Monthly Archives: April 2015

[Flashback] – MY ROCKIN WEEKEND! (Java Rockin’Land 2013) @ Carnaval Beach, Ancol 22 & 23 June 2013.

Javarockingland_2013

Attention: Tulisan ini bakal (sangat) panjang, dan review ini merupakan flashback dari event yang terjadi sekitar 2 tahun lalu (catatan: JRL 2014 ditiadakan).

Well, 2 hari weekend kemarin, saya baru saja merasakan salah satu konser paling berkesan dalam hidup saya. Bukan karena konser tersebut adalah Java Rockin’Land, karena memang, JRL adalah konser musik yang rutin saya sambangi saban tahun. Mulai dari 2009, dimana pada saat itu MR. BIG yang tampil, kemudian tahun 2010, ketika itu The Smashing Pumpkins dan Stereophonics yang manggung. Tahun 2011 dimana Thirty Seconds To Mars berhasil mengguncang Jakarta bersama The Cranberries. Sayangnya, di tahun 2012 JRL urung diadakan. Dan di tahun 2013 ini, kembali hadir.

Kenapa berkesan? Karena saya hanya membayar kurang dari 100 ribu rupiah untuk menikmati penampilan band legendaris Collective Soul dan band yang hits di era 90-an Sugar Ray, dan banyak lagi. Terutama, band Indonesia yang “kumpul” dan mereka semua adalah favorit saya dan saya mengoleksi kasetnya dulu. Sebut saja GIGI, /rif, PAS Band, bahkan ada Padi KW Super (haha) dalam bentuk Musikimia. Itulah yang membuat saya tertarik! Sebentar.. 100 ribu kurang itu kalau bisa dinominalkan dengan pasti yaitu hanya sebesar 82.500 rupiah saja, hehe.

Kenapa bisa segitu? Cerita berawal di suatu malam dimana saya mendapat pengumuman di Twitter, bahwa JRL 2013 akan segera diadakan, dan salah satu performernya adalah Collective Soul! Wow, saya ingat dulu di kamar kakak saya, saya suka banget nyetel album Collective Soul yang 7 Year Itch. Dan kaset itu adalah salah satu kaset favorit saya, dan saya berkesempatan see them live. Nah besoknya, saya melihat announcement di Twitter yang menyatakan tiket JRL sudah bisa dibeli. Dan ketika saya lihat, early bird awal (banget) hanya seharga 75 ribu rupiah! Haha.. Ditotal total dengan pajak hanya menjadi 82.500 dan tanpa tedeng aling aling ya saya pesan saja.

Day 1 (22 June).

Singkat ceritaa, saya sudah berada di perjalanan datang bersama teman saya. Dan menurut jadwal, di hari pertama (tanggal 22) akan perform Collective Soul as main artist, dan Sixpence None The Richer. Juga untuk band Indo, nama seperti Cherry Bombshell, band Indie jaman dulu yang (ternyata) belum bubar yang menjadi incaran saya. Namun sayang sekali, Cherry Bombshell tidak bisa saya saksikan karena, ya saya baru masuk venue pasca magrib, hehe.

Jadi saya dan teman saya sudah sampai ketika sore hari, namun karena makan dulu biar ga kelaperan di dalem dan juga magriban dulu, jadi pasca sholat di Ancol Mall sebelah Carnaval Beach, kami baru masuk. Dan ketika sampai dalam, Edane sedang perform. Kesan pertama yang tampak di JRL kali ini adalah, venue agak sedikit lebih sempit dari tahun-tahun sebelumnya (apa karena ada jeda setahun mungkin ya), dan audiens tidak terlalu banyak (oke mungkin masih sore). Namun, saya tetap berharap JRL kali ini dapat memberikan kepuasan tersendiri.

Oke, Edane tampil dengan vokalis baru yang saya tak tahu namanya, dan seperti biasa Eet Sjahranie menjadi motor dari band tersebut. Lagu-lagu band tersebut yang saya tak tahu judul-judulnya sempat membuat saya menghentak-hentakkan kaki, sebelum saya tertarik ke venue lain yang kebetulan dekat dengan stand beverages. Oke, disana sedang tampil Morfem.

Morfem yang kebetulan drummer nya adalah kakak dari teman saya seperti biasa tampil menghibur. Apalagi kalo bukan sang vokalis, Jimi Multhazam yang membuat penampilan band tersebut lucu dan penuh banyolan. Jimi yang eks pentolan The Upstairs sangat interaktif dengan penonton, dengan gaya bernyanyi nya yang pecicilan namun tetap dengan kualitas vokal prima, mampu membuat semua orang yang menonton penampilan Morfem menjadi betah. Meskipun agak asing dengan lagu-lagu mereka, namun setelah 2 kali menonton penampilannya (pertama kali ketika konser Blur), Morfem cukup menarik perhatian saya dan aksi panggung mereka pantas diacungi jempol.

Setelah Morfem usai, saya dan teman melihat buku panduan JRL untuk melihat jadwal tampil selanjutnya. Dan guess who, SORE yang selanjutnya siap sedia untuk ditonton. Wow, segera saya tertarik untuk melihat performance mereka, karena Sore adalah salah satu band indie yang bagus dan berkualitas. Dan tentunya, selama ini saya belum pernah menonton performance mereka. Hal ini membuat saya menjadi semakin penasaran dan tak tertahankan untuk menonton Sore (lebay). Akhirnya saya dan teman menuju Dome Stage, yaitu panggung indoor di belakang main stage untuk menonton performance Sore. Dome Stage ini dulunya ada tribun duduk tempat penonton menonton dari atas, namun sekarang tangga untuk akses ke lantai tribun telah ditutup, dan akhirnya kami berkerumun di depan panggung hall yang jaraknya lebih dekat dari stage biasa diluar.

Dome Stage ini memang sepertinya khusus untuk musik rock yang agak lembut dan tidak menimbulkan kebisingan yang terlalu. Tapi ga juga ding, pas JRL tahun berapa itu ada Roxx musiknya kenceng banget juga main di Dome haha. Jadi ya kesimpulan saya itu ga bener lah ya. Singkat kata, Sore tampil dengan ciamik dan benar-benar membawa penonton ke dimensi lain pertunjukan musik rock (halah).. Dan yang saya baru tahu adalah, Sore semua personilnya itu kidal semua ya. Dan ada 3 additional playernya juga, ya ya. Maklum saya baru liat performance nya. Dan kesimpulan setelah saya melihat performance nya adalah, ciamik! Mereka berhasil membawakan lagu-lagu mereka yang pastinya tidak mainstream dengan kualitas dan skill terbaik, dan pastinya membuat penonton riuh dan bernyanyi bersama. Mungkin disinilah kekuatan Sore, memberikan warna musik yang berbeda dari musik kebanyakan, namun tetap pada kualitas yang dimiliki. Dan hal paling esensial yang saya tangkap dari kehadiran Sore di blantika musik (indie) Indonesia adalah, kemampuan mereka untuk menciptakan musik yang memiliki nuansa beragam, dan bermacam-macam hingga terkadang kita mengira bahwa itu bukan dibawakan oleh Sore. Keren!

