Tag Archives: movie

Meet the new Joker.. (Suicide Squad Review)

IMG_2712

Bercerita tentang suatu kelompok pemerintah yang merencanakan sebuah misi rahasia. Lalu mereka mengumpulkan penjahat-penjahat kelas atas yang dikurung untuk menjalankan misi tersebut. Deadshot, Harley Quinn, Joker, Captain Boomerang, Enchantress, Killer Croc, El Diablo dan lainnya berusaha menjalankan misi tersebut dibawah arahan Rick Flag dan Amanda Waller.

Selanjutnya, anda pasti sudah banyak mengetahui. Film yang gembar gembornya sudah diluncurkan lewat dari 1 tahun lalu itu merupakan adaptasi dari komik terbitan DC Comics, yang bisa kita anggap sebagai “saingan” Marvel. Dan pada dunia film komik, DC yang telah ketinggalan beberapa langkah dari Marvel yang sepertinya lebih sukses menghasilkan film-film adaptasi komik berkualitas mulai mencoba menancapkan kukunya di hati penggemar film komik. Seperti kita lihat sudah ada beberapa plan film yang akan dikeluarkan DC hingga beberapa tahun ke depan dan Suicide Squad menjadi salah satunya tahun ini.

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya amati dari film ini sebelum penayangannya. Pertama, tentu saja kehadiran Joker dan bagaimana Jared Leto bisa atau tidak menandingi kharisma Heath Ledger sebagai Joker “lama” di The Dark Knight yang fenomenal itu. Kedua, apakah film ini bisa memenuhi ekspektasi para penggemar (dan/atau bukan penggemar) film atau film komik secara khusus. Ketiga, saya agak penasaran dengan kemunculan tokoh-tokoh DC lainnya di film ini, yang paling utama tentunya Batman. Dan keempat, bagaimana penampilan para cast di film ini karena menurut saya pribadi, dengan banyaknya tokoh-tokoh penjahat disini apakah masing-masing memiliki peran yang seimbang, atau minimal berarti atau ada “gunanya”, atau cuma numpang lewat saja.

Dan mari kita coba bahas satu persatu.

Pertama, Jared Leto sebagai The Joker. Yang saya bisa katakan adalah, HE DID GREAT. Betapa saya tercengang dengan penampilan Joker yang “baru” ini. Kita tak bisa menyamakan Joker yang ini dengan Joker-nya Ledger atau Joker tua nya Jack Nicholson. Joker yang ini lebih sangar, berandal, lebih menyeramkan, dan.. Argh, saya benci kenapa David Ayer kurang banyak menampilkan durasi Joker disini! Dia tampil tidak dalam part yang banyak dan hanya beberapa kali melakukan adegan atau pembicaraan yang kami semua butuhkan. Dan setiap Joker ini tampil, saya selalu tercengang. Leto memang gila. Ini bukan Joker The Dark Knight yang psychotic, ini Joker yang beringas. Dan apabila memang benar Joker Leto ini menjadi lawan Batman-nya Ben Affleck di film stand alone Batman berikutnya, maka perlu kita nantikan apakah Leto mampu melewati penampilan hampir sempurna Ledger sebelumnya.

Dan chemistry Leto dengan Margot Robbie sebagai Harley Quinn, awesome! Akhirnya menjadi kenyataan bagaimana Joker dengan Harley saling merindukan satu sama lain dan melakukan hal-hal gila. Dan setelah melihat mereka musnah lah sudah anggapan chemistry terbaik hanya ada pada Rangga dan Cinta. We want more, Ayer! Segera lah buat film stand alone Joker & Harley Quinn. Yang kurang dari penampilan Leto hanyalah dia nampak lebih kecil untuk menjadi Joker. Posturnya kurang besar layaknya Ledger. Ah, mungkin ini hanya karena saya telah lama terbius sosok Joker Ledger. Sudahlah, anda juga bagus kok Leto.

