Tag Archives: batman

Batman: A Fanfic #WroteBackBlog

Batcave, 5 PM.

Hari semakin malam ketika aku sudah lelah menunggu Batman pulang bertugas malam ini. Disini, aku bersama Alfred, menjaga kediaman megah Bruce Wayne. Alfred adalah penjaga setia keluarga Wayne. Aku sudah bosan menjaga rumah yang seperti sangkar kelelawar raksasa ini. Dan ketahuilah, ini memuakkan. Ini semakin menegaskan bahwa aku saat ini berada di bawah bayang-bayang Bruce. Parahnya, aku seperti bukan seorang superhero.

Padahal, apa yang membedakan aku dengan Batman? Kami sama-sama berjubah. Sama-sama memiliki sayap. Well, mungkin dia lebih berotot, jelas. Dia lebih dewasa dari aku tentunya, pengalamannya lebih banyak. Sedangkan aku hanya anak muda yang ditemukannya di tempat sirkus, setelah orang tuaku dibunuh oleh penjahat itu, lelaki berwajah dua. Batman pun memburunya. Ia melihat potensiku, dan mengajakku bergabung. Membasmi kejahatan bersama di Gotham City. Bersama? Itu katanya dulu.

Namun kini, ia lebih senang sendiri. Aku ditinggalkannya. Setiap aku ingin pergi, Batman melarangku. Dan karena ia bertempur sendiri, namanya terus terpampang di headline The Gotham Post, dengan sanjungan yang luar biasa. Seluruh warga Gotham memujinya. Dan aku, sudah tak pernah disorot lagi. Mungkin warga Gotham telah melupakanku. Batman menjadi egois akhir-akhir ini. Apalagi kini dengan hadirnya psikolog cantik itu, Dr. Chase Meridian. Aku rasa Batman suka dengannya. Batman dan Bruce Wayne, mereka berdua suka dengannya. Haha, konyol memang. Sudah kubilang seorang superhero tidak boleh jatuh cinta, karena akan merusak konsentrasi.

***

“Alfred, kurasa aku akan tidur sekarang”

“Tuan Dick, anda seperti kurang sehat. Wajah anda pucat, apakah anda butuh sesuatu? Saya akan menyiapkannya untuk anda, Tuan”

“Oh tidak Alfred.. Kurasa aku hanya butuh istirahat, terima kasih”

Aku segera masuk ke dalam lift yang akan membawaku ke atas, ke kamarku. Sudah lebih dari satu jam aku berada di sini, Batcave. Tempat Batmobile dan motorku tersimpan. Motor yang sudah berdebu, karena sudah lama tak dipakai. Di lift ini pun tergantung jubahku yang juga lama tak terpakai, bersanding dengan jubah hitam mengkilap milik Batman. Semua ini menyesakkan dadaku.

Akhir-akhir ini aku lebih senang di Batcave. Menyendiri dan bersembunyi dalam gua. Batcave? Haha, ini menjadi salah satu yang kupertanyakan. Aneh memang kenapa setiap properti yang berhubungan dengan Batman selalu memakai nama “Bat” di depannya. Sudah selama ini kita bekerjasama, dia bilang kami adalah tim, namun tetap saja peralatan ini mematenkan namanya.

Aku gelisah, dan Alfred tahu itu. Ia sepertinya khawatir dengan kegelisahanku. Kadang Alfred menemaniku di gua, membawakan makanan dan minuman. Aku lebih sering bermalam di gua daripada di kamarku sendiri. Gua ini membuatku merasa nyaman. Kegelapan yang menyelimutiku, menghangatkan tubuhku, dan kelelawar-kelelawar yang hinggap disini seakan mengerti kegundahanku.

***

Kubuka pintu kamar, dan kepalaku tiba-tiba berputar. Aku pusing sejadi-jadinya. Keadaan ini sudah kurasakan selama beberapa minggu ini. Mungkin karena sakit di kakiku, yang membuat kepala ini pusing. Tapi tidak, aku tidak boleh melemah. Aku Robin, seorang superhero, dan keadaan ini bukan penghalang bagiku. Tapi dia, dia yang menghalangiku. Dia membatasi pergerakanku, entah sampai kapan. Dia berkata bahwa aku sudah tidak punya harapan untuk pulih, dan tidak mungkin kembali menjadi seorang superhero. Karena kini, aku bergantung pada tongkat ini. Tongkat ini adalah penyangga kakiku yang diamputasi. Tapi aku diberikan kaki palsu, bukan? Memang, kaki palsu dari fiber ini sangat mengganggu. Apalagi tongkat ini membuat aku tak bebas bergerak. Namun, aku percaya masih mampu berbuat banyak dengan kaki seperti ini. Namaku Dick Grayson, panggil saja Robin. Dan kalian tahu, Bruce salah jika harus beranggapan seperti itu, bahwa masa keemasanku telah habis. Haha.

Kututup pintu kamar, dan berjalan payah dengan tongkat ke arah lemari. Kubuka lacinya, dan kulihat sebuah benda disitu. Benda ini adalah jawaban. Aku tersenyum disirami cahaya temaram dari lampu kamar.

***

Batcave, 11 PM.

