Tag Archives: music

Who Says You Can’t Go Back, To Make A Memory? (Review of Bon Jovi Live in Jakarta 2015) #latereview

IMG_2890

Saya bukanlah fan berat Bon Jovi. Saya hanya memiliki beberapa album mereka, saya tidak menjadi member fans club nya, ataupun tidak mengoleksi atribut-atribut macam kaos dan sebagainya. Namun masa kecil saya yang lekat dengan musik membuat Bon Jovi akrab juga di telinga. Dulu, bermodalkan album Cross Road (1994) punya kakak saya, mulailah “observasi” musik Bon Jovi, dan saya menemukan fakta bahwa mereka merupakan salah satu band besar dunia. Dan, mendengar mereka akan singgah ke Jakarta tahun ini untuk kedua kalinya, man it’s Bon Jovi. Once again, it’s Bon Jovi coming. Tak sulit bagi saya untuk mengambil keputusan bahwa saya harus menonton salah satu band legend ini.

Berprinsip nonton rock itu lebih enak berdiri daripada duduk, saya segera mengincar tiket festival. Menyadari bahwa saya tidak memiliki atribut yang tepat (terutama kaos) untuk nonton, saya segera pesan online. Effort yang saya rasa pantas demi menonton band yang lagu-lagunya (dahulu) menjadi bahan saya belajar gitar. Bon Jovi masuk ke dalam list Band I Have To See Before I Die versi saya. Melihat kedatangan mereka untuk pertama kalinya tahun ’95 silam saya masih piyik, saya membulatkan tekad harus nonton kali ini.

Langsung saja, waktu konser yang bersamaan dengan hari terakhir kerja dan jam pulang kantor membuat kondisi lalu lintas lebih macet dari pengalaman dulu Metallica (Minggu). Saya yang sampai di venue menjelang maghrib bertemu dengan kumpulan orang berkaus hitam yang memadati stadion. Saya kemudian segera mengantri dan memasuki area stadion yang belum terlalu ramai. Sekitar jam 7 mulai ada announcement mengenai do’s and don’ts konser dan penonton mulai riuh. Namun bersamaan dengan itu pula saat-saat membosankan dimulai.

Adalah Sam Tsui, penyanyi yang katanya artis YouTube, dan demi rumput GBK yang telah ditutupi grass cover saya baru mendengar namanya saat itu. Dia menjadi opening act konser. What the.. Seorang artis yang tenar dari YouTube yang beraliran lagu pop dance macam boyband begitu membuka konser rock? Dan konser rock itu Bon Jovi? Wait wait.. Saya mencoba ber-khusnuzon, pasti ada yang spesial dari orang ini. Oke, saya coba mengamati penampilannya yang berjingkrak-jingkrak di atas panggung. Membawakan lagu pertama, saya mencoba mendengarkan. Lagu kedua, saya berucap “oh, okay”. Lagu ketiga, saya mulai mengernyitkan dahi. Lagu keempat, saya mulai bosan. Yang tadinya berdiri mulai duduk. Lagu kelima dan selanjutnya, sepanjang dia bernyanyi yang saya tidak paham musiknya dan dia ngomong apa, saya sudah pasrah dan berharap cobaan ini segera berakhir. Mengesalkan. Untungnya masa-masa itu terobati dengan kehadiran sosok-sosok yang di gelap-gelapan membuat riuh beberapa penonton di festival. Yup, mereka adalah Eross, Duta dan Adam personil Sheila On 7. Langsung saja melihat ada artis di barisan penonton seperti saya, hasrat saya sebagai anak Bekasi tak tertahankan untuk berfoto bersama, haha.

With Eross

With Eross

Ketika kegembiraan datang dikarenakan si Tsui itu telah selesai nyanyi lagu terakhirnya (mungkin juga karena disorakin penonton disuruh turun), saya segera merangsek gak santai ke depan karena ingin melihat Bon Jovi lebih dekat, dan ingin jejingkrakan juga di tengah-tengah crowd. Namun yang terjadi saya dan penonton lain masih harus menunggu selama kurang lebih setengah jam lamanya untuk mempersilakan bule-bule berbadan besar check sound dan mempersiapkan alat-alat. Saya sempat berkenalan dengan mas-mas sebelah yang ternyata datang sendirian dari Surabaya. Wih keren!

Yang mengherankan kenapa setelah Judika menyanyikan Indonesia Raya masih ada jeda 30 menit sebelum Bon Jovi naik panggung. Sependek pengalaman saya ketika Raisa yang membawakan anthem saat Metallica tidak selama itu. Ah tapi biarlah. Yang sedikit mengecewakan saat menunggu Jon dkk naik, penonton diam saja tanpa mengeluarkan panggilan-panggilan pada sang artis. Pengalaman nonton Metallica disini memberikan pengalaman luar biasa saat kita memanggil-manggil sang performer untuk segera naik ke panggung. Tapi tidak menjadi masalah, kehadiran Bon Jovi setelah naik stage dan membawakan lagu pertama, menjadi suatu pengalaman yang luar biasa.

Dengan setting panggung bernuansa biru, band yang 20 tahun silam datang ke Ancol ini memang tetap menebar aura karismatik. Saya yang dulu masih ingusan dan hanya bisa melihat dari YouTube sekarang ini merasa pandai dengan berhasil memprediksi lagu pertama yang dibawakan. That’s What The Water Made Me akhirnya benar-benar menjadi lagu pembuka, dan disinilah sesi awkward dimulai. Saya yang sudah lebih dari 10 hari mengisi playlist dengan lagu-lagu Bon Jovi yang diprediksi bakal dibawakan di konser sangat antusias dengan lagu itu, dan itu jadi favorit saya di album What About Now (2013). Namun yang terjadi, saya saja yang hanya melompat-lompat dan ikut bernyanyi, sedangkan sekeliling saya melongo dan hanya jejeritan tidak jelas. Dan yang pasti, mengangkat gadget masing-masing dengan diam mematung yang mengganggu pandangan. Bitch please, this is a rock concert and enjoy the fucking song! Di kejauhan saya lihat sekerumunan orang yang melompat-lompat dan menikmati lagu. Ah, andaikan saya berada di sana, saya bergumam dalam hati. Tapi biarlah, saya tetap loncat-loncat sampai pegel.

Melihat penampilan Jon, sangat jauh bila dibandingkan 20 tahun lalu ketika dia masih muda dan enerjik melompat ke kanan kiri panggung. Lengkingan suara tingginya pun kini tidak terdengar lagi, ia lebih banyak bernyanyi dengan nada rendah dan malah memberikan lagu-lagu bernada tinggi ke penonton. Jon tua ini lebih berkarakter, dengan keriput-keriput di wajahnya yang terlihat di layar besar kanan kiri panggung (yang cukup membuat heran karena itu layar kok ga taunya cuma persegi panjang ke atas doang bukannya full satu layar). Dan tanpa kehadiran sobatnya, Richie Sambora sang gitaris yang diganti oleh Phil X, memang awalnya agak terasa janggal. Memang secara kasat telinga tak jauh berbeda permainan Sambora dengan Phil, karena chord ataupun melod bisa dikulik, tetap saja ada yang berbeda, khususnya 1 yang tidak dimiliki Phil, kemampuannya untuk menjadi backing vocal suara tinggi yang selama ini diterapkan Sambora dibalik vokal Jon.

Beranjak ke lagu ke-2, Who Says You Can’t Go Home. Lagu dari album Have A Nice Day (2005) ini menjadi salah satu lagu Jon yang catchy dan enerjik. Satu lagu ballad yang asyik untuk dinyanyikan, dan energy saving karena tidak perlu melompat-lompat. Namun seenak-enaknya lagu ini, tetap saja banyak penonton yang diam dan tidak sing along. Ah, mungkin mereka lupa lirik dan nadanya karena sudah 10 tahun lalu. Disambung dengan Lost Highway dari album bertitel sama yang rilis tahun 2007, lagu yang bernuansa rock-country ini memang agak tanggung karena tidak terlalu keras tapi juga tidak slow. Tiga lagu awal yang dibawakan bukan lagu yang benar-benar kencang, namun cukup untuk memanaskan suasana. Beranjak ke lagu selanjutnya yaitu Raise Your Hands.

Sesuai dengan judulnya, Bon Jovi mengajak massa untuk mengangkat tangan mereka setiap lirik “Raise your hands!” dinyanyikan. Dan penonton segera saja mengiyakan keinginan Jon dan memeriahkan lagu ini dengan lambaian tangan ke udara sepanjang lagu. Lagu ini memang bukan menjadi hits Bon Jovi secara general, namun sangat cocok untuk memeriahkan suasana dan memanaskan crowd saat konser. Pemanasan menjelang kalimat singkat “Shot through the heart, and you’re to blame. You give love…..” yang diteriakkan Jon untuk kemudian dibalas crowd dengan teriakan keras “A BAD NAME.” Yup, lagu dari masterpiece album Slippery When Wet (1986) pastinya diketahui oleh semua orang, dan kita semua menyanyikannya dengan lantang hingga lagu usai. Jon kali ini bernyanyi tanpa menggunakan gitar dan ia mulai beranjak kesana kemari, dan ke sisi kanan kiri panggung. Bila melihat dari konser mereka 20 tahun lalu, tentu banyak perbedaan dalam gaya Jon membawakan salah satu hits mereka ini. Tapi tetap saja, lagu ini tetap asik dan menjadi magnet koor penonton hingga selesai dibawakan. Saya sendiri mulai bermandikan keringat mengikuti alunan tembang ini. Dan penonton GBK pun banyak juga yang hapal sehingga membuat suasana menjadi riuh. Yang menjadi renungan adalah, ketika saya mulai mengingat akan ketidakhadiran Sambora di band ini lagi, dimana biasanya melodi dari lagu ini lahir dari sayatan gitar Sambora, namun kali ini Phil X cukup baik dalam menutup ketidakhadiran gitaris iconic itu dari band. Setelah penonton mengumandangkan bait terakhir, baru intro lagu selanjutnya dimainkan. Lantunan backing vocal “Na.. Na.. Nana.. Na.. Na.. Nana.. Na.. Na..” terdengar di sekeliling panggung, dan itu rupanya adalah intro Born To Be My Baby.

Saya yang mengenal lagu ini malah dari aransemen yang berbeda di album This Left Feels Right (2003). Album yang membuat saya terkesima betapa lagu-lagu Bon Jovi dapat ditampilkan begitu asiknya dengan nuansa lain, dalam versi akustik. Dan setelah mengetahui lagunya, saya mendengarkan versi aslinya dan ternyata lagu itu membakar semangat. Lagu cinta yang ini tidak menye-menye, malah terkesan percaya diri. Itulah yang menjadi ciri khas Bon Jovi, bukan? Dandanan metal, musik rock yang keras namun lirik hampir semua bertemakan cinta, bahkan kadang terkesan cheesy. Tak sedikit musisi rock lain yang menyindir “kelakuan” mereka, namun mereka memberikan bukti. Seperti judul album box set mereka, 100.000.000 Bon Jovi’s Fans Can’t Be Wrong. Itulah buktinya.

Selepas lagu itu, Jon berkata pada penonton bahwa lagu selanjutnya adalah lagu yang pertama kali mereka bawakan live saat konser. Lagu itu ada di album terbaru, Burning Bridges. Saya pikir akan mendapatkan single yang lebih dulu keluar, Saturday Night Gave Me Sunday Morning. Namun yang terjadi adalah single lain berjudul We Don’t Run. Lagu ini agak “bukan” Bon Jovi karena unsur rock nya tidak begitu kentara. Lagu ini pun sukses bikin penonton tidak bergerak (wajar karena mayoritas baru mendengarnya), namun ada juga yang ikut bernyanyi, saya asumsikan mereka sudah men-download (baik legal atau illegally). Setelah lagu baru itu dinyanyikan, Bon mungkin iba melihat penonton diam saja, Tico Torres langsung menggebuk drumnya untuk membawakan intro dari mega hit yang sangat terkenal di Asia dan Indonesia terutama, periode 2000-an. Saat itu MTV masih tayang di ANTV, dan anak nongkrong menjadi sebutan yang akrab untuk generasi muda ketika itu. Semua pasti hapal lagu ini. Yup, It’s My Life akhirnya berkumandang juga.

Lagu yang menurut saya pribadi mainstream, dan sejujurnya saya tidak antusias menunggu lagu itu dibawakan. Karena apa, ya simpel saja, bosan. Bahkan saya lebih menyukai It’s My Life versi piano di album This Left Feels Right. Namun bagi banyak orang, lagu itu sangat ditunggu kemunculannya. Bahkan ada yang nonton konser ini hanya modal pengetahuan It’s My Life saja. Tidak salah, tapi come on, Bon Jovi datang gak hanya nyanyi It’s My Life, atau Bed of Roses, atau Always. Malah lagu-lagu itu nyatanya adalah lagu yang jarang dibawakan mereka secara langsung di atas panggung. Judul pertama pengecualian, karena itu tipikal lagu yang bisa memeriahkan crowd. Ironisnya, saya bisa melihat Jon nampak tidak lagi seperti di video klipnya yang jejingkrakan kesana kemari ketika dia bernyanyi “I just wanna live when I’m alivee…”. Ia hanya berdiri memegangi miknya. Sekali lagi, usia berbicara.

Lagu-lagu Bon Jovi yang paling sering dibawakan ketika konser. (Setlist.fm)

Lagu-lagu Bon Jovi yang paling sering dibawakan ketika konser. (Setlist.fm)

Nah, selepas It’s My Life justru lagu selanjutnya yang saya nantikan. Because We Can dari album What About Now (2013) menjadi lagu yang santai namun tetap berirama mengasyikkan. Namun lagi-lagi saya sayangkan, yang mengapresiasi lagu ini hanya segelintir. Kanan kiri depan belakang saya asyik diam saja sembari (lagi-lagi) mengacungkan gadget mereka yang menutupi pandangan. Bahkan ada yang menggunakan tongsis (ini yang paling menyebalkan), rasa-rasanya kalau saya bawa senapan mau saya tembak saja kamera di tongsis itu, malah mungkin sama orangnya sekalian. Saya sih cuek saja bernyanyi sambil lompat-lompat meskipun pegel dan tidak seru (karena sendirian). Di depan saya malah foto-foto selfie sama pacarnya, ngadep belakang lagi, nutupin pandangan saja, kampret. Akhirnya saya selak aja. Rasakan.

Untungnya Jon tahu mungkin salah satu fan nya (saya) bete, makanya dia langsung mengambil gitar akustik dan menyanyikan salah satu bait yang sangat populer “Hey man, i’m alive i’m taking each day and night at a time..” dan sekejap saja audiens seisi GBK karaoke massal lagu itu. Well, salah satu part terbaik Bon Jovi Live in Jakarta adalah di lagu ini. Dan saya adalah tipe penonton yang menunggu momen dimana band dan penggemarnya sing along, sepanjang lagu dan setiap lirik. Saya pernah merasakan sensasi itu ketika Tender (Blur), dan Nothing Else Matters (Metallica), what a wonderful moment. Dan Someday I’ll Be Saturday Night masuk ke salah satunya. Jon entah disengaja atau tidak, menyanyikan lagu ini dengan suara rendah. Kalau disengaja berarti dia memberikan kesempatan kepada penonton untuk nyanyi, kalau tidak berarti memang suaranya sudah tidak bisa melengking lagi. Ah saya tidak peduli, yang penting semua puas bernyanyi hingga suara asli penyanyinya tidak terdengar.

Setelah koor bareng itu selesai, Jon kembali membawakan lagu di album What About Now berjudul sama. Ini termasuk salah satu lagu yang saya gemari juga, namun sayang nasibnya sama seperti Because We Can, sepi antusiasme. Jika kalian membuka YouTube dengan mengetik kata kunci judul lagu ini ditambah “Bon Jovi Live in Jakarta” maka kalian akan melihat video sang keyboardis David Bryan tersenyum sembari memainkan lagu ini, dengan penonton bagian depan yang rata-rata diam saja tanpa gerakan. Oke, skip.

Lagu selanjutnya, We Got It Goin On, Jon tampak lebih ekspresif dengan joget kesana kesini. Gayanya mungkin sekarang lebih lucu karena mirip orang senam, namun aksi panggung pentolan Bon Jovi itu bisa lebih memancing keriuhan penonton. Selesai lagu itu, intro In These Arms dibawakan. Alamak, lagu yang dulu menjadi bahan saya genjrang-genjreng gitar dan mencari liriknya dengan tape recorder dan kaset kakak saya, membuat saya tak kuasa menyanyikan bait demi bait hingga suara tambah habis. Inilah hebatnya Bon Jovi, lagu-lagu romantis dan agak “cengeng” seperti ini bisa dibungkus menjadi lagu ballad yang digemari. One of the best band’s song. Tidak lama lampu panggung gelap, dan Jon berkata “Any cowboys out here..??” dan kami semua sadar bahwa lagu selanjutnya adalah Wanted Dead Or Alive.

