Monthly Archives: May 2013

Musikimia, the new Padi?

Fadly, Stephan, Yoyo, Rindra (Musikimia)

Rindra, Stephan, Yoyo, Fadly (Musikimia)

Bagi kalian pecinta Padi, atau yang biasa disebut Sobat Padi, termasuk saya ya.. Tentunya sedih dong sekarang ini Padi sedang vakum. Yep, Padi yang dahulu sempat menjadi band fenomenal Indonesia, atau the most wanted band in Indonesia (barengan sama Sheila on 7 waktu itu booming-nya), sedang tidak memproduksi album, atau sedang tidak manggung lagi, atau sedang tidak ngeband lagi, atau bahasa simple-nya ya, sedang vakum, off, berhenti sesaat (semoga bukan selamanya ya, hiks).

Padi, yang telah menelurkan banyak album, well perlu waktu bagi saya untuk menghitung album-album Padi memang meninggalkan banyak fans di Indonesia yang sepertinya susah move-on kalo Padi bener-bener ga ngeband lagi, katakanlah bubar. Padi, yang dikomandai Satriyo Yudi Wahono alias Piyu, sang gitaris memang sepertinya “bergantung” pada keberadaan Piyu. Piyu kini sedang sibuk-sibuknya dan asyik-asyiknya melakukan project solo. Seperti yang pernah saya baca di biografinya, Piyu memang menjadi seseorang yang penuh ide dan kreatif. Ia benar-benar menjadi arwah Padi, dan apabila Padi pun tidak berjalan, Piyu bisa bekerja sendiri. Ia bisa bersolo karir, bisa nyanyi, bisa jadi produser, bahkan bisa menemukan bibit-bibit band atau penyanyi baru. Tengoklah Drive dengan Anji-nya yang “ditemukan” Piyu. Atau kalau berbicara lagu, ia telah menelurkan beberapa single, sebagai contoh Sakit Hati yang video klipnya berupa film mini.

Sekarang pertanyaannya, bisakah Padi bertahan tanpa Piyu? Okelah, bila dilihat dari lagu-lagu Padi selama ini, dari album pertama Lain Dunia hingga album terakhir Tak Pernah Padam, memang kebanyakan lagu-lagu hits Padi berasal dari tangan dingin Piyu. Ia yang menciptakan single-single hit yang meledak di pasaran seperti Begitu Indah, Mahadewi, Sesuatu Yang Indah, Kasih Tak Sampai dan lain sebagainya. Memang dalam sebuah band selalu ada sosok yang menjadi inspirator atau megamind di balik lagu-lagu hits band tersebut. Sebut saja Ahmad Dhani di Dewa 19, Enda di Ungu, Azis di Jamrud atau Eross Chandra di Sheila on 7, begitupun Piyu di Padi.

Bisakah Padi bertahan tanpa Piyu? Okelah, ada Fadly ataupun Rindra yang pernah menciptakan satu dua lagu bagi Padi. Tapi saking sedikit porsinya, saya sampai lupa hehe. Disitulah pertanyaannya, bisakah Padi bertahan tanpa Piyu, dan inilah yang coba mereka cari dalam Musikimia.

Padi di album Lain Dunia (1999)

Padi di album Lain Dunia (1999)

Apakah Musikimia? Mereka adalah Fadly, Rindra, Yoyo dan Stephan Santoso. Ada yang janggal? Yap, Musikimia adalah Padi tanpa Piyu dan Ari. Dua gitaris yang selama ini saling melengkapi satu sama lain di Padi. Dahulu, mereka adalah duet gitaris yang sinergis, Ari mengisi distorsi, rhythm dan efek, sedangkan Piyu merajalela dengan lead guitar-nya yang menyayat dan mengiris hati *halah* dan begitulah realita yang ada, Musikimia coba untuk bertahan, meskipun tanpa sang inspirator mereka, Piyu. Untuk Ari, kenapa ia tidak hadir, saya belum mengetahui dengan jelas infonya. Ada yang tahu? Sebenarnya disayangkan juga Ari tidak join di Musikimia, karena ia adalah salah satu gitaris terbaik di Indonesia (IMO).

Fadly, Rindra dan Yoyo di Musikimia coba merekrut Stephan Santoso sebagai pengisi gitar. Siapakah Stephan? Ia adalah gitaris dan music engineer terbaik di Tanah Air (denger-denger sih begitu). Namun kayaknya benar kok, nama Stephan sudah ga asing lagi di industri musik Indonesia. Bagi “angkatan lama” yang sering membeli kaset dan CD, nama Stephan sering tercantum di ucapan terima kasih para artis dan credit title proses rekaman. Dan bagi Padi pun, nama Stephan sudah menjadi langganan sejak album Lain Dunia, Sesuatu Yang Tertunda, Save My Soul, self-titled Padi dan Tak Hanya Diam.

Musikimia coba bertahan dan mengikis kerinduan para Sobat Padi akan lagu-lagu yang diisi oleh lantunan khas vokal Andi Fadly Arifuddin yang berat dan bernuansa laid-back. Apalagi di single mereka yang sedang beredar, Apakah Harus Seperti Ini. Lantunan dan irama lagu khas Padi jaman mereka sedang jaya-jayanya sangat kental sekali. Orang yang belum pernah tahu mungkin mengira Padi lahir kembali. Namun mereka masih harus banyak membuktikan, dan saya juga mau tahu, apakah Musikimia mampu memainkan nada-nada upbeat dan rock kental dengan baik sebaik Padi dahulu, dengan lead guitar tentunya. Saya juga ga tahu apakah Stephan bisa melakukannya atau ia punya sentuhan lain, kita lihat saja.

Padi di album Tak Hanya Diam (2007)

Padi di album Tak Hanya Diam (2007)

Yang jelas, di lubuk hati terdalam saya masih berharap bahwa Musikimia ini adalah proejct sementara, untuk memberi waktu kepada Padi hadir kembali. Formasi lengkap. Piyu dan Ari kembali bersatu dalam duet gitar, Rindra yang serius bermain bass, Yoyo yang gebukannya mantap dan penuh power, dan Fadly yang karakter vokalnya beda dari band-band manapun di Indonesia, dan penampilan mereka yang selalu dipenuhi fans. Entah apa yang menggelayuti benak Piyu sehingga ia sepertinya masih enggan untuk “kembali” ke Padi. Well, mungkin saya berpikir Piyu agak “sakit hati” dengan komitmen yang dilanggar oleh salah satu personilnya yang terkena kasus narkoba dan obat-obatan terlarang. Atau mungkin Piyu sedang “nanggung” menyelesaikan proyek solo nya yang sepertinya sayang bila ditinggalkan karena ia kembali ke Padi.

