Category Archives: Politika

Catatan 22 Juli.

_8415842852

Banyak yang bertanya pada saya, siapa sih yang bakal menang pemilu? Berapa jumlah akhir perhitungan suara? Kasih bocoran dong, siapa sih yang bakal menang? Penetapan pemenang pemilu besok bakal rusuh ga? Libur apa ga sih tanggal 22 besok? Dimana sih kita bisa lihat hasil perhitungan suara? Kok di website KPU ga ada keterangan hasil perhitungan suara? Emang bener bakal ada pemilu ulang? Itu gimana sih yang pemungutan suara ulang? Kenapa suara gw jadi hilang begini gara-gara perhitungan suara ulang? Gimana sih, perhitungan suara ulang kan buang-buang waktu dan uang? Dan beribu-ribu pertanyaan lainnya.

Pertanyaan dari teman-teman dan kerabat tersebut memang menandakan bahwa publik, rakyat Indonesia, sangat tinggi animonya terhadap Pemilu Presiden (Pilpres) dan Wakil Presiden kali ini. Betapa tidak, Pilpres kali ini memang mungkin menjadi yang paling seru dan menyedot perhatian lebih dari Pilpres edisi-edisi lain yang telah berlalu. Pasalnya, Pilpres kali ini hanya mempertemukan 2 pasang capres dan wakilnya, berbeda dengan episode kemarin-kemarin yang minimal ada 3 pasangan calon. Dua pasang calon berarti head to head, tingkat konfrontasi lebih tinggi, karena hanya ada 2 pilihan. Lo pilih ini, gw pilih itu. Kalo lo ga pilih ini berarti lo pasti pilih itu. Jagoan gw ini, jagoan lo itu. Yang benar ini, yang salah itu. Hanya itu pilihan yang ada. Eh tapi masih ada juga yang milih golput seperti biasa, dengan dalih tidak ada dari kedua calon yang bisa menggetarkan hatinya, atau ga ada yang pas, atau sama aja. Atau sama-sama milih masuk ke mulut buaya atau ke mulut macan. Bila yang masih berpatokan pada fatsun pilihlah yang terbaik diantara yang terburuk, pasti memilih salah satu. Jika ideologinya sudah apatis golput, ya mau bagaimanapun calonnya memang sudah default-nya tidak akan memilih. Jadi itu semua kembali lagi, adalah pilihan dan hak masing-masing warga negara.

Dan berdasarkan jadwal tahapan yang telah dikeluarkan oleh KPU RI, maka pada tanggal 22 esok (hari ini) adalah D-Day siapa yang akan jadi pemenang Pemilu. Ini menjadi hari bersejarah yang akan dipantau oleh ratusan juta rakyat Indonesia juga publik internasional, dan KPU menjadi pusat perhatian sekaligus pemeran utamanya. Kita akan melihat siapa yang akan menjadi Presiden ke-7 Republik Indonesia dan rakyat akan punya pemimpin baru, siapapun yang terpilih. Nomor 1 atau 2 pemenangnya, tandanya ia telah mendapat mandat dari rakyat, amanah dari bangsa dan negara. Dan mereka (pasangan capres dan wakilnya) sudah seyogyanya kita dukung untuk menjalankan roda pemerintahan selama 5 tahun ke depan.

Siapapun yang terpilih, baik itu Prabowo Subianto bersama Hatta Rajasa atau Joko Widodo dan Jusuf Kalla, semua adalah putra terbaik bangsa, dan sesungguhnya fakta tersebut membuat saya sulit memilih, bahkan hingga H minus 1 saya masih belum punya pilihan. Sempat terbesit hasrat untuk menjadi orang bener dengan melakukan sholat istikhoroh dulu sebelum memilih, udah kayak mau milih jodoh, hingga akhirnya saya pada hari H menjatuhkan pilihan. Sungguh pilihan saya bukan didasari oleh alasan-alasan apapun yang sebelum pencoblosan marak beredar. Black or white campaign. Melainkan dengan pemikiran mendalam dan berharap pilihan saya nantinya bisa saya pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan YME (Bimo edisi bener). Namun saya sama sekali tidak masalah bila pilihan saya kalah dan lawannya yang justru menang. Menurut saya, siapapun Presidennya tetap saya taruh harapan di pundaknya. Harapan yang ga muluk-muluk lah, berharap melihat bangsa ini lebih baik aja ke depannya. Dan sungguhlah saya penasaran melihat sepak terjang salah satu dari mereka berdua, karena masing-masing punya karakteristik sendiri.

Kedua calon adalah pilihan terbaik. Dan kalau boleh saya menghimbau layaknya Presiden SBY atau Panglima TNI, maka saya berharap siapapun yang terpilih nantinya, dapat diterima oleh seluruh rakyat dan lapisan masyarakat, baik pendukung nomor 1 dan nomor 2. Karena sesungguhnya, tidak ada yang kalah dari pemilihan ini. Pemenangnya adalah kita, rakyat Indonesia. Karena kita telah berpartisipasi dengan baik dalam gelaran Pilpres ini. Hal itu dapat dilihat dari tingkat partisipasi pemilih yang jauh meningkat dibanding pemilu legislatif bulan April lalu. Malah kalo saya bilang Pilpres kali ini bener-bener pada niat milih ya. Yang ga bisa milih aja pada mau milih. Kebanyakan mereka adalah yang bukan berasal dari TPS asal alias pindahan, anak kos, perantau yang KTP-nya bukan KTP domisili sekarang, yang menurut aturan boleh memilih asalkan memakai form pindah TPS atau yang biasa disebut form A5. Nah minta A5-nya ini ga sembarangan, karena ada mekanisme yang harus diikuti. Ini harus diperhatikan agar hak pilih teman-teman bisa terjaga. Sayangnya banyak yang kelewatan mengetahui cara kerja dan tenggat waktu mendapatkan A5.

Begitulah. Yang penting semua damai dan mendukung siapapun yang terpilih. Agaknya kita masih harus banyak belajar dari Amerika Serikat yang sudah sejak berabad-abad lalu pemilihan presidennya hanya diikuti 2 pasangan calon. Mereka tidak kaget. Berbeda dengan Indonesia yang sepertinya baru mengalami fenomena seperti ini. Kadar bentroknya lebih terasa sehingga, banyak konflik dan intrik yang terjadi pra-pemilihan, ketika pemilihan, bahkan pasca pemilihan hingga sekarnag menjelang penetapan suara. Parahnya, isu akan terjadi kerusuhan tanggal 22 sudah menyebar ke masyarakat yang menurut saya hanya akan menimbulkan keresahan. Isu kerusuhan menurut saya lebih ke arah omong kosong dan hanya menakut-nakuti, karena saya yakin bahwa massa kedua calon telah mendapat pengarahan dari masing-masing capres untuk menahan diri dan tidak berbuat anarkis. Baik Prabowo maupun Joko Widodo adalah negarawan yang tidak akan membiarkan negara yang akan mereka pimpin terpecah belah karena perbedaan pilihan. Saya meyakini itu, karena apabila nantinya terjadi ketidakpuasan, dapat dilakukan upaya hukum sesuai dengan jalur yang ada yaitu gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Di persidangan itu nantinya, para pihak yang bersengketa akan mencari kebenaran dengan bukti-bukti dan saksi.

Jadi, mari kita dukung KPU yang sekarang sedang bekerja untuk menyelesaikan rekapitulasi suara seluruh provinsi, untuk kemudian ditetapkan dan dibacakan hasilnya ketika sudah selesai, siapa yang akan menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI 2014. Siapapun itu, selamat kepada kita rakyat Indonesia sebagai pemenangnya. (BSAP)

Advertisements
Tagged , , , , ,

Coblosan Kemarin dan Kita

5-kekerasan-yang-terjadi-di-tps-saat-pencoblosan

Seperti kita ketahui bersama bahwa tanggal 9 kemarin, kita telah melewati apa yang namanya Pemilihan Umum (Pemilu), dan Pemilu kemarin yang sama-sama kita lalui adalah Pemilu jilid 1, dari 3 jilid (maksimal) yang bisa saja kita alami. Kenapa sampe 3 jilid? Yup, dalam sistem negara kita, Pemilu yang diselenggarakan 5 tahun sekali ini terbagi menjadi (maksimal) 3 jilid: Pertama, Pemilu Legislatif (biasa disingkat Pileg), Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (sebut saja Pilpres) dan yang terakhir, Pilpres Putaran Kedua, jika diperlukan.

Dan sepertinya sudah ga perlu dijelaskan lagi kalau Pileg yang kemarin ditandai dengan tinta biru di kelingking kita masing-masing, adalah untuk memilih Anggota Legislatif yang akan duduk di Gedung DPR/MPR Senayan nanti, selama 5 tahun ke depan. Artinya, kita telah memilih wakil-wakil kita yang pada hakikatnya akan memperjuangkan kebutuhan kita sebagai rakyat, menyambung lidah dan pendapat kita, kritik serta saran, atau aspirasi untuk kemajuan hidup kita berbangsa yang baik dan benar. Hakikatnya lho, ya. Oh, kebijakan publik yang menyangkut hajat hidup kita juga mereka yang akan memperjuangkan. Pokoknya mereka itu bakal jadi orang-orang penting deh. Dan dengan sistem multi partai yang dianut di Indonesia, hal seperti ini adalah suatu keniscayaan. Suka atau tidak suka, kita diharuskan memilih wakil-wakil rakyat yang berasal dari partai politik (parpol). Karena orang-orang dari parpol lah yang akan duduk di kursi parlemen nanti. Hal ini akan kita diskusikan kemudian, hehe.

Singkatnya, kemarin kita memilih orang-orang yang berasal dari parpol. Saya juga paham dan mengerti banget kok, beberapa dari kita itu sudah antipati dengan yang namanya parpol beserta orang-orang di dalamnya. Hal itu lumrah dan ga bisa disalahkan, karena pada kenyataannya parpol sendiri yang membuat nama mereka di mata rakyat jelek. Adanya kasus-kasus korupsi, perebutan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara dan lainnya, membuat orang-orang malas untuk memilih calon anggota dewan. Belum lagi kalo mereka yang sudah duduk empuk di Senayan nanti tingkah polahnya bikin rakyat meringis malesin, misalkan dengan (lagi-lagi) korupsi, mark up uang anggaran, berantem kayak anak TK (kalo minjem istilahnya almarhum Gus Dur), atau yang sederhana tapi bikin kesel adalah, jalan-jalan ke luar negeri dengan dalih studi banding. Ah, sama suka bolos rapat tapi terima duit! Apalagi? Pas rapat malah tidur, atau malah nonton video bokep.

214416_620

Oke, tapi kembali lagi, kita harus memilih. Mungkin banyak dari kalian yang kemarin ga milih alias golput. Well, saya sih lagi-lagi ga bisa menyalahkan, karena apabila saya mendengar alasan teman-teman saya, semua masuk akal dan bisa dipahami kok. Karena tidak punya pilihan, itu alasan paling logis. Karena ga kenal siapa calon-calonnya dan bagaimana track recordnya, masuk akal banget. Dan sekali lagi saya atau siapapun tidak bisa memaksa karena hal itu merupakan hak azasi masing-masing. Tapi bagi mereka yang kemarin telah sukses dalam menentukan pilihan dan (akhirnya) memilih, bukan merusak kertas suara lho ya, hehe, saya ucapkan selamat karena anda telah turut menyukseskan pesta demokrasi.

Apapun yang kita pilih, mudah-mudahan itu yang terbaik bagi bangsa ini. Kalau alasannya tidak tahu mana calon yang baik, saya kira sekarang banyak link-link yang memberikan informasi mengenai siapa-siapa saja calon yang baik, bersih dan berintegritas. Apalagi di tengah gemerlap dunia sosmed dewasa ini, membuat informasi seperti itu cepat menyebar. Kalau alasannya semua calon sama saja? Well itu saya ga bisa intervensi lebih jauh lagi, semua kembali ke hati nurani kalian semua.

Bagaimana kalo alasannya tidak ada pilihan? Nah ini menarik. Ini yang semacam dinamakan golput karena pilihan. Ah, nanti kapan-kapan kita diskusikan yuk apa itu golput karena pilihan, hehe. Bagi saya, tidak ada pilihan sebenarnya menjadi problematika diri saya menjelang pencoblosan kemarin. Terus terang saya ketika Pileg kemarin tidak punya pilihan, karena kalaupun ternyata saya punya pilihan, itu berada di Daerah Pemilihan (Dapil) lain. Namun pada akhirnya saya memilih juga, dan saya memilih untuk tidak mencoblos individu atau nama orangnya (alasannya ya saya ga kenal orang tersebut) namun saya mencoblos parpol, hehe.

parpol-di-hsu-tolak-pencoblosan-ulang-rev-1

Saat ini, Komisi Pemilihan Umum sedang menggelar gawean akhir yaitu penghitungan suara skala nasional, dan pengumuman siapa-siapa saja yang akan duduk di Senayan nanti atau di kursi daerah akan ditetapkan pada tanggal-tanggal yang telah ditentukan. Publik pun menanti-nanti, apakah pilihan mereka kemarin berhasil lolos atau tidak. Dan para calon tentunya juga dag dig dug merencanakan langkah selanjutnya. Apakah menggelar syukuran atau malah pergi ke rumah sakit terdekat, hehe.

Namun yang mau saya garis bawahi disini adalah, implikasinya bagi kita. Kini kita sudah selayaknya kita yang telah dewasa dan paham akan konsekuensi pilihan kita mengawasi mereka yang duduk disana, apakah nanti tetap pada jalurnya. Sesuai atau tidak dengan amanat yang diberikan atau malah nyeleneh. Mari kita jadikan Pemilu kali ini bukan hanya rutinitas 5 tahunan belaka, seremonial hura-hura dan menghamburkan uang negara, namun bagaimana esensinya semakin banyak negara ini menggelar pemilu, semakin baik pula kualitas pemimpin dan wakil rakyat yang dihasilkan. Terdengar naif dan normatif memang, tapi apa lagi hal terbaik yang seharusnya kita lakukan?

Satu lagi, suara kalian teman-teman masih kita harapkan untuk diberikan pada saatnya nanti, Pemilu Presiden dan Wakil Presiden yang sedianya dilakukan pada bulan Juli. Kini, para Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden sedang sibuk melakukan komunikasi politik dan manuver-manuver yang sering kita dengar dengan bahasa “koalisi”. Pada akhirnya, bila telah seia sekata dan sejalan mereka akan mendaftar secara resmi di Komisi Pemilihan Umum dan gambarnya akan dicetak di surat suara untuk kita coblos kembali.

Selamat berdemokrasi semua.

Tagged , , , , , ,
Advertisements