Ronaldo, Messi? Biasa. Ladies and gentlemen.. Manuel Neuer!

Gelaran Ballon d’Or atau Bola Emas atau Golden Ball yang merupakan simbol pemain terbaik dunia dalam pentas akbar seluruh pesepakbola, akan diumumkan dalam waktu dekat, tahun depan tepatnya, pertengahan Januari 2015. Penghargaan ini disematkan kepada pemain sepakbola yang memiliki penampilan terbaik selama satu tahun belakangan, dan sungguh, ini merupakan capaian tertinggi seorang pemain sepakbola dalam hal penghargaan individu.

Dan tahun 2014 ini, sudah terpilih 3 pemain yang menjadi kandidat peraih Golden Ball yang penjuriannya menggunakan sistem nama yang di-vote oleh seluruh pelatih dan kapten dari tim nasional seluruh dunia, dan juga jurnalis internasional tersebut. Siapakah 3 nama yang dimaksud? Saya berani bertaruh bahwa anda pasti mengenal 2 nama yang akan saya sebut lebih dahulu, meski anda bukanlah penggemar sepakbola sekalipun.

Dua nama pertama adalah langganan dari setiap ajang pemilihan pemain sepakbola terbaik. Mereka adalah 2 pemain yang level persaingannya sangat tinggi dan menjadi cerminan legenda sepakbola masa kini. Apa yang mereka lakukan di blantika sepakbola selalu menjadi rekor, rekor dan rekor, seiring gelar juara yang berdatangan bagi klub masing-masing tentunya. Well jika anda menyebut Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, tentu bukanlah suatu hal yang mengagetkan.

Ronaldo dan Messi merupakan langganan penghargaan. Dan mereka berdua juga pernah merasakan tahta tertinggi Golden Ball. Itulah alasan saya menulis judul tulisan ini di atas, bahwa bila suatu penghargaan dihelat dan kedua pemain tersebut menjadi nominasi atau bahkan pemenangnya, itu menjadi suatu hal umum dan biasa. Ronaldo dan Messi seperti bergantian merebut award demi award. Bukanlah suatu hal yang mengejutkan karena performa mereka juga extra ordinary sepanjang tahun. Dan konsistensi mereka, itu yang terpenting. Khusus Messiah, ia merebut 3 gelar FIFA Ballon d’Or berturut-turut dari 2010 hingga 2012, seiring penguasaan Barcelona kala itu di panggung sepakbola Eropa dan dunia. Nama FIFA Ballon d’Or sendiri secara resmi digunakan mulai 2010 setelah nama Ballon d’Or yang tadinya hanya digunakan oleh majalah France Football di merger dengan penghargaan FIFA World Player Of The Year, menjadi FIFA Ballon d’Or. Sementara pesaing abadinya, CR7 menghentikan kedigdayaan Messi tahun lalu (2 kali setelah tahun 2008), menyusul performanya yang sangat apik sepanjang 2013.

Dan kini, tatkala mereka berdua kembali masuk nominasi, muncul 1 nama yang menurut saya pribadi, adalah sosok yang patut diperhitungkan belakangan ini. Ia mungkin memang tidak rajin bikin gol dan juga tidak punya lari secepat kilat seperti Messi atau Ronaldo, namun ia memiliki kekokohan sebagai orang yang berdiri paling akhir di depan garis gawang, nomor satu di klub maupun timnas. Dia adalah kiper Jerman yang membawa der panzer juara dunia tahun ini, Manuel Neuer. Dan juga, penggondol Golden Glove atau kiper terbaik sepanjang turnamen.

Neuer hadir sebagai nominasi dan juga sebagai ancaman baru Messi dan Ronaldo. Ada opini publik yang mengatakan bahwa perengkuh Bola Emas adalah mereka yang membawa timnya menjuarai suatu turnamen besar. Khusus Neuer, Piala Dunia 2014 adalah bukti sahih. Begitu juga yang terjadi dengan Zinedine Zidane (1998), Ronaldo Nazario (2002) dan Fabio Cannavaro (2006). Hanya Messi saja yang berhasil memutus mata rantai itu di 2010 ketika Spanyol jadi juara dunia, namun tahun ini Neuer tampil sangat luar biasa. CR7 pun yang membawa Real Madrid meraih La Decima seakan masih kalah terang sinarnya. Kiper yang di awal karirnya membela Schalke tersebut dikenal dengan gayanya yang seperti bek atau sweeper. Ia tak segan memainkan bola di hadapan pemain lawan dan melakukan aksi-aksi penyelamatan layaknya seorang bek.

Ditambah lagi, bagi kalian yang juga memainkan game FIFA 15, tentunya pasti mengetahui bahwa Neuer ini adalah kiper yang amat sangat sulit ditaklukkan oleh lawan, karena ratingnya mencapai 90! Sedikit di bawah Ronaldo dan Messi, dan rating itu adalah rating bagi seorang kiper yang tugasnya “hanya” menahan bola agar tidak masuk gawang.

Siapapun pemenangnya, saya yakin bahwa itulah yang terbaik. Dan memang ke-3 pemain ini telah menorehkan prestasi tersendiri di klub dan negaranya masing-masing. Ronaldo tak henti mencetak gol dan terus menjadi top skor, membawa Madrid juara Liga Champions. Messi memecahkan rekor Telmo Zarra sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah La Liga, dan Neuer membawa Jerman menjuarai Piala Dunia ke-4 mereka.

Namun, tentunya adalah sebuah subjektivitas ketika saya memilih Neuer. Bila saya menjadi kapten timnas, jurnalis ataupun pelatih, maka Supermanu adalah pilihan utama. Mari nantikan apakah akan hadir kiper pertama (kedua setelah Lev Yashin ketika masih bernama Ballon d’Or) sebagai pemain terbaik dunia.

Advertisements
Tagged , , , ,

Mencari Inspirasi di Hari Guru.

IMG_6042

Sebenarnya tulisan ini harusnya sudah selesai dibuat beberapa bulan lalu, bagusnya pasca Kelas Inspirasi Jakarta, haha. Namun mengendap terlalu lama di draft, hingga akhirnya momen Hari Guru kemarin membuat saya merasa inilah saatnya menerbitkannya.

Kalian semua sudah pada tahu Kelas Inspirasi kan? Well, kalau sudah tahu bagus berarti. Kalau belum, ya tidak apa-apa, hehe. Kelas Inspirasi atau KI adalah suatu program dari Indonesia Mengajar (atau turunannya, atau temannya, atau saudara sepupunya, ya begitulah) yang memiliki program mengajar sehari pada hari kerja bagi mereka-mereka yang ingin memberikan inspirasi pada anak-anak sekolah (khususnya anak-anak SD), dan bisa dikerucutkan kembali sekmennya yaitu anak-anak SD menengah kebawah. Itu sih kira-kira yang bisa saya tangkap. Oke, disini saya tidak akan lagi membahas apa dan bagaimana definisi dari Kelas Inspirasi atau yang selanjutnya akan kita sebut dengan KI. Disini saya akan mencoba menggali lebih dalam lagi, apa yang telah saya dapatkan dari keikutsertaan saya sebanyak 2 kali dalam hal berinteraksi dengan anak-anak tersebut dan mengajarkan mereka ilmu sesat mengenai pekerjaan saya.

Segala puji bagi Tuhan, saya sanggup menyelesaikan 2 kali KI yang saya ikuti. Pertama, di kota yang kalian semua sudah pada tahu pasti dan mungkin juga kalian ikut cintai ngebully, yaitu Bekasi. Oke yang mau ketawa or ngeledek saya silakan. Dan yang kedua adalah di Jakarta. Dari 2 kali keikutsertaan itu saya mendapat 2 pengalaman yang berbeda, yang keduanya sama-sama memberikan arti yang besar bagi saya yang merupakan newbie dalam bidang ajar-mengajar ini.

Awalnya, kenapa saya tertarik berada dalam barisan orang yang meluangkan waktunya sehari di tengah hari kerja yang super sibuk untuk bermain bersama anak-anak SD adalah, harus diakui bahwa saya memang bercita-cita menjadi seorang pengajar. Pengajar disini bukan guru ya, melainkan mungkin dosen dan semacamnya. Kenapa begitu? Mungkin ini ada darah keturunan atau genetika dari almarhum ayah saya yang memang dulu berprofesi sebagai dosen, selain juga pegawai negeri. Ga tau kenapa, saya yang pemalu dan pendiam ini ingin sekali meningkatkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain, dan tampaknya mengajar adalah salah satu sarana yang tepat. Lagipula saya ingin memperluas jaringan dan koneksi, menambah teman, menyegarkan otak, tanpa harus memikirkan uang. Artinya, saya punya prinsip kalau saya tidak ingin mencari uang di bidang pengajaran dan semacamnya. Karena memang tujuan saya sebenarnya adalah menyalurkan passion, dan tentunya belajar. Dan, tahukah kalian bahwa mengajar anak SD TIDAKLAH LEBIH MUDAH dibanding mengajar anak-anak remaja atau dewasa? Oke, saya perlu katakan bahwa manis-manis begini saya pernah memiliki pengalaman sedikit mengajar Bahasa Inggris untuk anak SD dan SMP, dan juga menggantikan teman saya mengajar bimbel dan kursus untuk anak SMA, haha. Dan pasca berpartisipasi dalam KI saya menemukan bahwa mentransfer apa yang kita ingin katakan ke dalam bahasa anak-anak adalah tidak semudah yang kita kira. Saya berkali-kali harus memberikan applaus bagi bapak dan ibu guru yang telah sabar dan berdedikasi dalam profesinya sebagai Guru SD. Itu susah bok.

Mari kita tengok sebentar apa yang telah saya dapatkan dalam 2 kali KI yang telah saya ikuti.

1. Kelas Inspirasi Bekasi.

KI ini adalah KI pertama yang saya ikuti. Saat itu saya masih belum tahu apa-apa mengenai KI dan KI Bekasi menjadi titik awal perkenalan saya dengan dunia ajar mengajar anak SD yang (ternyata) menyenangkan itu. Saya tak akan melupakan KI Bekasi dan pengalaman di dalamnya, juga teman-teman yang saya temui di sana. Hingga kini kami masih berhubungan baik dan berkomunikasi, dan kami berjanji akan mendaftarkan diri kembali di KI Bekasi selanjutnya yang katanya akan hadir awal tahun depan. Well, Bekasi meskipun jauh jaraknya di luar planet bumi, ternyata memberikan banyak pengalaman bagi saya. Untuk kalian yang belum pernah atau lupa lagi atau ingin membaca ulang ceritanya, silakan cari di blog saya ini juga.

2. Kelas Inspirasi Jakarta.

Ini adalah chapter kedua dari perjalanan KI yang saya ikuti. KI Jakarta menjadi kawah candradimuka dari pengalaman transfer ilmu dan arti profesi kepada anak-anak SD, dengan kondisi yang agak berbeda dari apa yang telah saya alami di Bekasi. Secara keseluruhan ada beberapa hal yang saya rasakan berbeda antara KI Bekasi dan Jakarta.

Pertama, tingkat kecerdasan dan emosional dari siswa-siswi di sekolah. Terdapat perbedaan antara Bekasi dan Jakarta. Di Bekasi, agak lebih sulit meladeni tingkah polah mereka. Saya sampai mengeluarkan suara yang melebihi kadar biasanya untuk mencoba menenangkan suasana saat terjadi kegaduhan di kelas. Saya ingat betapa capeknya saya dan haus sekali, apalagi ketika mengajar anak-anak kelas 1, 2, 3 dan 4. Untuk kelas 5 dan 6, seiring bertambahnya usia, mereka agak lebih mudah dijinakkan. Hal itu pula yang membuat saya memiliki anggapan bahwa mereka, para Guru SD adalah manusia-manusia yang memiliki kesabaran dan tingkat dedikasi yang luar biasa, karena mengajar anak-anak itu tidak mudah, kawan.

Berbeda dengan KI Jakarta, meskipun saya tidak kebagian kelas 1 dan 2 (kalau tidak salah saya baru kebagian kelas 3 ke atas), namun mereka di kelas 3 dan 4 sudah lebih mengerti dan pintar. Bahkan di salah satu kelas saya menemukan seorang anak yang sudah mengerti arti demokrasi dan semacamnya. Sudah paham mengenai trias politica (eksekutif, legislatif, yudikatif) dan sistem ketatanegaraan sederhana. Saya tidak begitu paham apakah di sekolah sekarang sudah diajarkan mengenai tata negara (yang akhirnya saya dengar memang sudah diajarkan), yang jelas kalau tidak salah ketika jaman saya (jangan menganggap jaman itu terjadi lama sekali ya, haha) nampaknya belum diajarkan. Entah saya yang lupa, atau saya yang ketika pelajaran itu diajarkan tidak masuk. Krik.