Lagu yang menjadi anthem Bon Jovi di setiap konser ini, dengan intro khas nya memancing histeria penonton, dan Jon dengan baik hati memberikan part awal lagu ini hingga reffrain untuk kami nyanyikan bersama. Amazing feeling tetapi belum bisa mengalahkan performa Saturday Night. Setelah lelah saya (kami) bernyanyi bersama, lagu selanjutnya I’ll Sleep When I’m Dead menjadi agak antiklimaks karena selain lagu ini kurang akrab di telinga, juga energi kami sudah agak habis di masa-masa pertengahan konser. Namun bukan Bon Jovi namanya kalau tidak punya lagu-lagu hits lain yang bisa kembali re-charge semangat penonton. Well, bagaimana kalau kita diberikan Keep The Faith? Hits yang dulu saya ingat selagi kecil, saat stasiun tivi baru 1-2 channel selain TVRI, sering nongol video klipnya di acara-acara musik. Keep The Faith pun bisa memeriahkan suasana karena di akhir lagu masing-masing personil menunjukkan keahlian mereka dengan memainkan alat musiknya secara solo. Hal ini mengundang tepuk tangan meriah penonton sebelum lagu favorit saya dibawakan selanjutnya.

Your love is like bad medicine! Begitu bunyi lirik dari lagu selanjutnya. Lagu yang menjadi simbol glam rock saat jayanya dan juga menjadi icon lagu-lagu Bon Jovi. Lagu cinta romantis parah yang dibalut rock kental ini juga menjadi salah satu penampilan terbaik mereka selama konser. Saya merasakan atmosfir luar biasa di kerumunan penonton ketika menyanyikan bersama lagu ini. Lagu ini menjadi “penutup” konser karena setelah selesai, Jon langsung berpamitan menyudahi konser. Eh, tunggu dulu. Apakah mereka menyerah semudah itu? Dimanakah Always, Bed Of Roses, dan lagu-lagu lain yang dinanti-nantikan penonton? Ternyata seperti biasa, mereka menghilang untuk memancing encore.

Setelah Jon dan teman-temannya menghilang di balik panggung, suasana gelap dan teriakan “KAMI MAU LAGI, KAMI MAU LAGI” berkumandang, kita semua tahu itu hanya trik panitia dan upaya memancing kembali antusiasme penonton. Jon dan band nya pasti akan kembali, dan yang menjadi pertanyaan, lagu apakah yang akan dibawakan? Setelah intro lagu pertama dimainkan oleh keyboardis David Bryan, seisi GBK sontak bersorak gembira bahwa lagu pertama adalah Runaway. Kembali ke jaman dahulu, terus terang saya malah baru mendengarkan dengan seksama Runaway di masa-masa persiapan sebelum konser. Runaway ternyata salah satu lagu yang populer di angkatan lama fans Bon Jovi. Agak mengherankan sekaligus disayangkan, bahwa jika melihat bocoran foto setlist yang tersebar di medsos, pilihan lagu pertama encore sebenarnya ada 3-4 pilihan, termasuk lagu yang paling ditunggu oleh rakyat, yaitu Always. Hal ini semakin menegaskan sekali lagi bahwa Always bukanlah lagu panggung mereka, mungkin hanya cukup diabadikan di album rekaman. Setelah Runaway, Bon Jovi menurut saya menempatkan 1 lagu yang tepat untuk dibawakan menjelang akhir begini: Have A Nice Day.

Lagu yang agak terlupakan, namun menurut saya lebih powerful dibanding It’s My Life. Lagu ini sanggup membawa adrenalin saya kembali naik, dan dengan cahaya panggung warna merah mendominasi, mungkin mengingatkan kita kembali pada cover album Have A Nice Day (2005) yang bergambar coretan wajah bernuansa merah. Have A Nice Day cukup mendapat sambutan meriah penonton sebelum lagu pamungkas ini dibawakan.

Ada beberapa konser dengan ending yang luar biasa indahnya, dengan menampilkan lagu yang paling populer. Saya ambil contoh ketika Shine dibawakan Collective Soul (2013).

Membawakan gitar akustik sembari menyanyikan bait pertama, Jon tampak tenang dan kembali memberikan part reffrain kepada penonton. Sekali lagi formulanya sama, antara sudah tidak kuat nada tinggi atau test the water. Untuk kali ini saya lebih memilih yang kedua. Karena setelah mendengar penonton hapal bener reff lagu tersebut, Phil X mulai membunyikan gitarnya dan memberikan efek khas Livin On A Prayer pada intro. Memang bukan milik Sambora, tapi jika kita memejamkan mata mendengarkan suara gitarnya saja, sulit membedakan ini Sambora atau bukan. Artinya, Phil tried the best, and he’s awesome. Dan lagu penutup ini, adalah yang terbaik dari semua lagu yang dibawakan Bon Jovi sepanjang konser. Lagu penutup yang bagus, lagu pamungkas yang paripurna. Bagaimana Jon membawakan dengan 2 versi, akustik dan full band, benar-benar saved the whole concert dari segala kekurangan dan minusnya. Tidak ada yang bisa saya ceritakan lagi dari penampilan Livin On A Prayer ini. Hanya 1 minusnya, itu juga kalau mau dicari, ya apalagi kalau kurang Sambora.

bimo stand

Akhirnya konser ditutup setelah 2 jam mereka bermain, dengan 20 lagu dibawakan. Salut untuk Tico Torres, sang drummer. Meskipun telah berusia senja, ia masih mampu menampilkan pertunjukan yang bagus. Kredit juga untuk Phil X sebagai gitaris (entah resmi atau additional) lewat permainan gitarnya yang ciamik. David Bryan seperti biasa cool dan menawan. Jon, dia adalah sumber kharisma band ini. Dan selamat untuk saya yang bela-belain nonton meskipun sendirian, karena belum tentu 20 tahun lagi mereka masih bisa main band apalagi mau datang ke Jakarta, bukan?

Advertisements
Tagged , , , ,

5 Bon Jovi’s songs i want to hear at the concert.

bon-jovi-live-in-Singapore

Bon Jovi, salah satu band hard rock legendaris di dunia, bakal datang ke Indonesia. Dan sebagai penggemar musik juga penikmat konser, adalah sunah muakad hukumnya bagi saya untuk hadir dan berjingkrak-jingkrak bersama Jon, Tico Torres dan David Bryan. Mereka adalah salah satu band terbesar di planet ini, menjual puluhan juta kopi album dan telah melakukan konser di hampir seluruh dunia, dengan belasan hits yang akrab di telinga. Meski tanpa Richie Sambora, Bon Jovi tetap menjadi kesempatan once in a lifetime untuk ditonton.

Dan, terlepas dari lagu-lagu mainstream macam Always, It’s My Life ataupun Livin’ On A Prayer, berikut adalah 5 lagu yang saya pribadi harap akan mereka bawakan di atas panggung GBK.

5. Wanted Dead Or Alive.

Sudah lama lagu ini menjadi lagu kebangsaan atau national anthem dari Bon Jovi. Dengan intro gitar yang menjadi ciri khas, saya dulu suka tertukar antara lagu ini dengan Blaze Of Glory. Lagu ini memang salah satu hits dari Bon Jovi dan hampir pasti 99% dibawakan saat nanti di Jakarta. Dan saya lebih menunggu lagu ini berkumandang dibanding hits-hits mainstream mereka lainnya, karena lagu ini menjadi salah satu yang ditunggu untuk sing along.

4. In These Arms.

Saya ingat dahulu sewaktu kecil dan baru-barunya mengenal musik lewat kaset-kaset kakak saya, saya ingin sekali mengetahui lirik lagu ini dan saking penasarannya (karena di sampul album Cross Road tidak ada liriknya), dan sama seperti kebanyakan anak 90’an lain, saya mulai melakukan pencarian manual dengan cara menyetel kaset di tape rekorder dan melakukan stop play stop play setiap Jon menyanyikan 1 bait liriknya haha. Jlep, ctak, jlep, ctak, begitulah bunyi kaset yang saya pencat-pencet di tape rekorder besar dengan tombol yang ditekan ke bawah, hihi. Karena alasan itu, menyanyikan lagu ini secara live dengan penyanyi aslinya akan menjadi pengalaman yang seru.

3. Love’s The Only Rule.

Lagu yang ada di album The Circle (2009) yang merupakan album ke-11 mereka ini menjadi salah satu lagu (yang paling menjadi) favorit saya. Lagu ini bertempo cepat dengan nuansa enerjik dan menampilkan permainan gitar dengan bunyi khas dari Sambora (dahulu masih ada di band). Lagu ini bila saya teliti menjadi lagu penutup Bon Jovi ketika tampil di beberapa konser. Mengusung tema cinta universal, Love’s The Only Rule memang pas bila dijadikan encore dan lagu pamungkas. Memang ada beberapa pilihan lagu penutup konser Bon Jovi, dan lagu ini menjadi salah satu yang ditunggu.

2. That’s What The Water Made Me.

Album-album Bon Jovi akhir-akhir ini selalu disisipkan lagu yang berpotensi menjadi single berikutnya dimana lagu tersebut se-enerjik single pertama. Dan ini pula yang terjadi di album What About Now (2013). Setelah menelurkan Because We Can, ada 1 lagu yang patut ditunggu live performance nya. Yup, lagu ini secara mengejutkan mampu menarik perhatian saya, dan saya sangat menunggu Jon menyanyikan ini di GBK bulan depan. Dan bila saya mengamati penampilan Bon Jovi di beberapa konser belakangan (lewat YouTube), lagu ini sering dibawakan di awal-awal konser, bahkan sebagai opening song, dan mereka membawakannya dengan kepercayaan diri yang tinggi. Mendengarkan lagu ini secara live sangat saya nantikan.

1. Because We Can.

Lagu ini menjadi andalan di album paling terakhir yang mereka keluarkan dengan titel What About Now. Album yang dikeluarkan tahun 2013 ini memang menjadi salah satu album yang (mungkin) menyumbangkan lagu paling banyak di konser. Mungkin sudah 2 tahun umurnya, namun album ini tetap menjadi andalan Bon Jovi secara mereka belum mengeluarkan album baru. Oh well tahun ini mereka kembali mengeluarkan album dengan judul Burning Bridges. Because We Can menjadi single yang atraktif, dinamis dan penuh semangat. Cocok untuk menggoyang massa saat Bon Jovi tampil live. Sama seperti Wanted Dead Or Alive, tembang ini hampir pasti dibawakan band asal New Jersey itu. Dengan melodi sederhana dan mudah dinyanyikan semua orang, saya juga sangat menantikan sing along lagu ini.

 

Ada yang bilang bahwa penampilan Jon dan kawan-kawan yang kedua kalinya di Indonesia nanti akan mengecewakan. Mereka beralasan bahwa energi Jon sudah tidak seperti dulu lagi, sehingga mereka akan membawakan lagu-lagu yang bertempo lambat, dan mungkin karena absennya Sambora. Well sebenarnya masuk akal juga. Namun saya sebagai penggemar musik secara umum mencoba melihat dari sisi objektif.

Semua musisi memang menua, dan itu menjadi hukum alam yang tak bisa dihindari. Justru menjadi suatu pertanyaan dan tantangan bagi band sekaliber Bon Jovi apakah mereka mampu menggelar pertunjukan yang bagus meskipun telah dimakan usia. Saya mengambil contoh Metallica yang masih tampil trengginas di usia senja mereka. Untuk Sambora, memang menjadi suatu kerugian ketika ia tidak hadir. Namun posisi gitar masih bisa digantikan meskipun memang jangan diharapkan sama persis dengan permainan Sambora. Intinya, semua bisa dipelajari.

Jadi kesimpulannya, sampai jumpa di GBK 11 September nanti.

Tagged , ,

[Flashback] – MY ROCKIN WEEKEND! (Java Rockin’Land 2013) @ Carnaval Beach, Ancol 22 & 23 June 2013.

Javarockingland_2013

Attention: Tulisan ini bakal (sangat) panjang, dan review ini merupakan flashback dari event yang terjadi sekitar 2 tahun lalu (catatan: JRL 2014 ditiadakan).

Well, 2 hari weekend kemarin, saya baru saja merasakan salah satu konser paling berkesan dalam hidup saya. Bukan karena konser tersebut adalah Java Rockin’Land, karena memang, JRL adalah konser musik yang rutin saya sambangi saban tahun. Mulai dari 2009, dimana pada saat itu MR. BIG yang tampil, kemudian tahun 2010, ketika itu The Smashing Pumpkins dan Stereophonics yang manggung. Tahun 2011 dimana Thirty Seconds To Mars berhasil mengguncang Jakarta bersama The Cranberries. Sayangnya, di tahun 2012 JRL urung diadakan. Dan di tahun 2013 ini, kembali hadir.

Kenapa berkesan? Karena saya hanya membayar kurang dari 100 ribu rupiah untuk menikmati penampilan band legendaris Collective Soul dan band yang hits di era 90-an Sugar Ray, dan banyak lagi. Terutama, band Indonesia yang “kumpul” dan mereka semua adalah favorit saya dan saya mengoleksi kasetnya dulu. Sebut saja GIGI, /rif, PAS Band, bahkan ada Padi KW Super (haha) dalam bentuk Musikimia. Itulah yang membuat saya tertarik! Sebentar.. 100 ribu kurang itu kalau bisa dinominalkan dengan pasti yaitu hanya sebesar 82.500 rupiah saja, hehe.

Kenapa bisa segitu? Cerita berawal di suatu malam dimana saya mendapat pengumuman di Twitter, bahwa JRL 2013 akan segera diadakan, dan salah satu performernya adalah Collective Soul! Wow, saya ingat dulu di kamar kakak saya, saya suka banget nyetel album Collective Soul yang 7 Year Itch. Dan kaset itu adalah salah satu kaset favorit saya, dan saya berkesempatan see them live. Nah besoknya, saya melihat announcement di Twitter yang menyatakan tiket JRL sudah bisa dibeli. Dan ketika saya lihat, early bird awal (banget) hanya seharga 75 ribu rupiah! Haha.. Ditotal total dengan pajak hanya menjadi 82.500 dan tanpa tedeng aling aling ya saya pesan saja.

Day 1 (22 June).

Singkat ceritaa, saya sudah berada di perjalanan datang bersama teman saya. Dan menurut jadwal, di hari pertama (tanggal 22) akan perform Collective Soul as main artist, dan Sixpence None The Richer. Juga untuk band Indo, nama seperti Cherry Bombshell, band Indie jaman dulu yang (ternyata) belum bubar yang menjadi incaran saya. Namun sayang sekali, Cherry Bombshell tidak bisa saya saksikan karena, ya saya baru masuk venue pasca magrib, hehe.

Jadi saya dan teman saya sudah sampai ketika sore hari, namun karena makan dulu biar ga kelaperan di dalem dan juga magriban dulu, jadi pasca sholat di Ancol Mall sebelah Carnaval Beach, kami baru masuk. Dan ketika sampai dalam, Edane sedang perform. Kesan pertama yang tampak di JRL kali ini adalah, venue agak sedikit lebih sempit dari tahun-tahun sebelumnya (apa karena ada jeda setahun mungkin ya), dan audiens tidak terlalu banyak (oke mungkin masih sore). Namun, saya tetap berharap JRL kali ini dapat memberikan kepuasan tersendiri.

Oke, Edane tampil dengan vokalis baru yang saya tak tahu namanya, dan seperti biasa Eet Sjahranie menjadi motor dari band tersebut. Lagu-lagu band tersebut yang saya tak tahu judul-judulnya sempat membuat saya menghentak-hentakkan kaki, sebelum saya tertarik ke venue lain yang kebetulan dekat dengan stand beverages. Oke, disana sedang tampil Morfem.

Morfem yang kebetulan drummer nya adalah kakak dari teman saya seperti biasa tampil menghibur. Apalagi kalo bukan sang vokalis, Jimi Multhazam yang membuat penampilan band tersebut lucu dan penuh banyolan. Jimi yang eks pentolan The Upstairs sangat interaktif dengan penonton, dengan gaya bernyanyi nya yang pecicilan namun tetap dengan kualitas vokal prima, mampu membuat semua orang yang menonton penampilan Morfem menjadi betah. Meskipun agak asing dengan lagu-lagu mereka, namun setelah 2 kali menonton penampilannya (pertama kali ketika konser Blur), Morfem cukup menarik perhatian saya dan aksi panggung mereka pantas diacungi jempol.

Setelah Morfem usai, saya dan teman melihat buku panduan JRL untuk melihat jadwal tampil selanjutnya. Dan guess who, SORE yang selanjutnya siap sedia untuk ditonton. Wow, segera saya tertarik untuk melihat performance mereka, karena Sore adalah salah satu band indie yang bagus dan berkualitas. Dan tentunya, selama ini saya belum pernah menonton performance mereka. Hal ini membuat saya menjadi semakin penasaran dan tak tertahankan untuk menonton Sore (lebay). Akhirnya saya dan teman menuju Dome Stage, yaitu panggung indoor di belakang main stage untuk menonton performance Sore. Dome Stage ini dulunya ada tribun duduk tempat penonton menonton dari atas, namun sekarang tangga untuk akses ke lantai tribun telah ditutup, dan akhirnya kami berkerumun di depan panggung hall yang jaraknya lebih dekat dari stage biasa diluar.