Batman masih dalam jubah hitamnya, setelah bertugas malam ini. Di layar televisi diberitakan bahwa Two Face masih saja mengganggu ketentraman Gotham, bahkan Batman kewalahan meringkusnya. Two Face, lelaki yang membunuh orang tuaku. Batman tahu aku menyimpan dendam untuknya. Tapi anehnya, Batman melarangku untuk ikut serta memburunya. Padahal energiku tersimpan banyak dan berlebih. Dia melarangku tepat setelah kecelakaan itu. Kecelakaan yang terjadi ketika kami mengejar Two Face bersama. Saat itu motorku terjatuh, dan kaki kiriku ini dilindas oleh anak buah Two Face dengan motor besarnya hingga remuk.

“Two Face masih berkeliaran, dan sangat sulit menangkapnya”, Batman membuka pembicaraan seraya turun dari Batmobile, dan membuka topengnya. Ia kini menjadi Bruce Wayne.

“Kau tak akan kesulitan bila mengajakku turut serta”

“Kau sudah gila? Lihat kakimu. Itu adalah terakhir kali kita melawannya. Hasilnya itu! Sekarang kakimu terbuat dari plastik, dan kau masih ingin melompat-lompat dan berlari bersamaku?”

“Aku masih bisa bergerak, Bruce! Tenagaku masih kuat. Lihat aku, aku masih muda. Dan yang menjadi masalah, aku tak bisa berdiam terus disini, Bruce!”

“Oke.. Jadi kau mau kemana? Kembali ke tempat sirkus? Kau bahkan sama sekali tak terpakai disitu”

“Whatever. Tapi aku yakin masih bisa berbuat sesuatu, minimal membalas dendamku pada Two Face.. Dan aku tahu itu!”, nadaku semakin keras dan meninggi.

Mendengar kalimat itu, Bruce terdiam, menggelengkan kepalanya, dan berbalik pergi. Ke arah lift, melepaskan jubahnya, dan menuju kamarnya.

Seketika itu pula aku tahu, inilah saatnya.

***

Jarum pendek  menunjukkan pukul 12 tengah malam ketika aku mengendap-endap di lorong menuju master bedroom rumah ini. Diluar hujan, dan suasana tak pernah lebih mencekam dari ini, setidaknya selama aku pindah dari sirkus dan tinggal disini. Aku meyakinkan diri sendiri bahwa hanya akulah yang ada di lorong saat ini. Tidak ada Alfred. Tongkat yang kupakai untuk berjalan menimbulkan suara berderak di lantai kayu. Aku berjalan perlahan, kilatan gemuruh yang masuk dari jendela bagai lampu blitz kamera, dan menimbulkan bayangan panjang diriku di lantai, bagai monster yang siap menerkam siapa saja yang berada di lorong ini. Meskipun hujan, hawa terasa panas. Keringatku bercucuran, detak jantungku berdetak begitu cepat, badanku mendadak panas.

Aku tahu pintu tak dikunci, kubuka, dan itulah Bruce. Membelakangiku, terduduk di sofa, bersandar dan tertidur. Cahaya datang dari layar laptop yang masih menyala. Di sebelahnya ada secangkir kopi, tumpukan buku-buku tebal, guntingan koran beserta surat kabar yang berserakan. Bruce selalu seperti ini. Bekerja hingga larut malam, bahkan hingga tertidur di sofa kamarnya.

Aku menghampirinya perlahan dari belakang. Kilat saling menyambar, semakin gencar mewarnai nuansa pekat malam. Hujan turun semakin lebat, menimbulkan suara gemericik di atap. Semilir angin masuk melalui jendela yang tidak ditutup rapat, menerbangkan gorden putih, melambai-lambai, bagaikan tangan menggapai di udara. Cahaya menerangi sebelah wajahku ketika aku berhenti tepat di belakang Bruce, diatas kepalanya.

Sambil mengangkat benda itu ke udara, tongkatku terjatuh, dan bersamaan dengan bunyi tongkat yang mengenai lantai kayu, Bruce membuka matanya. Dan menatapku tepat di mata. Kami saling berpandangan sesaat, sebelum…

Secepat kilatan kilat yang menerangi seisi kamar, aku menusuk pisau yang selama ini kusimpan di lemari kamarku, tepat di jantung Bruce. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Bahkan kutambah dengan belasan tusukan lagi yang mendarat membabi buta di sekujur tubuhnya. Darah ini terasa hingga ke ubun-ubun, Nafas ini tersengal-sengal, dadaku sesak. Namun aku malah tersenyum puas. Hingga akhirnya tertawa.

Pfiuhh, entah kenapa, aku gembira melihat tanganku berlumuran darah segar. Dan di bawahku, Bruce terbelalak, tubuhnya penuh darah. Saat itu, Alfred membuka pintu kamar, dan memanggil namaku dan Bruce dengan keras. Aku menoleh ke arah Alfred, dan aku tertawa.

Kalian tahu, ini adalah hari ketika kumulai era baru diriku, sebagai Robin, seorang superhero.

(image from Google)

 

#WroteBackBlog adalah segmen dimana saya menulis ulang tulisan yang pernah saya tulis di blog mendiang thebimz.multiply.com atau tulisan-tulisan yang belum pernah di/ter publish. Tujuannya adalah untuk melestarikan kembali, mengingat kembali dan/atau mengisi masa belum adanya ide membuat tulisan baru.

Tagged , , , ,