Monthly Archives: June 2014

Day 13: Favourite Goal

owen_argentina

Apakah gol favorit anda? Begitu banyak gol tercipta dalam sejarah sepakbola dan begitu banyak pula pemain hebat yang menciptakan gol tersebut. Sepakbola adalah panggung yang tepat untuk melihat para pemain menciptakan gol-gol spektakuler, apalagi bila pentasnya sekaliber Piala Dunia atau partai-partai penting lain, membuat siapa yang membuat gol tersebut tertulis dalam tinta emas sejarah panggung sepakbola dunia.

Saya akan menceritakan salah satu gol favorit saya. Ketika itu sedang berlangsung kejuaraan Piala Dunia 1998 di Prancis, dan saya ingat saya nonton dinihari bersama kakak saya di depan tv. Kakak saya seperti biasa tertidur pulas. Dulu bapak saya lagi dinas, saya ingat. Saya mana bisa tidur karena yang sedang main adalah Inggris. Saat itu saya menonton salah satu pertandingan seru yang terjadi di babak perdelapanfinal. Inggris harus berhadapan dengan salah satu kandidat kuat juara Argentina. Inggris dan Argentina adalah 2 negara digdaya sepakbola yang menjadikan partai mereka sebagai pertandingan klasik yang punya nilai historis tinggi. Di luar lapangan, sebagai negara, Inggris dan Argentina adalah 2 negara yang terlibat perang Malvinas, dan inilah yang mereka “bawa” hingga ke lapangan hijau. Saat itu pemain-pemain di kedua kubu masih menyimpan nama-nama legendaris, khususnya di bagian penyerang pada diri Gabriel Batistuta (Argentina) dan Alan Shearer (Inggris).

Dan itulah yang terjadi. Malam dinihari waktu Indonesia menjadi pertarungan seru tak terelakkan. Inggris saat itu punya penyerang belia pada diri Michael Owen yang menjadi salah satu pemain muda andalan untuk diduetkan bersama Shearer. Owen yang kala itu bermain di Liverpool menjadi pilihan utama pelatih Glenn Hoddle sebagai starter, karena sebelumnya di fase grup ia bermain cemerlang dan mencetak satu gol ke gawang Rumania.

Pertandingan berlangsung seru. Dari peluit babak pertama dibunyikan kedua tim saling melancarkan serangan. Argentina lebih dulu beruntung karena mereka mendapatkan penalti di menit ke-6 yang dikonversi dengan sukses oleh Batigol. Seakan tidak mau kalah, Shearer membalas juga dari titik putih di menit ke-9, dan skor sama kuat 1-1.

Di menit ke-16, keajaiban itu terjadi. Owen, yang waktu itu masih dianggap sebagai “bocah ingusan”, menerima umpan Beckham dari tengah lapangan. Dengan satu sentuhan, wonder boy Anfield itu menerima bola kemudian berlari secepat kilat menuju box penalti Argentina dengan melewati 2 pemain, yang terakhir paling saya ingat adalah Roberto Ayala. Dan dengan 1 tendangan mematikan ke pojok kanan gawang Carlos Roa, Owen berhasil menciptakan gol indah yang memadukan kecepatan, ketenangan dan finishing kualitas pemain kelas dunia. Inggris berpesta dan bukan sekedar menciptakan keunggulan, namun gol tersebut lebih dari sekedar gol karena telah menorehkan sejarah bagi Owen khususnya dan The Three Lions pada umumnya.

Sayang belum sampai berakhir babak pertama, Argentina membalas ketinggalan lewat set-piece tendangan bebas cerdik Juan Veron yang melihat Javier Zanetti berdiri bebas dan dengan mudahnya menceploskan ke gawang David Seaman. 2-2 dan kedua tim turun minum.

Di babak kedua, pertandingan sama kuat dan harus diakhiri dengan adu penalti. Adu penalti seperti biasa, bagaikan musibah bagi Inggris. Mereka lagi-lagi kalah atau tidak beruntung dari tos-tosan titik 12 pas. Tendangan David Batty yang diblok Roa menjadi penanda Argentina lolos ke perempatfinal dan Inggris harus pulang kampung. Hooligans lagi-lagi kecewa, namun Owen membawa cerita indah untuk dibawa ke negara Ratu Elizabeth dan juga menyebarkan pesona ke seluruh dunia lewat golnya itu.

Advertisements
Tagged , , , , , , , , ,

Day 12: Favourite Ever Match

AC Milan's Alexandre Pato kicks to score his first goal during their Champions League soccer match against Real Madrid at the Santiago Bernabeu stadium in Madrid

Banyak pertandingan menarik, yang melibatkan tim favorit. Baik itu di ajang domestik liga, kejuaraan antar klub Eropa (Liga Champions dan semacamnya), atau bahkan tim nasional di ajang sekelas Piala Dunia dan piala-piala regional lain. Dan kali ini saya diberikan tantangan untuk memilih salah satunya. Oke, tanpa perlu berpikir panjang, ini adalah salah satu pertandingan terbaik yang terjadi di Liga Champions yang melibatkan Milan melawan salah satu raksasa Eropa yang saat itu sangat diunggulkan, Real Madrid.

Pertandingan ini dilangsungkan tahun 2009 silam di kandang Madrid, Santiago Bernabeu, yang terkenal sebagai salah satu stadion terbesar dunia. Bayangkan, melawan tim superior seperti Madrid di ajang sekelas Liga Champions dengan bermain di bawah tekanan lawan, membuat banyak pihak tidak mengunggulkan Milan sama sekali di partai ini. Hasil paling bagus adalah bisa menahan seri Los Galacticos. Dan Milan datang ke Bernabeu dengan kekuatan penuh.

Ketika itu Kaka baru saja hijrah ke Madrid dan ini adalah perjumpaan pertama kali Kaka dengan bekas klubnya, sebagai lawan. Agak aneh melihat Kaka berbaju putih berebut bola dengan Ambrosini, Pirlo ataupun Seedorf. Dimana dulu mereka saling bahu membahu. Untung saja pertandingan tidak dilangsungkan di San Siro, dan seingat saya ketika leg kedua dimainkan di San Siro, Kaka tidak turun ke lapangan.

Milan saat itu baru saja memulai sebuah revolusi sepeninggal Carlo Ancelotti dan pensiunnya Paolo Maldini. Leonardo yang ditunjuk sebagai pelatih baru, mencoba melanjutkan hegemoni Milan dengan permainan cepat khas Brasil, meskipun tidak bisa disamakan dengan gaya bermain era Ancelotti. Milan saat itu merupakan tim yang berbeda dari ketika juara tahun 2007. Meskipun lini tengah masih diisi skuad ex-juara seperti Pirlo, Seedorf dan Ambrosini sebagai kapten suksesor Maldini. Di lini belakang, Milan kedatangan bek sentral Thiago Silva yang baru saja memulai masa keemasannya. Di depan, Ronaldinho coba memimpin Rossoneri bersama Pato dan Inzaghi.

Pertandingan sendiri berjalan seru dan seperti biasa, Milan berada di bawah tekanan bila bermain di kandang lawan. Madrid yang saat itu belum kedatangan Cristiano Ronaldo masih mengandalkan Raul dan Karim Benzema di depan. Akhirnya benar saja, Madrid lebih dulu unggul lewat gol Raul di menit ke-19 memanfaatkan kesalahan Dida. Skor 1-0 bertahan hingga babak pertama usai.

77123200405127172481

Di babak kedua, Milan mencoba untuk menyamakan kedudukan, dan meladeni permainan cepat Madrid yang semakin gencar menyerang karena telah unggul 1 gol. Dan akhirnya lewat suatu lemparan ke dalam, bola mendarat di kaki Pirlo yang secara tiba-tiba melakukan tendangan jarak jauh ke gawang Iker Casillas. GOL! Tendangan yang berbau spekulasi namun mengindikasikan kecerdasan Pirlo karena bola diarahkan ke tiang dekat membuat Madrid terkejut dan kedudukan jadi sama kuat.

