini.

Awalnya, kenapa saya tertarik berada dalam barisan orang yang meluangkan waktunya sehari di tengah hari kerja yang super sibuk untuk bermain bersama anak-anak SD adalah, harus diakui bahwa saya memang bercita-cita menjadi seorang pengajar. Pengajar disini bukan guru ya, melainkan mungkin dosen dan semacamnya. Kenapa begitu? Mungkin ini ada darah keturunan atau genetika dari almarhum ayah saya yang memang dulu berprofesi sebagai dosen, selain juga pegawai negeri. Ga tau kenapa, saya yang pemalu dan pendiam ini ingin sekali meningkatkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain, dan tampaknya mengajar adalah salah satu sarana yang tepat. Lagipula saya ingin memperluas jaringan dan koneksi, menambah teman, menyegarkan otak, tanpa harus memikirkan uang. Artinya, saya punya prinsip kalau saya tidak ingin mencari uang di bidang pengajaran dan semacamnya. Karena memang tujuan saya sebenarnya adalah menyalurkan passion, dan tentunya belajar. Dan, tahukah kalian bahwa mengajar anak SD TIDAKLAH LEBIH MUDAH dibanding mengajar anak-anak remaja atau dewasa? Oke, saya perlu katakan bahwa manis-manis begini saya pernah memiliki pengalaman sedikit mengajar Bahasa Inggris untuk anak SD dan SMP, dan juga menggantikan teman saya mengajar bimbel dan kursus untuk anak SMA, haha. Dan pasca berpartisipasi dalam KI saya menemukan bahwa mentransfer apa yang kita ingin katakan ke dalam bahasa anak-anak adalah tidak semudah yang kita kira. Saya berkali-kali harus memberikan applaus bagi bapak dan ibu guru yang telah sabar dan berdedikasi dalam profesinya sebagai Guru SD. Itu susah bok.

Mari kita tengok sebentar apa yang telah saya dapatkan dalam 2 kali KI yang telah saya ikuti.

1. Kelas Inspirasi Bekasi.

KI ini adalah KI pertama yang saya ikuti. Saat itu saya masih belum tahu apa-apa mengenai KI dan KI Bekasi menjadi titik awal perkenalan saya dengan dunia ajar mengajar anak SD yang (ternyata) menyenangkan itu. Saya tak akan melupakan KI Bekasi dan pengalaman di dalamnya, juga teman-teman yang saya temui di sana. Hingga kini kami masih berhubungan baik dan berkomunikasi, dan kami berjanji akan mendaftarkan diri kembali di KI Bekasi selanjutnya yang katanya akan hadir awal tahun depan. Well, Bekasi meskipun jauh jaraknya di luar planet bumi, ternyata memberikan banyak pengalaman bagi saya. Untuk kalian yang belum pernah atau lupa lagi atau ingin membaca ulang ceritanya, silakan cari di blog saya ini juga.

2. Kelas Inspirasi Jakarta.

Ini adalah chapter kedua dari perjalanan KI yang saya ikuti. KI Jakarta menjadi kawah candradimuka dari pengalaman transfer ilmu dan arti profesi kepada anak-anak SD, dengan kondisi yang agak berbeda dari apa yang telah saya alami di Bekasi. Secara keseluruhan ada beberapa hal yang saya rasakan berbeda antara KI Bekasi dan Jakarta.

Pertama, tingkat kecerdasan dan emosional dari siswa-siswi di sekolah. Terdapat perbedaan antara Bekasi dan Jakarta. Di Bekasi, agak lebih sulit meladeni tingkah polah mereka. Saya sampai mengeluarkan suara yang melebihi kadar biasanya untuk mencoba menenangkan suasana saat terjadi kegaduhan di kelas. Saya ingat betapa capeknya saya dan haus sekali, apalagi ketika mengajar anak-anak kelas 1, 2, 3 dan 4. Untuk kelas 5 dan 6, seiring bertambahnya usia, mereka agak lebih mudah dijinakkan. Hal itu pula yang membuat saya memiliki anggapan bahwa mereka, para Guru SD adalah manusia-manusia yang memiliki kesabaran dan tingkat dedikasi yang luar biasa, karena mengajar anak-anak itu tidak mudah, kawan.

Berbeda dengan KI Jakarta, meskipun saya tidak kebagian kelas 1 dan 2 (kalau tidak salah saya baru kebagian kelas 3 ke atas), namun mereka di kelas 3 dan 4 sudah lebih mengerti dan pintar. Bahkan di salah satu kelas saya menemukan seorang anak yang sudah mengerti arti demokrasi dan semacamnya. Sudah paham mengenai trias politica (eksekutif, legislatif, yudikatif) dan sistem ketatanegaraan sederhana. Saya tidak begitu paham apakah di sekolah sekarang sudah diajarkan mengenai tata negara (yang akhirnya saya dengar memang sudah diajarkan), yang jelas kalau tidak salah ketika jaman saya (jangan menganggap jaman itu terjadi lama sekali ya, haha) nampaknya belum diajarkan. Entah saya yang lupa, atau saya yang ketika pelajaran itu diajarkan tidak masuk. Krik.

