Category Archives: Football

Ronaldo, Messi? Biasa. Ladies and gentlemen.. Manuel Neuer!

Gelaran Ballon d’Or atau Bola Emas atau Golden Ball yang merupakan simbol pemain terbaik dunia dalam pentas akbar seluruh pesepakbola, akan diumumkan dalam waktu dekat, tahun depan tepatnya, pertengahan Januari 2015. Penghargaan ini disematkan kepada pemain sepakbola yang memiliki penampilan terbaik selama satu tahun belakangan, dan sungguh, ini merupakan capaian tertinggi seorang pemain sepakbola dalam hal penghargaan individu.

Dan tahun 2014 ini, sudah terpilih 3 pemain yang menjadi kandidat peraih Golden Ball yang penjuriannya menggunakan sistem nama yang di-vote oleh seluruh pelatih dan kapten dari tim nasional seluruh dunia, dan juga jurnalis internasional tersebut. Siapakah 3 nama yang dimaksud? Saya berani bertaruh bahwa anda pasti mengenal 2 nama yang akan saya sebut lebih dahulu, meski anda bukanlah penggemar sepakbola sekalipun.

Dua nama pertama adalah langganan dari setiap ajang pemilihan pemain sepakbola terbaik. Mereka adalah 2 pemain yang level persaingannya sangat tinggi dan menjadi cerminan legenda sepakbola masa kini. Apa yang mereka lakukan di blantika sepakbola selalu menjadi rekor, rekor dan rekor, seiring gelar juara yang berdatangan bagi klub masing-masing tentunya. Well jika anda menyebut Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, tentu bukanlah suatu hal yang mengagetkan.

Ronaldo dan Messi merupakan langganan penghargaan. Dan mereka berdua juga pernah merasakan tahta tertinggi Golden Ball. Itulah alasan saya menulis judul tulisan ini di atas, bahwa bila suatu penghargaan dihelat dan kedua pemain tersebut menjadi nominasi atau bahkan pemenangnya, itu menjadi suatu hal umum dan biasa. Ronaldo dan Messi seperti bergantian merebut award demi award. Bukanlah suatu hal yang mengejutkan karena performa mereka juga extra ordinary sepanjang tahun. Dan konsistensi mereka, itu yang terpenting. Khusus Messiah, ia merebut 3 gelar FIFA Ballon d’Or berturut-turut dari 2010 hingga 2012, seiring penguasaan Barcelona kala itu di panggung sepakbola Eropa dan dunia. Nama FIFA Ballon d’Or sendiri secara resmi digunakan mulai 2010 setelah nama Ballon d’Or yang tadinya hanya digunakan oleh majalah France Football di merger dengan penghargaan FIFA World Player Of The Year, menjadi FIFA Ballon d’Or. Sementara pesaing abadinya, CR7 menghentikan kedigdayaan Messi tahun lalu (2 kali setelah tahun 2008), menyusul performanya yang sangat apik sepanjang 2013.

Dan kini, tatkala mereka berdua kembali masuk nominasi, muncul 1 nama yang menurut saya pribadi, adalah sosok yang patut diperhitungkan belakangan ini. Ia mungkin memang tidak rajin bikin gol dan juga tidak punya lari secepat kilat seperti Messi atau Ronaldo, namun ia memiliki kekokohan sebagai orang yang berdiri paling akhir di depan garis gawang, nomor satu di klub maupun timnas. Dia adalah kiper Jerman yang membawa der panzer juara dunia tahun ini, Manuel Neuer. Dan juga, penggondol Golden Glove atau kiper terbaik sepanjang turnamen.

Neuer hadir sebagai nominasi dan juga sebagai ancaman baru Messi dan Ronaldo. Ada opini publik yang mengatakan bahwa perengkuh Bola Emas adalah mereka yang membawa timnya menjuarai suatu turnamen besar. Khusus Neuer, Piala Dunia 2014 adalah bukti sahih. Begitu juga yang terjadi dengan Zinedine Zidane (1998), Ronaldo Nazario (2002) dan Fabio Cannavaro (2006). Hanya Messi saja yang berhasil memutus mata rantai itu di 2010 ketika Spanyol jadi juara dunia, namun tahun ini Neuer tampil sangat luar biasa. CR7 pun yang membawa Real Madrid meraih La Decima seakan masih kalah terang sinarnya. Kiper yang di awal karirnya membela Schalke tersebut dikenal dengan gayanya yang seperti bek atau sweeper. Ia tak segan memainkan bola di hadapan pemain lawan dan melakukan aksi-aksi penyelamatan layaknya seorang bek.

Ditambah lagi, bagi kalian yang juga memainkan game FIFA 15, tentunya pasti mengetahui bahwa Neuer ini adalah kiper yang amat sangat sulit ditaklukkan oleh lawan, karena ratingnya mencapai 90! Sedikit di bawah Ronaldo dan Messi, dan rating itu adalah rating bagi seorang kiper yang tugasnya “hanya” menahan bola agar tidak masuk gawang.

Siapapun pemenangnya, saya yakin bahwa itulah yang terbaik. Dan memang ke-3 pemain ini telah menorehkan prestasi tersendiri di klub dan negaranya masing-masing. Ronaldo tak henti mencetak gol dan terus menjadi top skor, membawa Madrid juara Liga Champions. Messi memecahkan rekor Telmo Zarra sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah La Liga, dan Neuer membawa Jerman menjuarai Piala Dunia ke-4 mereka.

Namun, tentunya adalah sebuah subjektivitas ketika saya memilih Neuer. Bila saya menjadi kapten timnas, jurnalis ataupun pelatih, maka Supermanu adalah pilihan utama. Mari nantikan apakah akan hadir kiper pertama (kedua setelah Lev Yashin ketika masih bernama Ballon d’Or) sebagai pemain terbaik dunia.

Advertisements
Tagged , , , ,

Day 25: Describe Your Typical Matchday Routine

brazil-fans-tv

My typical matchday routine? Well karena saya bukanlah seorang pemain sepakbola, hanyalah penikmat sepakbola. Dan menurut saya bahasan ini adalah cocok bagi mereka yang bermain, maka saya akan menganalogikan challenge hari ini dengan typical matchday routine bagi seorang penikmat. Yup, saya akan mengambil contoh pagelaran Piala Dunia 2014 yang telah berlalu kemarin.

Piala Dunia memang selalu memunculkan kisah menarik. Tidak hanya bagi para pemainnya, namun juga seisi negara dari tim nasional yang bertanding, dan melibatkan seluruh aspek negara tersebut: entah itu mulai dari rakyat jelata hingga kepala negara. Semua dijamin mendukung negara mereka yang sedang bertanding. Bahkan Barack Obama, Presiden AS pun sesekali di sosial media nampak fotonya menonton timnas AS ketika bertanding, bahkan beliau sampai membuat suatu surat untuk khusus untuk perusahaan-perusahaan AS agar meliburkan karyawannya, karena hari itu bertepatan dengan timnas AS bermain untuk menentukan apakah mereka lolos ke babak selanjutnya atau tidak. Luar biasa. Jangankan mereka yang negaranya terlibat, para pecinta sepakbola yang negaranya tidak (pernah) ikut serta saja kadang lebih heboh seakan-akan negara mereka ikut berpartisipasi. Salah satunya di Indonesia.

Pecinta sepakbola Indonesia dihadapkan pada kenyataan yang cukup berat bila ada turnamen besar yang diselenggarakan di luar benua mereka (Asia). Contoh yang paling kentara adalah bila ada pertandingan (kompetisi) di Eropa. Perbedaan waktu membuat penikmat sepakbola Asia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya, harus “mengalah” karena kebagian jatah menonton live match pada malam dan dini hari. Memang hal itu semakin lama menjadi kebiasaan, tapi bila menyangkut Piala Dunia, akan tercipta suatu dilematisasi yang besar (bahasa apa ini). Karena Piala Dunia adalah event 4 tahunan yang tidak boleh dilewatkan, dan nyatanya Piala Dunia selalu hadir pada jam-jam yang tidak nyaman bagi pecinta sepakbola tanah air, dan ironisnya hal tersebut berlangsung selama 1 bulan penuh. Itu pastinya akan mengganggu jam biologis kita yang harus bekerja di siang harinya. Jika malam dibuat begadang terus menerus, tentu kinerja kita di siang hari akan terganggu. Dan itulah yang terjadi pada gelaran Piala Dunia Brasil 2014 lalu.

