Monthly Archives: August 2014

My Top 5 Linkin Park Album

Linkin Park adalah salah satu band yang berhasil menarik perhatian saya selama menggemari musik dari kecil hingga kini. Band asal AS yang beranggotakan Chester Bennington, Rob Bourdon, Brad Delson, Dave Farrell, Joe Hahn dan Mike Shinoda itu memang menjadi fenomena tersendiri dan berhasil mengukir nama mereka sebagai salah satu band tersukses beraliran new metal dan rock alternatif. Tidak hanya mengoleksi kaset dan CD live-nya (dulu), saya juga memperhatikan sepak terjang dan diskografi mereka. Oh ya, dan saya gemar untuk menyanyikan lagu-lagu mereka di ruang karaoke. Dan tahun ini, Linkin Park mengeluarkan album baru bertitel The Hunting Party. Untuk “merayakan” kelahiran album baru mereka, berikut saya countdown 5 album band asal California tersebut yang menurut saya terbaik:

Linkin_park_reanimation5. Reanimation (2002)

Album ini merupakan album remix atau album yang berisi lagu-lagu di Hybrid Theory yang menjadi album pertama mereka, dengan aransemen yang berbeda, lebih “elektronik,” lebih banyak instrumen dan bebunyian unik, dan lebih banyak suara-suara khas yang hampir semuanya diramu oleh DJ Hahn. Sependek pengetahuan saya Shinoda juga turut andil dalam arrange aransemen. Bersama Hahn, Shinoda adalah prosesor yang menjalankan Linkin Park. Dan Hahn sepertinya menunjukkan siapa dirinya di album ini. Ia mengacak-acak lagu Linkin Park di Hybrid Theory menjadi sebuah album dengan lagu-lagu yang tidak lazim kita dengar. Tapi tetap keren dengan kemewahannya sendiri.

Selain lagu-lagu yang lain dari biasanya, terobosan baru saat itu dibuat oleh Linkin Park dengan membuat video klip lagu dari album ini dengan tema animasi. Bila disesuaikan dengan film, mungkin Avatar adalah film yang cocok menggambarkan video klip tersebut. Gambaran robot, perang dalam animasi 3 dimensi yang canggih dan kabarnya juga buatan DJ Hahn membuat album ini menjadi terobosan yang membuka pecinta musik dunia kala itu, bahwa band rock alternative metal tidak melulu membawakan lagu cadas dengan lead guitar sangar. Namun juga diramu dengan sayatan-sayatan DJ dan suara melengking khas Chester.

Dengan judul-judul yang juga dibedakan dari judul aslinya, ditulis dengan gaya yang kalo dipikir kayak alay, haha macam Pts.of.athrty untuk remix Points of Authority, Enth E nd untuk In The End atau PprKut untuk Papercut, membuat album ini sekaligus menjadi “pemanasan” dari keluarnya album kedua mereka Meteora, dan tentunya mengukuhkan Linkin Park sebagai band papan atas.

Ralat: Reanimation ini sebenarnya bukan album murni Linkin Park, melainkan album remix dari lagu-lagu Linkin Park yang diproduseri oleh Mika Shinoda. Album remix ini di compose musiknya oleh para DJ-DJ termasuk DJ Hahn. Terima kasih untuk Mas Roel atas koreksinya.

minutes4. Minutes To Midnight (2007)

Album ini masuk list sebenarnya tidak disangka-sangka. Dengan cover bertema putih, para personil Linkin Park memakai baju hitam yang membuat album ini terlihat kontras di mata. Lahir dengan selang waktu yang cukup lama dari album sebelumnya, sekitar 4 tahun, Linkin Park mampu “mengingatkan” kembali pasar musik dunia dan music fan akan kehebohan album-album mereka dulu. Jangan pikir mereka telah habis disini, justru mereka datang dengan lagu-lagu yang agak lebih sederhana dari biasanya, dengan nuansa rock yang cukup kental dan lagu-lagu menarik yang tentunya berkarakter.

Linkin Park memiliki ciri khas membuka rangkaian lagu di albumnya dengan lagu yang menghentak, dan kali ini Given Up dijadikan andalan. Kemudian Leave Out All The Rest, yang membuat kerinduan fans akan suara Chester terobati. Lagu itu seakan menjadi pembuktian diri kematangan suaranya sebagai vokalis. Tapi tak hanya di lagu itu saja, album ini banyak mengeksplorasi vokal Chester seperti di lagu Shadow of the Day dan What I’ve Done. Lagu yang terakhir juga menjadi soundtrack film fenomenal Michael Bay kala itu, Transformers. Linkin Park menyatukan penggemar musik dengan pecinta film dengan lagu yang sangat cocok dengan film perang antar robot tersebut. Minutes To Midnight terangkat penjualannya sedikit banyak juga karena keberhasilan Transformers.