Setelah Sore selesai membawakan lagu terakhir, saya keluar untuk mencoba melihat yang terjadi di stage utama di depan. Oh, ternyata ada sebuah band lawas yang bernama Sucidal Tendencies bersiap untuk perform. Well, sejujurnya saya tak terlalu mengenal band tersebut. Band lama itu sepertinya legend dan punya nama di blantika musik internasional. Itu bisa terlihat dari animo penonton yang membanjiri stage utama, padahal personil band tersebut belum muncul di panggung. Setelah muncul penonton mulai rusuh mengiringi jenis musik band asal California tersebut. Dan jenis musiknya, harus saya akui bahwa jenis musik crossover metal tersebut (begitulah sebutannya) ga masuk di telinga saya haha. Saya penggemar semua jenis musik, tapi jenis musik yang seperti teriak-teriak itu saya sepertinya ga bisa menikmati, hehe. Mungkin Slipknot dengan teriak-teriaknya masih bisa saya ikuti.. Tapi yang ini meskipun agak mirip Slipknot kok ga masuk ya. Apa mungkin karena usia saya yang telah menua *halah*

Pokoknya Suicidal Tendencies membuat warga JRL 2013 bersuka cita. Mereka menampilkan aksi panggung yang dahsyat yaitu mengajak para penonton untuk naik ke atas panggung. Bukan cuma 1, 2 atau 3 orang, melainkan banyak! Ya, dan para fans yang berhasil menaiki stage langsung bernyanyi dan berpesta bersama vokalis Mike Muir yang berciri khas memakai bandana. Saya ga tahu lagi sisa ceritanya seperti apa, karena saya sudah bergegas masuk ke Dome Stage lagi untuk menonton penampilan sebuah band yang menurut saya berkelas untuk ukuran band Indonesia, yaitu Efek Rumah Kaca. Yap, ERK akan manggung dan saya yang belum pernah melihat langsung performance mereka, berniat sekali untuk menyaksikannya secara langsung. Dan tentu saja, ERK menampilkan kualitas musik yang mumpuni dan berhasil menyedot massa JRL yang cukup banyak. Sebelum tampil penonton ternyata sudah memenuhi hall, ada yang sudah berdiri di bibir panggung dan banyak pula yang masih duduk di lantai. Dan ketika MC mulai announce siapa band yang akan tampil berikutnya, penonton segera berdiri dan menghampiri panggung, dan ERK muncul membawakan lagu-lagu yang cukup akrab terdengar di telinga. Dengan sayatan gitar melengking dan tata cahaya yang apik membuat lagu-lagu ERK yang bernuansa gloomy dan gelap menjadi lebih terasa auranya. Cholil sang vokalis yang tampil dengan menggunakan kemeja tampak menghayati sekali dalam menyanyikan lirik-lirik lagu mereka yang tak jarang diikuti oleh koor penonton. Sayang sekali saya tak sampai selesai menyaksikan ERK mengguncang Ancol, dan tak sampai pula berdendang bersama menyanyikan Kenakalan Remaja Di Era Informatika dan lagu-lagu lain, karena menurut jadwal dan jam di tangan saya, Sixpence None The Richer akan segera tampil.

Well, saya bukan penggemar Sixpence. Dan telah lama band tersebut vakum sehingga saya pun tidak mengetahui lagu-lagu terbaru dan perkembangan musik mereka. Namun sebagai penggemar musik dan pengamat musik amatiran *gaya*, saya ingin melihat penampilan band internasional yang dahulu ngehits abis dengan Kiss Me nya tersebut. Kiss Me itu jaya-jaya nya banget di jaman SMA saya. Dawson’s Creek adalah serial yang pertama kali mempopulerkan lagu tersebut. Belum lagi ketika Freddie Prinze Jr. dengan filmnya She’s All That menggunakan lagu tersebut sebagai soundtrack nya. Dan saya mengharapkan klimaks ketika Sixpence membawakan Kiss Me, atau bahkan There She Goes, atau Don’t Dream It’s Over. Atau malahan saya berharap Leigh Nash sang vokalis membawakan lagu dari single solo album nya yang paling saya suka, I Need To Be Next To You, kalo ga salah dari soundtrack film juga, yaitu Bounce. Ah, saya masih hapal lho ini ga ngeliat Wiki, haha. Kenapa? Karena itu semua muncul di tahun-tahun keemasan saya dulu ketika sekolah, hehe.

Jadi pada intinya, Sixpence mulai tampil dan yang saya masih bingung, kok band macam Sixpence ini diundang ke JRL bisa ya. I mean, come on, memang sih mereka kalo kita lihat di beberapa sumber, genre nya memang rock, pop rock. Namun, saya rasa mereka bukanlah band yang tepat untuk diundang ke JRL. Tapi biarlah, mungkin panpel punya penilaian sendiri. Kita langsung bahas performance nya saja.

Oke, Leigh Nash beberapa kali mengeluh betapa panasnya cuaca Jakarta, dan bagaimana mereka masih kelelahan karena jetlag dan baru sampai beberapa jam sebelum mentas. Dan Nash beralasan bahwa karena alasan itulah mereka tampil agak di bawah standar atau biasa-biasa saja di JRL malam itu. Nash yang tampak sedang hamil membawakan lagu-lagu bertempo pelan agak sedang, dan tentunya penonton yang kebanyakan awam dengan lagu-lagu Sixpence, kecuali Kiss Me, sekali lagi, hanya bisa mengikuti sambil menggoyang-goyangkan kaki, atau mengangkat talenan dan handphone mereka masing-masing untuk memoto dan merekam. Nash yang menggunakan baju dress hijau tampak masih memiliki suara khas, meskipun sound tidak terlalu bagus terdengar. Dan Kiss Me pun mereka bawakan di lagu ketiga, hehe. Saya pikir kan lagu jagoan ditaroh di terakhir. Mungkin Sixpence buru-buru mengeluarkan lagu terkenal mereka karena melihat animo penonton yang adem ayem saja, dan kalo ga dikeluarin lagu yang mereka tahu, akan bubar lama-lama, hehe.

Radio, dari album baru mereka yang saya cukup tahu juga dibawakan. Dan There She Goes ditempatkan di urutan agak belakangan. Well, saya agak menyayangkan penampilan Sixpence yang minim apresiasi. Saya pikir kalau dibuat parameter penilaian, Sixpence yang tampil di JRL 2013 bisa dibilang agak mengalami kegagalan. Hingga mereka menyanyikan lagu terakhir pun, saya sudah berada di stage sebelah. Menantikan Ed Rolland dan Collective Soul. Dan saya hanya bisa melihat salam perpisahan Nash dan kawan-kawan dari layar besar sebelah panggung. Tak ada Don’t Dream It’s Over atau Need To Be Next To You yang dibawakan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Oke tak apa, karena Collective Soul sebagai pemuncak JRL 2013 hari pertama akan bersiap tampil. Meskipun tidak sepenuh orang mengantri penampilan artis di JRL-JRL sebelumnya, namun band jadul yang album the best of nya saya gemari hingga kini tersebut ternyata tampil dengan kekuatan penuh dengan hits-hits nya yang berkekuatan penuh pula (kecuali Perfect Day) dan overall penampilan mereka cadas! Pertama kali Ed muncul dengan menggunakan jubah berwarna putih, so classy dan elegan. Menggebrak dengan hits pembuka, yaitu soundtrack dari Twilight, Tremble For My Beloved, Collective Soul ditemani tata lampu yang megah dan membuat pertunjukan semakin gemerlap. Ed yang semakin menua tidak kelihatan lelah dalam menjelajahi panggung dan meskipun lengkingan suaranya agak kurang seperti dulu, namun karakter suara dalam dan berat tak pernah hilang.

Beberapa saat penonton masih terdiam, entah takjub atau tak tahu lagu atau lupa lirik dari lagu-lagu yang dibawakan, sementara lagu-lagu di album the best 7 Year Itch mulai dihadirkan satu persatu membuat saya bergoyang sendiri, dan bule di belakang saya juga sepertinya mengikuti dengan baik. Memang bule memiliki sense of music lebih baik sedikit dari orang Indonesia yang kebanyakan mementingkan dokumentasi dan narsisme, hehe.

