Beach, Pleaseee..!! #WroteBackBlog

FullSizeRender

Travelling sebenarnya menjadi hobi terselubung saya. Kenapa terselubung? Alasannya begini. Pertama, siapa sih yang ga suka jalan-jalan? Dari bayi, anak kecil, ABG, remaja, dewasa sampe bokap nyokap atau kakek nenek pasti suka yang namanya jalan-jalan. Jalan-jalan atau istilahnya yang keren sekarang itu travelling, emang paling pas dilakukan kalo pikiran lagi stres atau padat kerjaan. Well, ga padat kerjaan juga ga salah kok. Travelling ke tempat-tempat yang menyegarkan mata dan ada udara segarnya macam gunung, pantai, atau luar kota, tempat wisata, atau bahkan luar negeri, memang menjadi kegemaran (hampir) setiap orang. Tapi tunggu dulu, ada juga yang ga suka travelling. Kenapa ada yang ga suka travelling? Banyak sih alasannya. Bisa jadi ia adalah orang rumahan, lagi banyak kerjaan, atau ini nih menurut saya alasan yang masuk akal: ga punya uang. Atau bahkan pelit.

Klise. Ujung-ujungnya duit. Dan inilah yang menjadi problematika utama orang yang mau travelling. Travelling berkaitan dengan ongkos alias budget. Dan macam-macam tempat yang dituju, macam-macam pula ongkos yang dikeluarkan. Semakin jauh, semakin mahal pastinya. Contoh, jalan-jalan ke Bandung tentu mengeluarkan biaya yang jauh lebih sedikit dengan… Ke Antartika misalnya *halah*. Selain itu, aspek fasilitas tentunya berpengaruh. Kita bepergian dengan ngirit tentunya berbeda dengan kita bepergian dengan lebih nyaman. Irit disini bukan berarti ga nyaman lho ya, itu semua pilihan kok. Ngirit disini maksudnya berhubungan dengan tema tulisan kali ini, yaitu backpacker.

Backpacker sendiri kalo kita nyontek ke wikipedia memiliki arti: wisata yang tidak memberatkan (dengan membawa koper, misalkan), atau dengan kata lain, wisata dengan menggunakan tas gemblok (backpack) trus cuma bawa baju dan pakaian secukupnya. Tidur pun ga senyaman di hotel dan sebagainya. Begitulah kira-kira. Ini sebenarnya yang belum tentu mau dilakukan kebanyakan orang. Kalo pergi dengan nyaman alias pake koper (secara harfiah adalah lawan dari backpack), tentunya ga ada yang ga bisa. Nah, lain cerita kalo travelling dengan backpack alias “ngegembel” atau ada juga yang bilang ngeteng, atau apalah. Ini dia yang jarang orang bisa (atau mau). Karena apa? Karena backpacker identik dengan ketidaknyamanan.

Namun bagi beberapa orang, disitulah serunya. Dari sisi mana kita bisa melihat keseruan hal tersebut? Pertama, lagi-lagi berkaitan dengan uang. Dengan ngebackpack, kita bisa mengatur budget bepergian kita. Karena jelas kalo pergi dengan koper akan lebih mahal dibanding backpackeran. Kita bisa memangkas biaya penginapan, akomodasi, konsumsi dan lain-lain..

Kedua, kita akan tertantang untuk menciptakan suasana liburan yang menarik dan seru. Artinya, backpackeran means we create our own trip. Bukan berarti ga bisa pake EO trip atau tour guide, karena ada juga trip yang buat backpackeran. Meskipun ada beberapa yang ga setuju dengan istilah “backpackeran tapi kok pake EO trip”.

Oke, kita ga membahas hal itu. Lebih baik kita membahas, bagaimana menciptakan itinerary yang berbeda dengan trip “koper”, dan saat itulah kita akan menemukan keseruan demi keseruan, baik dari perjalanan itu sendiri, tempat yang didatangi maupun interaksi dengan warga sekitar atau traveller lainnya.