Selain itu, KI Jakarta juga mengenalkan saya dengan teman-teman baru dengan profesi yang berbeda-beda dan lebih banyak. Sangat jauh dengan KI Bekasi dimana saya hanya bertemu dengan 5 orang, ada lebih dari 10 pengajar di KI Jakarta dengan latar belakang berbeda-beda. Mulai dari engineer, lawyer, reporter televisi, akuntan, pemasaran, hingga penyanyi yang merangkap fotografer juga ada. Lengkap. Dan saya bersyukur juga berbahagia menjadi bagian dari mereka dalam meramaikan proses belajar mengajar sehari tersebut.

Personil yang banyak membuat kami sempat kesulitan mengatur jadwal dari para pengajar untuk mengajar di kelas. Sempat terjadi satu-dua kali rapat kecil diantara kami sebelum akhirnya jadwal tersepakati. Dan ketika hari H, meskipun saya sudah pernah merasakan atmosfir KI sebelumnya, namun KI Jakarta kali ini memberikan sesuatu yang berbeda. Ya seperti yang saya katakan di atas, suasana dan kondisi geografis juga psikologis anak-anak Bekasi dan Jakarta tidak bisa disamakan. Secara garis besar, kondisi sekolah mulai dari sarana prasarana, jumlah guru dan alat kelengkapan lainnya juga berbeda. Begitulah.

Kelas Inspirasi nampaknya akan terus hadir dan berjalan, dan menurut saya hal ini merupakan terobosan cerdas dari seorang yang bernama Anies Baswedan, yang kini telah menjadi Menteri Pendidikan Dasar, Menengah dan Kebudayaan. Pak Anies telah memberikan suatu warna baru yang kreatif, inovatif dan out of the box. Dimana kami-kami yang notabene bukanlah seorang guru mampu “menyicipi” bagaimana rasanya menjadi seorang guru meskipun hanya sehari. Kami yang juga memiliki satu dan beberapa hal yang bagus dan menarik untu di share (terlebih bagi anak-anak kecil yang masih polos dan diharapkan mampu menjadi penerus bangsa) memiliki kesempatan itu. Dan kami hanya merelakan 1 hari cuti yang kami punya dari kantor untuk bermain dan belajar bersama mereka.

Yang saya pikirkan kali ini adalah, saya ingin mencari suatu hal yang lain yang akan saya ajarkan atau bagikan kepada anak-anak itu bila ada Kelas Inspirasi selanjutnya yang ingin saya ikuti. Bekasi Sang Kota Megapolitan nampaknya akan menggelar KI kembali pada bulan Februari, dan sebagai hometown, kehadiran KI Bekasi wajib hukumnya bagi saya untuk ikut serta, hehe. Omong-omong sudah 2 kali saya mengajarkan mengenai kepemiluan, tata negara, presiden, dan demokrasi kepada anak-anak SD tersebut. Dan menurut saya di kali ketiga nanti saya akan mengajarkan sesuatu yang lain.

Apa ya? Karena profesi saya adalah pekerja negara di bidang kepemiluan, dan bila menilik dari profesi lain saya sebagai dosen pemula juga pebisnis di bidang insurance, hal itu sepertinya akan sulit untuk diterapkan kepada anak-anak SD. Well, mungkin bisa. Namun teknis dan materi pengajarannya harus disajikan dengan tepat. Atau tentang kenotariatan? Selain masih sulit saya temukan formula penyampaian mengenai dunia buat membuat akta, saya juga belum menjadi notaris sehingga saya merasa belum menguasai hal tersebut, hehe. Atau hobi saya saja ya? Bagaimana jika saya mengajarkan mengenai menulis, ngeblog, atau untuk anak-anak cowoknya ngomongin sepakbola? Atau genjrang-genjreng bernyanyi di waktu malam? Halah. Haha. Itulah yang masih saya pikirkan hingga mungkin tiba saatnya nanti saya telah memiliki jawabannya.

Akhir kata, mengutip kata Pak Anies yang sempat saya dengar beberapa hari lalu di televisi, bahwa sudah saatnya kita memberikan keistimewaan lebih kepada guru atau orang yang berprofesi sebagai guru. Dalam apapun pekerjaan kita. Artinya, bila kita adalah pemilik restoran misalnya, maka apabila ada guru yang makan di tempat kita, mungkin kita bisa berikan potongan harga atau makanan gratis, begitulah kira-kira kalau saya tidak salah tangkap, haha.

Selamat Hari Guru untuk para guru se-Indonesia. Jadi guru itu sulit, lho. Dan masih banyak guru yang hidup dibawah garis kesejahteraan, padahal apa yang mereka ajarkan banyak sekali dan manfaatnya sungguh besar bagi pembentukan karakter dan isi otak SDM bangsa ini. Tugas pemerintah untuk lebih memperhatikan guru-guru dan tingkat kehidupannya agar layak, dan mereka juga bisa selalu menjalankan tugas dengan baik. Dan tak lupa pula pembentukan kurikulum materi pengajaran yang tepat.

Tagged , ,

Mereka katakan, musik Indonesia berhenti di tahun 90-an… (review of /rif & Sheila on 7 concert)

326610_620

Apa yang tersisa dari musik Indonesia dewasa ini? Begitu banyak artis dan band bermunculan, juga tentunya di era digitalisme sekarang ini, mau tak mau memutar kembali memori kita ke beberapa tahun lalu, khususnya bagi mereka yang juga besar bersama saya di akhir-akhir tahun 90-an, yang ketika itu sedang mengikuti perkembangan musik yang ada. Stasiun radio saat itu masih menjadi barometer mana saja musik terbaru yang sedang hangat dibicarakan, menarik untuk didengar dan diikuti. Dan juga kemunculan video klip menjadi sesuatu yang sakral. Video klip baru kehadirannya selalu ditunggu setiap akhir pekan, bahkan sutradaranya pun menjadi buah bibir, jika berhasil men-direct klip yang memiliki sinematografi ciamik, dan banyak lagi penghargaan untuk menilai keberhasilan sebuah video klip bukan hanya dari sisi gambar, namun skrip cerita bahkan modelnya. Dan saat itu, bentuk tertinggi akan suatu karya musik adalah penjualan album yang masih berbentuk kaset atau piringan cakram padat (Compact Disc/CD). Itulah masa-masa dimana saya tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak yang menggemari musik dan juga artis-artisnya, dalam hal ini musik Indonesia.

Bila kita berbicara musik yang dimainkan oleh sekumpulan orang alias band, /rif dan Sheila on 7 adalah salah dua band yang mewakili kedigdayaan musik Indonesia saat itu.

Dan ketika saya melewati daerah Fatmawati, saya melihat baliho di pinggir jalan kalau dua band itu akan menggelar konser tanggal 19 September, saya tanpa pikir panjang segera mencari infonya dan mencanangkan tekad harus menontonnya, karena saya lekat dengan musik-musik mereka dan seperti memiliki ikatan emosional, meskipun saya bukanlah anggota fans club kedua band itu.

Sheila dan /rif adalah 2 band dengan jenis musik berbeda. Sheila band asal Jogjakarta, memiliki warna musik mayoritas pop dengan sedikit ala-ala rock, paling banyak terdapat di raungan gitar pada beberapa lagu, atau bahkan kadang mereka memainkan blues, dikemas dalam bentuk musik yang amat sangat easy listening, berirama menyenangkan dan mudah diikuti dan jaminan digemari. Musik-musik Sheila adalah obat bius bagi kebanyakan rakyat Indonesia yang suka mendengar musik, dan dari berbagai golongan usia. Sedangkan /rif, ya begitu cara menulisnya, dengan garis miring dan huruf kecil, adalah band rock tulen yang saya masih ingat kepanjangannya adalah Rhythm In Freedom. Kepanjangan itu hanya mereka sebutkan di awal-awal kemunculan, sementara nama /rif sudah tenar hingga mereka merasa tidak perlu memperkenalkan nama panjang itu lagi. /rif adalah band rock yang sangat berkarakter, memainkan mayoritas musik rock dengan sedikit warna pop (kebalikan dari Sheila). Namun asiknya, karakter lagu rock di setiap tembang /rif kebanyakan mudah diikuti dan dimengerti, sehingga masih bisa dinyanyikan dan dimainkan lagunya oleh orang-orang. /rif semakin lama tumbuh menjadi band dengan aksi panggung yang sangat menawan dan atraktif, dengan kostum yang total dan enak untuk dipandang. Bila berpatokan pada aksi panggung band luar negeri, maka Marilyn Manson bisa menjadi parameter. Ditambah lagi, keahlian skill masing-masing personel band asal Bandung tersebut dalam memainkan alat musiknya tidak perlu diragukan.

Apa hubungan kedua band diatas dengan saya? Oke. Semenjak kemunculan Sheila dan /rif pertama kali di blantika musik Indonesia, saya sudah tertarik dan memiliki kaset serta mendengarkan lagu keduanya. Memang yang membeli kaset adalah kakak-kakak saya, namun setelah itu otomatis saya menjadi plagiator dengan membeli kaset-kaset mereka juga di album ke-2, 3 dan seterusnya. Khusus Sheila, lagu-lagu mereka praktis pula menjadi soundtrack kehidupan saya di jaman SMA. Dulu, kegemaran saya dan teman-teman adalah bermain band di studio dekat rumah. Dengan uang sewa 35 ribu rupiah, saya bersama 5-6 anak lain patungan masing-masing 5000 rupiah. Hanya dengan bermodalkan buku Music Book Selection (MBS) yang berisi chord-chord gitar, maka kami sudah bisa bermain band 1 jam lamanya.

Selain bermain band, lagu-lagu Sheila dan /rif juga menjadi lagu-lagu untuk saya belajar bermain gitar. Atau kasetnya mengisi walkman saya yang dibawa-bawa ke sekolah atau awal kuliah saat itu, hehe. Kaset-kaset Sheila dan /rif juga menjadi pengisi rak kaset abang saya ketika itu di kamar, salah satu ruangan yang menjadi markas bersejarah saya mengenal musik, dari rak berisi kaset-kaset koleksinya beserta sebuah mini compo merk Polytron. Disitulah singgasana saya bersemayam setiap pulang sekolah hingga malam hari. Oh ya, dulu lagu-lagu Sheila dan /rif juga menjadi jagoan di tangga-tangga lagu radio yang kini telah almarhum semacam Trend Musik Indonesia (TMI), atau bahkan video klip mereka saling berlomba meramaikan kompetisi video klip macam Video Musik Indonesia (VMI) atau tayangan-tayangan MTV yang dulu menjadi makanan kita sehari-hari. Okelah singkat kata, anak Generasi 90-an pasti sangat akrab dengan hal-hal ini, haha.

Dan mari kita langsung menuju konsernya. Karena konsernya diadakan weekend tepatnya Jum’at malam, saya menyangka panggung di Istora akan penuh dengan penonton, seperti halnya ketika saya menonton GIGI ketika mengadakan konser ulang tahun di tempat yang sama. Namun yang terjadi adalah, penonton datang melambat bagaikan siput. Sempat khawatir bahwa konser ini kurang mendapat apresiasi music lovers karena hingga pukul 19.30 penonton belum juga berdatangan, namun beberapa menit menjelang salah satu band naik panggung (yang terus terang saat itu saya belum tahu siapa), audiens sudah mulai penuh. Pandangan saya tertuju pada kelas festival yang berdiri dan saya merasa beruntung tidak membeli tiket di tempat itu, karena saya memiliki pengalaman yang kurang asoy ketika berada di kelas festival saat konser GIGI. Saat itu kaki saya rasanya mau rontok karena pegal luar biasa ketika harus berdiri selama 3 jam, dan aroma yang hadir di arena festival luar biasa, bau asam ketiak dimana-mana. Untuk kaki yang rontok, nampaknya saya sudah renta karena saya iri melihat mereka yang sepertinya menikmati konser sembari duduk. Oke, ini bukan konser metal yang HARUS DITONTON SAMBIL BERDIRI seperti Metallica, dan pilihan saya kali ini tepat. Untuk showcase semacam ini memang lebih baik diikuti sambil duduk. Jadilah saya membeli kelas Silver, duduk. Dan duduk pun masih menjadi masalah karena bangku Istora tidak nyaman untuk dipakai duduk lebih dari 1 setengah jam, pantat saya panas haha.