Beberapa lagu yang menarik dari album ini diantaranya Valentine’s Day. Awal mula terdengar biasa tapi bila didengar lebih jauh terasa sekali lagunya memiliki ciri khas yang berbeda dari lagu-lagu Linkin Park lain dan hanya ada di album ini. Dengar pula In Pieces sebagai lagu terakhir yang cocok bila dibawakan live.

A_Thousand_Suns_Cover23. A Thousand Suns (2010)

Saya sangat menggemari album ini meskipun hadir dalam nuansa gelap dan gloomy. Tampaknya Shinoda dkk mencoba menggarap album dengan karakter alternative rock yang tidak seperti biasanya. Tetap pada pakem vokal Chester yang melengking dengan gaya rap Shinoda ditambah bunyi-bunyian unik yang dihasilkan Hahn, hasilnya muncul album ini yang masuk kategori worth to hear.

Tidak ada lagi lagu menghentak sebagai pembuka. Sebagai gantinya, Burning In The Skies menjadi ballad menarik yang dibawakan dengan apik oleh Chester. Demikian apiknya hingga saya selalu ikut bernyanyi setiap mendengar lagu ini. Linkin Park berhasil menerobos kebiasaan menempatkan track keras untuk pembuka dengan kehadiran lagu ini. Ditambah awalan narasi intro yang dibawakan J. Robert Oppenheimer mengenai perang nuklir. Hmm, apabila kalian menyadari korelasi nuansa gelap album ini dengan perang nuklir, anda mengerti jawabannya.

Album ini merupakan album konsep, dimana Linkin Park coba membuat album dengan konsep tertentu, dan kali ini perang nuklir menjadi tema yang diangkat. Lagu-lagu yang ada di dalamnya berkaitan satu sama lain, oleh karenanya berbeda dari album-album sebelumnya. Nuansa dark sangat terasa di lagu When They Come For Me dengan tabuhan gendang, juga ada Robot Boy yang memiliki nada datar dan “aneh” untuk didengar, namun lekat di telinga.

Lagu jagoan dalam titel Waiting For The End pun meskipun ga sesangar lagu utama Linkin Park biasanya, tetap saya suka dan menjadi andalan untuk berkaraoke haha. Juga jangan lupakan Iridescent yang lagi-lagi menjadi soundtrack Transformers: Dark Of The Moon, kali ini tidak seperti What I’ve Done terdahulu, Iridescent adalah lagu soft yang tetap berkarakter. Ah, The Catalyst juga menjadi lagu jagoan yang aneh. Kenapa? Hingga 5 kali mendengar saya belum bisa menemukan dimana bagusnya lagu tersebut. Sampai semakin terbiasa saya mendengar, saya akhirnya mendapatkan sisi enaknya lagu itu hehe. The Catalyst bahkan menjadi single pembuka album ini.

Dengan alasan-alasan diatas, A Thousand Suns menjadi album underrated yang menurut saya jenius untuk diciptakan Shinoda dan teman-temannya.

Linkin_park_hybrid_theory2. Hybrid Theory (2000)

Inilah album yang membuat nama Linkin Park mengangkasa di awal 2000-an. Saat itu saya mendengar ada band bagus dengan vokalis yang nyanyinya teriak-teriak, dan ada yang ngerap. Itu saja sudah membuat saya tertarik, apalagi di tengah gegap gempita band-band macam Limp Bizkit atau Korn, Linkin Park muncul dengan menawarkan musik baru yang lebih alternatif, lebih kencang dan lebih gahar. Lagu One Step Closer sering diputar di radio, saya masih ingat bagaimana di kepala saya terngiang single pertama mereka itu di bioskop ketika selesai menonton film Dracula 2000. Entah soundtrack resmi atau tidak dari film itu, One Stop Closer membuat saya bertanya pada teman “eh lagu siapa sih ini?” “Oh ini Linkin Park, bro” jawab teman saya kala itu.

Linkin Park. Kemudian saya ingat-ingat nama bandnya dan saya cari kasetnya. Saya menemukan kaset dengan logo album diatas, saya dengarkan ketika sampai rumah, dan selebihnya adalah sejarah.

Hybrid Theory adalah album yang luar biasa. Mulai dari lagu pertama hingga terakhir, semuanya luar biasa. Kencang, ganas dan menunjukkan siapa Linkin Park sebenarnya. Cocok untuk darah mudah saya ketika itu halah. Sayatan piringan DJ Hahn juga membuat jatuh hati. Musik mereka orisinil, seperti diciptakan tanpa dibuat-buat, dan permainan musik mereka layaknya dari hati. Kaset itu menjadi kaset favorit saya. Saya setel di mobil, di walkman, di kamar dan di mana-mana. Papercut sebagai lagu pembuka adalah legenda. Shinoda bagai menunjukkan bahwa kolaborasinya dengan Chester sebagai frontman Linkin Park merupakan perpaduan dahsyat. Formula lagu-lagu Linkin Park secara sederhana adalah: Shinoda ngerap, dan Chester mengguncang reff-nya. Begitu saja pola dasarnya di album ini.

Setelah Papercut mengguncang, berturut-turut One Step Closer, With You dan Points Of Authority. Jangan lupa Crawling. Anak mana yang ga tau lagu Crawling dan video klipnya dulu? Crawling begitu fenomenal, meskipun saya tak begitu suka lagunya hehe. In The End? Selain menjadi lagu wajib karaoke, rap Shinoda di lagu ini luar biasa. Saya suka banget dan terobsesi untuk membawakannya semirip mungkin ketika nyanyi haha. Ah, satu lagi lagu yang keren namun sayang ga dijadikan video klip di album ini, yaitu A Place For My Head. Sekian ulasan Hybrid Theory. Album ini fenomenal.

MeteoraLP1. Meteora (2003)

Dan album terbaik Linkin Park menurut saya adalah Meteora. Album ke-2 ini menjadi album yang memiliki kualitas “setara” dengan Hybrid Theory, namun sedikit unggul dalam kematangan musikalitas dari album pertama mereka. Sudah menjadi suatu kebiasaan band yang sukses di album pertamanya, sangat dinanti kiprah dan karyanya di album kedua dan biasanya mereka memperlihatkan totalitas dan puncak hasil karyanya di album kedua. Adalah suatu pembuktian bila band yang sudah sukses di album pertama, apakah berlanjut di sekuel albumnya. Bisa bagus bisa jelek. Kalau bagus diingat dan jelek dihujat. Dan itu juga yang terjadi pada Linkin Park.

Meteora sangat ditunggu kala itu, dengan single jagoan Somewhere I Belong yang terlebih dahulu wara wiri di radio, membuat fans penasaran akan seperti apa “lanjutan” dari Hybrid Theory. Pilihannya: lebih baik, setara atau bahkan lebih buruk. Dan diluncurkannya Somewhere I Belong merupakan strategi jitu karena lagu itu datang dengan fenomenal, easy listening namun bisa mewakili comeback Linkin Park yang sudah terlanjur harum namanya di blantika musik new metal. Dan ternyata lagu-lagu lainnya di album Meteora ini adalah legenda.

Meteora lebih matang dari Hybrid. Lebih terkonsep dan lebih terukir jelas kemana arah musik mereka. Hentakannya lebih terasa dan bukan lagi menjadi band kemarin sore seperti ketika mereka meluncurkan Hybrid. Masih ingat formula Shinoda ngerap dan Chester nyanyi reff yang saya tulis diatas? Hal itu terulang sempurna di lagu Lying From You. Don’t Stay sebagai lagu pembuka kembali menjadi trademark Linkin Park untuk selalu mengeluarkan album dengan lagu keras dan menghentak, intinya Chester teriak-teriak mulu deh kalau di lagu pertama haha. Easier To Run muncul untuk mengingatkan kita akan keberhasilan Crawling di Hybrid, dengan musik yang lebih lembut. Jangan lupakan Faint, yang video klipnya memorable dengan memperlihatkan point of view para personil Linkin Park ketika sedang manggung menghadap penonton.

Breaking The Habit menjadi lagu favorit saya dengan klip animasi yang bagus dan tempo lagu yang cepat. Juga di album ini ada Nobody’s Listening dengan musik ala Jepang dan ninja, dan akhirnya ditutup oleh Numb yang sering diputar dan juga sangat terkenal di televisi. Dan kemunculan Meteora ini juga menjadi tonggak sejarah dari datangnya mereka untuk pertama kalinya ke Indonesia dan manggung di Pantai Carnaval, Ancol. Itu juga sejarah karena untuk pertama kalinya saya menonton konser dengan tiket seharga 200 ribu rupiah. Tahun 2011 mereka pun sempat datang kembali namun inflasi menggerus harga tiketnya sehingga yang paling murah saja dibandrol 700 ribu haha. Pengalaman menonton Linkin Park langsung di depan mata adalah suatu hal yang tidak bisa dilupakan bagi penggemar musik ingusan seperti saya kali itu haha. Apapun itu, Meteora adalah salah satu album new metal dan alternative rock terbaik di awal 2000-an, dan album terbaik Linkin Park versi saya.

Advertisements
Tagged , , , , , ,

Day 24: Player(s) You Really Can’t Stand

maxresdefault

Ketika Robson de Souza atau yang lebih dikenal dengan Robinho datang ke Milan sebagai pemain baru di bursa transfer akhir musim 2010, Milanisti bergembira dan sepakat Milan telah menjalani musim transfer pemain (mercato) yang sukses. Dua nama besar, Zlatan Ibrahimović dan Robinho datang dengan kualitas yang masih bagus sebagai seorang pemain. Ibra dipinjam dari Barcelona sedangkan Robinho tiba dari Manchester City. Dua-duanya meninggalkan klub lamanya dengan kondisi tidak bagus. Dan seperti biasa, tangan Milan selalu terbuka untuk pemain-pemain “terbuang” seperti mereka. Robinho dan Ibra langsung menjadi andalan di skema pelatih kala itu, Max Allegri, dan benar saja, Milan langsung menjuarai Serie A di musim pertama Robinhi dan Ibra mengarungi Liga Italia.

Robinho yang sempat menjadi hot stuff timnas Brasil dan bintang di Real Madrid, masih memiliki taji sebagai pemain yang lincah, atraktif dan jenius layaknya pemain-pemain Brasil lainnya. Itu yang membuatnya istimewa. Di luar tipikalnya sebagai pesepakbola bad boy dan kerap berselisih paham dengan pelatih klub yang dibelanya. Lagipula, Robinho adalah pemain yang memiliki skill di atas rata-rata. Demikian halnya pun dengan Ibra, 2 pemain itu adalah pemain yang diharapkan bisa “jinak” dan menjadi good boy ketika bermarkas di Milanello. Sudah menjadi rahasia umum bila Milan adalah klub yang bisa menenangkan pemain-pemain yang bertipe liar. Dan anggapan itu tidak salah, Robinho dan Ibra jarang terdengar kabar buruk atau kelakuan negatifnya yang menjadi sorotan media.

Meskipun kiprah Robinho di Milan terbilang cukup baik, performa Robinho menurun seiring dengan menurunnya pula prestasi Milan pasca scudetto, apalagi setelah ditinggal Ibra dan juga Thiago Silva. Kuantitas golnya pun tak lagi sebagus musim-musim pertamanya. Namun ada satu hal dari Robinho yang tidak dapat dilupakan. Agak kurang baik ini kedengarannya, tapi memang betul terjadi. Yup, Robinho sering melewatkan peluang emas untuk mencetak gol, bahkan bila peluang tersebut memiliki persentase 99,9% gol.

Well, peluang hilang untuk mencetak gol pun sebenarnya bisa terjadi pada pemain lain dan pemain manapun di dunia ini, tidak hanya Robinho saja. Namun yang menjadi masalah, Robinho terbiasa melakukannya, hingga ia dicap pemain yang sangat sering membuang peluang emas di depan gawang. Dan kadang inilah yang membuat Milanisti “benci” kepadanya, dan sumpah serapah santer terdengar agar klub menjualnya. Robinho kadang dianggap sebagai biang kegagalan Milan meraih kemenangan, karena hampir di setiap pertandingan ia melewatkan peluang mencetak gol, meskipun tak sedikit pula gol lahir dari kakinya. Begitulah tipikal manusia, ketika ada satu keberhasilan maka dianggapnya biasa, namun bila ada satu kegagalan, akan diingat sepanjang masa, haha.

Apapun itu, Robinho tetaplah Robinho. Pemain yang telah memiliki nama besar dan salah satu yang terbaik di Brasil. Milan yang punya tradisi sebagai klub tempat berlabuh pemain-pemain hebat asal Brasil pun beruntung pernah dibela Robinho. Dan sejujurnya, Robi merupakan pemain yang masih bagus dan masih memiliki skill-skill berkelas, meskipun sudah tidak lagi secepat dulu. Aksi dribbling bolanya masih menawan dan gocekannya masih mengingatkan kita akan masa jaya-jayanya. Namun, Milan tidak membutuhkan itu saat ini.

Apa yang Milan butuhkan adalah peremajaan dan penyegaran, dalam arti pemain baru. Artinya bukan hanya diisi pemain-pemain muda, namun pemain senior di Milan juga penting keberadaannya. Robi bisa menjadi pemain senior yang dimaksud itu, namun kualitasnya yang menurun pasca cedera pun tidak bisa terlalu lama ditolerir. Atau trademark pemain yang sering membuang peluang kadang juga menjadi hal yang merugikan klub. Pada intinya, masih banyak pemain di Milan yang memiliki kualitas setara atau bahkan lebih darinya, dan juga lebih muda sehingga perannya lambat laun tergantikan. Dan ingat, bila mempertahankan pemain bintang yang kerap menjadi cadangan, Milan harus merogoh kocek lebih dalam secara rutin untuk membiayai gajinya, sesuatu yang sebenarnya bisa dikurangi, apalagi di saat-saat klub Italia kini sedang dilanda krisis, untuk digunakan hal-hal lain macam membeli pemain baru.

Kabar baiknya, setelah lama mendapat berita bahwa ia “susah” dijual. Akhirnya mulai musim ini Robi dipinjamkan ke Santos, klub lamanya di Brasil. Meskipun statusnya masih pinjaman sehingga ada kemungkinan ia kembali lagi, tempat yang lowong ditinggalkannya cukup baik untuk diisi pemain baru atau pemain muda yang membutuhkan jam terbang lebih tinggi. Dan berharap saja Robi sukses kembali di Santos sehingga ia bisa dijual secara permanen. Akhir kata, Milanisti mengucapkan terima kasih atas jasa-jasa Robinho selama ini. Good luck!

Tagged , , , ,

Day 23: Favourite Young Player U-21

a.espncdn.com

Salah satu tujuan klub sepakbola meminjamkan pemainnya ke klub lain adalah untuk memberikan kesempatan kepada pemain tersebut berkembang, agar memiliki banyak kesempatan bermain dan berkontribusi lebih banyak terhadap klub barunya. Selain membantu performa, stabilitas dan jam terbang si pemain, juga bermanfaat untuk klub baru yang dibelanya bila pada musim peminjaman tersebut si pemain tampil bagus.

Dan itu sepertinya yang dialami oleh Thibaut Courtois. Terus terang saya saja masih googling how to write and spell his name, haha. Dan bila diucapkan dengan lidah, nama kiper muda ini terdengar asik didengar. Coba deh kalian dengar ketika ia muncul di layar kaca dan pas komentator mengucapkan namanya, keren! Haha. Courtois menjadi kiper yang sedang ramai namanya dibicarakan belakangan ini karena penampilannya yang luar biasa musim lalu bersama Atlético Madrid, dimana ia berhasil mengawal gawang Atlético menuju tahta juara La Liga, sekaligus memutus dominasi Barcelona dan Real Madrid dalam kurun waktu kurang lebih 10 tahun terakhir.

Pemain bernama lengkap Thibaut Nicolas Marc Courtois ini sebenarnya merupakan pemain Chelsea, dibeli dari klub Belgia, Racing Genk. Tampil apik di Genk membuat The Blues berminat merekrutnya, untuk menjadi kiper yang digadang-gadang akan menggantikan penjaga gawang legendaris mereka, Petr Cech. Penampilan Courtois yang gemilang membawa Genk juara Liga Pro Belgia membuat manajemen Chelsea meliriknya. Apalagi saat itu Courtois telah dipercaya menjadi kiper timnas Belgia U-21. Dan kini, perannya tak bisa tergantikan sebagai kiper utama meskipun Belgia punya rising star lagi pada posisi penjaga gawang pada diri Simon Mignolet (Liverpool). Tapi, sinar Mignolet meskipun juga tampil cemerlang masih harus kalah dibanding Courtois. Tentunya ini menjadi suatu kondisi yang bagus bagi Belgia ketika mereka telah menemukan penerus kiper yang dulu pernah bersinar pada diri Michael Preud’Homme di Piala Dunia AS ’94.

Courtois pun semakin bersinar ketika perannya di Atlético, yang tadinya hanya sebagai pemain pinjaman, menjadi vital dan juga menjadi pengganti yang tepat bagi David de Gea yang dikontrak Manchester United. Courtois pun mendapat warisan nomor peninggalan De Gea, yaitu 13. Dan puncaknya apalagi kalau bukan mengantarkan Atlético meraih titel La Liga, sekaligus merusak hegemoni Barcelona dan Real Madrid. Malahan, Atléti hampir saja meraih gelar ganda La Liga dan Liga Champions, kalau saja Madrid tidak mengalahkan mereka 1-4 pada final di Lisbon. Di derby tersebut malah Atléti sempat unggul 1-0 hingga menit 93, sebelum gol sundulan Sergio Ramos menjatuhkan mental mereka. Kalau saja Atléti bisa meraih gelar Liga Champions tersebut, maka lengkaplah sudah mereka mengalahkan Barça dan Madrid di 2 partai puncak kompetisi berbeda. Menyusul sebelumnya Barça mereka tahan 1-1 di Camp Nou pada partai akhir liga.

Sampai sejauh manapun Atléti meraih hasil di musim lalu, hal tersebut cukup untuk membuat Roman Abramovich dan Jose Mourinho beserta manajemen Chelsea sepakat memboyongnya kembali ke Stamford Bridge. Meskipun Cech di Chelsea masih menjadi andalan, nampaknya Mou sengaja untuk membiarkan Cech berada pada posisi tidak nyaman dengan kehadiran Courtois. Artinya Mou ingin menciptakan persaingan sehat di posisi kiper, antara Cech dengan Courtois. Hal ini berdampak positif dan negatif. Postifnya, Chelsea memiliki dua kiper kelas dunia yang memiliki kualitas setara. Sedangkan negatifnya, peluang Cech untuk hijrah besar bila ia kalah bersaing sebagai kiper utama atau ia tidak rela menjadi pilihan kedua. Atau mungkin Mou ingin mengadopsi jurusnya ketika di Madrid, dimana ia merotasi Diego Lopez dan Iker Casillas secara bergantian di 2 kompetisi berbeda, salah satu dikhususkan untuk di liga dan lainnya di kompetisi Eropa. Well, banyak hal yang bisa terjadi.

Dan keberhasilan Belgia mencapai perempatfinal Piala Dunia Brasil 2014 juga dianggap sebagai wadah yang membentuk performa Courtois lebih matang lagi. Belgia yang harus pulang karena kalah dari Argentina itu memang sedang mencapai usia emas sebagai sebuah tim nasional. Tak hanya Courtois, rekan-rekannya yang kebanyakan juga berpredikat pemain andalan atau rising star klub masing-masing tampil baik dan mereka masih bisa bertahan di Piala Eropa 2 tahun lagi, atau bahkan 2 kali Piala Dunia di Rusia dan Qatar.

Kita lihat saja sepak terjang Courtois dalam mengawal gawang Chelsea di musim Barclays Premiere League yang baru berjalan ini.

Tagged , , , , ,

Day 22: Biggest Footballing Injustice Still Not Over

lampard-420x0

Ada hal menarik ketika di gelaran Piala Dunia 2014 lalu bila kita melihat, wasit memiliki “senjata” yang selalu mereka ambil dari belakang celana ketika terjadi tendangan bebas beberapa meter dari kotak penalti. Ya, setelah mereka meniup peluit, mereka akan menghitung jarak untuk berdiri membuat pagar betis dan kemudian menyemprot dengan semacam foam di rumput, sebagai batas berdiri pemain. Itu salah satu terobosan FIFA dalam sepakbola, dan satu lagi terobosan yang diciptakan oleh organisasi yang dikepalai Sepp Blatter yaitu: Goal Line Technology.

Biasa kita sebut teknologi garis gawang. Teknologi ini memungkinkan wasit mendapat kabar melalui jam tangan yang dikenakannya, apabila terjadi gol tipis di bibir garis gawang yang kerap menimbulkan kontroversi. Bila bola telah melewati garis gawang ada sensor yang berbunyi untuk kemudian mengirimkan sinyal pemberitahuan kepada wasit, dan prit prit, mereka akan meniup peluit tanda terjadinya gol. Para pemain tidak perlu lagi berdebat kusir hingga mengeroyok wasit atau menarik otot serta urat, berkelahi dengan pemain lawan untuk saling berargumen menentukan apakah bola telah melewati garis atau tidak. Bahkan terlihat para pemain menyarankan agar wasit melihat tayangan ulang yang ada dari layar stadion. Dan itu juga bukan saran yang baik karena di tayangan ulang pun tidak diberikan gambaran jelas prosesi bola apakah melewati garis gawang atau tidak. Dan wasit pun jadi semakin bingung. Biasanya mereka berkonsultasi dengan hakim garis, dan hakim garis pun tak jarang ragu-ragu mengambil keputusan yang akhirnya menjadi rancu dan merugikan salah satu pihak.

Lalu apa latar belakang ditemukannya teknologi garis gawang? Tidak lain tidak bukan salah satunya karena insiden ini: partai perdelapanfinal Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Tanggal 27 Juni 2010, di Bloemfontein, Jerman yang saat itu menjadi juara Grup D bertemu Inggris sebagai runner-up Grup C. Inggris yang seperti biasa selalu kesulitan lolos dari putaran grup harus langsung berhadapan dengan Der Panzer yang diisi pemain muda macam Mesut Özil, Thomas Müller, Sami Khedira dan striker kawakan Miroslav Klose. Inggris yang bermain dengan kostum away berwarna merah agak keteteran di menit-menit awal menghadapi serangan spartan khas Jerman. Alhasil baru 20 menit pertandingan berjalan, tendangan gawang Manuel Neuer yang langsung mengarah ke depan gawang Inggris, disontek dengan sekali sentuhan Klose. Inggris tersentak, skor 0-1 untuk Jerman.

frank lampard's goal

Unggul 1 gol membuat pemain-pemain asuhan Joachim Löw tampil lebih semangat. Inggris pun yang kelihatannya selalu apes setiap perhelatan major tournament harus kembali kebobolan, kali ini lewat Lukas Podolski. Jerman membuat gol itu dengan apik, rapih sekali lewat open play yang dibangun dengan cermat dari belakang. Ketinggalan 2 gol membuat Inggris mau tak mau harus bermain menyerang, dan akhirnya gol datang lewat tandukan Matthew Upson. Saat posisi hanya tertinggal 1 gol saja, Inggris tambah bersemangat untuk mengejar ketertinggalan dan akhirnya momen ini yang terjadi.

Lewat satu serangan balik yang coba dibangun anak-anak St. George Cross, bola ditendang dengan keras oleh Frank Lampard ke arah gawang Neuer. Bola keras itu menghantam mistar gawang tanpa bisa dijangkau kiper yang menjadi penerus Oliver Kahn itu. Bola tektok itu menghantam tanah jauh melewati garis dan sialnya dengan sigap ditangkap lagi oleh Neuer ketika ia bangun. Semua orang mengira itu gol dan Inggris telah berhasil menyamakan kedudukan. Tapi siapa sangka wasit bergeming dan tidak meniup peluit memerintahkan bola untuk ditaruh di tengah lapangan. Lampard seakan tak percaya bola itu tidak dianggap gol. Jangankan Lampard dan hooligans di lapangan, saya dirumah aja loncat-loncat kegirangan karena menyangka skor jadi sama kuat, eh tapi malah dianggap tidak gol. Padahal kalo diliat dari tayangan ulang, mau berapa kali pun diulang-ulang sampe pita tayangan ulang kusut, tetep aja keliatan bola udah lewat garis gawang. Dari sudut manapun juga begitu, dan nampaknya Neuer pun mengakui kalo bola udah lewat garis. Wasit pun kalo liat tayangan ulangnya lagi pasti bakal insaf, cuma ya begitu deh. Wasit keukeuh dengan keputusannya, dan mungkin ia berpikiran wasit Argentina vs Inggris di Piala Dunia 1986 aja bisa khilaf ga liat tangan Maradona di Gol Tangan Tuhan. Menyakitkan bagi Inggris dan semua tim yang dirugikan.

Itulah sedikit banyak latar belakang terciptanya teknologi garis gawang. Dari ketidakadilan itu FIFA membuat regulasi dan juga teknologi yang akan meminimalisir konflik-konflik yang terjadi bila bola dengan ganjennya antara mau tidak mau masuk ke gawang, menggoda si garis eh udah gitu keluar lagi. Dengan teknologi ini diharapkan akan lebih tercipta keadilan bagi para pihak. Meskipun sebenarnya, ada juga yang mengatakan bahwa terobosan seperti ini membuat sepakbola jadi tidak alamiah lagi. Artinya, sepakbola dan kesalahan mendasar manusia sekarang telah menjadi bagian tak terpisahkan. Kesalahan wasit dalam mengambil keputusan, menjadi hal yang lumrah. Kita melihat bagaimana hal-hal tersebut memberi warna tersendiri dari sebuah permainan sepakbola. Sepakbola tidak boleh menjadi sepenuhnya dikuasai teknologi yang mengalahkan unsur humanity dengan segala keterbatasannya itu sendiri.

Well, tapi cukuplah teknologi garis gawang yang menjadi suatu penemuan revolusioner mencegah ketidakadilan. Selebihnya, biarkan sepakbola tampil apa adanya.

Tagged , , , , , ,

Day 21: Favourite Legendary Player Who Is No Longer Playing

1585338_w2

Saya saat itu sedang bermain di rumah teman ketika mendengar berita besar nan membahagiakan yang menyangkut klub idola saya, AC Milan. Saat itu terpampang berita di sebuah tabloid olahraga bahwa Milan baru saja membeli seorang bek yang sedang naik daun dan merupakan kapten tim dari lawan Milan di Serie A, SS Lazio. Siapakah ia? Tentu saja tak lain tak bukan adalah sang maskot, Alessandro Nesta.

Pembelian itu luar biasa karena saat itu Nesta menjadi kapten Lazio dan ia sedang naik daun sebagai bek tengah klub maupun timnas. Nesta pun harus ridho dijual oleh manajemen klub karena klub biru langit berlambang burung elang tersebut sedang mengalami kesulitan keuangan. Dan saya ingat sekali foto dari berita di tabloid itu sangat melegenda, yaitu gambar Nesta sedang berpose memegang jersey Milan. Wow, luar biasa. Hingga kini transfer Nesta ke Milan masih menjadi salah satu transfer terbaik Milan sepanjang masa. Bayangkan saja, kapten Lazio kok dibeli. Itu kan ibaratnya sama aja dengan mindahin Paolo Maldini dari Milan atau membeli Javier Zanetti dari Inter atau Alessandro Del Piero dari Juventus. Atau ngangkut Francesco Totti dari Roma. Luar biasa. Pemilihan Milan sebagai klub Nesta selanjutnya juga menjadi suatu hal yang melegakan karena desas desusnya, Nesta sempat ingin pindah ke Inter. Ah, untung Nesta memilih jalan yang lurus, hehe.

Sebelum transfer itu terjadi juga kabarnya Milan melirik Fabio Cannavaro, yang saat itu juga tengah naik daun di Parma. Duet Nesta dan Cannavaro sedang menjadi duet paling diandalkan di timnas Italia. Mereka berdua adalah bek tengah klasik yang menjadi andalan di masing-masing klub. Namun akhirnya Cannavaro hijrah ke Inter dan takdir memilih Nesta sebagai seorang Rossonero, dan sisanya adalah sejarah.

Bersama Milan, Nesta datang dan langsung mempersembahkan gelar juara Liga Champions di musim pertamanya. Final di Old Trafford menjadi saksi dimana Nesta bersama Maldini, Marcos Cafu, Billy Costacurta dan Jaap Stam menjadi barisan belakang yang kokoh bagai tembok. Nesta bahkan mendapat julukan Minister of Defence karena kepiawaiannya mengawal barisan pertahanan Milan. Kami para Milanisti pun merasa tenang bila Nesta hadir di barisan belakang. Nomor 13 pun seakan lekat pada diri Nesta, ketika turun ke lapangan dan mengisi salah satu dari 4 bek sejajar Milan. Nesta dan Maldini menjadi duet klasik sepakbola Italia yang tenar dengan pakem catenaccio-nya, dan Nesta – Maldini menjadi wujud dari kokohnya sistem pertahanan grendel tersebut.

Sayang karir gemilang Nesta di klub seakan tidak terlalu mengikuti perjalanan hidupnya bersama La Nazionale. Berbaju biru timnas Italia, Nesta lebih sering dihantui cedera sehingga performance-nya tidak selalu maksimal. Masih lekat di ingatan saya ketika Nesta tidak selesai menjalani gelaran Piala Dunia 2006 karena harus mengakhiri turnamen lebih cepat akibat cedera. Ironisnya, Italia saat itu keluar menjadi juara. Itulah sebagian dari kisah sedih Nesta, selain kekalahan menyakitkan atas Korea Selatan di perdelapanfinal Piala Dunia 2002.

Selain menjadi dewa di barisan pertahanan, kehadiran Nesta di Milan sepanjang 10 tahun karirnya juga menjadi mentor bagi bek-bek baru Milan sepeninggal Maldini, Stam, Cafu, Billy dan lainnya. Oke sebut saja satu nama yaitu Thiago Silva. Kapten Brasil masa kini itu menyebut Nesta sebagai salah satu bek yang menginspirasinya dan berpengaruh pada permainannya. Duet Nesta – Silva sempat menjadi andalan Milan sebelum Nesta pensiun dan Silva dijual ke Paris Saint-Germain. Silva yang saat itu anak baru dari Fluminense mendapat ilmu, teknik dan taktik dalam hal mengorganisir pertahanan dari seorang bek legendaris Italia macam Nesta. Duet Silva – Nesta sebenarnya menjadi angin segar bagi Milan dan mungkin bisa melebihi Nesta – Maldini, namun waktu dan keadaan tidak memungkinkan dan Milan harus ikhlas mengakhiri kebersamaan mereka itu.

Kini Nesta telah mengakhiri 10 musim yang tak terlupakan bersama Milan dan meraih semua gelar level klub. Nesta menjadi salah satu legenda Milan, juga Lazio dan tim nasional Italia. Kehadirannya di Milan menjadi suatu bagian dari keluarga besar Rossoneri, dan membuat Milan semakin lekat menjadi tim yang kerap melahirkan bintang-bintang kelas dunia dan bek-bek legendaris. Nesta kini bermain di Kanada bersama tim Montreal Impact dan masih menjadi nama besar yang menjual bagi klub mana pun yang dibelanya. Dan tahun lalu, Nesta kabarnya telah mundur sebagai pesepakbola profesional.

Tagged , , ,