Selain itu, KI Jakarta juga mengenalkan saya dengan teman-teman baru dengan profesi yang berbeda-beda dan lebih banyak. Sangat jauh dengan KI Bekasi dimana saya hanya bertemu dengan 5 orang, ada lebih dari 10 pengajar di KI Jakarta dengan latar belakang berbeda-beda. Mulai dari engineer, lawyer, reporter televisi, akuntan, pemasaran, hingga penyanyi yang merangkap fotografer juga ada. Lengkap. Dan saya bersyukur juga berbahagia menjadi bagian dari mereka dalam meramaikan proses belajar mengajar sehari tersebut.

Personil yang banyak membuat kami sempat kesulitan mengatur jadwal dari para pengajar untuk mengajar di kelas. Sempat terjadi satu-dua kali rapat kecil diantara kami sebelum akhirnya jadwal tersepakati. Dan ketika hari H, meskipun saya sudah pernah merasakan atmosfir KI sebelumnya, namun KI Jakarta kali ini memberikan sesuatu yang berbeda. Ya seperti yang saya katakan di atas, suasana dan kondisi geografis juga psikologis anak-anak Bekasi dan Jakarta tidak bisa disamakan. Secara garis besar, kondisi sekolah mulai dari sarana prasarana, jumlah guru dan alat kelengkapan lainnya juga berbeda. Begitulah.

Kelas Inspirasi nampaknya akan terus hadir dan berjalan, dan menurut saya hal ini merupakan terobosan cerdas dari seorang yang bernama Anies Baswedan, yang kini telah menjadi Menteri Pendidikan Dasar, Menengah dan Kebudayaan. Pak Anies telah memberikan suatu warna baru yang kreatif, inovatif dan out of the box. Dimana kami-kami yang notabene bukanlah seorang guru mampu “menyicipi” bagaimana rasanya menjadi seorang guru meskipun hanya sehari. Kami yang juga memiliki satu dan beberapa hal yang bagus dan menarik untu di share (terlebih bagi anak-anak kecil yang masih polos dan diharapkan mampu menjadi penerus bangsa) memiliki kesempatan itu. Dan kami hanya merelakan 1 hari cuti yang kami punya dari kantor untuk bermain dan belajar bersama mereka.

Yang saya pikirkan kali ini adalah, saya ingin mencari suatu hal yang lain yang akan saya ajarkan atau bagikan kepada anak-anak itu bila ada Kelas Inspirasi selanjutnya yang ingin saya ikuti. Bekasi Sang Kota Megapolitan nampaknya akan menggelar KI kembali pada bulan Februari, dan sebagai hometown, kehadiran KI Bekasi wajib hukumnya bagi saya untuk ikut serta, hehe. Omong-omong sudah 2 kali saya mengajarkan mengenai kepemiluan, tata negara, presiden, dan demokrasi kepada anak-anak SD tersebut. Dan menurut saya di kali ketiga nanti saya akan mengajarkan sesuatu yang lain.

Apa ya? Karena profesi saya adalah pekerja negara di bidang kepemiluan, dan bila menilik dari profesi lain saya sebagai dosen pemula juga pebisnis di bidang insurance, hal itu sepertinya akan sulit untuk diterapkan kepada anak-anak SD. Well, mungkin bisa. Namun teknis dan materi pengajarannya harus disajikan dengan tepat. Atau tentang kenotariatan? Selain masih sulit saya temukan formula penyampaian mengenai dunia buat membuat akta, saya juga belum menjadi notaris sehingga saya merasa belum menguasai hal tersebut, hehe. Atau hobi saya saja ya? Bagaimana jika saya mengajarkan mengenai menulis, ngeblog, atau untuk anak-anak cowoknya ngomongin sepakbola? Atau genjrang-genjreng bernyanyi di waktu malam? Halah. Haha. Itulah yang masih saya pikirkan hingga mungkin tiba saatnya nanti saya telah memiliki jawabannya.

Akhir kata, mengutip kata Pak Anies yang sempat saya dengar beberapa hari lalu di televisi, bahwa sudah saatnya kita memberikan keistimewaan lebih kepada guru atau orang yang berprofesi sebagai guru. Dalam apapun pekerjaan kita. Artinya, bila kita adalah pemilik restoran misalnya, maka apabila ada guru yang makan di tempat kita, mungkin kita bisa berikan potongan harga atau makanan gratis, begitulah kira-kira kalau saya tidak salah tangkap, haha.