Apapun itu, saya dan Sobat Padi yang lain berharap agar Padi kembali eksis dan membuat lagu-lagu baru dan tentunya album baru. Anda setuju?

Advertisements
Tagged , , , ,

[movie review] Fast & Furious 6

Image

“Hantam mereka” mungkin itulah yang menjadi objek kepenasaranan (istilah apa ini) dari para penonton Indonesia yang rela berduyun-duyun dan mengantri super panjang untuk film yang satu ini. Dan juga itulah yang menjadi penyebab para pemilik bioskop, XXI atau 21 atau juga Blitzmegaplex memasang film ini di lebih dari 1 studio, yang mengakomodir keinginan kuat para penonton untuk menyaksikan orang yang bilang 2 kata tersebut beradu akting dengan Vin Diesel maupun Paul Walker.

Yes, dialah Joe Taslim. Seorang aktor Indonesia yang juga atlet judo (kalo saya ga salah), yang dapat kesempatan bermain di film besutan sutradara Justin Lin. Well, Joe yang sebelumnya menggemparkan dunia lewat aktingnya di film Indonesia bertaraf internasional The Raid, bersama Iko Uwais, akhirnya bisa kita saksikan ke-go internasionalannya (bahasa apa lagi ini) di Hollywood, dan itu semua jelas membanggakan. Joe bahkan melebihi teman mainnya di The Raid, Iko, yang saat ini baru terdengar gosip saja untuk bermain di Mortal Kombat maupun di filmnya Keanu Reeves, Tai Chi Master (atau Tai Chi Kungfu ya, lupa), hehe.

Dan benar saja, Joe yang saya kira sebelumnya, hanya tampil sebentar alias menjadi penjahat yang sekali mati, ternyata mendapat peran yang banyak sebagai Jah, yaitu teman dari komplotan penjahat pimpinan Shaw, yang menjadi lawan tanding dari kelompok Dominic Toretto dan Brian O’Connor.

Dan Jah juga mendapat kesempatan tanding melawan Han (Sung Kang) dan Roman (Tyrese Gibson) di sebuah subway, dan menang lagi! (ini spoiler bukan ya), dan itu membanggakan sekali. Jah alias Joe menampilkan kemampuan bela dirinya yang ciamik dan seperti yang kita lihat di trailer, dia berhasil menendang Tyrese sampai memecahkan kaca, hehe. Dan Jah juga mendapat part ngomong yang cukup banyak. Ah sudahlah nanti saya spoiler terus, hehe.

Well, cukup membahas Joe alias Jah di film tersebut. Secara keseluruhan film seri ke 6 ini sangat menghibur dan benar-benar saya nikmati, meskipun di beberapa part saya mengantuk, namun overall penampilan dari Dom dan teman-temannya dan komedi-komedi alias banyolan dari Roman cukup membuat terbahak. Dan Gal Gadot, alamak.. Perannya sebagai Giselle di film ini cukup membuat mata saya tak berkedip. Meskipun saya ga terlalu suka perempuan bertubuh kurus, namun pengecualian ada pada Gal Gadot, hehe.

Image

Apalagi ya, ceritanya ya standar.. Dan memang kalau dilihat dari segi cerita biasa saja. Masih berkisah mengenai Dom (Vin Diesel) dan Brian (Paul Walker) yang menggulingkan gembong penjahat di Rio dan meninggalkan awaknya dengan $100 juta, mereka tersebar di seluruh dunia. Namun mereka tidak dapat kembali ke rumah dan hidup selamanya dalam pelarian membuat hidup mereka  tidaklah sempurna. Sementara itu, Hobbs (Dwayne Johnson) melacak organisasi pengendara terampil bayaran yang telah berkendara melewati 12 negara. Satu-satunya cara untuk menghentikan kriminal adalah berlaga di jalan, sehingga Hobbs meminta Dom untuk mengumpulkan tim elit di London dengan imbalan yang tak ternilai harganya.

Hmm, agak aneh ya sinopsisnya, karena saya copas dari cinema 21 haha. Ya pokoknya kalo dari segi cerita, sangat mudah diikuti dan meskipun kalian belum pernah menonton atau lupa dari serial-serial sebelumnya, hal tersebut tak akan mengganggu keasyikan menonton film ini.

Dan yang paling penting adalah, jangan langsung beranjak keluar studio ketika layar mulai gelap dan lampu akan dinyalakan. Karena lampu ga akan dinyalakan dulu dan masih ada 1 scene terakhir. Scene-nya apa? Ya liat aja deh, saya ga mau spoiler, haha.

Rate: 3,5/5

Tagged , , ,

[album review] Love, Lust, Faith and Dreams – Thirty Seconds To Mars

Image

Album yang dinanti-nanti bagi para Echelon (sebutan fans Thirty Seconds To Mars) hadir di tahun 2013 ini. Sebuah album yang woro-woronya sudah lama terdengar di Twitter namun baru akhir-akhir ini keluar single pertamanya yang berjudul Up In The Air. Ternyata, single tersebut hanyalah sebuah teaser dari rangkaian lagu-lagu lain yang bernaung di bawah judul Love, Lust, Faith and Dreams.

Terbentuk sebagai sebuah band yang punya branding bagus dalam hal kemasan album, dari segi art dan juga mencakup video klip yang dilempar ke pasaran, band yang dikomandoi Jared Leto ini menjadi salah satu komoditi band yang dicari di pasar musik Internasional. Tentunya masih ingat di ingatan kita bagaimana kesuksesan This Is War (2009), album yang berhasil meluncurkan Kings And Queens sebagai hit single favorit beberapa tahun lalu, dengan konsep video klip yang lagi-lagi extra-ordinary, dengan menampilkan sepeda-sepeda atau yang biasa disebut biker dengan segala jenis sepedanya. Dan lagu itu bahkan bisa dibilang menjadi theme song kaum pesepeda yang sempat menjamur di Indonesia baru-baru lalu.

Kali ini, album yang mari kita singkat dengan LLFD itu, tampil pula dengan kemasan yang apik. Dengan cover sederhana, hanya berupa titik-titik berbagai warna yang tentunya ada filosofinya (silakan googling sendiri untuk tahu artinya, hehe) dan beberapa lagu yang kita baru tahu apabila telah mendengarkannya.

Di lagu pertama, ada “pancingan” lagu berjudul Birth. Dengan bunyi trombone sebagai intro, sebait lirik dari Jared dan kemudian full music ditambah strings, membuat lagu ini menjadi pilihan terbaik lagu pembuka yang mewakili seluruh album. Well, bisa dibilang bukan merupakan full song sih, tapi dengan mendengar track ini dijamin anda akan dibawa menuju gerbang penuh tanda tanya, sebenarnya apa yang diberikan 30 STM di album kali ini.