Kemudian berturut-turut Heavy, Listen, December dan Gel dibawakan dan sontak gemuruh mewarnai tanah Pantai Carnaval malam itu. December sebagai salah satu lagu galau tapi gagah milik Collective Soul kemudian sempat menguras emosi para penonton. Setelah koor December, kemudian lagu yang sedikit menghentak, Gel, dibawakan. Gel sempat membuat saya dan audience yang lain lompat-lompat dan agak mengeluarkan peluh sedikit (buat pemanasan, hehe). Dan setelah Gel, Ed tampaknya ingin sedikit slow down dengan She Said. Dibawakan dengan sedikit berakustik ria, lagu ballad ini masih memiliki power dan membuat saya ikut bernyanyi, meskipun agak sedikit di twist di irama reffrain oleh Ed dan kalo yang ga biasa memandang agak sedikit aneh jadi iramanya, namun tetap asik didengar dan dinikmati. Setelahnya, tempo dinaikkan kembali dengan Why Pt. 2. Lagu yang entah kenapa diberi titel “bagian kedua” ini memang asik buat lompat-lompat. Dengan irama heavy rock yang kencang dengan distorsi gitar di intro yang menjadi ciri khasnya, lagu ini sempat mendapat apresiasi cukup meriah dari penonton bagian depan yang histeris dan lompat-lompat seperti layaknya di Woodstock. Why Pt. 2 sukses menjadi lagu yang menghebohkan untuk kemudian disusul dengan Where The River Flows.

Dengan nuansa merah dari tata lampu dan lengkingan vokal Ed yang masih bertaji, lagu ini cukup membuat Pantai Carnaval gerah. Tak berapa lama setelah dibuat ‘panas’, lagu selanjutnya sangat menyejukkan, apalagi kalau bukan Compliments, disusul dengan Needs. Setelah lagu selanjutnya, Hollywood dan Better Now dibawakan, tibalah giliran Run. Soundtrack Varsity Blues tersebut dibawakan dengan versi akustik yang membuat seluruh penonton bernyanyi. Woy, ini lagu jaman gw SMP haha. Setelah puas bernyanyi bersama Run, setlist beralih ke lagu selanjutnya, dan ini adalah lagu favorit saya juga, Precious Declaration! Haha.. Lagu yang menurut saya menjadi lagu paling enerjik dari Collective Soul ini dibawakan dengan apik dan tata lampu yang bagus. Hal ini membuat Ed terlihat bersemangat sekali dan penonton pun mulai terbakar kembali semangatnya.

Setelah itu, The World I Know dibawakan, dan selesailah sudah. Collective Soul menghilang ke backstage, seakan semuanya usai. Namun, it’s part of the show dan kita tahu itu adalah pancingan agar semua penonton berteriak encore. Dan ketika encore encore sudah mulai dikumandangkan, lagu yang hadir sebagai pembuka adalah Counting The Days, untuk kemudian ditutup dengan, well apalagi kalau bukan, Shine.

Shine yang menjadi lagu penutup benar-benar menjadi klimaks. Saya sendiri sebagai “pelanggan” setia Java Rockin’land dari tahun 2009 baru kali ini merasakan atmosfir encore dengan lagu penutup semacam Shine. Lagu yang menjadi icon lagu rock di tahun 90-an tersebut benar-benar membius seluruh penonton yang hadir di malam itu. Ed pun nampak santai membawakan lagu tersebut dengan memainkan intro nya dengan gitar akustik terlebih dahulu, untuk kemudian disambut gerungan rhythm dan hentakan drum. Intro yang familiar itu pun akhirnya terdengar juga hingga ke langit Jakarta, dan kami semua bernyanyi dan berteriak “YEAH!” bersama-sama. Tak lupa dengan lirik “Heaven let your light shine down” yang menjadi hymne kebangsaan musik rock di generasi nya. Konser yang menarik, baik dan enerjik dari Collective Soul. Setelahnya mereka berpamitan dan kami semua, well saya tepatnya, pulang dengan perasaan puas dan telinga agak penging haha.. Karena posisi saya ketika nonton tepat berada di sebelah speaker besar panggung, hehe. Saya pulang, tidur dan bersiap untuk JRL hari kedua.

Day 2 (23 June).

Hari kedua, diwarnai dengan beberapa performance dari band Indonesia yang kebetulan saya suka dan memang saya tunggu penampilannya. Meskipun band Indonesia kata orang kebanyakan adalah “biasa”, tapi bagi saya menonton penampilan langsung mereka menjadi kepuasan tersendiri yang tidak ternilai. Memang cukup hanya 2 sampai 3 kali saya menonton mereka tampil, sekedar untuk merasakan aura performance mereka dan mendapat values “oh saya sudah pernah liat penampilan live mereka”, namun pada festival semacam ini dimana kita telah membayar untuk melihat mereka tampil, setiap performance yang ada wajib dinikmati.

Hari telah sore ketika saya datang dan yang sedang berada di atas panggung adalah Pas Band. Seperti biasa, band yang telah memiliki nama besar dan basis massa sendiri ini atraktif mengguncang panggung dibawah sinar matahari (masih) sore yang cerah. Yuki sebagai vokalis yang dikenal komunikatif sangat menyenangkan, membuat jarak Pas Band dengan penonton menjadi lebih dekat. Lagu-lagu mereka pun dibawakan dengan apik. Kesepian Kita menjadi lagu yang membuat semua penonton bernyanyi. Dan lagu andalan saya dikala mereka manggung, Jengah, menjadi momen puncak kepuasan saya terhadap grub band asal Kota Kembang itu. Pas tampil sebagai pembuka yang enerjik dan cukup memanaskan suasana, hingga akhirnya band yang saya tunggu-tunggu penampilannya hari itu bersiap tampil di panggung sebelah, yang ukurannya lebih besar.

gigi

Armand Maulana dan kawan-kawan, atau yang lebih dikenal dengan GIGI memang seyogyanya tampil sore menjelang maghrib di stage utama tempat artis-artis prime time tampil nanti malam. Well, meskipun telah beberapa kali melihat GIGI live, dan tentunya sudah tidak asing lagi dengan penampilan mereka, namun penampilan 4 orang yang menjadi band favorit saya itu tetap sayang untuk dilewatkan. Kekuatan utama GIGI yang tidak membuat orang bosan adalah aksi panggung Armand yang sama sekali tidak monoton. Gaya komunikasi Armand pun menyenangkan, dan menurut saya menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia. Skill para pemainnya juga mumpuni, dan yang terpenting adalah GIGI selalu membawakan lagu-lagu mereka dengan aransemen berbeda setiap manggungnya. Masih ingat dalam ingatan ketika mereka menjadi band jazz saat tampil di Java Jazz beberapa tahun silam. Dan perform di festival rock macam JRL mungkin seakan membawa kembali mereka ke habitatnya. Armand, Dewa Budjana, Thomas dan Hendy masing-masing memiliki skill di atas rata-rata, dan itu yang membuat GIGI selalu dinanti penggemarnya, termasuk saya.

Hampir 1 jam lamanya sing along, menikmati “konser mini” GIGI. Tidak ada yang berubah, set list berisi lagu-lagu yang itu-itu saja. Diantara sekian banyak lagu GIGI yang saya tahu, jarang saya menemukan lagu-lagu “asing” yang biasanya hanya terdengar dari kaset-kaset GIGI yang saya koleksi. Memang berbeda ketika kita memilih lagu-lagu yang akan dibawakan secara live, tentunya harus lebih menjual. Bila kita ingin membawakan lagu-lagu baru pun yang orang belum banyak tahu, itu hanya terjadi biasanya di konser promo album. Intiya, GIGI tampil hingga maghrib tiba. Armand seperti biasa, rocks!

Setelah selesai sholat maghrib, saya kembali memasuki arena dan memburu band yang ingin saya lihat selanjutnya. Jadwal menunjukkan bahwa saat itu sedang berada di salah satu stage, band yang juga menjadi kesukaan saya, /rif. Ketika saya sampai, Andy dan rekan-rekannya tengah membawakan suatu lagu. Seperti biasa, performa /rif mencengangkan dan menjadi salah satu yang terbaik. Yang saya suka dari /rif adalah pemilihan kostum mereka setiap kali live. Dan bicara skill juga tidak salah tempat. Magi sang drummer masih menjadi salah satu yang teratraktif, dan Jikun sebagai “twenk-twenker” (saya ingat istilah itu didapat dalam lembar kaset album /rif yang bertitel Nikmati Aja), kerap mengingatkan saya pada sosok Slash (secara dandanan, minimal).