Dome Stage ini memang sepertinya khusus untuk musik rock yang agak lembut dan tidak menimbulkan kebisingan yang terlalu. Tapi ga juga ding, pas JRL tahun berapa itu ada Roxx musiknya kenceng banget juga main di Dome haha. Jadi ya kesimpulan saya itu ga bener lah ya. Singkat kata, Sore tampil dengan ciamik dan benar-benar membawa penonton ke dimensi lain pertunjukan musik rock (halah).. Dan yang saya baru tahu adalah, Sore semua personilnya itu kidal semua ya. Dan ada 3 additional playernya juga, ya ya. Maklum saya baru liat performance nya. Dan kesimpulan setelah saya melihat performance nya adalah, ciamik! Mereka berhasil membawakan lagu-lagu mereka yang pastinya tidak mainstream dengan kualitas dan skill terbaik, dan pastinya membuat penonton riuh dan bernyanyi bersama. Mungkin disinilah kekuatan Sore, memberikan warna musik yang berbeda dari musik kebanyakan, namun tetap pada kualitas yang dimiliki. Dan hal paling esensial yang saya tangkap dari kehadiran Sore di blantika musik (indie) Indonesia adalah, kemampuan mereka untuk menciptakan musik yang memiliki nuansa beragam, dan bermacam-macam hingga terkadang kita mengira bahwa itu bukan dibawakan oleh Sore. Keren!

Setelah Sore selesai membawakan lagu terakhir, saya keluar untuk mencoba melihat yang terjadi di stage utama di depan. Oh, ternyata ada sebuah band lawas yang bernama Sucidal Tendencies bersiap untuk perform. Well, sejujurnya saya tak terlalu mengenal band tersebut. Band lama itu sepertinya legend dan punya nama di blantika musik internasional. Itu bisa terlihat dari animo penonton yang membanjiri stage utama, padahal personil band tersebut belum muncul di panggung. Setelah muncul penonton mulai rusuh mengiringi jenis musik band asal California tersebut. Dan jenis musiknya, harus saya akui bahwa jenis musik crossover metal tersebut (begitulah sebutannya) ga masuk di telinga saya haha. Saya penggemar semua jenis musik, tapi jenis musik yang seperti teriak-teriak itu saya sepertinya ga bisa menikmati, hehe. Mungkin Slipknot dengan teriak-teriaknya masih bisa saya ikuti.. Tapi yang ini meskipun agak mirip Slipknot kok ga masuk ya. Apa mungkin karena usia saya yang telah menua *halah*

Pokoknya Suicidal Tendencies membuat warga JRL 2013 bersuka cita. Mereka menampilkan aksi panggung yang dahsyat yaitu mengajak para penonton untuk naik ke atas panggung. Bukan cuma 1, 2 atau 3 orang, melainkan banyak! Ya, dan para fans yang berhasil menaiki stage langsung bernyanyi dan berpesta bersama vokalis Mike Muir yang berciri khas memakai bandana. Saya ga tahu lagi sisa ceritanya seperti apa, karena saya sudah bergegas masuk ke Dome Stage lagi untuk menonton penampilan sebuah band yang menurut saya berkelas untuk ukuran band Indonesia, yaitu Efek Rumah Kaca. Yap, ERK akan manggung dan saya yang belum pernah melihat langsung performance mereka, berniat sekali untuk menyaksikannya secara langsung. Dan tentu saja, ERK menampilkan kualitas musik yang mumpuni dan berhasil menyedot massa JRL yang cukup banyak. Sebelum tampil penonton ternyata sudah memenuhi hall, ada yang sudah berdiri di bibir panggung dan banyak pula yang masih duduk di lantai. Dan ketika MC mulai announce siapa band yang akan tampil berikutnya, penonton segera berdiri dan menghampiri panggung, dan ERK muncul membawakan lagu-lagu yang cukup akrab terdengar di telinga. Dengan sayatan gitar melengking dan tata cahaya yang apik membuat lagu-lagu ERK yang bernuansa gloomy dan gelap menjadi lebih terasa auranya. Cholil sang vokalis yang tampil dengan menggunakan kemeja tampak menghayati sekali dalam menyanyikan lirik-lirik lagu mereka yang tak jarang diikuti oleh koor penonton. Sayang sekali saya tak sampai selesai menyaksikan ERK mengguncang Ancol, dan tak sampai pula berdendang bersama menyanyikan Kenakalan Remaja Di Era Informatika dan lagu-lagu lain, karena menurut jadwal dan jam di tangan saya, Sixpence None The Richer akan segera tampil.

Well, saya bukan penggemar Sixpence. Dan telah lama band tersebut vakum sehingga saya pun tidak mengetahui lagu-lagu terbaru dan perkembangan musik mereka. Namun sebagai penggemar musik dan pengamat musik amatiran *gaya*, saya ingin melihat penampilan band internasional yang dahulu ngehits abis dengan Kiss Me nya tersebut. Kiss Me itu jaya-jaya nya banget di jaman SMA saya. Dawson’s Creek adalah serial yang pertama kali mempopulerkan lagu tersebut. Belum lagi ketika Freddie Prinze Jr. dengan filmnya She’s All That menggunakan lagu tersebut sebagai soundtrack nya. Dan saya mengharapkan klimaks ketika Sixpence membawakan Kiss Me, atau bahkan There She Goes, atau Don’t Dream It’s Over. Atau malahan saya berharap Leigh Nash sang vokalis membawakan lagu dari single solo album nya yang paling saya suka, I Need To Be Next To You, kalo ga salah dari soundtrack film juga, yaitu Bounce. Ah, saya masih hapal lho ini ga ngeliat Wiki, haha. Kenapa? Karena itu semua muncul di tahun-tahun keemasan saya dulu ketika sekolah, hehe.

Jadi pada intinya, Sixpence mulai tampil dan yang saya masih bingung, kok band macam Sixpence ini diundang ke JRL bisa ya. I mean, come on, memang sih mereka kalo kita lihat di beberapa sumber, genre nya memang rock, pop rock. Namun, saya rasa mereka bukanlah band yang tepat untuk diundang ke JRL. Tapi biarlah, mungkin panpel punya penilaian sendiri. Kita langsung bahas performance nya saja.

Oke, Leigh Nash beberapa kali mengeluh betapa panasnya cuaca Jakarta, dan bagaimana mereka masih kelelahan karena jetlag dan baru sampai beberapa jam sebelum mentas. Dan Nash beralasan bahwa karena alasan itulah mereka tampil agak di bawah standar atau biasa-biasa saja di JRL malam itu. Nash yang tampak sedang hamil membawakan lagu-lagu bertempo pelan agak sedang, dan tentunya penonton yang kebanyakan awam dengan lagu-lagu Sixpence, kecuali Kiss Me, sekali lagi, hanya bisa mengikuti sambil menggoyang-goyangkan kaki, atau mengangkat talenan dan handphone mereka masing-masing untuk memoto dan merekam. Nash yang menggunakan baju dress hijau tampak masih memiliki suara khas, meskipun sound tidak terlalu bagus terdengar. Dan Kiss Me pun mereka bawakan di lagu ketiga, hehe. Saya pikir kan lagu jagoan ditaroh di terakhir. Mungkin Sixpence buru-buru mengeluarkan lagu terkenal mereka karena melihat animo penonton yang adem ayem saja, dan kalo ga dikeluarin lagu yang mereka tahu, akan bubar lama-lama, hehe.

Radio, dari album baru mereka yang saya cukup tahu juga dibawakan. Dan There She Goes ditempatkan di urutan agak belakangan. Well, saya agak menyayangkan penampilan Sixpence yang minim apresiasi. Saya pikir kalau dibuat parameter penilaian, Sixpence yang tampil di JRL 2013 bisa dibilang agak mengalami kegagalan. Hingga mereka menyanyikan lagu terakhir pun, saya sudah berada di stage sebelah. Menantikan Ed Rolland dan Collective Soul. Dan saya hanya bisa melihat salam perpisahan Nash dan kawan-kawan dari layar besar sebelah panggung. Tak ada Don’t Dream It’s Over atau Need To Be Next To You yang dibawakan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Oke tak apa, karena Collective Soul sebagai pemuncak JRL 2013 hari pertama akan bersiap tampil. Meskipun tidak sepenuh orang mengantri penampilan artis di JRL-JRL sebelumnya, namun band jadul yang album the best of nya saya gemari hingga kini tersebut ternyata tampil dengan kekuatan penuh dengan hits-hits nya yang berkekuatan penuh pula (kecuali Perfect Day) dan overall penampilan mereka cadas! Pertama kali Ed muncul dengan menggunakan jubah berwarna putih, so classy dan elegan. Menggebrak dengan hits pembuka, yaitu soundtrack dari Twilight, Tremble For My Beloved, Collective Soul ditemani tata lampu yang megah dan membuat pertunjukan semakin gemerlap. Ed yang semakin menua tidak kelihatan lelah dalam menjelajahi panggung dan meskipun lengkingan suaranya agak kurang seperti dulu, namun karakter suara dalam dan berat tak pernah hilang.

Beberapa saat penonton masih terdiam, entah takjub atau tak tahu lagu atau lupa lirik dari lagu-lagu yang dibawakan, sementara lagu-lagu di album the best 7 Year Itch mulai dihadirkan satu persatu membuat saya bergoyang sendiri, dan bule di belakang saya juga sepertinya mengikuti dengan baik. Memang bule memiliki sense of music lebih baik sedikit dari orang Indonesia yang kebanyakan mementingkan dokumentasi dan narsisme, hehe.

Kemudian berturut-turut Heavy, Listen, December dan Gel dibawakan dan sontak gemuruh mewarnai tanah Pantai Carnaval malam itu. December sebagai salah satu lagu galau tapi gagah milik Collective Soul kemudian sempat menguras emosi para penonton. Setelah koor December, kemudian lagu yang sedikit menghentak, Gel, dibawakan. Gel sempat membuat saya dan audience yang lain lompat-lompat dan agak mengeluarkan peluh sedikit (buat pemanasan, hehe). Dan setelah Gel, Ed tampaknya ingin sedikit slow down dengan She Said. Dibawakan dengan sedikit berakustik ria, lagu ballad ini masih memiliki power dan membuat saya ikut bernyanyi, meskipun agak sedikit di twist di irama reffrain oleh Ed dan kalo yang ga biasa memandang agak sedikit aneh jadi iramanya, namun tetap asik didengar dan dinikmati. Setelahnya, tempo dinaikkan kembali dengan Why Pt. 2. Lagu yang entah kenapa diberi titel “bagian kedua” ini memang asik buat lompat-lompat. Dengan irama heavy rock yang kencang dengan distorsi gitar di intro yang menjadi ciri khasnya, lagu ini sempat mendapat apresiasi cukup meriah dari penonton bagian depan yang histeris dan lompat-lompat seperti layaknya di Woodstock. Why Pt. 2 sukses menjadi lagu yang menghebohkan untuk kemudian disusul dengan Where The River Flows.

Dengan nuansa merah dari tata lampu dan lengkingan vokal Ed yang masih bertaji, lagu ini cukup membuat Pantai Carnaval gerah. Tak berapa lama setelah dibuat ‘panas’, lagu selanjutnya sangat menyejukkan, apalagi kalau bukan Compliments, disusul dengan Needs. Setelah lagu selanjutnya, Hollywood dan Better Now dibawakan, tibalah giliran Run. Soundtrack Varsity Blues tersebut dibawakan dengan versi akustik yang membuat seluruh penonton bernyanyi. Woy, ini lagu jaman gw SMP haha. Setelah puas bernyanyi bersama Run, setlist beralih ke lagu selanjutnya, dan ini adalah lagu favorit saya juga, Precious Declaration! Haha.. Lagu yang menurut saya menjadi lagu paling enerjik dari Collective Soul ini dibawakan dengan apik dan tata lampu yang bagus. Hal ini membuat Ed terlihat bersemangat sekali dan penonton pun mulai terbakar kembali semangatnya.

Setelah itu, The World I Know dibawakan, dan selesailah sudah. Collective Soul menghilang ke backstage, seakan semuanya usai. Namun, it’s part of the show dan kita tahu itu adalah pancingan agar semua penonton berteriak encore. Dan ketika encore encore sudah mulai dikumandangkan, lagu yang hadir sebagai pembuka adalah Counting The Days, untuk kemudian ditutup dengan, well apalagi kalau bukan, Shine.

Shine yang menjadi lagu penutup benar-benar menjadi klimaks. Saya sendiri sebagai “pelanggan” setia Java Rockin’land dari tahun 2009 baru kali ini merasakan atmosfir encore dengan lagu penutup semacam Shine. Lagu yang menjadi icon lagu rock di tahun 90-an tersebut benar-benar membius seluruh penonton yang hadir di malam itu. Ed pun nampak santai membawakan lagu tersebut dengan memainkan intro nya dengan gitar akustik terlebih dahulu, untuk kemudian disambut gerungan rhythm dan hentakan drum. Intro yang familiar itu pun akhirnya terdengar juga hingga ke langit Jakarta, dan kami semua bernyanyi dan berteriak “YEAH!” bersama-sama. Tak lupa dengan lirik “Heaven let your light shine down” yang menjadi hymne kebangsaan musik rock di generasi nya. Konser yang menarik, baik dan enerjik dari Collective Soul. Setelahnya mereka berpamitan dan kami semua, well saya tepatnya, pulang dengan perasaan puas dan telinga agak penging haha.. Karena posisi saya ketika nonton tepat berada di sebelah speaker besar panggung, hehe. Saya pulang, tidur dan bersiap untuk JRL hari kedua.

Day 2 (23 June).

Hari kedua, diwarnai dengan beberapa performance dari band Indonesia yang kebetulan saya suka dan memang saya tunggu penampilannya. Meskipun band Indonesia kata orang kebanyakan adalah “biasa”, tapi bagi saya menonton penampilan langsung mereka menjadi kepuasan tersendiri yang tidak ternilai. Memang cukup hanya 2 sampai 3 kali saya menonton mereka tampil, sekedar untuk merasakan aura performance mereka dan mendapat values “oh saya sudah pernah liat penampilan live mereka”, namun pada festival semacam ini dimana kita telah membayar untuk melihat mereka tampil, setiap performance yang ada wajib dinikmati.

Hari telah sore ketika saya datang dan yang sedang berada di atas panggung adalah Pas Band. Seperti biasa, band yang telah memiliki nama besar dan basis massa sendiri ini atraktif mengguncang panggung dibawah sinar matahari (masih) sore yang cerah. Yuki sebagai vokalis yang dikenal komunikatif sangat menyenangkan, membuat jarak Pas Band dengan penonton menjadi lebih dekat. Lagu-lagu mereka pun dibawakan dengan apik. Kesepian Kita menjadi lagu yang membuat semua penonton bernyanyi. Dan lagu andalan saya dikala mereka manggung, Jengah, menjadi momen puncak kepuasan saya terhadap grub band asal Kota Kembang itu. Pas tampil sebagai pembuka yang enerjik dan cukup memanaskan suasana, hingga akhirnya band yang saya tunggu-tunggu penampilannya hari itu bersiap tampil di panggung sebelah, yang ukurannya lebih besar.

gigi

Armand Maulana dan kawan-kawan, atau yang lebih dikenal dengan GIGI memang seyogyanya tampil sore menjelang maghrib di stage utama tempat artis-artis prime time tampil nanti malam. Well, meskipun telah beberapa kali melihat GIGI live, dan tentunya sudah tidak asing lagi dengan penampilan mereka, namun penampilan 4 orang yang menjadi band favorit saya itu tetap sayang untuk dilewatkan. Kekuatan utama GIGI yang tidak membuat orang bosan adalah aksi panggung Armand yang sama sekali tidak monoton. Gaya komunikasi Armand pun menyenangkan, dan menurut saya menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia. Skill para pemainnya juga mumpuni, dan yang terpenting adalah GIGI selalu membawakan lagu-lagu mereka dengan aransemen berbeda setiap manggungnya. Masih ingat dalam ingatan ketika mereka menjadi band jazz saat tampil di Java Jazz beberapa tahun silam. Dan perform di festival rock macam JRL mungkin seakan membawa kembali mereka ke habitatnya. Armand, Dewa Budjana, Thomas dan Hendy masing-masing memiliki skill di atas rata-rata, dan itu yang membuat GIGI selalu dinanti penggemarnya, termasuk saya.

Hampir 1 jam lamanya sing along, menikmati “konser mini” GIGI. Tidak ada yang berubah, set list berisi lagu-lagu yang itu-itu saja. Diantara sekian banyak lagu GIGI yang saya tahu, jarang saya menemukan lagu-lagu “asing” yang biasanya hanya terdengar dari kaset-kaset GIGI yang saya koleksi. Memang berbeda ketika kita memilih lagu-lagu yang akan dibawakan secara live, tentunya harus lebih menjual. Bila kita ingin membawakan lagu-lagu baru pun yang orang belum banyak tahu, itu hanya terjadi biasanya di konser promo album. Intiya, GIGI tampil hingga maghrib tiba. Armand seperti biasa, rocks!

Setelah selesai sholat maghrib, saya kembali memasuki arena dan memburu band yang ingin saya lihat selanjutnya. Jadwal menunjukkan bahwa saat itu sedang berada di salah satu stage, band yang juga menjadi kesukaan saya, /rif. Ketika saya sampai, Andy dan rekan-rekannya tengah membawakan suatu lagu. Seperti biasa, performa /rif mencengangkan dan menjadi salah satu yang terbaik. Yang saya suka dari /rif adalah pemilihan kostum mereka setiap kali live. Dan bicara skill juga tidak salah tempat. Magi sang drummer masih menjadi salah satu yang teratraktif, dan Jikun sebagai “twenk-twenker” (saya ingat istilah itu didapat dalam lembar kaset album /rif yang bertitel Nikmati Aja), kerap mengingatkan saya pada sosok Slash (secara dandanan, minimal).

Meskipun /rif telah beberapa kali mengganti personil mereka, tidak ada lagi Iwan sang bassis yang tambun dan kocak, namun mereka tidak kehilangan tajinya. Denny yang dulu lebih kalem telah tiada dan penggantinya, Ovy, menurut saya sungguh cadas. Ovy menjadi sosok yang menyeramkan di atas panggung dengan dandanannya yang mirip dengan personil Marilyn Manson atau Guns N’ Roses era masa kini. Dan Andy sebagai frontman juga makin matang kualitas suaranya. /rif, sudah tidak ada sanggahan lagi mengenai bagaimana mereka mentransfer lagu-lagu yang dibawakan ke telinga dan visual penonton.

Kalau tidak salah saat /rif manggung juga hadir Gubernur DKI Jakarta saat itu, Joko Widodo. Jokowi datang menonton dan saya tahunya ketika Andy berteriak “Selamat datang Pak Gubernur”. Oke, sekedar selingan, sudah 2 kali saya menonton konser bersama Jokowi. Yang pertama JRL ini dan yang kedua saat Metallica hadir di GBK. Dan rasanya? Biasa saja sih, wong Pak Jokowi juga jauh dari tempat saya berdiri, hehe. Dulu sempat punya pikiran ketika ada seorang Gubernur yang gemar menonton musik rock, apakah suatu saat bisa sebelahan di kerumunan crowd? Well, agak naif juga mengingat pasti Gubernur nonton pun dikelilingi ajudannya. Oke, skip andai-andainya. Yang jelas penampilan /rif ketika itu seperti biasa, awesome. Dan menariknya, /rif hadir dengan setlist yang agak tidak umum seperti biasanya. Beberapa lagu cover dibawakan mereka, bukan hanya hits-hits standar. Hal ini menjadi menarik karena sebagai penonton, kami jadi tidak bosan. Tapi memang beberapa lagu andalan dibawakan, seperti Radja, dan Loe Toe Ye pasti hadir sebagai penutup, dan lagu favorit saya, Jeni!

Sekitar 1 jam waktu yang diberikan bagi barudak-barudak Bandung itu untuk mengguncang stage dan mereka seperti biasa melakukannya dengan “berkelas”. Penampilan apik dari Andy dan kawan-kawan memang seakan sudah biasa, namun juga kita tidak bosan dibuatnya. Dan setelah kelar menyaksikan Andy dan kawan-kawan, tibalah untuk melihat schedule selanjutnya dan terlihat Musikimia, band jelmaan Padi yang saya puja-puja akan manggung di Dome Stage pukul 21.00. Karena masih ada sekitar 1 jam lagi berselang, maka saya memutuskan untuk menghadiri penampilan Endah N’ Rhesa. Well, saya bukan penggemar mereka, namun musik yang dibawakan 2 orang ini bagus. Dan ketika saya datang ke stage, mereka masih check sound dan konsep tata panggung yang dibawakan adalah santai dimana banyak audience yang duduk di bawah pohon dan ngampar saja begitu di tanah, yang pacaran ya pacaran yang nongkrong sama teman-temannya juga bisa, hehe. Tidak lama kemudian saya segera ke Dome karena Musikimia akan segera memulai pertunjukan.

Musikimia

Agak aneh sekaligus senang, juga takjub melihat Fadly dan kawan-kawan setelah sekian lama. Dan yang menyedihkan adalah sang pemain gitar bukanlah orang yang selama ini membuat musik Padi begitu terkenal ke seantero Indonesia. Yup, bukanlah Piyu yang menyayat Les Paul namun saat ini (harusnya) Stephan Santoso, yang biasanya berada di balik layar kini menjadi gitaris Musikimia. Kenapa harusnya karena saat itu pula yang berada di stage adalah additional player karena Stephan berhalangan hadir.

Musikimia adalah project dari para personil Padi (minus Piyu dan Ari) untuk mengisi kekosongan, atau mungkin upaya membuat dapur mereka tetap mengebul. Padi yang entah bagaimana rimbanya kini memang meninggalkan banyak fans, dan Musikimia sebagai Padi kawe membuat para fans (termasuk saya) penasaran. Namun jangan menyamakan Musikimia dengan Padi karena mereka mencoba konsep baru yang pastinya berbeda dengan Padi. Musikimia hadir dengan membawakan lagu-lagu bertema perjuangan dan cinta Tanah Air (saya juga kurang paham maksud di balik ini), tetap dengan nuansa rock. Dan satu yang mengejutkan adalah ketika mereka membawakan Bidadari, single pertama di album pertama Padi, Lain Dunia, yang benar-benar mengejutkan kita semua. Sesaat terasa Padi yang perform di depan saya dan memunculkan kembali kenangan-kenangan lama juga histeria. Well apapun itu, semoga masih ada kemungkinan para Sobat Padi bisa melihat kembali band pujaan mereka berkiprah di blantika musik Indonesia. Meskipun bila dilihat kini, kemungkinan itu terasa menjauh kembali (setelah sempat dekat karena Yoyo telah lama sembuh), namun ditangkapnya Ari juga karena kasus narkoba kembali mengecilkan harapan para Sobat. Yasudahlah, sukses buat sisa personil Padi yang masih bertahan dengan project Musikimia mereka.

Sekitar 1 jam Musikimia tampil, saya segera mengingatkan diri bahwa akan ada artis Internasional utama yang bakal perform di main stage. Mereka adalah Sugar Ray. Well saya sama sekali bukan penggemar Sugar Ray, namun band yang dulunya pernah mewarnai masa-masa sekolah saya dengan lagu-lagunya yang cukup terkenal seperti Every Morning, Someday, dan When It’s Over itu adalah performer utama di JRL hari kedua ini. Saya yakin pun bahwa kebanyakan massa yang berkerumun depan panggung juga bukan merupakan fans mereka, terkecuali mereka yang memang menjadi anak 90-an seperti saya hehe.

64460_large

Sugar Ray terkenal dengan vokalisnya yang mentereng dan banyak gaya, atraktif, lincah dan juga lucu bernama Mark McGrath. Kalau bukan Mark yang menjadi frontman, tentunya Sugar Ray akan garing. Dan Mark benar-benar mampu membawa suasana menjadi hidup dengan banyolan-banyolannya sepanjang performance. Saya masih ingat dulu Mark benar-benar menjadi sorotan di Sugar Ray. Kalau ga salah sempat main film juga dia. Dan malam itu kelucuan Mark timbul lagi dan yang paling saya ingat adalah ketika ia mengomentari stage sebelah yang sedang memainkan lagu-lagu death metal dengan suara vokalisnya yang menggeram, haha. Malam itu pula Sugar Ray membawakan hampir semua lagu-lagu hitsnya dan yang paling bikin penonton bergoyang ya lagu-lagu standar mereka yang terkenal macam Every Morning dan Someday. Oh ya, saya suka Falls Apart. Overall penampilan Mark dkk standar saja dan nilai plus datang dari usaha Mark yang coba lebih menghidupkan panggung.

Ada satu insiden dimana gitaris mereka throw up di tengah pertunjukan, katanya sih karena kepanasan manggung di Jakarta, haha. Memang bagi orang bule panas banget ya main outdoor di Jakarta? Kemarin juga vokalis Sixpence mengeluh kepanasan. Welcome to the jungle kalau begitu. Oh ya, kejadian gitaris Sugar Ray muntah juga seperti menjadi show tersendiri dan cukup membuat penonton riuh hehe.

Sekitar satu setengah jam Sugar Ray manggung dan akhirnya selesai pula, saya langsung melihat jadwal dan menemukan Andra & The Backbone yang sudah tampil di Dome Stage. Wow, saya belum pernah pernah melihat langsung penampilan mereka, jadi saya putuskan untuk mengejar aksi panggung mereka namun sayangnya ketika saya sampai, mereka telah membawakan lagu terakhir. Ah sial, haha. Lain kali saya akan menonton aksi panggung band salah satu pentolan Dewa 19 tersebut.

Malam telah larut dan saya putuskan untuk pulang. Penilaian saya terhadap 2 hari perhelatan Java Rockin Land kali ini, festival yang telah saya ikuti penyelenggaraannya dari awal pertama kali mereka berlangsung (tahun 2009) adalah, memang harus diakui bahwa festival kali ini mengalami penurunan. Dapat kita lihat dari berkurangnya hari, dari yang biasanya 3 hari menjadi hanya 2, hal ini berimbas pada berkurangnya jumlah artis lokal dan internasional yang berpartisipasi. Dan sayangnya pula, nama-nama beken juga menjadi redup. Mungkin memang agak susah mencari nama yang sedang tenar kekinian untuk ikut serta (30 Seconds To Mars adalah satu yang beruntung bisa dihadirkan). Namun tidak apa mengundang nama beken yang sudah tidak lagi memiliki jamannya (dalam artian band lawas), tapi kami para pecinta rock tentunya mengharap lebih dari “sekedar” Collective Soul maupun Sugar Ray. Meskipun bagi saya Collective Soul adalah band besar, saya pun mengharap band-band macam Pearl Jam dan lainnya turut hadir (mari kita aminkan).

Hal ini mungkin disebabkan akibat tertundanya gelaran JRL tahun 2012 lalu, dimana saat itu pihak panitia penyelenggara sempat mengundang beberapa nama yang kurang greget dan tak lama kemudian mereka menyatakan membatalkan acara. Band-band yang kurang terkenal tentunya membuat tiket kurang laku dan hal ini yang harusnya disadari pihak penyelenggara. Bahkan mereka coba “membungkus” JRL yang gagal itu dengan mencampurkannya ke festival musik lain (musik soul atau apa gitu saya lupa). Jadi ada satu festival dimana ada musik rock dan musik jenis lainnya. What the..??

Sebagai seorang penggemar musik rock tentunya saya (dan penggemar lain) merasa kecewa. Kami mau pagelaran rock murni dengan band-band rock betulan. Bukan band yang “di rock-rock-an”. Dan tentunya sebagai pembeli tiket untuk suatu pertunjukan yang kami anggap tepat dan berkelas, kami juga tak akan segan mengeluarkan uang bila band yang dihadirkan benar-benar sesuai. Ambil contoh The Smashing Pumpkins ataupun Mr. Big juga Third Eye Blind (sayang saya tidak menontonnya) yang hadir di 2009 silam.

Demikian review saya kali ini yang lama dan berdebu tersimpan di draft, haha. Thanks for the attention and keep rockin’ on!

Image from Google

Tagged , , , , , ,

Mereka katakan, musik Indonesia berhenti di tahun 90-an… (review of /rif & Sheila on 7 concert)

326610_620

Apa yang tersisa dari musik Indonesia dewasa ini? Begitu banyak artis dan band bermunculan, juga tentunya di era digitalisme sekarang ini, mau tak mau memutar kembali memori kita ke beberapa tahun lalu, khususnya bagi mereka yang juga besar bersama saya di akhir-akhir tahun 90-an, yang ketika itu sedang mengikuti perkembangan musik yang ada. Stasiun radio saat itu masih menjadi barometer mana saja musik terbaru yang sedang hangat dibicarakan, menarik untuk didengar dan diikuti. Dan juga kemunculan video klip menjadi sesuatu yang sakral. Video klip baru kehadirannya selalu ditunggu setiap akhir pekan, bahkan sutradaranya pun menjadi buah bibir, jika berhasil men-direct klip yang memiliki sinematografi ciamik, dan banyak lagi penghargaan untuk menilai keberhasilan sebuah video klip bukan hanya dari sisi gambar, namun skrip cerita bahkan modelnya. Dan saat itu, bentuk tertinggi akan suatu karya musik adalah penjualan album yang masih berbentuk kaset atau piringan cakram padat (Compact Disc/CD). Itulah masa-masa dimana saya tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak yang menggemari musik dan juga artis-artisnya, dalam hal ini musik Indonesia.

Bila kita berbicara musik yang dimainkan oleh sekumpulan orang alias band, /rif dan Sheila on 7 adalah salah dua band yang mewakili kedigdayaan musik Indonesia saat itu.

Dan ketika saya melewati daerah Fatmawati, saya melihat baliho di pinggir jalan kalau dua band itu akan menggelar konser tanggal 19 September, saya tanpa pikir panjang segera mencari infonya dan mencanangkan tekad harus menontonnya, karena saya lekat dengan musik-musik mereka dan seperti memiliki ikatan emosional, meskipun saya bukanlah anggota fans club kedua band itu.

Sheila dan /rif adalah 2 band dengan jenis musik berbeda. Sheila band asal Jogjakarta, memiliki warna musik mayoritas pop dengan sedikit ala-ala rock, paling banyak terdapat di raungan gitar pada beberapa lagu, atau bahkan kadang mereka memainkan blues, dikemas dalam bentuk musik yang amat sangat easy listening, berirama menyenangkan dan mudah diikuti dan jaminan digemari. Musik-musik Sheila adalah obat bius bagi kebanyakan rakyat Indonesia yang suka mendengar musik, dan dari berbagai golongan usia. Sedangkan /rif, ya begitu cara menulisnya, dengan garis miring dan huruf kecil, adalah band rock tulen yang saya masih ingat kepanjangannya adalah Rhythm In Freedom. Kepanjangan itu hanya mereka sebutkan di awal-awal kemunculan, sementara nama /rif sudah tenar hingga mereka merasa tidak perlu memperkenalkan nama panjang itu lagi. /rif adalah band rock yang sangat berkarakter, memainkan mayoritas musik rock dengan sedikit warna pop (kebalikan dari Sheila). Namun asiknya, karakter lagu rock di setiap tembang /rif kebanyakan mudah diikuti dan dimengerti, sehingga masih bisa dinyanyikan dan dimainkan lagunya oleh orang-orang. /rif semakin lama tumbuh menjadi band dengan aksi panggung yang sangat menawan dan atraktif, dengan kostum yang total dan enak untuk dipandang. Bila berpatokan pada aksi panggung band luar negeri, maka Marilyn Manson bisa menjadi parameter. Ditambah lagi, keahlian skill masing-masing personel band asal Bandung tersebut dalam memainkan alat musiknya tidak perlu diragukan.

Apa hubungan kedua band diatas dengan saya? Oke. Semenjak kemunculan Sheila dan /rif pertama kali di blantika musik Indonesia, saya sudah tertarik dan memiliki kaset serta mendengarkan lagu keduanya. Memang yang membeli kaset adalah kakak-kakak saya, namun setelah itu otomatis saya menjadi plagiator dengan membeli kaset-kaset mereka juga di album ke-2, 3 dan seterusnya. Khusus Sheila, lagu-lagu mereka praktis pula menjadi soundtrack kehidupan saya di jaman SMA. Dulu, kegemaran saya dan teman-teman adalah bermain band di studio dekat rumah. Dengan uang sewa 35 ribu rupiah, saya bersama 5-6 anak lain patungan masing-masing 5000 rupiah. Hanya dengan bermodalkan buku Music Book Selection (MBS) yang berisi chord-chord gitar, maka kami sudah bisa bermain band 1 jam lamanya.

Selain bermain band, lagu-lagu Sheila dan /rif juga menjadi lagu-lagu untuk saya belajar bermain gitar. Atau kasetnya mengisi walkman saya yang dibawa-bawa ke sekolah atau awal kuliah saat itu, hehe. Kaset-kaset Sheila dan /rif juga menjadi pengisi rak kaset abang saya ketika itu di kamar, salah satu ruangan yang menjadi markas bersejarah saya mengenal musik, dari rak berisi kaset-kaset koleksinya beserta sebuah mini compo merk Polytron. Disitulah singgasana saya bersemayam setiap pulang sekolah hingga malam hari. Oh ya, dulu lagu-lagu Sheila dan /rif juga menjadi jagoan di tangga-tangga lagu radio yang kini telah almarhum semacam Trend Musik Indonesia (TMI), atau bahkan video klip mereka saling berlomba meramaikan kompetisi video klip macam Video Musik Indonesia (VMI) atau tayangan-tayangan MTV yang dulu menjadi makanan kita sehari-hari. Okelah singkat kata, anak Generasi 90-an pasti sangat akrab dengan hal-hal ini, haha.

Dan mari kita langsung menuju konsernya. Karena konsernya diadakan weekend tepatnya Jum’at malam, saya menyangka panggung di Istora akan penuh dengan penonton, seperti halnya ketika saya menonton GIGI ketika mengadakan konser ulang tahun di tempat yang sama. Namun yang terjadi adalah, penonton datang melambat bagaikan siput. Sempat khawatir bahwa konser ini kurang mendapat apresiasi music lovers karena hingga pukul 19.30 penonton belum juga berdatangan, namun beberapa menit menjelang salah satu band naik panggung (yang terus terang saat itu saya belum tahu siapa), audiens sudah mulai penuh. Pandangan saya tertuju pada kelas festival yang berdiri dan saya merasa beruntung tidak membeli tiket di tempat itu, karena saya memiliki pengalaman yang kurang asoy ketika berada di kelas festival saat konser GIGI. Saat itu kaki saya rasanya mau rontok karena pegal luar biasa ketika harus berdiri selama 3 jam, dan aroma yang hadir di arena festival luar biasa, bau asam ketiak dimana-mana. Untuk kaki yang rontok, nampaknya saya sudah renta karena saya iri melihat mereka yang sepertinya menikmati konser sembari duduk. Oke, ini bukan konser metal yang HARUS DITONTON SAMBIL BERDIRI seperti Metallica, dan pilihan saya kali ini tepat. Untuk showcase semacam ini memang lebih baik diikuti sambil duduk. Jadilah saya membeli kelas Silver, duduk. Dan duduk pun masih menjadi masalah karena bangku Istora tidak nyaman untuk dipakai duduk lebih dari 1 setengah jam, pantat saya panas haha.