Track 2: Conquistador. Cocok untuk full track pertama band asal Los Angeles ini. Dan nampaknya lagu enerjik ini bisa jadi lagu jagoan selanjutnya. “We will, we will rise again” jadi kalimat penegasan mereka untuk eksis kembali tentunya. Dan tahan nafas anda karena lagu ini bakal disambung dengan hit single Up In The Air, yang butuh beberapa kali bagi kita, bahkan bagi kita yang sering mendengar lagu-lagu 30 STM sebelumnya, untuk mencerna. Dan setelah kita dengar berkali-kali, ah lagu itu masuk di telinga! Apalagi bila sembari ditonton klipnya, keren deh.

City of Angels, track selanjutnya dari album ini, menyajikan lagu ballad dengan komposisi synth yang apik dan drum beat khas Shannon Leto. Plus, kehadiran keyboard menambah manis lagu yang tak sulit akrab di telinga ini. Lagu keren!

Kemudian, The Race, menampilkan lagu yang sama seperti album-album terdahulu dan menurut saya kurang begitu istimewa. Dilanjutkan dengan End Of All Days, dimana kita bisa mendengar vokal Jared dengan hanya ditemani piano. Dan sepertinya mereka mulai berbicara hal religius disini. Ah, menarik. Disambung dengan Pyres of Varanasi, satu lagu dengan intro yang bernuansa spooky namun kemudian diiringi strings beserta gumaman bahasa Arab yang memacu detak jantung layaknya di film-film thriller. 30 STM memang piawai dalam memainkan bunyi-bunyian yang megah dan memiliki nuansa orkestrasi.

Ah, sepertinya rangkaian lagu di album ini memiliki beberapa part. Bila anda jeli, anda bisa mendengar suara wanita menyebutkan beberapa part di awal beberapa lagu. Seperti Love, Lust, Faith dan Dreams. Dan di “bab” Faith, dibuka oleh lagu menarik bertitel Bright Lights. Disini kita bisa mendengar alunan nada simple namun tetap catchy dari trio yang pernah tampil di Indonesia tersebut. Perhatikan baik-baik lagu ini dan dijamin anda akan menggemarinya.

Track 9, Do Or Die. Lagu ini juga menarik. Jared mengatakan bahwa album ini adalah album terbaik selama ini dari perjalanan karir mereka, jadi anda akan sering menemukan lagu-lagu dengan tema dan nuansa sama di album ini. Dan menurut saya, hal tersebut adalah perubahan cukup mendasar dari album-album mereka selama ini. Dengan lengkingan kuat Jared, sudah mulai terbentuk pasti karakteristik musik mereka. Disambung dengan Convergence, Northern Lights dan Depuis Le Debut, nikmatilah album yang paling on fire di tahun ini.

Rate: 3,5/5

Tagged , , , ,

MEME School Day 4: Lebih suka NGERJAIN atau DIKERJAIN?

ya kira-kra beginilah nasib saya dulu. Foto hasil Googling.

ya kira-kra beginilah nasib saya dulu. Foto hasil Googling.

Oke, masuk ke tema ke-4 dan kali ini temanya adalah lebih suka ngerjain atau dikerjain? Well i have to say that, di jaman-jaman saya sekolah dulu, ada 1 peristiwa yang membuat saya ga bisa lupa sampe sekarang, mungkin masuk kategori DIKERJAIN.

Jadi beginilah ceritanya:

Kisah ini terjadi ketika saya SMP. Suatu hari, tersebarlah berita bahwa saya ulang tahun di suatu tanggal di bulan yang bahagia. Okelah, karena dulu jamannya yang namanya diceplokin telor, jadi ketika saya ulang tahun itu saya sudah bersiap untuk kena yang namanya diceplokin. Di hari itu, saya udah pasrah aja deh pokoknya. Pas pelajaran di jam terakhir, teman-teman sekelas udah pada godain aja bilang “Bim, gw udah nyiapin telor nih..” “Eh kecapnya belom nih, terigu juga..” ya sort of like that lah pokoknya. Suara-suara bernada intimidasi dan sindiran sekaligus ancaman bahwa saya akan berada di Siaga 1 sepulang sekolah nanti. Well, itulah ya, resiko yang harus saya alami sebagai anak yang famous di kelas *ditimpuk* pokoknya sore itu saya ga tenang.

Ingin rasanya saya pulang cepat. Atau menghindar alias kabur dari sekolahan. Saya bilang ke teman sebangku saya “Gw balik aja deh cuy, daripada gue diceplokin ntar, ogah ah. Ntar gw masuk tivi lagi kan nanti gw terkenal..”

Oke, ada 2 kepalsuan di kalimat diatas. Yang pertama, jaman dulu belum ada panggilan cay cuy cay cuy. Dan yang kedua, ga mungkin juga acara penceplokan gue diliput tivi.

Oke, back. Jadi kata teman sebelah saya “Ya udahlah Bim terima aja.. Kalo lo cabut sekarang, itu ga menyelesaikan masalah. Nanti besok-besok juga lo bakal kena lagi!” ah ternyata sang teman sebelah saya sudah berada dalam kongsi penceplokan. Dan dalam hati kecil saya mengatakan, benar juga, kalo saya cabut atau izin sekarang, besar kemungkinan anak-anak bakal nyeplokin besok, atau besoknya lagi. I’m trapped. Saya pasrah, ikhlas dan tawakkal. Beginilah resiko jadi murid idola.

Akhirnya, bel berbunyi dan sekolah usai. Dengan gontai saya berjalan ke depan pintu gerbang dan seingat saya, saya sendirian waktu itu. Entah kenapa, saya udah pasrah aja ngeliat teman-teman berjalan menuju arah saya dan PRAT PROT..!! Telor sudah mendarat dengan mulus di rambut saya. Anyway, rambut saya dulu lurus belah tengah gitu deh, ga tau kenapa sekarang jadi kriwil keriting susah diatur (nanti dibahas lain kali).

Telor ga hanya 1 atau 2, tapi 3 dan 4 sekaligus sudah hancur menutupi warna rambut. Lengket dan lepek dimana-mana. Anak-anak yang lain mengerubuti dan bersorak, bahkan ada yang ngeledek, ketawa dan lain sebagainya. Udah ga peduli saya, mana gebetan, mana cewek cantik atau inceran atau pacar (yang terakhir fitnah soalnya ga punya) bakal ngeliat dan ngetawain. Pokoknya kepala saya nunduk aja lah. Jangankan telor, beberapa anak kemudian menumpahkan terigu sama kecap. Jadilah saya macam Indomie goreng atau telor ceplok dan lain sebagainya. Sambil ikut menikmati dengan mencoba ketawa dan ledek-ledekan dengan teman-teman, saya menghampiri Dimas yang siap dengan sepedanya.

Dimas adalah teman sekolah saya (tetangga). Dia bukan teman sekelas, tapi Dimas dulu kalo ke sekolah naik sepeda dan saya nebeng terus berangkat sama pulang.

Jadi sebelumnya saya udah bilang Dimas kalo saya mau diceplokin dan minta jasa Dimas buat (masih tetep) gonceng saya pulang. Dan Dimas untungnya masih mau boncengin temennya yang belepotan dan lengket ini. Meskipun resikonya, ya dia juga ikutan jadi pusat perhatian sepanjang jalan. Ah, makasih Dimas sudah mau menjadi temanmu yang artis ini *kecups*

Sampai rumah, ada kali 5 sampai 7 kali saya keramas, karena bau sama lengketnya susah hilang! Haha.. Tapi gapapa, itu pengalaman yang ga akan saya lupakan sepanjang karir persekolahan saya. Dan sekarang kalo boleh bilang, saya berterima kasih kepada teman-teman SMP dulu atas perhatiannya, hehe.

Tagged , , , , ,

All The People.. Well, here’s your lucky day! (a review of BLUR Live in Jakarta 2013)

welcoming the God of Britpop

welcoming the God of Britpop

Perhatian: Tulisan ini bakal panjang.

Well, ini saya masih bermimpi. Saya masih ga bisa move on dari kenyataan, bahwa apa yang saya alami semalam benar-benar luar biasa. Amazing! It’s the best live music show i have ever had. Thanks Blur, kalian memang benar-benar bikin mimpi saya jadi nyata dan menyuguhkan world class music di depan mata dan benar-benar experience yang sampe sekarang susah tergantikan. Oh well, mungkin Coldplay atau U2 bisa bikin pengalaman konser saya menakjubkan juga. Tapi kalian, Blur, sukses bikin saya terbengong-bengong ga karuan. I was flying high on the sky last night.

Mungkin bagi kalian yang berteman sama saya di Twitter, BBM ataupun social media lain sudah mengetahui bahwa saya excited sekali Blur mau datang ke Indo. Yep, Blur adalah dewa britpop dan menggelegar sekali namanya ketika saya SMP. Blur dan Oasis. Itulah dia, dua band yang menjadi inspirasi saya dahulu ketika SMP. Band yang lagu-lagunya sering saya nyanyiin pake gitar dan saya kulik chordnya. Saya beli kasetnya dan saya dengar hampir setiap hari di tape milik abang saya dan di Walkman merk Aiwa. Band yang harus saya tonton karena alasannya pernah saya tulis disini. Dan saya memang benar-benar harus nonton. Harus.

Dan ketika saya cari teman-teman saya ga ada yang punya rencana nonton Blur, the show must go on. Saya tahu pasti garing nonton sendiri. Cuma saya tekankan lagi, saya nonton for a sake of good music, and good soul. Jadilah saya nonton sendiri, dan saya berterimakasih pula kepada Ouval Research yang telah memberikan harga presale, dikala harga jual tiketnya sudah normal price yang tentunya mahal. Oke, saya bersiap menonton Blur. Persiapan saya adalah:

1. Karena saya ternyata ga punya outfit Blur, maka saya membeli kaos Blur di Twitter.

2. Mendengarkan lagu Blur dan The Temper Trap all album lewat iPod, waktu mendengarkannya adalah setiap perjalanan pulang pergi ke kantor.

3. Udah.

Well, begitulah persiapan saya. Dan satu lagi, bersiap merencanakan rundown jam berapa dari kantor, menuju venue dan mau parkir motor dimana. Syukurlah di kantor sedang tidak banyak kerjaan, jadi selepas Ashar saya langsung meluncur ke Senayan dan parkir di halaman parkir motor Lapangan D.

Setelah menemukan tempat parkir yang pewe dan cukup dekat menuju gate, saya segera menukar kwitansi pembelian tiket saya dengan tiket asli di tempat yang telah ditentukan. Sore itu sekitar pukul 17.00 keadaan sudah berangsur ramai. Setelah menukar tiket, saya mulai berjalan masuk gate dengan segala pemeriksaan tiket serta barang-barang bawaan. Dan sekejap masuklah saya di venue.

image (1)Ternyata, sebelum ke main stage ada tempat untuk segala merchandise, food and beverages, dan satu panggung yang bertitel Telkomsel Stage. Disana ternyata akan manggung 2 band alternative cadas lokal, yaitu Morfem dan The Brandals. Menarik! Secara saya belum pernah melihat performance keduanya. Oke dari info yang saya dapat mereka tampil bergiliran masing-masing jam 6 dan 7, dan mereka bertugas mengisi kekosongan dari artis-artis main stage macam Van She, Tegan And Sara dan The Temper Trap.

Akhirnya saya mencoba masuk ke Lapangan D dimana main stage dengan gagah berdiri dan disana telah ada bebunyian yang berasal dari band Van She. Apa dan bagaimanakah band tersebut saya juga kurang begitu paham. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat disini. Van She bakal tampil hingga magrib, menurut jadwal. Dan penonton yang hadir juga masih sepi. Mungkin beberapa yang datang bukan berarti ingin melihat penampilan mereka, tapi saya pikir sih mau ngetekin tempat di front row buat Blur, haha.

Waktu terasa begitu cepat, dan magrib menjelang saya merasa harus mencari tempat buat sholat. Celingak celinguk saya liat sekeliling sembari bertanya pada satpam dimana tempat barang sekedar sujud, mereka bilang jauh harus keluar pagar. Saya ga percaya dan saya ingat dulu pernah sholat dikala konser Java Rockinland, dan saya pikir pasti ada tenda yang disediakan, dan voila! Nemu lah saya dan saya bisa magriban sebelum jejingkrakan.

Setelah sholat, dari panggung mini diluar terdengar suara hingar bingar. Coba tebak, yap, Morfem sudah naik panggung. Tak perlu pikir panjang bagi saya untuk datang dan melihat penampilan mereka. Dan benar saja, band yang salah satu personilnya adalah kakak dari teman saya itu sudah menghentak panggung dengan lagu-lagu mereka yang enerjik. Dan vokalis mereka, Jimi Multhazam tampil kocak dan ekspresif. Mantan vokalis Upstairs tersebut menghentak panggung selama kurang dari setengah jam, dan penampilan mereka yang ga lama itu adalah untuk mengisi waktu sebelum Tegan And Sara tampil.

Tegan and Sara on stage. Gambar ga jelas karena kejauhan, hehe.

Tegan and Sara on stage. Gambar ga jelas karena kejauhan, hehe.

