Monthly Archives: March 2013

Nice thoughts from my favourite anchor…

MARISSA ANITA

Do you marry for love or for money? Apakah Anda menikahi seseorang demi cinta atau uang?

Pertanyaan ini saya lempar ke Twitter dan mendapatkan jawaban bervariasi. Ada yang menikah demi uang. Ada yang demi cinta. Ada yang demi dua-duanya. Ada yang demi masa depan. Ada yang demi orang tua. Ada yang demi seks. Ada yang demi Tuhan.

Menarik. Dan tentunya semua orang punya alasan sendiri-sendiri.

Menikah adalah keputusan besar dalam hidup kita. Ketika saya memutuskan untuk menikah karena saya jatuh cinta. Jatuh cinta dengan komunikasi antara saya dan pasangan yang seperti tak ada ujungnya.

  • Karena kita memiliki kemiripan hobi dan pandangan hidup.
  • Karena dia menjalankan hidup dengan passion dan mendukung penuh saya menjalankan hidup dan pekerjaan sesuai dengan passion saya.
  • Karena dia memiliki kepandaian dan ketrampilan untuk menciptakan hidup yang nyaman dan berkecukupan.
  • Karena dia memiliki kepandaian dan ilmu yang saya bisa pelajari begitu pula sebaliknya.
  • Karena kita bisa terbuka…

View original post 211 more words

Advertisements

5 reasons why i should watch BLUR concert

Damon Albarn in one of Blur's performance

Damon Albarn in one of Blur’s performance

Tebak siapa yang bakal mampir ke Jakarta bulan Mei nanti? Buat penggemar british music, khususnya alternative british music, nama Blur udah ga asing lagi, bahkan bisa dikatakan sebagai salah satu mbah brit music (atau yang biasa orang bilang britpop) yang jadi panutan dan idola kebanyakan musisi dan band seantero dunia. Yap, dan sebagai salah satu penggemar musik (dan musik mereka), saya harus nonton konsernya. Harus! Sebenarnya kalo dipikir-pikir tiketnya mahal, tapi kalo dikerucutkan ada 5 alasan yang membuat saya harus beli tiketnya, yaitu:

the simplicity and elegancy of a logo

the simplicity of a logo

1. Gitar pertama saya ada stiker Blur-nya.

Dulu, ketika saya sekolah dan baru mulai mengenal musik, dan baru mulai belajar gitar, saya membeli gitar bermerk Fender di salah satu toko musik di dekat rumah saya. Dan itu gitar pertama saya yang paling saya banggakan. Dulu gitar terbagi 2 secara umum, gitar ber-senar string atau nylon. Dan gitar string sangat digandrungi kalangan anak muda saat itu, karena apa ya, intinya karena gitar nylon dulu terkesan jadul dan khusus bagi kalangan expert, karena yang biasa memainkan nylon adalah mereka yang menggemari lagu klasik. Jadi ya ga aptudet gitu deh! Dan gitar Fender itu saya beli seharga 200 ribu. Jaman dulu harga segitu termasuk mahal lho.

Dan well, karena gitar baru terbeli dan kalo saya lihat gitar teman-teman saya itu banyak tempelan stikernya, dan menurut saya itu keren.. Oke, saya orangnya simpel, dan saya kayaknya ga bakal niru gitar-gitar yang penuh dengan stiker, jadinya saya memutuskan untuk membeli 1 stiker saja yang bakal ditempel di gitar baru saya tersebut. Dan setelah melihat-lihat di tukang stiker deket toko gitar itu juga, pilihan jatuh kepada stiker logo Blur! Entah kenapa saya suka banget sama logo Blur.. Mencerminkan classical dan simplicity, namun tetap luwes dan bergerak dinamis dengan aksen garis lurus dan melengkung.

Memang sepele kelihatannya, tapi gitar saya jadi lebih berkelas dengan tempelan stiker tersebut.

2. Video klip Blur pertama yang saya tonton di MTV adalah Beetlebum.

Beetlebum adalah video klip dari Blur yang pertama kali saya tonton di MTV. Saat itu MTV masih tayang di ANTV dan dulu masih hampir setiap hari tayangnya. Dari siang sampai malam seingat saya. Dan saya masih ingat dulu itu jaman-jamannya di rumah sendirian. Dan kalo sendirian kerjaan saya nyapu ngepel dan bersih-bersih rumah. Sembari ngebabu begitu enaknya sambil nyalain MTV dengan video-video musiknya, dan entah kenapa yang nyantol di otak saya adalah ketika MTV nayangin Beetlebum. Saya yang tadinya lagi ngepel jadi terdiam sejenak di depan TV. Video klip dan lagunya keren!