Hmm, sepertinya cukup dengan kalimat pembuka yang banyak diatas. Sekarang saya akan menceritakan pengalaman seru saya sebagai seorang backpacker amatiran, hehe. Ketika itu saya dan beberapa teman mengalami pengalaman indah ketika merencanakan acara tahun baru dengan berkunjung ke suatu pantai di daerah Banten bernama Sawarna Beach (sok keren banget ya, padahal mah Sawarna gitu aja nyebutnya hehe).

Ceritanya begini. Saya dan teman-teman memang sudah merencanakan untuk berlibur ke pantai, dan setelah browsing sana sini, tujuan kami jatuh kepada Pantai Sawarna, dan sepertinya akan mengasyikkan karena kami bermaksud kesana untuk merayakan tahun baru. Man, it’s gonna be fun! Membayangkan bakal malam tahun baruan di pantai, ditemani cahaya rembulan plus desiran ombak yang syahdu.. Kemudian bercerita, sembari menyalakan api unggun, lalu tertawa menertawakan kekonyolan, tak lupa bermain truth or dare agar suasana lebih seru.. Wow, kumpulan bayangan yang menarik, bukan? Bayangan-bayangan yang biasanya hanya terjadi dalam film melayang jelas di kepala saya, dan membuat saya makin tak sabar untuk segera bercumbu dengan air laut dan bermandikan pasirnya.

Dan akhirnya kami pun sepakat untuk bepergian secara backpacker. Meskipun masih memakai jasa tour guide, namun wisata ini menurut hemat saya masuk ke ranah backpack. Kenapa gitu? Karena pertama, biaya yang dikeluarkan relatif murah, dan yang kedua, kami akan menginap di penginapan yang sederhana (namun masih nyaman pastinya, hehe). Anyway, kalau saya tahu apa yang akan terjadi nanti, bakalan masuk kategori lebih backpack lagi deh, haha.

Singkat cerita, setelah tahu tempat dimana kami akan dijemput, kami ber-10 sudah menunggu dengan manis di salah ruang parkir salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat. Dan sekitar pukul 9 malam, akhirnya mobil jemputan datang. Bukan, bukan Alphard atau limousine, melainkan minibus yang biasa disebut “elf”. Orang pada nyebutnya elf-elf aja, tapi tau ga kalian merk mobil itu apa? Isuzu. Haha ga penting memang.

Jadi kami rencananya bakal sampai ke tempat tujuan dengan naik elf tersebut, kemudian prediksi departure kami di Sawarna adalah ketika subuh hari. Semalaman di perjalanan, kami melakukan banyak hal. Mulai dari ngobrol ngalor ngidul, ngegosip, foto-fotoan meskipun gelap, mengudap makanan kecil maupun besar, ke WC kalo pas lagi berhenti, nonton film di gadget, atau kegiatan yang paling pasti adalah tidur sambil sesekali terbangun karena elf tergoncang sana sini akibat jalanan yang ga mulus.

Hingga pada akhirnya, tetiba udara berubah sejuk dan sesekali nampak di balik kaca jendela dan dibawah pepohonan, desiran ombak yang menerpa pasir dengan suara semilir laut yang khas. IT’S THE BEACH!

Kami semakin antusias untuk turun dan sudah keburu pengen nyebur (belum apa-apa udah mau nyebur aja..), maklum di habitat kami (Jakarta) sama sekali ga ada hamparan laut biru. Volume air banyak hanya muncul ketika banjir besar melanda, dan kami ga mungkin dong cebur-ceburan di banjiran udah gede begini, haha.

Jadi, menurut itinerary yang ada, pagi itu kami begitu sampai langsung dibawa ke penginapan dan mendapat makan. Oke, seketika itu pula kami langsung jalan kaki sambil menenteng ransel yang cukup berat menuju tempat, yang katanya tempat penginapan. Sudah terbayang di kepala, hamparan kasur buat ngerebahin badan setelah semalaman duduk tegak.