Tegan And Sara adalah duo vokalis cewek asal Kanada yang memiliki aliran musik apa ya, ga bisa dibilang rock juga tapi lebih dari sekedar pop. Indie rock lah tepatnya. Sekilas mengingatkan kita pada duo M2M jaman dahulu kala, tapi yang ini lebih macho dan gagah karena bisa main alat musik (well M2M juga ada yang bisa main gitar sih). I mean, Tegan dan Sara ini lebih ngerock lah tampilannya. Dan musiknya pun unik dengan bunyi-bunyian yang ga lazim. Entah yang mana yang namanya Tegan atau Sara, dan saya juga ga sebegitu paham dengan lagu-lagu mereka. Tapi lagu mereka cukup asik meskipun di beberapa part ada yang membosankan. Tegan (atau Sara) beberapa kali mengatakan bahwa Indo panas, like “this is the hottest weather i’ve ever experienced” ya kurang lebih gitu deh dia bilang dengan suara mungil nan menggemaskan layaknya suara dubbing film-film kartun yang tokohnya princess gitu. Dan mereka cukup mengapresiasi beberapa fans yang (mungkin) berdiri di front row, karena dari tempat saya berpijak ga kelihatan.

Tegan And Sara tampil selama kurang lebih setengah jam lewat sedikit. Dan masyarakat Big Sound sudah mulai ga sabaran untuk acara inti yaitu Blur. Eh tapi tunggu dulu, masih ada The Temper Trap dan untuk mengisi jeda waktu, The Brandals main di Simpati Stage di luar. Okelah, daripada menunggu dan lagian perut saya lapar dan haus, saya berjalan dengan menempuh jarak yang lumayan keluar. Di luar dan di tempat food and beverages, pilihan saya jatuh ke hot dog yang well, harganya ga perlu dibilang lah ya, ga awam lah pokoknya haha. Gapapa deh yang penting bisa mengganjal perut sebentar. Sembari makan saya menonton penampilan Brandals yang juga enerjik dan vokalisnya ga bisa diam. Anyway, meskipun kalo dipikir-pikir beda jauh, tapi saya prefer melihat The S.I.G.I.T. dibandingkan Brandals. Tapi yah, masih jauuuhhhh lebih baik Brandals kemana-mana dibandingkan Changcuters *palm face*

The Temper Trap.

Seusai Brandals turung panggung, panitia memberitahukan bahwa The Temper Trap akan segera perform. Segera saja saya beranjak menuju main stage untuk melihat penampilan mereka. The Temper Trap (TTT), band yang digawangi oleh vokalis asal Indonesia, Dougy Mandagi, menurut saya adalah salah satu band bagus potensial yang penampilannya sayang untuk dilewatkan. Namun sayang sekali, animo penonton tak seperti yang diharapkan. Dougy yang seperti pulang kampung malah sampe bilang: “ayo Jakarta, jangan sopan sopan dong” yang menurut saya adalah sindiran kenapa crowds lebih banyak diam sepanjang Temper Trap menggelontorkan beberapa lagu. Well, entah karena memang banyak yang belum tahu atau ga tahu lagu-lagunya, atau di kepala para penonton sudah terbayang Blur Blur dan Blur, maka jadinya ya mereka adem ayem saja. Track pembuka yang sebenarnya bagus luar biasa, Lost Love terkesan datar dan ga ada klimaksnya. Mungkin diantara sederetan penonton di barisan depan reguler festival, hanya saya aja yang bisa mengikuti lirik mereka.

Dougy pun tampil seperti biasa, dengan goyangan dan gaya yang santai dan asik mengikuti irama lagu. Ditambah kualitas vokalnya yang sudah tak diragukan lagi, band asal Australia yang dipimpin oleh orang Indonesia itu menghentak dengan lagu-lagu dari album Conditions dan self-titled album mereka. Penampilan TTT pun lebih banyak memainkan lagu yang tidak enerjik dan upbeat. Bahkan I Need Your Love yang memiliki tempo tinggi tidak dibawakan. Entah karena ingin mengeksplor suara khas Dougy atau lebih banyak ingin bermain dengan instrumen seperti di lagu Rabbit Hole, dan lain sebagainya. Dougy pun menunjukkan kelebihannya dengan menabuh drum juga (atau perkusi) ya seperti itulah. Dan entah kebetulan atau tidak, namun yang saya heran adalah, penonton bule lebih bisa menikmati penampilan TTT dibanding kita penonton tuan rumah. Ini menimbulkan pertanyaan apakah, TTT di luar sana lebih terdengar dan lebih dikenal dibanding kita, negeri dimana sang vokalis berasal. Hmm.. Oke cukup beranalisa ria, karena setelah lagu terakhir yang ditunggu banyak orang, dan sepertinya lagu yang paling banyak orang kenal, atau mungkin SATU-SATUNYA lagu dari TTT yang orang kenal, Sweet Disposition dikumandangkan, venue bergemuruh.

Bagi yang belum pernah mendengar Sweet Disposition dibawakan live, patut dicoba sekali-kali. Dengan intro panjang yang menenangkan disambung petikan gitar khas dari lagunya, membuat lagu yang menurut saya pantas masuk dalam “One of the Best Song In Universe” ini memuaskan untuk didengar. Dari awal sampai selesai, saya tak berhenti bernyanyi bersama Dougy.

Time For Blur.

Oke, Dougy dan teman-temannya pamit, dan inilah saatnya The Band From Essex tampil. Dan mereka ga tampil begitu aja ujug-ujug ya, pasti ada jeda dulu untuk memberi waktu pada kru menyiapkan tata panggung. Gitar-gitar Graham digerek masuk. Dan yang jelas terlihat adalah, drum set Dave yang ditaruh di tengah-tengah stage. Lampu gelap dan penonton sudah mulai gelisah. Dan juga deg-degan! Itulah yang saya rasakan, karena dalam hitungan menit saya akan melihat band yang dulu lagunya saya nyanyikan hampir setiap hari di rumah, melalui kaset, tampil di depan mata saya! And you can’t describe those feelings. Background yang berbentuk tirai diturunkan, dan tampaklah gambar besar jembatan layang (entah dimana itu). Hal tersebut serupa senada seirama dengan nuansa lagu terbaru Blur, Under The Westway.

Saya gelisah, berkali-kali saya melihat jam tangan melihat apakah sudah mulai jam 9. Waktu dimana sesuai itinerary Blur akan tampil. Dan tepat saja, backsound telah berkumandang dan penonton mulai koor Tender. Dan tanpa basa basi, lampu dinyalakan dan britpop heroes itu menempati posnya masing-masing. Dan terakhir giliran Damon Albarn sang vokalis keluar dengan memakai kaos dan jaket kulit, diiringi intro yang sudah tak asing lagi sebagai pembuka setlist, Girls And Boys! Penonton tak kuasa menahan histeria dan mulai melompat-lompat.

Damon tampil enerjik kesana kemari sambil sesekali menyiram air mineral ke barisan depan. Alex sesekali tersenyum dan Graham Coxon, sang dewa gitar tampil tanpa ekspresi. Dave juga nampak serius sambil menggebuk drumnya. Setelah Girls And Boys paripurna dibawakan, meninggalkan saya dengan deru nafas terengah-engah dan keringat bercucuran, dilanjut dengan Popscene, dan There’s No Other Way. Tiga lagu awal yang sangat sangat cukup membuat suara saya serak, habis dan mungkin membuat sebelah dan depan saya kapok ga mau dekat-dekat saya lagi kalo ada konser karena wajah mereka dan kepala sesekali kena sikut atau tabokan tangan tak sengaja (maaf ya mbak) hahaha.

Huft, nampaknya mereka mengerti keadaan audiens dan memberikan kesempatan kepada kami untuk istirahat dan mengatur napas. Oke, Badhead menjadi lagu yang pas untuk berdendang sembari santai juga mengangkat tangan. Nikmat sekali singalong sembari memejamkan mata dan menatap langit yang seakan tersenyum melihat kami semua bermaBLUR ria. Setelah Badhead usai, venue kembali histeris karena the one and only Mr. Coxon mulai mengocok-ngocok gitarnya dengan efek distorsi sembari memberi isyarat pada kami semua untuk tidak terbuai terlena, karena Blur meminta kami kembali menarik urat suara dengan kencang, because of… BEETLEBUM!!!

Whoaa.. Bernyanyilah saya (dan kami) dengan penuh semangat. Seakan ingatan saya kembali ke jaman SMP dimana saya pertama kali kenal Blur dari klip Beetlebum di MTV Most Wanted. Dulu saya nyanyi di depan tivi begitu ada klipnya, dan kini, 10 tahun lebih kemudian, bernyanyi bersama penyanyinya! Oh Gosh, it’s the best experience of music yang bisa terjadi pada diri lo! Setelah Beetlebum usai, intro Out Of Time yang sudah tak asing lagi memenuhi seisi venue. Di lagu ini, saya lebih banyak memejamkan mata sembari berkonsentrasi penuh bernyanyi. Ah, luar biasa bisa koor bareng, tak mengindahkan keringat bercucuran, yang penting nyanyi!

Setelah Out Of Time, suasanya kembali dihangatkan lewat Trimm Trabb. Lagu di album 13 yang dulu saya suka karena nuansa spooky-nya dan kelam. Damon menyanyikan lagu ini dengan penuh penghayatan dan bener-bener bikin gw nyanyi “That’s the way it is… That’s the way it is…” emang bener-bener bikin sakau penampilan Blur malam itu. Meskipun setlist mereka persis sama dengan yang di Hong Kong dan sepertinya ga ada perubahan sama sekali (dan saya udah tau bocorannya duluan), namun tetap aja bikin nyandu dan kita ga sabar menantikan lagu apa yang dibawakan selanjutnya. Setelah Trimm Trabb lanjut Caramel dengan nuansa yang ga biasa, Damon memainkan semacam piano tapi kecil gitu ga tau namanya. Setelah itu, lagu yang sempat hits di akhir 90-an (lagi-lagi dari album 13), Coffee & TV, dibawakan. Dan yang bawa Milky mungkin pada mengacungkan Milky ya. Saya sih ga bawa, namun lagi-lagi, saya singalong sampe suara saya habis (lagi). Dan keringetan lagi setelah lagu selesai. Fiuhh.

“Udah pada puas belum? Lanjut?” begitulah mungkin kalo Damon jadi Ariel Noah, atau sebaliknya. Karena setelah Coffee & TV, inilah momen klimaks (menurut saya) dari Blur Live In Jakarta 2013. Kenapa begitu? Karena disinilah 4 lagu dibawakan secara berurutan dan kesemuanya luar biasa. Catat: Tender, Country House, Parklife, End Of A Century. NAH LO! Setlist di pertengahan konser ini bikin jantung ga sehat bro. Asli. Pertama-tama Tender. Nah udah pada tau kan apa yang terjadi kalo Coxon udah mainin intro Tender, dijamin koor bareng satu venue! Dan bener aja, buat kalian yang ga tahan-tahan atau gampang terenyuh, dijamin nangis ketika nyanyi lagu ini. Mungkin yang bisa nandingin feel nyanyi Tender di konser cuma lagu Oasis yang Don’t Look Back In Anger. Dan saya, saya hanya bisa nyanyi selantang-lantangnya, mengangkat tangan, memejamkan mata, atau sesekali melihat langit hitam tanpa bintang sembari berkata “I’m waiting for that feeling, waiting for that feeling to come..” Aaaarrgghh histeria melanda jiwa raga.

Selesai Tender, jangan cepat puas karena Damon, membuka jaket kulitnya dan dimulailah intro Country House. Yes Country House! Dan disinilah saatnya Damon “turun gunung”, menyapa para penggemarnya lebih dekat, turun stage dan bernyanyi diantara kami. Yes, dia merelakan tangannya dijamah ribuan fans yang duduk di barisan paling depan, dan dia bernyanyi sangat dekat dengan kami, sangat dekat. Dan di tengah lagu ia berkata: “i forgot the lyric, you sing..!!” dan seketika para jamaah Blur larut dalam euforia.

Jangan puas lagi, lagi-lagi karena Parklife sekarang giliran dinyanyikan. Suara belum balik, kaki udah pegel banget namun otomatis bisa lompat-lompat karena inilah saatnya kita berteriak “Parklife!” dan harusnya ada Phil Daniels disini, tapi ga masalah karena Damon seorang sudah bikin suasana Senayan seperti Hyde Park atau bahkan Glastonbury. Shit. Yang punya riwayat penyakit jantung mungkin bisa ngaso dulu di pinggir lapangan. Setelah Parklife, suasana agak selon karena kali ini End Of A Century yang ditampilkan. Selon namun tetep aja, koor bareng jatuhnya. Dan, suara saya sudah menghilang entah kemana.

Setelah rangkaian sadis itu, 2 lagu slow ditampilkan sebelum encore. Death Of A Party dan This Is A Low. Oke, saya akui saya sudah kehabisan nafas. Dan saya cuma bisa bernyanyi seadanya. Saya benar-benar capek. Huft, namun saya tahu konser ini belum selesai dan saya harus menyiapkan untuk akhiran yang benar-benar luar biasa.

Apakah akhiran itu? Setelah Blur ke backstage dan penonton teriak “we want more!” akhirnya mereka berempat muncul kembali dan kali ini Damon bersiap di belakang piano, Under The Westway! Setelah itu Damon mengambil gitarnya, “he’s a twentieth century boy!” For Tomorrow! Saya yang sedang berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaga hanya bernyanyi seadanya, namun tetap takjub dan bengong.

Dan akhirnya, 2 lagu terahir benar-benar khusnul khotimah, akhiran yang baik. Disinilah untuk pertama kalinya, Jakarta merasakan yang namanya bernyanyi bersama The Universal. Yes, The Universal. Well it really really really could happen. Semua memang bisa terjadi. Apapun, termasuk Blur yang sudah 14 tahun saya tunggu datang ke Indonesia. Itu terjadi, dan kita semua merayakan hari keberuntungan kita malam kemarin, here’s our lucky day.

Setelah The Universal, Song 2 yang menjadi penutup sudah lebih dari klimaks. Kaki pegel tak saya indahkan. Di lagu terakhir ini saya harus lompat sekuat tenaga. Dan benar saja, Song 2 menjadi lagu penutup yang klimaks meskipun durasinya hanya kurang dari 2 menit. Setelah itu, Blur mengucapkan terima kasih dan pamit. Benar-benar pamit. Kami semua melongo dan merasakan orgasme telinga yang luar biasa hingga puas. Saya pun sempat terbengong di lokasi sebelum akhirnya berjalan berduyun-duyun keluar karena haus luar biasa. Keringat saya masih gembrobyos (kalo kata orang Jawa), dan saya sempat berdiam diri di depan kipas angin besar di salah satu stand minuman buat ngadem sembari minum air. Disitu saya bengong dan mencoba flash back kembali konser dari awal. Luar biasa. Dalam hati, tinggal Oasis, sama The Cure yang belum, hehe. Ini yang orang sebut haji maBLUR sepertinya.

Dan saya pulang dengan kondisi puas. Blur telah memberikan tontonan kelas dunia. Dan saya beruntung menjadi bagian dari sejarah Jakarta sebagai ibukota britpop Asia. Catatan: iPhone saya yang bermuatan 16 giga bytes full dengan video dan foto, maksud hati mau merekam semua lagu, apa daya hanya beberapa dan di tengah jalan memory full. Hmpf, besok-besok harus bawa digital handycam sepertinya. Niatnya sih memang seperti itu, namun apa daya tak ada yang punya, sekalinya punya, masih handycam kaset yang ga bisa dipindah dalam bentuk file.

Sampai jumpa di naik haji britpop selanjutnya.

link courtesy of: @upiel and Fetboy Slim

MEME School Day 3: Kenangan Bersama Guru BP

ImageHmm.. Meme kali ini sepertinya saya ga ada ceritanya. Udah saya inget-inget gitu ya secara mendalam di jaman SMP dan SMA. Ada sih sebenarnya jaman SD saya dulu tuh, cuma saya ga yakin bahwa yang memanggil saya itu guru BP, soalnya jaman SD kan ga terlalu terstruktur. Seingat saya yang manggil saya itu guru sekolah biasa atau guru BP saya lupa.

Jadi ceritanya jaman SD itu kan lagi ngehits banget main kata-kataan nama orang tua, khususnya nama bapak. Padahal mah sebenarnya bukan dikata-katain. Kalo dikatain kan diledek, misalkan nama bapak saya Rama.

Contoh: “Pak Rama jelek.. Pak Rama jelek..”

Nah itu kalo nama bapak saya (Rama) dikatain jelek seperti itu, tentunya saya marah dong. Nah kalo ini sebenarnya kan cuma dipanggil. Misalkan nama bapak saya Ancha.

“Eh Ancha.. Ancha! Ancha!”

Sebenarnya itu cuma manggil, cuma karena yang dipanggil nama bapak saya (Ancha) pastinya kan kesel banget, dan bisa bikin berantem. Parahnya lagi, ketauan nama bapak itu sudah seperti aib. Kalo ada biodata resmi dari sekolah yang mencantumkan kolom nama bapak misalnya, jangan sampe kesebar dan kebaca temen sekelas! Karena niscaya akan sengsara seumur sekolahan karena dibully nama bapak.

Itulah singkat kata saya dipanggil guru ke ruang guru karena saya dan beberapa teman main kata-kataan bapak sampe berantem atau ada yang nangis saya lupa.

Yaudah sih itu aja, menarik ga sih? Ya udah lah ya menarik aja, hehe. Yang penting episode 3 ini sudah terlewati haha.

Tagged , ,

MEME School day 2: My School Crush(es) alias Gebetan

Image

Talking about school crush(es). Hmm, ini adalah sesuatu yang menarik untuk diperbincangkan. Dan sepertinya kalo dalam masalah asmara, saya dulu jaman sekolah cupu banget. Saya cuma normal student yang ga pernah ngerasain yang namanya pacaran haha. Cuma kenal sama temen-temen cowok aja dan meskipun suka juga goda-godaan sama yang namanya anak cewek, cuma saya kok heran ciut banget nyali saya buat deketin cewek untuk lebih dari sekedar teman, hehe. Jadi ya cuma suka-sukaan dan friendzone-an gitu.

Mungkin kesukaan terhadap lawan jenis itu bisa dibagi 3 ya. Well, coba deh saya ingat-ingat. Tiga disini maksudnya pas jaman SD, SMP dan SMA.

Jaman SD. Saya naksir pertama kali dengan seorang cewek berinisial IW. Dia secara fisik orangnya kecil, lucu, putih, imut-imut, dan lain sebagainya. Dan itu adalah tipe saya banget saat itu, haha. Jadi kerjaan saya kalo di kelas ya godain dia mulu. Dia itu anaknya pendiem, dan saya sering ngelucu supaya dia ketawa. Kalo dia udah ketawa, bahagia rasanya.

I’m the luckiest boy in town, seperti kata bio Twitter saya, ternyata dia adalah adiknya temen kakak saya di rumah, dan meskipun rumahnya ga deket dari rumah saya, kalo kakak saya lagi main sama temennya, ya modus saya adalah ikut kakak saya haha. Tapi kadang juga ga beruntung-beruntung amat, karena doi anaknya pendiem jadi jarang keluar atau malah ga ketemu.

Sekarang doi sudah bahagia berkeluarga dan memiliki anak. Dan jangan tanya perasaan saya gimana ke dia sekarang, udah ga ada apa-apa tentunya, hehe.

Di SMP, kayaknya ga ada yang terlalu-terlalu gimana deh, jadi di pass aja ya.

Di SMA, nah ini dia. Sepertinya udah pernah saya ceritain di blog Multiply, hehe. Saya suka sama seorang temen sekelas yang gayanya asik banget. Gayanya indie macam anak britpop. Keren banget deh pokoknya. Cuma ya itu, karena saya belum punya ghiroh terlalu banget dalam hal mengejar lawan jenis, jadi ya saya ga agresif gimana gitu. Lagian sepertinya dia jauh untuk digapai, jadi ya cuma suka-sukaan gitu aja, hehe.

Sekarang? Masih berhubungan baik dan doi juga udah menikah kok. Dan saya juga ga ada perasaan apa-apa lagi, hehe.

Tagged , , ,

MEME day 1: MOS (Masa Orientasi Siswa)

Image

Okey, masa MOS saya sepertinya sangat datar dan flat. Artinya, ya MOS gitu-gitu aja. Ga ada hukuman atau perlakuan khusus ataupun tak khusus, normal maupun abnormal kepada saya. Jadi semua berjalan lancar dan baik-baik saja.

Jaman SD, saya ingat sekali sewaktu itu di tahun 1990. Dan itulah pengalaman pertama kali saya masuk sekolah. Saya ingat sekali di pagi itu saya baru masuk sekolah dan semua terasa baru bagi saya, asing, dan udara pagi tahun 90-an itu begitu menyegarkan. Saya ingat saya berdiri di lapangan sembari memegang tangan ibu saya yang setia menemani. Dan setelah itu, saya tak ingat apa-apa lagi, hehe.

Jaman SMP? Well jaman SMP saya bisa dikatakan saya bebas dari ikutan MOS. Kenapa? Karena saat itu saya dalam proses pindah sekolah, haha. Bukan karena saya berasal dari luar daerah, atau bagi kalian yang menebak saya berasal dari luar negeri, mohon maaf ya, saya tahu kok saya pantas banget tinggal di luar negeri atau pindahan dari SD London atau Paris gitu, tapi maaf bukan itu. Dahulu saya pindahan dari SMP di Jakarta, dan karena satu dan lain hal, saya tidak bisa bersekolah di Jakarta, jadinya saya dipindahkan orang tua saya ke SMP di Bekasi deket rumah. Dan itu memerlukan proses yang lumayan ribet. Alhasil, saya sudah masuk pas lagi Penataran P4 yang masih ada jaman dulu. Singkatannya apa, jangan tanya saya karena saya sudah lupa.

Oh ya, inget banget jaman dulu pas penataran saya sebangku sama anak yang lugu banget. Saya masih ingat sedikit-sedikit nih wajahnya. Namanya Ari kalo ga salah, bukan Arri yang ini ya, haha. Dan Ari itu asli pemalu banget dan saya pikir ini anak ga bakal macem-macem. Eh taunya, pas saya udah kelas 2 dan 3 saya dengar kalo si Ari itu jadi pemabok, suka tawuran bolos dan lain sebagainya, waduh untung saya ga ikut-ikutan ya.. Saya mah sukanya baca buku, ke mesjid, dan belajar *pencitraan yang ga ngaruh*

Udah itu doang yang inget MOS jaman SMP.

MOS jaman SMA? Lebih flat lagi. Saya ga ngapa-ngapain cuma disuruh dateng ke sekolah dengan membawa peralatan yang aneh-aneh macam tas dari kantong kresek, bendera, tali rafia, tali tambang, gesper yang ada lambang OSIS-nya itu dan apalah. Well, semua saya ikuti dengan baik. Dan karena lagi-lagi SMA saya deket rumah, jadi saya datengnya dengan berjalan kaki bareng dengan tetangga-tetangga saya yang deket juga sekolahnya, hehe. Ga ada lagi yang bisa diinget kecuali minta tanda tangan kakak-kakak senior, mulai dari yang biasa, sampe yang cakep-cakep.

Oh ya, saya ingat kenapa masa MOS saya dulu datar, karena memang dulu dari pemerintah sedang ada program bahwa masa orientasi tidak boleh terlalu berlebihan yang akhirnya akan menyebabkan kerugian di pihak siswa. Dulu tuh lagi banyak kasus-kasus murid yang celaka atau bahkan meninggal, dsb.

Udah deh, begitulah kedataran masa orientasi siswa saya haha.

Tagged , ,

MEME MEME MEME! ME will join MEME!

Image

Yep, demi menggalakkan kembali ghiroh alias nafsu kita untuk ngeblog, dengan ini, Kami, saya dan teman-teman yang tergabung dalam grup ex MP-ers di LINE dan WhatsApp (yang belum join, join dong kakak) akan mencoba meramaikan WordPress rumah baru kita ini dengan bermain MEME kembali. Apa itu MEME? Dulu sempat booming di Multiply dan membuat MP rame. Dan sekarang kita coba mengadopsinya disini.

Mari kita berpatokan pada list-nya Rama, sang RGGM pencetus MEME. Oh ya, tema MEME kali ini adalah SCHOOL! Yep, kenapa School? Jadi mau Junior High maupun Senior High, masa-masa sekolah di 2 tingkat atas itu memang seru sekali. Well sebenarnya masa SD saya juga menyenangkan sih (sok iye), dan kayaknya lebih banyak pengalamannya dibanding SMP SMA saya yang flat alias datar itu haha. Coba deh saya koordinasikan dengan Ketua Panitia.

Berikut listnya, dan bisa dilihat lengkapnya disini.

  1. Kenangan terburuk saat MOS (masa orientasi siswa) ??
  2. Siapa inceran pertama kali disekolah ??
  3. Pernah dipanggil guru BP ?? kenapa??
  4. Lebih sering dikerjain atau ngerjain teman ??
  5. Ketololan paling nista selama masa sekolah ??
  6. Tau tentang hal porno dari ??
  7. Hal yang bikin bersemu (gandengan, jalan bareng de el el) ??
  8. Paling sebel sama guru apa? kenapa??
  9. Tempat bolos favorit waktu upacara ??
  10. Berantem dengan adek kelas atau kakak kelas ??
  11. Suka sama adek kelas atau kakak kelas ??
  12. Berapa kali nolak atau ditolak ??
  13. Ruangan paling serem disekolah ??
  14. Pilih salah satu (kantin, warung depan sekolah, uks, ruang osis, lab. komputer) tempat yang paling asoy buat pacaran/nunggu pacar ??
  15. Rayuan yang paling ngga banget saat deketin gebetan ?

Yang saya bold adalah kategori yang wajib diceritakan. Lainnya, bebas boleh menceritakan apa saja tergantung pengalaman kalian. Atau kalo mau liat contoh lain, bisa liat temanya Ancha disini.

Yang baca blog ini wajib ikutan yah.. Hehe. Kalo ga ikutan nanti disetrap lho. Oke mari kita mulaaaaiiii…!!!

Tagged ,