Kedua, sepertinya untuk ekspektasi, menjadi beragam. Sebelum film ini tayang ada yang memprediksi film ini akan gagal, tidak sebagus yang diharapkan, atau bahkan para die hard (DC) comic movie yang selalu menganggap film keluaran mereka bagus, apa juga akan kecewa. Dan bila ditanyakan kepada saya yang menggemari film komik (namun bukan die hard DC ataupun Marvel), saya akan jawab bahwa film ini tidak terlalu bagus. Yup, awalnya mungkin saya antusias dan tensi mulai terbangun dengan cepat ketika Waller (Viola Davis) mempresentasikan para penjahat di hadapan petinggi-petinggi militer, beserta latar belakang dan kemampuan mereka. Namun di pertengahan hingga akhir film, menjadi membosankan dan kurang kuat dalam penceritaan, seakan hanya “tempelan” saja dan bagaimana mereka semua bisa menaklukan musuh di akhir laga. Saya tidak pandai berbahasa film atau menggurui, namun bisa saya katakan Ayer gagal dalam mempertahankan irama atau plot film ini. Dan setelah selesai film saya bisa bilang “kok begini amat sih akhirannya”. Ya begitulah.

Ketiga, kemunculan para penjahat juga sepertinya ada beberapa yang kurang begitu berfaedah kemunculannya di film ini. Well, memang apa yang kita harapkan? Dalam 2 jam kurang semua harus memiliki peran yang berarti? Itu mah di film sendiri-sendiri saja. Yup, hal itu bisa dimaklumi dan dimaafkan kalau begitu. Dan Batman? Dia tampil cukup berarti meskipun bisa dibilang hanya cameo. Dan membuat saya beranggapan bahwa Ben Affleck semakin cocok dengan peran Bruce Wayne atau manusia bertopeng setengah ini. Memang agak mengingatkan saya pada Batman lawak nya George Clooney sedikit haha.

Eh maaf, itu lebih cocok untuk bahasan keempat. Ketiga, banyak kemunculan tokoh-tokoh DC lain di film ini, dan sepertinya Suicide Squad memang dibuat untuk pemanasan Justice League. Jadi, nantikan saja kemunculan metahumans lainnya dan jangan beranjak ketika credit title sedang diputar. Akan ada “bocoran” untuk proyek DC selanjutnya. Bukan di after credits. I repeat, tidak ada di after credits seperti layaknya Marvel. Mungkin DC tidak mau meniru, haha.

Demikian ulasan singkat saya, dan subjektif sifatnya. Overall, film ini diselamatkan oleh kehadiran Joker. Dan Margot Robbie sebagai Harley Quinn? Tidak usah diragukan lagi. She was HOT! Oh ya, soundtrack atau lagu-lagu tema di sepanjang film juga bagus-bagus. Ada The Real Slim Shady, Bohemian Rhapsody, Grace yang menyanyikan You Don’t Own Me (ini saya suka sekali lagunya) atau bahkan Twenty One Pilots yang lagunya lama-lama enak juga.

Advertisements
Tagged , , , , , , ,

Sabtu Bersama Bapak movie (The Review)

IMG_3162

Selang beberapa lama setelah saya diberitahu seorang teman bahwa ada novel bagus bertema ayah (ya, saya memang se-baper itu bila ada bacaan atau segala hal yang berkaitan dengan ayah), maka saya segera membeli novelnya dengan melihat pengarangnya bertuliskan: Adhitya Mulya.

Sebelumnya saya mengetahui Adhitya Mulya dari beberapa teman pembaca novel. Saya juga tahu bahwa Adhitya Mulya pernah bermain Multiply, situs blogging yang dulu sempat menjadi wadah saya menulis. Ya, hanya itu. Meskipun hanya bermodalkan itu saja tidak mengurungkan niat saya untuk membeli novel yang menurut saya tidak terlalu tebal itu. Dan bagi saya setelah membaca, Sabtu Bersama Bapak adalah bacaan yang ringan, aktual, hangat, bisa dirasakan hampir semua orang, dan menyentuh.

Berbicara tentang menyentuh, adalah subjektif bila kita memandang dari sisi mana suatu novel dikatakan bagus dan menyentuh bagi kita. Ada beberapa faktor diantaranya, mungkin novel itu mampu membawa pembaca larut dalam cerita, suasana yang dalam dan hangat, pemilihan kata-kata yang tepat dan enak dibaca, alur cerita yang enak diikuti termasuk twist cerita, atau yang terakhir, dan ini yang paling mudah membawa hanyut pembaca, adalah kemiripan cerita dengan kehidupan pribadi kita. Tidak harus sama persis, namun mirip-mirip sekalipun sudah mampu membawa kita larut dalam cerita. Dan perihal terakhir itulah yang menjadi alasan saya menjadikan novel Sabtu Bersama Bapak sebagai novel (dan pada akhirnya film) yang menurut saya bagus dan sangat menyentuh.

Tidak perlu waktu lama bagi saya untuk menyelesaikan novelnya, dan review positif saya beralasan karena novel ini memiliki cerita yang tidak biasa. Bagaimana kehidupan sebuah keluarga kecil dengan 2 orang anak tanpa kehadiran dan bimbingan seorang ayah secara fisik, namun tetap bertahan karena sang ayah telah menyiapkan nasihat  dan pesan-pesan kehidupan yang direkam lewat video sebelum sang ayah meninggal dunia, yang diputar setiap hari Sabtu oleh keluarga tersebut.

Bagaimana kedua anak tersebut menghadapi permasalahan hidup yang berbeda, Satya si anak pertama dengan kehidupan rumah tangganya dan Saka si bungsu dengan perjuangan mencari pendamping hidup. Banyak orang dan teman-teman saya terharu membaca novelnya, bahkan mereka sampai meneteskan air mata hanya dalam hitungan beberapa lembar awal novel. Namun entah kenapa itu tidak terjadi pada saya. Memang sedih dan mengharukan, namun tidak sampai bikin nangis. Malah pada akhir-akhir cerita saya menganggap novel itu telah melenceng alur ceritanya menjadi novel cinta (karena cerita pencarian jodoh Saka menjadi sesuatu yang “cheesy”), karena pada awalnya saya telah larut dalam romantisme kerinduan akan sosok seorang ayah. Meskipun saya segera menyadari bahwa bumbu cinta dibutuhkan dalam novel itu agar lebih menarik.

Memang tidak salah karena bila hanya bersedih-sedihan tentang ayah tanpa ada senyum atau tawa untuk Saka yang berjuang menemukan jodohnya, Sabtu Bersama Bapak tentunya menjadi novel tragedi atau novel sedih yang tidak menarik. Tapi kembali lagi ke pandangan masing-masing pembaca, dan kisah Saka menemukan jodohnya bisa dibilang menjadi bukti kecerdasan Adhitya Mulya dalam meramu cerita Sabtu Bersama Bapak menjadi unik mengundang gelak tawa, disamping tema kesedihan yang diangkat karena kehilangan ayah. Tapi memang dasar saya yang baperan bila menyangkut ayah, maka fokus saya lebih kepada bagaimana sosok ayah berusaha keras hadir dalam nasihat-nasihat meskipun sang ayah telah berpindah tempat (ini meminjam bahasa yang dipakai di film).

Dan itu yang terjadi ketika film Sabtu Bersama Bapak resmi tayang. Sebelumnya, saya sudah menaruh harap yang tinggi ketika melihat cast-nya: Arifin Putra, Abimana Aryasatya, Ira Wibowo, Acha Septriasa adalah nama-nama yang tak perlu diragukan kapabilitasnya dalam akting. Satu nama masih menjadi tanda tanya, Deva Mahendra. Bagaimana kita biasa melihat Deva dalam komedi situasi, nampaknya masih perlu dibuktikan di sebuah film. Dan bagusnya, Deva berhasil membuktikan itu. Perannya sebagai Saka yang nerd, gila kerja, selalu gagal dalam urusan asmara plus tingkah konyolnya berhasil dibawakan dengan baik. Catatan agak minor justru dibebankan pada Arifin Putra. Selama ini kita melihat Arifin sebagai aktor yang bagus bila memerankan tokoh antagonis dalam beberapa film (yang paling memorable tentunya sebagai anak seorang mafia di The Raid: Berandal). Namun ketika menjadi ayah 2 anak di film ini, Arifin justru tampil agak kurang pas dengan karakter Satya di novel, in my opinion. Arifin terlihat seperti kurang mature dan agak bisa dikatakan “melambai” haha, sedikit melenceng dari bayangan Satya versi saya yang tegas dan berkarakter. Malah disini Arifin harus mengakui aktingnya tidak sebanding dengan Acha yang memerankan sang istri yang penuh perjuangan dan dilematis dalam hidupnya untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik. Oh ya, untuk penampilan kedua putra mereka, saya no comment deh. Saya tidak tahu maksud dari sutradara dan produsernya apa memasang 2 anak tersebut dalam film, hanya sekedar tempelan atau ada maksud lain disamping itu. Penampilan mereka anda nilai sendiri saja.

Sementara itu, Abimana membuktikan dirinya sebagai salah satu aktor paling berbakat di Indonesia dewasa ini. Bagaimana ia berakting dengan Ira Wibowo yang dari segi usia lebih senior, namun ia tidak kalah dan mampu mengejawantahkan sosok ayah yang penuh kasih sayang kepada keluarga. Dan bila kita sudah melihat pula bagaimana ia mencoba menjadi Dono di film Warkop DKI yang akan tayang, kita bisa katakan ia bukan aktor sembarangan, dan totalitas aktingnya tidak perlu dipertanyakan.

Kembali ke film. Filmnya sendiri cukup menggambarkan isi novel dengan baik. Malah saya berpikiran ini adalah salah satu dari sedikit film adaptasi novel yang bisa setara bagus dengan novelnya (atau kalau bisa dibilang lebih baik). Tentunya, hal ini subjektif mengingat saya berpandangan film ini sangat mirip kisahnya dengan saya. Oh ya, penyisipan lagu Iwan Fals berjudul Lagu Cinta saat scene Abimana (ayah) dengan Ira (ibu) adalah juara. Bagaimana kesenduan, tone dan nuansa yang dibangun, dengan alunan merdu lagu tersebut menjadikan scene itu menjadi salah satu yang terbaik dalam film.

Pada akhirnya memang saya menganggap film ini adalah salah satu yang terbaik di tahun ini. Saya menangis, benar-benar menangis dari awal film ini mulai berjalan. Bagaimana saya rindu akan kehadiran sosok ayah, bagaimana saya merasakan menjadi anak yang “mengetahui” bahwa akan ditinggal ayahnya sebentar lagi karena sakit. Bagaimana saya merasakan memiliki ibu yang berjuang sendirian dan bertahan hidup sepeninggal suaminya. Bagaimana saya merasakan rindu akan petuah-petuah ayah dalam segala aspek dan problematika kehidupan. Bagaimana saya merasakan permasalahan hidup dalam masa pencarian seperti yang dialami Saka. Ingin rasanya saya juga memiliki kaset rekaman berisi nasihat ayah yang bisa saya putar, bila saya memerlukan arahan dari setiap masalah hidup yang saya alami.

Semua yang digambarkan begitu nyata dan hadir jelas di pelupuk mata dan memori saya, membuat tak kuasa saya meneteskan air mata (dalam jumlah banyak sampai pipi saya benar-benar basah haha). Ya, saya memang secengeng itu. Apalagi ada scene dimana Satya dan/atau Saka flashback ke belakang, ketika ayah memberi nasihat dalam masalah-masalah mereka. Momen-momen seperti itu membuat saya agak menafikan scene-scene lain seperti saat Saka pedekate dengan Ayu (oh ya, tidak lupa menegaskan kalau Sheila Dara Aisha cantik disitu) membuat saya tidak terlalu tertawa, well, karena memang sebenarnya juga sudah tahu lelucon itu dari novel.

Pada akhirnya, sebuah film akan dikenang dari kesan yang ditimbulkan oleh penonton yang menikmatinya. Dan, untuk Sabtu Bersama Bapak, sahih menjadi film yang saya kenang karena berhasil membuat saya mewek di bioskop (setelah Toy Story 3 beberapa tahun lalu haha).

Sangat sesuai dengan hashtag promosi film ini di Twitter. Ya, saya memang #RinduAyah

Tagged , , , , ,

Gravity (2013)

Image

Yang terlintas di benak saya setelah melihat trailer film ini ketika saya menonton Pacific Rim adalah, film jenis apakah ini? Film yang tak biasa, mengambil setting di luar angkasa. Oke, sampai di sini, masih biasa. Banyak film mengambil setting di luar angkasa.. Seperti misalnya Apollo 13, Alien, dan banyak lagi. Namun, ini berbeda. Ini adalah film tentang kecelakaan di luar angkasa. Dan gambar yang saya lihat tadi begitu indah! Bumi sangat bulat dan besar, dan astronot lengkap dengan space suit nya itu sangat nyata, terombang ambing di ruang hampa udara. Dan yang membuat saya tercengang kembali adalah, scene kecelakaan yang seakan terjadi benar di depan mata.. Pesawat luar angkasa yang meledak, astronot yang lepas pegangan tangannya kemudian melayang jauh di angkasa.. Sungguh membuat saya bergidik ketika membayangkan kalau saja saya yang berada di sana.