Namun apa yang terjadi, setelah ngider cukup lama saya dan teman-teman kok ga masuk-masuk ke dalam ruangan yang namanya kamar atau apalah. Kami muter-muter aja sedangkan pengunjung lain tampak sudah beristirahat sambil nyemil-nyemil selonjoran atau bahkan makan. Wah ada apa ini?

Saya masih inget nasihat guru ngaji saya waktu SD untuk selalu ber-khusnudzon alias berbaik sangka *azek*. Dan itulah yang membuat saya dan teman-teman ga jadi merengut karena bingung. Tak lama, kami akhirnya bisa dapet pit stop, yaitu sebuah rumah yang sepertinya bukan penginapan deh, ga tau rumah siapa. Disitu kami geleparan, ditambah perut keroncongan minta makan.

Setelah menunggu cukup lama, yang punya rumah mempersilakan kami untuk makan. Oh, prasmanan rupanya. Jadi empunya rumah memasak cukup banyak untuk kira-kira 10 orang. Ada ayam, sayur, dsb dan alhasil kami makan dengan bar-barnya.

Setelah kenyang, kucluk-kucluk datang lah seorang wanita muda berusia sekitar 30 tahun lebih, memakai kacamata, dengan postur tubuh agak gemuk dan ga begitu tinggi. Oh rupanya ia adalah EO backpacker kami, atau tour guide, atau apalah yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup kami selama di Sawarna.

Setelah berbasa basi sebentar say hello dan lalala, ia mulai bicara dengan nada agak pelan, sembari merendahkan suaranya ditambah mesem-mesem sedikit.

“Mas, mbak.. Maaf yaa, ternyata penginapannya udah penuh.. Jadi kita ga dapet tempat. Untuk sementara kalian disini dulu ya.. Nanti kita carikan tempat lagi..”

Untung kami udah selesai makan. Kalau belum, bisa keluar lagi makanan yang ada di mulut saking kagetnya. Bahkan bisa sengaja disemburin ke dia. Bayangin aja, udah dibawa muter-muter sampe kaki pegel dan punggung linu karena bawa ransel yang banyak isinya, eh ada kabar ga enak kayak gitu. Meskipun perut kenyang pun tetep aja rasanya pengen nampol itu mbak-mbak abis dia ngomong begitu.

Setelah terjadi percakapan dan komplain yang cukup bikin bete dan dia ngeles sana sini dengan jurus 1001 alasan, akhirnya kami bersedia mengalah dan memilih ngikutin apa maunya dia/mereka.

Kemudian, acara selanjutnya adalah perjalanan menuhu Gua Lalay. Apa dan bagaimana bentuknya gua itu? Silahkan anda googling sendiri, hehe. Yang jelas perjalanan menuju gua ini cukup bikin capek dan gembrobyos (apa tuh artinya? Tanya orang jawa haha). Kita harus berjalan dulu sekitar 1,5 kilometer untuk mencapai gua yang di dalamnya berisi air tersebut. Perjalanannya cukup menyenangkan, dengan melewati sawah yang hijau, satu jembatan gantung dimana di bawahnya terdapat sungai yang arusnya cukup besar, dan rumah-rumah penduduk di perkampungan.

Di mulut gua, telah banyak orang-orang yang mengantri masuk ke dalam. Padahal mah gua gitu-gitu aja ya isinya.. Lalu panitia *halah panitia* menyediakan helm 2 in 1, yaitu helm sekaligus senter yang bisa disewa oleh pengunjung. Dan seperti yang saya bilang tadi, kalo guanya ada airnya di dalam. Jadi kalo ga mau basah ya kita harus gulung celana deh. Kedalaman air lumayan tinggi, hingga sepaha orang dewasa.. (kok jadi seperti reportase korban banjir di tv bahasanya, hihi).

Setelah lelah ngubek-ubek gua, rombongan kembali ke penginapan.

Eh, tunggu dulu. Kalo ngomong penginapan saya jadi bete nih, dan teringat kembali wajah mbak-mbak EO yang dengan gampangnya ngemeng kalo kita ga dapet penginapan. Aarrggh..!!