Selamat Hari Guru untuk para guru se-Indonesia. Jadi guru itu sulit, lho. Dan masih banyak guru yang hidup dibawah garis kesejahteraan, padahal apa yang mereka ajarkan banyak sekali dan manfaatnya sungguh besar bagi pembentukan karakter dan isi otak SDM bangsa ini. Tugas pemerintah untuk lebih memperhatikan guru-guru dan tingkat kehidupannya agar layak, dan mereka juga bisa selalu menjalankan tugas dengan baik. Dan tak lupa pula pembentukan kurikulum materi pengajaran yang tepat.

Tagged , ,

Let’s Get Inspired! (Catatan mengenai Kelas Inspirasi Bekasi)

IMG_0943

Udah pantes jadi guru belum? Hehe.

Tulisan ini bakalan panjang lho. Hehe.

Baiklah, kini saya mau menyampaikan sesuatu tentang.. Hmm, Kelas Inspirasi! Oke, ini sudah basi, karena Kelas Inspirasi yang saya ikuti di Bekasi sudah dilaksanakan tanggal 11 September kemarin. Dan, saya baru bisa menulis sekarang, hehe. Oke tak apa. Mari kita mulai.

Kelas Inspirasi (KI) adalah salah satu “cabang” dari program Indonesia Mengajar (IM) yang diprakarsai Anies Baswedan. IM adalah suatu program dimana para pengajar yang ikut serta, dikirim ke pedalaman untuk mengajar selama kurang lebih 1 tahun lamanya, dan digaji juga. Nah, bagi mereka yang berjiwa pengajar dan bertujuan mengajar demi kemajuan dunia pendidikan, program ini layak diikuti. Namun, bagaimana dengan orang-orang yang (juga) memiliki jiwa pengajar, namun berat untuk sampai meninggalkan keluarga, kantor jika harus pergi selama 1 tahun? Atau mereka yang memiliki jiwa pengajar namun tidak sanggup untuk hidup di pedalaman, karena tidak ada mall, bioskop dan tempat hiburan lain (halah ini mah kayaknya salah satu alasan gue).

Oke, mereka bisa mengikuti yang namanya Kelas Inspirasi.

KI adalah salah satu sarana bagi kita-kita, para profesional, untuk menularkan ilmu kita, atau apa yang kita kerjakan sehari-hari, atau profesi kita, atau pekerjaan kita, kepada anak-anak Sekolah Dasar, dengan segmentasi SD menengah ke bawah, dengan tujuan agar mereka para tunas-tunas bangsa dapat termotivasi dan terinspirasi akan pekerjaan kita. Dan mungkin suatu saat, mereka akan mengikuti jejak kita dan menjadi penerus kita.

Mulia sekali bukan? Hehe.

Seperti kita ketahui bersama bahwa anak-anak SD (kayak dulu kita jaman SD aja), sepertinya minim akan suatu gambaran profesi atau pekerjaan, atau kata lainnya: CITA-CITA. Kita dan teman-teman pasti dulu pas ditanya guru di depan kelas mau jadi apa nanti gedenya? Pasti jawabannya sudah bisa ketebak. Kalo ga DOKTER, paling INSINYUR.

Dokter mungkin terinspirasi dari salah satu lagu anak jaman dulu, Susan & Ria Enes kalo saya ga salah, yang bilang “Susan kalo udah gede mau jadi dokter biar bisa nyuntik orang lewat, jus.. jus.. jus..!”, begitulah kalo saya ga lupa liriknya, hehe. Atau karena dokter identik dengan suatu pencapaian cita-cita tertinggi, pencapaian suatu maksimalisasi materi dan kekayaan? *terVicky*

Kalo Insinyur, sepertinya 80% terinspirasi dari Si Doel Anak Sekolahan.

Kericuhan di kelas.

Kericuhan di kelas.

Hanya satu-dua anak yang berani mendobrak paradigma cita-cita jaman SD dengan profesi lain seperti ABRI (oke, ketahuan deh gue hidup di jaman apa), atau sekarang TNI kali ya (karena kebanyakan nonton film perang yang jagoannya menang terus), pelukis (dulu terkenal pas Basuki Abdullah baru meninggal), atau bahkan pemain sepakbola. Kalo pemain bola, sepertinya cita-cita yang everlasting, khususnya bagi anak cowok.