Sempat terpikir konsep apa yang diusung promotor untuk pertunjukan 2 band seperti ini, namun pada akhirnya memang giliran satu persatu Sheila dan /rif yang tampil selama kurang lebih 1 setengah jam. Dan saat lampu panggung dimatikan, layar yang berada di atas panggung yang dibangun di tengah-tengah Istora menampilkan profil /rif beserta wawancara singkat dengan personil-personilnya, produser label tempat mereka bernaung, dan klip-klip yang pernah mereka buat. Kita semua tahu bahwa sebentar lagi Andy dan kawan-kawan yang akan memanaskan Istora. Dan benar saja, setelah kita semua dilatih untuk memiliki jiwa nasionalis dengan terlebih dahulu menyanyikan Indonesia Raya, kelima personel /rif naik panggung untuk menggebrak dengan lagu pembuka, Dunia. Lagu ini memang cocok dijadikan awalan setlist konser. Lagu yang menjadi soundtrack Spider-Man untuk regional Asia itu sukses membuat panas istora, untuk kemudian disambung dengan lagu ke-2, Jeni.

Jeni adalah lagu yang sangat saya gemari. Lagu yang berasal dari album perdana /rif bertitel Radja dengan gambar katak di sampul albumnya itu, menjadi lagu yang sangat enak untuk dinyanyikan bersama. Kalau saja saya berada di festival, mungkin saya sudah jejingkrakan sembari teriak-teriak ikut bernyanyi. Posisi saya yang duduk pun tidak membuat saya diam, saya bernyanyi sekuat tenaga karena saya hapal betul setiap liriknya (ya iyalah orang jaman dulu muter lagu ini terus haha). Saya sangat menikmati lagu /rif di awal-awal kemunculannya. Menurut saya lagu-lagu mereka saat itu sangat orisinil dan enerjik. Apalagi setelah Jeni, hadirlah Bintang Kejora. Lagu yang terdapat di track 1 album 1 itu benar-benar membuat saya sing along. Tidak peduli kalau di kelas Silver tempat saya duduk, saya aja sepertinya yang hapal benar setiap lirik yang dinyanyikan Andy. Bintang Kejora adalah salah satu lagu ballad /rif yang tak banyak orang tau, namun begitu enak untuk didengar. Itulah lagu dimana saya pertama kali mengenal /rif, hehe. Bintang Kejora dinyanyikan Andy dengan penuh penghayatan, dan tata lampu panggung berubah meredup. Ah, nostalgia yang mantap!

Setelah dibawa ke dalam mesin waktu bersama Bintang Kejora, Andy mulai berinteraksi dengan penggemar. Say hello, cerita sana sini sampai mulai masuk ke lagu berikutnya. Lagu selanjutnya adalah lagu yang menjadi jagoan di album The Best of /rif, lagu ini menjadi lagu terakhir /rif yang masih bisa “diikuti” menurut saya. Lagu yang dimaksud adalah Joni Esmod, yang bercerita tentang koruptor. Joni Esmod masih sanggup membuat saya bergoyang mengikuti irama. Andy membawakan ambience dengan aksi panggungnya yang baik. Tak bisa dibayangkan bila bukan Andy yang menjadi frontman /rif. Setelah Joni Esmod, lagu yang paling tenar yang dibawakan, Radja. Agak aneh karena sejujurnya saya kurang begitu menggemari Radja, namun karena lagu ini sudah automatically tersimpan di memori kepala, jadi setiap bait lirik yang dinyanyikan, saya pun otomatis bernyanyi. SAYA HAPAL DI LUAR KEPALA. Dan kalau bukan “jasa” dari Radja yang membuat saya belajar bermain gitar, mungkin lagu tersebut akan berkurang value-nya, haha. Saya berterima kasih kepada /rif dan Radja atas ilmu bagaimana “memencet” chord gitar sampai jari-jari saya kapalan dan bengkak. Kalau tidak begitu, mungkin saya tidak bisa menggalau genjrang-genjreng gitar hingga saat ini.

Setelah Radja, /rif mencoba cooling down dengan membawa lagu orang lain, dan pilihan mereka jatuh kepada High and Dry. Lagu legendaris Radiohead tersebut dibawakan dengan santai yang membuat semua penonton bernyanyi. Lepas High and Dry, ada satu lagu yang saya sangat tidak menyangka dibawakan. Apakah itu? Ternyata Bunga, saudara-saudari sekalian.

Bunga menjadi lagu di album pertama /rif yang juga saya gemari. Saya jadi ingat dahulu sering sekali menyetel lagu Bunga dan menganggap itu adalah masterpiece kedua /rif di album Radja, sampai kaset abang saya itu kepotong di reff-nya karena saya tidak sengaja menekan tombol REC dengan posisi penutup kanan kiri kaset belum dipatahkan. Oke, ini tidak perlu saya jelaskan, hanya mereka yang mengerti saja yang paham, haha. Bunga adalah parameter lagu ballad /rif saat itu. Karena di album-album selanjutnya, publik menanti apakah ada lagu ballad lagi dari /rif yang seperti Bunga. Kembali ke konser, Bunga dibawakan dengan aransemen sama dengan yang di kaset, dan itu benar-benar membuat saya senang. Kalau kalian belum pernah mendengar lagu Bunga, coba search YouTube, dan saya bisa katakan, itulah yang disebut ballad rock Indonesia yang keren, dan itu hanya terjadi di tahun 90-an kawan.

Setelah Bunga, ada salah satu lagu di album pertama (juga) yang ternyata enak juga didengar di masa sekarang ini, setelah sepuluh tahunan lamanya tidak didengar, yaitu Planet Kosong. Dan saya bernyanyi lagi, tak peduli deh saya dianggap yang paling senior (atau tua) di tribun Silver, karena dari awal saya nyanyi terus di lagu-lagu /rif lama. Tapi memang kekuatan /rif adalah di album-album awal mereka. Planet Kosong selesai, mereka mulai menyiapkan peralatan akustik. Oh ternyata ada sesi akustik yang mereka bawakan, agak-agak sedikit jazzy mereka membawakan Aku Ingin dari album kedua, Salami. Sesi akustik itu nampaknya sayang untuk dilewatkan tanpa membawakan lagu-lagu ballad. Jadilah setelah itu, Salah Jurusan yang dibawakan. Lagu yang berasal dari album ke-4, … Dan Dunia Pun Tersenyum itu bukanlah lagu yang menurut saya terbaik dari /rif di album tersebut, mungkin saat itu mereka ingin sedikit merubah image dengan menerbitkan nomor yang ringan dan lucu dari sudut lirik untuk didengar. Setelah itu, tampil kejutan dengan datangnya seorang vokalis yang juga legendaris bernama Ari Lasso. Mantan vokalis Dewa 19 itu hampir tak bisa saya kenali karena tubuhnya yang sekarang agak melebar. Namun Alass tampil dengan kualitas dan karakter suara yang tidak berubah. Ia hadir menyanyikan lagu everlasting Motley Crue, Home Sweet Home berduet dengan Andy dan adiknya sang drummer, Magi.

Setelah penampilan bintang tamu tersebut, /rif kembali menggebrak di sisa waktu yang ada dengan memainkan tembang bertitel 1. Yap, Satu yang penulisan judulnya harus dengan angka tersebut adalah lagu di album kedua mereka (Salami) yang bercerita intinya tentang persatuan. Saat itu, Indonesia sempat didera perpecahan dan suasana chaos yang sangat hebat, sehingga di awal-awal kemunculan lagu dan album ini, /rif sengaja mendedidasikan lagu 1 ini sebagai tema persatuan dan rekonsiliasi kembali Indonesia. Lagu 1 sebenarnya memiliki ciri khas berupa intro dengan melodi gitar Jikun yang iconic, namun ketika konser saya tidak bisa mendengar intro ini dikarenakan aransemen yang berbeda. Agak kecewa sebenarnya, hehe. Dan waktu semakin lama, kita semua menyadari bahwa Sheila belumlah tampil, /rif kembali menggebrak dengan lagu Pemenang. Lagu yang saya tidak suka, haha. Maaf, dikarenakan saya sudah tidak lagi mengikuti album /rif pasca The Best Of. Well, time flies dan saya tidak bisa move on saja dari album-album /rif di awal kemunculannya. Mereka sempat mengeluarkan 1 single dari album Pil Malu (2006) yang tidak kena di telinga saya, itu mungkin yang menjadikan saya tidak lagi interest dengan album-album kesini pasca The Best Of.

Dua lagu terakhir diisi oleh Lo Toe Ye, yang biasanya dijadikan lagu penutup. Dan encore yaitu Si Hebat. Saya lebih tertarik mendengar Si Hebat karena lagu ini sudah lama sekali tidak saya dengar dan dibawakan, recorded or live. Si Hebat menjadi lagu pamungkas, dan /rif malam itu pamit dengan menyuguhkan pertunjukan yang seperti biasa atraktif, dengan skill mumpuni dari masing-masing personilnya. Kehilangan satu basis dan gitaris (Iwan dan Denny) seperti tidak berpengaruh karena Ovy mampu menjadi pengganti yang sepadan. Dan bagaimana dengan kostum panggungnya? /rif seperti biasa tampil maksimal. Malam itu Jikun sang gitaris hadir dengan topi dan dandanan Slash. Ovy berpenampilan mirip dengan personil Marilyn Manson, atau personil generasi terbaru Guns N’ Roses, dan sedikit mirip Wes Borland gitaris Limp Bizkit. Saya pribadi puas dengan penampilan mereka, karena menjadi obat kangen tersendiri. /rif malam itu saya berikan nilai 3,5 dari skala 5.

Perfectly-Back-To-90s-In-Rif-Sheila-On-7-Concert_1411151652

Setelah /rif puas mengguncang stage, panitia memberikan jeda sesaat untuk memberi waktu bagi Sheila on 7 bersiap-siap. Penonton di kanan kiri dan atas bawah saya, yang rata-rata wanita, dan sepertinya pegawai Gen FM, karena stasiun radio itu ternyata menjadi sponsor, sudah histeris duluan dan tak sabar sepertinya untuk bernyanyi bersama. Kalau cewek sih ga masalah ya, yang agak-agak gimana gitu kalau ada cowok yang suka Sheila tapi diimplementasikan dengan berdiri, bernyanyi sambil joget-joget. Kayaknya ga cocok gitu, haha. Oke saya juga suka Sheila, saya hapal lagu-lagunya, tapi itu tidak membuat saya serta merta ikut “antusias banget” sampai nyanyi berdiri dan joget-joget begitu haha. Dan itu terjadi pada penonton cowok di depan saya (oke biarlah), haha.

Sheila hadir di panggung dengan membawa beberapa pemain trombone, saxophone, terompet dan semacamnya. Untuk apa mereka semua? Ketika intro lagu pembuka diperdengarkan, saya baru sadar kalau ada beberapa lagu di album Sheila yang menggunakan instrumen alat-alat musik tersebut. Yup, album Pejantan Tangguh (2004) adalah album yang lagu-lagunya paling banyak menggunakan alat musik itu, dan lagu berjudul sama dibawakan sebagai pembuka. Lagu yang cocok untuk memancing adrenalin penonton. Selesai lagu pertama, Eross mencabik-cabik senar gitarnya memperdengarkan intro lagu yang tak asing di telinga. Lagu ini sempat merajai tangga lagu Indonesia pada masa jayanya. Yup, lagu pembuka dari album kedua mereka, Sahabat Sejati. Lagu ini pas sekali dibawakan di awal-awal performance mereka. Sahabat Sejati mengeksplorasi kemampuan para personil Sheila dalam bermusik. Dan Brian sebagai drummer baru pengganti Anton, terasa cocok membawakan lagu dengan tempo cepat seperti ini. Tak mengherankan karena Brian dulu pernah menjadi drummer Tiket yang secara musikalitas lebih ngerock. Sahabat Sejati usai, dan penonton dibuat bernyanyi bersama dengan lagu perdana mereka yang mengenalkan band asal Jogja ini ke seantero Indonesia, Kita.