Well, setelah membaca beberapa sumber yang menyumpahserapahi film ini dengan berbagai pujian, bahkan ada teman saya yang bilang bahwa dia sampai menangis saking bagusnya, dan menyebut film ini adalah film terbaik dalam 1 dekade terakhir.. Berlebihan? Well penilaian memang subjektif, sampai saya menilai sendiri. Bahkan ada yang ga suka juga kok sama film ini. Dan hal tersebut yang membuat saya amat sangat penasaran untuk (segera) menontonnya. Dan masih menurut berbagai sumber, juga prediksi saya sendiri, IMAX adalah pilihan tepat untuk menikmati pemandangan luar angkasa ini, dan bangku yang pas adalah row H. Dan semua itu saya ikuti, haha.

Hasilnya? Oke pertama-tama saya harus mengatakan, ini bukan sekedar film. Ini adalah suatu pengalaman yang luar biasa, terlebih bagi kalian yang menyukai science fiction, luar angkasa dan semacamnya, ini adalah film yang lebih ke arah pemuasan hasrat akan keindahan luar angkasa. Dan terbukti, saya yang menyukai (walaupun bukan penggemar) luar angkasa dan planet-planet dan astronomi dan semacamnya.. Kadang masih bengong dan mikirin apa yang telah saya tonton. Memikirkan bagaimana rasanya jika saya menjadi astronot dan celaka di atas sana.

gravity-explosion

Kedua, bagi kalian yang memiliki daya imajinasi tinggi, film ini akan membuat anda berkhayal setinggi-tingginya, seandainya anda menjadi astronot macam Ryan Stone (Sandra Bullock) dan Matt Kowalski (George Clooney), dan bila dihayati lebih jauh lagi, yang kalian rasakan tidak lain hanya ketakjuban dan bulu kuduk yang merinding. Lebay? Ga juga. Ketiga, hmm ini dia. Ternyata bumi itu indah lho. Kita sedang membicarakan bumi sebagai suatu planet ya. Benar-benar indah, apalagi bila dilihat dari luar angkasa. Dan kita cuma segede upil. Ih, menakjubkan.

Mungkin saya sekarang hanya bisa melihat melalui film ini, namun percayalah, anda akan terperangah begitu menyadari kita adalah bagian dari alam semesta. Dan film ini benar-benar menterjemahkan itu semua. Ditambah lagi ada beberapa scene sunrise yang indah sekali. Lalu scene dimana ada kumpulan awan (atau ombak di samudera) yang selama ini hanya kita tahu dari pelajaran geografi di bangku sekolah. Oh jangan lupa amati scene aurora di sebelah kanan atas layar.. Hampir sama dampak merindingnya ketika ikan paus muncul dari dasar laut di Life of Pi (2012).

Selain itu, keheningan luar angkasa yang hampa juga didukung oleh tata suara yang baik oleh Steven Price. Score yang digunakan mewakili kegelisahan dan ketegangan ilmiah di luar angkasa yang gelap gulita. Apalagi ketika Ryan terombang ambing dan menghilang jauh. Atau amati ketika musik sama sekali tidak ada dan yang terdengar hanya desahan nafas. Pokoknya, kita semakin terbawa ketegangan hingga pop corn yang tadinya saya pegang ga jadi masuk-masuk ke mulut karena bengong.

Penampilan Bullock juga menawan di film ini. Dan Clooney juga tampil segar di tengah keheningan luar angkasa dengan jokes-jokes dan musik country nya. Bullock pun seperti jadi mirip Keanu Reeves disini, haha (oke skip, agak absurd juga pas liat Bullock jadi ingetnya Speed jaman dulu). Dan yang kita selama ini sadari bahwa akting Bullock biasa-biasa saja, mungkin karena kebanyakan tampil di komedi romantis, diuji disini. Well anda yang menilai sendiri apakah ia bisa masuk nominasi Oscar tahun ini atau tidak (too early?). Oh ya, pergerakan kamera di film ini juga bagus. Kita kadang diajak untuk masuk ke sudut pandang Ryan ketika mengikat-ikat tali, melepaskan diri dari jeratan tali parasut yang kusut, masuk dan melayang di dalam pesawat luar angkasa, atau bahkan melompat-lompat dari satu pegangan pesawat ke pegangan yang lain. Ah, scene point of view yang saya suka adalah ketika kamera menyorot helm Ryan, semakin dekat hingga ke wajah dan akhirnya masuk ke dalam helm, dan kita bisa melihat semua komponen tanda-tanda penunjuk di dalam helm astronot, macam panel oksigen dan sebagainya. Cool.

M_Id_418149_Gravity

Dan semua ini menjadi breath-taking karena, kita ga akan bisa jatuh ke bawah. Dan kalau anda menonton film ini, anda akan bersyukur bisa jatuh ke bawah haha. Kalo di luar angkasa, ga ada yang namanya jatuh. Bila pegangan terlepas kita hanya berputar-putar dan melayang saja. Jauh entah kemana.. Mungkin ga ada berhentinya. Dan, tidak ada yang bisa mendengar dan menolong kita, bukan? Hehe.

Last words, tontonlah film ini dengan tenang. Kalo saya sih cukup bawa pop corn salty small size satu ditambah air mineral kecil. Matikan segala alat komunikasi, dan berpeganglah hanya pada pop corn anda dan masukan perlahan ke dalam mulut, namun mata anda jangan sampai terlepas dari layar, karena.. Bila mulut anda terlalu melongo ketika merasakan sensasi film ini, pop corn itu pasti akan lama habisnya atau bahkan jatuh ke kursi. Seperti yang berkali-kali saya alami, hehe.

Rate: 5/5

Tagged , ,

[movie review] Fast & Furious 6

Image

“Hantam mereka” mungkin itulah yang menjadi objek kepenasaranan (istilah apa ini) dari para penonton Indonesia yang rela berduyun-duyun dan mengantri super panjang untuk film yang satu ini. Dan juga itulah yang menjadi penyebab para pemilik bioskop, XXI atau 21 atau juga Blitzmegaplex memasang film ini di lebih dari 1 studio, yang mengakomodir keinginan kuat para penonton untuk menyaksikan orang yang bilang 2 kata tersebut beradu akting dengan Vin Diesel maupun Paul Walker.

Yes, dialah Joe Taslim. Seorang aktor Indonesia yang juga atlet judo (kalo saya ga salah), yang dapat kesempatan bermain di film besutan sutradara Justin Lin. Well, Joe yang sebelumnya menggemparkan dunia lewat aktingnya di film Indonesia bertaraf internasional The Raid, bersama Iko Uwais, akhirnya bisa kita saksikan ke-go internasionalannya (bahasa apa lagi ini) di Hollywood, dan itu semua jelas membanggakan. Joe bahkan melebihi teman mainnya di The Raid, Iko, yang saat ini baru terdengar gosip saja untuk bermain di Mortal Kombat maupun di filmnya Keanu Reeves, Tai Chi Master (atau Tai Chi Kungfu ya, lupa), hehe.

Dan benar saja, Joe yang saya kira sebelumnya, hanya tampil sebentar alias menjadi penjahat yang sekali mati, ternyata mendapat peran yang banyak sebagai Jah, yaitu teman dari komplotan penjahat pimpinan Shaw, yang menjadi lawan tanding dari kelompok Dominic Toretto dan Brian O’Connor.

Dan Jah juga mendapat kesempatan tanding melawan Han (Sung Kang) dan Roman (Tyrese Gibson) di sebuah subway, dan menang lagi! (ini spoiler bukan ya), dan itu membanggakan sekali. Jah alias Joe menampilkan kemampuan bela dirinya yang ciamik dan seperti yang kita lihat di trailer, dia berhasil menendang Tyrese sampai memecahkan kaca, hehe. Dan Jah juga mendapat part ngomong yang cukup banyak. Ah sudahlah nanti saya spoiler terus, hehe.

Well, cukup membahas Joe alias Jah di film tersebut. Secara keseluruhan film seri ke 6 ini sangat menghibur dan benar-benar saya nikmati, meskipun di beberapa part saya mengantuk, namun overall penampilan dari Dom dan teman-temannya dan komedi-komedi alias banyolan dari Roman cukup membuat terbahak. Dan Gal Gadot, alamak.. Perannya sebagai Giselle di film ini cukup membuat mata saya tak berkedip. Meskipun saya ga terlalu suka perempuan bertubuh kurus, namun pengecualian ada pada Gal Gadot, hehe.