Pokoknya kita kembali pulang deh, dan bener aja kalo kita masih muter-muter lagi-lagi nyari tempat buat nginep, untungnya kali ini dengan elf. Hingga akhirnya kami menemukan satu rumah, sepertinya rumah penduduk yang telah dibayar kepala keluarganya untuk dijadikan semacam “home stay”. Okelah, pikir kami. Lagian viewnya lumayan bagus. Jadi si rumah penduduk itu letaknya berhadapan dengan pantai kecil yang sepertinya masih nyambung dengan Sawarna. Udah gitu cuaca hujan gerimis. Makin syahdu lah situasi.

Yang agak mengganggu adalah interior si rumah. Yaitu kamar mandi dan tempat tidur yang spooky. Spooky bagaimana? Pertama, kamar mandinya terlalu luas, dan ada sumurnya! Kamar mandi old school gitu deh. Kedua, tempat tidur yang nantinya bakal kita inapi juga menyeramkan, karena di tempat tidurnya ada kelambunya, haha. Antara serem atau jadi macam cerita stensilan gitu *ups. sensor, haha* ya pokoknya intinya jaman dahulu banget deh. Dan itu sore hari hawanya aja sudah begitu, ga kebayang kalo malam.

Ndilalah, si mbak-mbak EO ngeselin itu muncul lagi. Kali ini memberi tahu itinerary dan kita disuruh siap-siap karena agenda kami selanjutnya adalah agenda utama, yaitu ke pantai Sawarna. Malamnya, menghadiri acara tahun baru di pantai tersebut. Wah, acara api unggun atau barbequean nih, pasti seru.

Jadilah kita bersiap menuju pantai, naik elf trus diturunin di gerbang semacam pintu selamat datang. Kurang lebih dengan berjalan 100 meter sampailah kita di pantai Sawarna. Pantainya bagus, ombaknya lumayan besar, tapi sayangnya terlalu banyak orang, hiks.

Yeap, pengunjung yang datang banyak sekali, mungkin karena tahun baru ya. Sehingga, suasana pantai yang enaknya dinikmati sunyi dan khidmat menjadi ramai kayak pasar yang pindah ke pantai. Begitulah.

Dan yang selanjutnya terjadi adalah, kami bermain-main menyusuri pantai, berfoto ria. Tak lupa foto yang wajib hukumnya bila di pantai, yaitu berbaris untuk kemudian meloncat dalam hitungan ketiga.. Dengan latar belakang laut dan ombak, dan capture nya pas kita lompat. Kalo ga salah namanya foto levitasi deh, hihi.

Waktu sudah semakin sore menjelang maghrib, tetiba hujan mulai turun. Seketika saya dan teman-teman memutuskan untuk berteduh di warung yang menjual mie instan (sebut indomie aja gapapa kali yah, haha) dan kopi segala macam. Ngomong-ngomong, itu adalah indomie yang paling nikmat yang pernah saya makan, karena suasana, haha. Makan indomie menghadap pantai dan deburan ombak, dengan cuaca dingin hujan.. Ah, makin lengkap apabila engkau ada di sisiku *laah tiba-tiba galau curhat*.

Tapi kok ya, ada yang janggal nih dari perjalanan kami ber-10. Sampe menjelang malam begini, kok kita kayak ga diperhatiin sama EO, padahal kan kita ikut backpacker trip! Dan asal muasal kita sakit hati ya karena ga dapet penginapan yang seharusnya kita dapatkan itu, dan tanpa ada pemberitahuan jelas lho. Di warung indomie tersebutlah terjadi semacam konferensi dan kita seperti tersadarkan untuk kemudian terbersit niat pulang saja ke Jakarta sebelum rangkaian trip diselesaikan.

Niat mau “kabur” yang masih mentah itu menjadi setengah matang dan matang ketika kita masih membahas dalam perjalanan pulang dari pantai ke penginapan, dan lagi-lagi tanpa “bimbingan” mbak-mbak EO yang ngeselin itu. Macam anak hilang lah kita, haha. Sepanjang perjalanan itu juga kita diskusi tuh, untung ruginya apa kalo kita ngelanjutin trip sampai besok pagi atau kalo pulang malam ini.. Dan kesimpulan awal mengatakan, kita pulang aja karena merasa dirugikan.