Terus terang saya tidak begitu menyukai lagu Kita. Selera sih, tapi nampaknya hanya saya saja yang tidak antusias menyanyikan lagu tersebut. Sedangkan penonton lainnya berdiri dan bergoyang kesana kemari. Yang pacaran merangkul pacarnya dengan mesra sembari bernyanyi. Yang single pun (kebanyakan perempuan) bernyanyi bersama teman-temannya sembari memukul-mukul balon stasiun radio yang menjadi sponsor, Gen FM. Eh tapi mana saya tau ya mereka single atau tidak, soalnya kan bisa saja pacarnya ga ikut nonton, haha. Dan cowok yang ada di depan saya masih saja berjoget pemirsa, haha. Yasudah biarkan saja. “Kita” adalah lagu awal pembuka album self-titled mereka. Di layar diputar video klip yang dahulu masih memperlihatkan para personil Sheila masih kurus-kurus berambut gondrong.

Kita usai, Duta sebagai frontman mulai melakukan tes ombak kepada penonton dengan menyuruh mereka (khususnya yang di festival) mengayunkan tangan ke kanan dan ke kiri sembari menyenandungkan sebuah lagu. Lagu yang awalnya kita tidak sadar namun setelahnya irama mulai terbentuk. Yup, lagu ini dari album Pejantan Tangguh, sebuah lagu dimana Sheila mencoba bereksperimen dengan membiarkan Duta ngerap. Pemuja Rahasia. Saya juga tidak terlalu suka dengan lagu ini, hanya karena dibawakan secara live saja menjadi agak menarik, karena terus terang saya baru pertama kali mendengar lagu itu dibawakan langsung di depan mata. Selesai lagu itu, Duta mencoba berjalan ke pinggir panggung.

Disana telah disiapkan sebuah piano, dan sembari mencoba membuka obrolan dengan penonton, Duta memainkan beberapa not dari piano tersebut. Pria yang juga Milanista itu memainkan sebuah intro dari lagu yang kita semua tidak tahu itu apa. Dan ketika ia mulai menyanyikan bait awal dari sebuah lagu, hadirin langsung bergemuruh karena yang dibawakan adalah lagu untuk semua orang. Saya belajar gitar dengan lagu itu, dan saya tumbuh di masa remaja/sekolah dengan lagu itu pula. Lagu itu tidak akan saya lupa karena kord gitarnya pun adalah yang paling termudah hingga kini. Dengan hanya 2 kord gitar, G dan C, Eross mampu menciptakan lagu yang indah dan bermakna, Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki.

Dan setelahnya, sudah bisa ditebak tembang apa yang akan dibawakan. Dengan masih menggunakan instrumen piano, lagu yang paling tepat dibawakan selanjutnya sudah bisa tertebak lewat intro yang dimainkan. “Itu Aku,” masih dari album Pejantan Tangguh yang dimainkan. Lagu itu menurut saya adalah salah satu karya Eross yang cukup baik. Meskipun agak-agak berbau dan (mungkin) terinspirasi Hey Jude-nya The Beatles, lagu ini cukup mengundang antusiasme penonton. Yang membuat lagu ini berkarakter adalah lirik dan perpaduan musik, piano dan terompet/saxophone yang menjadikan harmonisasi lagu ini kuat. Dan malam itu Sheila mendapat bala bantuan dari salah satu penyanyi yang memiliki suara khas, Sandy Sandhoro. Sandy membuat lagu ini berwarna jazz dengan lengkingan suaranya yang berat. Namun menurut saya Sandy tampil dengan improvisasi agak berlebihan, maksud hati ingin mengisi kekosongan-kekosongan dengan vokal pada instrumen di akhir lagu, namun hal itu malah terdengar seperti teriak-teriak tidak jelas. Apalagi dengan penampilannya yang memakai kacamata hitam padahal panggung dan Istora gelap. Maksud hati (lagi) mungkin ingin menjaga identitas Sandy yang khas dengan kacamata hitam (agak mirip Ian Kasela jadinya), namun kok saya jadi risih ya melihatnya. Okelah. Setelah Sandy berlalu pergi, Duta dan kawan-kawan membawakan lagu yang menjadi lagu jagoan mereka di album Berlayar (2011), Hari Bersamanya.

Hari Bersamanya adalah satu lagu Sheila bernuansa menyenangkan. Lagu ini asik didengar dan merupakan lagu langganan saya kalau karaoke. Tak heran bila saya semangat sekali mengikuti Duta bernyanyi di lagu ini, tapi ga pake joget-joget ya, haha. Selanjutnya, Sheila memperkenalkan lagu baru mereka dari album yang kata mereka akan keluar sebentar lagi, masih di tahun ini. Lagunya saya tidak tahu judulnya apa, tapi dari lagu yang diperdengarkan, Sheila banget deh musiknya. Sepertinya menjadi salah satu lagu yang bisa memompa semangat. Lagu baru yang ketika dinyanyikan itu, kami para penonton masih diam semua karena baru pertama kali mendengar, disambung dengan lagu dari album 07 Des, salah satu yang saya suka, juga lagu yang memompa semangat pula, Saat Aku Lanjut Usia. Lagu yang sempat mendapat kritikan karena Eross dianggap menjiplak salah satu lagu Beatles yang berjudul dan berlirik hampir sama (hanya dalam bahasa Inggris) menjadi satu lagu yang membuat riuh seisi Istora kembali. Eross sebelumnya sempat mengatakan kepada para penonton, ketika sesi perkenalan personil band, bahwa Duta memang menjadi frontman atau andalan dari band asal Jogja tersebut. Duta dengan karakter vokalnya yang khas dan merdu, mampu membawakan lagu dalam suara rendah dan tinggi, adalah nyawa dari Sheila itu sendiri. Duta adalah salah satu dari sedikit vokalis yang saya rasa akan membawa kehancuran bagi band yang ditinggalkannya, karena tidak bisa tergantikan oleh vokalis lain (mungkin sama dengan peran Krisyanto di Jamrud).

Layaknya konser-konser yang umum diselenggarakan, ada sesi khusus band tersebut membawakan versi akustik. Serupa dengan /rif, Sheila pun hadir membawakan beberapa lagu dengan tema akustik dan aransemen yang dirubah. Seperti yang terjadi pada JAP (Jadikanlah Aku Pacarmu), Terimakasih Bijaksana, Temani Aku dan Yang Terlewatkan. Empat lagu tersebut menjadi lagu yang asik untuk dinikmati dengan instrumen yang berbeda. Ambil contoh JAP, lagu yang seringkali digunakan oleh cowok yang ingin menembak gebetannya itu dibawakan dengan aransemen berbeda yang lebih jazzy, dengan gitar akustik yang dimainkan Eross. Terimakasih Bijaksana pun menjadi lebih elegan dibanding lagu aslinya. Temani Aku yang diambil dari masterpiece Kisah Klasih Untuk Masa Depan tidak perlu dirombak secara total karena pada dasarnya sudah beraransemen akustik. Dan yang terakhir, Yang Terlewatkan, juga bernuansa akustik. Lagu ini adalah lagu yang cukup spesial bagi saya karena saya dulu pernah memberikan lagu ini kepada gebetan saya, dan mendapat nilai 100 ketika karaoke bersamanya (yaelah curhat).

Sesi selanjutnya kembali normal, dan 2 lagu yang dibawakan kemudian adalah 2 hits utama dari 2 album yang berurutan. Bila Kau Tak Disampingku mengajak semua penonton bernyanyi dari album Kisah Klasik. Dan selanjutnya Seberapa Pantas dari album 07 Des, yang lebih dikenal ketika menjadi theme song sinetron duplikat Meteor Garden jaman dulu. Waktu semakin malam ketika lagu Sephia diperdengarkan. Lagu yang pada masanya sangat melegenda dan menjadi soundtrack perselingkuhan itu kebetulan menjadi salah satu lagu Sheila yang tidak saya sukai (lagi), haha. Bukan karena temanya lho ya, tapi entah kenapa saya cepat bosan mendengar lagi itu. Jadi ketika Sephia dimainkan, saya hanya menonton saja dan sesekali bergumam mengikuti irama. Sephia kemudian disambung dengan Betapa, lagu yang menjadi andalan di album Menentukan Arah. Nah kalau Betapa ini termasuk lagu yang saya gemari karena beda dari lagu-lagu Sheila yang lain. Saya terhibur dan senang ketika Betapa dibawakan, menurut saya Betapa menjadi salah satu lagu yang tidak membosankan untuk dibawakan secara langsung.

Akhir konser semakin dekat menjelang. Duta, Eross, Adam dan Brian mulai memainkan intro dari lagu yang kerap menjadi penutup di setiap performance mereka, Melompat Lebih Tinggi. Soundtrack film 30 Hari Mencari Cinta ini lagi-lagi masuk ke dalam list lagu Sheila yang tidak saya suka, haha. Musiknya asik dan enerjik, namun sekali lagi, lagunya bukanlah lagu yang ingin saya dengar berulang-ulang. Dan ketika semua menganggap bahwa konser akan berakhir, masih ada 1 lagu yang belum dimainkan. Kalau tidak ada lagu ini sepertinya bukanlah konser Sheila on 7 namanya. Mungkin konser Wali atau Armada (krik). Apakah itu? Tidak lain tidak bukan adalah lagu dengan lirik lupakanlah saja diriku bila itu bisa membuatmu dan seterusnya. Yup, bila ada konser band luar negeri yang saya ingin sekali rasakan atmosfir karaoke bareng dari salah satu lagunya, itu adalah Don’t Look Back In Anger, dibawakan oleh Oasis bila suatu saat konser disini. Atau Tender-nya Blur. Alhamdulillah untuk yang disebut terakhir saya sudah pernah mengalaminya. Dan sepertinya Eross dkk menangkap fenomena itu. Dengan cerdasnya Eross mengajak semua penonton untuk “membantu” Duta yang ia katakan telah lelah bernyanyi sepanjang konser. Jadilah Dan… dibawakan dengan koor bareng seisi Istora, khususnya para perempuan mulai dari bait awal hingga reff pertama. Begitulah, nuansa 90-an sangat terasa ketika Dan… merajai tangga lagu seluruh radio dan televisi saat itu. Dan… menjadi anthem lagu galau dan hubungan yang galau, atau lagu putus ketika itu. Dan kini, memori semua orang di Istora kembali hadir. Setelah Dan… usai dinyanyikan, Sheila menutup dengan apik konsernya dengan lagu Sebuah Kisah Klasik yang menurut saya sangat tepat sekali untuk dijadikan lagu penutup.

Well, hampir selama 3 jam pertunjukan digelar dan saya sebagai penggemar musik Indonesia, dan anak yang belajar mengenal dan menggemari musik ketika 2 band di atas sedang menapaki puncak karier, merasa puas telah meluangkan waktu untuk menontonnya. Sungguhlah kalau bukan karena pada jaman dulu ketika saya sekolah, Sheila on 7 dan /rif benar-benar mewarnai masa-masa saya saat itu, saya lebih memilih nongkrong di tempat lain atau tidur di rumah. Menonton mereka secara langsung saya anggap sebagai sebuah pengalaman. /rif saya sudah sering menontonnya, namun Sheila baru beberapa kali. Untuk /rif, sekali lagi mereka telah memperlihatkan aksi panggung menawan seperti biasanya. Dan untuk Sheila, terus terang saya menontonnya dikarenakan jarang melihat performance mereka, tidak sebanyak saya menonton /rif. Mereka juga tampil apik dan menghibur.

Saya jadi teringat kata Andy, vokalis /rif, ia berucap: “Musik berhenti di tahun 90-an. Musik masa kini hanya pengulangan dari model-model lagu jaman itu.” Saya beruntung bisa tumbuh dan berkembang saat musik Indonesia, dan juga internasional sedang mengalami masa jayanya. Saya juga beruntung mendapat referensi musik yang original dengan sedikit pengaruh dari musisi belahan dunia lain. Mungkin hanya Beatles, U2, The Police, Radiohead dan tidak banyak lagi yang masih menjadi patokan para musisi bermusik saat itu. Dan yang terpenting, band-band saat itu muncul dengan kualitas yang bagus. Anyway, suatu malam yang indah untuk mengingatkan betapa saya gembira lahir dengan nuansa musik 90-an, tumbuh dan berkembang dan mencari jati diri dalam bermusik dan menggemari musisi yang beberapa bertahan hingga kini. Terima kasih untuk Sheila on 7 dan /rif!

images from Google

Tagged , , , , ,

Day 25: Describe Your Typical Matchday Routine

brazil-fans-tv

My typical matchday routine? Well karena saya bukanlah seorang pemain sepakbola, hanyalah penikmat sepakbola. Dan menurut saya bahasan ini adalah cocok bagi mereka yang bermain, maka saya akan menganalogikan challenge hari ini dengan typical matchday routine bagi seorang penikmat. Yup, saya akan mengambil contoh pagelaran Piala Dunia 2014 yang telah berlalu kemarin.