Pernah ga kalian membayangkan kalo anak-anak SD pas ditanya cita-cita, mereka akan menjawab:

“Mau jadi presideeeennn..”, “Mau jadi fotograferrrr…”, “Mau jadi pegawai telekomunikasiiii…”, atau “Mau jadi Travellleeeeerrrr..”, akan lebih seru kan kedengarannya, hehe. Dan gambaran seperti itulah yang akan kita coba berikan kepada mereka kemarin. *hasek*

Singkat cerita, saya mendaftar pengajar KI dari website, isi biodata, dan voila.. Lolos seleksi. Kemudian saya ditempatkan di Kelompok 2 dan disediakan kawah candradimuka nya, yaitu SD Negeri Margahayu XII, Bekasi Timur.

Saya dan teman-teman (ada 4 pengajar dan 1 fotografer), diberikan waktu selama 1 hari penuh untuk mengajar di kelas 1 sampai 6, mengenai apa yang kita kerjakan sehari-hari.

Dan inilah wajah-wajah kami:

The team.

The team.

  1. Wulan Busono. Wanita mungil nan luar biasa pendidikannya ini berprofesi sebagai dosen lulusan Teknik Sipil. Ia akan menginspirasi anak-anak agar mampu membuat konstruksi bangunan dan membuat gedung-gedung tinggi dan jembatan-jembatan besar mampu berdiri kokoh.
  2. Alvan Alvian. Pria berkacamata ini bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi terkemuka. Cerdasnya, ia akan membawa anak-anak melalui kemajuan teknologi dengan melakukan teleconference via Skype dengan teman-teman di luar negeri.
  3. Alexander Arie. Cowok penggemar (musuh saya) Inter ini adalah eks pengajar di KI sebelumnya. Ia adalah seorang apoteker, blogger, dan juga fotografer plus penulis buku lho. Bukunya bisa dilihat disini (iklan gratis nih Ri, traktir yak, haha). Di KI kali ini ia membawa kamera nya dan berbaik hati ngejeprat jepret kita semua seharian penuh. Hasil fotonya bisa dilihat di tulisan ini (karena saya memang ambil dari foto-foto dia, hehe).
  4. Petra Sinambela. Ia adalah seorang pegawai swasta yang akan menginspirasi anak-anak melalui hobinya, yaitu travelling. Petra akan mengajak anak-anak berkeliling dunia lewat merchandise, foto-foto dan pengalaman yang indah luar biasa.
  5. Terakhir, Bimo. Siapakah Bimo? Ya begitu deeehh.. Haha. Saya akan mencoba mengenalkan anak-anak mengenai sistem Pemilihan Umum dan demokrasi di Indonesia, lewat mekanisme pemilihan ketua kelas. Dan juga akan mencoba mengetahui seberapa kenal mereka dengan presiden nya, hehe.

Jadi.. Kelas dimulai. Kami semua mendapat giliran mengajar selama 30 menit. Dan pertama kali, saya mendapat giliran kelas 1 dan 2. Oke, setelah saya melihat wajah-wajah mereka anak-anak kelas 1 SD, kesan pertama: mereka lucu-lucu! Mereka (sepertinya) penurut dan kalem. Saya akan perform setelah Alvan yang menyajikan pengalaman ber-Skype ria. Oalah, tak sabar rasanya untuk bercerita di depan mereka. Wajah mereka manis-manis lho.

Selain Alvan, Mba Wulan sama Petra juga ngajar di kelas sebelah. Tinggallah saya berdiri mondar mandir di depan kelas sambil deg-degan nunggu giliran. Persis dulu waktu SD saya mondar mandir karena nahan boker.

Dan eng ing eng, tibalah giliran saya untuk menginspirasi (pret) mereka, langsung saya masuk dengan tampang sumringah.. Dan inilah opening conversation saya dengan murid-murid nan lutju itu:

“Ya anak-anak.. Tadi udah belajar nelpon ya sama kak Alvan.. Sekarang kalian belajar sama Kak Bimo yaa.. Kita main games yaa..”

“Iya kaaakkk…”

“Tapi kakak mau tanya dulu.. Sekarang siapa yang mau ke belakang? Mau pipis? Ke belakang dulu sekarang yaa.. Biar nanti ga bolak balik keluar kelas lagii..”

Satu anak menunjuk.

“Iya kamu”

Satu lagi menunjuk.

“Iya kamu juga”

Dua, tiga, empat orang menunjuk.

Oke saya bingung.

“Saya kaaakk mau ke belakaanng…”

Dan semua murid keluar.

(…..)

Mari menggambar.

Mari menggambar.

TIDAAAK..!! Salah strategi saya, haha. Namanya juga bocah, sekali keluar ya semua ikut-ikutan keluar. Yang ada sekarang ibu guru beneran yang tadinya istirahat di ruang kepala sekolah, sibuk ngangon anak-anak kelas 1-2 itu berhamburan di luar kelas. Ada yang ke kantin, lari-lari, ada yang benar-benar pipis (kalo yang ini jujur), dan ada juga yang masuk masuk WC tapi cuma masuk trus keluar lagi, haha rusuh.

