Monthly Archives: May 2014

Day 5: Football Moment has Made You the Happiest

Seedorf and Kaka kissing The Big Ears

Seedorf and Kaka kissing The Big Ears

Kalau berbicara momen apa dalam kehidupan sepakbola saya yang membuat bahagia, itu banyak. Keberhasilan Milan menjadi juara liga, kesuksesan Milan mendatangkan pemain top dalam bursa transfer, bahkan kemenangan Milan dalam derby misalnya, sudah cukup bikin bahagia. Namun bila dikerucutkan, momen apa yang PALING membuat bahagia, ini mungkin jawabannya.

Pertengahan bulan Mei tahun 2007, saya sengaja tidak tidur karena tidak ingin melewatkan partai yang satu ini. Yup, kebiasaan saya ini, mungkin kebiasaan buruk, untuk tidak tidur apabila ada pertandingan penting dinihari supaya ga kelewatan, memang sudah menjadi budaya dari beberapa tahun lalu. Bukan apa-apa, saya ini termasuk kebo kalo tidur, dan bahkan weker pun (baik weker alarm handphone atau bunyi weker beneran) ga mampu untuk membangunkan kebo yang sedang terlelap ini. Keterlaluan bukan? Jadi daripada saya terlambat dan tiba-tiba kebangun trus melongo karena pas nyetel tipi udah ga ada alias habis siaran bolanya (beberapa kali saya seperti itu dan rasanya ga enak banget), maka lebih baik jiwa dan fisik saya ini mengalah dulu deh untuk tidak memberikan hak-haknya (yailah mau bilang begadang aja susah amat, hehe). Yup, begadang is the answer.

Saya begadang untuk menantikan satu partai mahapenting. Bisa dibilang ini adalah partai balas dendam. Revenge yang saya harapkan berjalan sempurna. Apakah itu? Ketika itu Milan diberikan kesempatan oleh Tuhan YME untuk membalas dendam mereka terhadap klub Inggris, Liverpool. Dendam apa? Dua tahun lalu, Milan secara dramatis dikejutkan oleh comeback Liverpool dalam salah satu final paling tragis (bagi Milanisti) dalam sejarah sepakbola. Dan kini, mereka dihadapkan kembali pada satu momen krusial, Final Liga Champions Athena 2007.

Kenangan Final Liga Champions Istanbul 2005 tentunya masih sulit untuk dilupakan. Bahkan beberapa pemain Milan di final 2007 adalah korban bengisnya final 2005, dan kali ini mereka kembali berhadapan, Milan dan Liverpool. Takdir seakan mempertemukan mereka kembali untuk satu final “kesempatan kedua” bagi Il Diavolo Rosso untuk membalas dendam kesumat kepada The Reds. Dan benar saja, malam itu pembalasan terjadi.

Milan yang melaju ke final dengan perkasa setelah sebelumnya menumbangkan Manchester United dengan agregat 5-3 sepertinya sudah tidak sabar untuk menantang Liverpool yang lolos ke final pasca bertarung adu penalti lawan Chelsea. Dan tak terelakkan lagi, pertarungan dinihari itu berlangsung seru dan menegangkan. Milanisti (termasuk saya) menonton dengan jiwa penuh aura revenge, namun tetap mencoba rendah hati dan tidak jumawa. Bagaimana tidak? Keunggulan pun nampaknya belum memberikan rasa aman sebelum wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan usai. Istanbul 2005 memberikan pelajaran amat berharga tentang arti sebuah keunggulan dalam pertandingan sepakbola. Jangan pernah menyebut anda sebagai seorang pemenang sebelum 90 menit berlalu, bahkan ditambah injury time sekalian.

Pertandingan nampaknya akan masih berjalan sama kuat hingga babak pertama hampir usai, ketika Milan mendapat tendangan bebas beberapa meter dari kotak penalti Liverpool, setelah Kaka dilanggar. Algojo bola mati Setan Merah kala itu, Andrea Pirlo, bersiap mengambil ancang-ancang. Tendangannya pun menembus pagar pemain Liverpool namun secara tak diduga berbelok arah hingga bobollah gawang Pepe Reina. Dalam tayangan ulang terlihat kenapa Reina bisa salah menebak arah bola. Oh ternyata membentur striker Milan Filippo Inzaghi. Dan Inzaghi seperti biasa berlarian seperti anak kecil ketika gawang Liverpool berhasil dijebol. Sempat timbul kekhawatiran gol akan dianulir karena tampak sekilas menyentuh tangan Pippo. Namun wasit mengesahkan gol tersebut karena menganggap bola mengenai punggung sisi sebelah kiri Pippo hingga berbelok arah. Gol. Milan unggul 1-0.

Inzaghi's goal

Inzaghi’s goal

Pasca istirahat babak pertama, Milanisti (termasuk saya) tidak euforia akan keunggulan. Sekali lagi, Istanbul 2005 adalah pelajaran berharga. Babak kedua pun dimulai dengan tempo yang sama cepatnya dengan babak pertama. Saling tukar menukar serangan terjadi hingga waktu memasuki 10 menit terakhir. Kaka membawa bola dengan hati-hati di tengah lapangan, agak menusuk ke dalam sebelum akhirnya melepaskan umpan terobosan ke Inzaghi yang langsung berlari cepat menyergap bola dengan mengelabui hakim garis. Tidak offside! Pippo tinggal berhadapan dengan Reina sebelum akhirnya memasukkan bola dengan pelan menyusur tanah. 2-0 dan Milanisti makin dekat dengan pesta pembalasan. Namun sekali lagi, saya (dan kami para Milanisti) mencoba tenang sebelum 90 menit berlalu.

Benar saja, di menit 89 Liverpool mampu memperkecil ketinggalan lewat sundulan Dirk Kuyt. DHUAR..!! Bagai petir menyambar seketika Milanisti teringat peristiwa 2 tahun silam dimana keunggulan 3-0 mampu dibalikkan dengan awalan 1 gol  lawan. Untungnya kali ini, sudah memasuki menit akhir, tinggal injury time. Milanisti agak lega karena sisa waktu tidak banyak. Tidak seperti 2 tahun lalu yang masih ada 45 menit. Dan benar saja, ketika wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan usai.. Athena pecah dan Milan berhasil membawa pulang gelar Liga Champions ke-7 nya.

Banyak momen indah dalam sepakbola. Namun tidak ada yang lebih indah selain pembalasan dendam yang sukses, akan sebuah tragedi yang menghancurkan. Kemenangan 2007 ini seperti manisnya berbuka puasa setelah berpanas-panasan dan lari-lari keliling lapangan di siang bolong. Lega dan benar-benar membahagiakan.

Advertisements

Day 4: Earliest Football Memory

robertobaggiodeflatedvsbrazil1994_275x155

Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat adalah awal mula saya mengenal sepakbola. Kepala ini mulai bisa menangkap indahnya dari seni permainan sepakbola ketika siaran langsung pertandingan-pertandingan USA ’94 mengudara setiap pagi, kalau ga salah, ketika itu (karena perbedaan waktu AS – Indo). Mungkin saat itu saya masih ga terlalu paham banget apa itu sepakbola, tapi melihat keseruan dan keriuhan kompetisi sepakbola nomor 1 sejagat itu membuat saya tertarik, bahkan dahulu sampai hapal nama-nama pemain di luar kepala.

Saya ingat ketika itu ada potongan lembaran dari tabloid BOLA (ya, tabloid ini memang paling berjasa membentuk jiwa sepakbola saya haha) berisi nama-nama pemain negara peserta Piala Dunia ’94 lengkap mulai dari kiper hingga pelatih, dan saya bawa kemana saja saya pergi, sampe lecek. Dan dari situ saya mulai mengenal Romario, Roberto Baggio, Claudio Taffarel, Gianluca Pagliuca, Hristo Stoichkov, Martin Dahlin dan lainnya.

Tak hanya menonton, euforia USA ’94 pun membuat saya yang ketika itu masih kelas 4 SD menjadi gemar menendang-nendang bola di garasi rumah. Ceritanya saya dulu menjadi “anak titipan”, karena saya anak bontot yang harus merelakan kedua orang tua saya bekerja. Ketika ibu saya berangkat kerja, saya mau tak mau harus dititipkan ke tetangga depan rumah. Dan ketika itu salah satu kegiatan saya bersama teman-teman saya adalah menonton siaran tv siang-siang (saya inget banget itu siaran tunda, hehe). Tak lupa juga ketika main bola beneran, saya membayangkan diri saya adalah salah satu dari pemain Piala Dunia yang berada di lapangan. Bahkan sampe menganggap lapangan yang berada di deket masjid itu sebagai stadion beneran, hehe.

Momen paling seru saat itu tak lain adalah ketika adu penalti. Ya, adu penalti dalam pandangan Bimo kecil adalah suatu permainan seru yang tak membosankan. Jiwa-jiwa awal mengenal sepakbola, saya menggemari adu penalti. Bahkan menunggu-nunggu. Dan di Piala Dunia ketika itu ada beberapa momen adu penalti yang menarik untuk disaksikan, terutama tentu saja partai final yang mempertemukan Brasil vs Italia.

Sebagai “pengamat” baru sepakbola dan ketika itu sudah mulai kenal dengan AC Milan, tentunya saya lebih terpanggil jiwanya untuk mendukung Italia. Apalagi saat itu timnas Italia banyak dihuni pemain-pemain Milan macam Paolo Maldini, Mauro Tassotti, Alessandro Costacurta, Franco Baresi, Daniele Massaro, Roberto Donadoni, Demetrio Albertini dan lainnya. Well meskipun saya belum paham-paham banget saat itu namun beberapa kali saya sudah mengikuti kiprah Italia menuju final, dan kala itu Roberto Baggio menjadi protagonisnya.

Soccer - 1994 FIFA World Cup - Final - Brazil v Italy - Rose Bowl, Pasadena

Partai final yang dilangsungkan dini hari sampai menjelang subuh (karena tambahan perpanjangan waktu dan adu penalti) membuat saya yang ketika itu masuk sekolah pagi dan harus upacara, nonton dulu sebelum berangkat sekolah. Dan ketika adu penali dilangsungkan, menarik bagi saya karena saat itu Brasil sukses keluar sebagai juara setelah tendangan penalti Baggio jauh melayang diatas mistar.

Sungguh momen yang iconic dan monumental. Apalagi melihat ekspresi Baggio yang menangis seakan tak percaya tendangannya baru saja mengantar lawannya merengkuh gelar juara dunia. Saat itu saya belajar satu hal mendasar dari filosofi sepakbola bahwa kekalahan melalui adu penalti itu sangat menyakitkan, apalagi di partai puncak. Ngenes banget. Foto Baggio menundukkan kepala tanda penyesalan keesokan harinya menjadi headline koran dimana-mana. Dan bagi saya, hal itu menandai lahirnya suatu peristiwa bersejarah yang bertahan hingga kini, yaitu kegemaran akan sepakbola. Disitulah awal kenangan sepakbola saya.

Tagged , ,

Day 3: Leagues Do You Watch

serie a

Sejak saya mengenal sepakbola, saya telah mengenal paradigma bahwa di Eropa, benua yang menjadi salah satu patokan kiblat sepakbola selain Amerika Selatan, mengkualifikasikan 6 (enam) liga terdepan dari liga-liga di seluruh belahan dunia lain, yaitu Liga Italia (Serie A), Liga Inggris (Barclays Premier League/BPL), Liga Spanyol (La Liga), Liga Jerman (Bundesliga), Liga Prancis (Ligue 1) dan Liga Belanda (Eredivisie). Dari mana saya mendapat fatsun itu? Tentunya dari tabloid BOLA langganan sewaktu kecil, hehe. Keenam liga itu mendapat porsi berita terdepan, biasanya jadi headline media dan sasaran siaran langsung pertandingan, dimana secara bergantian dominasi ada pada Serie A dan BPL. Namun dewasa ini, semenjak klub-klub Spanyol menancapkan kukunya di kompetisi Eropa, apalagi pasca dominasi Barcelona di Spanyol dan Eropa, juga Real Madrid yang membangun skuad Los Galacticos, La Liga menjelma menjadi kompetisi nomor 1, jauh melewati Serie A yang kian hari kian terpuruk akibat banyaknya kasus, skandal, keributan suporter dan lain sebagainya. Namun La Liga masih mendapat “perlawanan” dari BPL yang relatif stabil hiruk pikuk dan daya saing klub-klubnya.

La Liga kian menjadi kompetisi nomor wahid dan makin lama mendapat jatah (koefisien) klub terbanyak yang berhak mengirimkan wakilnya di kompetisi Eropa, hampir sama dengan klub-klub BPL. Sedangkan Italia pasca kemenangan Internazionale di Champions League 2010, semakin menurun. Agak ironis kalau melihat kompetisi Spanyol hanya dikuasai oleh Barca dan Madrid saja. Sedangkan tim lain masih berusaha mengganggu hegemoni kedua tim tersebut, sebutlah sekarang Atletico Madrid yang berhasil merusak pattern dengan menjuarai La Liga 2014. Dahulu ada Valencia ataupun Sevilla, namun tidak berhasil.

Sedangkan Inggris, liga mereka termasuk salah satu yang seru dan merata kekuatannya. Berbeda dengan Spanyol ataupun Jerman (yang juga dikuasai Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund), di Inggris bisa sampai ada 5 tim yang saling berebut pucuk pimpinan liga. Meskipun beberapa tahun terakhir hanya duo Manchester saja yang menjadi juara, namun tim-tim macam Arsenal, Liverpool, Chelsea, Tottenham tak jarang memberikan perlawanan sengit. Hal serupa juga sebenarnya terjadi di Italia, dimana dahulu The Magnificent Seven (Juventus, Milan, Inter, Roma, Parma, Fiorentina, Lazio) tenar sekali karena 7 tim tersebut lah yang bersaing di papan atas Serie A. Akhir-akhir ini Napoli menjadi kekuatan baru yang selalu bersaing di zona Eropa liga.

banana-thrown-at-milan-player-in-serie-a-match

Well, karena AC Milan adalah tim favorit saya dari dulu hingga kini, maka Serie A lah yang menjadi liga favorit untuk ditonton. Mulai dari jaman masih ditayangkan RCTI hingga kini tak jelas rimbanya (sedih), Serie A menjadi liga kesayangan, khususnya kalau Milan yang ditayangkan. Kini menjadi suatu penyesalan besar karena Liga Italia tak lagi ditayangkan tv swasta, alasannya karena hak siar yang mahal, dan mungkin membuat stasiun-stasiun tv swasta tidak tertarik membelinya (bisa jadi karena ga balik modal) mengingat pamor klub-klub Serie A yang meredup dibanding La Liga maupun BPL.

Dahulu pecinta Serie A dimanjakan dengan tayangan langsung setiap minggunya, belum lagi highlights ataupun acara-acara pendukung lain. Namun kini, streaming menjadi alternatif atau nobar, atau kalo mau nonton enak ya langganan tv berbayar. Inilah kehidupan masyarakat pecinta sepakbola Tanah Air dewasa ini. Tapi saya tidak khawatir, karena kemudahan akses informasi berita yang super cepat, saya pun jadi terbiasa kalo tidak menyaksikan pertandingan Milan setiap minggunya. Mungkin kalo Milan main di partai final kompetisi Eropa, itu baru yang wajib tonton. Tapi kalo partai Serie A reguler, sudah wajar kalo paginya cuma liat di Livescore atau malah “nonton” di timeline Twitter, hehe.

Tagged , , ,

Day 2, Current Favourite Player

ronaldo

Kalau ada pertanyaan siapa pemain favorit saya akhir-akhir ini, jawabannya akan mencengangkan. Sebelumnya saya selalu memfavoritkan pemain-pemain yang membela AC Milan, dan sesungguhnya, saya tidak memiliki pemain favorit yang benar-benar favorit, hehe. Artinya pemain favorit saya selalu berpindah-pindah. Mungkin hanya pemain dengan loyalitas super macam Paolo Maldini yang sangat mendapat respek dari saya, atau dulu mungkin Andrea Pirlo menjadi favorit saya juga, tentunya sebelum pindah ke Juventus. Atau saya sempat menggemari Zlatan Ibrahimovic dan Thiago Silva, sebelum hijrah lagi, atau juga kalau ditarik mundur lagi ke belakang, Andriy Shevchenko adalah pemain favorit saya. Oh ada satu lagi di tingkat tim nasional, saya menyukai Alan Shearer sewaktu ia masih membela Newcastle United dan menjadi striker andalan timnas Inggris. Saya ingat betul bagaimana saya menggunting poster dari tabloid BOLA ketika saya kecil, dan membingkai poster itu untuk diletakkan di atas meja belajar, hehe.

Dan kini, bila pertanyaan serupa ditanyakan kembali kepada saya, saya bisa menjawab bahwa pemain favorit saya saat ini adalah Cristiano Ronaldo. Bukan favorit sih tepatnya, namun saya menganggap Ronaldo adalah pemain yang saat ini pantas menjadi bintang dan berada di atas pemain-pemain sepakbola lainnya, bahkan bila dibandingkan dengan Lionel Messi sekalipun. Kenapa? Berikut saya sampaikan beberapa alasannya.

Ronaldo (CR7) adalah pemain dengan skill super lengkap dan juga mumpuni dalam urusan mencetak gol. Baik kepala, kaki kanan, kaki kiri dan semua elemen yang ada pada dirinya bisa menghasilkan gol. Pun dari segala cara permainan, baik open play maupun set piece, penalti, tendangan bebas, dan semuanya, mampu dikonversi menjadi gol. Apa lagi? Well, gaya bermainnya pun luar biasa. Dribbling nya yahud, gocekan nya maut. Dia orang Eropa namun saya bisa menjamin bahwa talenta seperti pemain Brasil pun belum tentu bisa melebihi skill individunya. Gocekan ala The Phenomenon Ronaldo Nazario sebelum mencetak gol dengan cara melewati satu dua pemain lawan atau yang lebih dikenal dengan step over, lekat sudah menjadi trade mark CR7. Ada lagi, gocekan Ronaldinho yang saya pikir tidak ada pemain lain yang mampu menduplikasinya, sukses beberapa kali dipraktekkan Ronaldo. Oh ya, jangan lupa ketika baru-baru ini ia juga mendemonstrasikan tendangan bebas menyusur tanah melewati hadangan pagar pemain yang melompat, juga pertama kali dikenalkan Dinho ke publik dunia.

Itu kalau bicara skill. Kalau bicara gol dan juga rekor, boleh juga. Ronaldo meskipun bukan striker murni, tapi koleksi golnya jauh lebih banyak dibanding striker beneran. Ia yang biasa beroperasi lewat sayap, menyusur garis pertahanan, mendekati gawang untuk kemudian menendang bola dengan keras, jauh lebih tajam dibanding striker target man yang kerjaannya hanya ngendon di depan gawang. Banyak gol juga dibarengi dengan rekor tentunya. Banyak pula rekor yang ia pecahkan seperti misalnya, ia melangkah pasti untuk menjadi pencetak gol terbanyak Real Madrid sepanjang masa hanya dalam kurun waktu dibawah 5 tahun, dan lain sebagainya yang tentunya tidak cukup disebutkan disini satu persatu.

ronaldo5

Mungkin hanya di level internasional saja Ronaldo masih harus membuktikan diri. Well, ini juga yang menjadi problematika saingannya, Messi di timnas Argentina. Digdaya di level klub belum menjadi jaminan sukses di tingkat internasional. Dan ini yang menjadi PR dan harus mereka buktikan di gelaran Piala Dunia sebentar lagi. Namun bila ditilik lebih dalam, ada 1 keunggulan Ronaldo bila dibandingkan dengan Messi di tim nasional, bahwa CR7 selama ini lebih mampu mengangkat timnas Portugal secara individu, dibanding Messi di Argentina. Mungkin bahasa yang lebih tepat adalah, CR7 merupakan pemain yang mampu membuat perubahan/pembeda di timnas Portugal. Hal ini berbeda dengan Messi yang sepertinya agak “tenggelam” di Argentina. Messi bisa menjadi pembeda di Barcelona tapi belum terbukti di Argentina. Sedangkan Ronaldo, baik di Madrid ataupun Portugal, adalah tipikal pemain penentu. Namun dampak buruknya adalah, Portugal jadi tidak ada apa-apanya tanpa Ronaldo.

Yang paling membuat saya simpati kepada Ronaldo, ia adalah seorang yang dermawan dengan tingkat kepedulian sosial yang sangat tinggi. Banyak berita-berita yang menyebutkan kedermawanan dia dalam berbagi. Ia menyumbang hartanya untuk anak yang sedang dioperasi, membangun sekolah atau apa gitu di daerah konflik di Palestina, dan kalau kalian masih ingat ia juga menyumbang untuk Martinus, bocah korban tsunami asal Aceh yang dahulu ditemukan terombang ambing dengan memakai jersey Ronaldo. Well, terang aja ya duitnya banyak haha. Kalo saya punya uang banyak juga pasti nyumbang kayak dia. Eh tapi belum tentu juga lho, banyak orang duitnya banyak tapi ga mau nyumbang juga ada. Jadi ya, salut buat Ronaldo.

Meskipun dibalik segala kelebihan tetap ada beberapa sentimen pribadi yang membuat saya kadang males sama Ronaldo. Seperti misalnya, banyak yang bilang ekspresi dan mimik wajah Ronaldo itu ngehek ngeselin haha, kadang bener juga. Masih terbayang ketika Ronaldo menjadi biang kehancuran Inggris di Piala Dunia 2006, dengan tendangan penaltinya yang membuat Three Lions harus pulang kampung, ditambah sebelumnya menjadi lakon yang membuat Wayne Rooney dikartu merah wasit, hehe. Segala kontroversi dan kelebihan itu mungkin yang membuat CR7 menjadi pemain terbaik dunia, dan juga menjadi pemain termahal dunia sebelum dikalahkan kompatriotnya, Gareth Bale.

Tagged , , , ,

Day 1: Team Do You Support

milan

Milan ketika menjuarai UEFA Champions League, Athena 2007

Oke, marilah kita mulai “30 Days Of” atau yang biasa disebut MEME dengan hari pertama yaitu: Team Do You Support. Tim yang saya dukung, tim yang saya sukai, tim yang saya gemari. Yup, kalo ditanya seperti itu ya gampang jawabnya. Rata-rata semua orang udah pada tau, yaitu saya suka Associazione Calcio Milan atau biasa dikenal dengan AC Milan. Milan, kalo lebih singkatnya. Tim yang berdiri tahun 1899 ini adalah satu dari 2 tim yang bermarkas di kota Milan, Italia. Satunya itu namanya Internazionale (Inter), yang tenar dengan warna biru. Milan sendiri memakai warna kebesaran merah.

Kenapa saya suka dan mendukung sekali Milan? Oke mari kita mulai bercerita singkat. Pertama-tama, awal perkenalan saya dengan sepakbola adalah di tahun 1994 – 1996, dimana saat itu saya masih SD dan berusia kurang lebih 9 tahun. Dan kita ketahui bersama bahwa tahun itu adalah tahunnya Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat (AS). Ketika itu saya nonton Piala Dunia di TV pagi dan siang hari, karena waktu AS bila dikonversikan ke Indo jadi pagi dan siang hari, beberapa dini hari. Piala Dunia ’94 adalah awal mula saya mengenal sepakbola, kemudian dilanjut dengan Piala Eropa 1996 di Inggris.

Euro ’96 menjadi pintu gerbang yang makin mentasbihkan saya sebagai penggemar bal-balan, dan juga mengenalkan saya pada tim nasional Inggris. Oke Inggris ada sendiri bahasannya bukan disini, hehe. Dan pada masa-masa itu pula saya mulai mengenal Milan, dari siapa? Dari ayah (bokap) saya. Bokap adalah orang yang paling berjasa membuat saya mencintai Milan. Karena dulu bokap hampir selalu mengajak nonton, membangunkan tengah malam, kalo Milan main di TV, kala itu RCTI yang masih nayangin Liga Italia Serie A. Kenapa bisa seperti itu? Karena bokap adalah penggemar Ruud Gullit dan tim nasional Belanda. Dulu, ketika Milan masih mendominasi Italia dan Eropa dengan predikat The Dream Team-nya, Trio Belanda Gullit – Marco Van Basten – Frank Rijkaard menjadi 3 aktor utama rezim kala itu. Dan saat itu siapa sih yang tidak takut bila berhadapan dengan Milan? Well, mungkin bila dianalogikan masa kini, seperti era Barcelona jaman keemasan Guardiola kali ya? Atau mungkin Real Madrid ketika dijuluki Los Galacticos. Tapi sebenarnya sih tidak, karena Milan dahulu bukanlah tim dengan uang berlimpah dan pemain mahal berseliweran, tapi lebih kepada tim dengan pemain-pemain tepat dan penting pada posisinya, mengingat jaman dulu uang dalam transfer sepakbola tidak digelontorkan seperti sekarang.

Layaknya bayi kucing yang baru lahir kemudian mencari kehangatan induknya, itulah yang terjadi pada saya. Begitu “melek” sepakbola, langsung saya dikenalkan dengan Milan. Dan mau tidak mau, secara alamiah, naturally saya semakin terbiasa dengan baju merah hitam, permainan Milan era Arrigo Sacchi dan Fabio Capello, juga secara naluriah pun, saya jadi mendukung sepak terjang Milan. Saya masih ingat ketika Final Piala Champions tahun 1995, ketika itu Milan harus bentrok dengan Ajax Amsterdam di final, dan disitulah awal mula saya mulai mengekspresikan bentuk dukungan secara riil kepada Milan. Sayang sekali ketika itu gol tunggal Patrick Kluivert membawa Ajax menjuarai kompetisi nomor 1 Eropa tersebut. Tapi meskipun kalah, itu adalah awal mula saya memiliki ikatan batin dengan Milan.

milanajax

Ajax vs Milan, 1995

Setelah itu, selebihnya sejarah. Dari periode 90-an hingga kini, Milan selalu di hati dan tak (akan) ada tim lain yang saya dukung dengan hati dan cinta selain Milan. Oh ya, saya dulu sempat suka Newcastle United di Liga Inggris, ketika saya baru pertama kali kenal sepakbola juga. Tapi itu ga bertahan lama. Luntur seiring berjalannya waktu. Saya tak punya jago lagi, baik di Liga Inggris atau di liga-liga belahan Eropa (dunia) lain, selain Milan. Seperti misalnya, saya kadang malas nonton pertandingan yang mempertemukan tim lain selain Milan, kecuali mungkin partai-partai penting seperti misalnya final kompetisi Eropa. Mendukung Milan juga menandakan saya bukan “glory hunter”, atau mereka yang mendukung suatu tim karena sedang bagus atau naik daun. Ya ga usah disebutkan disini lah ya misalnya apa, haha. In good times and bad times, always Milan always with you. Ah, bahasa Italia nya saya lupa haha. Pokoknya, meskipun Milan turun kasta ke Serie B pun, niscaya cinta dan dukungan saya tak pernah luntur. Tapi amit-amit dah kalo sampe degradasi *ketok meja 3 kali*.

Itulah mungkin yang namanya cinta kali. Udah ga mandang lagi baik atau buruk, cakep jelek, menang kalah, terbang tenggelam, naik daun atau terpuruk, kaya miskin. Begitulah, mudah-mudahan cinta saya kepada Milan ini sama nantinya bila dianalogikan dengan cinta saya kepada istri dan keluarga kelak, haha. Lucunya kalo lagi lebay, saya punya niat ngasih nama anak saya nanti dengan ada unsur-unsur Milan nya. Padahal saya selalu ngeledek kalo ada anak dinamain dengan nama pemain sepakbola, haha.

Mendukung Milan, bisa pula diibaratkan seperti agama. Ups, jangan salah sangka dulu. Maksudnya, saya memeluk agama Islam karena turunan orang tua. Dan saya “memeluk” tim kesayangan juga karena turunan orang tua (bokap). Saya sangat bersyukur akan keduanya, dan saya berharap apa yang telah saya dapatkan dari keturunan ini akan abadi hingga akhir hayat, hehe.

Tagged , , ,