Sempat terpikir konsep apa yang diusung promotor untuk pertunjukan 2 band seperti ini, namun pada akhirnya memang giliran satu persatu Sheila dan /rif yang tampil selama kurang lebih 1 setengah jam. Dan saat lampu panggung dimatikan, layar yang berada di atas panggung yang dibangun di tengah-tengah Istora menampilkan profil /rif beserta wawancara singkat dengan personil-personilnya, produser label tempat mereka bernaung, dan klip-klip yang pernah mereka buat. Kita semua tahu bahwa sebentar lagi Andy dan kawan-kawan yang akan memanaskan Istora. Dan benar saja, setelah kita semua dilatih untuk memiliki jiwa nasionalis dengan terlebih dahulu menyanyikan Indonesia Raya, kelima personel /rif naik panggung untuk menggebrak dengan lagu pembuka, Dunia. Lagu ini memang cocok dijadikan awalan setlist konser. Lagu yang menjadi soundtrack Spider-Man untuk regional Asia itu sukses membuat panas istora, untuk kemudian disambung dengan lagu ke-2, Jeni.

Jeni adalah lagu yang sangat saya gemari. Lagu yang berasal dari album perdana /rif bertitel Radja dengan gambar katak di sampul albumnya itu, menjadi lagu yang sangat enak untuk dinyanyikan bersama. Kalau saja saya berada di festival, mungkin saya sudah jejingkrakan sembari teriak-teriak ikut bernyanyi. Posisi saya yang duduk pun tidak membuat saya diam, saya bernyanyi sekuat tenaga karena saya hapal betul setiap liriknya (ya iyalah orang jaman dulu muter lagu ini terus haha). Saya sangat menikmati lagu /rif di awal-awal kemunculannya. Menurut saya lagu-lagu mereka saat itu sangat orisinil dan enerjik. Apalagi setelah Jeni, hadirlah Bintang Kejora. Lagu yang terdapat di track 1 album 1 itu benar-benar membuat saya sing along. Tidak peduli kalau di kelas Silver tempat saya duduk, saya aja sepertinya yang hapal benar setiap lirik yang dinyanyikan Andy. Bintang Kejora adalah salah satu lagu ballad /rif yang tak banyak orang tau, namun begitu enak untuk didengar. Itulah lagu dimana saya pertama kali mengenal /rif, hehe. Bintang Kejora dinyanyikan Andy dengan penuh penghayatan, dan tata lampu panggung berubah meredup. Ah, nostalgia yang mantap!

Setelah dibawa ke dalam mesin waktu bersama Bintang Kejora, Andy mulai berinteraksi dengan penggemar. Say hello, cerita sana sini sampai mulai masuk ke lagu berikutnya. Lagu selanjutnya adalah lagu yang menjadi jagoan di album The Best of /rif, lagu ini menjadi lagu terakhir /rif yang masih bisa “diikuti” menurut saya. Lagu yang dimaksud adalah Joni Esmod, yang bercerita tentang koruptor. Joni Esmod masih sanggup membuat saya bergoyang mengikuti irama. Andy membawakan ambience dengan aksi panggungnya yang baik. Tak bisa dibayangkan bila bukan Andy yang menjadi frontman /rif. Setelah Joni Esmod, lagu yang paling tenar yang dibawakan, Radja. Agak aneh karena sejujurnya saya kurang begitu menggemari Radja, namun karena lagu ini sudah automatically tersimpan di memori kepala, jadi setiap bait lirik yang dinyanyikan, saya pun otomatis bernyanyi. SAYA HAPAL DI LUAR KEPALA. Dan kalau bukan “jasa” dari Radja yang membuat saya belajar bermain gitar, mungkin lagu tersebut akan berkurang value-nya, haha. Saya berterima kasih kepada /rif dan Radja atas ilmu bagaimana “memencet” chord gitar sampai jari-jari saya kapalan dan bengkak. Kalau tidak begitu, mungkin saya tidak bisa menggalau genjrang-genjreng gitar hingga saat ini.

Setelah Radja, /rif mencoba cooling down dengan membawa lagu orang lain, dan pilihan mereka jatuh kepada High and Dry. Lagu legendaris Radiohead tersebut dibawakan dengan santai yang membuat semua penonton bernyanyi. Lepas High and Dry, ada satu lagu yang saya sangat tidak menyangka dibawakan. Apakah itu? Ternyata Bunga, saudara-saudari sekalian.

Bunga menjadi lagu di album pertama /rif yang juga saya gemari. Saya jadi ingat dahulu sering sekali menyetel lagu Bunga dan menganggap itu adalah masterpiece kedua /rif di album Radja, sampai kaset abang saya itu kepotong di reff-nya karena saya tidak sengaja menekan tombol REC dengan posisi penutup kanan kiri kaset belum dipatahkan. Oke, ini tidak perlu saya jelaskan, hanya mereka yang mengerti saja yang paham, haha. Bunga adalah parameter lagu ballad /rif saat itu. Karena di album-album selanjutnya, publik menanti apakah ada lagu ballad lagi dari /rif yang seperti Bunga. Kembali ke konser, Bunga dibawakan dengan aransemen sama dengan yang di kaset, dan itu benar-benar membuat saya senang. Kalau kalian belum pernah mendengar lagu Bunga, coba search YouTube, dan saya bisa katakan, itulah yang disebut ballad rock Indonesia yang keren, dan itu hanya terjadi di tahun 90-an kawan.

Setelah Bunga, ada salah satu lagu di album pertama (juga) yang ternyata enak juga didengar di masa sekarang ini, setelah sepuluh tahunan lamanya tidak didengar, yaitu Planet Kosong. Dan saya bernyanyi lagi, tak peduli deh saya dianggap yang paling senior (atau tua) di tribun Silver, karena dari awal saya nyanyi terus di lagu-lagu /rif lama. Tapi memang kekuatan /rif adalah di album-album awal mereka. Planet Kosong selesai, mereka mulai menyiapkan peralatan akustik. Oh ternyata ada sesi akustik yang mereka bawakan, agak-agak sedikit jazzy mereka membawakan Aku Ingin dari album kedua, Salami. Sesi akustik itu nampaknya sayang untuk dilewatkan tanpa membawakan lagu-lagu ballad. Jadilah setelah itu, Salah Jurusan yang dibawakan. Lagu yang berasal dari album ke-4, … Dan Dunia Pun Tersenyum itu bukanlah lagu yang menurut saya terbaik dari /rif di album tersebut, mungkin saat itu mereka ingin sedikit merubah image dengan menerbitkan nomor yang ringan dan lucu dari sudut lirik untuk didengar. Setelah itu, tampil kejutan dengan datangnya seorang vokalis yang juga legendaris bernama Ari Lasso. Mantan vokalis Dewa 19 itu hampir tak bisa saya kenali karena tubuhnya yang sekarang agak melebar. Namun Alass tampil dengan kualitas dan karakter suara yang tidak berubah. Ia hadir menyanyikan lagu everlasting Motley Crue, Home Sweet Home berduet dengan Andy dan adiknya sang drummer, Magi.

Setelah penampilan bintang tamu tersebut, /rif kembali menggebrak di sisa waktu yang ada dengan memainkan tembang bertitel 1. Yap, Satu yang penulisan judulnya harus dengan angka tersebut adalah lagu di album kedua mereka (Salami) yang bercerita intinya tentang persatuan. Saat itu, Indonesia sempat didera perpecahan dan suasana chaos yang sangat hebat, sehingga di awal-awal kemunculan lagu dan album ini, /rif sengaja mendedidasikan lagu 1 ini sebagai tema persatuan dan rekonsiliasi kembali Indonesia. Lagu 1 sebenarnya memiliki ciri khas berupa intro dengan melodi gitar Jikun yang iconic, namun ketika konser saya tidak bisa mendengar intro ini dikarenakan aransemen yang berbeda. Agak kecewa sebenarnya, hehe. Dan waktu semakin lama, kita semua menyadari bahwa Sheila belumlah tampil, /rif kembali menggebrak dengan lagu Pemenang. Lagu yang saya tidak suka, haha. Maaf, dikarenakan saya sudah tidak lagi mengikuti album /rif pasca The Best Of. Well, time flies dan saya tidak bisa move on saja dari album-album /rif di awal kemunculannya. Mereka sempat mengeluarkan 1 single dari album Pil Malu (2006) yang tidak kena di telinga saya, itu mungkin yang menjadikan saya tidak lagi interest dengan album-album kesini pasca The Best Of.

Dua lagu terakhir diisi oleh Lo Toe Ye, yang biasanya dijadikan lagu penutup. Dan encore yaitu Si Hebat. Saya lebih tertarik mendengar Si Hebat karena lagu ini sudah lama sekali tidak saya dengar dan dibawakan, recorded or live. Si Hebat menjadi lagu pamungkas, dan /rif malam itu pamit dengan menyuguhkan pertunjukan yang seperti biasa atraktif, dengan skill mumpuni dari masing-masing personilnya. Kehilangan satu basis dan gitaris (Iwan dan Denny) seperti tidak berpengaruh karena Ovy mampu menjadi pengganti yang sepadan. Dan bagaimana dengan kostum panggungnya? /rif seperti biasa tampil maksimal. Malam itu Jikun sang gitaris hadir dengan topi dan dandanan Slash. Ovy berpenampilan mirip dengan personil Marilyn Manson, atau personil generasi terbaru Guns N’ Roses, dan sedikit mirip Wes Borland gitaris Limp Bizkit. Saya pribadi puas dengan penampilan mereka, karena menjadi obat kangen tersendiri. /rif malam itu saya berikan nilai 3,5 dari skala 5.

Perfectly-Back-To-90s-In-Rif-Sheila-On-7-Concert_1411151652

Setelah /rif puas mengguncang stage, panitia memberikan jeda sesaat untuk memberi waktu bagi Sheila on 7 bersiap-siap. Penonton di kanan kiri dan atas bawah saya, yang rata-rata wanita, dan sepertinya pegawai Gen FM, karena stasiun radio itu ternyata menjadi sponsor, sudah histeris duluan dan tak sabar sepertinya untuk bernyanyi bersama. Kalau cewek sih ga masalah ya, yang agak-agak gimana gitu kalau ada cowok yang suka Sheila tapi diimplementasikan dengan berdiri, bernyanyi sambil joget-joget. Kayaknya ga cocok gitu, haha. Oke saya juga suka Sheila, saya hapal lagu-lagunya, tapi itu tidak membuat saya serta merta ikut “antusias banget” sampai nyanyi berdiri dan joget-joget begitu haha. Dan itu terjadi pada penonton cowok di depan saya (oke biarlah), haha.

Sheila hadir di panggung dengan membawa beberapa pemain trombone, saxophone, terompet dan semacamnya. Untuk apa mereka semua? Ketika intro lagu pembuka diperdengarkan, saya baru sadar kalau ada beberapa lagu di album Sheila yang menggunakan instrumen alat-alat musik tersebut. Yup, album Pejantan Tangguh (2004) adalah album yang lagu-lagunya paling banyak menggunakan alat musik itu, dan lagu berjudul sama dibawakan sebagai pembuka. Lagu yang cocok untuk memancing adrenalin penonton. Selesai lagu pertama, Eross mencabik-cabik senar gitarnya memperdengarkan intro lagu yang tak asing di telinga. Lagu ini sempat merajai tangga lagu Indonesia pada masa jayanya. Yup, lagu pembuka dari album kedua mereka, Sahabat Sejati. Lagu ini pas sekali dibawakan di awal-awal performance mereka. Sahabat Sejati mengeksplorasi kemampuan para personil Sheila dalam bermusik. Dan Brian sebagai drummer baru pengganti Anton, terasa cocok membawakan lagu dengan tempo cepat seperti ini. Tak mengherankan karena Brian dulu pernah menjadi drummer Tiket yang secara musikalitas lebih ngerock. Sahabat Sejati usai, dan penonton dibuat bernyanyi bersama dengan lagu perdana mereka yang mengenalkan band asal Jogja ini ke seantero Indonesia, Kita.

Terus terang saya tidak begitu menyukai lagu Kita. Selera sih, tapi nampaknya hanya saya saja yang tidak antusias menyanyikan lagu tersebut. Sedangkan penonton lainnya berdiri dan bergoyang kesana kemari. Yang pacaran merangkul pacarnya dengan mesra sembari bernyanyi. Yang single pun (kebanyakan perempuan) bernyanyi bersama teman-temannya sembari memukul-mukul balon stasiun radio yang menjadi sponsor, Gen FM. Eh tapi mana saya tau ya mereka single atau tidak, soalnya kan bisa saja pacarnya ga ikut nonton, haha. Dan cowok yang ada di depan saya masih saja berjoget pemirsa, haha. Yasudah biarkan saja. “Kita” adalah lagu awal pembuka album self-titled mereka. Di layar diputar video klip yang dahulu masih memperlihatkan para personil Sheila masih kurus-kurus berambut gondrong.

Kita usai, Duta sebagai frontman mulai melakukan tes ombak kepada penonton dengan menyuruh mereka (khususnya yang di festival) mengayunkan tangan ke kanan dan ke kiri sembari menyenandungkan sebuah lagu. Lagu yang awalnya kita tidak sadar namun setelahnya irama mulai terbentuk. Yup, lagu ini dari album Pejantan Tangguh, sebuah lagu dimana Sheila mencoba bereksperimen dengan membiarkan Duta ngerap. Pemuja Rahasia. Saya juga tidak terlalu suka dengan lagu ini, hanya karena dibawakan secara live saja menjadi agak menarik, karena terus terang saya baru pertama kali mendengar lagu itu dibawakan langsung di depan mata. Selesai lagu itu, Duta mencoba berjalan ke pinggir panggung.

Disana telah disiapkan sebuah piano, dan sembari mencoba membuka obrolan dengan penonton, Duta memainkan beberapa not dari piano tersebut. Pria yang juga Milanista itu memainkan sebuah intro dari lagu yang kita semua tidak tahu itu apa. Dan ketika ia mulai menyanyikan bait awal dari sebuah lagu, hadirin langsung bergemuruh karena yang dibawakan adalah lagu untuk semua orang. Saya belajar gitar dengan lagu itu, dan saya tumbuh di masa remaja/sekolah dengan lagu itu pula. Lagu itu tidak akan saya lupa karena kord gitarnya pun adalah yang paling termudah hingga kini. Dengan hanya 2 kord gitar, G dan C, Eross mampu menciptakan lagu yang indah dan bermakna, Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki.

Dan setelahnya, sudah bisa ditebak tembang apa yang akan dibawakan. Dengan masih menggunakan instrumen piano, lagu yang paling tepat dibawakan selanjutnya sudah bisa tertebak lewat intro yang dimainkan. “Itu Aku,” masih dari album Pejantan Tangguh yang dimainkan. Lagu itu menurut saya adalah salah satu karya Eross yang cukup baik. Meskipun agak-agak berbau dan (mungkin) terinspirasi Hey Jude-nya The Beatles, lagu ini cukup mengundang antusiasme penonton. Yang membuat lagu ini berkarakter adalah lirik dan perpaduan musik, piano dan terompet/saxophone yang menjadikan harmonisasi lagu ini kuat. Dan malam itu Sheila mendapat bala bantuan dari salah satu penyanyi yang memiliki suara khas, Sandy Sandhoro. Sandy membuat lagu ini berwarna jazz dengan lengkingan suaranya yang berat. Namun menurut saya Sandy tampil dengan improvisasi agak berlebihan, maksud hati ingin mengisi kekosongan-kekosongan dengan vokal pada instrumen di akhir lagu, namun hal itu malah terdengar seperti teriak-teriak tidak jelas. Apalagi dengan penampilannya yang memakai kacamata hitam padahal panggung dan Istora gelap. Maksud hati (lagi) mungkin ingin menjaga identitas Sandy yang khas dengan kacamata hitam (agak mirip Ian Kasela jadinya), namun kok saya jadi risih ya melihatnya. Okelah. Setelah Sandy berlalu pergi, Duta dan kawan-kawan membawakan lagu yang menjadi lagu jagoan mereka di album Berlayar (2011), Hari Bersamanya.

Hari Bersamanya adalah satu lagu Sheila bernuansa menyenangkan. Lagu ini asik didengar dan merupakan lagu langganan saya kalau karaoke. Tak heran bila saya semangat sekali mengikuti Duta bernyanyi di lagu ini, tapi ga pake joget-joget ya, haha. Selanjutnya, Sheila memperkenalkan lagu baru mereka dari album yang kata mereka akan keluar sebentar lagi, masih di tahun ini. Lagunya saya tidak tahu judulnya apa, tapi dari lagu yang diperdengarkan, Sheila banget deh musiknya. Sepertinya menjadi salah satu lagu yang bisa memompa semangat. Lagu baru yang ketika dinyanyikan itu, kami para penonton masih diam semua karena baru pertama kali mendengar, disambung dengan lagu dari album 07 Des, salah satu yang saya suka, juga lagu yang memompa semangat pula, Saat Aku Lanjut Usia. Lagu yang sempat mendapat kritikan karena Eross dianggap menjiplak salah satu lagu Beatles yang berjudul dan berlirik hampir sama (hanya dalam bahasa Inggris) menjadi satu lagu yang membuat riuh seisi Istora kembali. Eross sebelumnya sempat mengatakan kepada para penonton, ketika sesi perkenalan personil band, bahwa Duta memang menjadi frontman atau andalan dari band asal Jogja tersebut. Duta dengan karakter vokalnya yang khas dan merdu, mampu membawakan lagu dalam suara rendah dan tinggi, adalah nyawa dari Sheila itu sendiri. Duta adalah salah satu dari sedikit vokalis yang saya rasa akan membawa kehancuran bagi band yang ditinggalkannya, karena tidak bisa tergantikan oleh vokalis lain (mungkin sama dengan peran Krisyanto di Jamrud).

Layaknya konser-konser yang umum diselenggarakan, ada sesi khusus band tersebut membawakan versi akustik. Serupa dengan /rif, Sheila pun hadir membawakan beberapa lagu dengan tema akustik dan aransemen yang dirubah. Seperti yang terjadi pada JAP (Jadikanlah Aku Pacarmu), Terimakasih Bijaksana, Temani Aku dan Yang Terlewatkan. Empat lagu tersebut menjadi lagu yang asik untuk dinikmati dengan instrumen yang berbeda. Ambil contoh JAP, lagu yang seringkali digunakan oleh cowok yang ingin menembak gebetannya itu dibawakan dengan aransemen berbeda yang lebih jazzy, dengan gitar akustik yang dimainkan Eross. Terimakasih Bijaksana pun menjadi lebih elegan dibanding lagu aslinya. Temani Aku yang diambil dari masterpiece Kisah Klasih Untuk Masa Depan tidak perlu dirombak secara total karena pada dasarnya sudah beraransemen akustik. Dan yang terakhir, Yang Terlewatkan, juga bernuansa akustik. Lagu ini adalah lagu yang cukup spesial bagi saya karena saya dulu pernah memberikan lagu ini kepada gebetan saya, dan mendapat nilai 100 ketika karaoke bersamanya (yaelah curhat).

Sesi selanjutnya kembali normal, dan 2 lagu yang dibawakan kemudian adalah 2 hits utama dari 2 album yang berurutan. Bila Kau Tak Disampingku mengajak semua penonton bernyanyi dari album Kisah Klasik. Dan selanjutnya Seberapa Pantas dari album 07 Des, yang lebih dikenal ketika menjadi theme song sinetron duplikat Meteor Garden jaman dulu. Waktu semakin malam ketika lagu Sephia diperdengarkan. Lagu yang pada masanya sangat melegenda dan menjadi soundtrack perselingkuhan itu kebetulan menjadi salah satu lagu Sheila yang tidak saya sukai (lagi), haha. Bukan karena temanya lho ya, tapi entah kenapa saya cepat bosan mendengar lagi itu. Jadi ketika Sephia dimainkan, saya hanya menonton saja dan sesekali bergumam mengikuti irama. Sephia kemudian disambung dengan Betapa, lagu yang menjadi andalan di album Menentukan Arah. Nah kalau Betapa ini termasuk lagu yang saya gemari karena beda dari lagu-lagu Sheila yang lain. Saya terhibur dan senang ketika Betapa dibawakan, menurut saya Betapa menjadi salah satu lagu yang tidak membosankan untuk dibawakan secara langsung.

Akhir konser semakin dekat menjelang. Duta, Eross, Adam dan Brian mulai memainkan intro dari lagu yang kerap menjadi penutup di setiap performance mereka, Melompat Lebih Tinggi. Soundtrack film 30 Hari Mencari Cinta ini lagi-lagi masuk ke dalam list lagu Sheila yang tidak saya suka, haha. Musiknya asik dan enerjik, namun sekali lagi, lagunya bukanlah lagu yang ingin saya dengar berulang-ulang. Dan ketika semua menganggap bahwa konser akan berakhir, masih ada 1 lagu yang belum dimainkan. Kalau tidak ada lagu ini sepertinya bukanlah konser Sheila on 7 namanya. Mungkin konser Wali atau Armada (krik). Apakah itu? Tidak lain tidak bukan adalah lagu dengan lirik lupakanlah saja diriku bila itu bisa membuatmu dan seterusnya. Yup, bila ada konser band luar negeri yang saya ingin sekali rasakan atmosfir karaoke bareng dari salah satu lagunya, itu adalah Don’t Look Back In Anger, dibawakan oleh Oasis bila suatu saat konser disini. Atau Tender-nya Blur. Alhamdulillah untuk yang disebut terakhir saya sudah pernah mengalaminya. Dan sepertinya Eross dkk menangkap fenomena itu. Dengan cerdasnya Eross mengajak semua penonton untuk “membantu” Duta yang ia katakan telah lelah bernyanyi sepanjang konser. Jadilah Dan… dibawakan dengan koor bareng seisi Istora, khususnya para perempuan mulai dari bait awal hingga reff pertama. Begitulah, nuansa 90-an sangat terasa ketika Dan… merajai tangga lagu seluruh radio dan televisi saat itu. Dan… menjadi anthem lagu galau dan hubungan yang galau, atau lagu putus ketika itu. Dan kini, memori semua orang di Istora kembali hadir. Setelah Dan… usai dinyanyikan, Sheila menutup dengan apik konsernya dengan lagu Sebuah Kisah Klasik yang menurut saya sangat tepat sekali untuk dijadikan lagu penutup.

Well, hampir selama 3 jam pertunjukan digelar dan saya sebagai penggemar musik Indonesia, dan anak yang belajar mengenal dan menggemari musik ketika 2 band di atas sedang menapaki puncak karier, merasa puas telah meluangkan waktu untuk menontonnya. Sungguhlah kalau bukan karena pada jaman dulu ketika saya sekolah, Sheila on 7 dan /rif benar-benar mewarnai masa-masa saya saat itu, saya lebih memilih nongkrong di tempat lain atau tidur di rumah. Menonton mereka secara langsung saya anggap sebagai sebuah pengalaman. /rif saya sudah sering menontonnya, namun Sheila baru beberapa kali. Untuk /rif, sekali lagi mereka telah memperlihatkan aksi panggung menawan seperti biasanya. Dan untuk Sheila, terus terang saya menontonnya dikarenakan jarang melihat performance mereka, tidak sebanyak saya menonton /rif. Mereka juga tampil apik dan menghibur.

Saya jadi teringat kata Andy, vokalis /rif, ia berucap: “Musik berhenti di tahun 90-an. Musik masa kini hanya pengulangan dari model-model lagu jaman itu.” Saya beruntung bisa tumbuh dan berkembang saat musik Indonesia, dan juga internasional sedang mengalami masa jayanya. Saya juga beruntung mendapat referensi musik yang original dengan sedikit pengaruh dari musisi belahan dunia lain. Mungkin hanya Beatles, U2, The Police, Radiohead dan tidak banyak lagi yang masih menjadi patokan para musisi bermusik saat itu. Dan yang terpenting, band-band saat itu muncul dengan kualitas yang bagus. Anyway, suatu malam yang indah untuk mengingatkan betapa saya gembira lahir dengan nuansa musik 90-an, tumbuh dan berkembang dan mencari jati diri dalam bermusik dan menggemari musisi yang beberapa bertahan hingga kini. Terima kasih untuk Sheila on 7 dan /rif!

images from Google

Tagged , , , , ,

My Top 5 Linkin Park Album

Linkin Park adalah salah satu band yang berhasil menarik perhatian saya selama menggemari musik dari kecil hingga kini. Band asal AS yang beranggotakan Chester Bennington, Rob Bourdon, Brad Delson, Dave Farrell, Joe Hahn dan Mike Shinoda itu memang menjadi fenomena tersendiri dan berhasil mengukir nama mereka sebagai salah satu band tersukses beraliran new metal dan rock alternatif. Tidak hanya mengoleksi kaset dan CD live-nya (dulu), saya juga memperhatikan sepak terjang dan diskografi mereka. Oh ya, dan saya gemar untuk menyanyikan lagu-lagu mereka di ruang karaoke. Dan tahun ini, Linkin Park mengeluarkan album baru bertitel The Hunting Party. Untuk “merayakan” kelahiran album baru mereka, berikut saya countdown 5 album band asal California tersebut yang menurut saya terbaik:

Linkin_park_reanimation5. Reanimation (2002)

Album ini merupakan album remix atau album yang berisi lagu-lagu di Hybrid Theory yang menjadi album pertama mereka, dengan aransemen yang berbeda, lebih “elektronik,” lebih banyak instrumen dan bebunyian unik, dan lebih banyak suara-suara khas yang hampir semuanya diramu oleh DJ Hahn. Sependek pengetahuan saya Shinoda juga turut andil dalam arrange aransemen. Bersama Hahn, Shinoda adalah prosesor yang menjalankan Linkin Park. Dan Hahn sepertinya menunjukkan siapa dirinya di album ini. Ia mengacak-acak lagu Linkin Park di Hybrid Theory menjadi sebuah album dengan lagu-lagu yang tidak lazim kita dengar. Tapi tetap keren dengan kemewahannya sendiri.

Selain lagu-lagu yang lain dari biasanya, terobosan baru saat itu dibuat oleh Linkin Park dengan membuat video klip lagu dari album ini dengan tema animasi. Bila disesuaikan dengan film, mungkin Avatar adalah film yang cocok menggambarkan video klip tersebut. Gambaran robot, perang dalam animasi 3 dimensi yang canggih dan kabarnya juga buatan DJ Hahn membuat album ini menjadi terobosan yang membuka pecinta musik dunia kala itu, bahwa band rock alternative metal tidak melulu membawakan lagu cadas dengan lead guitar sangar. Namun juga diramu dengan sayatan-sayatan DJ dan suara melengking khas Chester.

Dengan judul-judul yang juga dibedakan dari judul aslinya, ditulis dengan gaya yang kalo dipikir kayak alay, haha macam Pts.of.athrty untuk remix Points of Authority, Enth E nd untuk In The End atau PprKut untuk Papercut, membuat album ini sekaligus menjadi “pemanasan” dari keluarnya album kedua mereka Meteora, dan tentunya mengukuhkan Linkin Park sebagai band papan atas.

Ralat: Reanimation ini sebenarnya bukan album murni Linkin Park, melainkan album remix dari lagu-lagu Linkin Park yang diproduseri oleh Mika Shinoda. Album remix ini di compose musiknya oleh para DJ-DJ termasuk DJ Hahn. Terima kasih untuk Mas Roel atas koreksinya.

minutes4. Minutes To Midnight (2007)

Album ini masuk list sebenarnya tidak disangka-sangka. Dengan cover bertema putih, para personil Linkin Park memakai baju hitam yang membuat album ini terlihat kontras di mata. Lahir dengan selang waktu yang cukup lama dari album sebelumnya, sekitar 4 tahun, Linkin Park mampu “mengingatkan” kembali pasar musik dunia dan music fan akan kehebohan album-album mereka dulu. Jangan pikir mereka telah habis disini, justru mereka datang dengan lagu-lagu yang agak lebih sederhana dari biasanya, dengan nuansa rock yang cukup kental dan lagu-lagu menarik yang tentunya berkarakter.

Linkin Park memiliki ciri khas membuka rangkaian lagu di albumnya dengan lagu yang menghentak, dan kali ini Given Up dijadikan andalan. Kemudian Leave Out All The Rest, yang membuat kerinduan fans akan suara Chester terobati. Lagu itu seakan menjadi pembuktian diri kematangan suaranya sebagai vokalis. Tapi tak hanya di lagu itu saja, album ini banyak mengeksplorasi vokal Chester seperti di lagu Shadow of the Day dan What I’ve Done. Lagu yang terakhir juga menjadi soundtrack film fenomenal Michael Bay kala itu, Transformers. Linkin Park menyatukan penggemar musik dengan pecinta film dengan lagu yang sangat cocok dengan film perang antar robot tersebut. Minutes To Midnight terangkat penjualannya sedikit banyak juga karena keberhasilan Transformers.

Beberapa lagu yang menarik dari album ini diantaranya Valentine’s Day. Awal mula terdengar biasa tapi bila didengar lebih jauh terasa sekali lagunya memiliki ciri khas yang berbeda dari lagu-lagu Linkin Park lain dan hanya ada di album ini. Dengar pula In Pieces sebagai lagu terakhir yang cocok bila dibawakan live.

A_Thousand_Suns_Cover23. A Thousand Suns (2010)

Saya sangat menggemari album ini meskipun hadir dalam nuansa gelap dan gloomy. Tampaknya Shinoda dkk mencoba menggarap album dengan karakter alternative rock yang tidak seperti biasanya. Tetap pada pakem vokal Chester yang melengking dengan gaya rap Shinoda ditambah bunyi-bunyian unik yang dihasilkan Hahn, hasilnya muncul album ini yang masuk kategori worth to hear.

Tidak ada lagi lagu menghentak sebagai pembuka. Sebagai gantinya, Burning In The Skies menjadi ballad menarik yang dibawakan dengan apik oleh Chester. Demikian apiknya hingga saya selalu ikut bernyanyi setiap mendengar lagu ini. Linkin Park berhasil menerobos kebiasaan menempatkan track keras untuk pembuka dengan kehadiran lagu ini. Ditambah awalan narasi intro yang dibawakan J. Robert Oppenheimer mengenai perang nuklir. Hmm, apabila kalian menyadari korelasi nuansa gelap album ini dengan perang nuklir, anda mengerti jawabannya.

Album ini merupakan album konsep, dimana Linkin Park coba membuat album dengan konsep tertentu, dan kali ini perang nuklir menjadi tema yang diangkat. Lagu-lagu yang ada di dalamnya berkaitan satu sama lain, oleh karenanya berbeda dari album-album sebelumnya. Nuansa dark sangat terasa di lagu When They Come For Me dengan tabuhan gendang, juga ada Robot Boy yang memiliki nada datar dan “aneh” untuk didengar, namun lekat di telinga.

Lagu jagoan dalam titel Waiting For The End pun meskipun ga sesangar lagu utama Linkin Park biasanya, tetap saya suka dan menjadi andalan untuk berkaraoke haha. Juga jangan lupakan Iridescent yang lagi-lagi menjadi soundtrack Transformers: Dark Of The Moon, kali ini tidak seperti What I’ve Done terdahulu, Iridescent adalah lagu soft yang tetap berkarakter. Ah, The Catalyst juga menjadi lagu jagoan yang aneh. Kenapa? Hingga 5 kali mendengar saya belum bisa menemukan dimana bagusnya lagu tersebut. Sampai semakin terbiasa saya mendengar, saya akhirnya mendapatkan sisi enaknya lagu itu hehe. The Catalyst bahkan menjadi single pembuka album ini.

Dengan alasan-alasan diatas, A Thousand Suns menjadi album underrated yang menurut saya jenius untuk diciptakan Shinoda dan teman-temannya.

Linkin_park_hybrid_theory2. Hybrid Theory (2000)

Inilah album yang membuat nama Linkin Park mengangkasa di awal 2000-an. Saat itu saya mendengar ada band bagus dengan vokalis yang nyanyinya teriak-teriak, dan ada yang ngerap. Itu saja sudah membuat saya tertarik, apalagi di tengah gegap gempita band-band macam Limp Bizkit atau Korn, Linkin Park muncul dengan menawarkan musik baru yang lebih alternatif, lebih kencang dan lebih gahar. Lagu One Step Closer sering diputar di radio, saya masih ingat bagaimana di kepala saya terngiang single pertama mereka itu di bioskop ketika selesai menonton film Dracula 2000. Entah soundtrack resmi atau tidak dari film itu, One Stop Closer membuat saya bertanya pada teman “eh lagu siapa sih ini?” “Oh ini Linkin Park, bro” jawab teman saya kala itu.

Linkin Park. Kemudian saya ingat-ingat nama bandnya dan saya cari kasetnya. Saya menemukan kaset dengan logo album diatas, saya dengarkan ketika sampai rumah, dan selebihnya adalah sejarah.

Hybrid Theory adalah album yang luar biasa. Mulai dari lagu pertama hingga terakhir, semuanya luar biasa. Kencang, ganas dan menunjukkan siapa Linkin Park sebenarnya. Cocok untuk darah mudah saya ketika itu halah. Sayatan piringan DJ Hahn juga membuat jatuh hati. Musik mereka orisinil, seperti diciptakan tanpa dibuat-buat, dan permainan musik mereka layaknya dari hati. Kaset itu menjadi kaset favorit saya. Saya setel di mobil, di walkman, di kamar dan di mana-mana. Papercut sebagai lagu pembuka adalah legenda. Shinoda bagai menunjukkan bahwa kolaborasinya dengan Chester sebagai frontman Linkin Park merupakan perpaduan dahsyat. Formula lagu-lagu Linkin Park secara sederhana adalah: Shinoda ngerap, dan Chester mengguncang reff-nya. Begitu saja pola dasarnya di album ini.