World Cup 2014 bisa menghadirkan rata-rata 3 pertandingan setiap harinya, kadang 4. Dan bila dicocokkan dengan waktu Indonesia bagian barat, 4 pertandingan tersebut hadir di jam 23.00, 2.00, 5.00 dan beberapa 8.00 pagi. Yang sampai jam 8 pagi adalah pertandingan yang dimainkan di akhir pekan, mungkin di sana malam sekali. Yang jadi pertanyaan, jangankan sampai jam 8 pagi. Bila dikonversikan waktu Indonesia, sungguhlah menjadi suatu hal yang mustahil bagi pecinta sepakbola semaniak apapun untuk kuat dan tahan mengikuti seluruh pertandingan jam 11, 2 pagi dan 5 subuh, dan mereka pun juga harus bekerja keesokan harinya. Kuat sih, tapi menurut saya hanya bisa bertahan 1-2 hari, dan itu juga catatannya tidak tidur. Jika tidak tidur pun, niscaya di kantor bakal ngantuk abis. Atau malah bisa ketiduran tanpa disengaja dan bablas bangun keesokan harinya.

Itulah yang terjadi pada saya ketika itu. Bangun kesiangan sudah bukan barang baru lagi. Hari-hari saya di era Piala Dunia sungguhlah menjadi suatu hal yang mudah ditebak. Dari pagi hingga malam ngantor, pas pulang sampai rumah sudah jam 10-11, masuklah saya ke dalam kamar dan menyalakan TV, kemudian melihat di ANTV atau TV One pasti sedang menyiarkan pertandingan malam itu berbarengan. Jika matchday ke-3 fase grup, maka pertandingan akan berbeda karena 1 grup pasti main secara bersamaan. Setelah mandi dan beres-beres, saya tiduran di kasur ditemani pertandingan itu hingga jam 1. Kalau masih kuat, saya teruskan hingga match yang jam 2. Di beberapa kasus kalau menunggu tanpa tidur, saya masih bisa kuat nonton yang jam 2 mungkin sampai babak pertama usai, tapi kebanyakan ya bablas haha. Saya ingat kalau saya hanya kuat di 1-2 hari awal pembukaan Piala Dunia.

Alhasil untuk pertandingan subuh hari, saya kebanyakan melewatkannya dengan asumsi, saya bangun kesiangan untuk solat subuh (jangan ditiru). Ya begitulah yang terjadi selama 30 hari gelaran Piala Dunia. Sempat ingin merubah pola dengan melewatkan pertandingan jam 11 demi mengejar yang jam 2 karena biasanya pertandingannya seru, tapi amat jarang terjadi. Well, dilihat juga sih ya jam berapa partai serunya main. Karena kadang jam 11  atau subuh big match terjadi. Tapi saya punya kebiasaan agak buruk nih, bila ada pertandingan penting, katakanlah mungkin partai puncak atau final sebuah turnamen apapun (tidak hanya Piala Dunia), pasti saya akan bela-belain untuk tidak tidur. Karena saya tidur seperti kerbau yang dibius terlelap dan niscaya akan kelewatan alias bablas. Baik itu alarm beneran atau alarm handphone bersatu pun belum tentu bisa membangunkan saya. Begitulah pengalaman saya, bagaimana dengan anda?

Tagged , , , , ,

Day 24: Player(s) You Really Can’t Stand

maxresdefault

Ketika Robson de Souza atau yang lebih dikenal dengan Robinho datang ke Milan sebagai pemain baru di bursa transfer akhir musim 2010, Milanisti bergembira dan sepakat Milan telah menjalani musim transfer pemain (mercato) yang sukses. Dua nama besar, Zlatan Ibrahimović dan Robinho datang dengan kualitas yang masih bagus sebagai seorang pemain. Ibra dipinjam dari Barcelona sedangkan Robinho tiba dari Manchester City. Dua-duanya meninggalkan klub lamanya dengan kondisi tidak bagus. Dan seperti biasa, tangan Milan selalu terbuka untuk pemain-pemain “terbuang” seperti mereka. Robinho dan Ibra langsung menjadi andalan di skema pelatih kala itu, Max Allegri, dan benar saja, Milan langsung menjuarai Serie A di musim pertama Robinhi dan Ibra mengarungi Liga Italia.

Robinho yang sempat menjadi hot stuff timnas Brasil dan bintang di Real Madrid, masih memiliki taji sebagai pemain yang lincah, atraktif dan jenius layaknya pemain-pemain Brasil lainnya. Itu yang membuatnya istimewa. Di luar tipikalnya sebagai pesepakbola bad boy dan kerap berselisih paham dengan pelatih klub yang dibelanya. Lagipula, Robinho adalah pemain yang memiliki skill di atas rata-rata. Demikian halnya pun dengan Ibra, 2 pemain itu adalah pemain yang diharapkan bisa “jinak” dan menjadi good boy ketika bermarkas di Milanello. Sudah menjadi rahasia umum bila Milan adalah klub yang bisa menenangkan pemain-pemain yang bertipe liar. Dan anggapan itu tidak salah, Robinho dan Ibra jarang terdengar kabar buruk atau kelakuan negatifnya yang menjadi sorotan media.

Meskipun kiprah Robinho di Milan terbilang cukup baik, performa Robinho menurun seiring dengan menurunnya pula prestasi Milan pasca scudetto, apalagi setelah ditinggal Ibra dan juga Thiago Silva. Kuantitas golnya pun tak lagi sebagus musim-musim pertamanya. Namun ada satu hal dari Robinho yang tidak dapat dilupakan. Agak kurang baik ini kedengarannya, tapi memang betul terjadi. Yup, Robinho sering melewatkan peluang emas untuk mencetak gol, bahkan bila peluang tersebut memiliki persentase 99,9% gol.

Well, peluang hilang untuk mencetak gol pun sebenarnya bisa terjadi pada pemain lain dan pemain manapun di dunia ini, tidak hanya Robinho saja. Namun yang menjadi masalah, Robinho terbiasa melakukannya, hingga ia dicap pemain yang sangat sering membuang peluang emas di depan gawang. Dan kadang inilah yang membuat Milanisti “benci” kepadanya, dan sumpah serapah santer terdengar agar klub menjualnya. Robinho kadang dianggap sebagai biang kegagalan Milan meraih kemenangan, karena hampir di setiap pertandingan ia melewatkan peluang mencetak gol, meskipun tak sedikit pula gol lahir dari kakinya. Begitulah tipikal manusia, ketika ada satu keberhasilan maka dianggapnya biasa, namun bila ada satu kegagalan, akan diingat sepanjang masa, haha.

Apapun itu, Robinho tetaplah Robinho. Pemain yang telah memiliki nama besar dan salah satu yang terbaik di Brasil. Milan yang punya tradisi sebagai klub tempat berlabuh pemain-pemain hebat asal Brasil pun beruntung pernah dibela Robinho. Dan sejujurnya, Robi merupakan pemain yang masih bagus dan masih memiliki skill-skill berkelas, meskipun sudah tidak lagi secepat dulu. Aksi dribbling bolanya masih menawan dan gocekannya masih mengingatkan kita akan masa jaya-jayanya. Namun, Milan tidak membutuhkan itu saat ini.

Apa yang Milan butuhkan adalah peremajaan dan penyegaran, dalam arti pemain baru. Artinya bukan hanya diisi pemain-pemain muda, namun pemain senior di Milan juga penting keberadaannya. Robi bisa menjadi pemain senior yang dimaksud itu, namun kualitasnya yang menurun pasca cedera pun tidak bisa terlalu lama ditolerir. Atau trademark pemain yang sering membuang peluang kadang juga menjadi hal yang merugikan klub. Pada intinya, masih banyak pemain di Milan yang memiliki kualitas setara atau bahkan lebih darinya, dan juga lebih muda sehingga perannya lambat laun tergantikan. Dan ingat, bila mempertahankan pemain bintang yang kerap menjadi cadangan, Milan harus merogoh kocek lebih dalam secara rutin untuk membiayai gajinya, sesuatu yang sebenarnya bisa dikurangi, apalagi di saat-saat klub Italia kini sedang dilanda krisis, untuk digunakan hal-hal lain macam membeli pemain baru.