Belum sempat pasukan Si Putih mengambil nafas panjang, 4 menit kemudian wonder boy Milan yang saat itu masih menjadi andalan, Pato, membuat Milanisti bersorak kegirangan karena umpan yang ditujukan ke Si Bebek berhasil dimanfaatkan dengan baik lewat kecepatan larinya, dan sanggup memperdayai Casillas. 1-2 Milan. Tertinggal dan tak ingin malu di depan publik sendiri, Madrid coba mengejar dan mereka berhasil membalas lewat tendangan pemain asal Belanda, Royston Drenthe di menit ke-76. Kedudukan menjadi 2-2.

Yang berikutnya ini epic. Setelah sempat menjebol kembali gawang Madrid lewat tandukan Thiago Silva menyambut tendangan penjuru, namun dianulir karena Silva dianggap melakukan pelanggaran terhadap Casillas, Milan secara tak terduga mampu menjungkirbalikkan semua prediksi dan dugaan para pengamat dan publik sepakbola. Umpan sederhana namun akurat Seedorf dari luar kotak penalti menemukan Pato yang dengan cerdik luput dari kawalan bek-bek Merengues dan perangkap offside, dan dengan sepakan first time kaki kanan nya mampu menceploskan bola ke gawang Madrid untuk ke-3 kalinya. Milan menang dan perjuangan mereka malam itu menjadi salah satu pertandingan tak terlupakan dalam sejarah keikutsertaan mereka di arena Liga Champions.

Tagged , , , ,

Day 11: Favourite Manager

Carlo Ancelotti

Carlo Ancelotti

Berbicara mengenai pelatih atau manajer sebuah klub, banyak yang sukses mempersembahkan berbagai gelar, tapi sedikit yang bisa konsisten mempersembahkan gelar di beberapa klub berbeda, yang menandakan kemampuan yang baik dalam hal manajerial dan kepelatihan di berbagai klub. Salah satunya adalah ia yang saya pajang gambarnya diatas. Yup, dialah Carlo Ancelotti.

Ancelotti adalah sosok pelatih yang mampu mempersembahkan gelar hampir di semua tim yang ditanganinya. Sukses bersama Milan sebagai pemain di era 80-an, dengan merebut 2 gelar juara Piala Champions tahun 1989-1990, ia mengawali karir kepelatihannya di Reggiana, kemudian pindah ke Parma dan lalu Juventus. Di tiga klub tersebut, Ancelotti belum menemukan sisi kebintangannya sebagai pelatih, hingga ia hijrah ke Milan di tahun 2001. Dan selanjutnya adalah sejarah.

Ancelotti sukses besar di Milan selama 7 tahun karir kepelatihannya. Bersama Rossoneri, ia meraih segalanya dari berbagai gelar di tingkat klub. Mulai dari Serie A, Coppa Italia, Piala Super Italia yang merupakan gelar domestik pernah dicicipinya. Di tingkat Eropa, Liga Champions dipersembahkannya untuk Milan 2 kali, bahkan nyaris 3 kali kalau saja tragedi Istanbul 2005 tidak terjadi. Piala Super Eropa pun diberikannya 2 kali, sementara Piala Dunia Antarklub dimenanginya sekali, hampir 2 kali apabila tahun 2003 tidak kalah dari Boca Juniors.

Milan 2007

Milan 2007

Di Milan pula, prestasi Don Carlo tak hanya di dalam lapangan. Di luar lapangan, ia pun terkenal dekat dengan pemain dan bagaimana ia membangun hubungan yang baik dengan anak buahnya. Ia mampu menjalin komunikasi dengan berbagai golongan usia pemain, baik senior maupun para pemain muda. Banyak pemain-pemain Milan yang kini sudah pada pensiun menaruh respek pada Don Carlo dan menganggap beliau sebagai pelatih yang berjasa akan perkembangan karirnya. Tengok ucapan legenda macam Alessandro Nesta, Paolo Maldini, Gennaro Gattuso, Andrea Pirlo atau Filippo Inzaghi. Juga tak ketinggalan Clarence Seedorf. Tujuh tahun di Milan benar-benar menjadikan Ancelotti dan para pemainnya lebih dari sebuah keluarga.

Namun bukan berarti karir kepelatihan Ancelotti di Milan berjalan mulus-mulus saja. Ketika Milan terpuruk di tangannya pun, banyak kritik dan suara-suara sumbang yang meminta ia dipecat atau diganti oleh pelatih lain. Sudah bosan dan kelamaan, kata mereka. Atau sudah terbaca taktiknya. Mungkin itu pula yang membuat Ancelotti tahun 2009 memutuskan mundur dari Milan dan mencari pengalaman baru di luar Italia. Saat itu, Don Carlo meninggalkan Milan bersama dengan La Bandiera Maldini yang pensiun. Itulah periode dimana Milan membuka era baru kepelatihan dan kepemimpinan. Dan saat itu pulalah Ancelotti membuka lembaran barunya di klub kaya Inggris milik taipan asal Rusia, Roman Abramovich: Chelsea.

Ancelotti diminta Roman untuk membawa Chelsea berjaya di Inggris dan memutus dominasi Manchester United. Dan Ancelotti berhasil memenuhi keinginan miliarder Rusia tersebut dengan mempersembahkan gelar juara Liga Inggris dan Piala FA di musim pertamanya! Gelar juara tersebut menurut saya tidaklah diraih dengan mudah karena Liga Inggris seperti diakui oleh pelatih-pelatih lain, sebagai liga yang paling kompetitif diantara liga-liga unggulan Eropa. Liga Inggris dengan tim-tim yang relatif merata berkompetisi di dalamnya (berbeda dengan yang terjadi di Spanyol atau Jerman dimana dominasi Madrid, Barca, Muenchen begitu besar) adalah suatu reli kompetisi yang panjang dan berat, namun Ancelotti berhasil menaklukan rimba EPL hanya dalam musim pertamanya.

Namun ada satu keinginan Abramovich yang belum (atau tidak) bisa diwujudkan Ancelotti ketika membesut The Blues. Yup, apalagi kalo bukan gelar juara Liga Champions, sesuatu yang sangat diidam-idamkan Abramovich dari pertama kali ia membeli klub biru tersebut. Roman tidak sabar dan Don Carlo dipecat di penghujung musim keduanya karena alasannya tidak bisa mempertahankan gelar juara liga.

Di-PHK Chelsea tak membuat pelatih sekaliber Ancelotti lama mendapat pekerjaan. Klub yang juga kaya dari Prancis, Paris Saint-Germain (PSG) merekrutnya untuk memimpin sebuah revolusi besar dari rencana jangka panjang manajemen PSG membangun tim kuat dengan sokongan dana melimpah yang berakibat datangnya pemain-pemain bintang. Dan benar saja, lagi-lagi di bawah kepemimpinan Ancelotti, PSG berhasil meraih gelar juara Ligue 1 tahun 2012.

The DNA of Champions' manager

The DNA of Champions League’s manager

Nama besar Ancelotti yang makin mengkilap sebagai pelatih papan atas Eropa sampai ke telinga Florentino Perez, Presiden Real Madrid. Madrid frustasi karena gelar yang telah lama diidam-idamkan mereka sejak terakhir kali diraih tahun 2001, yaitu Liga Champions tak kunjung didapat. Bahkan pelatih sekaliber The Special One, Jose Mourinho saja gagal membawa Madrid mengangkat The Big Ears. Dan pilihan setelah Jose jatuh kepada Ancelotti, dengan DNA Champions nya Don Carlo diharapkan mampu membawa Madrid meraih La Decima atau gelar ke-10 Champions klub ibukota tersebut.