Oasis' performance. Check out who's got the huge crowds.

Oasis’ performance. Check out who’s got the biggest crowds

3. Blur = Oasis, atau sebaliknya.

Kalo disuruh milih antara Blur atau Oasis, terus terang saya lebih suka Oasis. Saya lebih dulu kenal dan menggemari Oasis dibanding Blur. Dan saya lebih mafhum lagu-lagunya Noel Gallagher cs dibanding Blur. Namun.. Karena sudah tidak mungkin lagi Oasis dapat saya saksikan live, karena sudah bubar tentunya.. Eh bisa aja sih kalo reunited. Jadinya kedatangan Blur ini bisa jadi sebagai “pengganti” datangnya Oasis. Kenapa? Karena Blur menurut saya equal to Oasis. Memang pasti ada pro dan kontra dan pasti ada pihak-pihak yang ga terima dan lebih berat sebelah ke Blur ataupun Oasis. Tapi menurut saya mereka sama. Sekali lagi, sama. Dan come on, intinya.. Blur itu YA SAMA AJA Oasis, dan Oasis YA SAMA KAYAK Blur.

Mereka selintingan, dan rivalitas abadi Damon Albarn dengan Noel atau Liam Gallagher udah kayak United vs City kalo di sepakbola, atau mungkin clasico Barca – Madrid. Susah deh ngejabarin bagusnya masing-masing mereka, mungkin kalo dirunut satu-satu 1 rim kertas folio ga cukup #asek.

13 (1999)

13 (1999)

4. Saya tumbuh di masa-masa SMP – SMA dengan album 13, dan dahulu pernah setahun menjalani ibadah puasa ditemani album The Best Of.

Album 13 yang keluar tahun 1999 itu adalah album jaman peralihan saya SMP ke SMA. Dan waktu itu saya udah koleksi kaset, jadi saya beli album itu karena ada lagu Tender, yang ngehits banget! Abis Tender, muncul Coffee & TV.. Habislah masa-masa itu dengan muter kenceng-kenceng album 13 di tape rumah. Bahkan sembari nyanyi-nyanyi koor Tender dengan teman saya. Oh my baby oh my baby, oh why.. Oh my.. SADES!

Setahun kemudian, muncul album The Best Of (2000), dan album itu SAIK! Disitulah wawasan saya tentang lagu-lagu Blur bertambah, yang mungkin saya ga sempat denger album-album lama mereka. The Universal, Country House, Parklife, Charmless Man.. Semua lagu-lagu itu gila. And i have to sing along with other Blur maniacs and see Damon sing it LIVE. Karena saya tahu (based on konser-konser mereka di YouTube) kalo animo penonton pada saat Albarn bawain lagu-lagu itu ruar biasa! Mudah-mudahan terjadi di Jakarta juga, amen..

Oh ya, bulan Ramadhan dan puasa taun 2000an saya “jalani” dengan album The Best Of. Bukannya banyakin ngaji dan solat ya, haha..

5. It’s a chance of a lifetime to see them live.

Yes, coba renungkan. Kapan lagi liat mereka manggung disini? Dari tahun 2000, berarti udah lebih dari 10 tahun chance mereka buat hadir ada. Dan mungkin kalo saya lewatin konser kali ini, bakal nunggu sekitar 10 tahun lagi. Oh.. Ga deh makasih.

Dan itulah.. 5 alasan. Memang lebih ke alasan subjektif sih. Tapi dengan subjektifitas seperti itu, menurut saya bakal menambah antusiasme dan adrenaline saya saat hadir ke Lapangan D Senayan tanggal 15 Mei nanti, hehe.. Nantikan!

Di bawah ini adalah salah satu performance Blur membawakan Tender di Hyde Park, 2012. Magnificent.

Tagged , , , , , ,

My Mix-birthday-tape

Image

Gambar diatas adalah cover sebuah mixtape. Apa itu mixtape? Menurut Wikipedia, mixtape adalah a generic name given to any compilation of songs recorded onto any audio format. Atau bisa dikatakan secara gampangnya, kumpulan track-track yang dijadikan satu kesatuan alias kompilasi. Lagu-lagu dalam mixtape bisa seenak pembuatnya, namun biasanya ada tema-tema tertentu. Bisa dijadikan koleksi pribadi, bisa untuk dikasih orang lain, atau bisa juga untuk di share ke khalayak ramai.

