Monthly Archives: November 2014

Mencari Inspirasi di Hari Guru.

IMG_6042

Sebenarnya tulisan ini harusnya sudah selesai dibuat beberapa bulan lalu, bagusnya pasca Kelas Inspirasi Jakarta, haha. Namun mengendap terlalu lama di draft, hingga akhirnya momen Hari Guru kemarin membuat saya merasa inilah saatnya menerbitkannya.

Kalian semua sudah pada tahu Kelas Inspirasi kan? Well, kalau sudah tahu bagus berarti. Kalau belum, ya tidak apa-apa, hehe. Kelas Inspirasi atau KI adalah suatu program dari Indonesia Mengajar (atau turunannya, atau temannya, atau saudara sepupunya, ya begitulah) yang memiliki program mengajar sehari pada hari kerja bagi mereka-mereka yang ingin memberikan inspirasi pada anak-anak sekolah (khususnya anak-anak SD), dan bisa dikerucutkan kembali sekmennya yaitu anak-anak SD menengah kebawah. Itu sih kira-kira yang bisa saya tangkap. Oke, disini saya tidak akan lagi membahas apa dan bagaimana definisi dari Kelas Inspirasi atau yang selanjutnya akan kita sebut dengan KI. Disini saya akan mencoba menggali lebih dalam lagi, apa yang telah saya dapatkan dari keikutsertaan saya sebanyak 2 kali dalam hal berinteraksi dengan anak-anak tersebut dan mengajarkan mereka ilmu sesat mengenai pekerjaan saya.

Segala puji bagi Tuhan, saya sanggup menyelesaikan 2 kali KI yang saya ikuti. Pertama, di kota yang kalian semua sudah pada tahu pasti dan mungkin juga kalian ikut cintai ngebully, yaitu Bekasi. Oke yang mau ketawa or ngeledek saya silakan. Dan yang kedua adalah di Jakarta. Dari 2 kali keikutsertaan itu saya mendapat 2 pengalaman yang berbeda, yang keduanya sama-sama memberikan arti yang besar bagi saya yang merupakan newbie dalam bidang ajar-mengajar ini.

Awalnya, kenapa saya tertarik berada dalam barisan orang yang meluangkan waktunya sehari di tengah hari kerja yang super sibuk untuk bermain bersama anak-anak SD adalah, harus diakui bahwa saya memang bercita-cita menjadi seorang pengajar. Pengajar disini bukan guru ya, melainkan mungkin dosen dan semacamnya. Kenapa begitu? Mungkin ini ada darah keturunan atau genetika dari almarhum ayah saya yang memang dulu berprofesi sebagai dosen, selain juga pegawai negeri. Ga tau kenapa, saya yang pemalu dan pendiam ini ingin sekali meningkatkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain, dan tampaknya mengajar adalah salah satu sarana yang tepat. Lagipula saya ingin memperluas jaringan dan koneksi, menambah teman, menyegarkan otak, tanpa harus memikirkan uang. Artinya, saya punya prinsip kalau saya tidak ingin mencari uang di bidang pengajaran dan semacamnya. Karena memang tujuan saya sebenarnya adalah menyalurkan passion, dan tentunya belajar. Dan, tahukah kalian bahwa mengajar anak SD TIDAKLAH LEBIH MUDAH dibanding mengajar anak-anak remaja atau dewasa? Oke, saya perlu katakan bahwa manis-manis begini saya pernah memiliki pengalaman sedikit mengajar Bahasa Inggris untuk anak SD dan SMP, dan juga menggantikan teman saya mengajar bimbel dan kursus untuk anak SMA, haha. Dan pasca berpartisipasi dalam KI saya menemukan bahwa mentransfer apa yang kita ingin katakan ke dalam bahasa anak-anak adalah tidak semudah yang kita kira. Saya berkali-kali harus memberikan applaus bagi bapak dan ibu guru yang telah sabar dan berdedikasi dalam profesinya sebagai Guru SD. Itu susah bok.

Mari kita tengok sebentar apa yang telah saya dapatkan dalam 2 kali KI yang telah saya ikuti.

1. Kelas Inspirasi Bekasi.

KI ini adalah KI pertama yang saya ikuti. Saat itu saya masih belum tahu apa-apa mengenai KI dan KI Bekasi menjadi titik awal perkenalan saya dengan dunia ajar mengajar anak SD yang (ternyata) menyenangkan itu. Saya tak akan melupakan KI Bekasi dan pengalaman di dalamnya, juga teman-teman yang saya temui di sana. Hingga kini kami masih berhubungan baik dan berkomunikasi, dan kami berjanji akan mendaftarkan diri kembali di KI Bekasi selanjutnya yang katanya akan hadir awal tahun depan. Well, Bekasi meskipun jauh jaraknya di luar planet bumi, ternyata memberikan banyak pengalaman bagi saya. Untuk kalian yang belum pernah atau lupa lagi atau ingin membaca ulang ceritanya, silakan cari di blog saya ini juga.

2. Kelas Inspirasi Jakarta.

Ini adalah chapter kedua dari perjalanan KI yang saya ikuti. KI Jakarta menjadi kawah candradimuka dari pengalaman transfer ilmu dan arti profesi kepada anak-anak SD, dengan kondisi yang agak berbeda dari apa yang telah saya alami di Bekasi. Secara keseluruhan ada beberapa hal yang saya rasakan berbeda antara KI Bekasi dan Jakarta.

Pertama, tingkat kecerdasan dan emosional dari siswa-siswi di sekolah. Terdapat perbedaan antara Bekasi dan Jakarta. Di Bekasi, agak lebih sulit meladeni tingkah polah mereka. Saya sampai mengeluarkan suara yang melebihi kadar biasanya untuk mencoba menenangkan suasana saat terjadi kegaduhan di kelas. Saya ingat betapa capeknya saya dan haus sekali, apalagi ketika mengajar anak-anak kelas 1, 2, 3 dan 4. Untuk kelas 5 dan 6, seiring bertambahnya usia, mereka agak lebih mudah dijinakkan. Hal itu pula yang membuat saya memiliki anggapan bahwa mereka, para Guru SD adalah manusia-manusia yang memiliki kesabaran dan tingkat dedikasi yang luar biasa, karena mengajar anak-anak itu tidak mudah, kawan.

Berbeda dengan KI Jakarta, meskipun saya tidak kebagian kelas 1 dan 2 (kalau tidak salah saya baru kebagian kelas 3 ke atas), namun mereka di kelas 3 dan 4 sudah lebih mengerti dan pintar. Bahkan di salah satu kelas saya menemukan seorang anak yang sudah mengerti arti demokrasi dan semacamnya. Sudah paham mengenai trias politica (eksekutif, legislatif, yudikatif) dan sistem ketatanegaraan sederhana. Saya tidak begitu paham apakah di sekolah sekarang sudah diajarkan mengenai tata negara (yang akhirnya saya dengar memang sudah diajarkan), yang jelas kalau tidak salah ketika jaman saya (jangan menganggap jaman itu terjadi lama sekali ya, haha) nampaknya belum diajarkan. Entah saya yang lupa, atau saya yang ketika pelajaran itu diajarkan tidak masuk. Krik.

Selain itu, KI Jakarta juga mengenalkan saya dengan teman-teman baru dengan profesi yang berbeda-beda dan lebih banyak. Sangat jauh dengan KI Bekasi dimana saya hanya bertemu dengan 5 orang, ada lebih dari 10 pengajar di KI Jakarta dengan latar belakang berbeda-beda. Mulai dari engineer, lawyer, reporter televisi, akuntan, pemasaran, hingga penyanyi yang merangkap fotografer juga ada. Lengkap. Dan saya bersyukur juga berbahagia menjadi bagian dari mereka dalam meramaikan proses belajar mengajar sehari tersebut.

Personil yang banyak membuat kami sempat kesulitan mengatur jadwal dari para pengajar untuk mengajar di kelas. Sempat terjadi satu-dua kali rapat kecil diantara kami sebelum akhirnya jadwal tersepakati. Dan ketika hari H, meskipun saya sudah pernah merasakan atmosfir KI sebelumnya, namun KI Jakarta kali ini memberikan sesuatu yang berbeda. Ya seperti yang saya katakan di atas, suasana dan kondisi geografis juga psikologis anak-anak Bekasi dan Jakarta tidak bisa disamakan. Secara garis besar, kondisi sekolah mulai dari sarana prasarana, jumlah guru dan alat kelengkapan lainnya juga berbeda. Begitulah.

Kelas Inspirasi nampaknya akan terus hadir dan berjalan, dan menurut saya hal ini merupakan terobosan cerdas dari seorang yang bernama Anies Baswedan, yang kini telah menjadi Menteri Pendidikan Dasar, Menengah dan Kebudayaan. Pak Anies telah memberikan suatu warna baru yang kreatif, inovatif dan out of the box. Dimana kami-kami yang notabene bukanlah seorang guru mampu “menyicipi” bagaimana rasanya menjadi seorang guru meskipun hanya sehari. Kami yang juga memiliki satu dan beberapa hal yang bagus dan menarik untu di share (terlebih bagi anak-anak kecil yang masih polos dan diharapkan mampu menjadi penerus bangsa) memiliki kesempatan itu. Dan kami hanya merelakan 1 hari cuti yang kami punya dari kantor untuk bermain dan belajar bersama mereka.

Yang saya pikirkan kali ini adalah, saya ingin mencari suatu hal yang lain yang akan saya ajarkan atau bagikan kepada anak-anak itu bila ada Kelas Inspirasi selanjutnya yang ingin saya ikuti. Bekasi Sang Kota Megapolitan nampaknya akan menggelar KI kembali pada bulan Februari, dan sebagai hometown, kehadiran KI Bekasi wajib hukumnya bagi saya untuk ikut serta, hehe. Omong-omong sudah 2 kali saya mengajarkan mengenai kepemiluan, tata negara, presiden, dan demokrasi kepada anak-anak SD tersebut. Dan menurut saya di kali ketiga nanti saya akan mengajarkan sesuatu yang lain.

Apa ya? Karena profesi saya adalah pekerja negara di bidang kepemiluan, dan bila menilik dari profesi lain saya sebagai dosen pemula juga pebisnis di bidang insurance, hal itu sepertinya akan sulit untuk diterapkan kepada anak-anak SD. Well, mungkin bisa. Namun teknis dan materi pengajarannya harus disajikan dengan tepat. Atau tentang kenotariatan? Selain masih sulit saya temukan formula penyampaian mengenai dunia buat membuat akta, saya juga belum menjadi notaris sehingga saya merasa belum menguasai hal tersebut, hehe. Atau hobi saya saja ya? Bagaimana jika saya mengajarkan mengenai menulis, ngeblog, atau untuk anak-anak cowoknya ngomongin sepakbola? Atau genjrang-genjreng bernyanyi di waktu malam? Halah. Haha. Itulah yang masih saya pikirkan hingga mungkin tiba saatnya nanti saya telah memiliki jawabannya.

Akhir kata, mengutip kata Pak Anies yang sempat saya dengar beberapa hari lalu di televisi, bahwa sudah saatnya kita memberikan keistimewaan lebih kepada guru atau orang yang berprofesi sebagai guru. Dalam apapun pekerjaan kita. Artinya, bila kita adalah pemilik restoran misalnya, maka apabila ada guru yang makan di tempat kita, mungkin kita bisa berikan potongan harga atau makanan gratis, begitulah kira-kira kalau saya tidak salah tangkap, haha.

Selamat Hari Guru untuk para guru se-Indonesia. Jadi guru itu sulit, lho. Dan masih banyak guru yang hidup dibawah garis kesejahteraan, padahal apa yang mereka ajarkan banyak sekali dan manfaatnya sungguh besar bagi pembentukan karakter dan isi otak SDM bangsa ini. Tugas pemerintah untuk lebih memperhatikan guru-guru dan tingkat kehidupannya agar layak, dan mereka juga bisa selalu menjalankan tugas dengan baik. Dan tak lupa pula pembentukan kurikulum materi pengajaran yang tepat.

Advertisements
Tagged , ,