Alhamdulillah-nya, entah bagaimana caranya, mereka semua bisa masuk kelas lagi. Pfiiuuuhhh.

Kemudian saya memulai pelajaran. Oh ya, fyi, saya memberikan pelajaran mengenai Tata Negara. *berat yee*

Saya akan bertanya, sejauh mana mereka mengenal sosok seorang presiden. Dan bagaimana presiden itu bisa terpilih. Saya sudah menyiapkan beberapa properti: gambar-gambar presiden mulai dari Soekarno hingga SBY. Dan sebagai perbandingan, saya buat pula gambar-gambar artis seperti Iqbal Coboy Junior (saya tau Iqbal ini begitu terkenal dari ponakan saya), Tukul, Sule, Cherrybelle (saya ga tau siapa gambar personilnya yang saya comot dari Google, tapi kata anak-anak itu namanya Angel), dan gambar Jokowi.

Lalu, saya menyiapkan pula kotak suara mini yang saya bikin dari kardus roti. Saya akan bikin simulasi pemilihan ketua kelas. Terdengar menarik, bukan? Hehe.

Oke, beberapa kesimpulan saya untuk anak kelas 1 dan 2 adalah:

  1. Mereka masih belum mengerti. Jadi, sebisa mungkin sampaikan apa yang bisa mereka pahami. Jangan pake kata-kata susah seperti: demokrasi, pemilu, jurdil, luber, konstitusi, atau bahkan sengketa pilkada yang menyebabkan ketua Mahkamah Konstitusi tertangkap tangan KPK (halah). Jadi gunakan kata sesimpel mungkin.
  2. Mereka liar. Mohon dipahami kata “liar” dari perspektif positif ya. Liar disini maksudnya susah dikendalikan. Coba apa yang bisa kalian perbuat ketika kalian sedang bercerita (dengan harapan semua anak-anak memperhatikan), tapi hanya beberapa anak yang dengerin. Sisanya.. main sendiri! Ada yang guling-gulingan di lantai, corat coret papan tulis pake spidol yang ga bisa kehapus, ada juga yang main ledek-ledekan sampe nangis, ada yang main hardcore: nendang meja yang nyaris kena perut temannya, dan ada yang ngobrak abrik properti saya karena ngeliat gambar. Duh, gusti.
  3. Mereka kenal Jokowi. Luar biasa kan Gubernur Jakarta itu? Ketika saya tanya “siapa yang tahu presiden kita?”, mereka bukan jawab SBY lho, tapi malah Jokowi, haha. Ada lagi yang jawab Barack Obama. Dan mereka lebih kenal artis-artis lho dibanding presiden kita. Apalagi si Iqbal tadi, wuih.
  4. Udah ga jaman lagi ledek-ledekan nama bokap ya, hehe. Ga terdengar tuh dari kelas 1 sampai 6 kata-kataan nama bokap. Padahal dulu saya jaman SD parah banget tuh. Sepertinya tren itu telah dimakan usia *sedih inget umur* Oke, ga penting.

Nah pas saya melakukan simulasi pemilihan ketua kelas, saya mencoba menterjemahkan pemilihan itu menjadi kata yang akrab bagi anak-anak kelas 1. Alhasil, ketua kelas yang (tadinya) saya rencanakan beberapa murid saya panggil maju ke depan sebagai calon, saya ganti dengan buah. Yep, saya bilang kalo kalian pilih jeruk gambar buah jeruk, kalo kalian pilih apel gambar apel. Dan mereka excited! Ada yang gambar lama banget, pas saya liat kok ga selesai-selesai, satu kertas digambar jeruk semua, haha.

Tapi percayalah, cerita diatas terjadi dengan kerusuhan, tenggorokan kering dan peluh bercucuran menyelamatkan properti saya diatas meja yang ditarik-tarik mereka. Huft.

Terpujilah engkau wahai ibu bapak guru yang dengan sabar, ngajarin anak kelas 1 dan 2 yang bandel, ceria, ekspresif dan eksplosif tersebut. Eh tapi tunggu dulu, perasaan saya kelas 1 lagi itu ga bandel deh. Saya dulu pendiam, pemalu, pintar, dan duduk manis ga banyak tingkah, ditambah cute juga lagi. *kemudian diamuk massa*

Defli dan Naura

Defli dan Naura

Oke, kelas 1 dan 2 selesai. Kelas yang tersisa itu kelas 3 sampai 6. Prediksi saya, kelas lebih dewasa itu (seharusnya) lebih gampang dan kondusif kok. Kenapa? Karena mereka lebih ngerti kali ya. Dan dugaan saya tepat. Malahan baru masuk aja saya udah kena cengan anak kelas 4:

“Kakak namanya Bimo ya?”