Piala Dunia memang selalu memunculkan kisah menarik. Tidak hanya bagi para pemainnya, namun juga seisi negara dari tim nasional yang bertanding, dan melibatkan seluruh aspek negara tersebut: entah itu mulai dari rakyat jelata hingga kepala negara. Semua dijamin mendukung negara mereka yang sedang bertanding. Bahkan Barack Obama, Presiden AS pun sesekali di sosial media nampak fotonya menonton timnas AS ketika bertanding, bahkan beliau sampai membuat suatu surat untuk khusus untuk perusahaan-perusahaan AS agar meliburkan karyawannya, karena hari itu bertepatan dengan timnas AS bermain untuk menentukan apakah mereka lolos ke babak selanjutnya atau tidak. Luar biasa. Jangankan mereka yang negaranya terlibat, para pecinta sepakbola yang negaranya tidak (pernah) ikut serta saja kadang lebih heboh seakan-akan negara mereka ikut berpartisipasi. Salah satunya di Indonesia.

Pecinta sepakbola Indonesia dihadapkan pada kenyataan yang cukup berat bila ada turnamen besar yang diselenggarakan di luar benua mereka (Asia). Contoh yang paling kentara adalah bila ada pertandingan (kompetisi) di Eropa. Perbedaan waktu membuat penikmat sepakbola Asia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya, harus “mengalah” karena kebagian jatah menonton live match pada malam dan dini hari. Memang hal itu semakin lama menjadi kebiasaan, tapi bila menyangkut Piala Dunia, akan tercipta suatu dilematisasi yang besar (bahasa apa ini). Karena Piala Dunia adalah event 4 tahunan yang tidak boleh dilewatkan, dan nyatanya Piala Dunia selalu hadir pada jam-jam yang tidak nyaman bagi pecinta sepakbola tanah air, dan ironisnya hal tersebut berlangsung selama 1 bulan penuh. Itu pastinya akan mengganggu jam biologis kita yang harus bekerja di siang harinya. Jika malam dibuat begadang terus menerus, tentu kinerja kita di siang hari akan terganggu. Dan itulah yang terjadi pada gelaran Piala Dunia Brasil 2014 lalu.

World Cup 2014 bisa menghadirkan rata-rata 3 pertandingan setiap harinya, kadang 4. Dan bila dicocokkan dengan waktu Indonesia bagian barat, 4 pertandingan tersebut hadir di jam 23.00, 2.00, 5.00 dan beberapa 8.00 pagi. Yang sampai jam 8 pagi adalah pertandingan yang dimainkan di akhir pekan, mungkin di sana malam sekali. Yang jadi pertanyaan, jangankan sampai jam 8 pagi. Bila dikonversikan waktu Indonesia, sungguhlah menjadi suatu hal yang mustahil bagi pecinta sepakbola semaniak apapun untuk kuat dan tahan mengikuti seluruh pertandingan jam 11, 2 pagi dan 5 subuh, dan mereka pun juga harus bekerja keesokan harinya. Kuat sih, tapi menurut saya hanya bisa bertahan 1-2 hari, dan itu juga catatannya tidak tidur. Jika tidak tidur pun, niscaya di kantor bakal ngantuk abis. Atau malah bisa ketiduran tanpa disengaja dan bablas bangun keesokan harinya.

Itulah yang terjadi pada saya ketika itu. Bangun kesiangan sudah bukan barang baru lagi. Hari-hari saya di era Piala Dunia sungguhlah menjadi suatu hal yang mudah ditebak. Dari pagi hingga malam ngantor, pas pulang sampai rumah sudah jam 10-11, masuklah saya ke dalam kamar dan menyalakan TV, kemudian melihat di ANTV atau TV One pasti sedang menyiarkan pertandingan malam itu berbarengan. Jika matchday ke-3 fase grup, maka pertandingan akan berbeda karena 1 grup pasti main secara bersamaan. Setelah mandi dan beres-beres, saya tiduran di kasur ditemani pertandingan itu hingga jam 1. Kalau masih kuat, saya teruskan hingga match yang jam 2. Di beberapa kasus kalau menunggu tanpa tidur, saya masih bisa kuat nonton yang jam 2 mungkin sampai babak pertama usai, tapi kebanyakan ya bablas haha. Saya ingat kalau saya hanya kuat di 1-2 hari awal pembukaan Piala Dunia.

Alhasil untuk pertandingan subuh hari, saya kebanyakan melewatkannya dengan asumsi, saya bangun kesiangan untuk solat subuh (jangan ditiru). Ya begitulah yang terjadi selama 30 hari gelaran Piala Dunia. Sempat ingin merubah pola dengan melewatkan pertandingan jam 11 demi mengejar yang jam 2 karena biasanya pertandingannya seru, tapi amat jarang terjadi. Well, dilihat juga sih ya jam berapa partai serunya main. Karena kadang jam 11  atau subuh big match terjadi. Tapi saya punya kebiasaan agak buruk nih, bila ada pertandingan penting, katakanlah mungkin partai puncak atau final sebuah turnamen apapun (tidak hanya Piala Dunia), pasti saya akan bela-belain untuk tidak tidur. Karena saya tidur seperti kerbau yang dibius terlelap dan niscaya akan kelewatan alias bablas. Baik itu alarm beneran atau alarm handphone bersatu pun belum tentu bisa membangunkan saya. Begitulah pengalaman saya, bagaimana dengan anda?

Tagged , , , , ,

My Top 5 Linkin Park Album

Linkin Park adalah salah satu band yang berhasil menarik perhatian saya selama menggemari musik dari kecil hingga kini. Band asal AS yang beranggotakan Chester Bennington, Rob Bourdon, Brad Delson, Dave Farrell, Joe Hahn dan Mike Shinoda itu memang menjadi fenomena tersendiri dan berhasil mengukir nama mereka sebagai salah satu band tersukses beraliran new metal dan rock alternatif. Tidak hanya mengoleksi kaset dan CD live-nya (dulu), saya juga memperhatikan sepak terjang dan diskografi mereka. Oh ya, dan saya gemar untuk menyanyikan lagu-lagu mereka di ruang karaoke. Dan tahun ini, Linkin Park mengeluarkan album baru bertitel The Hunting Party. Untuk “merayakan” kelahiran album baru mereka, berikut saya countdown 5 album band asal California tersebut yang menurut saya terbaik:

Linkin_park_reanimation5. Reanimation (2002)

Album ini merupakan album remix atau album yang berisi lagu-lagu di Hybrid Theory yang menjadi album pertama mereka, dengan aransemen yang berbeda, lebih “elektronik,” lebih banyak instrumen dan bebunyian unik, dan lebih banyak suara-suara khas yang hampir semuanya diramu oleh DJ Hahn. Sependek pengetahuan saya Shinoda juga turut andil dalam arrange aransemen. Bersama Hahn, Shinoda adalah prosesor yang menjalankan Linkin Park. Dan Hahn sepertinya menunjukkan siapa dirinya di album ini. Ia mengacak-acak lagu Linkin Park di Hybrid Theory menjadi sebuah album dengan lagu-lagu yang tidak lazim kita dengar. Tapi tetap keren dengan kemewahannya sendiri.

Selain lagu-lagu yang lain dari biasanya, terobosan baru saat itu dibuat oleh Linkin Park dengan membuat video klip lagu dari album ini dengan tema animasi. Bila disesuaikan dengan film, mungkin Avatar adalah film yang cocok menggambarkan video klip tersebut. Gambaran robot, perang dalam animasi 3 dimensi yang canggih dan kabarnya juga buatan DJ Hahn membuat album ini menjadi terobosan yang membuka pecinta musik dunia kala itu, bahwa band rock alternative metal tidak melulu membawakan lagu cadas dengan lead guitar sangar. Namun juga diramu dengan sayatan-sayatan DJ dan suara melengking khas Chester.

Dengan judul-judul yang juga dibedakan dari judul aslinya, ditulis dengan gaya yang kalo dipikir kayak alay, haha macam Pts.of.athrty untuk remix Points of Authority, Enth E nd untuk In The End atau PprKut untuk Papercut, membuat album ini sekaligus menjadi “pemanasan” dari keluarnya album kedua mereka Meteora, dan tentunya mengukuhkan Linkin Park sebagai band papan atas.

Ralat: Reanimation ini sebenarnya bukan album murni Linkin Park, melainkan album remix dari lagu-lagu Linkin Park yang diproduseri oleh Mika Shinoda. Album remix ini di compose musiknya oleh para DJ-DJ termasuk DJ Hahn. Terima kasih untuk Mas Roel atas koreksinya.

minutes4. Minutes To Midnight (2007)

Album ini masuk list sebenarnya tidak disangka-sangka. Dengan cover bertema putih, para personil Linkin Park memakai baju hitam yang membuat album ini terlihat kontras di mata. Lahir dengan selang waktu yang cukup lama dari album sebelumnya, sekitar 4 tahun, Linkin Park mampu “mengingatkan” kembali pasar musik dunia dan music fan akan kehebohan album-album mereka dulu. Jangan pikir mereka telah habis disini, justru mereka datang dengan lagu-lagu yang agak lebih sederhana dari biasanya, dengan nuansa rock yang cukup kental dan lagu-lagu menarik yang tentunya berkarakter.

Linkin Park memiliki ciri khas membuka rangkaian lagu di albumnya dengan lagu yang menghentak, dan kali ini Given Up dijadikan andalan. Kemudian Leave Out All The Rest, yang membuat kerinduan fans akan suara Chester terobati. Lagu itu seakan menjadi pembuktian diri kematangan suaranya sebagai vokalis. Tapi tak hanya di lagu itu saja, album ini banyak mengeksplorasi vokal Chester seperti di lagu Shadow of the Day dan What I’ve Done. Lagu yang terakhir juga menjadi soundtrack film fenomenal Michael Bay kala itu, Transformers. Linkin Park menyatukan penggemar musik dengan pecinta film dengan lagu yang sangat cocok dengan film perang antar robot tersebut. Minutes To Midnight terangkat penjualannya sedikit banyak juga karena keberhasilan Transformers.

Beberapa lagu yang menarik dari album ini diantaranya Valentine’s Day. Awal mula terdengar biasa tapi bila didengar lebih jauh terasa sekali lagunya memiliki ciri khas yang berbeda dari lagu-lagu Linkin Park lain dan hanya ada di album ini. Dengar pula In Pieces sebagai lagu terakhir yang cocok bila dibawakan live.

A_Thousand_Suns_Cover23. A Thousand Suns (2010)

Saya sangat menggemari album ini meskipun hadir dalam nuansa gelap dan gloomy. Tampaknya Shinoda dkk mencoba menggarap album dengan karakter alternative rock yang tidak seperti biasanya. Tetap pada pakem vokal Chester yang melengking dengan gaya rap Shinoda ditambah bunyi-bunyian unik yang dihasilkan Hahn, hasilnya muncul album ini yang masuk kategori worth to hear.

Tidak ada lagi lagu menghentak sebagai pembuka. Sebagai gantinya, Burning In The Skies menjadi ballad menarik yang dibawakan dengan apik oleh Chester. Demikian apiknya hingga saya selalu ikut bernyanyi setiap mendengar lagu ini. Linkin Park berhasil menerobos kebiasaan menempatkan track keras untuk pembuka dengan kehadiran lagu ini. Ditambah awalan narasi intro yang dibawakan J. Robert Oppenheimer mengenai perang nuklir. Hmm, apabila kalian menyadari korelasi nuansa gelap album ini dengan perang nuklir, anda mengerti jawabannya.

Album ini merupakan album konsep, dimana Linkin Park coba membuat album dengan konsep tertentu, dan kali ini perang nuklir menjadi tema yang diangkat. Lagu-lagu yang ada di dalamnya berkaitan satu sama lain, oleh karenanya berbeda dari album-album sebelumnya. Nuansa dark sangat terasa di lagu When They Come For Me dengan tabuhan gendang, juga ada Robot Boy yang memiliki nada datar dan “aneh” untuk didengar, namun lekat di telinga.

Lagu jagoan dalam titel Waiting For The End pun meskipun ga sesangar lagu utama Linkin Park biasanya, tetap saya suka dan menjadi andalan untuk berkaraoke haha. Juga jangan lupakan Iridescent yang lagi-lagi menjadi soundtrack Transformers: Dark Of The Moon, kali ini tidak seperti What I’ve Done terdahulu, Iridescent adalah lagu soft yang tetap berkarakter. Ah, The Catalyst juga menjadi lagu jagoan yang aneh. Kenapa? Hingga 5 kali mendengar saya belum bisa menemukan dimana bagusnya lagu tersebut. Sampai semakin terbiasa saya mendengar, saya akhirnya mendapatkan sisi enaknya lagu itu hehe. The Catalyst bahkan menjadi single pembuka album ini.