Kabar baiknya, setelah lama mendapat berita bahwa ia “susah” dijual. Akhirnya mulai musim ini Robi dipinjamkan ke Santos, klub lamanya di Brasil. Meskipun statusnya masih pinjaman sehingga ada kemungkinan ia kembali lagi, tempat yang lowong ditinggalkannya cukup baik untuk diisi pemain baru atau pemain muda yang membutuhkan jam terbang lebih tinggi. Dan berharap saja Robi sukses kembali di Santos sehingga ia bisa dijual secara permanen. Akhir kata, Milanisti mengucapkan terima kasih atas jasa-jasa Robinho selama ini. Good luck!

Tagged , , , ,

Day 23: Favourite Young Player U-21

a.espncdn.com

Salah satu tujuan klub sepakbola meminjamkan pemainnya ke klub lain adalah untuk memberikan kesempatan kepada pemain tersebut berkembang, agar memiliki banyak kesempatan bermain dan berkontribusi lebih banyak terhadap klub barunya. Selain membantu performa, stabilitas dan jam terbang si pemain, juga bermanfaat untuk klub baru yang dibelanya bila pada musim peminjaman tersebut si pemain tampil bagus.

Dan itu sepertinya yang dialami oleh Thibaut Courtois. Terus terang saya saja masih googling how to write and spell his name, haha. Dan bila diucapkan dengan lidah, nama kiper muda ini terdengar asik didengar. Coba deh kalian dengar ketika ia muncul di layar kaca dan pas komentator mengucapkan namanya, keren! Haha. Courtois menjadi kiper yang sedang ramai namanya dibicarakan belakangan ini karena penampilannya yang luar biasa musim lalu bersama Atlético Madrid, dimana ia berhasil mengawal gawang Atlético menuju tahta juara La Liga, sekaligus memutus dominasi Barcelona dan Real Madrid dalam kurun waktu kurang lebih 10 tahun terakhir.

Pemain bernama lengkap Thibaut Nicolas Marc Courtois ini sebenarnya merupakan pemain Chelsea, dibeli dari klub Belgia, Racing Genk. Tampil apik di Genk membuat The Blues berminat merekrutnya, untuk menjadi kiper yang digadang-gadang akan menggantikan penjaga gawang legendaris mereka, Petr Cech. Penampilan Courtois yang gemilang membawa Genk juara Liga Pro Belgia membuat manajemen Chelsea meliriknya. Apalagi saat itu Courtois telah dipercaya menjadi kiper timnas Belgia U-21. Dan kini, perannya tak bisa tergantikan sebagai kiper utama meskipun Belgia punya rising star lagi pada posisi penjaga gawang pada diri Simon Mignolet (Liverpool). Tapi, sinar Mignolet meskipun juga tampil cemerlang masih harus kalah dibanding Courtois. Tentunya ini menjadi suatu kondisi yang bagus bagi Belgia ketika mereka telah menemukan penerus kiper yang dulu pernah bersinar pada diri Michael Preud’Homme di Piala Dunia AS ’94.

Courtois pun semakin bersinar ketika perannya di Atlético, yang tadinya hanya sebagai pemain pinjaman, menjadi vital dan juga menjadi pengganti yang tepat bagi David de Gea yang dikontrak Manchester United. Courtois pun mendapat warisan nomor peninggalan De Gea, yaitu 13. Dan puncaknya apalagi kalau bukan mengantarkan Atlético meraih titel La Liga, sekaligus merusak hegemoni Barcelona dan Real Madrid. Malahan, Atléti hampir saja meraih gelar ganda La Liga dan Liga Champions, kalau saja Madrid tidak mengalahkan mereka 1-4 pada final di Lisbon. Di derby tersebut malah Atléti sempat unggul 1-0 hingga menit 93, sebelum gol sundulan Sergio Ramos menjatuhkan mental mereka. Kalau saja Atléti bisa meraih gelar Liga Champions tersebut, maka lengkaplah sudah mereka mengalahkan Barça dan Madrid di 2 partai puncak kompetisi berbeda. Menyusul sebelumnya Barça mereka tahan 1-1 di Camp Nou pada partai akhir liga.

Sampai sejauh manapun Atléti meraih hasil di musim lalu, hal tersebut cukup untuk membuat Roman Abramovich dan Jose Mourinho beserta manajemen Chelsea sepakat memboyongnya kembali ke Stamford Bridge. Meskipun Cech di Chelsea masih menjadi andalan, nampaknya Mou sengaja untuk membiarkan Cech berada pada posisi tidak nyaman dengan kehadiran Courtois. Artinya Mou ingin menciptakan persaingan sehat di posisi kiper, antara Cech dengan Courtois. Hal ini berdampak positif dan negatif. Postifnya, Chelsea memiliki dua kiper kelas dunia yang memiliki kualitas setara. Sedangkan negatifnya, peluang Cech untuk hijrah besar bila ia kalah bersaing sebagai kiper utama atau ia tidak rela menjadi pilihan kedua. Atau mungkin Mou ingin mengadopsi jurusnya ketika di Madrid, dimana ia merotasi Diego Lopez dan Iker Casillas secara bergantian di 2 kompetisi berbeda, salah satu dikhususkan untuk di liga dan lainnya di kompetisi Eropa. Well, banyak hal yang bisa terjadi.

Dan keberhasilan Belgia mencapai perempatfinal Piala Dunia Brasil 2014 juga dianggap sebagai wadah yang membentuk performa Courtois lebih matang lagi. Belgia yang harus pulang karena kalah dari Argentina itu memang sedang mencapai usia emas sebagai sebuah tim nasional. Tak hanya Courtois, rekan-rekannya yang kebanyakan juga berpredikat pemain andalan atau rising star klub masing-masing tampil baik dan mereka masih bisa bertahan di Piala Eropa 2 tahun lagi, atau bahkan 2 kali Piala Dunia di Rusia dan Qatar.

Kita lihat saja sepak terjang Courtois dalam mengawal gawang Chelsea di musim Barclays Premiere League yang baru berjalan ini.

Tagged , , , , ,

Day 22: Biggest Footballing Injustice Still Not Over

lampard-420x0

Ada hal menarik ketika di gelaran Piala Dunia 2014 lalu bila kita melihat, wasit memiliki “senjata” yang selalu mereka ambil dari belakang celana ketika terjadi tendangan bebas beberapa meter dari kotak penalti. Ya, setelah mereka meniup peluit, mereka akan menghitung jarak untuk berdiri membuat pagar betis dan kemudian menyemprot dengan semacam foam di rumput, sebagai batas berdiri pemain. Itu salah satu terobosan FIFA dalam sepakbola, dan satu lagi terobosan yang diciptakan oleh organisasi yang dikepalai Sepp Blatter yaitu: Goal Line Technology.

Biasa kita sebut teknologi garis gawang. Teknologi ini memungkinkan wasit mendapat kabar melalui jam tangan yang dikenakannya, apabila terjadi gol tipis di bibir garis gawang yang kerap menimbulkan kontroversi. Bila bola telah melewati garis gawang ada sensor yang berbunyi untuk kemudian mengirimkan sinyal pemberitahuan kepada wasit, dan prit prit, mereka akan meniup peluit tanda terjadinya gol. Para pemain tidak perlu lagi berdebat kusir hingga mengeroyok wasit atau menarik otot serta urat, berkelahi dengan pemain lawan untuk saling berargumen menentukan apakah bola telah melewati garis atau tidak. Bahkan terlihat para pemain menyarankan agar wasit melihat tayangan ulang yang ada dari layar stadion. Dan itu juga bukan saran yang baik karena di tayangan ulang pun tidak diberikan gambaran jelas prosesi bola apakah melewati garis gawang atau tidak. Dan wasit pun jadi semakin bingung. Biasanya mereka berkonsultasi dengan hakim garis, dan hakim garis pun tak jarang ragu-ragu mengambil keputusan yang akhirnya menjadi rancu dan merugikan salah satu pihak.

Lalu apa latar belakang ditemukannya teknologi garis gawang? Tidak lain tidak bukan salah satunya karena insiden ini: partai perdelapanfinal Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Tanggal 27 Juni 2010, di Bloemfontein, Jerman yang saat itu menjadi juara Grup D bertemu Inggris sebagai runner-up Grup C. Inggris yang seperti biasa selalu kesulitan lolos dari putaran grup harus langsung berhadapan dengan Der Panzer yang diisi pemain muda macam Mesut Özil, Thomas Müller, Sami Khedira dan striker kawakan Miroslav Klose. Inggris yang bermain dengan kostum away berwarna merah agak keteteran di menit-menit awal menghadapi serangan spartan khas Jerman. Alhasil baru 20 menit pertandingan berjalan, tendangan gawang Manuel Neuer yang langsung mengarah ke depan gawang Inggris, disontek dengan sekali sentuhan Klose. Inggris tersentak, skor 0-1 untuk Jerman.

frank lampard's goal

Unggul 1 gol membuat pemain-pemain asuhan Joachim Löw tampil lebih semangat. Inggris pun yang kelihatannya selalu apes setiap perhelatan major tournament harus kembali kebobolan, kali ini lewat Lukas Podolski. Jerman membuat gol itu dengan apik, rapih sekali lewat open play yang dibangun dengan cermat dari belakang. Ketinggalan 2 gol membuat Inggris mau tak mau harus bermain menyerang, dan akhirnya gol datang lewat tandukan Matthew Upson. Saat posisi hanya tertinggal 1 gol saja, Inggris tambah bersemangat untuk mengejar ketertinggalan dan akhirnya momen ini yang terjadi.

Lewat satu serangan balik yang coba dibangun anak-anak St. George Cross, bola ditendang dengan keras oleh Frank Lampard ke arah gawang Neuer. Bola keras itu menghantam mistar gawang tanpa bisa dijangkau kiper yang menjadi penerus Oliver Kahn itu. Bola tektok itu menghantam tanah jauh melewati garis dan sialnya dengan sigap ditangkap lagi oleh Neuer ketika ia bangun. Semua orang mengira itu gol dan Inggris telah berhasil menyamakan kedudukan. Tapi siapa sangka wasit bergeming dan tidak meniup peluit memerintahkan bola untuk ditaruh di tengah lapangan. Lampard seakan tak percaya bola itu tidak dianggap gol. Jangankan Lampard dan hooligans di lapangan, saya dirumah aja loncat-loncat kegirangan karena menyangka skor jadi sama kuat, eh tapi malah dianggap tidak gol. Padahal kalo diliat dari tayangan ulang, mau berapa kali pun diulang-ulang sampe pita tayangan ulang kusut, tetep aja keliatan bola udah lewat garis gawang. Dari sudut manapun juga begitu, dan nampaknya Neuer pun mengakui kalo bola udah lewat garis. Wasit pun kalo liat tayangan ulangnya lagi pasti bakal insaf, cuma ya begitu deh. Wasit keukeuh dengan keputusannya, dan mungkin ia berpikiran wasit Argentina vs Inggris di Piala Dunia 1986 aja bisa khilaf ga liat tangan Maradona di Gol Tangan Tuhan. Menyakitkan bagi Inggris dan semua tim yang dirugikan.

Itulah sedikit banyak latar belakang terciptanya teknologi garis gawang. Dari ketidakadilan itu FIFA membuat regulasi dan juga teknologi yang akan meminimalisir konflik-konflik yang terjadi bila bola dengan ganjennya antara mau tidak mau masuk ke gawang, menggoda si garis eh udah gitu keluar lagi. Dengan teknologi ini diharapkan akan lebih tercipta keadilan bagi para pihak. Meskipun sebenarnya, ada juga yang mengatakan bahwa terobosan seperti ini membuat sepakbola jadi tidak alamiah lagi. Artinya, sepakbola dan kesalahan mendasar manusia sekarang telah menjadi bagian tak terpisahkan. Kesalahan wasit dalam mengambil keputusan, menjadi hal yang lumrah. Kita melihat bagaimana hal-hal tersebut memberi warna tersendiri dari sebuah permainan sepakbola. Sepakbola tidak boleh menjadi sepenuhnya dikuasai teknologi yang mengalahkan unsur humanity dengan segala keterbatasannya itu sendiri.

Well, tapi cukuplah teknologi garis gawang yang menjadi suatu penemuan revolusioner mencegah ketidakadilan. Selebihnya, biarkan sepakbola tampil apa adanya.

Tagged , , , , , ,

Day 21: Favourite Legendary Player Who Is No Longer Playing

1585338_w2

Saya saat itu sedang bermain di rumah teman ketika mendengar berita besar nan membahagiakan yang menyangkut klub idola saya, AC Milan. Saat itu terpampang berita di sebuah tabloid olahraga bahwa Milan baru saja membeli seorang bek yang sedang naik daun dan merupakan kapten tim dari lawan Milan di Serie A, SS Lazio. Siapakah ia? Tentu saja tak lain tak bukan adalah sang maskot, Alessandro Nesta.

Pembelian itu luar biasa karena saat itu Nesta menjadi kapten Lazio dan ia sedang naik daun sebagai bek tengah klub maupun timnas. Nesta pun harus ridho dijual oleh manajemen klub karena klub biru langit berlambang burung elang tersebut sedang mengalami kesulitan keuangan. Dan saya ingat sekali foto dari berita di tabloid itu sangat melegenda, yaitu gambar Nesta sedang berpose memegang jersey Milan. Wow, luar biasa. Hingga kini transfer Nesta ke Milan masih menjadi salah satu transfer terbaik Milan sepanjang masa. Bayangkan saja, kapten Lazio kok dibeli. Itu kan ibaratnya sama aja dengan mindahin Paolo Maldini dari Milan atau membeli Javier Zanetti dari Inter atau Alessandro Del Piero dari Juventus. Atau ngangkut Francesco Totti dari Roma. Luar biasa. Pemilihan Milan sebagai klub Nesta selanjutnya juga menjadi suatu hal yang melegakan karena desas desusnya, Nesta sempat ingin pindah ke Inter. Ah, untung Nesta memilih jalan yang lurus, hehe.

Sebelum transfer itu terjadi juga kabarnya Milan melirik Fabio Cannavaro, yang saat itu juga tengah naik daun di Parma. Duet Nesta dan Cannavaro sedang menjadi duet paling diandalkan di timnas Italia. Mereka berdua adalah bek tengah klasik yang menjadi andalan di masing-masing klub. Namun akhirnya Cannavaro hijrah ke Inter dan takdir memilih Nesta sebagai seorang Rossonero, dan sisanya adalah sejarah.

Bersama Milan, Nesta datang dan langsung mempersembahkan gelar juara Liga Champions di musim pertamanya. Final di Old Trafford menjadi saksi dimana Nesta bersama Maldini, Marcos Cafu, Billy Costacurta dan Jaap Stam menjadi barisan belakang yang kokoh bagai tembok. Nesta bahkan mendapat julukan Minister of Defence karena kepiawaiannya mengawal barisan pertahanan Milan. Kami para Milanisti pun merasa tenang bila Nesta hadir di barisan belakang. Nomor 13 pun seakan lekat pada diri Nesta, ketika turun ke lapangan dan mengisi salah satu dari 4 bek sejajar Milan. Nesta dan Maldini menjadi duet klasik sepakbola Italia yang tenar dengan pakem catenaccio-nya, dan Nesta – Maldini menjadi wujud dari kokohnya sistem pertahanan grendel tersebut.

Sayang karir gemilang Nesta di klub seakan tidak terlalu mengikuti perjalanan hidupnya bersama La Nazionale. Berbaju biru timnas Italia, Nesta lebih sering dihantui cedera sehingga performance-nya tidak selalu maksimal. Masih lekat di ingatan saya ketika Nesta tidak selesai menjalani gelaran Piala Dunia 2006 karena harus mengakhiri turnamen lebih cepat akibat cedera. Ironisnya, Italia saat itu keluar menjadi juara. Itulah sebagian dari kisah sedih Nesta, selain kekalahan menyakitkan atas Korea Selatan di perdelapanfinal Piala Dunia 2002.

Selain menjadi dewa di barisan pertahanan, kehadiran Nesta di Milan sepanjang 10 tahun karirnya juga menjadi mentor bagi bek-bek baru Milan sepeninggal Maldini, Stam, Cafu, Billy dan lainnya. Oke sebut saja satu nama yaitu Thiago Silva. Kapten Brasil masa kini itu menyebut Nesta sebagai salah satu bek yang menginspirasinya dan berpengaruh pada permainannya. Duet Nesta – Silva sempat menjadi andalan Milan sebelum Nesta pensiun dan Silva dijual ke Paris Saint-Germain. Silva yang saat itu anak baru dari Fluminense mendapat ilmu, teknik dan taktik dalam hal mengorganisir pertahanan dari seorang bek legendaris Italia macam Nesta. Duet Silva – Nesta sebenarnya menjadi angin segar bagi Milan dan mungkin bisa melebihi Nesta – Maldini, namun waktu dan keadaan tidak memungkinkan dan Milan harus ikhlas mengakhiri kebersamaan mereka itu.

Kini Nesta telah mengakhiri 10 musim yang tak terlupakan bersama Milan dan meraih semua gelar level klub. Nesta menjadi salah satu legenda Milan, juga Lazio dan tim nasional Italia. Kehadirannya di Milan menjadi suatu bagian dari keluarga besar Rossoneri, dan membuat Milan semakin lekat menjadi tim yang kerap melahirkan bintang-bintang kelas dunia dan bek-bek legendaris. Nesta kini bermain di Kanada bersama tim Montreal Impact dan masih menjadi nama besar yang menjual bagi klub mana pun yang dibelanya. Dan tahun lalu, Nesta kabarnya telah mundur sebagai pesepakbola profesional.

Tagged , , ,

Day 20: Favourite Player From A Team You Dislike

56450620-1450949497-800

Adalah suatu penyesalan yang baru terasa di akhir suatu keputusan, ketika Milan menjual Andrea Pirlo ke Juventus. Memang ga pernah yang namanya penyesalan itu di awal, karena itu namanya pendaftaran *krik* namun yang jelas, keputusan untuk tidak memakai kembali jasa Pirlo menjadi suatu tanda tanya besar bagi kami, para fans, akan kebijakan manajemen Milan dan tanda tanya itu seakan mengendap dan menjadi suatu peninggalan yang luar biasa di era kepelatihan Massimiliano Allegri kala itu.

Pirlo dijual karena waktu itu Milan sedang mengalami euforia akibat menjuarai Scudetto-nya tahun 2011. Kala itu, Pirlo mengalami cedera yang membuatnya harus absen di beberapa pertandingan Milan, dan perannya diluar dugaan tergantikan dengan baik oleh Mark Van Bommel, pemain asal Belanda yang datang di paruh musim kedua. Milan juara, dan Allegri juga manajemen klub merasa bahwa Pirlo sudah bisa tergantikan. Perannya sudah tidak lagi sentral di barisan tengah Milan dan umpan-umpan khasnya sudah mulai terlupakan. Apalagi Allegri pun identik sebagai pelatih yang gemar memainkan pemain-pemain yang bertenaga di lini tengah, bukan lagi gaya stylish khas Pirlo. Pemain bertenaga macam Sulley Muntari dan Van Bommel dijamin mendapat tempat utama di skuad Max. Strategi itu cukup berhasil di awal kepelatihannya, karena secara tidak langsung Milan masih memiliki pemain yang bisa menciptakan perbedaan di diri Zlatan Ibrahimović. Ibra menjadi protagonis dan mampu membuat pemain-pemain lain menunjukkan sisi terbaiknya. Tanyakan hal itu pada Kevin Prince Boateng dan Antonio Nocerino yang seakan gaya permainannya terbantu oleh kehadiran Ibra.

Selain itu, yang membuat Pirlo harus hijrah adalah juga kenyataan bahwa Milan melakukan regenerasi akan pemain-pemain senior mereka. Nama-nama besar seperti Clarence Seedorf, Gennaro Gattuso, Alessandro Nesta dan lainnya, hanya diberikan perpanjangan kontrak 1 tahun, karena kalau tidak begitu Milan akan terus mengandalkan pemain veteran mereka dan akan lupa dengan kata regenerasi yang sangat penting dilakukan oleh sebuah klub yang telah melewati masa keemasannya. Perpanjangan kontrak 1 tahun dilakukan dengan opsi pilihan bagi si pemain, apakah akan menerima kebijakan tersebut atau tidak. Dan nyatanya, Pirlo termasuk dalam golongan pemain yang berkeberatan. Konon, Pirlo merasa masih bisa memberikan andil bagi Milan untuk beberapa tahun ke depan. Ah, mungkin karena cintanya Pirlo terhadap Milan yang sudah dibelanya selama 10 tahun dan memberikan semua gelar. Namun takdir memang harus memisahkan. Allegri dan manajemen Milan telah mengambil keputusan, dan Pirlo hengkang ke Juventus, dan untungnya bukan kembali ke Inter, meskipun saya memiliki feeling kuat kalau Pirlo tidak akan setega itu mengkhianati Milanisti.

Di Juventus, Pirlo menemukan kembali kejayaannya. Alih-alih dikatakan masanya telah habis karena usia. Di umur yang makin menua Pirlo justru hadir sebagai pemain yang kian matang. Penampilannya pun diubah, brewok yang membuatnya hampir mirip Chuck Norris pun menjadi ciri khasnya kini. Penampilan berantakan itu pulalah yang memberikan image makin tua makin jadi pada diri centrocampista bernomor 21 itu. Juventus seperti mendapatkan roh baru, dan merasakan apa yang dirasakan Milan selama 10 tahun belakangan, yaitu kehadiran seorang fantasista di lini tengah. Sudah beberapa tahun berlalu sejak mereka memiliki Zinedine Zidane, tampaknya kini mereka mulai mengalami masa dejavu dengan adanya Pirlo menempati posisi defending midfielder, posisi favorit Pirlo yang ditemukan oleh Carlo Ancelotti, mentornya selama di Milan.

Hadirnya Pirlo menjadi petaka bagi Milan. Agak aneh tadinya melihat Pirlo memakai seragam bercorak putih hitam berduel dengan koleganya sendiri macam Massimo Ambrosini dan Nesta, juga pemain Milan lain. Tapi sungguh hal itu terjadi, dan Milanisti harus membiasakan diri. Alhasil, Juve dibawanya juara liga hingga kurang lebih 3 kali, dan Pirlo semakin mendapat tempat dan hati publik Juventus Stadium. Sementara Milan mengalami masa terpuruknya sepeninggal Zlatan dan Thiago Silva atas nama finansial, juga bintang-bintang seniornya atas nama regenerasi. Di tim nasional Italia, peran Pirlo juga makin tak tergantikan. Cesare Prandelli sebagai pelatih membuat “kesalahan” Milan membuang pemain berharganya itu menjadi sebuah contoh untuk kembali menempatkan Pirlo sebagai jenderal lapangan tengah La Nazionale. Pirlo tetap memimpin timnas dengan gayanya yang flamboyan dan cool. Tengok bagaimana tendangan panenka-nya melegenda ketika Euro 2012 berlangsung. Dan ketika perhelatan Brasil 2014 kemarin pun Pirlo masih menjadi andalan meskipun Italia tidak mampu lolos di fase grup.

Menengok bagaimana dulu peran Pirlo di Milan, ia sempat menjadi pemain idola saya. Mengingat chemistry yang terjalin di antara Pirlo dengan Ancelotti kala itu, sungguh membuat saya semakin memahami arti kehidupan keluarga di Milan, pada era keemasan Milan menguasai Eropa periode 2003 hingga 2007. Pirlo adalah contoh pemain yang bisa dikatakan late-bloomer (atau pemain yang lambat berkembang), karena di awal karirnya hanya menjadi pemain pelapis atau cadangan, namun bisa muncul menjadi pemain yang tak tergantikan. Saya ingat dulu ketika Milan masih dihuni oleh Manuel Rui Costa sebagai centrocampista, Pirlo selalu menjadi bayang-bayang Rui Costa. Pirlo yang semasa di Inter juga menempati posisi yang sama seperti Rui, tidak pernah diberikan kesempatan menggantikan peran pria Portugal tersebut. Sesekali Ancelotti memasang Pirlo bila Rui berhalangan tampil, hingga akhirnya Don Carlo menemukan pattern baru dalam skema permainan yang mengubah sejarah Milan dan juga takdir Pirlo, menjadikannya metronom tim.