Daann, mixtape di atas adalah mixtape yang khusus dibuatkan oleh teman saya yang bernama Genoveva Hega Densana Medyani untuk ulang tahun saya kemarin haha. Memang sih saya yang request, karena di ulang tahun saya tahun ini sepi dari kado, haha.. Tapi biarlah. Karena saya tahu Hega itu punya sense of music yang oke (secara doi music director gitu), dan kebetulan musik-musik pilihannya juga saya suka.. Jadi saya tahu kalau saya meminta kepada orang yang tepat.

Kalau ada istilah “serahkan sesuatu kepada ahlinya” berarti saya sudah menjalankan itu dengan benar.

Singkat cerita beliau menyanggupi permintaan saya dan berjanji akan segera membuatnya. Saya senang sekali dan semalam beliau memberikan notifikasi kalo mixtape-nya sudah siap untuk diunduh. Haha. Saya penasaran sama lagu-lagu apa yang bakal dia berikan sampe saya susah tidur dan kegelisahan melanda #halah.

Dan disinilah saya, sembari bekerja dan sembari pula ditemani oleh rangkaian lagu-lagu dari my birthday mixtape. Ada 10 track semua dalam album ini, yaitu:

1. Never Grow Old (The Cranberries)

2. Home (Edward Sharpe & The Magnetic Zeros)

3. For Rose (Parov Stelar)

4. Just A Boy (Angus & Julia Stone)

5. Satellite (Guster)

6. Erase and Rewind (The Cardigans)

7. Sunburn (Beat Connection)

8. Labour of Love (Frente)

9. Sap Solids (Fun Adults)

10. Everyday (Buddy Holly)

Itulah. Saya yakin beberapa diantara kalian masih asing dengan beberapa judul lagu di atas, namun bisa saya ungkapkan bahwa kesepuluh lagu di atas adalah tembang-tembang yang oke.

Oh ya, perkenalan saya dengan Mbak Hega ini juga agak unik lho, berawal dari request sebuah cover mixtape juga untuk seseorang haha. Dan kami belum pernah bertemu sebelumnya, karena doi dikenalkan ke saya oleh seorang teman, dan doi berdomisili di Bali.

Tapi saya pernah ketemu lho dengan dia di suatu hari sebelum Tahun Baru kemarin, hehe. Ah, nanti saya ceritakan deh kapan-kapan.

Tagged , , ,

5 Phenomenal Indonesian Album

Sudah lama ga menulis disini. Baiklah, untuk memanaskan jari-jari dan kumpulan ide yang menggunung di kepala, marilah coba kita menulis yang ringan-ringan dahulu. Sebenarnya tulisan ini sudah lama ingin saya edarkan, namun baru sempat sekarang. Mari kita mulai.

Musik adalah jiwa saya. Musik menjadi bagian terpenting dari diri saya mulai saya kecil hingga besar seperti sekarang ini. Kakak saya yang mengenalkan saya akan musik. Kamarnya dahulu selalu jadi markas saya sepulang sekolah, karena di kamarnya ada sebuah tape dengan kumpulan kaset yang hingga 4 rak banyaknya. Dan tak terasa saya mengikuti jejak beliau. Dulu, kalo punya uang saya rela beli kaset daripada beli baju atau makanan. Alhasil kaset saya juga banyak jumlahnya, ya adalah 2 rak, hehe.

Musik Indonesia pun menjadi bagian penting dari diri saya. Dulu saya penggemar stasiun radio Trend Musik Indonesia (TMI) yang khusus memutar lagu-lagu dalam negeri. Hingga stasiun tersebut almarhum, saya masih mengingatnya hingga kini, dan menjadikan stasiun tersebut sebagai barometer informasi musik Indonesia saya.

Oke, kepanjangan ini intronya. Mari kita mulai countdown 5 album band Indonesia yang paling megah pada masanya. Dan terus terang, saya merindukan masa-masa itu. Masa dimana dunia digital belum seperti sekarang dan pengunduhan merajalela. Masa dimana kaset dan pensil menjadi teman akrab untuk menggulung pita yang kusut, dan walkman yang berat masih menjadi penghuni tas dari anak-anak sekolah dan kuliahan.