Dan benar saja, lagi-lagi tak butuh waktu lama bagi Carletto untuk mengetahui seluk beluk Madrid, dengan modal para pemain bintang yang bertebaran di setiap sisi skuad, juga 2 pemain termahal dunia posisi 1 dan 2 dalam diri Gareth Bale dan Cristiano Ronaldo, pun performa Cristiano yang sedang naik daun dengan gelar Ballon d’Or nya, membuat langkah Carletto dalam misinya memburu La Decima terbantu dengan baik. Kereta berjalan cepat. Akhirnya di partai puncak lewat sebuah perjuangan heroik Atletico Madrid bisa dikalahkan setelah sempat tertinggal lebih dahulu, dan disitulah DNA Ancelotti terbukti.

Saya sebagai pendukung Milan tidak keberatan bila mendukung langkah Carletto di setiap tim yang dilatihnya. Well bukan yang tiba-tiba menjadi fans klub yang dilatih Carletto, namun saya mendukung Don Carlo berprestasi dimanapun ia berada, karena sebagai Milanisti, ia telah memberikan banyak untuk klub, disamping ia juga mantan punggawa klub saat era keemasan The Dream Team. Tapi ga tau ya kalo tetiba doi ngelatih Inter atau Juventus haha.. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi. Kalau Roma sih ga jadi masalah ya. Roma adalah tim yang pernah dibela Ancelotti di ranah Italia sebelum bermain untuk Milan, dan ia pun sempat mengatakan memiliki obsesi melatih Roma untuk menambah daftar Curriculum Vitae nya.

Tagged , , , , ,

Day 10: If You were the Manager of your Fav Club, What Would You Change in Terms of Starting Team, Tactics, etc.

Clarence Seedorf

Clarence Seedorf

Oke, gelaran liga telah usai dan saya mendapati Milan telah menyelesaikan perjalanannya di Serie A dengan menduduki peringkat ke-8, yang artinya Milan tidak mendapat jatah sama sekali ke kompetisi Eropa, baik itu yang namanya Liga Europa sekalipun. Ini adalah hal yang tidak lazim untuk didapatkan oleh tim sebesar Milan namun sebaliknya ini adalah sebuah keniscayaan menyusul musim yang dilalui dengan tidak bagus.

Dua pelatih telah berganti bagi Milan musim ini dan mereka telah menunjukkan effort terbaik mereka namun tetap saja Milan harus bersusah payah merangsek ke papan atas setelah sebelumnya sempat tipis berada di atas zona degradasi. Baik itu Max Allegri sebagai pelatih pertama yang membawa Milan hingga pertengahan musim, dengan kondisi yang sedikit hancur, atau Clarence Seedorf sebagai suksesornya yang coba mengembalikan jiwa permainan Milan sebagai tim besar, meskipun pada akhirnya hanya mampu mencapai papan tengah klasemen.

Dan kini pertanyaannya adalah apabila saya menjadi pelatih tim, apa yang akan saya bawa atau saya rubah, menyangkut taktik atau starting eleven Milan, tanpa menyinggung bursa transfer atau pembelian penjualan pemain, apakah saya sependapat dengan Allegri atau Seedorf, atau ada pilihan lain bagi saya menyangkut taktik atau komposisi pemain, mari kita bahas.

Seedorf terus terang membawa perubahan bagi Milan pasca hancur-hancuran ditangani Allegri. Seberapapun gagal nya Seedorf menurut jajaran manajemen Milan sehingga harus menerima pemecatan, harus diakui dengan jiwa yang besar bahwa legenda Milan dan Belanda itu sedikit demi sedikit telah memperbaiki sisi psikologis pemain Milan dan itu juga berimbas kepada gaya dan pola bermain. Memang waktu yang diberikan kepada Seedorf bisa dibilang singkat. Menurut saya apabila ingin menilai objektifitas kinerja Seedorf benar-benar bagus atau tidak, cobalah diberikan waktu 1 musim dari awal, dengan materi pemain yang sesuai dengan keinginannya. Tapi manajemen Milan punya pikiran berbeda dan sepakat untuk memberikan tongkat estafet kepelatihan pada legenda lain, Filippo Inzaghi.

Seedorf datang di pertengahan musim dengan tambahan pemain baru Milan seperti Keisuke Honda, Adil Rami serta Adel Taarabt. Ini menjadi amunisi yang lumayan karena Milan memang kekurangan pemain berkualitas masing-masing di barisan belakang dan tengah. Rami adalah bek tangguh berpostur besar asal Prancis yang cukup bagus bermain di central back, bila diduetkan dengan Philippe Mexes atau Cristian Zapata. Taarabt adalah pemain tengah yang memiliki skill jempolan layaknya orang Brasil yang berlari cepat dan menusuk lewat sayap. Sedangkan Honda adalah samurai Jepang yang bisa menjadi trequartista bermain di belakang 2 penyerang. Belum lagi ditambah kembalinya Kaka dari Real Madrid, meskipun masa keemasannya telah jauh berlalu, kembalinya mantan pujaan Milan tersebut cukup membuat fans menaruh keyakinan akan terulangnya kesuksesan Milan dahulu.

Dari starting eleven, sepertinya saya tak akan melakukan banyak perubahan. Christian Abbiati tetap pada posisi penjaga gawang, meskipun sebenarnya saya ingin banyak memberikan kesempatan kepada Gabriel. Di barisan pertahanan, Ignazio Abate dan Mattia De Sciglio tak akan tergoyahkan dari posisi dua bek sayap kanan dan kiri. Di tengah, duet Rami dan Mexes patut dikedepankan, dengan Zapata sebagai pelapis salah satunya. Barisan tengah masih dikomandoi Nigel De Jong sebagai defensive midfielder, dan ini yang sulit sebenarnya.. Dengan pilihan 2 gelandang kreatif yang masing-masing bisa dijadikan trequrtista pada diri Kaka dan Honda, agak gambling sepertinya untuk menaruh salah satu dari mereka diluar posisi yang biasa mereka mainkan, atau malah menjadi mubazir bila membangkucadangkan salah satunya. Mengingat Honda selama ini tidak berkembang bila ditaruh Seedorf di posisi kanan, maka menempatkan ia di habitat aslinya sebagai penyerang lubang mungkin menjadi pemecah kebuntuan selama ini.

Kaka and Keisuke Honda

Kaka and Keisuke Honda

Sekarang tinggal di posisi kiri-kanan. Oh ya, formasi yang saya gunakan adalah 4-2-3-1. Atau bisa berubah menjadi 4-3-1-2 apabila Stephan El Shaarawy pulih dari cedera. Kita anggap Il Faraone belum reguler bermain, jadi saya akan menempatkan Mario Balotelli sendirian di depan sebagai target man. Posisi kedua lini tengah di depan 4 bek sejajar bisa menjadi milik kapten Riccardo Montolivo atau, apabila saya ingin Milan tampil lebih bertenaga dan tidak mudah kehilangan bola di lini tengah, maka saya akan menggeser Monty melebar ke arah kanan, kemudian menempatkan Sulley Muntari sebagai pihak yang menemani De Jong di posisi gelandang bertahan. Namun sepertinya hal tersebut menjadi opsi kedua karena tim butuh gelandang kreatif pada diri Montolivo yang bisa memberikan umpan dari zona lebih jauh ke tengah.

Lalu dimana posisi Kaka? Gelandang elegan itu mau tak mau harus berada di 2 posisi tersisa yaitu kanan atau kiri di barisan tengah. Memang hal ini bukanlah posisi optimal pemain Brasil tersebut, namun saya pikir Kaka masih lebih bisa beradaptasi untuk digeser lebih ke pinggir dibanding Honda, untuk menyisir dari sisi lapangan dan memberikan umpan ke depan. Baik di posisi kanan atau kiri, Kaka dan Taarabt akan bahu membahu membantu penyerangan dari sisi lapangan.

Hal ini  sekali lagi, bisa berubah dengan kehadiran El Sha. Bila El Sha fit dan siap bermain, adalah suatu formasi ideal menempatkannya berduet dengan Super Mario, dan apabila hal ini menjadi pilihan pada format 4-3-1-2 maka penyerang lubang ideal ada pada diri Kaka. Trio Kaka – El Sha – Balo jika berada di form terbaiknya akan cukup menakutkan dan menebar ancaman bagi lawan. Ketika trisula depan telah ditentukan, maka trio lini tengah saya jatuhkan pilihan pada De Jong, Montolivo dan Taarabt atau Muntari.

Memang apabila diteliti lebih jauh, skuad Milan yang ada kini masih harus bekerja keras bila berhadapan dengan klub yang memiliki kedalaman skuad yang bagus macam Barcelona, Bayern Muenchen, Madrid ataupun Manchester City. Namun dengan komposisi pemain yang pas, dan dengan tambahan pemain yang tepat pada posisinya sebagai pelapis, maka Milan masih bisa bersaing, minimal di kompetisi lokal.

Dan hal itu sebenarnya tidak menjadi masalah, dalam hal ini saya sependapat dengan pola pikir Seedorf dibanding Allegri, dimana Seedorf telah memberanikan diri mencoba pemain-pemain muda macam Riccardo Saponara, Bryan Cristante ataupun memanggil kembali striker Andrea Petagna yang dipinjamkan ke Sampdoria. Seperti kita ketahui bersama bahwa Allegri agak anti dengan pemain muda, dan hal ini menurut saya bukan suatu pertanda bagus mengingat Milan saat ini harus lebih memperhatikan pembinaan pemain-pemain mudanya, dengan diantaranya memberikan kesempatan bermain yang lebih banyak. Milan mungkin masih harus kembali membangun era kejayaan dan dalam waktu 3-4 tahun ini agaknya harus melupakan peluang kembali berjaya di Eropa (mengingat kondisi keuangan saat ini, kecuali bila dan jor-joran disiapkan untuk membeli pemain bintang), dengan fokus membina dan mematangkan pemain muda yang diharapkan bersinar beberapa tahun ke depan.

Tagged , , ,

Day 9: If You Were the President of Your Fav Club, Name One Player You Would Buy and One Player You Would Sell

Thiago Emiliano da Silva

Thiago Emiliano da Silva

Klub favorit saya Milan, dan pertanyaannya sekarang adalah apabila saya menjadi Presiden Milan menggantikan Silvio Berlusconi, siapa yang akan saya beli dan siapa dari salah satu pemain Milan yang akan saya jual. Oke, pertanyaan yang pada dasarnya mudah tapi sulit apabila benar-benar dipikirkan untuk kebutuhan tim.

Pemain yang akan saya beli adalah Thiago Silva. Ini namanya pembelian kembali. Yup, bek asal Brasil ini telah membuat saya jatuh cinta sejak pertama kali didatangkan Milan dari Fluminense beberapa tahun silam. Ketika didatangkan, Milan saat itu benar-benar berharap banyak pada bek tengah yang kuat di udara dan jago dalam player marking ini. Silva menjadi salah satu harapan akan kebesaran Milan di barisan pertahanan, apalagi saat itu kompatriotnya masih seorang Alessandro Nesta, bek senior Italia yang bahkan disebut-sebut sebagai mentornya kala itu. Duet Nesta dan Silva sukses sepanjang musim menjaga gawang Milan dari serangan lawan dan turut mengantarkan Milan menjadi juara liga di musim pertamanya, dan Milan seperti mendapat ketenangan dengan kedatangan bek kelahiran 29 tahun silam tersebut.

Tak perlu lama bagi Milan untuk menaruh kepercayaan terhadap Silva dengan segala kapabilitasnya, hanya dengan menghabiskan 1 musim waktu “perkenalan”, ban kapten sudah dipercayakan untuk disematkan di lengan pemain Brasil tersebut. Ini menjadi sesuatu yang langka dan tak lazim di klub dengan tradisi sekuat Milan, dimana sebelumnya ban kapten hanya boleh dilingkarkan ke lengan pemain yang memang senior dan lama berkiprah di klub merah hitam tersebut. Ada hierarki atau struktur berdasarkan senioritas yang kuat. Namun Silva berhasil mendobrak budaya tersebut dengan kemampuannya mengomandoi lini belakang Rossoneri. Hal ini mungkin yang menginspirasi manajemen Milan hingga kini dimana pemilihan kapten lebih didasarkan pada kemampuan si pemain, bukan dari hierarki seberapa lama pemain tersebut membela Milan, seperti halnya Riccardo Montolivo yang juga telah menjadi memegang ban kapten di musim keduanya.

Ironisnya, belum sempat Silva memimpin Milan sepenuhnya untuk mengarungi musim baru sebagai kapten, sulitnya kondisi keuangan membuat Milan tak punya pilihan lain untuk menjualnya demi mendapat dana segar yang bisa digunakan mengembalikan keseimbangan neraca keuangan klub. Saat itu, Silva dijual bersama dengan striker yang juga berjasa membawa Milan ke puncak prestasi, Zlatan Ibrahimovic. Silva dan Ibra menjadi 1 paket pemain bintang Milan yang harus dilepas karena nilai jual mereka tinggi, dan peminatnya kala itu siapa lagi kalau bukan klub yang sedang membangun tim dengan dukungan dana melimpah macam Paris Saint-Germain (PSG).

Akhirnya kini, Silva dan Ibra menjadi pemain andalan PSG. Silva pun memenuhi takdirnya sebagai pemimpin klub yang ia bela dengan menjadi kapten. Tak hanya di tingkat klub, di tim nasional Brasil pun Silva berdiri di depan rekan-rekannya saat memasuki lapangan untuk berjuang merebut gelar juara dunia di Tanah Air mereka sendiri.

Dan kenapa saya sebagai Presiden klub ingin memboyong Silva kembali? Pertama, ia masih terikat secara emosional dengan Milan. Silva masih mengamati perkembangan Milan dan beberapa kali menyatakan dukungannya kepada Milan di sosmed, atau dari statement yang dikeluarkannya. Hal ini menandakan betapa Silva tak melupakan klub yang melejitkan namanya di Eropa dan membawanya hingga menempati posisi saat ini.

Kedua, Silva sudah berumur 29 tahun, yang menjadi patokan dari seorang pemain sepakbola yang berada di usia emasnya. It’s now or never, jika masih ingin mendapatkan servis optimal dari seorang Thiago Silva, waktu-waktu inilah saatnya. Ketiga, Milan membutuhkan minimal seorang bek kelas dunia, dan Silva adalah salah satu pemain yang tepat di posisi itu. Bek-bek yang kini menghuni barisan belakang Milan bukanlah world class defender, tanpa mengecilkan arti Philippe Mexes, Cristian Zapata atau Adil Rami dan kawan-kawan. Mereka semua bagus, tapi bukan seorang pemain bertahan yang memiliki kualitas level dunia. Dan yang paling terakhir alasannya, Thiago Silva adalah bek terbaik di dunia saat ini. Itu adalah konklusi betapa ingin saya membawa kembali Silva ke Milan.

Philippe Mexès

Philippe Mexès

Di satu sisi, bila berbicara siapa pemain yang akan saya jual.. Hmm, ini agak sulit karena sesungguhnya banyak pemain Milan yang pantas masuk dalam daftar jual. Alasannya bermacam-macam, mulai dari gaji tinggi yang malah akan membawa kerugian secara finansial bagi klub, kualitas permainan yang menurun, cedera yang berkepanjangan hingga mereka yang berada pada masa akhir kontrak dan tidak ada keinginan klub untuk memperpanjang. Untuk menghindari free transfer yang malah klub tidak mendapat pemasukan dari penjualan pemain, si pemain harus secepatnya dijual. Dari sekian alasan dan nama-nama yang ada, saya memilih untuk menjual Philippe Mexes.

Mexes sebenarnya bek bagus dan salah satu pemain yang saya idam-idamkan bila bergabung dengan Milan, dulu semasa masih berkostum AS Roma. Postur tubuh yang tinggi dan kuat berduel di udara membuat barisan belakang Milan sepertinya akan aman bila pemain Prancis itu bergabung di San Siro. Mexes pun termasuk pemain belakang yang “gagah” dan garang bila berada di atas lapangan. Meskipun termasuk pemain emosional, namun Mexes juga salah satu yang bisa diandalkan.

Namun melihat kiprahnya akhir-akhir ini, dan terkadang ia kerap melakukan blunder yang sering merugikan klub, tampaknya menjualnya ke klub lain adalah pilihan terbaik, apalagi bila Milan versi saya berhasil kembali mendatangkan Silva, maka sungguh bukan suatu kerugian bila Mexes dilepas untuk memberikan jalan kepada Silva. Disamping itu, gaji Mexes yang tinggi juga menjadi salah satu alasan kenapa sebaiknya klub melepasnya. Di saat kondisi finansial Milan yang kembang kempis seperti sekarang dan perlu adanya pengetatan keuangan dengan bijak, melepas pemain bergaji tinggi namun minim kontribusi, atau perannya masih bisa ditutupi oleh pemain lain, adalah suatu pilihan yang tepat demi kebaikan tim. Adios, Philippe!

Tagged , , , , ,

Day 8: Five Things You Hate About Football

Selain 5 hal yang saya suka dari sepakbola yang sudah saya ceritakan kemarin, hari ini giliran 5 hal yang saya tidak suka atau saya benci dari sepakbola. Jadi selain sepakbola menimbulkan hal-hal yang disukai, sepakbola pun bisa memicu sesuatu yang tidak disuka. Tapi setidak sukanya saya terhadap hal-hal yang mengganggu, tetap rasa cinta terhadap olahraga satu ini tak pernah padam, halah. Inilah yang dinamakan cinta. Oke deh daripada ngelantur langsung aja kita simak hal-hal tersebut. Apakah itu? Inilah diantaranya:

Belanda saat kalah dari Spanyol di Final Piala Dunia 2010.

Belanda saat kalah dari Spanyol di Final Piala Dunia 2010.

1. The Defeats

Yup, kekalahan. Memang dalam berkompetisi, kalah dan menang adalah sesuatu yang tak bisa dihindarkan dan menjadi satu bagian dari permainan sepakbola itu sendiri. Kalo ga menang ya kalah, kalo ga kalah ya menang. Itu aja yang bisa dipilih, bila kita mengindahkan hasil imbang atau seri atau draw. Kalo anda ingin berkompetisi, ya harus siap menang siap kalah. Jangan maunya menang doang tapi kalah ga mau. Karena orang ga ada yang mau kalah dan ga mau menang. Itu yang harus ditanamkan ke dalam hati setiap kesebelasan atau tim yang ingin bertanding di lapangan hijau.

Namun tetap, kekalahan dalam sepakbola itu memang menyakitkan. Apalagi bila terjadi di partai penentuan atau partai final. Lagi-lagi saya mengambil contoh Final Champions 2005 yang kekalahannya itu sakitnya disini *sambil megang dada*. Atau kekalahan lain macam kekalahan dalam derby, atau kekalahan yang membuat peluang juara tim kesayangan kita menipis, atau poinnya jadi bisa disalip tim lain dan sebagainya.

Belum lagi bila kekalahan disebabkan oleh adu penalti, itu juga sakit. Karena menurut saya adu penalti atau tos-tosan itu murni keberuntungan atau nasib sial. Hanya beberapa persen yang ditentukan oleh skill penendang dalam menendang atau skill kiper dalam menahan tendangan. Sisanya? Yang paling banyak ya hoki.

Adu penalti sakit? Tunggu dulu. Anda mungkin belum pernah ngerasain tim kesayangannya kalah karena golden goal. Haha, yup peraturan golden goal sekarang sudah tidak lagi dimainkan dalam menentukan seorang pemenang, karena golden goal ini memang sadis dan tega. Kalo menurut saya lebih sadis dari adu penalti. Tanyakan pada Italia yang harus pulang kandang setelah dikandaskan golden goal Korea Selatan di World Cup 2002, atau Italia (lagi) yang harus gagal menjuarai Piala Eropa 2000 setelah di final tumbang oleh golden goal Prancis.

Apapun bentuk dan namanya, sekali lagi kekalahan memang menjadi hal yang harus dihindari bagi mereka yang ingin berprestasi dalam sebuah pertandingan sepakbola.

"Polisi huru hara" suporter sepakbola

“Polisi huru hara” suporter sepakbola

2. Supporters’ Riot

Ini salah satu yang menjadi momok menakutkan bagi mereka-mereka yang ingin menikmati dengan datang langsung menonton pertandingan di stadion. Sebenarnya menonton di stadion tingkat keseruannya berlipat-lipat dibanding nonton di layar kaca segede apapun. Tapi bila mendengar 1 kata inilah orang jadi males ke stadion. Yup, kata itu adalah “kerusuhan.”

Kerusuhan adalah asap yang pasti didahului api sebagai penyebabnya. Api nya bisa macam-macam, bisa kekalahan dimana pihak yang kalah tidak menerima, atau juga kepemimpinan wasit yang buruk, itu juga bisa menjadi pemicu. Bahkan perselisihan antar suporter dengan modus awal saling meledek dan sebagainya bisa memicu kerusuhan. Dan hal tersebut terjadi di dalam maupun di luar lapangan. Tidak usah jauh-jauh kalo mau liat kerusuhan dalam sepakbola, karena Indonesia adalah gudangnya haha. Di Indonesia, apa-apa bisa jadi kerusuhan. Perkelahian antar suporter pun ga kalah dengan yang terjadi di luar negeri. Malah menurut saya lebih banyakan perkelahian suporter Indonesia dibanding di luar.

Itu yang menyebabkan banyak orang-orang malas untuk datang langsung ke stadion melihat tim kesayangannya bermain. Oke disini kita berbicara Liga Indonesia, soalnya kalo yang main tim nasional atau tim asing, kerusuhan relatif bisa diredam. Kenapa malas? Karena ya itu, takut kerusuhan. Meskipun di kota-kota besar (terutama Jakarta) hal tersebut sudah sedikit berkurang, namun telah menjadi stigma bahwa sepakbola Indonesia isinya ribut melulu.

Sehingga jarang kita lihat pemandangan keluarga yang menonton bola di stadion, atau ayah yang membawa anak-anaknya seperti yang kita lihat di stadion luar negeri. Ini mungkin yang masih menjadi pe-er PSSI dan pemerintah, bagaimana ke depannya mampu menciptakan atmosfir sepakbola yang damai, aman dan nyaman bagi seluruh warga negara tua dan muda, tanpa takut dibayangi kerusuhan.

Gambar nyomot dari Google.

Gambar nyomot dari Google.

3. Midnight Live Broadcast

Kalo yang ini, kayaknya hanya berlaku buat gw deh di era-era midlife crisis haha. Maksudnya gini, seperti kita ketahui bersama bahwa siaran sepakbola di negara-negara Asia dan sekitarnya (khususnya Indonesia) pasti dapat giliran tengah malam atau dinihari bila berhadapan dengan siarang langsung mereka yang bermain di Eropa atau Amerika. Singkatnya, nonton bola itu pasti identik dengan begadang di malam hari sampe pagi, dan paginya pasti kesiangan nahan kantuk belepotan di kantor, hehe.

Itulah yang kadang bikin saya kesel. Emang sih kalo yang namanya nonton bola itu seninya adalah begadang. Apalagi bila menyangkut turnamen-turnamen besar macam Piala Dunia atau Liga Champions, kalo ga begadang ya agak aneh. Jadi ingat ketika World Cup dilangsungkan di Korea Jepang yang selisih waktunya hanya 1-2 jam dengan Indo, ya jadinya nonton bola siang-siang atau paling malem jam 7 haha, aneh bukan?

Tapi bila dikaitkan dengan kondisi saya sekarang.. Saya udah ga kuat begadang! Haha. Kalo ditarik kembali waktu 5-6 tahun lalu, mungkin saya masih seger buat begadang dan masih fit lahir batin buat nunggu bola semaleman bahkan ga tidur. Tapi kalo sekarang? Boro-boro. Tidur di awal dengan memasang weker selalu berakhir dengan kebablasan, alias weker tak terdengar. Mau begadang ga tidur sampe bola mulai? Setengah babak atau paling pol babak kedua lebih dikit paling juga ketiduran haha.

Begitulah, mungkin karena pengaruh aktifitas yang makin dewasa makin padat, kita jadi ringkih seperti ini daya tahannya *alasan*. Intinya adalah, saya udah ga kuat lagi begadang dan mulai jadi agak sedikit mengeluh bila ada pertandingan-pertandingan seru yang mulai main dini hari. Jadi, apa kabar Piala Dunia nih nanti? Haha.

Tiziano Crudelli, salah satu komentator/host di televisi Italia

Tiziano Crudelli, salah satu komentator/host di televisi Italia

4. Bad Commentators

Salah satu hal yang bikin ilfil lagi atau yang saya ga suka lagi di sepakbola adalah ketika siaran pertandingan berlangsung, khususnya bagi kita-kita yang menonton via televisi, karena artinya kita-kita para pemirsa dekat sekali dengan yang namanya komentator atau cuap-cuap sepanjang siaran pertandingan. Komentator ini bagai 2 sisi mata uang, di satu sisi menjadi suatu hal yang penting keberadaannya dalam sebuah siaran, namun di sisi lain bisa menjadi bumerang karena kadang komentatornya nyebelin.

Komentator nyebelin bisa dikategorikan misalnya komentator yang sotoy, atau komentator bawel, atau komentator yang ga bisa membawakan siaran pertandingan. Sotoy maksudnya si komentator sok tau. Okelah mereka memiliki data yang berkaitan dengan pertandingan. Namun ketika mulai berbicara mengenai strategi pelatih, atau apa yang harusnya dilakukan oleh si pelatih ini pada babak kedua (biasanya pertanyaan ini mulai dilontarkan host pas jeda babak pertama), nah disini si komentator kadang mulai mengeluarkan jurus ke-sotoy-annya. Well tak bisa disalahkan memang komentator itu senjata utamanya adalah sotoy, tapi kadang saya yang ngedengernya jadi males, hehe.

Komentator bawel adalah mereka yang diundang tapi ngoceh terus. Well sekali lagi kalo ga bawel ya ga mungkin diundang jadi komentator haha. Tapi plis deh, mereka yang terlalu bawel justru malah membuat saya malas untuk nonton acara talkshow sebelum pertandingan dimulai. Pernah suatu hari saking malesnya denger ocehan meraka, saya ganti channel setiap acara talkshow komentator.

Yang terakhir, komentator yang ga bisa membawakan “commentary” ketika pertandingan berjalan. Ini makanya, kenapa nonton bola enakan langsung denger commentary dalam bahasa Inggris dibanding dalam bahasa Indonesia yang dibawakan host/komentator hehe.

Tapi ada juga kok komentator yang saya suka dan saya tunggu kehadirannya. Mereka diantaranya Bung Towel, Hardimen Koto dan Bung Kusnaeni. Atau Tiziano Crudelli, seperti gambar diatas. Crudelli adalah komentator resmi di Milan Channel sepertinya. Dan Crudelli pasti heboh setiap membawakan commentary pertandingan Milan. Apalagi kalo Milan ngegolin, coba deh liat sekali-kali di YouTube. Crudelli menjadi contoh bagus dari komentator yang ditunggu-tunggu kehadirannya.

Byron Moreno

Byron Moreno

5. Bad Referees

Yang ini, bisa menjadi pemicu tingkat kekesalan saya terhadap sepakbola, apalagi bila menyangkut tim kesukaan yang menjadi korban. Yup, beberapa kali tim kesayangan saya dirugikan oleh kepemimpinan wasit bedebah. Memang kesalahan wasit tak bisa dilepaskan dari sepakbola, dan sudah satu paket dengan seni permainan itu sendiri. Namun, kadang bila berbenturan dengan tim jagoan kita yang sedang bermain, itu lain cerita.

Tercatat beberapa pertandingan diantaranya Korea vs Italia di perdelapan final Piala Dunia 2002, itu salah satu contoh. Bagaimana kepemimpinan wasit Byron Moreno (Ekuador) yang sangat buruk dan merugikan Azzurri, dimana lagi itu dia mengeluarkan Francesco Totti.

Atau yang ini, masih ingat kan sama gol Frank Lampard di Piala Dunia 2010 ketika Inggris melawan Jerman? Saat itu Inggris tertinggal dan butuh gol untuk menaikkan moral mereka. Namun Jorge Larrionda (Uruguay) memupuskan harapan hooligans ketika secara mengejutkan menganulir gol Lampard yang sudah jelas melewati garis gawang Manuel Neuer.

Banyak lagi sebenarnya kalo mau dicari. Namun 2 insiden diatas cukup untuk menggambarkan betapa kepemimpinan wasit bisa membuat sepakbola menjadi tidak indah lagi untuk dinikmati, hehe.

Tagged , ,

Day 7: Five Things You Love About Football.

Football is life.

Football is life.

Sepakbola adalah kehidupan, bukan sekedar hobi. Sepakbola sudah mendarah daging dari hidup saya dan ga akan bisa dilepaskan begitu saja. Tak bisa saya bayangkan apa jadinya dunia ini tanpa ada olahraga yang namanya sepakbola. Hidup akan hampa, absurd, dan tentunya kita ga akan pernah menyangka bahwa kita akan hidup. Lebay? Ga juga sih, hehe.

Dan berbicara sepakbola, tentunya bicara pula mengenai hal-hal menarik di dalamnya. Hal-hal yang membuat saya menyukai sepakbola karena alasan-alasannya. Alasan-alasan yang pada dasarnya tidak bisa dijadikan alasan. Karena mencintai sepakbola itu sebenarnya tidak perlu pake alasan. Itu datang dari dalam hati. Lebay? Ga juga sih, hehe *dejavu*

Oke marilah kita mulai bercerita hal-hal apa saja yang saya sukai dari sepakbola. Banyak sebenernya, namun tantangan ini mengisyaratkan hanya boleh 5 hal saja yang ditulis disini. Okelah, ini beberapa daftarnya. Kita mulai satu persatu ya! Yuk mareee…

The hooligans

The hooligans

1. Football Fans

Fans adalah bagian terpenting dari suatu permainan sepakbola, dan menjadi elemen yang tak terpisahkan pula. Juga, menjadi satu hal yang memberikan warna tersendiri bagi suatu pertandingan, baik di dalam maupun di luar lapangan. Coba perhatikan, pertandingan bola tanpa suporter emangnya seru? Beberapa pertandingan yang harus dimainkan tanpa suporter (misalnya karena suatu tim mendapat hukuman) meskipun itu pertandingan besar, akan berubah menjadi partai hampa yang membosankan. Begitu pentingnya peran suporter dalam memeriahkan suatu pertandingan, membuat variabel ini saya tempatkan di nomor 1 dari hal-hal yang menarik dari sepakbola.

Saya pun ketika menggemari Inggris juga berawal dari suporter mereka. Ketika itu di Piala Eropa 96, The Three Lions tampil di depan publik sendiri, dan mereka sukses menghadirkan opera hooligans yang memenuhi seisi stadion tanpa lelah bernyanyi dan bersorak berteriak memberikan semangat pada negaranya. Suporter Inggris adalah salah satu yang terbaik di dunia, dan membuat saya jatuh cinta. Meskipun mereka juga terkenal dengan ulahnya yang kerap membuat onar. Itulah kesan pertama yang saya tangkap dari arti sebuah fans dalam sepakbola.

Kalo ga mau jauh-jauh, Indonesia pun sebenarnya sudah dikenal memiliki pendukung fanatik yang luar biasa, dan saya percaya itu karena beberapa kali saya menjadi bagian dari mereka ketika menonton langsung di stadion. Lebih dari dukungan terhadap suatu klub, bila sudah menyangkut negara alias tim nasional, dukungan itu akan lebih kerasa dan penuh penjiwaan. Kalau ga percaya kita lihat saja di Piala Dunia nanti, disitu malah pendukung yang negaranya ga ikutan aja mati-matian bakal dukung negara yang masuk lengkap dengan atribut dan coret-coretnya, hehe.

Girls with Milan's jersey

Girls with Milan’s jersey

2. Jersey

Alias kaos/seragam sepakbola yang dipakai bertanding di lapangan. Adalah salah satu hal yang menjadi daya tarik dari sebuah permainan sepakbola itu sendiri. Lebih dari sekedar identitas, jersey dewasa ini menjadi suatu pattern fashion dan ciri khas yang tak terpisahkan, dan ditunggu-tunggu kehadirannya, pun menjadi ajang persaingan dari apparel-apparel terkemuka macam Nike, Adidas, atau Puma.

Jersey menjadi ciri khas suatu klub, dan desain yang dibuat juga dewasa ini ga main-main. Tengok jersey timnas Prancis yang keren dan fashionable, dan beberapa jersey klub yang malah bisa dipakai oleh fans untuk jalan-jalan/pergi, ga sekedar buat main bola aja. Harga yang dibandrol untuk sebuah jersey pun ga murah lho, jersey original di store-store premium aja sekarang harganya naik udah 700 ribuan dari harga lama 600 ribu, bahkan yang pake teknologi techfit (singkatnya teknologi baju yang adem kalo dipake main bola) bisa dibandrol 1 juta lebih.

Itu kalo mau beli yang asli, kalo anda peminat barang kawe, lebih banyak lagi dan murah-murah, 150 ribu juga udah dapet. Sekarang jualan jersey macam orang jualan keripik singkong, banyak banget. Tinggal para fans keputusannya untuk membeli yang asli atau kawe, itu semua pilihan. Intinya, melihat jersey tim kesayangan yang bagus dan juga membelinya, menjadi suatu kenikmatan tersendiri dalam sepakbola.

The WAGS

The WAGS

3. WAGS (Wives and Girlfriends)

Ini dia nih, salah satu yang membuat menarik juga, kalo yang ini for boys only. Yup, para pacar atau istri atau pasangan pemain-pemain bola tersebut, yang lebih dikenal dengan sebutan WAGS, memang cantik-cantik dan juga bikin mupeng adanya.

Bagaimana enggak? Di luar sana, para pemain bola selain udah kaya, banyak uang, terkenal, punya mobil mewah, gaji selangit, dikelilingi pula oleh wanita-wanita supercantik dan seksi dari kalangan model, peragawati, presenter dan lain sebagainya. Bahkan model-modelnya pun ga sembarangan, model pakaian renang atau mereka yang sudah bertitel “supermodel” dan sebagainya juga kecantol sama pemain sepakbola. Kampret ga tuh, haha.

Melihat tingkah laku para WAGS mendukung pacar-pacar kesayangannya di lapangan pun seru-seru. Coba kita lihat fashion dan tampilan mereka setiap hari, itu juga menjadi ajang persaingan dan harga diri, untuk bersaing siapa diantara para WAGS yang berpenampilan terbaik. Kadang ga bisa dibayangkan betapa beruntungnya para pemain bola ini punya pacar macam begitu (ya ga usah dibayangin juga kali Bim, haha). Ambil contoh ini aja, Bacary Sagna yang punya istri bernama Ludivine Sagna. Kenapa beruntung? Ya coba kalian googling deh Bacary Sagna kayak apa, hihi dan sekalian cari tau juga bagaimana rupa Ludivine. Nah itu jawabannya.

Selain Bacary – Ludivine, contoh lain dari pesepakbola yang hoki punya WAGS aduhai itu salah satunya Kevin Prince Boateng dan Melissa Satta, atau Cristiano Ronaldo dengan Irina Shayk. Bahkan kalo diambil contoh di Indonesia, istri Bambang Pamungkas juga cantik itu, hehe.

The FIFA World Cup

The FIFA World Cup

4. The Tournaments (World Cup, Euro, Champions, etc)

Ini juga nih bikin menarik sepakbola. Yep, apa sih artinya main bola kalo ga berkompetisi atau bersaing memperebutkan sesuatu? Bersaing dengan klub lain untuk mencari yang terbaik atau jadi nomor 1. Baik itu di tingkat klub atau negara, persaingan itu biasanya ditempatkan dalam suatu wadah yang bernama turnamen. Kalo di klub ya turnamen itu bisa liga di setiap negara, atau piala-piala lokal. Di tingkat Eropa? Apalagi kalo bukan UEFA Champions League dan Europa League. Di tingkat benua ada yang namanya FIFA Club World Cup.

Kalau berbicara kancah tim nasional, ya ga lain ga bukan Piala Dunia adalah kasta tertinggi turnamen antar negara. Di bawahnya, yaitu piala kontinental di benua masing-masing. Misalkan di Eropa ya Piala Eropa. Di Amerika ada Copa America, di Asia ada AFC Cup dan seterusnya. Malahan ada turnamen yang mempertemukan juara-juara di setiap benua, macam Piala Dunia mini lah, namanya Piala Konfederasi.

Turnamen-turnamen tersebut di atas berpengaruh besar terhadap ghiroh dan semangat saya menyaksikan pertandingan sepakbola, apalagi bila telah melibatkan tim kesayangan. Major tournaments seperti itu tak boleh dilewatkan. Itulah yang saya tunggu-tunggu dari setiap perhelatan turnamen besar macam Piala Dunia yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi.

Fans united

Fans united

5. Football Unites People

Apakah artinya? Well kurang lebih artinya adalah sepakbola menyatukan kita. Siapakah kita? Ya aku, kamu dan dia, halah. Ini yang saya rasakan semenjak saya mengenal sepakbola dan hal ini ternyata menjadi daya tarik tersendiri. Bagaimana sebuah pertandingan bola bisa menyatukan berbagai penduduk dari suku bangsa, agama, bahasa dan ras yang ada. Hanya satu bahasa, bahasa sepakbola.

Kok kayak bacaan Sumpah Pemuda ya, hehe. Pokoknya begitu. Contoh sederhana adalah ketika Indonesia menjadi tuan rumah Piala AFF (tingkat ASEAN) tahun 2010 lalu. Saat itu, suporter Indonesia yang terkenal fanatik kedaerahan apabila mendukung klubnya masing-masing “dipaksa” untuk bersatu dibawah satu bendera Merah Putih. Hasilnya? Luar biasa. Suporter dari berbagai penjuru Indonesia berdatangan ke Gelora Bung Karno dan berbaur menjadi satu. Warna yang menjadi ciri khas masing-masing klub ditanggalkan dan berganti menjadi warna merah jersey timnas Garuda.

Sepakbola yang menyatukan orang-orang ini sebenarnya hampir sama hakikatnya dengan musik. Musik adalah contoh simple paling yahud yang bisa menyatukan orang banyak dari seluruh dunia tanpa membeda-bedakan bahasa. Dan sepakbola dalam skala nasional juga bisa membuktikan itu. Jika ingin disederhanakan maknanya, bisa kok kita duduk bareng dengan WNA apapun untuk menikmati sebuah pertandingan sepakbola.

Ajaib bukan? Yup, itulah 5 hal pilihan saya. Bagaimana dengan anda?

Tagged , ,

Day 6: Football Moment has Made You the Saddest.

Gerrard's first goal

Gerrard’s first goal

Setelah sebelumnya saya bercerita tentang momen sepakbola apa yang membuat saya bahagia, kini saya akan bercerita sebaliknya, yaitu momen sepakbola apa yang membuat saya bersedih. Atau lebih tepatnya bersedih sekali pake banget. Dan kalo dipikir-pikir lagi lebih dalam, inilah jawabannya, sesuatu yang dinamakan “Tragedi Istanbul 2005.”

Istanbul adalah sebuah kota di Turki yang ketika itu dijadikan tempat perhelatan Final Liga Champion Eropa tahun 2005. Stadion Ataturk. Kala itu, Milan yang telah menjuarai Liga Champions 2 tahun silam (2003) berkesempatan kembali untuk merebut gelar juara dari tangan FC Porto yang memenangi kejuaraan setahun sebelumnya. Milan sempat ga jadi mentas di final karena di semifinal harus bersusah payah menghentikan langkah PSV Eindhoven (Belanda), kalau saja ga ada gol dari Massimo Ambrosini di menit-menit akhir laga. Begitulah, singkatnya Milan melaju ke final unuk melawan wakil Liga Inggris dalam diri Si Merah Liverpool.

Dan final yang digelar dini hari waktu Indonesia itu masih tersimpan jelas di memori saya. Ketika itu final Liga Champions masih digelar pas weekdays, bukan weekend seperti sekarang ini. Dan saya lagi itu masih kuliah, kuliah pagi malah. Dan kuliah pagi tidak menjadi halangan bagi saya untuk mendukung Milan, dan seperti biasa, saya ga tidur.

Milan kala itu masih diisi pemain berkualitas macam kuartet lini tengah Andrea Pirlo, Clarence Seedorf, Gennaro Gattuso dan Ambrosini. Belum lagi Kaka yang masih muda belia masih cepet banget larinya, dan lini depan dihuni Andriy Shevchenko, pahlawan Milan di 2003 dan tandemnya Hernan Crespo yang dipinjam dari Chelsea. Pippo Inzaghi saya lupa lagi itu kenapa ga main ya, mungkin cedera. Barisan belakang jangan ditanya, duo Paolo Maldini dan Alessandro Nesta masih kokoh berdiri, ditambah Jaap Stam, lengkap lah Milan saat itu.

Di menit-menit awal, histeria pecah ketika Maldini menjebol gawang Jerzy Dudek. Itu adalah salah satu gol tercepat Liga Champions, dan saya bersuka cita kaget sekali waktu itu, ga nyangka Milan bakal unggul sedemikian cepatnya. Sisa waktu pasca gol Maldini, Milan menguasai permainan dan alhasil terjadilah 2 gol susulan dari kubu Setan Merah yang selalu memakai jersey warna putih di setiap partai final kejuaraan. Dua gol lanjutan datang dari Crespo. Gol kedua malah dibuat cantik, umpan panjang Kaka dari sisi tengah menyusur lapangan untuk kemudian menemukan Crespo yang berlari dan dengan first touch, men-chop bola melewati Dudek. Babak pertama berakhir dengan skor tak terduga, 3-0 untuk Milan.

Belum pernah ada jeda istirahat seindah waktu itu. Komentator yang biasanya mengeluarkan komen-komen sotoy bagai indah saja di telinga. Saya tak perduli mereka bicara apa, kenyataannya Milan unggul jauh dan sisa waktu tinggal 45 menit saja. Itu berarti makin dekat dengan titel ke-7. Permainan Milan dipuji luar biasa bagusnya di babak pertama itu.

Babak kedua pun dimulai, dan saya nonton agak santai. Eh ndilalah kok tiba-tiba Pool mencuri gol lewat tandukan Gerrard. Oh gapapa deh. Satu gol gapapa lah sebagai hiburan, pikir saya. Tapi belum selesai mikir, 2 menit kemudian Pool ngegolin lagi, kali ini lewat tendangan jarak jauh Vladimir Smicer.

Ini ga masuk akal. Dua gol hanya dalam waktu 2 menit benar-benar bikin shock pemain Milan yang bertarung di atas lapangan, juga para fans. Skor kini tinggal selisih 1 gol dan gol-gol balasan tersebut memang menjadi senjata ampuh meruntuhkan mental Milan. Akhirnya ya bisa diduga, dan semua ketakutan pun menjadi kenyataan. Lahir lah gol penyama kedudukan 4 menit kemudian lewat Xabi Alonso. Kalo ga salah sebelumnya penalti terjadi, dan bola sempat diblok Dida tapi Alonso bisa mengkonversi menjadi gol.

Sheva missed the penalty

Sheva missed the penalty

Unbelievable. 3-3 hanya dalam waktu 6 menit. Dan mental Milan benar-benar jatuh. Yang ada malah momentum berbalik ke Pool dan suporternya. Liverpudlian yang hadir di Stadion Ataturk malam itu berhasil membuat nuansa stadion menjadi Anfield. Milan makin tenggelam dengan jadi groginya permainan dan keterkejutan melihat fakta bahwa lawan bisa menyamakan keunggulan 3 gol. Pool makin semangat. Hal ini kelihatan dari peluang-peluang Milan yang mentah padahal sudah 90% persentase golnya. Yang paling jelas usaha dari Shevchenko yang berhasil diblok Dudek 2 kali di depan gawang!

Sial? Sepertinya begitu.

Hingga pertandingan harus dilanjutkan di babak adu penalti, karena skor sama kuat hingga 90 menit plus perpanjangan waktu. Dan parahnya, adu penalti pun pendulum masih bergerak ke arah Pool. Mereka unggul mental sehingga 3 dari 4 penendang bisa menjebol gawang Dida. Milan? Algojo-algojo yang menjadi langganan penalti macam Serginho dan Pirlo gagal. Puncaknya ada pada tendangan terakhir.

Shevchenko, yang sepakannya 2 tahun lalu menjadi momen kemenangan Milan atas Juventus di 2003, kembali diturunkan sebagai penendang penutup. Namun dewi fortuna memang tidak berada di sisi Sheva. Tendangan lurusnya berhasil dibaca Dudek, dan meninggalkan luka mendalam karena malam itu Sheva otomatis berpredikat “from hero to zero.” Dari pahlawan menjadi pecundang. Dari penentu kemenangan menjadi biang kekalahan. Sakit.

Itulah sepakbola dan segala keajaibannya. Malam itu menjadi malam yang penuh pelajaran berharga bagi dunia sepakbola. Ada 2 pelajaran yang bisa dipetik, dari sisi kemenangan dan kekalahan. Pertama, jangan jumawa dengan keunggulan berapapun, hingga wasit meniup peluit panjang, anda belum menjadi pemenang. Kedua, jangan pernah menyerah akan ketertinggalan karena berapapun anda tertinggal, anda masih punya peluang mengejar, tentunya sebelum pertandingan berakhir.

Impossible is nothing bagi Liverpool, worst nightmare bagi Milan.

Dan setelahnya, adalah hari yang tidak bisa dipercaya bagi saya khususnya, dan Milanisti pada umumnya. Saya berjalan gontai melewati hari, dan lemas sepanjang kuliah di kampus. Apalagi menahan kantuk yang sangat. Ketika itu saya bersumpah, tidak akan membaca berita sepakbola di tabloid atau koran manapun, dan tidak bernafsu menonton seluruh berita olahraga di televisi hingga seminggu ke depan, haha.

Tagged , , , , ,
Advertisements