Meskipun /rif telah beberapa kali mengganti personil mereka, tidak ada lagi Iwan sang bassis yang tambun dan kocak, namun mereka tidak kehilangan tajinya. Denny yang dulu lebih kalem telah tiada dan penggantinya, Ovy, menurut saya sungguh cadas. Ovy menjadi sosok yang menyeramkan di atas panggung dengan dandanannya yang mirip dengan personil Marilyn Manson atau Guns N’ Roses era masa kini. Dan Andy sebagai frontman juga makin matang kualitas suaranya. /rif, sudah tidak ada sanggahan lagi mengenai bagaimana mereka mentransfer lagu-lagu yang dibawakan ke telinga dan visual penonton.

Kalau tidak salah saat /rif manggung juga hadir Gubernur DKI Jakarta saat itu, Joko Widodo. Jokowi datang menonton dan saya tahunya ketika Andy berteriak “Selamat datang Pak Gubernur”. Oke, sekedar selingan, sudah 2 kali saya menonton konser bersama Jokowi. Yang pertama JRL ini dan yang kedua saat Metallica hadir di GBK. Dan rasanya? Biasa saja sih, wong Pak Jokowi juga jauh dari tempat saya berdiri, hehe. Dulu sempat punya pikiran ketika ada seorang Gubernur yang gemar menonton musik rock, apakah suatu saat bisa sebelahan di kerumunan crowd? Well, agak naif juga mengingat pasti Gubernur nonton pun dikelilingi ajudannya. Oke, skip andai-andainya. Yang jelas penampilan /rif ketika itu seperti biasa, awesome. Dan menariknya, /rif hadir dengan setlist yang agak tidak umum seperti biasanya. Beberapa lagu cover dibawakan mereka, bukan hanya hits-hits standar. Hal ini menjadi menarik karena sebagai penonton, kami jadi tidak bosan. Tapi memang beberapa lagu andalan dibawakan, seperti Radja, dan Loe Toe Ye pasti hadir sebagai penutup, dan lagu favorit saya, Jeni!

Sekitar 1 jam waktu yang diberikan bagi barudak-barudak Bandung itu untuk mengguncang stage dan mereka seperti biasa melakukannya dengan “berkelas”. Penampilan apik dari Andy dan kawan-kawan memang seakan sudah biasa, namun juga kita tidak bosan dibuatnya. Dan setelah kelar menyaksikan Andy dan kawan-kawan, tibalah untuk melihat schedule selanjutnya dan terlihat Musikimia, band jelmaan Padi yang saya puja-puja akan manggung di Dome Stage pukul 21.00. Karena masih ada sekitar 1 jam lagi berselang, maka saya memutuskan untuk menghadiri penampilan Endah N’ Rhesa. Well, saya bukan penggemar mereka, namun musik yang dibawakan 2 orang ini bagus. Dan ketika saya datang ke stage, mereka masih check sound dan konsep tata panggung yang dibawakan adalah santai dimana banyak audience yang duduk di bawah pohon dan ngampar saja begitu di tanah, yang pacaran ya pacaran yang nongkrong sama teman-temannya juga bisa, hehe. Tidak lama kemudian saya segera ke Dome karena Musikimia akan segera memulai pertunjukan.

Musikimia

Agak aneh sekaligus senang, juga takjub melihat Fadly dan kawan-kawan setelah sekian lama. Dan yang menyedihkan adalah sang pemain gitar bukanlah orang yang selama ini membuat musik Padi begitu terkenal ke seantero Indonesia. Yup, bukanlah Piyu yang menyayat Les Paul namun saat ini (harusnya) Stephan Santoso, yang biasanya berada di balik layar kini menjadi gitaris Musikimia. Kenapa harusnya karena saat itu pula yang berada di stage adalah additional player karena Stephan berhalangan hadir.

Musikimia adalah project dari para personil Padi (minus Piyu dan Ari) untuk mengisi kekosongan, atau mungkin upaya membuat dapur mereka tetap mengebul. Padi yang entah bagaimana rimbanya kini memang meninggalkan banyak fans, dan Musikimia sebagai Padi kawe membuat para fans (termasuk saya) penasaran. Namun jangan menyamakan Musikimia dengan Padi karena mereka mencoba konsep baru yang pastinya berbeda dengan Padi. Musikimia hadir dengan membawakan lagu-lagu bertema perjuangan dan cinta Tanah Air (saya juga kurang paham maksud di balik ini), tetap dengan nuansa rock. Dan satu yang mengejutkan adalah ketika mereka membawakan Bidadari, single pertama di album pertama Padi, Lain Dunia, yang benar-benar mengejutkan kita semua. Sesaat terasa Padi yang perform di depan saya dan memunculkan kembali kenangan-kenangan lama juga histeria. Well apapun itu, semoga masih ada kemungkinan para Sobat Padi bisa melihat kembali band pujaan mereka berkiprah di blantika musik Indonesia. Meskipun bila dilihat kini, kemungkinan itu terasa menjauh kembali (setelah sempat dekat karena Yoyo telah lama sembuh), namun ditangkapnya Ari juga karena kasus narkoba kembali mengecilkan harapan para Sobat. Yasudahlah, sukses buat sisa personil Padi yang masih bertahan dengan project Musikimia mereka.

Sekitar 1 jam Musikimia tampil, saya segera mengingatkan diri bahwa akan ada artis Internasional utama yang bakal perform di main stage. Mereka adalah Sugar Ray. Well saya sama sekali bukan penggemar Sugar Ray, namun band yang dulunya pernah mewarnai masa-masa sekolah saya dengan lagu-lagunya yang cukup terkenal seperti Every Morning, Someday, dan When It’s Over itu adalah performer utama di JRL hari kedua ini. Saya yakin pun bahwa kebanyakan massa yang berkerumun depan panggung juga bukan merupakan fans mereka, terkecuali mereka yang memang menjadi anak 90-an seperti saya hehe.

64460_large

Sugar Ray terkenal dengan vokalisnya yang mentereng dan banyak gaya, atraktif, lincah dan juga lucu bernama Mark McGrath. Kalau bukan Mark yang menjadi frontman, tentunya Sugar Ray akan garing. Dan Mark benar-benar mampu membawa suasana menjadi hidup dengan banyolan-banyolannya sepanjang performance. Saya masih ingat dulu Mark benar-benar menjadi sorotan di Sugar Ray. Kalau ga salah sempat main film juga dia. Dan malam itu kelucuan Mark timbul lagi dan yang paling saya ingat adalah ketika ia mengomentari stage sebelah yang sedang memainkan lagu-lagu death metal dengan suara vokalisnya yang menggeram, haha. Malam itu pula Sugar Ray membawakan hampir semua lagu-lagu hitsnya dan yang paling bikin penonton bergoyang ya lagu-lagu standar mereka yang terkenal macam Every Morning dan Someday. Oh ya, saya suka Falls Apart. Overall penampilan Mark dkk standar saja dan nilai plus datang dari usaha Mark yang coba lebih menghidupkan panggung.

Ada satu insiden dimana gitaris mereka throw up di tengah pertunjukan, katanya sih karena kepanasan manggung di Jakarta, haha. Memang bagi orang bule panas banget ya main outdoor di Jakarta? Kemarin juga vokalis Sixpence mengeluh kepanasan. Welcome to the jungle kalau begitu. Oh ya, kejadian gitaris Sugar Ray muntah juga seperti menjadi show tersendiri dan cukup membuat penonton riuh hehe.

Sekitar satu setengah jam Sugar Ray manggung dan akhirnya selesai pula, saya langsung melihat jadwal dan menemukan Andra & The Backbone yang sudah tampil di Dome Stage. Wow, saya belum pernah pernah melihat langsung penampilan mereka, jadi saya putuskan untuk mengejar aksi panggung mereka namun sayangnya ketika saya sampai, mereka telah membawakan lagu terakhir. Ah sial, haha. Lain kali saya akan menonton aksi panggung band salah satu pentolan Dewa 19 tersebut.

Malam telah larut dan saya putuskan untuk pulang. Penilaian saya terhadap 2 hari perhelatan Java Rockin Land kali ini, festival yang telah saya ikuti penyelenggaraannya dari awal pertama kali mereka berlangsung (tahun 2009) adalah, memang harus diakui bahwa festival kali ini mengalami penurunan. Dapat kita lihat dari berkurangnya hari, dari yang biasanya 3 hari menjadi hanya 2, hal ini berimbas pada berkurangnya jumlah artis lokal dan internasional yang berpartisipasi. Dan sayangnya pula, nama-nama beken juga menjadi redup. Mungkin memang agak susah mencari nama yang sedang tenar kekinian untuk ikut serta (30 Seconds To Mars adalah satu yang beruntung bisa dihadirkan). Namun tidak apa mengundang nama beken yang sudah tidak lagi memiliki jamannya (dalam artian band lawas), tapi kami para pecinta rock tentunya mengharap lebih dari “sekedar” Collective Soul maupun Sugar Ray. Meskipun bagi saya Collective Soul adalah band besar, saya pun mengharap band-band macam Pearl Jam dan lainnya turut hadir (mari kita aminkan).

Hal ini mungkin disebabkan akibat tertundanya gelaran JRL tahun 2012 lalu, dimana saat itu pihak panitia penyelenggara sempat mengundang beberapa nama yang kurang greget dan tak lama kemudian mereka menyatakan membatalkan acara. Band-band yang kurang terkenal tentunya membuat tiket kurang laku dan hal ini yang harusnya disadari pihak penyelenggara. Bahkan mereka coba “membungkus” JRL yang gagal itu dengan mencampurkannya ke festival musik lain (musik soul atau apa gitu saya lupa). Jadi ada satu festival dimana ada musik rock dan musik jenis lainnya. What the..??

Sebagai seorang penggemar musik rock tentunya saya (dan penggemar lain) merasa kecewa. Kami mau pagelaran rock murni dengan band-band rock betulan. Bukan band yang “di rock-rock-an”. Dan tentunya sebagai pembeli tiket untuk suatu pertunjukan yang kami anggap tepat dan berkelas, kami juga tak akan segan mengeluarkan uang bila band yang dihadirkan benar-benar sesuai. Ambil contoh The Smashing Pumpkins ataupun Mr. Big juga Third Eye Blind (sayang saya tidak menontonnya) yang hadir di 2009 silam.

Demikian review saya kali ini yang lama dan berdebu tersimpan di draft, haha. Thanks for the attention and keep rockin’ on!

Image from Google

Advertisements
Tagged , , , , , ,

Batman: A Fanfic #WroteBackBlog

Batcave, 5 PM.

Hari semakin malam ketika aku sudah lelah menunggu Batman pulang bertugas malam ini. Disini, aku bersama Alfred, menjaga kediaman megah Bruce Wayne. Alfred adalah penjaga setia keluarga Wayne. Aku sudah bosan menjaga rumah yang seperti sangkar kelelawar raksasa ini. Dan ketahuilah, ini memuakkan. Ini semakin menegaskan bahwa aku saat ini berada di bawah bayang-bayang Bruce. Parahnya, aku seperti bukan seorang superhero.

Padahal, apa yang membedakan aku dengan Batman? Kami sama-sama berjubah. Sama-sama memiliki sayap. Well, mungkin dia lebih berotot, jelas. Dia lebih dewasa dari aku tentunya, pengalamannya lebih banyak. Sedangkan aku hanya anak muda yang ditemukannya di tempat sirkus, setelah orang tuaku dibunuh oleh penjahat itu, lelaki berwajah dua. Batman pun memburunya. Ia melihat potensiku, dan mengajakku bergabung. Membasmi kejahatan bersama di Gotham City. Bersama? Itu katanya dulu.

Namun kini, ia lebih senang sendiri. Aku ditinggalkannya. Setiap aku ingin pergi, Batman melarangku. Dan karena ia bertempur sendiri, namanya terus terpampang di headline The Gotham Post, dengan sanjungan yang luar biasa. Seluruh warga Gotham memujinya. Dan aku, sudah tak pernah disorot lagi. Mungkin warga Gotham telah melupakanku. Batman menjadi egois akhir-akhir ini. Apalagi kini dengan hadirnya psikolog cantik itu, Dr. Chase Meridian. Aku rasa Batman suka dengannya. Batman dan Bruce Wayne, mereka berdua suka dengannya. Haha, konyol memang. Sudah kubilang seorang superhero tidak boleh jatuh cinta, karena akan merusak konsentrasi.

***

“Alfred, kurasa aku akan tidur sekarang”

“Tuan Dick, anda seperti kurang sehat. Wajah anda pucat, apakah anda butuh sesuatu? Saya akan menyiapkannya untuk anda, Tuan”

“Oh tidak Alfred.. Kurasa aku hanya butuh istirahat, terima kasih”

Aku segera masuk ke dalam lift yang akan membawaku ke atas, ke kamarku. Sudah lebih dari satu jam aku berada di sini, Batcave. Tempat Batmobile dan motorku tersimpan. Motor yang sudah berdebu, karena sudah lama tak dipakai. Di lift ini pun tergantung jubahku yang juga lama tak terpakai, bersanding dengan jubah hitam mengkilap milik Batman. Semua ini menyesakkan dadaku.

Akhir-akhir ini aku lebih senang di Batcave. Menyendiri dan bersembunyi dalam gua. Batcave? Haha, ini menjadi salah satu yang kupertanyakan. Aneh memang kenapa setiap properti yang berhubungan dengan Batman selalu memakai nama “Bat” di depannya. Sudah selama ini kita bekerjasama, dia bilang kami adalah tim, namun tetap saja peralatan ini mematenkan namanya.

Aku gelisah, dan Alfred tahu itu. Ia sepertinya khawatir dengan kegelisahanku. Kadang Alfred menemaniku di gua, membawakan makanan dan minuman. Aku lebih sering bermalam di gua daripada di kamarku sendiri. Gua ini membuatku merasa nyaman. Kegelapan yang menyelimutiku, menghangatkan tubuhku, dan kelelawar-kelelawar yang hinggap disini seakan mengerti kegundahanku.

***

Kubuka pintu kamar, dan kepalaku tiba-tiba berputar. Aku pusing sejadi-jadinya. Keadaan ini sudah kurasakan selama beberapa minggu ini. Mungkin karena sakit di kakiku, yang membuat kepala ini pusing. Tapi tidak, aku tidak boleh melemah. Aku Robin, seorang superhero, dan keadaan ini bukan penghalang bagiku. Tapi dia, dia yang menghalangiku. Dia membatasi pergerakanku, entah sampai kapan. Dia berkata bahwa aku sudah tidak punya harapan untuk pulih, dan tidak mungkin kembali menjadi seorang superhero. Karena kini, aku bergantung pada tongkat ini. Tongkat ini adalah penyangga kakiku yang diamputasi. Tapi aku diberikan kaki palsu, bukan? Memang, kaki palsu dari fiber ini sangat mengganggu. Apalagi tongkat ini membuat aku tak bebas bergerak. Namun, aku percaya masih mampu berbuat banyak dengan kaki seperti ini. Namaku Dick Grayson, panggil saja Robin. Dan kalian tahu, Bruce salah jika harus beranggapan seperti itu, bahwa masa keemasanku telah habis. Haha.

Kututup pintu kamar, dan berjalan payah dengan tongkat ke arah lemari. Kubuka lacinya, dan kulihat sebuah benda disitu. Benda ini adalah jawaban. Aku tersenyum disirami cahaya temaram dari lampu kamar.

***

Batcave, 11 PM.

Batman masih dalam jubah hitamnya, setelah bertugas malam ini. Di layar televisi diberitakan bahwa Two Face masih saja mengganggu ketentraman Gotham, bahkan Batman kewalahan meringkusnya. Two Face, lelaki yang membunuh orang tuaku. Batman tahu aku menyimpan dendam untuknya. Tapi anehnya, Batman melarangku untuk ikut serta memburunya. Padahal energiku tersimpan banyak dan berlebih. Dia melarangku tepat setelah kecelakaan itu. Kecelakaan yang terjadi ketika kami mengejar Two Face bersama. Saat itu motorku terjatuh, dan kaki kiriku ini dilindas oleh anak buah Two Face dengan motor besarnya hingga remuk.

“Two Face masih berkeliaran, dan sangat sulit menangkapnya”, Batman membuka pembicaraan seraya turun dari Batmobile, dan membuka topengnya. Ia kini menjadi Bruce Wayne.

“Kau tak akan kesulitan bila mengajakku turut serta”

“Kau sudah gila? Lihat kakimu. Itu adalah terakhir kali kita melawannya. Hasilnya itu! Sekarang kakimu terbuat dari plastik, dan kau masih ingin melompat-lompat dan berlari bersamaku?”

“Aku masih bisa bergerak, Bruce! Tenagaku masih kuat. Lihat aku, aku masih muda. Dan yang menjadi masalah, aku tak bisa berdiam terus disini, Bruce!”

“Oke.. Jadi kau mau kemana? Kembali ke tempat sirkus? Kau bahkan sama sekali tak terpakai disitu”

“Whatever. Tapi aku yakin masih bisa berbuat sesuatu, minimal membalas dendamku pada Two Face.. Dan aku tahu itu!”, nadaku semakin keras dan meninggi.

Mendengar kalimat itu, Bruce terdiam, menggelengkan kepalanya, dan berbalik pergi. Ke arah lift, melepaskan jubahnya, dan menuju kamarnya.

Seketika itu pula aku tahu, inilah saatnya.

***

Jarum pendek  menunjukkan pukul 12 tengah malam ketika aku mengendap-endap di lorong menuju master bedroom rumah ini. Diluar hujan, dan suasana tak pernah lebih mencekam dari ini, setidaknya selama aku pindah dari sirkus dan tinggal disini. Aku meyakinkan diri sendiri bahwa hanya akulah yang ada di lorong saat ini. Tidak ada Alfred. Tongkat yang kupakai untuk berjalan menimbulkan suara berderak di lantai kayu. Aku berjalan perlahan, kilatan gemuruh yang masuk dari jendela bagai lampu blitz kamera, dan menimbulkan bayangan panjang diriku di lantai, bagai monster yang siap menerkam siapa saja yang berada di lorong ini. Meskipun hujan, hawa terasa panas. Keringatku bercucuran, detak jantungku berdetak begitu cepat, badanku mendadak panas.

Aku tahu pintu tak dikunci, kubuka, dan itulah Bruce. Membelakangiku, terduduk di sofa, bersandar dan tertidur. Cahaya datang dari layar laptop yang masih menyala. Di sebelahnya ada secangkir kopi, tumpukan buku-buku tebal, guntingan koran beserta surat kabar yang berserakan. Bruce selalu seperti ini. Bekerja hingga larut malam, bahkan hingga tertidur di sofa kamarnya.

Aku menghampirinya perlahan dari belakang. Kilat saling menyambar, semakin gencar mewarnai nuansa pekat malam. Hujan turun semakin lebat, menimbulkan suara gemericik di atap. Semilir angin masuk melalui jendela yang tidak ditutup rapat, menerbangkan gorden putih, melambai-lambai, bagaikan tangan menggapai di udara. Cahaya menerangi sebelah wajahku ketika aku berhenti tepat di belakang Bruce, diatas kepalanya.

Sambil mengangkat benda itu ke udara, tongkatku terjatuh, dan bersamaan dengan bunyi tongkat yang mengenai lantai kayu, Bruce membuka matanya. Dan menatapku tepat di mata. Kami saling berpandangan sesaat, sebelum…

Secepat kilatan kilat yang menerangi seisi kamar, aku menusuk pisau yang selama ini kusimpan di lemari kamarku, tepat di jantung Bruce. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Bahkan kutambah dengan belasan tusukan lagi yang mendarat membabi buta di sekujur tubuhnya. Darah ini terasa hingga ke ubun-ubun, Nafas ini tersengal-sengal, dadaku sesak. Namun aku malah tersenyum puas. Hingga akhirnya tertawa.

Pfiuhh, entah kenapa, aku gembira melihat tanganku berlumuran darah segar. Dan di bawahku, Bruce terbelalak, tubuhnya penuh darah. Saat itu, Alfred membuka pintu kamar, dan memanggil namaku dan Bruce dengan keras. Aku menoleh ke arah Alfred, dan aku tertawa.

Kalian tahu, ini adalah hari ketika kumulai era baru diriku, sebagai Robin, seorang superhero.

(image from Google)

 

#WroteBackBlog adalah segmen dimana saya menulis ulang tulisan yang pernah saya tulis di blog mendiang thebimz.multiply.com atau tulisan-tulisan yang belum pernah di/ter publish. Tujuannya adalah untuk melestarikan kembali, mengingat kembali dan/atau mengisi masa belum adanya ide membuat tulisan baru.

Tagged , , , ,

Beach, Pleaseee..!! #WroteBackBlog

FullSizeRender

Travelling sebenarnya menjadi hobi terselubung saya. Kenapa terselubung? Alasannya begini. Pertama, siapa sih yang ga suka jalan-jalan? Dari bayi, anak kecil, ABG, remaja, dewasa sampe bokap nyokap atau kakek nenek pasti suka yang namanya jalan-jalan. Jalan-jalan atau istilahnya yang keren sekarang itu travelling, emang paling pas dilakukan kalo pikiran lagi stres atau padat kerjaan. Well, ga padat kerjaan juga ga salah kok. Travelling ke tempat-tempat yang menyegarkan mata dan ada udara segarnya macam gunung, pantai, atau luar kota, tempat wisata, atau bahkan luar negeri, memang menjadi kegemaran (hampir) setiap orang. Tapi tunggu dulu, ada juga yang ga suka travelling. Kenapa ada yang ga suka travelling? Banyak sih alasannya. Bisa jadi ia adalah orang rumahan, lagi banyak kerjaan, atau ini nih menurut saya alasan yang masuk akal: ga punya uang. Atau bahkan pelit.

Klise. Ujung-ujungnya duit. Dan inilah yang menjadi problematika utama orang yang mau travelling. Travelling berkaitan dengan ongkos alias budget. Dan macam-macam tempat yang dituju, macam-macam pula ongkos yang dikeluarkan. Semakin jauh, semakin mahal pastinya. Contoh, jalan-jalan ke Bandung tentu mengeluarkan biaya yang jauh lebih sedikit dengan… Ke Antartika misalnya *halah*. Selain itu, aspek fasilitas tentunya berpengaruh. Kita bepergian dengan ngirit tentunya berbeda dengan kita bepergian dengan lebih nyaman. Irit disini bukan berarti ga nyaman lho ya, itu semua pilihan kok. Ngirit disini maksudnya berhubungan dengan tema tulisan kali ini, yaitu backpacker.

Backpacker sendiri kalo kita nyontek ke wikipedia memiliki arti: wisata yang tidak memberatkan (dengan membawa koper, misalkan), atau dengan kata lain, wisata dengan menggunakan tas gemblok (backpack) trus cuma bawa baju dan pakaian secukupnya. Tidur pun ga senyaman di hotel dan sebagainya. Begitulah kira-kira. Ini sebenarnya yang belum tentu mau dilakukan kebanyakan orang. Kalo pergi dengan nyaman alias pake koper (secara harfiah adalah lawan dari backpack), tentunya ga ada yang ga bisa. Nah, lain cerita kalo travelling dengan backpack alias “ngegembel” atau ada juga yang bilang ngeteng, atau apalah. Ini dia yang jarang orang bisa (atau mau). Karena apa? Karena backpacker identik dengan ketidaknyamanan.

Namun bagi beberapa orang, disitulah serunya. Dari sisi mana kita bisa melihat keseruan hal tersebut? Pertama, lagi-lagi berkaitan dengan uang. Dengan ngebackpack, kita bisa mengatur budget bepergian kita. Karena jelas kalo pergi dengan koper akan lebih mahal dibanding backpackeran. Kita bisa memangkas biaya penginapan, akomodasi, konsumsi dan lain-lain..

Kedua, kita akan tertantang untuk menciptakan suasana liburan yang menarik dan seru. Artinya, backpackeran means we create our own trip. Bukan berarti ga bisa pake EO trip atau tour guide, karena ada juga trip yang buat backpackeran. Meskipun ada beberapa yang ga setuju dengan istilah “backpackeran tapi kok pake EO trip”.

Oke, kita ga membahas hal itu. Lebih baik kita membahas, bagaimana menciptakan itinerary yang berbeda dengan trip “koper”, dan saat itulah kita akan menemukan keseruan demi keseruan, baik dari perjalanan itu sendiri, tempat yang didatangi maupun interaksi dengan warga sekitar atau traveller lainnya.

Hmm, sepertinya cukup dengan kalimat pembuka yang banyak diatas. Sekarang saya akan menceritakan pengalaman seru saya sebagai seorang backpacker amatiran, hehe. Ketika itu saya dan beberapa teman mengalami pengalaman indah ketika merencanakan acara tahun baru dengan berkunjung ke suatu pantai di daerah Banten bernama Sawarna Beach (sok keren banget ya, padahal mah Sawarna gitu aja nyebutnya hehe).

Ceritanya begini. Saya dan teman-teman memang sudah merencanakan untuk berlibur ke pantai, dan setelah browsing sana sini, tujuan kami jatuh kepada Pantai Sawarna, dan sepertinya akan mengasyikkan karena kami bermaksud kesana untuk merayakan tahun baru. Man, it’s gonna be fun! Membayangkan bakal malam tahun baruan di pantai, ditemani cahaya rembulan plus desiran ombak yang syahdu.. Kemudian bercerita, sembari menyalakan api unggun, lalu tertawa menertawakan kekonyolan, tak lupa bermain truth or dare agar suasana lebih seru.. Wow, kumpulan bayangan yang menarik, bukan? Bayangan-bayangan yang biasanya hanya terjadi dalam film melayang jelas di kepala saya, dan membuat saya makin tak sabar untuk segera bercumbu dengan air laut dan bermandikan pasirnya.

Dan akhirnya kami pun sepakat untuk bepergian secara backpacker. Meskipun masih memakai jasa tour guide, namun wisata ini menurut hemat saya masuk ke ranah backpack. Kenapa gitu? Karena pertama, biaya yang dikeluarkan relatif murah, dan yang kedua, kami akan menginap di penginapan yang sederhana (namun masih nyaman pastinya, hehe). Anyway, kalau saya tahu apa yang akan terjadi nanti, bakalan masuk kategori lebih backpack lagi deh, haha.

Singkat cerita, setelah tahu tempat dimana kami akan dijemput, kami ber-10 sudah menunggu dengan manis di salah ruang parkir salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat. Dan sekitar pukul 9 malam, akhirnya mobil jemputan datang. Bukan, bukan Alphard atau limousine, melainkan minibus yang biasa disebut “elf”. Orang pada nyebutnya elf-elf aja, tapi tau ga kalian merk mobil itu apa? Isuzu. Haha ga penting memang.

Jadi kami rencananya bakal sampai ke tempat tujuan dengan naik elf tersebut, kemudian prediksi departure kami di Sawarna adalah ketika subuh hari. Semalaman di perjalanan, kami melakukan banyak hal. Mulai dari ngobrol ngalor ngidul, ngegosip, foto-fotoan meskipun gelap, mengudap makanan kecil maupun besar, ke WC kalo pas lagi berhenti, nonton film di gadget, atau kegiatan yang paling pasti adalah tidur sambil sesekali terbangun karena elf tergoncang sana sini akibat jalanan yang ga mulus.

Hingga pada akhirnya, tetiba udara berubah sejuk dan sesekali nampak di balik kaca jendela dan dibawah pepohonan, desiran ombak yang menerpa pasir dengan suara semilir laut yang khas. IT’S THE BEACH!

Kami semakin antusias untuk turun dan sudah keburu pengen nyebur (belum apa-apa udah mau nyebur aja..), maklum di habitat kami (Jakarta) sama sekali ga ada hamparan laut biru. Volume air banyak hanya muncul ketika banjir besar melanda, dan kami ga mungkin dong cebur-ceburan di banjiran udah gede begini, haha.

Jadi, menurut itinerary yang ada, pagi itu kami begitu sampai langsung dibawa ke penginapan dan mendapat makan. Oke, seketika itu pula kami langsung jalan kaki sambil menenteng ransel yang cukup berat menuju tempat, yang katanya tempat penginapan. Sudah terbayang di kepala, hamparan kasur buat ngerebahin badan setelah semalaman duduk tegak.

Namun apa yang terjadi, setelah ngider cukup lama saya dan teman-teman kok ga masuk-masuk ke dalam ruangan yang namanya kamar atau apalah. Kami muter-muter aja sedangkan pengunjung lain tampak sudah beristirahat sambil nyemil-nyemil selonjoran atau bahkan makan. Wah ada apa ini?

Saya masih inget nasihat guru ngaji saya waktu SD untuk selalu ber-khusnudzon alias berbaik sangka *azek*. Dan itulah yang membuat saya dan teman-teman ga jadi merengut karena bingung. Tak lama, kami akhirnya bisa dapet pit stop, yaitu sebuah rumah yang sepertinya bukan penginapan deh, ga tau rumah siapa. Disitu kami geleparan, ditambah perut keroncongan minta makan.

Setelah menunggu cukup lama, yang punya rumah mempersilakan kami untuk makan. Oh, prasmanan rupanya. Jadi empunya rumah memasak cukup banyak untuk kira-kira 10 orang. Ada ayam, sayur, dsb dan alhasil kami makan dengan bar-barnya.

Setelah kenyang, kucluk-kucluk datang lah seorang wanita muda berusia sekitar 30 tahun lebih, memakai kacamata, dengan postur tubuh agak gemuk dan ga begitu tinggi. Oh rupanya ia adalah EO backpacker kami, atau tour guide, atau apalah yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup kami selama di Sawarna.

Setelah berbasa basi sebentar say hello dan lalala, ia mulai bicara dengan nada agak pelan, sembari merendahkan suaranya ditambah mesem-mesem sedikit.

“Mas, mbak.. Maaf yaa, ternyata penginapannya udah penuh.. Jadi kita ga dapet tempat. Untuk sementara kalian disini dulu ya.. Nanti kita carikan tempat lagi..”

Untung kami udah selesai makan. Kalau belum, bisa keluar lagi makanan yang ada di mulut saking kagetnya. Bahkan bisa sengaja disemburin ke dia. Bayangin aja, udah dibawa muter-muter sampe kaki pegel dan punggung linu karena bawa ransel yang banyak isinya, eh ada kabar ga enak kayak gitu. Meskipun perut kenyang pun tetep aja rasanya pengen nampol itu mbak-mbak abis dia ngomong begitu.

Setelah terjadi percakapan dan komplain yang cukup bikin bete dan dia ngeles sana sini dengan jurus 1001 alasan, akhirnya kami bersedia mengalah dan memilih ngikutin apa maunya dia/mereka.

Kemudian, acara selanjutnya adalah perjalanan menuhu Gua Lalay. Apa dan bagaimana bentuknya gua itu? Silahkan anda googling sendiri, hehe. Yang jelas perjalanan menuju gua ini cukup bikin capek dan gembrobyos (apa tuh artinya? Tanya orang jawa haha). Kita harus berjalan dulu sekitar 1,5 kilometer untuk mencapai gua yang di dalamnya berisi air tersebut. Perjalanannya cukup menyenangkan, dengan melewati sawah yang hijau, satu jembatan gantung dimana di bawahnya terdapat sungai yang arusnya cukup besar, dan rumah-rumah penduduk di perkampungan.

Di mulut gua, telah banyak orang-orang yang mengantri masuk ke dalam. Padahal mah gua gitu-gitu aja ya isinya.. Lalu panitia *halah panitia* menyediakan helm 2 in 1, yaitu helm sekaligus senter yang bisa disewa oleh pengunjung. Dan seperti yang saya bilang tadi, kalo guanya ada airnya di dalam. Jadi kalo ga mau basah ya kita harus gulung celana deh. Kedalaman air lumayan tinggi, hingga sepaha orang dewasa.. (kok jadi seperti reportase korban banjir di tv bahasanya, hihi).

Setelah lelah ngubek-ubek gua, rombongan kembali ke penginapan.

Eh, tunggu dulu. Kalo ngomong penginapan saya jadi bete nih, dan teringat kembali wajah mbak-mbak EO yang dengan gampangnya ngemeng kalo kita ga dapet penginapan. Aarrggh..!!

Pokoknya kita kembali pulang deh, dan bener aja kalo kita masih muter-muter lagi-lagi nyari tempat buat nginep, untungnya kali ini dengan elf. Hingga akhirnya kami menemukan satu rumah, sepertinya rumah penduduk yang telah dibayar kepala keluarganya untuk dijadikan semacam “home stay”. Okelah, pikir kami. Lagian viewnya lumayan bagus. Jadi si rumah penduduk itu letaknya berhadapan dengan pantai kecil yang sepertinya masih nyambung dengan Sawarna. Udah gitu cuaca hujan gerimis. Makin syahdu lah situasi.

Yang agak mengganggu adalah interior si rumah. Yaitu kamar mandi dan tempat tidur yang spooky. Spooky bagaimana? Pertama, kamar mandinya terlalu luas, dan ada sumurnya! Kamar mandi old school gitu deh. Kedua, tempat tidur yang nantinya bakal kita inapi juga menyeramkan, karena di tempat tidurnya ada kelambunya, haha. Antara serem atau jadi macam cerita stensilan gitu *ups. sensor, haha* ya pokoknya intinya jaman dahulu banget deh. Dan itu sore hari hawanya aja sudah begitu, ga kebayang kalo malam.

Ndilalah, si mbak-mbak EO ngeselin itu muncul lagi. Kali ini memberi tahu itinerary dan kita disuruh siap-siap karena agenda kami selanjutnya adalah agenda utama, yaitu ke pantai Sawarna. Malamnya, menghadiri acara tahun baru di pantai tersebut. Wah, acara api unggun atau barbequean nih, pasti seru.

Jadilah kita bersiap menuju pantai, naik elf trus diturunin di gerbang semacam pintu selamat datang. Kurang lebih dengan berjalan 100 meter sampailah kita di pantai Sawarna. Pantainya bagus, ombaknya lumayan besar, tapi sayangnya terlalu banyak orang, hiks.

Yeap, pengunjung yang datang banyak sekali, mungkin karena tahun baru ya. Sehingga, suasana pantai yang enaknya dinikmati sunyi dan khidmat menjadi ramai kayak pasar yang pindah ke pantai. Begitulah.

Dan yang selanjutnya terjadi adalah, kami bermain-main menyusuri pantai, berfoto ria. Tak lupa foto yang wajib hukumnya bila di pantai, yaitu berbaris untuk kemudian meloncat dalam hitungan ketiga.. Dengan latar belakang laut dan ombak, dan capture nya pas kita lompat. Kalo ga salah namanya foto levitasi deh, hihi.

Waktu sudah semakin sore menjelang maghrib, tetiba hujan mulai turun. Seketika saya dan teman-teman memutuskan untuk berteduh di warung yang menjual mie instan (sebut indomie aja gapapa kali yah, haha) dan kopi segala macam. Ngomong-ngomong, itu adalah indomie yang paling nikmat yang pernah saya makan, karena suasana, haha. Makan indomie menghadap pantai dan deburan ombak, dengan cuaca dingin hujan.. Ah, makin lengkap apabila engkau ada di sisiku *laah tiba-tiba galau curhat*.

Tapi kok ya, ada yang janggal nih dari perjalanan kami ber-10. Sampe menjelang malam begini, kok kita kayak ga diperhatiin sama EO, padahal kan kita ikut backpacker trip! Dan asal muasal kita sakit hati ya karena ga dapet penginapan yang seharusnya kita dapatkan itu, dan tanpa ada pemberitahuan jelas lho. Di warung indomie tersebutlah terjadi semacam konferensi dan kita seperti tersadarkan untuk kemudian terbersit niat pulang saja ke Jakarta sebelum rangkaian trip diselesaikan.

Niat mau “kabur” yang masih mentah itu menjadi setengah matang dan matang ketika kita masih membahas dalam perjalanan pulang dari pantai ke penginapan, dan lagi-lagi tanpa “bimbingan” mbak-mbak EO yang ngeselin itu. Macam anak hilang lah kita, haha. Sepanjang perjalanan itu juga kita diskusi tuh, untung ruginya apa kalo kita ngelanjutin trip sampai besok pagi atau kalo pulang malam ini.. Dan kesimpulan awal mengatakan, kita pulang aja karena merasa dirugikan.

Pulangnya pake apa? Kepikiranlah buat kongkalingkong sama supir elf yang udah kita kenal sewaktu berangkat. Kasih duit aja gitu ke dia. Begitu deh rencana gerakan makar kita *halah*.

Dan acara barbeque atau api unggun yang masih terngiang di kepala, langsung buyar seketika ketika kami melihat ternyata di tengah pantai ada panggung besar dengan orang-orang yang lagi cek sound dan masang speaker, dengan lagu dangdut sebagai backsound! Astaga ga taunya dangdutan kita di tahun baru. Tarik maanngg..!! Haha.

Udahlah makin ga jelas aja bakalan nih acara di pantai.

Artinya, rencana awal yang memang sudah matang menjadi suatu kesimpulan bulat yang harus segera dieksekusi, ketika kita melewati penginapan yang harusnya kita tempati. Disitu semua peserta dari pengunjung lain selain kita, dengan jumlah biaya yang sama dengan kita, hidup tenteram dalam damai. Lah ini, kita yang harusnya juga berada disitu kok malah dapet rumah tinggal yang spooky dan jauh dari peradaban. Makan pun sepertinya terlantar. Ah pokoknya kacau deh.

Malam ini juga harus pulang ke Jakarta, itu kesepakatan kita ber-10. Dan benar saja, ketika sampai di rumah tinggal, kami merencanakan pelarian. Supir elf telah dihubungi dan ia telah standby bersembunyi di balik pohon, mungkin takut ketahuan mbak-mbak EO itu. Dia sih mau-mau aja kalo pulang sekarang dan dikasih ongkos. Namun kami sebagai backpacker yang masih memiliki etika dan norma-norma, menelpon terlebih dahulu kepada EO, awalnya untuk komplain dan mungkin bisa teratasi dengan mediasi. Tapi apa jadinya, si EO malah lepas tanggung jawab dan drama ga mau melepas kita pergi. Kesalnya, ketika kita mengungkapkan isi hati bahwa kita kecewa, mereka menanggapinya dengan santai saja, dan ketika kita minta penggantian biaya karena ga mengikuti trip hingga selesai, mereka bilang uang ga bisa kembali, baik sebagian maupun seluruhnya.

Ya sudahlah, kita-kita juga udah ilfeel dan maunya pulang aja, hihi.

Akhirnya tepat di malam tahun baru, saya dan rombongan resmi pulang. Eh, kabur lebih tepatnya, menuju Jakarta. Rencana tahun baruan di pantai buyar. Impian menikmati kembang api di malam tahun baru di pantai, sirna. Yang ada kita malah bermacetan ria di elf.. Terjebak pasar tumpah di suatu daerah di mana entah berada. Eh tapi ada kembang api juga lho! Tapi liatnya dari dalam elf haha.

Sekali-kali merayakan tahun baru ga perlu mainstream kan?

 

#WroteBackBlog adalah segmen dimana saya menulis ulang tulisan yang pernah saya tulis di blog mendiang thebimz.multiply.com atau tulisan-tulisan yang belum pernah di/ter publish. Tujuannya adalah untuk melestarikan kembali, mengingat kembali dan/atau mengisi masa belum adanya ide membuat tulisan baru.

Tagged , , , ,
Advertisements