Pirlo ditempatkan dalam pola 4-3-2-1 dengan posisi tepat berada di depan empat bek sejajar. Perannya sebagai centrocampista namun agak ditarik ke belakang membuat Milan saat itu menjadi tim yang bisa bermain dengan 4 fantasista sekaligus: Pirlo – Rui Costa – Seedorf – Rivaldo. Ancelotti pun saat itu disebut sebagai jenius karena mampu memadu madankan 4 pemain bertipe penyerang lubang tersebut, posisi yang biasa ditempati mereka di klub terdahulunya. Dan Pirlo makin menikmati perannya menjadi penyeimbang tim. Ia menjadi pemain pertama yang mengalirkan bola dalam skema penyerangan bila bola datang dari belakang, dan menjadi pemain pertama pula yang memutus alur serangan lawan. Di posisi tersebut ia mampu menterjemahkan peran dari seorang gelandang bertahan dan gelandang menyerang. Umpan-umpannya pun akurat, tanyakan pada Andriy Shevchenko maupun Pippo Inzaghi bagaimana mereka dimanjakan oleh bola-bola pemberian Pirlo. Dan perlakuannya pada bola mati, tidak perlu diragukan. Ia menjadi master of free kick hingga kini.

Tak ada yang perlu disesali. Kejayaan sebuah tim sepakbola beserta pemainnya datang dan pergi dan tidak ada yang abadi. Pirlo masih menjadi pemain favorit saya meskipun berada di klub yang tidak saya sukai. Minimal, ia masih menjadi andalan Azzurri, timnas yang juga masih saya gemari.

Tagged , , , , ,

Day 19: Team You Hate With Passion

a.espncdn.com

Ada tim yang saya suka, dari kecil, dan mungkin akan saya bawa hingga mati, yaitu Milan. Kecintaan saya terhadap Milan tak perlu diragukan, dan mungkin hanya bisa terkalahkan oleh cinta pada istri dan anak saya nanti haha. Milan adalah cinta mati dan cinta abadi dalam sepakbola. Dan sebaliknya, kalau ada tim yang saya benci, yang saya tidak suka, yang saya wajibkan untuk diejek atau di-bully dalam sepakbola, pasti hanya satu jawabannya: Internazionale.

Kenapa Inter? Simpel saja jawabannya. Karena Inter adalah Inter. Menjadi musuh abadi Milan dalam perseteruan tim sekota, Inter otomatis menjadi pihak yang saya tidak sukai eksistensinya. Warna biru sebenarnya adalah salah satu warna favorit, namun ketika warna itu dipakai untuk warna kostum Inter, seketika saya langsung tidak tertarik lagi. Memang saya bukanlah penggemar karbitan yang sensitif sekali akan kehadiran pesaing, karena semakin lama saya menggemari sepakbola dan memahami esensi dari permainan sepakbola itu sendiri, juga menempatkan diri sebagai fans dewasa, saya melihat persaingan antara 2 tim yang menjadi musuh bebuyutan bukanlah sebagai ancaman, melainkan lebih kepada kualitas dari atmosfir sepakbola itu sendiri. Dan Inter, sebagai tim saudara Milan di kota Milano, menjadi antagonis di sudut pandang saya sebagai penggemar.

Kehadiran Inter sebagai lawan Milan tentunya sudah panas bila keduanya bertemu di Serie A. Pertandingan derby (antar tim sekota) sudah menjadi cerita klasik dan tak terbantahkan serunya semenjak musim-musim lalu. Tak hanya di Serie A, persaingan Inter dan Milan tentunya merambah ke kompetisi yang lebih general, yaitu Liga Champions. Dan persaingan mereka disini bukan hanya persaingan ketika terjadi bentrok kedua tim, namun juga persaingan gelar juara. Milan puas sekali membuat Inter bermuram durja karena prestasi mereka yang tak kunjung bersinar di Eropa, ketika Milan menguasai Liga Champions dengan 3 kali masuk final pada periode 5 tahun (2003 – 2007), dengan meraih 2 gelar juara. Sedangkan Inter akhirnya membalas dengan meraih treble di 2010, membuat Milan tenggelam dalam kedengkian karena hanya Inter satu-satunya klub Italia hingga kini yang meraih treble (juara liga, Piala Italia dan Liga Champions). Dan jelas, itu membuat hampir seluruh fans Milan di seluruh dunia mendidih darahnya. Untung saja bila berbicara sejarah, Milan masih unggul cukup jauh karena koleksi gelar Eropa mereka lebih banyak dibanding apa yang dimiliki Inter.

Tim yang saya benci dengan passion, itu judul dari tulisan ini. Saya baru tahu jika passion bisa digunakan dalam hal yang berkonotasi negatif, tidak hanya sesuatu yang positif. Dan bila dikaitkan dengan kebencian terhadap suatu tim sepakbola, membenci Inter adalah tepat untuk disematkan pada kata passion dalam judul tulisan ini, haha. Saya masih ingat betapa bahagianya kami (saya menyebut Milanisti dengan kami) ketika berhasil menang derby. Ini adalah contoh paling sederhana. Betapapun skornya, kemenangan pada derby sangat membahagiakan karena pada derby Milan dan Inter bersaing untuk memperebutkan siapa tim nomor satu di Milano. Juga sebagai pentasbihan siapa yang terbaik saat itu. Derby adalah derby. Derby merupakan point of view kemenangan dan kejayaan, diluar sejarah dan posisi aktual. Artinya, jika satu tim pada klasemen posisinya lebih rendah daripada tim lain, namun berhasil memenangi derby, seketika posisi klasemen tidak berarti. Ia adalah pemenang derby. Titik. Dan ia adalah yang terbaik. Beberapa derby yang masih lekat di ingatan adalah ketika Milan menang 3-0. Saat itu Inter dilatih Leonardo, bekas pelatih dan pemain Milan yang sempat dicap pengkhianat. Puas sekali. Atau ketika Ronaldo Nazario, pemain yang lama membela Inter, namun akhirnya mampu menceploskan bola ke gawang mantan klubnya dan melakukan selebrasi silenzio saat membela Milan pada derby yang (sayangnya) berakhir 1-2, itu juga menghadirkan kepuasan tersendiri.

Dan bila ingin lebih bombastis, ingatlah kemenangan sensasional Milan 6-0 atas Inter, yang sepertinya masih terekam dengan jelas hingga saat ini, dan menjadi mimpi buruk Interista. Meskipun Milan juga pernah kalah 0-4 pada derby beberapa tahun lalu, namun tetap saja kekalahan 0-6 itu sulit diterima. Atau bila berbicara level Eropa, Milan dan Inter juga pernah bertemu. Salah satunya di semifinal Liga Champions, dimana Andriy Shevchenko menjadi protagonis Milan yang mengantarkan Rossoneri menuju final melawan Juventus, dan banyak lagi. Atau ketika final Piala Super Italia, dimana gol Zlatan Ibrahimovic dan Kevin Prince Boateng menyudahi perlawanan Inter 2-1, dan setelah itu muncul gambar jokes untuk membuang seragam biru ke tong sampah.

Perihal transfer pemain juga bisa menjadi tolak ukur “kebencian” saya terhadap Inter. Milan seperti punya prinsip bahwa pemain kami haram hukumnya untuk hijrah ke Inter setelah membela Milan, dan Milan akan mencap mereka sebagai pengkhianat apabila berani melakukannya. Tengok bagaimana Leonardo yang sempat dipuja Milanisti semasa menjadi pemain dengan santainya menerima tawaran Inter untuk menjadi pelatih, umurnya pun tidak panjang di Inter akibat tekanan yang dideritanya. Leo harusnya berkaca dari para legenda yang mendeklarasikan fatwa haram bila pindah ke Inter, dan kalaupun harus pindah klub setelah Milan, sebaiknya pindah ke klub lain di Italia (Juventus masih bisa ditoleransi), atau paling tepat ke luar Serie A sekalian. Hal ini yang berkali-kali ditegaskan Gennaro Gattuso saat ingin pensiun di Milan.