“Iya.. Kamu namanya siapa?”

“Defli kak..”

“Oh Defli..”

“Kak Bimo, kakak abis makan apa sih? Itu di pipinya kotor tuh, ada sisa ya, bersihin dulu dong..”

DHUAR! Bocah kecil kelas 4 SD udah bisa cengin tahi lalat gw yang supermanis ini di pipi, haha.. Untung yang ngomong anak SD, saya masih sabar. Coba kalo yang ngomong wanita dewasa siap nikah, cantik, setia, ga macem-macem lagi baik hatinya, udah saya lamar deh.. *lah malah curhat*

Dan mengajar anak kelas 3 sampai 6 itu mekanismenya sama kok. Yang berbeda cuma simulasi pemilihan. Saya panggil 3 anak maju ke depan, biasanya ada ceweknya, untuk dipilih jadi “ketua kelas”.

Dasar bocah SD jaman sekarang udah tau romansa dan cinta-cintaan kali ya (eh tapi ga ding, dulu gw juga udah tau haha). Pas ada cewek yang maju ke depan, malah dijodoh-jodohin sama temennya yang cowok.

“Cieee.. Naura sama Defli ciyee… Suit suit.”

Maksudnya yang maju ke depan Defli, anak yang sukses ngeledek tahi lalat saya itu tadi, sama Naura, temennya cewek.

Oh, ada juga lho yang sudah bisa menebak hasil pemilihan, layaknya LSI. Coba simak prediksi berikut:

“Ah, ini pasti yang menang Naura ini.. Pasti semua pada milih Naura semua.. Cewek soalnya..”

Dan prediksi jadi-jadian itu tepat. Naura yang menang karena dipilih secara demokratis oleh seluruh rakyat kelas 3 dan 4, hehe.

Selanjutnya, tidak jauh beda. Ketika saya tunjukkan poster besar para presiden, mereka menjawab seadanya dan secukup tahunya. Namun ketika saya tunjukkan foto artis (yang saya kasih clue dengan potongan-potongan mata, hidung, bibir) mereka langsung heboh dan jejeritan.

“IQBAAAL.. IQBAAAL.. IQBAAAL..”

“ANGEL CHERRYBEELLEEE..”

Makanya banyak selebritis yang bisa kepilih jadi anggota dewan ya, hehe.

Terakhir, saya ajak anak-anak semua nyanyi Indonesia Raya. Well sebenarnya saya mau ngetes aja sih, sampe sejauh mana mereka hapal dan tahu lagu kebangsaan kita. Apa sudah tergerus oleh lagu-lagu barat, boysband cilik dan girlsband, halah. Lagian itu juga buat ngisi waktu sih, karena kalo udah terakhir-akhir gitu saya suka habis ide, haha.

Untuk penutupan, saya dan teman-teman pengajar mengumpulkan mereka di lapangan, dan kemudian menyediakan papan besar yang ditempeli oleh tulisan cita-cita mereka. Lucu-lucu lho cita-citanya. Selain cita-cita umum macam dokter, insinyur, pilot dan sebagainya, kemudian cita-cita universal di kalangan anak laki, yaitu pemain bola. Ada satu anak yang mau jadi Spider-Man.. Mungkin dia udah tahu with great power comes great responsibility? Atau dia mau dapet cewek macam Mary Jane Watson? Halah. Trus kenapa ga mau jadi Bima Satria Garuda?

Rame!

Rame!

Sayangnya, cuma satu-dua orang yang mau jadi Presiden.

Atau mau jadi anggota KPK aja kali ya biar bisa nangkepin pejabat? Hehe.

Sampai jumpa di Kelas Inspirasi berikutnya!

 

Credits:

Foto-foto diambil dari blog dan Fb nya Arie. Thanks bro!

Tagged

My Mix-birthday-tape

Image

Gambar diatas adalah cover sebuah mixtape. Apa itu mixtape? Menurut Wikipedia, mixtape adalah a generic name given to any compilation of songs recorded onto any audio format. Atau bisa dikatakan secara gampangnya, kumpulan track-track yang dijadikan satu kesatuan alias kompilasi. Lagu-lagu dalam mixtape bisa seenak pembuatnya, namun biasanya ada tema-tema tertentu. Bisa dijadikan koleksi pribadi, bisa untuk dikasih orang lain, atau bisa juga untuk di share ke khalayak ramai.

Daann, mixtape di atas adalah mixtape yang khusus dibuatkan oleh teman saya yang bernama Genoveva Hega Densana Medyani untuk ulang tahun saya kemarin haha. Memang sih saya yang request, karena di ulang tahun saya tahun ini sepi dari kado, haha.. Tapi biarlah. Karena saya tahu Hega itu punya sense of music yang oke (secara doi music director gitu), dan kebetulan musik-musik pilihannya juga saya suka.. Jadi saya tahu kalau saya meminta kepada orang yang tepat.

Kalau ada istilah “serahkan sesuatu kepada ahlinya” berarti saya sudah menjalankan itu dengan benar.

Singkat cerita beliau menyanggupi permintaan saya dan berjanji akan segera membuatnya. Saya senang sekali dan semalam beliau memberikan notifikasi kalo mixtape-nya sudah siap untuk diunduh. Haha. Saya penasaran sama lagu-lagu apa yang bakal dia berikan sampe saya susah tidur dan kegelisahan melanda #halah.

Dan disinilah saya, sembari bekerja dan sembari pula ditemani oleh rangkaian lagu-lagu dari my birthday mixtape. Ada 10 track semua dalam album ini, yaitu:

1. Never Grow Old (The Cranberries)

2. Home (Edward Sharpe & The Magnetic Zeros)

3. For Rose (Parov Stelar)

4. Just A Boy (Angus & Julia Stone)

5. Satellite (Guster)

6. Erase and Rewind (The Cardigans)

7. Sunburn (Beat Connection)

8. Labour of Love (Frente)

9. Sap Solids (Fun Adults)

10. Everyday (Buddy Holly)

Itulah. Saya yakin beberapa diantara kalian masih asing dengan beberapa judul lagu di atas, namun bisa saya ungkapkan bahwa kesepuluh lagu di atas adalah tembang-tembang yang oke.

Oh ya, perkenalan saya dengan Mbak Hega ini juga agak unik lho, berawal dari request sebuah cover mixtape juga untuk seseorang haha. Dan kami belum pernah bertemu sebelumnya, karena doi dikenalkan ke saya oleh seorang teman, dan doi berdomisili di Bali.

Tapi saya pernah ketemu lho dengan dia di suatu hari sebelum Tahun Baru kemarin, hehe. Ah, nanti saya ceritakan deh kapan-kapan.

Tagged , , ,

Dear kambing…

Image

Hmm, besok umat muslim akan merayakan Hari Raya Idul Adha, atau biasa orang Indonesia menyebutnya sebagai Lebaran Haji. Well, apa yang istimewa dari Lebaran Haji kali ini? Selain jatuh pada hari Jumat yang menandakan akan dimulainya long weekend dan kebebasan sementara dari rutinitas pekerjaan yang membosankan, Lebaran Haji kali ini juga merupakan sentilan bagi saya untuk menyisihkan sebagian uang untuk, apalagi kalo bukan beli kambing.

Well, meskipun bukan muslim yang baik dan taat (ngaku lho), tapi apabila ada kesempatan di setiap Idul Adha, saya selalu menyempatkan diri untuk menyisihkan sebagian uang yang saya punya buat beli kambing. Kalo saya sih mikirnya, sekalian buat sedekah, udah gitu mumpung masih single jadi kebutuhan masih belum banyak, lalu uangnya juga ada dan daripada buat yang aneh-aneh, dan yang paling penting lagi sih sebenernya, biar dapet ridho dari Allah Swt (aamiin..) haha.. Ya gitu deh.

Lagipula kambing yang saya beli bukanlah kambing yang besar atau bandot, atau yang paling bagus. Disesuaikan dengan kemampuan aja, cari kambing yang murah. Itupun masih ada pemikiran setan-setan yang selalu menggoda dengan kata-kata “Ngapain sih lo beli kambing, Bim.. Udah mendingan duitnya lo pake buat ……………… (isi sendiri, pokoknya hal yang asik-asik deh)”.

Apakah hal yang asik-asik? Jangan dulu berpikiran aneh-aneh ya, karena hal yang asik-asik menurut saya adalah misalkan makan-makan, nonton, jalan-jalan atau beli apa gitu yang saya suka. Tapi saya pikir, saya udah sering belanjain uang buat kayak gitu, dan ini kan juga setaun sekali, lagian mudah-mudahan ini juga buat kelancaran rizki saya juga, akhirnya omongan setan itu saya ga dengerin, hehe.

Okelah, tulisan singkat diatas cuma buat pengingat aja dan sekedar motivasi buat teman-teman, syukur-syukur ada yang termotivasi, bukan buat sombong atau apa yah, wong cuma kambing kok, kecuali mungkin onta atau yang lain, hehe.

Yang jadi permasalahan adalah, harga kambing yang semakin naik seiring dengan berat si kambing itu sendiri. Ambil contoh, dengan uang segini, taun lalu saya bisa mendapat kambing dengan penampakan yang lebih gemuk dan besar. Tapi di tahun ini dengan uang segini, kambing saya kok nampaknya ga besar, tapi cukuplah untuk dikurban, dan yang terpenting sehat. Waduh, gimana jadinya di tahun-tahun mendatang ya? Mudah-mudahan rizkinya ada terus dan semakin bertambah juga, aamiin.

Ada yang lucu ketika saya memilih kambing saya ini, jadi saya menjatuhkan pilihan pada kambing ini dikarenakan si kambing sangat aktif dan sangat bergairah! Haha.. Ya, dikala kambing lain di malam itu tidur dan bermalas-malas, kambing saya (entah abis minum Hemaviton atau apa) sangat bergairah dan nomplokin temen-temennya mulu, hehe. Kecil-kecil tapi lincah, saya suka.

Tagged , , , ,

Persesuaian Kehendak

Seorang teman pernah berkata kepada saya bahwa persesuaian kehendak itu adalah hal paling sulit yang dapat diraih umat manusia dalam kehidupan ini. Persesuaian kehendak disini tentunya adalah persesuaian kehendak antara manusia atau kita, dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kenapa sulit? Karena kehendak kita belum tentu merupakan kehendak Tuhan, dan kehendak Tuhan pun belum tentu sesuai dengan keinginan kita. Pertabrakan kehendak inilah yang sulit untuk diterima, bila itu yang terjadi.

Apalagi untuk sesuatu yang kita inginkan dengan sangat, dimana di pandangan kita, bahwa apabila kita mendapatkan hal tersebut maka akan menjadi bahagia dan lengkap hidup kita, itulah yang memiliki tingkat adrenaline rush tertinggi bila ternyata hal itu bukanlah persesuaian Tuhan. Keinginan tersebut bisa berupa apa saja, bisa berupa pekerjaan, jodoh, atau hal-hal lainnya.

Terkadang, ayat-ayat agama dari kitab suci manapun yang menyarankan kita untuk bersabar apabila kehendak kita tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, tidak cukup banyak membantu orang yang telah menginginkan sekali hal tersebut lalu mengalami kegagalan.

Saya juga ingin bertanya kepada teman-teman sekalian, bagaimana kiat dan tips menghadapi ketidaksesuaian kehendak antara diri kita dengan Tuhan? Hal yang sebenarnya mudah untuk diucapkan sebagai nasihat kita kepada orang lain, tapi kalau terjadi kepada kita, belum tentu..

Hidup saya memang bukanlah hidup yang selalu sama kehendaknya dengan Yang Maha Kuasa. Kalau dipikir-pikir malah, sedari kecil saya selalu diwarnai dengan kehidupan yang diluar dugaan. Namun bukan berarti hidup saya tidak bahagia. Ketika SD, saya sudah punya gambaran masuk ke SLTP dan SMU favorit keinginan saya, namun itu buyar. Selepas sekolah, mau masuk ke Universitas dan jurusan keinginan saya, sirna juga. Kerja juga begitu, mau masuk ke instansi atau perusahaan idaman, ga jadi. Untuk masalah asmara, ada beberapa kegagalan yang juga saya temukan.

Kadang butuh air mata dan kebesaran hati untuk melaluinya. Dan hal itu tidak selalu sama, ada beban tersendiri dari setiap episode dimana kita sedang menunggu kesesuaian Tuhan dengan ingin kita.

Rangkuman Hari Kemarin..

ImageJadi, beberapa hari ini saya telah mengalami berbagai kejadian yang agak tidak enak dan membuat resah, apa ya, ibaratnya kita sebagai manusia pasti pernah mengalami hari yang buruk, dan hari yang buruk tersebut adalah hari dimana kita telah mempersiapkan segalanya dan berharap hari itu akan menjadi hari yang sukses tapi ternyata tidak, dan akhirnya hari itu menjadi bencana.

Oke, tak perlu menyalahkan siapa-siapa, karena saya terbiasa apabila ada apa-apa selalu melihat ke diri sendiri. Dan saya pikir persiapan saya kurang maksimal dan ada faktor psikologis lain, yaitu faktor doa atau spiritual saya yang agak kurang bagus.

Jadi, saya coba membaca-baca kembali dari berbagai sumber dan saran beberapa teman, dan akhirnya saya berhasil merangkum resep-resep dalam menjalani kehidupan, yang lebih banyak didominasi oleh hal-hal spiritual. Hmm, saya pikir beberapa hari belakangan sisi spiritual saya kurang baik dan sudah agak tumpul dan perlu diasah. Beberapa hal diantaranya adalah lebih konsisten dalam beribadah dan coba lebih benar dalam berdoa atau meminta.

Doakan saya ya, semoga shadow days ini akan segera berakhir, dan saya pikir saya juga telah lama kehilangan momen dan sisi spirituil saya yang agak terkikis oleh dunia *asek*, aamiin.

Tagged , , ,