Monthly Archives: October 2014

Mereka katakan, musik Indonesia berhenti di tahun 90-an… (review of /rif & Sheila on 7 concert)

326610_620

Apa yang tersisa dari musik Indonesia dewasa ini? Begitu banyak artis dan band bermunculan, juga tentunya di era digitalisme sekarang ini, mau tak mau memutar kembali memori kita ke beberapa tahun lalu, khususnya bagi mereka yang juga besar bersama saya di akhir-akhir tahun 90-an, yang ketika itu sedang mengikuti perkembangan musik yang ada. Stasiun radio saat itu masih menjadi barometer mana saja musik terbaru yang sedang hangat dibicarakan, menarik untuk didengar dan diikuti. Dan juga kemunculan video klip menjadi sesuatu yang sakral. Video klip baru kehadirannya selalu ditunggu setiap akhir pekan, bahkan sutradaranya pun menjadi buah bibir, jika berhasil men-direct klip yang memiliki sinematografi ciamik, dan banyak lagi penghargaan untuk menilai keberhasilan sebuah video klip bukan hanya dari sisi gambar, namun skrip cerita bahkan modelnya. Dan saat itu, bentuk tertinggi akan suatu karya musik adalah penjualan album yang masih berbentuk kaset atau piringan cakram padat (Compact Disc/CD). Itulah masa-masa dimana saya tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak yang menggemari musik dan juga artis-artisnya, dalam hal ini musik Indonesia.

Bila kita berbicara musik yang dimainkan oleh sekumpulan orang alias band, /rif dan Sheila on 7 adalah salah dua band yang mewakili kedigdayaan musik Indonesia saat itu.

Dan ketika saya melewati daerah Fatmawati, saya melihat baliho di pinggir jalan kalau dua band itu akan menggelar konser tanggal 19 September, saya tanpa pikir panjang segera mencari infonya dan mencanangkan tekad harus menontonnya, karena saya lekat dengan musik-musik mereka dan seperti memiliki ikatan emosional, meskipun saya bukanlah anggota fans club kedua band itu.

Sheila dan /rif adalah 2 band dengan jenis musik berbeda. Sheila band asal Jogjakarta, memiliki warna musik mayoritas pop dengan sedikit ala-ala rock, paling banyak terdapat di raungan gitar pada beberapa lagu, atau bahkan kadang mereka memainkan blues, dikemas dalam bentuk musik yang amat sangat easy listening, berirama menyenangkan dan mudah diikuti dan jaminan digemari. Musik-musik Sheila adalah obat bius bagi kebanyakan rakyat Indonesia yang suka mendengar musik, dan dari berbagai golongan usia. Sedangkan /rif, ya begitu cara menulisnya, dengan garis miring dan huruf kecil, adalah band rock tulen yang saya masih ingat kepanjangannya adalah Rhythm In Freedom. Kepanjangan itu hanya mereka sebutkan di awal-awal kemunculan, sementara nama /rif sudah tenar hingga mereka merasa tidak perlu memperkenalkan nama panjang itu lagi. /rif adalah band rock yang sangat berkarakter, memainkan mayoritas musik rock dengan sedikit warna pop (kebalikan dari Sheila). Namun asiknya, karakter lagu rock di setiap tembang /rif kebanyakan mudah diikuti dan dimengerti, sehingga masih bisa dinyanyikan dan dimainkan lagunya oleh orang-orang. /rif semakin lama tumbuh menjadi band dengan aksi panggung yang sangat menawan dan atraktif, dengan kostum yang total dan enak untuk dipandang. Bila berpatokan pada aksi panggung band luar negeri, maka Marilyn Manson bisa menjadi parameter. Ditambah lagi, keahlian skill masing-masing personel band asal Bandung tersebut dalam memainkan alat musiknya tidak perlu diragukan.

Apa hubungan kedua band diatas dengan saya? Oke. Semenjak kemunculan Sheila dan /rif pertama kali di blantika musik Indonesia, saya sudah tertarik dan memiliki kaset serta mendengarkan lagu keduanya. Memang yang membeli kaset adalah kakak-kakak saya, namun setelah itu otomatis saya menjadi plagiator dengan membeli kaset-kaset mereka juga di album ke-2, 3 dan seterusnya. Khusus Sheila, lagu-lagu mereka praktis pula menjadi soundtrack kehidupan saya di jaman SMA. Dulu, kegemaran saya dan teman-teman adalah bermain band di studio dekat rumah. Dengan uang sewa 35 ribu rupiah, saya bersama 5-6 anak lain patungan masing-masing 5000 rupiah. Hanya dengan bermodalkan buku Music Book Selection (MBS) yang berisi chord-chord gitar, maka kami sudah bisa bermain band 1 jam lamanya.

Selain bermain band, lagu-lagu Sheila dan /rif juga menjadi lagu-lagu untuk saya belajar bermain gitar. Atau kasetnya mengisi walkman saya yang dibawa-bawa ke sekolah atau awal kuliah saat itu, hehe. Kaset-kaset Sheila dan /rif juga menjadi pengisi rak kaset abang saya ketika itu di kamar, salah satu ruangan yang menjadi markas bersejarah saya mengenal musik, dari rak berisi kaset-kaset koleksinya beserta sebuah mini compo merk Polytron. Disitulah singgasana saya bersemayam setiap pulang sekolah hingga malam hari. Oh ya, dulu lagu-lagu Sheila dan /rif juga menjadi jagoan di tangga-tangga lagu radio yang kini telah almarhum semacam Trend Musik Indonesia (TMI), atau bahkan video klip mereka saling berlomba meramaikan kompetisi video klip macam Video Musik Indonesia (VMI) atau tayangan-tayangan MTV yang dulu menjadi makanan kita sehari-hari. Okelah singkat kata, anak Generasi 90-an pasti sangat akrab dengan hal-hal ini, haha.

Dan mari kita langsung menuju konsernya. Karena konsernya diadakan weekend tepatnya Jum’at malam, saya menyangka panggung di Istora akan penuh dengan penonton, seperti halnya ketika saya menonton GIGI ketika mengadakan konser ulang tahun di tempat yang sama. Namun yang terjadi adalah, penonton datang melambat bagaikan siput. Sempat khawatir bahwa konser ini kurang mendapat apresiasi music lovers karena hingga pukul 19.30 penonton belum juga berdatangan, namun beberapa menit menjelang salah satu band naik panggung (yang terus terang saat itu saya belum tahu siapa), audiens sudah mulai penuh. Pandangan saya tertuju pada kelas festival yang berdiri dan saya merasa beruntung tidak membeli tiket di tempat itu, karena saya memiliki pengalaman yang kurang asoy ketika berada di kelas festival saat konser GIGI. Saat itu kaki saya rasanya mau rontok karena pegal luar biasa ketika harus berdiri selama 3 jam, dan aroma yang hadir di arena festival luar biasa, bau asam ketiak dimana-mana. Untuk kaki yang rontok, nampaknya saya sudah renta karena saya iri melihat mereka yang sepertinya menikmati konser sembari duduk. Oke, ini bukan konser metal yang HARUS DITONTON SAMBIL BERDIRI seperti Metallica, dan pilihan saya kali ini tepat. Untuk showcase semacam ini memang lebih baik diikuti sambil duduk. Jadilah saya membeli kelas Silver, duduk. Dan duduk pun masih menjadi masalah karena bangku Istora tidak nyaman untuk dipakai duduk lebih dari 1 setengah jam, pantat saya panas haha.

Sempat terpikir konsep apa yang diusung promotor untuk pertunjukan 2 band seperti ini, namun pada akhirnya memang giliran satu persatu Sheila dan /rif yang tampil selama kurang lebih 1 setengah jam. Dan saat lampu panggung dimatikan, layar yang berada di atas panggung yang dibangun di tengah-tengah Istora menampilkan profil /rif beserta wawancara singkat dengan personil-personilnya, produser label tempat mereka bernaung, dan klip-klip yang pernah mereka buat. Kita semua tahu bahwa sebentar lagi Andy dan kawan-kawan yang akan memanaskan Istora. Dan benar saja, setelah kita semua dilatih untuk memiliki jiwa nasionalis dengan terlebih dahulu menyanyikan Indonesia Raya, kelima personel /rif naik panggung untuk menggebrak dengan lagu pembuka, Dunia. Lagu ini memang cocok dijadikan awalan setlist konser. Lagu yang menjadi soundtrack Spider-Man untuk regional Asia itu sukses membuat panas istora, untuk kemudian disambung dengan lagu ke-2, Jeni.

Jeni adalah lagu yang sangat saya gemari. Lagu yang berasal dari album perdana /rif bertitel Radja dengan gambar katak di sampul albumnya itu, menjadi lagu yang sangat enak untuk dinyanyikan bersama. Kalau saja saya berada di festival, mungkin saya sudah jejingkrakan sembari teriak-teriak ikut bernyanyi. Posisi saya yang duduk pun tidak membuat saya diam, saya bernyanyi sekuat tenaga karena saya hapal betul setiap liriknya (ya iyalah orang jaman dulu muter lagu ini terus haha). Saya sangat menikmati lagu /rif di awal-awal kemunculannya. Menurut saya lagu-lagu mereka saat itu sangat orisinil dan enerjik. Apalagi setelah Jeni, hadirlah Bintang Kejora. Lagu yang terdapat di track 1 album 1 itu benar-benar membuat saya sing along. Tidak peduli kalau di kelas Silver tempat saya duduk, saya aja sepertinya yang hapal benar setiap lirik yang dinyanyikan Andy. Bintang Kejora adalah salah satu lagu ballad /rif yang tak banyak orang tau, namun begitu enak untuk didengar. Itulah lagu dimana saya pertama kali mengenal /rif, hehe. Bintang Kejora dinyanyikan Andy dengan penuh penghayatan, dan tata lampu panggung berubah meredup. Ah, nostalgia yang mantap!

Setelah dibawa ke dalam mesin waktu bersama Bintang Kejora, Andy mulai berinteraksi dengan penggemar. Say hello, cerita sana sini sampai mulai masuk ke lagu berikutnya. Lagu selanjutnya adalah lagu yang menjadi jagoan di album The Best of /rif, lagu ini menjadi lagu terakhir /rif yang masih bisa “diikuti” menurut saya. Lagu yang dimaksud adalah Joni Esmod, yang bercerita tentang koruptor. Joni Esmod masih sanggup membuat saya bergoyang mengikuti irama. Andy membawakan ambience dengan aksi panggungnya yang baik. Tak bisa dibayangkan bila bukan Andy yang menjadi frontman /rif. Setelah Joni Esmod, lagu yang paling tenar yang dibawakan, Radja. Agak aneh karena sejujurnya saya kurang begitu menggemari Radja, namun karena lagu ini sudah automatically tersimpan di memori kepala, jadi setiap bait lirik yang dinyanyikan, saya pun otomatis bernyanyi. SAYA HAPAL DI LUAR KEPALA. Dan kalau bukan “jasa” dari Radja yang membuat saya belajar bermain gitar, mungkin lagu tersebut akan berkurang value-nya, haha. Saya berterima kasih kepada /rif dan Radja atas ilmu bagaimana “memencet” chord gitar sampai jari-jari saya kapalan dan bengkak. Kalau tidak begitu, mungkin saya tidak bisa menggalau genjrang-genjreng gitar hingga saat ini.

Setelah Radja, /rif mencoba cooling down dengan membawa lagu orang lain, dan pilihan mereka jatuh kepada High and Dry. Lagu legendaris Radiohead tersebut dibawakan dengan santai yang membuat semua penonton bernyanyi. Lepas High and Dry, ada satu lagu yang saya sangat tidak menyangka dibawakan. Apakah itu? Ternyata Bunga, saudara-saudari sekalian.

Bunga menjadi lagu di album pertama /rif yang juga saya gemari. Saya jadi ingat dahulu sering sekali menyetel lagu Bunga dan menganggap itu adalah masterpiece kedua /rif di album Radja, sampai kaset abang saya itu kepotong di reff-nya karena saya tidak sengaja menekan tombol REC dengan posisi penutup kanan kiri kaset belum dipatahkan. Oke, ini tidak perlu saya jelaskan, hanya mereka yang mengerti saja yang paham, haha. Bunga adalah parameter lagu ballad /rif saat itu. Karena di album-album selanjutnya, publik menanti apakah ada lagu ballad lagi dari /rif yang seperti Bunga. Kembali ke konser, Bunga dibawakan dengan aransemen sama dengan yang di kaset, dan itu benar-benar membuat saya senang. Kalau kalian belum pernah mendengar lagu Bunga, coba search YouTube, dan saya bisa katakan, itulah yang disebut ballad rock Indonesia yang keren, dan itu hanya terjadi di tahun 90-an kawan.

Setelah Bunga, ada salah satu lagu di album pertama (juga) yang ternyata enak juga didengar di masa sekarang ini, setelah sepuluh tahunan lamanya tidak didengar, yaitu Planet Kosong. Dan saya bernyanyi lagi, tak peduli deh saya dianggap yang paling senior (atau tua) di tribun Silver, karena dari awal saya nyanyi terus di lagu-lagu /rif lama. Tapi memang kekuatan /rif adalah di album-album awal mereka. Planet Kosong selesai, mereka mulai menyiapkan peralatan akustik. Oh ternyata ada sesi akustik yang mereka bawakan, agak-agak sedikit jazzy mereka membawakan Aku Ingin dari album kedua, Salami. Sesi akustik itu nampaknya sayang untuk dilewatkan tanpa membawakan lagu-lagu ballad. Jadilah setelah itu, Salah Jurusan yang dibawakan. Lagu yang berasal dari album ke-4, … Dan Dunia Pun Tersenyum itu bukanlah lagu yang menurut saya terbaik dari /rif di album tersebut, mungkin saat itu mereka ingin sedikit merubah image dengan menerbitkan nomor yang ringan dan lucu dari sudut lirik untuk didengar. Setelah itu, tampil kejutan dengan datangnya seorang vokalis yang juga legendaris bernama Ari Lasso. Mantan vokalis Dewa 19 itu hampir tak bisa saya kenali karena tubuhnya yang sekarang agak melebar. Namun Alass tampil dengan kualitas dan karakter suara yang tidak berubah. Ia hadir menyanyikan lagu everlasting Motley Crue, Home Sweet Home berduet dengan Andy dan adiknya sang drummer, Magi.

Setelah penampilan bintang tamu tersebut, /rif kembali menggebrak di sisa waktu yang ada dengan memainkan tembang bertitel 1. Yap, Satu yang penulisan judulnya harus dengan angka tersebut adalah lagu di album kedua mereka (Salami) yang bercerita intinya tentang persatuan. Saat itu, Indonesia sempat didera perpecahan dan suasana chaos yang sangat hebat, sehingga di awal-awal kemunculan lagu dan album ini, /rif sengaja mendedidasikan lagu 1 ini sebagai tema persatuan dan rekonsiliasi kembali Indonesia. Lagu 1 sebenarnya memiliki ciri khas berupa intro dengan melodi gitar Jikun yang iconic, namun ketika konser saya tidak bisa mendengar intro ini dikarenakan aransemen yang berbeda. Agak kecewa sebenarnya, hehe. Dan waktu semakin lama, kita semua menyadari bahwa Sheila belumlah tampil, /rif kembali menggebrak dengan lagu Pemenang. Lagu yang saya tidak suka, haha. Maaf, dikarenakan saya sudah tidak lagi mengikuti album /rif pasca The Best Of. Well, time flies dan saya tidak bisa move on saja dari album-album /rif di awal kemunculannya. Mereka sempat mengeluarkan 1 single dari album Pil Malu (2006) yang tidak kena di telinga saya, itu mungkin yang menjadikan saya tidak lagi interest dengan album-album kesini pasca The Best Of.

Dua lagu terakhir diisi oleh Lo Toe Ye, yang biasanya dijadikan lagu penutup. Dan encore yaitu Si Hebat. Saya lebih tertarik mendengar Si Hebat karena lagu ini sudah lama sekali tidak saya dengar dan dibawakan, recorded or live. Si Hebat menjadi lagu pamungkas, dan /rif malam itu pamit dengan menyuguhkan pertunjukan yang seperti biasa atraktif, dengan skill mumpuni dari masing-masing personilnya. Kehilangan satu basis dan gitaris (Iwan dan Denny) seperti tidak berpengaruh karena Ovy mampu menjadi pengganti yang sepadan. Dan bagaimana dengan kostum panggungnya? /rif seperti biasa tampil maksimal. Malam itu Jikun sang gitaris hadir dengan topi dan dandanan Slash. Ovy berpenampilan mirip dengan personil Marilyn Manson, atau personil generasi terbaru Guns N’ Roses, dan sedikit mirip Wes Borland gitaris Limp Bizkit. Saya pribadi puas dengan penampilan mereka, karena menjadi obat kangen tersendiri. /rif malam itu saya berikan nilai 3,5 dari skala 5.

Perfectly-Back-To-90s-In-Rif-Sheila-On-7-Concert_1411151652

Setelah /rif puas mengguncang stage, panitia memberikan jeda sesaat untuk memberi waktu bagi Sheila on 7 bersiap-siap. Penonton di kanan kiri dan atas bawah saya, yang rata-rata wanita, dan sepertinya pegawai Gen FM, karena stasiun radio itu ternyata menjadi sponsor, sudah histeris duluan dan tak sabar sepertinya untuk bernyanyi bersama. Kalau cewek sih ga masalah ya, yang agak-agak gimana gitu kalau ada cowok yang suka Sheila tapi diimplementasikan dengan berdiri, bernyanyi sambil joget-joget. Kayaknya ga cocok gitu, haha. Oke saya juga suka Sheila, saya hapal lagu-lagunya, tapi itu tidak membuat saya serta merta ikut “antusias banget” sampai nyanyi berdiri dan joget-joget begitu haha. Dan itu terjadi pada penonton cowok di depan saya (oke biarlah), haha.

Sheila hadir di panggung dengan membawa beberapa pemain trombone, saxophone, terompet dan semacamnya. Untuk apa mereka semua? Ketika intro lagu pembuka diperdengarkan, saya baru sadar kalau ada beberapa lagu di album Sheila yang menggunakan instrumen alat-alat musik tersebut. Yup, album Pejantan Tangguh (2004) adalah album yang lagu-lagunya paling banyak menggunakan alat musik itu, dan lagu berjudul sama dibawakan sebagai pembuka. Lagu yang cocok untuk memancing adrenalin penonton. Selesai lagu pertama, Eross mencabik-cabik senar gitarnya memperdengarkan intro lagu yang tak asing di telinga. Lagu ini sempat merajai tangga lagu Indonesia pada masa jayanya. Yup, lagu pembuka dari album kedua mereka, Sahabat Sejati. Lagu ini pas sekali dibawakan di awal-awal performance mereka. Sahabat Sejati mengeksplorasi kemampuan para personil Sheila dalam bermusik. Dan Brian sebagai drummer baru pengganti Anton, terasa cocok membawakan lagu dengan tempo cepat seperti ini. Tak mengherankan karena Brian dulu pernah menjadi drummer Tiket yang secara musikalitas lebih ngerock. Sahabat Sejati usai, dan penonton dibuat bernyanyi bersama dengan lagu perdana mereka yang mengenalkan band asal Jogja ini ke seantero Indonesia, Kita.

Terus terang saya tidak begitu menyukai lagu Kita. Selera sih, tapi nampaknya hanya saya saja yang tidak antusias menyanyikan lagu tersebut. Sedangkan penonton lainnya berdiri dan bergoyang kesana kemari. Yang pacaran merangkul pacarnya dengan mesra sembari bernyanyi. Yang single pun (kebanyakan perempuan) bernyanyi bersama teman-temannya sembari memukul-mukul balon stasiun radio yang menjadi sponsor, Gen FM. Eh tapi mana saya tau ya mereka single atau tidak, soalnya kan bisa saja pacarnya ga ikut nonton, haha. Dan cowok yang ada di depan saya masih saja berjoget pemirsa, haha. Yasudah biarkan saja. “Kita” adalah lagu awal pembuka album self-titled mereka. Di layar diputar video klip yang dahulu masih memperlihatkan para personil Sheila masih kurus-kurus berambut gondrong.

Kita usai, Duta sebagai frontman mulai melakukan tes ombak kepada penonton dengan menyuruh mereka (khususnya yang di festival) mengayunkan tangan ke kanan dan ke kiri sembari menyenandungkan sebuah lagu. Lagu yang awalnya kita tidak sadar namun setelahnya irama mulai terbentuk. Yup, lagu ini dari album Pejantan Tangguh, sebuah lagu dimana Sheila mencoba bereksperimen dengan membiarkan Duta ngerap. Pemuja Rahasia. Saya juga tidak terlalu suka dengan lagu ini, hanya karena dibawakan secara live saja menjadi agak menarik, karena terus terang saya baru pertama kali mendengar lagu itu dibawakan langsung di depan mata. Selesai lagu itu, Duta mencoba berjalan ke pinggir panggung.

Disana telah disiapkan sebuah piano, dan sembari mencoba membuka obrolan dengan penonton, Duta memainkan beberapa not dari piano tersebut. Pria yang juga Milanista itu memainkan sebuah intro dari lagu yang kita semua tidak tahu itu apa. Dan ketika ia mulai menyanyikan bait awal dari sebuah lagu, hadirin langsung bergemuruh karena yang dibawakan adalah lagu untuk semua orang. Saya belajar gitar dengan lagu itu, dan saya tumbuh di masa remaja/sekolah dengan lagu itu pula. Lagu itu tidak akan saya lupa karena kord gitarnya pun adalah yang paling termudah hingga kini. Dengan hanya 2 kord gitar, G dan C, Eross mampu menciptakan lagu yang indah dan bermakna, Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki.

Dan setelahnya, sudah bisa ditebak tembang apa yang akan dibawakan. Dengan masih menggunakan instrumen piano, lagu yang paling tepat dibawakan selanjutnya sudah bisa tertebak lewat intro yang dimainkan. “Itu Aku,” masih dari album Pejantan Tangguh yang dimainkan. Lagu itu menurut saya adalah salah satu karya Eross yang cukup baik. Meskipun agak-agak berbau dan (mungkin) terinspirasi Hey Jude-nya The Beatles, lagu ini cukup mengundang antusiasme penonton. Yang membuat lagu ini berkarakter adalah lirik dan perpaduan musik, piano dan terompet/saxophone yang menjadikan harmonisasi lagu ini kuat. Dan malam itu Sheila mendapat bala bantuan dari salah satu penyanyi yang memiliki suara khas, Sandy Sandhoro. Sandy membuat lagu ini berwarna jazz dengan lengkingan suaranya yang berat. Namun menurut saya Sandy tampil dengan improvisasi agak berlebihan, maksud hati ingin mengisi kekosongan-kekosongan dengan vokal pada instrumen di akhir lagu, namun hal itu malah terdengar seperti teriak-teriak tidak jelas. Apalagi dengan penampilannya yang memakai kacamata hitam padahal panggung dan Istora gelap. Maksud hati (lagi) mungkin ingin menjaga identitas Sandy yang khas dengan kacamata hitam (agak mirip Ian Kasela jadinya), namun kok saya jadi risih ya melihatnya. Okelah. Setelah Sandy berlalu pergi, Duta dan kawan-kawan membawakan lagu yang menjadi lagu jagoan mereka di album Berlayar (2011), Hari Bersamanya.

Hari Bersamanya adalah satu lagu Sheila bernuansa menyenangkan. Lagu ini asik didengar dan merupakan lagu langganan saya kalau karaoke. Tak heran bila saya semangat sekali mengikuti Duta bernyanyi di lagu ini, tapi ga pake joget-joget ya, haha. Selanjutnya, Sheila memperkenalkan lagu baru mereka dari album yang kata mereka akan keluar sebentar lagi, masih di tahun ini. Lagunya saya tidak tahu judulnya apa, tapi dari lagu yang diperdengarkan, Sheila banget deh musiknya. Sepertinya menjadi salah satu lagu yang bisa memompa semangat. Lagu baru yang ketika dinyanyikan itu, kami para penonton masih diam semua karena baru pertama kali mendengar, disambung dengan lagu dari album 07 Des, salah satu yang saya suka, juga lagu yang memompa semangat pula, Saat Aku Lanjut Usia. Lagu yang sempat mendapat kritikan karena Eross dianggap menjiplak salah satu lagu Beatles yang berjudul dan berlirik hampir sama (hanya dalam bahasa Inggris) menjadi satu lagu yang membuat riuh seisi Istora kembali. Eross sebelumnya sempat mengatakan kepada para penonton, ketika sesi perkenalan personil band, bahwa Duta memang menjadi frontman atau andalan dari band asal Jogja tersebut. Duta dengan karakter vokalnya yang khas dan merdu, mampu membawakan lagu dalam suara rendah dan tinggi, adalah nyawa dari Sheila itu sendiri. Duta adalah salah satu dari sedikit vokalis yang saya rasa akan membawa kehancuran bagi band yang ditinggalkannya, karena tidak bisa tergantikan oleh vokalis lain (mungkin sama dengan peran Krisyanto di Jamrud).

Layaknya konser-konser yang umum diselenggarakan, ada sesi khusus band tersebut membawakan versi akustik. Serupa dengan /rif, Sheila pun hadir membawakan beberapa lagu dengan tema akustik dan aransemen yang dirubah. Seperti yang terjadi pada JAP (Jadikanlah Aku Pacarmu), Terimakasih Bijaksana, Temani Aku dan Yang Terlewatkan. Empat lagu tersebut menjadi lagu yang asik untuk dinikmati dengan instrumen yang berbeda. Ambil contoh JAP, lagu yang seringkali digunakan oleh cowok yang ingin menembak gebetannya itu dibawakan dengan aransemen berbeda yang lebih jazzy, dengan gitar akustik yang dimainkan Eross. Terimakasih Bijaksana pun menjadi lebih elegan dibanding lagu aslinya. Temani Aku yang diambil dari masterpiece Kisah Klasih Untuk Masa Depan tidak perlu dirombak secara total karena pada dasarnya sudah beraransemen akustik. Dan yang terakhir, Yang Terlewatkan, juga bernuansa akustik. Lagu ini adalah lagu yang cukup spesial bagi saya karena saya dulu pernah memberikan lagu ini kepada gebetan saya, dan mendapat nilai 100 ketika karaoke bersamanya (yaelah curhat).

Sesi selanjutnya kembali normal, dan 2 lagu yang dibawakan kemudian adalah 2 hits utama dari 2 album yang berurutan. Bila Kau Tak Disampingku mengajak semua penonton bernyanyi dari album Kisah Klasik. Dan selanjutnya Seberapa Pantas dari album 07 Des, yang lebih dikenal ketika menjadi theme song sinetron duplikat Meteor Garden jaman dulu. Waktu semakin malam ketika lagu Sephia diperdengarkan. Lagu yang pada masanya sangat melegenda dan menjadi soundtrack perselingkuhan itu kebetulan menjadi salah satu lagu Sheila yang tidak saya sukai (lagi), haha. Bukan karena temanya lho ya, tapi entah kenapa saya cepat bosan mendengar lagi itu. Jadi ketika Sephia dimainkan, saya hanya menonton saja dan sesekali bergumam mengikuti irama. Sephia kemudian disambung dengan Betapa, lagu yang menjadi andalan di album Menentukan Arah. Nah kalau Betapa ini termasuk lagu yang saya gemari karena beda dari lagu-lagu Sheila yang lain. Saya terhibur dan senang ketika Betapa dibawakan, menurut saya Betapa menjadi salah satu lagu yang tidak membosankan untuk dibawakan secara langsung.

Akhir konser semakin dekat menjelang. Duta, Eross, Adam dan Brian mulai memainkan intro dari lagu yang kerap menjadi penutup di setiap performance mereka, Melompat Lebih Tinggi. Soundtrack film 30 Hari Mencari Cinta ini lagi-lagi masuk ke dalam list lagu Sheila yang tidak saya suka, haha. Musiknya asik dan enerjik, namun sekali lagi, lagunya bukanlah lagu yang ingin saya dengar berulang-ulang. Dan ketika semua menganggap bahwa konser akan berakhir, masih ada 1 lagu yang belum dimainkan. Kalau tidak ada lagu ini sepertinya bukanlah konser Sheila on 7 namanya. Mungkin konser Wali atau Armada (krik). Apakah itu? Tidak lain tidak bukan adalah lagu dengan lirik lupakanlah saja diriku bila itu bisa membuatmu dan seterusnya. Yup, bila ada konser band luar negeri yang saya ingin sekali rasakan atmosfir karaoke bareng dari salah satu lagunya, itu adalah Don’t Look Back In Anger, dibawakan oleh Oasis bila suatu saat konser disini. Atau Tender-nya Blur. Alhamdulillah untuk yang disebut terakhir saya sudah pernah mengalaminya. Dan sepertinya Eross dkk menangkap fenomena itu. Dengan cerdasnya Eross mengajak semua penonton untuk “membantu” Duta yang ia katakan telah lelah bernyanyi sepanjang konser. Jadilah Dan… dibawakan dengan koor bareng seisi Istora, khususnya para perempuan mulai dari bait awal hingga reff pertama. Begitulah, nuansa 90-an sangat terasa ketika Dan… merajai tangga lagu seluruh radio dan televisi saat itu. Dan… menjadi anthem lagu galau dan hubungan yang galau, atau lagu putus ketika itu. Dan kini, memori semua orang di Istora kembali hadir. Setelah Dan… usai dinyanyikan, Sheila menutup dengan apik konsernya dengan lagu Sebuah Kisah Klasik yang menurut saya sangat tepat sekali untuk dijadikan lagu penutup.

Well, hampir selama 3 jam pertunjukan digelar dan saya sebagai penggemar musik Indonesia, dan anak yang belajar mengenal dan menggemari musik ketika 2 band di atas sedang menapaki puncak karier, merasa puas telah meluangkan waktu untuk menontonnya. Sungguhlah kalau bukan karena pada jaman dulu ketika saya sekolah, Sheila on 7 dan /rif benar-benar mewarnai masa-masa saya saat itu, saya lebih memilih nongkrong di tempat lain atau tidur di rumah. Menonton mereka secara langsung saya anggap sebagai sebuah pengalaman. /rif saya sudah sering menontonnya, namun Sheila baru beberapa kali. Untuk /rif, sekali lagi mereka telah memperlihatkan aksi panggung menawan seperti biasanya. Dan untuk Sheila, terus terang saya menontonnya dikarenakan jarang melihat performance mereka, tidak sebanyak saya menonton /rif. Mereka juga tampil apik dan menghibur.

Saya jadi teringat kata Andy, vokalis /rif, ia berucap: “Musik berhenti di tahun 90-an. Musik masa kini hanya pengulangan dari model-model lagu jaman itu.” Saya beruntung bisa tumbuh dan berkembang saat musik Indonesia, dan juga internasional sedang mengalami masa jayanya. Saya juga beruntung mendapat referensi musik yang original dengan sedikit pengaruh dari musisi belahan dunia lain. Mungkin hanya Beatles, U2, The Police, Radiohead dan tidak banyak lagi yang masih menjadi patokan para musisi bermusik saat itu. Dan yang terpenting, band-band saat itu muncul dengan kualitas yang bagus. Anyway, suatu malam yang indah untuk mengingatkan betapa saya gembira lahir dengan nuansa musik 90-an, tumbuh dan berkembang dan mencari jati diri dalam bermusik dan menggemari musisi yang beberapa bertahan hingga kini. Terima kasih untuk Sheila on 7 dan /rif!

images from Google

Advertisements
Tagged , , , , ,