Dengan alasan-alasan diatas, A Thousand Suns menjadi album underrated yang menurut saya jenius untuk diciptakan Shinoda dan teman-temannya.

Linkin_park_hybrid_theory2. Hybrid Theory (2000)

Inilah album yang membuat nama Linkin Park mengangkasa di awal 2000-an. Saat itu saya mendengar ada band bagus dengan vokalis yang nyanyinya teriak-teriak, dan ada yang ngerap. Itu saja sudah membuat saya tertarik, apalagi di tengah gegap gempita band-band macam Limp Bizkit atau Korn, Linkin Park muncul dengan menawarkan musik baru yang lebih alternatif, lebih kencang dan lebih gahar. Lagu One Step Closer sering diputar di radio, saya masih ingat bagaimana di kepala saya terngiang single pertama mereka itu di bioskop ketika selesai menonton film Dracula 2000. Entah soundtrack resmi atau tidak dari film itu, One Stop Closer membuat saya bertanya pada teman “eh lagu siapa sih ini?” “Oh ini Linkin Park, bro” jawab teman saya kala itu.

Linkin Park. Kemudian saya ingat-ingat nama bandnya dan saya cari kasetnya. Saya menemukan kaset dengan logo album diatas, saya dengarkan ketika sampai rumah, dan selebihnya adalah sejarah.

Hybrid Theory adalah album yang luar biasa. Mulai dari lagu pertama hingga terakhir, semuanya luar biasa. Kencang, ganas dan menunjukkan siapa Linkin Park sebenarnya. Cocok untuk darah mudah saya ketika itu halah. Sayatan piringan DJ Hahn juga membuat jatuh hati. Musik mereka orisinil, seperti diciptakan tanpa dibuat-buat, dan permainan musik mereka layaknya dari hati. Kaset itu menjadi kaset favorit saya. Saya setel di mobil, di walkman, di kamar dan di mana-mana. Papercut sebagai lagu pembuka adalah legenda. Shinoda bagai menunjukkan bahwa kolaborasinya dengan Chester sebagai frontman Linkin Park merupakan perpaduan dahsyat. Formula lagu-lagu Linkin Park secara sederhana adalah: Shinoda ngerap, dan Chester mengguncang reff-nya. Begitu saja pola dasarnya di album ini.

Setelah Papercut mengguncang, berturut-turut One Step Closer, With You dan Points Of Authority. Jangan lupa Crawling. Anak mana yang ga tau lagu Crawling dan video klipnya dulu? Crawling begitu fenomenal, meskipun saya tak begitu suka lagunya hehe. In The End? Selain menjadi lagu wajib karaoke, rap Shinoda di lagu ini luar biasa. Saya suka banget dan terobsesi untuk membawakannya semirip mungkin ketika nyanyi haha. Ah, satu lagi lagu yang keren namun sayang ga dijadikan video klip di album ini, yaitu A Place For My Head. Sekian ulasan Hybrid Theory. Album ini fenomenal.

MeteoraLP1. Meteora (2003)

Dan album terbaik Linkin Park menurut saya adalah Meteora. Album ke-2 ini menjadi album yang memiliki kualitas “setara” dengan Hybrid Theory, namun sedikit unggul dalam kematangan musikalitas dari album pertama mereka. Sudah menjadi suatu kebiasaan band yang sukses di album pertamanya, sangat dinanti kiprah dan karyanya di album kedua dan biasanya mereka memperlihatkan totalitas dan puncak hasil karyanya di album kedua. Adalah suatu pembuktian bila band yang sudah sukses di album pertama, apakah berlanjut di sekuel albumnya. Bisa bagus bisa jelek. Kalau bagus diingat dan jelek dihujat. Dan itu juga yang terjadi pada Linkin Park.

Meteora sangat ditunggu kala itu, dengan single jagoan Somewhere I Belong yang terlebih dahulu wara wiri di radio, membuat fans penasaran akan seperti apa “lanjutan” dari Hybrid Theory. Pilihannya: lebih baik, setara atau bahkan lebih buruk. Dan diluncurkannya Somewhere I Belong merupakan strategi jitu karena lagu itu datang dengan fenomenal, easy listening namun bisa mewakili comeback Linkin Park yang sudah terlanjur harum namanya di blantika musik new metal. Dan ternyata lagu-lagu lainnya di album Meteora ini adalah legenda.

Meteora lebih matang dari Hybrid. Lebih terkonsep dan lebih terukir jelas kemana arah musik mereka. Hentakannya lebih terasa dan bukan lagi menjadi band kemarin sore seperti ketika mereka meluncurkan Hybrid. Masih ingat formula Shinoda ngerap dan Chester nyanyi reff yang saya tulis diatas? Hal itu terulang sempurna di lagu Lying From You. Don’t Stay sebagai lagu pembuka kembali menjadi trademark Linkin Park untuk selalu mengeluarkan album dengan lagu keras dan menghentak, intinya Chester teriak-teriak mulu deh kalau di lagu pertama haha. Easier To Run muncul untuk mengingatkan kita akan keberhasilan Crawling di Hybrid, dengan musik yang lebih lembut. Jangan lupakan Faint, yang video klipnya memorable dengan memperlihatkan point of view para personil Linkin Park ketika sedang manggung menghadap penonton.

Breaking The Habit menjadi lagu favorit saya dengan klip animasi yang bagus dan tempo lagu yang cepat. Juga di album ini ada Nobody’s Listening dengan musik ala Jepang dan ninja, dan akhirnya ditutup oleh Numb yang sering diputar dan juga sangat terkenal di televisi. Dan kemunculan Meteora ini juga menjadi tonggak sejarah dari datangnya mereka untuk pertama kalinya ke Indonesia dan manggung di Pantai Carnaval, Ancol. Itu juga sejarah karena untuk pertama kalinya saya menonton konser dengan tiket seharga 200 ribu rupiah. Tahun 2011 mereka pun sempat datang kembali namun inflasi menggerus harga tiketnya sehingga yang paling murah saja dibandrol 700 ribu haha. Pengalaman menonton Linkin Park langsung di depan mata adalah suatu hal yang tidak bisa dilupakan bagi penggemar musik ingusan seperti saya kali itu haha. Apapun itu, Meteora adalah salah satu album new metal dan alternative rock terbaik di awal 2000-an, dan album terbaik Linkin Park versi saya.

Tagged , , , , , ,

Day 24: Player(s) You Really Can’t Stand

maxresdefault

Ketika Robson de Souza atau yang lebih dikenal dengan Robinho datang ke Milan sebagai pemain baru di bursa transfer akhir musim 2010, Milanisti bergembira dan sepakat Milan telah menjalani musim transfer pemain (mercato) yang sukses. Dua nama besar, Zlatan Ibrahimović dan Robinho datang dengan kualitas yang masih bagus sebagai seorang pemain. Ibra dipinjam dari Barcelona sedangkan Robinho tiba dari Manchester City. Dua-duanya meninggalkan klub lamanya dengan kondisi tidak bagus. Dan seperti biasa, tangan Milan selalu terbuka untuk pemain-pemain “terbuang” seperti mereka. Robinho dan Ibra langsung menjadi andalan di skema pelatih kala itu, Max Allegri, dan benar saja, Milan langsung menjuarai Serie A di musim pertama Robinhi dan Ibra mengarungi Liga Italia.

Robinho yang sempat menjadi hot stuff timnas Brasil dan bintang di Real Madrid, masih memiliki taji sebagai pemain yang lincah, atraktif dan jenius layaknya pemain-pemain Brasil lainnya. Itu yang membuatnya istimewa. Di luar tipikalnya sebagai pesepakbola bad boy dan kerap berselisih paham dengan pelatih klub yang dibelanya. Lagipula, Robinho adalah pemain yang memiliki skill di atas rata-rata. Demikian halnya pun dengan Ibra, 2 pemain itu adalah pemain yang diharapkan bisa “jinak” dan menjadi good boy ketika bermarkas di Milanello. Sudah menjadi rahasia umum bila Milan adalah klub yang bisa menenangkan pemain-pemain yang bertipe liar. Dan anggapan itu tidak salah, Robinho dan Ibra jarang terdengar kabar buruk atau kelakuan negatifnya yang menjadi sorotan media.

Meskipun kiprah Robinho di Milan terbilang cukup baik, performa Robinho menurun seiring dengan menurunnya pula prestasi Milan pasca scudetto, apalagi setelah ditinggal Ibra dan juga Thiago Silva. Kuantitas golnya pun tak lagi sebagus musim-musim pertamanya. Namun ada satu hal dari Robinho yang tidak dapat dilupakan. Agak kurang baik ini kedengarannya, tapi memang betul terjadi. Yup, Robinho sering melewatkan peluang emas untuk mencetak gol, bahkan bila peluang tersebut memiliki persentase 99,9% gol.

Well, peluang hilang untuk mencetak gol pun sebenarnya bisa terjadi pada pemain lain dan pemain manapun di dunia ini, tidak hanya Robinho saja. Namun yang menjadi masalah, Robinho terbiasa melakukannya, hingga ia dicap pemain yang sangat sering membuang peluang emas di depan gawang. Dan kadang inilah yang membuat Milanisti “benci” kepadanya, dan sumpah serapah santer terdengar agar klub menjualnya. Robinho kadang dianggap sebagai biang kegagalan Milan meraih kemenangan, karena hampir di setiap pertandingan ia melewatkan peluang mencetak gol, meskipun tak sedikit pula gol lahir dari kakinya. Begitulah tipikal manusia, ketika ada satu keberhasilan maka dianggapnya biasa, namun bila ada satu kegagalan, akan diingat sepanjang masa, haha.

Apapun itu, Robinho tetaplah Robinho. Pemain yang telah memiliki nama besar dan salah satu yang terbaik di Brasil. Milan yang punya tradisi sebagai klub tempat berlabuh pemain-pemain hebat asal Brasil pun beruntung pernah dibela Robinho. Dan sejujurnya, Robi merupakan pemain yang masih bagus dan masih memiliki skill-skill berkelas, meskipun sudah tidak lagi secepat dulu. Aksi dribbling bolanya masih menawan dan gocekannya masih mengingatkan kita akan masa jaya-jayanya. Namun, Milan tidak membutuhkan itu saat ini.

Apa yang Milan butuhkan adalah peremajaan dan penyegaran, dalam arti pemain baru. Artinya bukan hanya diisi pemain-pemain muda, namun pemain senior di Milan juga penting keberadaannya. Robi bisa menjadi pemain senior yang dimaksud itu, namun kualitasnya yang menurun pasca cedera pun tidak bisa terlalu lama ditolerir. Atau trademark pemain yang sering membuang peluang kadang juga menjadi hal yang merugikan klub. Pada intinya, masih banyak pemain di Milan yang memiliki kualitas setara atau bahkan lebih darinya, dan juga lebih muda sehingga perannya lambat laun tergantikan. Dan ingat, bila mempertahankan pemain bintang yang kerap menjadi cadangan, Milan harus merogoh kocek lebih dalam secara rutin untuk membiayai gajinya, sesuatu yang sebenarnya bisa dikurangi, apalagi di saat-saat klub Italia kini sedang dilanda krisis, untuk digunakan hal-hal lain macam membeli pemain baru.

Kabar baiknya, setelah lama mendapat berita bahwa ia “susah” dijual. Akhirnya mulai musim ini Robi dipinjamkan ke Santos, klub lamanya di Brasil. Meskipun statusnya masih pinjaman sehingga ada kemungkinan ia kembali lagi, tempat yang lowong ditinggalkannya cukup baik untuk diisi pemain baru atau pemain muda yang membutuhkan jam terbang lebih tinggi. Dan berharap saja Robi sukses kembali di Santos sehingga ia bisa dijual secara permanen. Akhir kata, Milanisti mengucapkan terima kasih atas jasa-jasa Robinho selama ini. Good luck!

Tagged , , , ,

Day 23: Favourite Young Player U-21

a.espncdn.com

Salah satu tujuan klub sepakbola meminjamkan pemainnya ke klub lain adalah untuk memberikan kesempatan kepada pemain tersebut berkembang, agar memiliki banyak kesempatan bermain dan berkontribusi lebih banyak terhadap klub barunya. Selain membantu performa, stabilitas dan jam terbang si pemain, juga bermanfaat untuk klub baru yang dibelanya bila pada musim peminjaman tersebut si pemain tampil bagus.