Sebaliknya, saya melihat justru banyak bekas pemain Inter yang malah meraih sukses ketika berseragam merah hitam. Dua pemain yang paling kentara adalah Clarence Seedorf dan Andrea Pirlo. Semasa membela Nerazzuri, mereka sulit mendapat gelar. Bahkan Pirlo bukan siapa-siapa di Inter. Dan ketika berseragam Milan, mereka mendapatkan segalanya. Seedorf menjadi pemain pertama yang meraih gelar Liga Champions di 3 klub berbeda. Pirlo menjadi legenda dan maestro di posisinya. Begitu pula Ronaldo Nazario yang meskipun hanya bermain tidak lebih dari 2 musim di Milan, mendapati Milan sebagai rumah baginya, sesuatu yang bahkan tidak ia dapatkan selama di Inter. Kebetulan? Bisa jadi. Namun hal tersebut juga menjadi kisah nyata.

Kehadiran Erick Thohir (ET) sebagai presiden Inter tentunya juga menambah ironi kami, para Milanisti WNI karena pimpinan tertinggi klub yang kami benci adalah orang Indonesia sendiri hehe. Hal ini kadang membuat iri karena logikanya dengan memiliki presiden saudara sendiri, Inter akan lebih mudah aksesnya untuk setiap tahun berkunjung ke Tanah Air dan memainkan pertandingan tur pra musim, seperti yang telah mereka lakukan beberapa waktu lalu. Makin membuat iri karena personel yang datang adalah tim utama, bukan seperti Milan yang hanya menampilkan pemain-pemain pensiunan dalam bendera Milan Glorie. Sebagai penggemar, tentunya Milanisti ingin juga menyaksikan tim utama datang dan bermain. Dan ini adalah keuntungan tersendiri bagi fans Inter. Namun satu hal yang membuat kami “kecewa” sebagai orang Indonesia yang masih memiliki solidaritas kepada Presiden Thohir adalah, gebrakan ET sebagai penguasa kurang memiliki greget. Hal ini bisa dilihat dari kebijakan dan pergerakan transfer pemain yang biasa-biasa saja atau malah cenderung kurang gairah bagi Inter sendiri. Dan sempat menjadi objek kritik para fans Inter dan pengamat sepakbola di sana, dan kalau sudah begini kan orang Indonesia juga yang malu, haha. Jadi Pak ET, kalau boleh saya memberi saran meskipun saya bukan Interisti, namun tolonglah jaga nama baik Indonesia di mata publik sepakbola internasional, khususnya di negara yang Bapak miliki klubnya, hehe.

Namun sebagai fans, Inter juga bisa menyemai luka. Satu momen yang sebagai penggemar sepakbola harus objektif saya acungkan jempol adalah ketika mereka meraih treble tahun 2010. Hal itu membanggakan sekaligus menyesakkan dada. Membanggakan bagi Italia karena kemenangan tersebut mendongkrak posisi Italia sebagai negara yang klub-klubnya sempat terpuruk dan dipandang sebelah mata, karena prestasi dan faktor keuangan rata-rata klub, yang berpengaruh pada koefisien (poin berdasarkan UEFA), dalam hal ini berkaitan dengan seberapa banyak negara tersebut boleh mengirimkan wakil mereka di kompetisi Eropa, kurang lebih seperti itu. Menyesakkan karena, hal yang diraih Inter tersebut adalah sesuatu pencapaian luar biasa yang akan sulit ditandingi Milan, minimal hingga beberapa tahun ke depan. Inter saat itu memang menjadi tim juara, dengan pemain dan pelatih yang jempolan pada diri Jose Mourinho. Milan harus belajar dan menjadikan itu sebagai cambuk motivasi untuk kembali menancapkan kuku sebagai tim kuat Eropa.

Tagged , , ,

Day 18: Favourite Footballer Bromance

Reus-Gotze-1024x683

Apakah bromance itu? Secara awam saya memandang bromance itu (bahasa slank-nya) adalah sebuah “hubungan” antara sesama jenis, dalam hal ini laki-laki, dimana 2 orang itu memiliki ikatan hati dan chemistry yang tidak biasa dan keintiman yang lebih dari sekedar teman atau sahabat, haha bener ga sih. Pokoknya bahasa yang tidak baku ya kurang lebih seperti itu. Kalau bahasa resmi menurut Wikipedia, bromance adalah a close non-romantic relationship between two (or more) men, a form of affectional or homosocial intimacy. Bromance dapat terjadi di mana saja, dalam persahabatan khususnya. Dan apabila ada pertanyaan siapakah bromance pilihan saya dalam sepakbola, mungkin jawabannya adalah mereka berdua di atas: Mario Götze dan Marco Reus. Götze dan Reus adalah 2 pemain muda yang menjadi andalan, baik di Borussia Dortmund klub mereka saat itu dan juga tim nasional Jerman, dimana mereka berdua adalah rising star timnas.

Keduanya menjadi harapan Dortmund saat klub asal Jerman itu melangkah jauh di Liga Champions, dengan keduanya menjadi protagonis klub berwarna kuning hitam tersebut. Reus yang berposisi sebagai gelandang serang dan piawai pula bermain di sebelah kiri lapangan menjadi pemain yang stylish, dengan kontrol bola menawan dan penyelesaian yang akurat, membuatnya tak sulit untuk menjadi pemain pujaan dan berhasil membawa Dortmund menjuarai Bundesliga musim 2010-11. Sedangkan Götze yang lebih berposisi sebagai gelandang, sangat ahli memberikan assist untuk terciptanya gol-gol dari Reus maupun sang striker asal Polandia, Robert Lewandowski.

Begitu pula di tim nasional Jerman. Kekompakan duo yang berbahaya ini tentunya tak lepas dari pengamatan pelatih kepala timnas, Joachim Löw. Sebagai pelatih yang mengambil alih tongkat kepemimpinan dari tangan Jürgen Klinsmann pasca Piala Dunia 2006, Löw yang sangat percaya dengan kemampuan pemain-pemain muda, lebih mengeksplorasi bakat-bakat luar biasa pemain Jerman yang bermain di kompetisi lokal maupun di luar negeri. Dan radar Löw tak mungkin lepas dari duet Götze – Reus. Keduanya diproyeksikan menjadi andalan timnas Jerman untuk tahun-tahun ke depan, mengingat usia keduanya yang masih sangat muda.

Sayangnya, kisah indah dan chemistry Götze – Reus terganggu dan sirna dengan kepindahan Götze menuju rival abadi Dortmund, Bayern München. Memang sedari dulu, klub yang kini dilatih Josep Guardiola itu dikenal sebagai tim yang gemar mengambil talenta-talenta dari klub sesama mereka, terutama Dortmund. Bahkan setelah sukses membajak Götze, München pun kemudian mengangkut Lewandowski. Dan persetujuan Götze untuk meninggalkan Dortmund, sepertinya membuat Reus kecewa, karena pemilik nomor punggung 11 ini tetap menyatakan kesetiaannya pada publik Westfalen. Entah apa alasan yang membuat Götze pindah, kesempatan untuk menjuarai Liga Champions Eropa karena melihat Muenchen lebih memiliki peluang, atau ada alasan lain dibalik kepindahan itu. Bila alasannya hanya karena peluang juara, sepertinya Dortmund juga merupakan tim yang kuat, bahkan mereka sempat juara sebelum dihentikan München pula di final Champions beberapa tahun lalu. Karena uang? Dunno. Yang jelas duet abadi ini terpisah, dan ini menghancurkan hati Reus dan para fans Dortmund sendiri yang dikenal fanatik mendukung klub favorit mereka. Reus pun terus berjuang membangun Dortmund menjadi tim yang lebih bagus, bersama pemain lain yang masih tersisa. Sedangkan Götze, bersama bintang-bintang Hollywood lainnya (julukan untuk München) yang tentunya lebih memiliki nama mentereng, juga merangkai pengalaman barunya.

Publik seakan sudah melupakan garangnya duet Götze dan Reus hingga suatu saat kembali takdir akan mempertemukan mereka. Yup, perhelatan Piala Dunia 2014 yang diadakan di Brasil beberapa waktu lalu, seharusnya menjadi ajang reuni mereka membela satu panji yang sama, bendera negara. Namun apa mau dikata, takdir berkata lain ketika Reus harus menepi dan melupakan mimpinya bermain untuk tim nasional Jerman akibat cedera parah yang dideritanya ketika membela Die Nationalmannschaft pada partai ujicoba. Dan sedihnya lagi, Reus harus menonton perayaan teman-temannya yang meraih gelar juara pertama bagi negara Eropa di tanah Amerika Selatan. Kehilangan Reus menjadi blunder yang sangat menyedihkan bagi timnas, karena betapapun Der Panzer memiliki skuad yang kedalaman timnya diatas rata-rata, mungkin yang terbaik di dunia saat ini, ketika kualitas pemain inti dan pemain cadangan tak jauh berbeda. Betapapun itu, absennya Reus adalah momen yang kurang bagus bagi pecinta sepakbola, minimal, karena kehilangan peluang menyaksikan aksi salah satu bintang muda dunia.

Apalagi Götze telah menjadi pahlawan Jerman setelah gol tunggalnya mengakhiri perlawanan Argentina dan menghindarkan Jerman dari adu penalti yang tentunya melelahkan dan menguras emosi, ketika pertandingan memasuki extra time babak kedua. Götze yang menjadi pemain termuda dalam sejarah yang mencetak gol di final Piala Dunia, seakan tak lupa memberikan penghormatan kepada rekan setim dan sahabatnya Reus, yang gagal tampil, dengan membentangkan jersey Reus bernomor 21 pada saat penyerahan trofi dan selebrasi di lapangan.

Tagged , , , , , ,

Day 17: Transfer(s) That Has Broken Your Heart

andriy-shevchenko-chelsea-liverpool_3416823

Patah hati tidak hanya terjadi pada kisah asmara. Patah hati juga terjadi dalam sepakbola. Objeknya sama, yaitu terputusnya kebahagiaan kita akan suatu orang yang kita cintai, entah karena kepergian, perpisahan, sudah tidak lagi saling mencinta atau menyayangi, bahkan pindah ke lain hati. Ini yang kadang agak sulit kita terima bila terjadi pada kita. Yup, jika anda merasakan salah satu atau lebih dari hal-hal seperti itu, bisa dibilang anda sedang patah hati.

Dan itulah yang terjadi pada kisah saya sepanjang usia menggemari sepakbola. Setelah beberapa kali patah hati dalam aspek asmara di kehidupan nyata haha (kalo dibiarin bisa curhat nih), maka dalam sepakbola ada juga hal-hal yang membuat patah hati, yaitu kepergian jagoan atau pemain andalan ke klub lain.

Adalah Andriy Shevchenko, pemain andalan Milan yang telah banyak berjasa bagi klub, telah memberikan banyak gelar dan menjadi pahlawan, yang harus menyakiti hati para tifosi saat itu dengan keputusannya untuk pindah ke klub lain. Tidak bisa pindah ke lain hati, begitu mungkin anggapan para tifosi melihat loyalitas Sheva saat itu. Apalagi Sheva pun sebelumnya sempat berkata kepada fans dan media bahwa ia tidak akan pindah dan menegaskan akan mengakhiri karirnya di San Siro. Namun, kami para fans telah belajar. Saya pikir sepakbola tidak begitu jauh beda dengan politik, dan pesepakbola juga hampir sama dengan politikus. Tidak ada yang pasti dalam sepakbola, begitu juga dengan statement para pemainnya. Segala sesuatu bisa terjadi dalam sepakbola. Jangan pernah merasa seorang pemain akan berada benar-benar di klub tersebut bahkan apabila ia masih termasuk ke barisan pemain yang memperkenalkan jersey terbaru klub tersebut untuk musim depan. Begitu pula dengan pendelegasian pemain sebagai kapten tim. Kadang ada klub yang mencoba menahan pemain bintangnya agar tidak hengkang dengan cara memberikannya jabatan sebagai kapten tim untuk musim depan. Beberapa berhasil, namun tidak sedikit pula yang bergeming dan tetap hijrah ke klub lain. Kami, para fans, telah mengetahui seluk beluk hal tersebut dan tidak akan kaget lagi bila fenomena itu terjadi pada pemain favorit kami.

Sheva sebenarnya bisa menjadi legenda di Milan, apabila ia pensiun dan mengakhiri karirnya di sana. Terlalu naif memang, tapi jersey nomor 7 bisa saja dipensiunkan mengikuti nomor punggung 3 dan 6. Hal itu sempat menenangkan hati para Milanisti ketika Sheva berbicara kepada pers bahwa tifosi tidak perlu khawatir dirinya akan pindah, mengingat saat itu Chelsea sedang kaya-kayanya dan sangat bernafsu memboyong Il Tsar (Sang Kaisar) ke Stamford Bridge. Di bawah nakhoda Roman Abramovich, sang taipan Rusia yang seakan uangnya tidak berseri, Chelsea terus menerus merayu Milan agar melepas bintangnya. Apalagi sebelum itu, Sheva mendapat Ballon d’Or meskipun setelahnya gagal membawa Milan menjuarai Liga Champions tahun 2005. Kegagalan 2005 kala itu seakan kontradiktif karena 2 tahun sebelumnya justru Sheva menjadi pahlawan setelah tendangannya di adu penalti memastikan kemenangan Milan atas Juventus. Rayuan Chelsea dan Roman coba dibentengi Milan dan Silvio Berlusconi dengan memberikan perpanjangan kontrak pada Sheva.

Saya masih ingat sebagai tifosi saat itu, betapa khawatirnya kami bahwa sang pujaan hati kami akan benar-benar pindah. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Sheva di mata kami, meskipun akibat tendangannya Milan kalah dari Liverpool, tetap saja menjadi pahlawan dan kami tidak akan rela kalau ada klub lain yang berani membawanya pergi. Saya pun ingat ketika itu Milanisti seluruh dunia sampai membuat petisi online yang bisa diisi oleh para fans seluruh dunia, untuk mengubah pendirian Sheva yang sepertinya sudah mulai goyah keputusannya untuk pindah.

Biasanya, pemain terindikasi pindah apabila sudah ada tanda ia mulai terlihat di kota tim tujuan dengan alasan mencari rumah atau tempat tinggal. Dan itu pula yang terlihat dari Sheva. Ia sudah beberapa kali nongol di London bersama sang istri. Dan benar saja, tahun 2006 berita buruk itu terjadi. Saya ingat masih kuliah saat itu ketika di kampus mendengar berita yang mengagetkan. Saya yang lama-lama sudah bisa pasrah akhirnya mengetahui kalau Shevchenko telah sepakat pindah ke Chelsea dengan nilai transfer yang cukup besar kala itu.

Shevchenko, yang karirnya di Milan ditutup dengan pencetak gol sepanjang masa kedua di Milan dengan 175 gol dari 296 penampilan, benar-benar resmi pindah untuk bergabung dengan skuad Jose Mourinho di Inggris. Ia memilih Chelsea kala itu dengan alasan salah satunya ingin mencoba tantangan lain dan ingin lebih bisa berkembang istri dan keluarganya dalam berbicara Inggris. Intinya lebih ke arah pertimbangan keluarga. Namun tak sedikit pula yang mengatakan Sheva pindah karena uang. Money can buy everything, itu semboyan yang terkenal saat itu. Dan Sheva diklaim Milanisti telah menodai kesetiaannya pada Milan, klub yang telah memberikan segalanya.

Apalagi lama kelamaan waktu berbicara bahwa keberadaan Sheva di Chelsea menjadi makin membuat hati Milanisti sakit dan juga ternodai akibat ulahnya yang langsung menyium logo Chelsea di jersey dada sebelah kiri ketika menjadi pencetak gol saat Charity Shield, persis di partai debutnya. Segitu mudahkah Sheva mencintai Chelsea yang baru dibelanya hanya dalam 1 pertandingan? Dan sebegitu mudahnya Sheva melupakan Milan yang telah kurang lebih 7 tahun dibelanya, hanya untuk kemudian dilupakan saat ia membela The Blues di partai perdana? Kalau pada akhirnya pun Sheva kembali ke Milan, itu seakan tidak bisa menutupi luka Milanisti yang pernah ditinggalkannya. Itu hanya sikap wajar Milan memperlakukan dengan baik legendanya yang kembali ke rumah.

Apapun itu, transfer Sheva ke Chelsea adalah salah satu transfer yang membuat saya sebagai fans Milan patah hati.

Tagged , , , , ,
Advertisements