Setelah Papercut mengguncang, berturut-turut One Step Closer, With You dan Points Of Authority. Jangan lupa Crawling. Anak mana yang ga tau lagu Crawling dan video klipnya dulu? Crawling begitu fenomenal, meskipun saya tak begitu suka lagunya hehe. In The End? Selain menjadi lagu wajib karaoke, rap Shinoda di lagu ini luar biasa. Saya suka banget dan terobsesi untuk membawakannya semirip mungkin ketika nyanyi haha. Ah, satu lagi lagu yang keren namun sayang ga dijadikan video klip di album ini, yaitu A Place For My Head. Sekian ulasan Hybrid Theory. Album ini fenomenal.

MeteoraLP1. Meteora (2003)

Dan album terbaik Linkin Park menurut saya adalah Meteora. Album ke-2 ini menjadi album yang memiliki kualitas “setara” dengan Hybrid Theory, namun sedikit unggul dalam kematangan musikalitas dari album pertama mereka. Sudah menjadi suatu kebiasaan band yang sukses di album pertamanya, sangat dinanti kiprah dan karyanya di album kedua dan biasanya mereka memperlihatkan totalitas dan puncak hasil karyanya di album kedua. Adalah suatu pembuktian bila band yang sudah sukses di album pertama, apakah berlanjut di sekuel albumnya. Bisa bagus bisa jelek. Kalau bagus diingat dan jelek dihujat. Dan itu juga yang terjadi pada Linkin Park.

Meteora sangat ditunggu kala itu, dengan single jagoan Somewhere I Belong yang terlebih dahulu wara wiri di radio, membuat fans penasaran akan seperti apa “lanjutan” dari Hybrid Theory. Pilihannya: lebih baik, setara atau bahkan lebih buruk. Dan diluncurkannya Somewhere I Belong merupakan strategi jitu karena lagu itu datang dengan fenomenal, easy listening namun bisa mewakili comeback Linkin Park yang sudah terlanjur harum namanya di blantika musik new metal. Dan ternyata lagu-lagu lainnya di album Meteora ini adalah legenda.

Meteora lebih matang dari Hybrid. Lebih terkonsep dan lebih terukir jelas kemana arah musik mereka. Hentakannya lebih terasa dan bukan lagi menjadi band kemarin sore seperti ketika mereka meluncurkan Hybrid. Masih ingat formula Shinoda ngerap dan Chester nyanyi reff yang saya tulis diatas? Hal itu terulang sempurna di lagu Lying From You. Don’t Stay sebagai lagu pembuka kembali menjadi trademark Linkin Park untuk selalu mengeluarkan album dengan lagu keras dan menghentak, intinya Chester teriak-teriak mulu deh kalau di lagu pertama haha. Easier To Run muncul untuk mengingatkan kita akan keberhasilan Crawling di Hybrid, dengan musik yang lebih lembut. Jangan lupakan Faint, yang video klipnya memorable dengan memperlihatkan point of view para personil Linkin Park ketika sedang manggung menghadap penonton.

Breaking The Habit menjadi lagu favorit saya dengan klip animasi yang bagus dan tempo lagu yang cepat. Juga di album ini ada Nobody’s Listening dengan musik ala Jepang dan ninja, dan akhirnya ditutup oleh Numb yang sering diputar dan juga sangat terkenal di televisi. Dan kemunculan Meteora ini juga menjadi tonggak sejarah dari datangnya mereka untuk pertama kalinya ke Indonesia dan manggung di Pantai Carnaval, Ancol. Itu juga sejarah karena untuk pertama kalinya saya menonton konser dengan tiket seharga 200 ribu rupiah. Tahun 2011 mereka pun sempat datang kembali namun inflasi menggerus harga tiketnya sehingga yang paling murah saja dibandrol 700 ribu haha. Pengalaman menonton Linkin Park langsung di depan mata adalah suatu hal yang tidak bisa dilupakan bagi penggemar musik ingusan seperti saya kali itu haha. Apapun itu, Meteora adalah salah satu album new metal dan alternative rock terbaik di awal 2000-an, dan album terbaik Linkin Park versi saya.

Tagged , , , , , ,

My 5 Favourite Coldplay Songs.

121126-Coldplay

Karena baru semalam saya mendengarkan playlist Coldplay di dalam mobil, khususnya lagu-lagu di album konser Coldplay Live (2012) yang sepertinya direkam pada saat mereka manggung di beberapa kota Eropa, salah satunya Paris. Setelah itu tangan saya gatel mau nulis apa aja sih lagu Coldplay yang saya suka. Karena sungguhlah, band yang satu ini memiliki daftar lagu yang tak biasa, setlist konser yang hampir semuanya mumpuni, dan menonton mereka live adalah salah satu impian yang belum terwujud hingga kini. Dan berikut saya hitung mundur 5 lagu Coldplay yang menjadi favorit saya. Cekidot gan:

5. Shiver (album Parachutes, 2000)

Lagu ini diambil dari album perdana mereka yang menjadi titik awal perkenalan Coldplay di blantika musik dunia. Diletakkan di track 2 setelah Don’t Panic, Coldplay mulai menyebar bius musiknya ke telinga penggemar musik sejagat raya di album pertama mereka ini. Lagu yang bertempo cepat ini enak didengar karena alunan musiknya yang mengalun konstan bergenre alternaive rock, dengan bunyi-bunyian gitar yang menggariskan dengan keras karakter Coldplay saat itu.

Chris Martin, Guy Berryman, Jonny Buckland dan Will Champion dalam video klipnya masih sangat muda. Martin memakai kaos lidah menjulur khas The Rolling Stones. Dan mereka bermain dalam suatu studio dengan posisi melingkar. Klip ini memunculkan kesan perkenalan Coldplay sebagai suatu band yang solid dengan skill yang sebenarnya biasa, namun apik dan kompak. Video klip yang bagus untuk ukuran band yang ingin mencoba mengenalkan diri mereka pada dunia.

4. A Sky Full Of Stars (album Ghost Stories, 2014)

Menarik bila lagu ini masuk ke dalam list, karena selain tergolong baru, sebuah lagu masuk kategori favorit bila telah lama didengar dan merasuk ke dalam jiwa raga, dan kuping seakan lekat menerima tanpa syarat akan lagu tersebut. Dan kemunculan Ghost Stories belum ada 2 bulan lebih, namun lagu ini seakan sudah menjadi yang paling akrab di telinga.

Mengakomodir musik baru bertema EDM, Coldplay mengguncang kebiasaan musik mereka yang biasanya alternative rock dengan mempertunjukkan jenis musik satu ini. Musik dugem, kata mereka yang baru pertama kali denger. Ya memang tidak salah. Reff dari lagu ini memang akrab di telinga kita-kita atau mereka yang tahu dan menyimak lagu-lagu Avicii atau Armin Van Buuren dan semacamnya. Coldplay dengan rasa trance, dan menurut saya keberanian empat orang asal London itu untuk menunjukkan musik jenis ini patut diacungi jempol. A Sky Full Stars resmi masuk ke dalam golongan lagu-lagu akbar yang pantas dinyanyikan dengan khidmat di konser, bersama dengan Yellow, Every Teardrop Is A Waterfall, Viva La Vida, Paradise, dan lainnya.

3. Speed Of Sound (album X&Y, 2005)

Lagu ini masuk dalam daftar karena saya ingat pertama kali Coldplay mengeluarkan X&Y dengan Speed Of Sound sebagai jagoan. Saya terpana dan terpukau akan kedalaman nuansa lagu ini. Hingga saya ingat ketika itu saya mencoba merekam lagu ini dari radio (dulu belum jaman digital), ketika lagu ini di-request dalam acara permintaan putar memutar lagu di radio.

Sesuai dengan tema album X&Y yang bernuansa elektronik, video klip lagu ini juga dibuat dengan tone gelap, dimana para personil Coldplay perform di depan sebuah lampu LED raksasa yang menyala dengan terang, sehingga hanya siluet mereka saja yang tampak dalam klip. Meskipun saya jarang melihat lagu ini dibawakan ketika live, namun Speed Of Sound cukup menarik perhatian saya dan menjadi salah satu yang terfavorit dengan alunan irama dan tempo yang khas.

2. Charlie Brown (album Mylo Xyloto, 2011)

Mengejutkan ketika lagu ini masuk dalam daftar lagu-lagu Coldplay favorit saya, dan duduk di posisi runner-up. Kenapa? Karena sebenarnya lagu ini hanyalah single ke-3 dari album Mylo Xyloto. Namun nuansa yang dibawa lagu ini mengingatkan saya akan satu masa dimana saya menganggap hidup saya berada di alam mimpi. Ini serius, bunyi-bunyian yang mereka ciptakan seakan membawa saya ke dunia masa kecil, yang tidak bisa saya terjemahkan ke dalam tulisan namun ada di alam pikiran. Video klip yang dihadirkan pun mendukung, dengan warna warni wrist band yang menyala yang biasa dipakai oleh mereka yang menonton Coldplay secara live ketika konser. Penuh dengan aura khayalan, fantasi dan nuansa positif.

Argh, menonton klip ini seakan membuat diri saya tak sabar untuk segera menjalani pengalaman menonton mereka manggung di depan mata, dengan segala entertainment yang mereka hadirkan pada saat konser. Khususnya bila saya amati, aksi panggung dengan wrist band warna warni dan semacamnya merupakan atribut konser tema Mylo Xyloto. Nah untuk album Ghost Stories yang terbaru, entah tema apa yang akan dipakai. Well, sekali lagi saya berharap untuk bisa secepatnya merasakan atmosfir konser mereka, hehe.

1. Fix You (album X&Y, 2005)

Kalau yang ini, sudah jelas merupakan lagu Coldplay terfavorit saya yang paling saya sukai. Baik dari segi lirik, musikalitas, tempo dan nuansa yang hadir setiap mendengar lagu ini, membuat saya terdiam sejenak dan coba mengikuti dan menghayati dengan seksama esensi lagu ini. Saya pikir Chris Martin adalah seorang jenius ketika bisa membingkai suatu kejadian yang buruk, yang pernah dialami oleh setiap orang dalam hidupnya, rasa kehilangan, rasa kesia-siaan, rasa lelah, dan rasa tak berarti untuk dituangkan dalam rangkaian nada dan instrumen musik yang menjadi elemen penting Fix You. Konon lagu ini bercerita tentang kehilangan. Terinspirasi dari sang mantan istri, Gwyneth Paltrow yang baru saja kehilangan orang tuanya.

Saking ngefans nya saya dengan lagu ini, saya ingat ketika itu saya menonton konser sebuah band yang sedang digandrungi anak muda dengan lagu-lagu alternatif mellownya, dan saya yang sama sekali tidak mengerti diam saja sepanjang konser. Hingga akhirnya si artis membawakan intro lagu ini dan wow, saya langsung bersorak. Ternyata, si artis dalam albumnya sengaja meng-cover lagu ini dan alhasil saya otomatis nyanyi sepanjang lagu dan teriak paling kencang sendiri. Well meskipun ga sebagus versi asli Coldplay. Atau ini, saya sengaja merekam suara saya sendiri menyanyi lagu ini dan meng-aplotnya di SoundCloud dalam sesi genjrang genjreng tengah malam di kamar, haha. Atau ini lagi, saya sengaja membeli lagu ini dari iTunes seharga 7 ribu rupiah untuk disimpan dalam iPad, hehe. Jarang banget saya beli lagu digital, lho. Intinya, lagu ini jenius dan cocok didengarkan di segala musim situasi dan kondisi.

Tagged , , ,

5 concerts worth to wait.

Bagi penggemar musik seperti saya, menonton konser suatu band adalah sebuah hal yang memiliki sensasi berbeda dari mendengarkan musik biasa. Dan juga memiliki kasta yang berbeda pula dengan mengikuti perkembangan band tersebut dari album-albumnya. Dan, meskipun dewasa ini menonton konser harganya kadang ga masuk akal, udah gitu harus merogoh kantong dalam-dalam juga, tapi bila ada band yang saya ingin lihat secara live, ya pasti saya belain ujung-ujungnya. Pikiran saya gini aja, mereka pasti ga setahun sekali dateng ke Indo, jadi ya.. Menurut saya itu menjadi suatu kesempatan langka dan berharga menonton langsung band yang biasanya hanya saya dengarkan lewat kaset atau CD.. Ya sekarang iPod kali ya haha.

Meskipun ga sering-sering banget nonton konser (diantaranya karena masalah budget itu tadi), membuat saya harus selektif dalam memilih. Kalo ga suka-suka banget ya ngapain ditonton. Namun saya cukup bersyukur bahwa saya telah diberi kesempatan nonton beberapa band favorit saya yang tadinya ga pernah kepikiran bisa nonton live, malah bisa nyanyi bareng sama mereka. Seperti misalnya kalo band lokal, macam GIGI, Padi atau Sheila on 7 udah ga jarang saya tonton. Kalo yang bule.. Metallica, Blur, Mr. Big dan lain-lain adalah beberapa band yang saya udah pernah sing-along bareng vokalisnya langsung.

Tapi, ada beberapa band yang belum pernah saya tonton hingga saat ini, dan saya pengen banget lihat konsernya, baik kalo mereka perform di dalam maupun luar negeri. Kalo udah nonton konser mereka, kayaknya riwayat perkonseran saya bakal lebih lengkap, meskipun musik terus berkembang dan perkonseran adalah sesuatu yang dinamis dan terus bergejolak perubahannya (boso opooo iki).

Berikut adalah beberapa band yang saya gemes liat performance nya:

1. OASIS

20131012-171432.jpgBand yang sebenarnya udah bubar ini bener-bener bikin saya penasaran. Kalau udah bubar, tentunya saya hanya bisa berharap mereka reuni kembali dan menggelar tur konser keliling dunia, atau minimal Asia, supaya mereka bisa mampir ke Indo. Kalo enggak, ya impian nonton Oasis tetaplah menjadi mimpi. Lagian kenapa juga sih Liam pake berantem sama Noel, yang bikin Oasis jadi bubar? Dan Liam bikin band Beady Eye. Saya sebagai penggemar Oasis tentu kecewa, karena Oasis itu adalah band yang berpotensi bikin Gelora Bung Karno penuh kembali kalo mereka konser disana, seperti yang dilakukan Metallica 2 bulan lalu.

Lagian, naik haji britpop saya yang udah terjadi sekali pas Blur dateng kemaren bakal lebih sahih kalo Oasis dateng. Udah merinding kalo bayangin koor bareng penonton di lagu Don’t Look Back In Anger menggema di GBK.

Ada beberapa wacana atau gosip yang mengatakan Oasis akan reuni lagi. Well saya berharap sih demikian. Karena Oasis adalah band pertama yang kasetnya saya beli kelas 2 SMP, sebelum saya mulai ngoleksi kaset tentunya.. Album Be Here Now dulu, dengan hit single Stand By Me sama Don’t Go Away. Hmm, kaset itu setia menemani walkman Aiwa yang saya bawa tiap hari ke sekolah.. *jadul bener boosss…* haha.

2. COLDPLAY

20131012-170504.jpgKalo yang ini agak masuk akal, meskipun setengah pesimis juga. Kenapa? Pertama karena Coldplay adalah band terbaik di blantika musik saat ini. Dan mengundang mereka datang berarti mengupayakan sesuatu yang amat sangat luar biasa dan menjadi prestasi besar. Kedua, karena Chris Martin cs. pernah mengumandangkan ultimatum bahwa band nya tidak akan berkonser selama 3 tahun dari konser terakhir mereka awal tahun ini. Itu kan berarti menutup segala spekulasi yang ada bahwa mereka bakal datang ke Indonesia.

Coldplay terkenal dengan aksi panggungnya yang luar biasa. Dengan gelang-gelang lampu menyala yang dipakai oleh penonton dikala gelap, akan tercipta lautan lampu berwarna-warni. Seorang teman pernah menonton konsernya di Sydney kemarin, dan hasilnya bener-bener bikin ngiri abeeesss..!!!!

3. U2

20131012-170939.jpgSiapa tak kenal dengan band legendaris asal Irlandia yang baru saja saya sebut? Father of all bands ini sempat saya katakan sebagai penutup perjalanan konser saya sepanjang hidup. Artinya, riwayat perkonseran saya bisa dibilang sudah khatam kalo udah nonton Bono, The Edge, Adam Clayton dan Larry Mullen Jr ini. Lebay? Tidak juga, karena memang U2 adalah band yang pantas dibilang lebih besar daripada sekedar besar.

Selain itu, aksi panggung mereka juga sangat luar biasa. Banyak stage di tiap konser dibuat berbeda sedemikian rupa, dan performance mereka sudah ga pantas lagi kalo digelar indoor. Suatu saat mereka pernah menggelar konser dengan stage seperti tarantula, dengan posisi di tengah stadion, stage tersebut bisa dilihat dari setiap sudut, alias 360 derajat. Bagaimana betuknya? Silakan googling, hehe.

Yang membuat harapan nonton U2 menipis karena Bono sang vokalis pernah menyatakan kalo ia ga mau manggung di suatu negara yang bermasalah dengan lingkungan nya. Well Indonesia? Kalian bisa nilai sendiri lah apakah Bono tertarik untuk mampir kesini kalo dilihat dari keadaan lingkungan kita, hehe. Oh ya, selain itu masalah pelanggaran HAM juga sesekali diangkat oleh vokalis yang juga aktifis ini. Ribet yaaa..!!??!!

4. PEARL JAM

20131012-173155.jpgYang ini masih masuk akal dan peluang saya bisa nonton pentolan Grunge ini cukup terbuka lebar. Saat ini sedang didekati oleh salah satu promotor Indonesia dan gosipnya, mereka akan datang tahun depan. Apalagi, mereka baru saja mengeluarkan album baru dan ada chance mereka buat tur ke beberapa negara. Dedengkot alternative band era 90-an sudah cukup lama menjadi favorit saya. Dulu saya mengenal mereka lewat kaset-kaset kakak saya yang saya dengarkan terus hampir setiap hari di kamar. Ah, masih ingat saya pernah menggemari album live mereka “Live On Two Legs” ketika jaman SMP.

Pearl Jam terkenal dengan lagu-lagu yang menjadi hits meskipun tidak ada video klip nya. Karena basis massa dan karakter musiknya yang kuat, meskipun tidak melakukan promosi melalui video musik seperti yang dilakukan band lain pada umumnya, namun mereka tetap laku dan tak melepaskan cengkeraman kuat mereka di blantika musik dunia.

5. MATCHBOX TWENTY

20131012-172754.jpgAgak mengejutkan bisa masuk list saya, tapi memang kekaguman saya akan sosok dan karakter suara Rob Thomas sebagai vokalis, membuat band ini layak tonton. Matchbox adala Rob dan Rob adalah Matchbox. Dan melihat mereka tampil live di depan mata adalah suatu pengalaman berharga bagi khazanah perkonseran saya. Peluang masih terbuka lebar untuk band satu ini.

Tinggal melihat perkembangan mereka untuk membuat album baru lagi, dan ada tur keliling Asia, atau meskipun mereka tidak/belum mengeluarkan album lagi, toh lagu dan album-album mereka sudah banyak dan tetap bisa menggelar show di sini, hehe.

Tagged , ,

Musikimia, the new Padi?

Fadly, Stephan, Yoyo, Rindra (Musikimia)

Rindra, Stephan, Yoyo, Fadly (Musikimia)

Bagi kalian pecinta Padi, atau yang biasa disebut Sobat Padi, termasuk saya ya.. Tentunya sedih dong sekarang ini Padi sedang vakum. Yep, Padi yang dahulu sempat menjadi band fenomenal Indonesia, atau the most wanted band in Indonesia (barengan sama Sheila on 7 waktu itu booming-nya), sedang tidak memproduksi album, atau sedang tidak manggung lagi, atau sedang tidak ngeband lagi, atau bahasa simple-nya ya, sedang vakum, off, berhenti sesaat (semoga bukan selamanya ya, hiks).

Padi, yang telah menelurkan banyak album, well perlu waktu bagi saya untuk menghitung album-album Padi memang meninggalkan banyak fans di Indonesia yang sepertinya susah move-on kalo Padi bener-bener ga ngeband lagi, katakanlah bubar. Padi, yang dikomandai Satriyo Yudi Wahono alias Piyu, sang gitaris memang sepertinya “bergantung” pada keberadaan Piyu. Piyu kini sedang sibuk-sibuknya dan asyik-asyiknya melakukan project solo. Seperti yang pernah saya baca di biografinya, Piyu memang menjadi seseorang yang penuh ide dan kreatif. Ia benar-benar menjadi arwah Padi, dan apabila Padi pun tidak berjalan, Piyu bisa bekerja sendiri. Ia bisa bersolo karir, bisa nyanyi, bisa jadi produser, bahkan bisa menemukan bibit-bibit band atau penyanyi baru. Tengoklah Drive dengan Anji-nya yang “ditemukan” Piyu. Atau kalau berbicara lagu, ia telah menelurkan beberapa single, sebagai contoh Sakit Hati yang video klipnya berupa film mini.

Sekarang pertanyaannya, bisakah Padi bertahan tanpa Piyu? Okelah, bila dilihat dari lagu-lagu Padi selama ini, dari album pertama Lain Dunia hingga album terakhir Tak Pernah Padam, memang kebanyakan lagu-lagu hits Padi berasal dari tangan dingin Piyu. Ia yang menciptakan single-single hit yang meledak di pasaran seperti Begitu Indah, Mahadewi, Sesuatu Yang Indah, Kasih Tak Sampai dan lain sebagainya. Memang dalam sebuah band selalu ada sosok yang menjadi inspirator atau megamind di balik lagu-lagu hits band tersebut. Sebut saja Ahmad Dhani di Dewa 19, Enda di Ungu, Azis di Jamrud atau Eross Chandra di Sheila on 7, begitupun Piyu di Padi.

Bisakah Padi bertahan tanpa Piyu? Okelah, ada Fadly ataupun Rindra yang pernah menciptakan satu dua lagu bagi Padi. Tapi saking sedikit porsinya, saya sampai lupa hehe. Disitulah pertanyaannya, bisakah Padi bertahan tanpa Piyu, dan inilah yang coba mereka cari dalam Musikimia.

Padi di album Lain Dunia (1999)

Padi di album Lain Dunia (1999)

Apakah Musikimia? Mereka adalah Fadly, Rindra, Yoyo dan Stephan Santoso. Ada yang janggal? Yap, Musikimia adalah Padi tanpa Piyu dan Ari. Dua gitaris yang selama ini saling melengkapi satu sama lain di Padi. Dahulu, mereka adalah duet gitaris yang sinergis, Ari mengisi distorsi, rhythm dan efek, sedangkan Piyu merajalela dengan lead guitar-nya yang menyayat dan mengiris hati *halah* dan begitulah realita yang ada, Musikimia coba untuk bertahan, meskipun tanpa sang inspirator mereka, Piyu. Untuk Ari, kenapa ia tidak hadir, saya belum mengetahui dengan jelas infonya. Ada yang tahu? Sebenarnya disayangkan juga Ari tidak join di Musikimia, karena ia adalah salah satu gitaris terbaik di Indonesia (IMO).

Fadly, Rindra dan Yoyo di Musikimia coba merekrut Stephan Santoso sebagai pengisi gitar. Siapakah Stephan? Ia adalah gitaris dan music engineer terbaik di Tanah Air (denger-denger sih begitu). Namun kayaknya benar kok, nama Stephan sudah ga asing lagi di industri musik Indonesia. Bagi “angkatan lama” yang sering membeli kaset dan CD, nama Stephan sering tercantum di ucapan terima kasih para artis dan credit title proses rekaman. Dan bagi Padi pun, nama Stephan sudah menjadi langganan sejak album Lain Dunia, Sesuatu Yang Tertunda, Save My Soul, self-titled Padi dan Tak Hanya Diam.

Musikimia coba bertahan dan mengikis kerinduan para Sobat Padi akan lagu-lagu yang diisi oleh lantunan khas vokal Andi Fadly Arifuddin yang berat dan bernuansa laid-back. Apalagi di single mereka yang sedang beredar, Apakah Harus Seperti Ini. Lantunan dan irama lagu khas Padi jaman mereka sedang jaya-jayanya sangat kental sekali. Orang yang belum pernah tahu mungkin mengira Padi lahir kembali. Namun mereka masih harus banyak membuktikan, dan saya juga mau tahu, apakah Musikimia mampu memainkan nada-nada upbeat dan rock kental dengan baik sebaik Padi dahulu, dengan lead guitar tentunya. Saya juga ga tahu apakah Stephan bisa melakukannya atau ia punya sentuhan lain, kita lihat saja.

Padi di album Tak Hanya Diam (2007)

Padi di album Tak Hanya Diam (2007)

Yang jelas, di lubuk hati terdalam saya masih berharap bahwa Musikimia ini adalah proejct sementara, untuk memberi waktu kepada Padi hadir kembali. Formasi lengkap. Piyu dan Ari kembali bersatu dalam duet gitar, Rindra yang serius bermain bass, Yoyo yang gebukannya mantap dan penuh power, dan Fadly yang karakter vokalnya beda dari band-band manapun di Indonesia, dan penampilan mereka yang selalu dipenuhi fans. Entah apa yang menggelayuti benak Piyu sehingga ia sepertinya masih enggan untuk “kembali” ke Padi. Well, mungkin saya berpikir Piyu agak “sakit hati” dengan komitmen yang dilanggar oleh salah satu personilnya yang terkena kasus narkoba dan obat-obatan terlarang. Atau mungkin Piyu sedang “nanggung” menyelesaikan proyek solo nya yang sepertinya sayang bila ditinggalkan karena ia kembali ke Padi.

Apapun itu, saya dan Sobat Padi yang lain berharap agar Padi kembali eksis dan membuat lagu-lagu baru dan tentunya album baru. Anda setuju?

Tagged , , , ,

[album review] Love, Lust, Faith and Dreams – Thirty Seconds To Mars

Image

Album yang dinanti-nanti bagi para Echelon (sebutan fans Thirty Seconds To Mars) hadir di tahun 2013 ini. Sebuah album yang woro-woronya sudah lama terdengar di Twitter namun baru akhir-akhir ini keluar single pertamanya yang berjudul Up In The Air. Ternyata, single tersebut hanyalah sebuah teaser dari rangkaian lagu-lagu lain yang bernaung di bawah judul Love, Lust, Faith and Dreams.

Terbentuk sebagai sebuah band yang punya branding bagus dalam hal kemasan album, dari segi art dan juga mencakup video klip yang dilempar ke pasaran, band yang dikomandoi Jared Leto ini menjadi salah satu komoditi band yang dicari di pasar musik Internasional. Tentunya masih ingat di ingatan kita bagaimana kesuksesan This Is War (2009), album yang berhasil meluncurkan Kings And Queens sebagai hit single favorit beberapa tahun lalu, dengan konsep video klip yang lagi-lagi extra-ordinary, dengan menampilkan sepeda-sepeda atau yang biasa disebut biker dengan segala jenis sepedanya. Dan lagu itu bahkan bisa dibilang menjadi theme song kaum pesepeda yang sempat menjamur di Indonesia baru-baru lalu.

Kali ini, album yang mari kita singkat dengan LLFD itu, tampil pula dengan kemasan yang apik. Dengan cover sederhana, hanya berupa titik-titik berbagai warna yang tentunya ada filosofinya (silakan googling sendiri untuk tahu artinya, hehe) dan beberapa lagu yang kita baru tahu apabila telah mendengarkannya.

Di lagu pertama, ada “pancingan” lagu berjudul Birth. Dengan bunyi trombone sebagai intro, sebait lirik dari Jared dan kemudian full music ditambah strings, membuat lagu ini menjadi pilihan terbaik lagu pembuka yang mewakili seluruh album. Well, bisa dibilang bukan merupakan full song sih, tapi dengan mendengar track ini dijamin anda akan dibawa menuju gerbang penuh tanda tanya, sebenarnya apa yang diberikan 30 STM di album kali ini.

Track 2: Conquistador. Cocok untuk full track pertama band asal Los Angeles ini. Dan nampaknya lagu enerjik ini bisa jadi lagu jagoan selanjutnya. “We will, we will rise again” jadi kalimat penegasan mereka untuk eksis kembali tentunya. Dan tahan nafas anda karena lagu ini bakal disambung dengan hit single Up In The Air, yang butuh beberapa kali bagi kita, bahkan bagi kita yang sering mendengar lagu-lagu 30 STM sebelumnya, untuk mencerna. Dan setelah kita dengar berkali-kali, ah lagu itu masuk di telinga! Apalagi bila sembari ditonton klipnya, keren deh.

City of Angels, track selanjutnya dari album ini, menyajikan lagu ballad dengan komposisi synth yang apik dan drum beat khas Shannon Leto. Plus, kehadiran keyboard menambah manis lagu yang tak sulit akrab di telinga ini. Lagu keren!

Kemudian, The Race, menampilkan lagu yang sama seperti album-album terdahulu dan menurut saya kurang begitu istimewa. Dilanjutkan dengan End Of All Days, dimana kita bisa mendengar vokal Jared dengan hanya ditemani piano. Dan sepertinya mereka mulai berbicara hal religius disini. Ah, menarik. Disambung dengan Pyres of Varanasi, satu lagu dengan intro yang bernuansa spooky namun kemudian diiringi strings beserta gumaman bahasa Arab yang memacu detak jantung layaknya di film-film thriller. 30 STM memang piawai dalam memainkan bunyi-bunyian yang megah dan memiliki nuansa orkestrasi.

Ah, sepertinya rangkaian lagu di album ini memiliki beberapa part. Bila anda jeli, anda bisa mendengar suara wanita menyebutkan beberapa part di awal beberapa lagu. Seperti Love, Lust, Faith dan Dreams. Dan di “bab” Faith, dibuka oleh lagu menarik bertitel Bright Lights. Disini kita bisa mendengar alunan nada simple namun tetap catchy dari trio yang pernah tampil di Indonesia tersebut. Perhatikan baik-baik lagu ini dan dijamin anda akan menggemarinya.

Track 9, Do Or Die. Lagu ini juga menarik. Jared mengatakan bahwa album ini adalah album terbaik selama ini dari perjalanan karir mereka, jadi anda akan sering menemukan lagu-lagu dengan tema dan nuansa sama di album ini. Dan menurut saya, hal tersebut adalah perubahan cukup mendasar dari album-album mereka selama ini. Dengan lengkingan kuat Jared, sudah mulai terbentuk pasti karakteristik musik mereka. Disambung dengan Convergence, Northern Lights dan Depuis Le Debut, nikmatilah album yang paling on fire di tahun ini.

Rate: 3,5/5

Tagged , , , ,

[album review] OneRepublic – Native (2013)

OneRepublic-Native-2013-2000x2000Hampir saja saya menulis OneRepublic menjadi One Direction. Dua kelompok musik yang sangat berbeda jauh. Yang satu adalah band yang sebenarnya tidak terlalu saya suka, sedangkan satu lagi adalah boysband yang dari segi style sangat keren-keren (dan menjadi trendsetter busana cowok), minimal menurut saya haha. Maksudnya dulu saya pernah lihat video klip nya One Direction dan berkata “gayanya keren-keren juga”. Oke sekian.

Yang ingin saya review albumnya kali ini adalah OneRepublic. Dan OneRepublic ini sebenarnya saya ga terlalu kenal dengan band-nya, dan lagu mereka yang membuat tenar pertama kali, yaitu Apologize itu masuk dalam list lagu yang saya ga terlalu suka. Tapi dalam album kedua mereka kemarin, lagu yang berjudul Good Life justru saya seneng banget, sampe saya jadikan ringtone handphone, haha. Dan semenjak mereka mengeluarkan album terbaru beberapa hari ini yang bertitel Native, saya jadi penasaran ingin mendengar lagu-lagunya lebih dalam. Berisi 12 lagu, album ini menjadi album ketiga mereka semenjak berdiri tahun 2002 silam. Dan sangat tidak diduga, album ini bagus! Minimal menurut telinga saya. Banyak lagu-lagu di album ini yang menawarkan musik sederhana namun tetap menjadi ciri khas mereka, yaitu soung-sound unik dan alunan nada yang tak biasa namun tetap melekat. Kualatlah saya.

Album dibuka dengan track pertama yaitu Counting Stars. Lagu ini sangat easy listening dan tak perlu berkali-kali anda mendengar untuk memahaminya. Dan single hit pertama dari album ini yang menjadi track 2, yaitu If I Lose Myself Tonight, pastinya akan sering anda dengar di radio-radio atau bahkan di music video belakangan ini. Lagu ini bakal memiliki efek ledak seperti 2 hits mereka sebelumnya yaitu Apologize atau bahkan Good Life. Kemudian diikuti oleh 2 track selanjutnya yaitu Feel Again dan What You Wanted yang sama-sama nikmat dan ear catching untuk didengar.

Begitu juga dengan Track 5 yaitu I Lived. Dentingan gitar pada intro dan alunan pada reffrain menjadikan lagu ini cocok bila dibawakan secara akustik. Agak sedikit bias pada track selanjutnya, tetapi agak ditenangkan dengan track berjudul Can’t Stop yang memiliki nuansa dark namun elegan. Setelah itu, tempo agak melambat dengan lagu berjudul Au Revoir. Namun jangan buru-buru mematikan audio anda karena di lagu selanjutnya, adalah lagu terbaik di album ini. Yep, lagu tersebut berjudul Burning Bridges.

Burning Bridges adalah lagu one stop dimana ketika anda mendengarnya untuk kali pertama, anda tak bisa lepas dari liriknya, artinya lirik dan nada lagu tersebut akan terus menempel beberapa saat dan anda akan mengingatnya setelah mendengar lagu tersebut, dan beberapa kali didengar lagi, BANG! Lagu itu memiliki tingkat kesahihan sempurna sebagai the best track.

Setelahnya, ga usah terlalu dipusingkan. Album ini memang bagus tapi memang ga bisa dibilang istimewa juga. Tambahan beberapa bonus track berupa versi akustik dari If I Lose Myself Tonight dan Burning Bridges juga seakan hanya menjadi pelengkap belaka. So, bagi kalian yang mencari lagu-lagu simple namun tetap menarik, album ini bisa jadi pilihan yang tepat.

Rate: (3/5)

Tagged , , , ,