Image

Apalagi ya, ceritanya ya standar.. Dan memang kalau dilihat dari segi cerita biasa saja. Masih berkisah mengenai Dom (Vin Diesel) dan Brian (Paul Walker) yang menggulingkan gembong penjahat di Rio dan meninggalkan awaknya dengan $100 juta, mereka tersebar di seluruh dunia. Namun mereka tidak dapat kembali ke rumah dan hidup selamanya dalam pelarian membuat hidup mereka  tidaklah sempurna. Sementara itu, Hobbs (Dwayne Johnson) melacak organisasi pengendara terampil bayaran yang telah berkendara melewati 12 negara. Satu-satunya cara untuk menghentikan kriminal adalah berlaga di jalan, sehingga Hobbs meminta Dom untuk mengumpulkan tim elit di London dengan imbalan yang tak ternilai harganya.

Hmm, agak aneh ya sinopsisnya, karena saya copas dari cinema 21 haha. Ya pokoknya kalo dari segi cerita, sangat mudah diikuti dan meskipun kalian belum pernah menonton atau lupa dari serial-serial sebelumnya, hal tersebut tak akan mengganggu keasyikan menonton film ini.

Dan yang paling penting adalah, jangan langsung beranjak keluar studio ketika layar mulai gelap dan lampu akan dinyalakan. Karena lampu ga akan dinyalakan dulu dan masih ada 1 scene terakhir. Scene-nya apa? Ya liat aja deh, saya ga mau spoiler, haha.

Rate: 3,5/5

Tagged , , ,

The Croods (2013)

Image

Awalnya saya tidak tahu menahu mengenai film ini, bahkan saya (yang jarang nonton film akhir-akhir ini dan terakhir nonton di bioskop adalah Oz, dan itu terjadi beberapa minggu lalu) tahu ada film bertema manusia purba yang lucu ini dari teman-teman saya sesama penggemar film yang berada di grup salah satu social media, yaitu Line. Dan itu semua isinya anak-anak ex-Multiply. Dan dari mereka pun saya disarankan untuk menonton film ini yang lucu habis dan ada sedihnya juga.

Berawal dari pilihan di depan loket tiket dan saya bingung harus memilih film yang mana, apakah Oblivion-nya Tom Cruise, The Croods ini atau G.I Joe yang sebenarnya saya penasaran tapi kata orang-orang jelek. Yaudah saya putuskan menonton The Croods.

Berkisah tentang Grug (Nic Cage), seorang ayah yang punya pandangan bahwa dunia di luar sana adalah dunia yang berbahaya dan menjadikan “ketakutan” dan cerita-cerita yang berujung larangan sebagai pedoman hidup istri dan anak-anaknya.

Ketakutan yang ditanamkan tersebut membuat Eep (Emma Stone), putri Grug yang curious dan menyukai tantangan menjadi penasaran dan mencoba untuk keluar dari gua tempat persembunyian mereka dan mencari kehidupan di luar sana.

Suatu ketika, terjadi kehancuran dan gua mereka tertutup oleh bebatuan yang longsor akibat bencana. Dan mereka sekeluarga harus menempuh perjalanan yang sama sekali mereka tidak tahu arahnya kemana. Di perjalanan mereka bertemu Guy (Ryan Reynolds). Guy adalah seorang anak muda yang berani dan pintar, dan menjadikan hari esok sebagai tujuan hidupnya. Selain itu, Guy juga mengajarkan akal dan pikiran pada keluarga Grug yang masih primitif dan bar-bar.

Perjalanan Grug sekeluarga ditambah Guy sangat lucu dan menghibur. Bagaimana mereka mengarungi hutan-hutan dan dunia yang penuh warna-warni dan makhluk aneh yang lucu sekaligu menyeramkan, dan juga tingkah laku masing-masing anggota keluarga membuat saya tak hentinya tertawa terbahak-bahak dalam setiap adegannya.

Film ini benar-benar menghibur dan menyenangkan. Cocok bagi kalian yang ingin membawa anak kecil, anak-anak maupun keponakan yang gemar akan animasi hidup yang keren dan sekaligus hilarious. The Croods menyajikan suatu tontonan yang diluar dugaan mampu sangat menghibur sekaligus menyedihkan.

Ketika saya menonton dan tiba pada endingnya, tak terasa mata saya berkaca-kaca karena ada satu scene yang sungguhlah sangat sedih dan membuat terharu. Tapi memang, ga sampe membuat saya menangis seperti setelah saya menonton Toy Story 3 dulu, haha.

Recommended movie for you and family. Dan buat yang mau pacaran juga bisa, hehe.

Rate: (5/5)

Tagged , , ,