Dan itu sepertinya yang dialami oleh Thibaut Courtois. Terus terang saya saja masih googling how to write and spell his name, haha. Dan bila diucapkan dengan lidah, nama kiper muda ini terdengar asik didengar. Coba deh kalian dengar ketika ia muncul di layar kaca dan pas komentator mengucapkan namanya, keren! Haha. Courtois menjadi kiper yang sedang ramai namanya dibicarakan belakangan ini karena penampilannya yang luar biasa musim lalu bersama Atlético Madrid, dimana ia berhasil mengawal gawang Atlético menuju tahta juara La Liga, sekaligus memutus dominasi Barcelona dan Real Madrid dalam kurun waktu kurang lebih 10 tahun terakhir.

Pemain bernama lengkap Thibaut Nicolas Marc Courtois ini sebenarnya merupakan pemain Chelsea, dibeli dari klub Belgia, Racing Genk. Tampil apik di Genk membuat The Blues berminat merekrutnya, untuk menjadi kiper yang digadang-gadang akan menggantikan penjaga gawang legendaris mereka, Petr Cech. Penampilan Courtois yang gemilang membawa Genk juara Liga Pro Belgia membuat manajemen Chelsea meliriknya. Apalagi saat itu Courtois telah dipercaya menjadi kiper timnas Belgia U-21. Dan kini, perannya tak bisa tergantikan sebagai kiper utama meskipun Belgia punya rising star lagi pada posisi penjaga gawang pada diri Simon Mignolet (Liverpool). Tapi, sinar Mignolet meskipun juga tampil cemerlang masih harus kalah dibanding Courtois. Tentunya ini menjadi suatu kondisi yang bagus bagi Belgia ketika mereka telah menemukan penerus kiper yang dulu pernah bersinar pada diri Michael Preud’Homme di Piala Dunia AS ’94.

Courtois pun semakin bersinar ketika perannya di Atlético, yang tadinya hanya sebagai pemain pinjaman, menjadi vital dan juga menjadi pengganti yang tepat bagi David de Gea yang dikontrak Manchester United. Courtois pun mendapat warisan nomor peninggalan De Gea, yaitu 13. Dan puncaknya apalagi kalau bukan mengantarkan Atlético meraih titel La Liga, sekaligus merusak hegemoni Barcelona dan Real Madrid. Malahan, Atléti hampir saja meraih gelar ganda La Liga dan Liga Champions, kalau saja Madrid tidak mengalahkan mereka 1-4 pada final di Lisbon. Di derby tersebut malah Atléti sempat unggul 1-0 hingga menit 93, sebelum gol sundulan Sergio Ramos menjatuhkan mental mereka. Kalau saja Atléti bisa meraih gelar Liga Champions tersebut, maka lengkaplah sudah mereka mengalahkan Barça dan Madrid di 2 partai puncak kompetisi berbeda. Menyusul sebelumnya Barça mereka tahan 1-1 di Camp Nou pada partai akhir liga.

Sampai sejauh manapun Atléti meraih hasil di musim lalu, hal tersebut cukup untuk membuat Roman Abramovich dan Jose Mourinho beserta manajemen Chelsea sepakat memboyongnya kembali ke Stamford Bridge. Meskipun Cech di Chelsea masih menjadi andalan, nampaknya Mou sengaja untuk membiarkan Cech berada pada posisi tidak nyaman dengan kehadiran Courtois. Artinya Mou ingin menciptakan persaingan sehat di posisi kiper, antara Cech dengan Courtois. Hal ini berdampak positif dan negatif. Postifnya, Chelsea memiliki dua kiper kelas dunia yang memiliki kualitas setara. Sedangkan negatifnya, peluang Cech untuk hijrah besar bila ia kalah bersaing sebagai kiper utama atau ia tidak rela menjadi pilihan kedua. Atau mungkin Mou ingin mengadopsi jurusnya ketika di Madrid, dimana ia merotasi Diego Lopez dan Iker Casillas secara bergantian di 2 kompetisi berbeda, salah satu dikhususkan untuk di liga dan lainnya di kompetisi Eropa. Well, banyak hal yang bisa terjadi.

Dan keberhasilan Belgia mencapai perempatfinal Piala Dunia Brasil 2014 juga dianggap sebagai wadah yang membentuk performa Courtois lebih matang lagi. Belgia yang harus pulang karena kalah dari Argentina itu memang sedang mencapai usia emas sebagai sebuah tim nasional. Tak hanya Courtois, rekan-rekannya yang kebanyakan juga berpredikat pemain andalan atau rising star klub masing-masing tampil baik dan mereka masih bisa bertahan di Piala Eropa 2 tahun lagi, atau bahkan 2 kali Piala Dunia di Rusia dan Qatar.

Kita lihat saja sepak terjang Courtois dalam mengawal gawang Chelsea di musim Barclays Premiere League yang baru berjalan ini.

Tagged , , , , ,

Day 22: Biggest Footballing Injustice Still Not Over

lampard-420x0

Ada hal menarik ketika di gelaran Piala Dunia 2014 lalu bila kita melihat, wasit memiliki “senjata” yang selalu mereka ambil dari belakang celana ketika terjadi tendangan bebas beberapa meter dari kotak penalti. Ya, setelah mereka meniup peluit, mereka akan menghitung jarak untuk berdiri membuat pagar betis dan kemudian menyemprot dengan semacam foam di rumput, sebagai batas berdiri pemain. Itu salah satu terobosan FIFA dalam sepakbola, dan satu lagi terobosan yang diciptakan oleh organisasi yang dikepalai Sepp Blatter yaitu: Goal Line Technology.

Biasa kita sebut teknologi garis gawang. Teknologi ini memungkinkan wasit mendapat kabar melalui jam tangan yang dikenakannya, apabila terjadi gol tipis di bibir garis gawang yang kerap menimbulkan kontroversi. Bila bola telah melewati garis gawang ada sensor yang berbunyi untuk kemudian mengirimkan sinyal pemberitahuan kepada wasit, dan prit prit, mereka akan meniup peluit tanda terjadinya gol. Para pemain tidak perlu lagi berdebat kusir hingga mengeroyok wasit atau menarik otot serta urat, berkelahi dengan pemain lawan untuk saling berargumen menentukan apakah bola telah melewati garis atau tidak. Bahkan terlihat para pemain menyarankan agar wasit melihat tayangan ulang yang ada dari layar stadion. Dan itu juga bukan saran yang baik karena di tayangan ulang pun tidak diberikan gambaran jelas prosesi bola apakah melewati garis gawang atau tidak. Dan wasit pun jadi semakin bingung. Biasanya mereka berkonsultasi dengan hakim garis, dan hakim garis pun tak jarang ragu-ragu mengambil keputusan yang akhirnya menjadi rancu dan merugikan salah satu pihak.

Lalu apa latar belakang ditemukannya teknologi garis gawang? Tidak lain tidak bukan salah satunya karena insiden ini: partai perdelapanfinal Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Tanggal 27 Juni 2010, di Bloemfontein, Jerman yang saat itu menjadi juara Grup D bertemu Inggris sebagai runner-up Grup C. Inggris yang seperti biasa selalu kesulitan lolos dari putaran grup harus langsung berhadapan dengan Der Panzer yang diisi pemain muda macam Mesut Özil, Thomas Müller, Sami Khedira dan striker kawakan Miroslav Klose. Inggris yang bermain dengan kostum away berwarna merah agak keteteran di menit-menit awal menghadapi serangan spartan khas Jerman. Alhasil baru 20 menit pertandingan berjalan, tendangan gawang Manuel Neuer yang langsung mengarah ke depan gawang Inggris, disontek dengan sekali sentuhan Klose. Inggris tersentak, skor 0-1 untuk Jerman.

frank lampard's goal

Unggul 1 gol membuat pemain-pemain asuhan Joachim Löw tampil lebih semangat. Inggris pun yang kelihatannya selalu apes setiap perhelatan major tournament harus kembali kebobolan, kali ini lewat Lukas Podolski. Jerman membuat gol itu dengan apik, rapih sekali lewat open play yang dibangun dengan cermat dari belakang. Ketinggalan 2 gol membuat Inggris mau tak mau harus bermain menyerang, dan akhirnya gol datang lewat tandukan Matthew Upson. Saat posisi hanya tertinggal 1 gol saja, Inggris tambah bersemangat untuk mengejar ketertinggalan dan akhirnya momen ini yang terjadi.

Lewat satu serangan balik yang coba dibangun anak-anak St. George Cross, bola ditendang dengan keras oleh Frank Lampard ke arah gawang Neuer. Bola keras itu menghantam mistar gawang tanpa bisa dijangkau kiper yang menjadi penerus Oliver Kahn itu. Bola tektok itu menghantam tanah jauh melewati garis dan sialnya dengan sigap ditangkap lagi oleh Neuer ketika ia bangun. Semua orang mengira itu gol dan Inggris telah berhasil menyamakan kedudukan. Tapi siapa sangka wasit bergeming dan tidak meniup peluit memerintahkan bola untuk ditaruh di tengah lapangan. Lampard seakan tak percaya bola itu tidak dianggap gol. Jangankan Lampard dan hooligans di lapangan, saya dirumah aja loncat-loncat kegirangan karena menyangka skor jadi sama kuat, eh tapi malah dianggap tidak gol. Padahal kalo diliat dari tayangan ulang, mau berapa kali pun diulang-ulang sampe pita tayangan ulang kusut, tetep aja keliatan bola udah lewat garis gawang. Dari sudut manapun juga begitu, dan nampaknya Neuer pun mengakui kalo bola udah lewat garis. Wasit pun kalo liat tayangan ulangnya lagi pasti bakal insaf, cuma ya begitu deh. Wasit keukeuh dengan keputusannya, dan mungkin ia berpikiran wasit Argentina vs Inggris di Piala Dunia 1986 aja bisa khilaf ga liat tangan Maradona di Gol Tangan Tuhan. Menyakitkan bagi Inggris dan semua tim yang dirugikan.

Itulah sedikit banyak latar belakang terciptanya teknologi garis gawang. Dari ketidakadilan itu FIFA membuat regulasi dan juga teknologi yang akan meminimalisir konflik-konflik yang terjadi bila bola dengan ganjennya antara mau tidak mau masuk ke gawang, menggoda si garis eh udah gitu keluar lagi. Dengan teknologi ini diharapkan akan lebih tercipta keadilan bagi para pihak. Meskipun sebenarnya, ada juga yang mengatakan bahwa terobosan seperti ini membuat sepakbola jadi tidak alamiah lagi. Artinya, sepakbola dan kesalahan mendasar manusia sekarang telah menjadi bagian tak terpisahkan. Kesalahan wasit dalam mengambil keputusan, menjadi hal yang lumrah. Kita melihat bagaimana hal-hal tersebut memberi warna tersendiri dari sebuah permainan sepakbola. Sepakbola tidak boleh menjadi sepenuhnya dikuasai teknologi yang mengalahkan unsur humanity dengan segala keterbatasannya itu sendiri.

Well, tapi cukuplah teknologi garis gawang yang menjadi suatu penemuan revolusioner mencegah ketidakadilan. Selebihnya, biarkan sepakbola tampil apa adanya.

Tagged , , , , , ,

Day 21: Favourite Legendary Player Who Is No Longer Playing

1585338_w2

Saya saat itu sedang bermain di rumah teman ketika mendengar berita besar nan membahagiakan yang menyangkut klub idola saya, AC Milan. Saat itu terpampang berita di sebuah tabloid olahraga bahwa Milan baru saja membeli seorang bek yang sedang naik daun dan merupakan kapten tim dari lawan Milan di Serie A, SS Lazio. Siapakah ia? Tentu saja tak lain tak bukan adalah sang maskot, Alessandro Nesta.

Pembelian itu luar biasa karena saat itu Nesta menjadi kapten Lazio dan ia sedang naik daun sebagai bek tengah klub maupun timnas. Nesta pun harus ridho dijual oleh manajemen klub karena klub biru langit berlambang burung elang tersebut sedang mengalami kesulitan keuangan. Dan saya ingat sekali foto dari berita di tabloid itu sangat melegenda, yaitu gambar Nesta sedang berpose memegang jersey Milan. Wow, luar biasa. Hingga kini transfer Nesta ke Milan masih menjadi salah satu transfer terbaik Milan sepanjang masa. Bayangkan saja, kapten Lazio kok dibeli. Itu kan ibaratnya sama aja dengan mindahin Paolo Maldini dari Milan atau membeli Javier Zanetti dari Inter atau Alessandro Del Piero dari Juventus. Atau ngangkut Francesco Totti dari Roma. Luar biasa. Pemilihan Milan sebagai klub Nesta selanjutnya juga menjadi suatu hal yang melegakan karena desas desusnya, Nesta sempat ingin pindah ke Inter. Ah, untung Nesta memilih jalan yang lurus, hehe.

Sebelum transfer itu terjadi juga kabarnya Milan melirik Fabio Cannavaro, yang saat itu juga tengah naik daun di Parma. Duet Nesta dan Cannavaro sedang menjadi duet paling diandalkan di timnas Italia. Mereka berdua adalah bek tengah klasik yang menjadi andalan di masing-masing klub. Namun akhirnya Cannavaro hijrah ke Inter dan takdir memilih Nesta sebagai seorang Rossonero, dan sisanya adalah sejarah.

Bersama Milan, Nesta datang dan langsung mempersembahkan gelar juara Liga Champions di musim pertamanya. Final di Old Trafford menjadi saksi dimana Nesta bersama Maldini, Marcos Cafu, Billy Costacurta dan Jaap Stam menjadi barisan belakang yang kokoh bagai tembok. Nesta bahkan mendapat julukan Minister of Defence karena kepiawaiannya mengawal barisan pertahanan Milan. Kami para Milanisti pun merasa tenang bila Nesta hadir di barisan belakang. Nomor 13 pun seakan lekat pada diri Nesta, ketika turun ke lapangan dan mengisi salah satu dari 4 bek sejajar Milan. Nesta dan Maldini menjadi duet klasik sepakbola Italia yang tenar dengan pakem catenaccio-nya, dan Nesta – Maldini menjadi wujud dari kokohnya sistem pertahanan grendel tersebut.

Sayang karir gemilang Nesta di klub seakan tidak terlalu mengikuti perjalanan hidupnya bersama La Nazionale. Berbaju biru timnas Italia, Nesta lebih sering dihantui cedera sehingga performance-nya tidak selalu maksimal. Masih lekat di ingatan saya ketika Nesta tidak selesai menjalani gelaran Piala Dunia 2006 karena harus mengakhiri turnamen lebih cepat akibat cedera. Ironisnya, Italia saat itu keluar menjadi juara. Itulah sebagian dari kisah sedih Nesta, selain kekalahan menyakitkan atas Korea Selatan di perdelapanfinal Piala Dunia 2002.

Selain menjadi dewa di barisan pertahanan, kehadiran Nesta di Milan sepanjang 10 tahun karirnya juga menjadi mentor bagi bek-bek baru Milan sepeninggal Maldini, Stam, Cafu, Billy dan lainnya. Oke sebut saja satu nama yaitu Thiago Silva. Kapten Brasil masa kini itu menyebut Nesta sebagai salah satu bek yang menginspirasinya dan berpengaruh pada permainannya. Duet Nesta – Silva sempat menjadi andalan Milan sebelum Nesta pensiun dan Silva dijual ke Paris Saint-Germain. Silva yang saat itu anak baru dari Fluminense mendapat ilmu, teknik dan taktik dalam hal mengorganisir pertahanan dari seorang bek legendaris Italia macam Nesta. Duet Silva – Nesta sebenarnya menjadi angin segar bagi Milan dan mungkin bisa melebihi Nesta – Maldini, namun waktu dan keadaan tidak memungkinkan dan Milan harus ikhlas mengakhiri kebersamaan mereka itu.

Kini Nesta telah mengakhiri 10 musim yang tak terlupakan bersama Milan dan meraih semua gelar level klub. Nesta menjadi salah satu legenda Milan, juga Lazio dan tim nasional Italia. Kehadirannya di Milan menjadi suatu bagian dari keluarga besar Rossoneri, dan membuat Milan semakin lekat menjadi tim yang kerap melahirkan bintang-bintang kelas dunia dan bek-bek legendaris. Nesta kini bermain di Kanada bersama tim Montreal Impact dan masih menjadi nama besar yang menjual bagi klub mana pun yang dibelanya. Dan tahun lalu, Nesta kabarnya telah mundur sebagai pesepakbola profesional.

Tagged , , ,

Day 20: Favourite Player From A Team You Dislike

56450620-1450949497-800

Adalah suatu penyesalan yang baru terasa di akhir suatu keputusan, ketika Milan menjual Andrea Pirlo ke Juventus. Memang ga pernah yang namanya penyesalan itu di awal, karena itu namanya pendaftaran *krik* namun yang jelas, keputusan untuk tidak memakai kembali jasa Pirlo menjadi suatu tanda tanya besar bagi kami, para fans, akan kebijakan manajemen Milan dan tanda tanya itu seakan mengendap dan menjadi suatu peninggalan yang luar biasa di era kepelatihan Massimiliano Allegri kala itu.

Pirlo dijual karena waktu itu Milan sedang mengalami euforia akibat menjuarai Scudetto-nya tahun 2011. Kala itu, Pirlo mengalami cedera yang membuatnya harus absen di beberapa pertandingan Milan, dan perannya diluar dugaan tergantikan dengan baik oleh Mark Van Bommel, pemain asal Belanda yang datang di paruh musim kedua. Milan juara, dan Allegri juga manajemen klub merasa bahwa Pirlo sudah bisa tergantikan. Perannya sudah tidak lagi sentral di barisan tengah Milan dan umpan-umpan khasnya sudah mulai terlupakan. Apalagi Allegri pun identik sebagai pelatih yang gemar memainkan pemain-pemain yang bertenaga di lini tengah, bukan lagi gaya stylish khas Pirlo. Pemain bertenaga macam Sulley Muntari dan Van Bommel dijamin mendapat tempat utama di skuad Max. Strategi itu cukup berhasil di awal kepelatihannya, karena secara tidak langsung Milan masih memiliki pemain yang bisa menciptakan perbedaan di diri Zlatan Ibrahimović. Ibra menjadi protagonis dan mampu membuat pemain-pemain lain menunjukkan sisi terbaiknya. Tanyakan hal itu pada Kevin Prince Boateng dan Antonio Nocerino yang seakan gaya permainannya terbantu oleh kehadiran Ibra.

Selain itu, yang membuat Pirlo harus hijrah adalah juga kenyataan bahwa Milan melakukan regenerasi akan pemain-pemain senior mereka. Nama-nama besar seperti Clarence Seedorf, Gennaro Gattuso, Alessandro Nesta dan lainnya, hanya diberikan perpanjangan kontrak 1 tahun, karena kalau tidak begitu Milan akan terus mengandalkan pemain veteran mereka dan akan lupa dengan kata regenerasi yang sangat penting dilakukan oleh sebuah klub yang telah melewati masa keemasannya. Perpanjangan kontrak 1 tahun dilakukan dengan opsi pilihan bagi si pemain, apakah akan menerima kebijakan tersebut atau tidak. Dan nyatanya, Pirlo termasuk dalam golongan pemain yang berkeberatan. Konon, Pirlo merasa masih bisa memberikan andil bagi Milan untuk beberapa tahun ke depan. Ah, mungkin karena cintanya Pirlo terhadap Milan yang sudah dibelanya selama 10 tahun dan memberikan semua gelar. Namun takdir memang harus memisahkan. Allegri dan manajemen Milan telah mengambil keputusan, dan Pirlo hengkang ke Juventus, dan untungnya bukan kembali ke Inter, meskipun saya memiliki feeling kuat kalau Pirlo tidak akan setega itu mengkhianati Milanisti.

Di Juventus, Pirlo menemukan kembali kejayaannya. Alih-alih dikatakan masanya telah habis karena usia. Di umur yang makin menua Pirlo justru hadir sebagai pemain yang kian matang. Penampilannya pun diubah, brewok yang membuatnya hampir mirip Chuck Norris pun menjadi ciri khasnya kini. Penampilan berantakan itu pulalah yang memberikan image makin tua makin jadi pada diri centrocampista bernomor 21 itu. Juventus seperti mendapatkan roh baru, dan merasakan apa yang dirasakan Milan selama 10 tahun belakangan, yaitu kehadiran seorang fantasista di lini tengah. Sudah beberapa tahun berlalu sejak mereka memiliki Zinedine Zidane, tampaknya kini mereka mulai mengalami masa dejavu dengan adanya Pirlo menempati posisi defending midfielder, posisi favorit Pirlo yang ditemukan oleh Carlo Ancelotti, mentornya selama di Milan.

Hadirnya Pirlo menjadi petaka bagi Milan. Agak aneh tadinya melihat Pirlo memakai seragam bercorak putih hitam berduel dengan koleganya sendiri macam Massimo Ambrosini dan Nesta, juga pemain Milan lain. Tapi sungguh hal itu terjadi, dan Milanisti harus membiasakan diri. Alhasil, Juve dibawanya juara liga hingga kurang lebih 3 kali, dan Pirlo semakin mendapat tempat dan hati publik Juventus Stadium. Sementara Milan mengalami masa terpuruknya sepeninggal Zlatan dan Thiago Silva atas nama finansial, juga bintang-bintang seniornya atas nama regenerasi. Di tim nasional Italia, peran Pirlo juga makin tak tergantikan. Cesare Prandelli sebagai pelatih membuat “kesalahan” Milan membuang pemain berharganya itu menjadi sebuah contoh untuk kembali menempatkan Pirlo sebagai jenderal lapangan tengah La Nazionale. Pirlo tetap memimpin timnas dengan gayanya yang flamboyan dan cool. Tengok bagaimana tendangan panenka-nya melegenda ketika Euro 2012 berlangsung. Dan ketika perhelatan Brasil 2014 kemarin pun Pirlo masih menjadi andalan meskipun Italia tidak mampu lolos di fase grup.

Menengok bagaimana dulu peran Pirlo di Milan, ia sempat menjadi pemain idola saya. Mengingat chemistry yang terjalin di antara Pirlo dengan Ancelotti kala itu, sungguh membuat saya semakin memahami arti kehidupan keluarga di Milan, pada era keemasan Milan menguasai Eropa periode 2003 hingga 2007. Pirlo adalah contoh pemain yang bisa dikatakan late-bloomer (atau pemain yang lambat berkembang), karena di awal karirnya hanya menjadi pemain pelapis atau cadangan, namun bisa muncul menjadi pemain yang tak tergantikan. Saya ingat dulu ketika Milan masih dihuni oleh Manuel Rui Costa sebagai centrocampista, Pirlo selalu menjadi bayang-bayang Rui Costa. Pirlo yang semasa di Inter juga menempati posisi yang sama seperti Rui, tidak pernah diberikan kesempatan menggantikan peran pria Portugal tersebut. Sesekali Ancelotti memasang Pirlo bila Rui berhalangan tampil, hingga akhirnya Don Carlo menemukan pattern baru dalam skema permainan yang mengubah sejarah Milan dan juga takdir Pirlo, menjadikannya metronom tim.

Pirlo ditempatkan dalam pola 4-3-2-1 dengan posisi tepat berada di depan empat bek sejajar. Perannya sebagai centrocampista namun agak ditarik ke belakang membuat Milan saat itu menjadi tim yang bisa bermain dengan 4 fantasista sekaligus: Pirlo – Rui Costa – Seedorf – Rivaldo. Ancelotti pun saat itu disebut sebagai jenius karena mampu memadu madankan 4 pemain bertipe penyerang lubang tersebut, posisi yang biasa ditempati mereka di klub terdahulunya. Dan Pirlo makin menikmati perannya menjadi penyeimbang tim. Ia menjadi pemain pertama yang mengalirkan bola dalam skema penyerangan bila bola datang dari belakang, dan menjadi pemain pertama pula yang memutus alur serangan lawan. Di posisi tersebut ia mampu menterjemahkan peran dari seorang gelandang bertahan dan gelandang menyerang. Umpan-umpannya pun akurat, tanyakan pada Andriy Shevchenko maupun Pippo Inzaghi bagaimana mereka dimanjakan oleh bola-bola pemberian Pirlo. Dan perlakuannya pada bola mati, tidak perlu diragukan. Ia menjadi master of free kick hingga kini.

Tak ada yang perlu disesali. Kejayaan sebuah tim sepakbola beserta pemainnya datang dan pergi dan tidak ada yang abadi. Pirlo masih menjadi pemain favorit saya meskipun berada di klub yang tidak saya sukai. Minimal, ia masih menjadi andalan Azzurri, timnas yang juga masih saya gemari.

Tagged , , , , ,