Kisah_Klasik_Untuk_Masa_Depan5. Sheila on 7 – Kisah Klasik Untuk Masa Depan (2000)

Siapa tak kenal band asal Jogja ini? Fenomenal sejak kemunculan album pertama mereka dengan menelurkan hits single macam Dan dan Kita, Sheila yang dahulu beranggotakan Duta, Eross, Adam, Sakti dan Anton ini semakin menancapkan kuku mereka di blantika musik Indo dengan kemunculan album kedua yang fenomenal bertajuk Kisah Klasik Untuk Masa Depan. Sahabat Sejati, Bila Kau Tak Disampingku menjadi hits dan merajai tangga lagu dalam negeri. Bahkan Sephia, lagu yang menceritakan tentang perselingkuhan menjadi kata resmi selingkuhan bagi sebagian masyarakat.

Album ini konon terjual hingga 1,7 juta kopi. Dahulu, penjualan di atas 1 juta kopi untuk musisi dalam negeri adalah sesuatu yang luar biasa. Dan Sheila adalah salah satu band yang berhasil melakukan itu. Setiap lagu di album ini enak-enak dan mudah dicerna untuk didengar. Bahkan beberapa lagu menjadi soundtrack sinetron-sinetron di Indonesia, dan mengawali era itu.

 

Jamrud_Ningrat4. Jamrud – Ningrat (2000)

Kalau ada ancaman terbesar dari band-band hebat yang bermunculan di awal 2000-an, tentunya Jamrud adalah satu-satunya nama yang bisa membuat bergidik. Bagaimana tidak, band alternative rock yang diproduseri oleh label kaya Log Zhelebour itu muncul dan langsung mencuri perhatian penikmat musik Indonesia, tua muda, kaya miskin dan dari berbagai lapisan masyarakat. Para pengamen dan anak jalanan membawakan lagu-lagu mereka di lampu merah, sedangkan pekerja kantoran dan orang yang naik mobil pun menyetel lagu-lagu mereka di dalam mobil.

Album Ningrat ini adalah album tersukses Jamrud, dimana mereka menjadi pionir band yang membuat video klip di hampir seluruh lagu mereka dalam sebuah album. Ditambah lagi dari lirik mereka yang nakal dan selalu mengundang kontroversi di beberapa judul lagunya. Satu yang fenomenal di album ini adalah Surti Tejo yang sempat mengalami pencekalan. Belum lagi Pelangi di Matamu yang merajai berbagai tangga lagu di Indonesia dalam hitungan bulan.

Album yang terjual 1,8 juta kopi ini berisi lagu-lagu yang kebanyakan diciptakan gitaris mereka, Azis. Dan satu lagi, olah vokal Krisyanto juga tak perlu diragukan lagi dan menjadi nyawa Jamrud selama ini. Terbukti setelah Krisyanto sempat cabut dan digantikan vokalis baru, pamor Jamrud menurun. Dan saat ini, mereka coba meraih kembali popularitas yang hilang dengan Krisyanto sebagai vokalis mereka kembali.

Bintang_Lima3. Dewa – Bintang Lima (2000)

Tak ada lagi comeback dari sebuah band yang paling dinantikan jagad musik Indonesia kecuali kembalinya Dewa 19. Ya, sepeninggal Ari Lasso yang tersandung kasus narkoba dan beberapa member lain yang hengkang, Dewa 19 lama mencari vokalis hingga mereka menemukan Elfonda Mekel alias Once sebagai pengganti. Vokalis baru mereka ini memiliki karakter suara khas dan mirip Sting sehingga tak ada tandingannya di Indonesia. Dan untuk drummer sebagai suksesor Wong Aksan, terpilihlah Tyo Nugros, menemani Ahmad Dhani dan Andra Junaidi.

Album Bintang Lima berisikan lagu-lagu yang bisa dikatakan semua menjadi hits. Bahkan 4 lagu awal dari album ini merupakan Fantastic Four dengan menghadirkan Roman Picisan, Dua Sedjoli, Risalah Hati dan Separuh Nafas. Siapa yang tak mengenal keempat lagu tersebut? Once dengan karakter vokal khasnya mampu melepaskan bayang-bayang Ari Lasso dengan Dewa 19 selama ini. Bahkan untuk lebih melepaskan image itu, angka 19 di belakang nama Dewa dihilangkan.

Album ini menjadi tak henti mewarnai hari-hari penikmat musik Indonesia kala itu, hingga terjual kurang lebih sebanyak 1,7 juta kopi. Album ini menjadi penanda era baru Dewa (19) semenjak kesuksesan album terakhir Pandawa Lima yang masih dikawal Ari Lasso. Setelah Bintang Lima, berturut-turut album Dewa mengalami perubahan jenis musik (IMO), yaitu Cintailah Cinta, Laskar Cinta dan Republik Cinta.

Sesuatuyangtertunda2. Padi – Sesuatu Yang Tertunda (2001)

Padi mulai merengkuh kesuksesan semakin dalam di dunia musik Indonesia lewat album kedua ini. Setelah memberikan shock therapy di album pertama Lain Dunia, Piyu cs. semakin menguatkan image Superband yang ada pada diri mereka lewat kedigdayaan Sesuatu Yang Tertunda. Album ini menjadi titik tolak mereka sebagai Most Wanted Band kala itu dengan terjual sebanyak 1,8 juta kopi.

Band yang lahir lewat album kompilasi Indie Ten tersebut tadinya tidak terlalu diperhitungkan, malah band lain yang menjadi jagoan dalam promosi album tersebut, Wong, menjadi kalah pamor. Dan Sesuatu Yang Tertunda lewat single-single mereka seperti Sesuatu Yang Indah, Semua Tak Sama dan lagu tergalau tahun itu, Kasih Tak Sampai merajai tangga-tangga lagu dalam negeri. Band yang terkenal kalem dalam setiap penampilannya sanggup menyihir penggemar musik Indonesia dengan falsafah Padi yang semakin berisi semakin merunduk. Padi kalau tak salah bahkan menjadi band Indonesia pertama yang memenangkan sebuah kategori award di MTV Asia dan perform di acara tersebut. Jangan lupakan keikutsertaan mereka dalam soundtrack World Cup 2002 sebagai perwakilan artis Asia.

Album ini adalah juara dan lagu-lagunya masih memorable hingga saat ini. Setelah album ini, Padi mengalami sedikit penurunan dalam hal penjualan album dan mereka kini vakum sehingga dirindukan penggemarnya. Piyu sang gitaris yang menciptakan sebagian besar hits-hits Padi memilih bersolo karir dan menjadi produser. Mari kita tunggu kehadiran mereka kembali.

Bintang_di_Surga1. Peterpan – Bintang di Surga (2004)

Namun semua cerita indah band-band legendaris di atas sirna ketika sebuah band dari Bandung yang menggunakan tokoh fantasi dongeng masa kecil ini muncul. Ya, Peterpan. Band yang dikomandoi Nazriel Irham itu sanggup memutarbalikkan nominal penjualan album dari artis-artis Indonesia menjadi suatu rekor penjualan yang sepertinya sangat sulit dipecahkan hingga masa-masa mendatang, terlebih di era digital belakangan ini.

Album Bintang di Surga terjual sebanyak 2,7 juta kopi dan menjadi album terlaris di Indonesia. Bagaimana tidak jika hampir semua orang yang saya temui dahulu memiliki setidaknya 1 buah kaset Peterpan di rumah mereka. Bahkan saya masih ingat supir angkot pun memutar album ini di mobilnya. Lucunya, ketika muncul pertama kali album ini tidak mencantumkan teks dari lagu-lagu mereka di sampul kasetnya. Kemudian dikeluarkan lagi edisi dengan teks lagu setelah album ini berpotensi meledak.

Fenomena maha dahsyat nya penjualan album ini tak lepas dari pesona dan kharisma Ariel sebagai front man. Juga lagu-lagu yang sangat easy listening dan mengena. Ada Apa Denganmu, Mungkin Nanti, Kukatakan Dengan Indah dan seluruh lagu lain di album ini tak bisa lepas dari telinga para pendengar musik Indonesia. Konser-konser mereka dipadati penonton dan album ini merupakan puncak dari kehadiran mereka di dunia musik Indonesia semenjak kemunculan mereka lewat album pertama, Taman Langit.

Kini Peterpan telah berganti nama menjadi Noah dan menurut saya, mereka masih menjadi band nomor 1 di Indonesia.

 

Ungu_MelayangHonorable mention:

Ungu – Melayang (2005)

Setahun setelah Peterpan mengambil alih tongkat estafet Superband di Indonesia, hadir Ungu sebagai band besar baru Tanah Air. Ungu yang tadinya hanya band biasa yang kurang begitu diperhitungkan (dari penjualan album) nyatanya unjuk gigi dengan lagu-lagu mereka yang merakyat, khususnya di album Melayang ini. Demi Waktu, Seperti Yang Dulu, Beri Aku Cinta dan lagu lainnya menjadi lagu rakyat yang sering didendangkan, terlebih familiar di kalangan para pengamen dan anak jalanan (tolok ukur dari keberhasilan suatu band melemparkan lagu-lagu di pasaran). Ungu bersama Peterpan saat itu menjadi 2 band besar di Indonesia, seiring meredupnya band-band lama seperti Sheila atau Padi.

Tagged , , , , , , , , , ,