Pulangnya pake apa? Kepikiranlah buat kongkalingkong sama supir elf yang udah kita kenal sewaktu berangkat. Kasih duit aja gitu ke dia. Begitu deh rencana gerakan makar kita *halah*.

Dan acara barbeque atau api unggun yang masih terngiang di kepala, langsung buyar seketika ketika kami melihat ternyata di tengah pantai ada panggung besar dengan orang-orang yang lagi cek sound dan masang speaker, dengan lagu dangdut sebagai backsound! Astaga ga taunya dangdutan kita di tahun baru. Tarik maanngg..!! Haha.

Udahlah makin ga jelas aja bakalan nih acara di pantai.

Artinya, rencana awal yang memang sudah matang menjadi suatu kesimpulan bulat yang harus segera dieksekusi, ketika kita melewati penginapan yang harusnya kita tempati. Disitu semua peserta dari pengunjung lain selain kita, dengan jumlah biaya yang sama dengan kita, hidup tenteram dalam damai. Lah ini, kita yang harusnya juga berada disitu kok malah dapet rumah tinggal yang spooky dan jauh dari peradaban. Makan pun sepertinya terlantar. Ah pokoknya kacau deh.

Malam ini juga harus pulang ke Jakarta, itu kesepakatan kita ber-10. Dan benar saja, ketika sampai di rumah tinggal, kami merencanakan pelarian. Supir elf telah dihubungi dan ia telah standby bersembunyi di balik pohon, mungkin takut ketahuan mbak-mbak EO itu. Dia sih mau-mau aja kalo pulang sekarang dan dikasih ongkos. Namun kami sebagai backpacker yang masih memiliki etika dan norma-norma, menelpon terlebih dahulu kepada EO, awalnya untuk komplain dan mungkin bisa teratasi dengan mediasi. Tapi apa jadinya, si EO malah lepas tanggung jawab dan drama ga mau melepas kita pergi. Kesalnya, ketika kita mengungkapkan isi hati bahwa kita kecewa, mereka menanggapinya dengan santai saja, dan ketika kita minta penggantian biaya karena ga mengikuti trip hingga selesai, mereka bilang uang ga bisa kembali, baik sebagian maupun seluruhnya.

Ya sudahlah, kita-kita juga udah ilfeel dan maunya pulang aja, hihi.

Akhirnya tepat di malam tahun baru, saya dan rombongan resmi pulang. Eh, kabur lebih tepatnya, menuju Jakarta. Rencana tahun baruan di pantai buyar. Impian menikmati kembang api di malam tahun baru di pantai, sirna. Yang ada kita malah bermacetan ria di elf.. Terjebak pasar tumpah di suatu daerah di mana entah berada. Eh tapi ada kembang api juga lho! Tapi liatnya dari dalam elf haha.

Sekali-kali merayakan tahun baru ga perlu mainstream kan?

 

#WroteBackBlog adalah segmen dimana saya menulis ulang tulisan yang pernah saya tulis di blog mendiang thebimz.multiply.com atau tulisan-tulisan yang belum pernah di/ter publish. Tujuannya adalah untuk melestarikan kembali, mengingat kembali dan/atau mengisi masa belum adanya ide membuat tulisan baru.

Advertisements
Tagged , , , ,

20 thoughts on “Beach, Pleaseee..!! #WroteBackBlog

  1. Next time, if you wanna go backpacking, do it right. Do everything yourself, that way you can be sure things will be as right as can be, or as wrong as it go wrong… XD XD XD

  2. close2mrtj says:

    Ini kocak… :))

  3. itsmearni says:

    Hahaha kok yo ngenes aku bacanya
    Rombongan 10 orang dikerjain sama EO. Eh tapi gpp sih, dibawa asik aja. Mayan jadi bahan lucu-lucuan dikemudian hari :)))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: