METALLICA LIVE IN JAKARTA 2013 (A Review from My Best Concert so far) #latepost

metallica-live-in-jakarta

Dan tulisan ini bakal panjang lagi.

Well, harus diakui.. Dengan tulus ikhlas dan kebesaran hati yang benar-benar fitrah juga normal, bahwa ini adalah konser paling akbar yang pernah terjadi di Indonesia, khususon, yang pernah saya saksikan. Konser yang sangat megah, dihadiri puluhan ribu penonton yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karnon (GBK), yang biasanya hanya penuh sesak ketika timnas sepakbola Indonesia tanding, kali ini penuh karena sebuah band legendaris manggung. Ya, siapa lagi kalau bukan Metallica.

Metallica, sebuah nama bersejarah buat dunia perkonseran Tanah Air. Ketika 20 tahun lalu, tepatnya bulan April tahun 1993, mereka sempat menggelar konser di Jakarta, dan malah terjadi kerusuhan saat itu. Saya yang tahun segitu masih SD kelas 3, sudah dicekokin dan kenal lagu-lagu Metallica dari kakak saya. Kamar kakak saya menjadi saksi perkenalan saya dengan para nabi heavy metal tersebut. Kenalannya lewat satu album legendaris yang covernya berwarna hitam, dengan gambar ular melingkar yang hanya bisa keliatan kalo dilihat pake mata hati (halah).

Yap, itulah album yang biasa orang sebut sebagai The Black Album.

Dan kini, 20 tahun kemudian, saya mulai beranjak dewasa, mungkin begitu juga dengan anak-anak lain seusia saya yang dulu kecilnya juga dengerin Black Album, Metallica datang kembali menyapa Jakarta. Sebagai pecinta musik, dan juga penggemar Metallica, haram hukumnya bagi saya kalau sampe melewatkan kesempatan ini. Okelah, mungkin kedengarannya naif ya menganggap ini semua sesuatu yang harus ditonton. Tapi, ini Metallica bung. Dengan usia mereka kini, bila konser tanggal 25 lalu lewat, butuh minimal 20 tahun lagi buat saya menunggu kedatangan mereka. Itu juga dengan catatan, kalau mereka ga pensiun main musik, hehe.

Jadi begitulah, ketika mendengar mereka akan menggelar konser di Singapore, publik metalheads Indonesia dibuat gregetan dan meradang, kenapa mereka ga bisa konser di Jakarta? Come on, promotor Indonesia. Terlebih lagi, metalheads Indo tambah kesel ketika James Hetfield dkk mengumumkan bahwa Malaysia akan menjadi destinasi selanjutnya. What, Malaysia..?? Are you kidding me?? Well, dilihat dari sisi histori, jumlah fans, antusiasme publik terhadap rock, maupun dari manapun, jelas Indonesia one step ahead dan lebih berhak disambangi Hetfield cs.

Alhamdulillah dan puji Tuhan, lewat gebrakan sebuah promotor bernama Blackrock Entertainment, akhirnya Metallica berhasil digiring untuk datang, dan akhirnya secara resmi, Jakarta menjadi show terakhir mereka di Asia. Semua orang senang.

Begitu pula saya. Salah satu band yang saya nantikan kehadirannya tiba. Langsung saya hunting tiketnya, sambil tentunya mencari teman. Grasak grusuk sana sini, akhirnya saya sukses menemukan barengan. Tak hanya satu, dua atau tiga.. Banyak! Hehe. Ada yang di festival, tribun maupun VIP.

Memang, Metallica milik semua.

Hebatnya, kakak saya, yang menjadi saksi kerusuhan konser ’93, antusias bernostalgia dan menonton kembali bersama teman-temannya yang dulu. Mereka semua memesan tiket di tribun. Ketika saya tanya kenapa ga di festival biar lebih seru nontonnya, jawabnya begini:

“Udah ga kuat lagi ah, berdiri lama-lama.”

Oh, ternyata faktor U, haha. Bertambah 20 tahun usia ternyata berpengaruh pada stamina. Usut punya usut, alasan lain adalah ketakutan akan terulang kembali bentrokan ’93. Dan kalau itu sampai terjadi, prediksi kakak saya dan teman-temannya, nonton di festival bahaya. Oh, mungkin pikir mereka kalo di tribun gampang cari pintu keluar kali ya.. Hmm, sedikit masuk akal memang.

Singkat cerita, pada hari H, tiket yang saya beli sebulan sebelumnya telah siap dan telah ditukar, kemudian saya berangkat bareng teman dan kakak saya. Rencana nanti ketemu di venue sama 2 orang teman lagi. Jadi rencananya, yang nonton di festival empat orang. Dan kakak saya bertemu juga dengan geng nya sesama tribun.

Kostum udah pas banget. Dari atas, kaos Metallica yang saya beli di salah satu mall Bekasi 2 hari sebelumnya haha, kemudian jeans nudie hitam ketat, dan sepatu Converse mono black, kami datang dan ketika memasuki wilayah Senayan, jalanan sudah macet dan banyak orang beratribut hitam-hitam. Mungkin kalo fans Metallica mendirikan partai politik, bisa bikin macet Jakarta pas kampanye, haha. Saya dan rombongan memilih parkir di Plaza Senayan. Well, kalo nonton konser begitu memang lebih nyaman parkir di mall daripada di dalam lahan parkir GBK, karena lebih ga ribet jalan keluarnya.

Kurang lebih pukul 17.15, kami berhasil membaurkan diri dengan geng hitam-hitam metalheads Indonesia. Hebatnya, ternyata tak hanya dari Jakarta saja para penggila metal itu hadir. Tampak dari seluruh Indonesia mereka berdatangan, dari Sabang sampai Merauke, dari Timor sampai ke Talaud *kemudian jadi iklan Indomie*. Banyak juga berseliweran di depan saya pemusik dan publik figur lokal macam Ipang, Sheila on 7 dan lain sebagainya. Bahkan terdengar juga kabar kalau Gubernur DKI Jakarta, Jokowi akan menonton di festival. Ya kali deketan sama gue berdirinya haha.

Masuk ke GBK, antrian penuh banget di gate. Bagi-bagi sembako atau zakat fitrah kalah jelas kalah rame. Dan semua serba hitam, daleman juga mungkin hitam. Cuma mereka yang anti mainstream saja, atau yang sok-sokan mau jadi pusat perhatian, atau ga punya baju, atau bukan fans cuma ikut-ikutan ngehits, yang ga pake item-item. Dan karena ada peraturan bahwa di dalem GBK nanti ga boleh ngerokok, karena dikhawatirkan merusak rumput, jadi ada petugas gitu yang ngumpulin rokok di dekat gate. Teman-teman saya yang ngerokok dan ga rela rokoknya disita, empot-empotan deh ngabisin rokoknya sembari ngantri, hehe.

IMG_0706

Tidak beberapa lama kami sudah di dalam dan situasi masih agak lowong. Stage yang telah berdiri kokoh dan para penonton sudah bersiap di posisi sesuai kelasnya. Tribun tampak sudah mulai terisi, yang di festival mulai merangsek ke depan, yang di front row stage sudah mulai berdiri (entah mereka ngantri dari jam berapa tuh dapet front row), dan kami semua dag dig dug menanti jam 8, waktu yang dijanjikan oleh Metallica untuk mengguncang Jakarta.

Setelah menanti beberapa saat, Seringai (yang didaulat menjadi opening act), dan Raisa! tampil di stage untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Seringai mencoba melakukan yang terbaik saat perform dan memanaskan GBK yang makin lama makin penuh. Seringai, yang merasa terkejut dengan penunjukkan mereka sebagai band pembuka, mengaku tak ingin perform lama-lama. Karena mereka juga pengen cepet-cepet ngeliat Metallica, hehe. Dan terbukti, meskipun hanya beberapa lagu yang mereka bawakan, penonton cukup riuh dan antusias.

Tapi sepanas-panasnya Seringai, masih lebih panas Raisa. Hmm, tapi Raisa ga muncul lagi, cuma di awal aja. Dan saya pun ga liat itu Raisa karena pas dia nyanyi Indonesia Raya diatas panggung saya sedang solat magrib, haha.

Raisa sudah, Seringai sudah. Sekarang giliran para kru Metallica yang semuanya berbadan besar dan berkepala botak macam wrestler atau tukang jagal atau algojo atau bodyguard, unjuk gigi dengan menyiapkan equipment di stage. Dasar tukang jagal iseng, mungkin ngeliat metalheads Indo udah haus dahaga (baik dahaga air minum dan dahaga mau buru-buru liat Hammett cs.) mereka “sengaja” nyetem gitar di depan kita.

Suara gitar disetem cukup bikin jerit-jerit, tapi belum seberapa. Nah, pas drum di setem, baru sekali pukulan. DHAKK..!! Bergetar bumi yang kita semua injak sodara-sodara. Luar biasa, merinding disko. Sound yang digunakan bakalan bisa bikin copot jantung kakek-kakek usia 75 tahun nih pemirsa..!! (Ya kali ada kakek-kakek nonton Metallica). Tapi memang betul, kami semua menyambut gegap gempita setiap pukulan drum oleh algojo itu, dan setiap drum dipukul, jantung saya ikut bergetar, sama bergetarnya ketika saya melihat kamu (PLAKK!!)

Tapi lama nih, kita di PHP-in si tukang algojo yang nyetem ini itu, kemudian kadang lampu dimatikan sampai gelap tapi orangnya ga muncul-muncul, atau para algojo masuk tapi ga ada apa-apa. Namun akhirnya penantian panjang terbayar. Di layar lebar kanan kiri, akhirnya menampilkan film koboi. Yep.. Itulah film pendek The Good, The Bad and The Ugly yang selalu diputar setiap Metallica menggelar konser dan akhirnyaa.. Diputar juga di Jakarta! Otomatis kami semua histeris dan koor bareng dengan antusias.

Well, the show is about to begin dan.. Sungguh ini luar biasa. Salah satu mimpi telah nyata. Apalagi ketika layar LED super besar yang memenuhi seluruh bagian panggung menampilkan gambar Lars Ulrich duduk dan menggebuk drum perdana.. YEAH!! They’re here and already on stage! Lars, Kirk, Robert dan James.. Sudah siap di posisi mereka masing-masing dan mulai menggebrak dengan lagu pertama dari album pertama dan track pertama, apalagi kalo bukan Hit The Lights!

DCIM101GOPRO

Hit The Lights dibawakan, energi penonton luar biasa, baru-baru kali yee. Saya yang tadinya berdua bareng temen, pas Hit The Lights dimainkan langsung terpencar. Karena apa, karena lautan penonton di festival benar-benar gila dan mulai mengacak-acak berantakan. Semua melompat kesana kemari dengan liarnya dan kalo ada sikut-sikut nyasar, ya dimaklumi aja. Beberapa kali kaki saya dibuat tak menepak tanah saking berhimpitannya orang. Malahan cowok di sebelah saya yang tadinya diam kalem saja begitu Hit The Lights mulai langsung berubah beringas sampe beberapa kali nyikut. Sial.

Karena saya terpisah, ya akhirnya harus ikhlas lepas dari teman saya. Yasudah terpaksa saya harus selesaikan konser ini seorang diri *halah*. Beberapa orang sudah mulai minta permisi numpang lewat untuk ke belakang, ga hanya cewek. Cowok pun dari yang badannya kecil sampe yang besar, sepertinya shock dan ga berani lagi ngelanjutin sisa konser dari posisi depan. Dalam hati saya khawatir juga, karena there’s no way out. Berdoa aja deh supaya kuat. Untungnya, konser diadakan outdoor. Itu aja masih sulit bernapas. Gimana indoor yak? Bisa dibayangin kan betapa kacaunya crowd festival.

Setelah Hit The Lights, lagu kedua adalah Master Of Puppets. Dahsyat! Lagu ini semakin membawa penonton ke suasana yang lebih gila dan kacau lagi. Berkali-kali teriakan “MASTER! MASTER!” menggema di GBK. Master of Puppets yang menjadi lagu yang paling sering dibawakan ketika konser, dan pasti ditaruh di awal-awal setlist, sukses menghipnotis metalheads yang masih terbius dalam ekstasi kegembiraan. Disusul Fuel dari album Reload.. Tiga lagu awal yang benar-benar bikin bumi GBK dan sekitarnya bergoncang hebat.

Belum puas dengan itu semua, James Hetfield sang vokalis sekaligus gitaris kembali menggebrak dengan Ride The Lightning, yang kebetulan sesuai dengan kaos saya, yang baru dibeli 2 hari sebelum konser haha. Yap, kaos Ride The Lightning yang bernuansa biru dan ada gambar tengkorak di belakangnya itu saya pilih karena kaos tersebut desainnya agak lebih bagus dari desain-desain lainnya. Sebenarnya saya mau pake kaos hitam oblong dengan logo Metallica berwarna putih di dada, simpel. Tapi apa daya kaos itu sudah keburu dipake kakak saya.. (Btw ini kenapa jadi ngomongin kaos yak), oke skip.

Ride The Lightning selesai, Metallica kembali membius penonton dengan Fade To Black. Intro dari lagu legendaris itu berhasil membuat rakyat metal di Jakarta bernyanyi bersama. Saya yakin banyak diantara penonton yang sampai menitikkan air mata saking terharunya. Bener, dan ini ga lebay kok. Okelah, coba kita pikir bersama dan bareng-bareng, berapa banyak pecinta musik Indonesia dari dulu, yang ngeband (sekali lagi) dari dulu hingga sekarang, mainin lagu-lagu Metallica. Di festival-festival, di pensi, di cafe-cafe.. Jangan lihat di Jakarta aja, tapi lihat di daerah-daerah seluruh Indonesia. Atau mereka yang ngoleksi kaset, ngumpulin poster, CD, DVD dan segala pernak-pernik lain yang berhubungan dengan Metallica. Atau yang lainnya. Tua, muda, gondrong, cepak, item, putih, abu-abu dan lain-lain. Dan malam itu, mereka akhirnya bisa secara langsung nonton idolanya di depan mata. Ga bisa dibayangin. Priceless.

IMG_0836

Selesai Fade To Black, bukannya dikasih napas dulu, kita malah digeber dan ditambah histeris dengan dibawakannya satu nomor yang katanya jarang dimainin ketika live, tapi lagu ini punya makna yang luar biasa. Yap, track kedua dari the deadly debut album Kill ‘Em All, The Four Horsemen mulai dibawakan. Alhasil rakyat GBK makin larut dalam histeria.

Saat itu, saya masih berharap nomor yang ingin saya dengar pas konser, Memory Remains, dibawakan sama seperti ketika mereka tampil di Singapore beberapa hari lalu. Namun sayangnya keinginan saya itu belumlah jadi kenyataan, karena setelah Horsemen, yang dibawakan adalah lagu yang relatif baru dari album Death Magnetic (2008), yaitu Cyanide. Bagi mereka pemuja tua Metallica di album-album lama sepertinya agak kurang familiar dengan album-album periode millenium ke atas. Namun hebaynya, Cyanide ini memiliki daya hentak yang keras sama seperti Fuel, dan tak sulit bagi kami untuk sekedar headbanging atau bahkan ber-moshing ria. Pemilihan lagunya emang pas.

Bagi para pemirsa yang agak ngeri ngeliat orang-orang saling menabrakan diri mengikuti aliran musik, pasti serem deh lihat ginian haha. Saya aja masih deg-degan takut kena hantam. Tapi ya itu biasa di konser rock, apalagi sekelas Metallica. Meskipun kata temen saya, sebenarnya moshing atau bikin circle mosh pit itu bukan “tradisi” Metallica, tapi ya kalo sudah terbius dengan alunan musik metal mau dibilang apa. Segala batasan halangan rintangan ya ditabrak halah. Di sebelah saya, tercatat ada 2 mosh pit, baik di kanan maupun kiri. Nah kalo udah gitu emang paling bener terapin survival guide lah. Apa itu? Kalo suvival guide versi saya saya gini:

  1. Ikuti arus penonton. Maksudnya, kemana penonton “bergoyang”, arus crowd nya ikutin aja. Kalo kira ngelawan arus, kontak fisiknya bakal lebih kerasa dan kadang kalo lagi sial banyak tulang-tulang, sikut or tangan yang melayang lho haha. Kalo kita ngikutin arus, dengan ditambah sedikit tenaga, maka kontak fisik bisa diminimalisir.
  2. Kalo perlu, ikut-ikutan sok bergaya tabrak-tabrakin diri aja. Atau kalo dikaitkan dengan nomor 1, kalo ngikutin arus, pura-puralah untuk sedikit “mau membuat rusuh”, karena kita akan tampak menikmati dan ga keliatan jiper. Kalo keliatan jiper pasti makin ga betah deh, hehe (pada ngerti ga ya??) pokoknya begitu deh, Kak.
  3. Ini berkaitan dengan fashion. Saat terjebak di kerumunan crowd yang liar, dilarang pake sendal jepit dan/atau bawa peralatan yang berat (misalkan tas gemblok). Itu kesengsaraan yang jadi pelajaran saya dulu ketika nonton Smashing Pumpkins. Oh ya, selalu pastikan barang-barang anda jangan sampe ada yang jatuh. Kalo udah jatuh, tamat cerita.

Nah, malah jadi sok-sokan tips survival guide haha. Kembali ke setlist, Cyanide ini masuk ke dalam video resmi tur Asia Metallica yang diunggah di laman Metallica. Bisa dibayangin kan betapa keren dan bangganya metalheads Indonesia. Setelah Cyanide, euforia kembali dilanjutkan ketika intro Welcome Home (Sanitarium) dibunyikan.

Kelar Sanitarium, Hetfield mencoba menyapa warga Jakarta, apakah suka dengan musik keras? Do you like heavy? YEAAHH jawab penonton. Karena Metallica gives us heavy. Guess what, the heaviest Metallica’s song. Ladies and gentlemen, please welcome, Sad But True.

IMG_0832

Pecah. Gila. Berantakan.

Setelah nomor kedua dari Black Album itu dibawakan, giliran lagu instrumental Orion tampil. Disambung dengan One, yang seperti biasa, dimulai dengan dibunyikannya tembakan sana-sini. Begitu denger bunyi tembakan, kita semua udah pada tau kalo One yang bakal dibawain. One ini jadi salah satu lagu andalan konser, dan saya suka banget bagian bridge-nya. Sampe saya sengaja ngerekam khusus di bagian itu haha.

Setelah One, sisanya adalah surga. Yap, 4 lagu yang benar-benar bikin orgasme telinga berurutan dimainkan. Berawal dari For Whom The Bell Tolls yang membuat saya jatuh cinta semenjak dibawakan dengan balutan orkestrasi gagah nan sangar di album S&M (1999), lanjut dengan Blackened, lagu lama yang benar-benar kencang, sampai di lagu ini saya ingat, lautan manusia di GBK bergoyang mengikuti irama lengkingan gitar Hammet. Selesai dibuat berpeluh keringat dan belumlah lagi detak jantung kembali normal, Hetfield sangat paham bagaimana membuat penonton cooling down. Well, inilah saatnya bagi kita untuk menyalakan korek api dan mengayunkannya ke atas (bagi yang berhasil nyembunyiin korek), atau menyalakan handphone dengan membuat efek lampu menyala (kalo ini, buat hape biasa atau keluaran terbaru bisa), atau bahkan sekedar menyanyi bersama sambil menengadah ke atas melihat langit, dengan tangan membentuk simbol metal. Sungguh tak percaya kalau akhirnya bisa menyanyikan lagu ini bersama-sama, dan juga menjadi kesempatan bagi para perekam video, mulai dari kamdig, handphone dan gadget yang berukuran kecil hingga iPad yang bikin gengges, untuk mengabadikan momen luar biasa.. Ya, sambutlah Nothing Else Matters.

Ingatan langsung melayang jaman SD ketika saya mendengarkan lagu ini terus menerus di kamar kakak saya, kalo pergi naik mobil (dulu masih tape kaset), dan pas belajar gitar pertama kali (diajarin intro lagu ini) dan saya tambah jatuh cinta, sekali lagi, ketika ngumpulin duit sendiri terus naik angkot ke mall terdekat untuk beli VCD album S&M, karena disana Nothing Else Matters dibawakan dengan sangat apik. Dan malam itu, suasana menjadi sangat syahdu dan khidmat karena lagu itu mengalun di depan mata saya, langsung.

Sama halnya ketika saya tak percaya bisa nyanyi bareng Tender bersama Blur. Di kamus perkonseran saya, tinggal satu lagu yang saya harus nyanyi bareng penyanyinya, Don’t Look Back In Anger nya Oasis.

Oke, dan disinilah yang menurut saya menjadi klimaks dari Metallica tour on Jekardah.. Nothing Else selesai, kemudian layar LED super besar yang menjadi background di stage, yang amat sangat sungguhlah bening itu, lebih bening daripada DVD dan TV plasma apapun keluaran manapun, atau layar amoled dari gadget supercanggih mana aja, di zoom ke jari Hetfield yang sedang memetik gitar dari outro Nothing Else, kemudian dia menunjukkan pick berlogo Metallica, juga tato di jari-jarinya.

Hening, penonton bersorak dan bertepuk tangan. Dan kemudian, intro paling familiar sepanjang sejarah musik Metallica mengalun. Enter Sandman.

Tidak ada kata lain kecuali mari kita masukkan semua gadget ke dalam tas, ga usah ngerekam lah, dan marilah kita larut didalam kebahagiaan ini. Hanya di lagu ini, saya ingin menikmati semuanya tanpa gangguan gadget apapun. Lagu yang konon paling populer dalam sejarah Metallica, berhasil membuat lebih dari 60 ribu penonton bernyanyi dan melompat bersama. Bahkan katanya, keriuhan koor Sandman sampai terdengar beberapa meter di luar GBK, begitu pula laman resmi Metallica menulis: “That’s the loudest I ever heard a crowd sing “Sandman” in a very long time.”

Yep, this is Indonesian crowds.

Setelah Sandman, saatnya encore. Well, ngasih kesempatan Metallica buat minum-minum bentar, pijit-pijit, bobok bobok cantik atau ngerokok barang 10-15 menit kali ya.. Atau mandi, soalnya kan di Indo panas banget.. Atau main poker dulu, remi atau BBM-an, apdet status Path. Oke ga penting.

Sepertinya penonton sudah tidak sabar dan tahu kalo itu cuma pancingan buat encore (ya iyalah, cuma orang yang baru pertama kali nonton konser mengira kalo itu udah habis dan pulang, haha). Dan seiring hadirin mengumandangkan kalimat sakti “we want more” dan/atau menyebut-nyebut nama Metallica, seiring itu pula 4 bapak-bapak punggawa metal kembali hadir ke stage dan menempati posnya masing-masing. Hetfield lagi-lagi melucu dan menggoda penonton dengan berpura-pura mau ngalungin gitar untuk nyanyi tapi ga jadi, haha. Dan inilah encore-nya!

Pertama, terdengar intro Creeping Death. Setelah itu, penonton pada ngira Battery yang bakal dibawain, berkaca pada negara-negara Asia Tenggara sebelumnya. Namun semua salah, justru lagu yang jarang nongol di setlist, Fight Fire With Fire. Dua lagu awal itu adalah dari album kaos saya lagi, Ride The Lightning. Huyeehh..!!

Sebagai penutup, lagu pamungkas yang biasa dimainin sebagai ending tiap konser, Seek & Destroy. Di lagu ini para penonton diserbu puluhan balon hitam yang disebar di kerumunan.. Dan balon-balon itu pada crowd moshing. Ujung-ujungnya balonnya dibuat rebutan para metalheads haha, buat dijadiin bantal di rumah kali ya. Lumayan juga sih. Seek & Destroy sendiri sukses bikin seisi GBK bernyanyi bersama. Seeekk and Destrooyyy…!!!

indonesia-metallica

Di akhir show, semua personil Metallica membagikan “merchandise”. Yep, James, Kirk dan Rob meraup pick untuk disawer kepada penonton.. Untung gitar sama bass nya juga ga dilempar. Tak ketinggalan Lars juga membagikan beberapa sticknya. Kemudian mereka meminta bendera Indonesia dari penonton (atau udah disediain panitia ga tau juga), untuk dibentangkan di panggung. Di speech penutup, mereka mengucapkan terima kasih banyak dan sebagai #kode, Lars pokoknya bilang yang intinya, sampai berjumpa lagi Jakarta.

Apakah ada kemungkinan Metallica bakal datang kembali di masa mendatang?

Ga ada yang ga mungkin. Tapi seperti yang saya ungkapkan di awal cerita tadi (ayo scroll) melihat kuantitas usia mereka yang kini sudah berkepala 5, dan melihat perjuangan promotor Indo yang membutuhkan waktu lama untuk menggiring mereka kemari, sepertinya bisa dibilang ini adalah konser “terakhir” mereka di Indo, kecuali ada peristiwa khusus ya.. Bayangin, butuh 20 tahun lamanya untuk memboyong kembali Hetfield dkk pasca ’93, dan bila dihitung pake matematika sederhana di masa kini, maka Metallica akan hadir kembali lagi 20 tahun kemudian yang artinya usia para personilnya sudah 70 tahun! Agak mustahil, bukan?

Ada yang lupa. Sebelum Metallica naik panggung, sempat ada keriuhan yang membuat fokus penonton tertuju ke tengah-tengah kerumunan festival. Yup, apalagi kalo bukan kedatangan Jokowi. Jokowi benar-benar memenuhi janjinya untuk hadir dan langsung merangsek ke tengah-tengah massa. Wah ternyata ga jadi di sebelah saya, hehe.

That’s it and that’s a wrap! Saya pulang dengan kaki pegal dan perjuangan mencari minuman yang dahsyat sangat susah luar biasa. Akhirnya bisa dapet dan kalo udah begitu sungguhlah ga mikir harganya berapa, yang penting beli aja daripada dehidrasi.

C U at the next concert report!

 

Foto-foto: courtesy of myself, google and @deramdhani

Advertisements

23 thoughts on “METALLICA LIVE IN JAKARTA 2013 (A Review from My Best Concert so far) #latepost

  1. Ulasannya komplit banget… sungguh penantian yang panjang ya.
    Ngebayangin ikut merinding di setiap lagunya.

    Katanya mereka bakal rilis versi DVD concert-nya yg tampil di Indonesia ini, atau hanya satu lagu saja.

    • thebimz says:

      Wah mas iwan penggemar metallica juga? Hehe
      Oh ya? Wah bakal bangga banget indo kalo sampe bisa dibikin dvd konsernya 😀

      • Dicekokin Metallica ama tetangga pas saya masih kelas 6 SD, saat itu Metallica baru ngerilis album “Master of Puppets” di tahun 1986. Karena lagunya asyik, maka saya belain berburu album-album sebelumnya.
        Di jaman itu, kaset asing sempat langka selama setahun, gara-gara Bob Geldolf komplen masalah pembajakan di Indonesia. Terpaksa nyari kaset bajakannya. Masih jaman kaset, belum ada CD lho 🙂
        Untungnya ada jasa penjualan kaset-kaset bajakan, tapi harganya mahal.

      • thebimz says:

        haha pas master of puppets aku baru 1 tahun mas 😀 dicekokin metallica sama kakak pas black album.. setelah itu baru cari tau album ke belakang-belakangnya..

        dulu black album kalo ga salah masih 7000 ya 😀

      • Betul. Dulu sebelum dikomplen sama Bob Geldolf, industri kaset di Indonesia rame banget, untuk kaset rock asing, kasetnya pake label Rockline, Aquarius, Billboard, Rockshots, dll. Dan harganya paling banter Rp 2,750 itu sebelum tahun 1986. Setelah dikomplain pihak luar, akhirnya semua kaset asing ditarik dari peredaran.

        Setelah vakum selama setahun, kaset-kaset rock asing itu muncul kembali dg bandrol rata2 Rp 7000,- an ke atas. Sebagai pelajar itu jelas sangat mahal bagi saya, perlu nabung untuk bisa beli.

      • thebimz says:

        Oh gitu sejarahnya mas.. Wah menarik tuh kapan kamu tuis mengenai sejarah kaset di indonesia 😀

  2. jampang says:

    laporannya mantap sekali 😀

  3. New Rule says:

    The Fourhorseman seingat saya termasuk setlist wajib ..senangnya yang nongton

  4. alie says:

    Yak aqua sebotol jd 20rb dan gw sempet minta sebatang rokok ke mas2 hahaha

  5. tinsyam says:

    ku ga bisa nonton huhuhu lagi di surabaya.. dooh dikau anak soleh, lebih milih magriban dibanding ketemu raisa..
    dan kenapa pula ada istilah orgasme kuping sih?
    mogamoga datang lagi dah.. taon depan!

  6. debapirez says:

    dahsyat. jarang2 Senayan penuh krn konser. Keren….

  7. […] diam saja tanpa mengeluarkan panggilan-panggilan pada sang artis. Pengalaman nonton Metallica disini memberikan pengalaman luar biasa saat kita memanggil-manggil sang performer untuk segera naik ke […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: