Monthly Archives: July 2014

Day 20: Favourite Player From A Team You Dislike

56450620-1450949497-800

Adalah suatu penyesalan yang baru terasa di akhir suatu keputusan, ketika Milan menjual Andrea Pirlo ke Juventus. Memang ga pernah yang namanya penyesalan itu di awal, karena itu namanya pendaftaran *krik* namun yang jelas, keputusan untuk tidak memakai kembali jasa Pirlo menjadi suatu tanda tanya besar bagi kami, para fans, akan kebijakan manajemen Milan dan tanda tanya itu seakan mengendap dan menjadi suatu peninggalan yang luar biasa di era kepelatihan Massimiliano Allegri kala itu.

Pirlo dijual karena waktu itu Milan sedang mengalami euforia akibat menjuarai Scudetto-nya tahun 2011. Kala itu, Pirlo mengalami cedera yang membuatnya harus absen di beberapa pertandingan Milan, dan perannya diluar dugaan tergantikan dengan baik oleh Mark Van Bommel, pemain asal Belanda yang datang di paruh musim kedua. Milan juara, dan Allegri juga manajemen klub merasa bahwa Pirlo sudah bisa tergantikan. Perannya sudah tidak lagi sentral di barisan tengah Milan dan umpan-umpan khasnya sudah mulai terlupakan. Apalagi Allegri pun identik sebagai pelatih yang gemar memainkan pemain-pemain yang bertenaga di lini tengah, bukan lagi gaya stylish khas Pirlo. Pemain bertenaga macam Sulley Muntari dan Van Bommel dijamin mendapat tempat utama di skuad Max. Strategi itu cukup berhasil di awal kepelatihannya, karena secara tidak langsung Milan masih memiliki pemain yang bisa menciptakan perbedaan di diri Zlatan Ibrahimović. Ibra menjadi protagonis dan mampu membuat pemain-pemain lain menunjukkan sisi terbaiknya. Tanyakan hal itu pada Kevin Prince Boateng dan Antonio Nocerino yang seakan gaya permainannya terbantu oleh kehadiran Ibra.

Selain itu, yang membuat Pirlo harus hijrah adalah juga kenyataan bahwa Milan melakukan regenerasi akan pemain-pemain senior mereka. Nama-nama besar seperti Clarence Seedorf, Gennaro Gattuso, Alessandro Nesta dan lainnya, hanya diberikan perpanjangan kontrak 1 tahun, karena kalau tidak begitu Milan akan terus mengandalkan pemain veteran mereka dan akan lupa dengan kata regenerasi yang sangat penting dilakukan oleh sebuah klub yang telah melewati masa keemasannya. Perpanjangan kontrak 1 tahun dilakukan dengan opsi pilihan bagi si pemain, apakah akan menerima kebijakan tersebut atau tidak. Dan nyatanya, Pirlo termasuk dalam golongan pemain yang berkeberatan. Konon, Pirlo merasa masih bisa memberikan andil bagi Milan untuk beberapa tahun ke depan. Ah, mungkin karena cintanya Pirlo terhadap Milan yang sudah dibelanya selama 10 tahun dan memberikan semua gelar. Namun takdir memang harus memisahkan. Allegri dan manajemen Milan telah mengambil keputusan, dan Pirlo hengkang ke Juventus, dan untungnya bukan kembali ke Inter, meskipun saya memiliki feeling kuat kalau Pirlo tidak akan setega itu mengkhianati Milanisti.

Di Juventus, Pirlo menemukan kembali kejayaannya. Alih-alih dikatakan masanya telah habis karena usia. Di umur yang makin menua Pirlo justru hadir sebagai pemain yang kian matang. Penampilannya pun diubah, brewok yang membuatnya hampir mirip Chuck Norris pun menjadi ciri khasnya kini. Penampilan berantakan itu pulalah yang memberikan image makin tua makin jadi pada diri centrocampista bernomor 21 itu. Juventus seperti mendapatkan roh baru, dan merasakan apa yang dirasakan Milan selama 10 tahun belakangan, yaitu kehadiran seorang fantasista di lini tengah. Sudah beberapa tahun berlalu sejak mereka memiliki Zinedine Zidane, tampaknya kini mereka mulai mengalami masa dejavu dengan adanya Pirlo menempati posisi defending midfielder, posisi favorit Pirlo yang ditemukan oleh Carlo Ancelotti, mentornya selama di Milan.

Hadirnya Pirlo menjadi petaka bagi Milan. Agak aneh tadinya melihat Pirlo memakai seragam bercorak putih hitam berduel dengan koleganya sendiri macam Massimo Ambrosini dan Nesta, juga pemain Milan lain. Tapi sungguh hal itu terjadi, dan Milanisti harus membiasakan diri. Alhasil, Juve dibawanya juara liga hingga kurang lebih 3 kali, dan Pirlo semakin mendapat tempat dan hati publik Juventus Stadium. Sementara Milan mengalami masa terpuruknya sepeninggal Zlatan dan Thiago Silva atas nama finansial, juga bintang-bintang seniornya atas nama regenerasi. Di tim nasional Italia, peran Pirlo juga makin tak tergantikan. Cesare Prandelli sebagai pelatih membuat “kesalahan” Milan membuang pemain berharganya itu menjadi sebuah contoh untuk kembali menempatkan Pirlo sebagai jenderal lapangan tengah La Nazionale. Pirlo tetap memimpin timnas dengan gayanya yang flamboyan dan cool. Tengok bagaimana tendangan panenka-nya melegenda ketika Euro 2012 berlangsung. Dan ketika perhelatan Brasil 2014 kemarin pun Pirlo masih menjadi andalan meskipun Italia tidak mampu lolos di fase grup.

Menengok bagaimana dulu peran Pirlo di Milan, ia sempat menjadi pemain idola saya. Mengingat chemistry yang terjalin di antara Pirlo dengan Ancelotti kala itu, sungguh membuat saya semakin memahami arti kehidupan keluarga di Milan, pada era keemasan Milan menguasai Eropa periode 2003 hingga 2007. Pirlo adalah contoh pemain yang bisa dikatakan late-bloomer (atau pemain yang lambat berkembang), karena di awal karirnya hanya menjadi pemain pelapis atau cadangan, namun bisa muncul menjadi pemain yang tak tergantikan. Saya ingat dulu ketika Milan masih dihuni oleh Manuel Rui Costa sebagai centrocampista, Pirlo selalu menjadi bayang-bayang Rui Costa. Pirlo yang semasa di Inter juga menempati posisi yang sama seperti Rui, tidak pernah diberikan kesempatan menggantikan peran pria Portugal tersebut. Sesekali Ancelotti memasang Pirlo bila Rui berhalangan tampil, hingga akhirnya Don Carlo menemukan pattern baru dalam skema permainan yang mengubah sejarah Milan dan juga takdir Pirlo, menjadikannya metronom tim.

Pirlo ditempatkan dalam pola 4-3-2-1 dengan posisi tepat berada di depan empat bek sejajar. Perannya sebagai centrocampista namun agak ditarik ke belakang membuat Milan saat itu menjadi tim yang bisa bermain dengan 4 fantasista sekaligus: Pirlo – Rui Costa – Seedorf – Rivaldo. Ancelotti pun saat itu disebut sebagai jenius karena mampu memadu madankan 4 pemain bertipe penyerang lubang tersebut, posisi yang biasa ditempati mereka di klub terdahulunya. Dan Pirlo makin menikmati perannya menjadi penyeimbang tim. Ia menjadi pemain pertama yang mengalirkan bola dalam skema penyerangan bila bola datang dari belakang, dan menjadi pemain pertama pula yang memutus alur serangan lawan. Di posisi tersebut ia mampu menterjemahkan peran dari seorang gelandang bertahan dan gelandang menyerang. Umpan-umpannya pun akurat, tanyakan pada Andriy Shevchenko maupun Pippo Inzaghi bagaimana mereka dimanjakan oleh bola-bola pemberian Pirlo. Dan perlakuannya pada bola mati, tidak perlu diragukan. Ia menjadi master of free kick hingga kini.

Tak ada yang perlu disesali. Kejayaan sebuah tim sepakbola beserta pemainnya datang dan pergi dan tidak ada yang abadi. Pirlo masih menjadi pemain favorit saya meskipun berada di klub yang tidak saya sukai. Minimal, ia masih menjadi andalan Azzurri, timnas yang juga masih saya gemari.

Advertisements
Tagged , , , , ,

Catatan 22 Juli.

_8415842852

Banyak yang bertanya pada saya, siapa sih yang bakal menang pemilu? Berapa jumlah akhir perhitungan suara? Kasih bocoran dong, siapa sih yang bakal menang? Penetapan pemenang pemilu besok bakal rusuh ga? Libur apa ga sih tanggal 22 besok? Dimana sih kita bisa lihat hasil perhitungan suara? Kok di website KPU ga ada keterangan hasil perhitungan suara? Emang bener bakal ada pemilu ulang? Itu gimana sih yang pemungutan suara ulang? Kenapa suara gw jadi hilang begini gara-gara perhitungan suara ulang? Gimana sih, perhitungan suara ulang kan buang-buang waktu dan uang? Dan beribu-ribu pertanyaan lainnya.

Pertanyaan dari teman-teman dan kerabat tersebut memang menandakan bahwa publik, rakyat Indonesia, sangat tinggi animonya terhadap Pemilu Presiden (Pilpres) dan Wakil Presiden kali ini. Betapa tidak, Pilpres kali ini memang mungkin menjadi yang paling seru dan menyedot perhatian lebih dari Pilpres edisi-edisi lain yang telah berlalu. Pasalnya, Pilpres kali ini hanya mempertemukan 2 pasang capres dan wakilnya, berbeda dengan episode kemarin-kemarin yang minimal ada 3 pasangan calon. Dua pasang calon berarti head to head, tingkat konfrontasi lebih tinggi, karena hanya ada 2 pilihan. Lo pilih ini, gw pilih itu. Kalo lo ga pilih ini berarti lo pasti pilih itu. Jagoan gw ini, jagoan lo itu. Yang benar ini, yang salah itu. Hanya itu pilihan yang ada. Eh tapi masih ada juga yang milih golput seperti biasa, dengan dalih tidak ada dari kedua calon yang bisa menggetarkan hatinya, atau ga ada yang pas, atau sama aja. Atau sama-sama milih masuk ke mulut buaya atau ke mulut macan. Bila yang masih berpatokan pada fatsun pilihlah yang terbaik diantara yang terburuk, pasti memilih salah satu. Jika ideologinya sudah apatis golput, ya mau bagaimanapun calonnya memang sudah default-nya tidak akan memilih. Jadi itu semua kembali lagi, adalah pilihan dan hak masing-masing warga negara.

Dan berdasarkan jadwal tahapan yang telah dikeluarkan oleh KPU RI, maka pada tanggal 22 esok (hari ini) adalah D-Day siapa yang akan jadi pemenang Pemilu. Ini menjadi hari bersejarah yang akan dipantau oleh ratusan juta rakyat Indonesia juga publik internasional, dan KPU menjadi pusat perhatian sekaligus pemeran utamanya. Kita akan melihat siapa yang akan menjadi Presiden ke-7 Republik Indonesia dan rakyat akan punya pemimpin baru, siapapun yang terpilih. Nomor 1 atau 2 pemenangnya, tandanya ia telah mendapat mandat dari rakyat, amanah dari bangsa dan negara. Dan mereka (pasangan capres dan wakilnya) sudah seyogyanya kita dukung untuk menjalankan roda pemerintahan selama 5 tahun ke depan.

Siapapun yang terpilih, baik itu Prabowo Subianto bersama Hatta Rajasa atau Joko Widodo dan Jusuf Kalla, semua adalah putra terbaik bangsa, dan sesungguhnya fakta tersebut membuat saya sulit memilih, bahkan hingga H minus 1 saya masih belum punya pilihan. Sempat terbesit hasrat untuk menjadi orang bener dengan melakukan sholat istikhoroh dulu sebelum memilih, udah kayak mau milih jodoh, hingga akhirnya saya pada hari H menjatuhkan pilihan. Sungguh pilihan saya bukan didasari oleh alasan-alasan apapun yang sebelum pencoblosan marak beredar. Black or white campaign. Melainkan dengan pemikiran mendalam dan berharap pilihan saya nantinya bisa saya pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan YME (Bimo edisi bener). Namun saya sama sekali tidak masalah bila pilihan saya kalah dan lawannya yang justru menang. Menurut saya, siapapun Presidennya tetap saya taruh harapan di pundaknya. Harapan yang ga muluk-muluk lah, berharap melihat bangsa ini lebih baik aja ke depannya. Dan sungguhlah saya penasaran melihat sepak terjang salah satu dari mereka berdua, karena masing-masing punya karakteristik sendiri.

Kedua calon adalah pilihan terbaik. Dan kalau boleh saya menghimbau layaknya Presiden SBY atau Panglima TNI, maka saya berharap siapapun yang terpilih nantinya, dapat diterima oleh seluruh rakyat dan lapisan masyarakat, baik pendukung nomor 1 dan nomor 2. Karena sesungguhnya, tidak ada yang kalah dari pemilihan ini. Pemenangnya adalah kita, rakyat Indonesia. Karena kita telah berpartisipasi dengan baik dalam gelaran Pilpres ini. Hal itu dapat dilihat dari tingkat partisipasi pemilih yang jauh meningkat dibanding pemilu legislatif bulan April lalu. Malah kalo saya bilang Pilpres kali ini bener-bener pada niat milih ya. Yang ga bisa milih aja pada mau milih. Kebanyakan mereka adalah yang bukan berasal dari TPS asal alias pindahan, anak kos, perantau yang KTP-nya bukan KTP domisili sekarang, yang menurut aturan boleh memilih asalkan memakai form pindah TPS atau yang biasa disebut form A5. Nah minta A5-nya ini ga sembarangan, karena ada mekanisme yang harus diikuti. Ini harus diperhatikan agar hak pilih teman-teman bisa terjaga. Sayangnya banyak yang kelewatan mengetahui cara kerja dan tenggat waktu mendapatkan A5.

Begitulah. Yang penting semua damai dan mendukung siapapun yang terpilih. Agaknya kita masih harus banyak belajar dari Amerika Serikat yang sudah sejak berabad-abad lalu pemilihan presidennya hanya diikuti 2 pasangan calon. Mereka tidak kaget. Berbeda dengan Indonesia yang sepertinya baru mengalami fenomena seperti ini. Kadar bentroknya lebih terasa sehingga, banyak konflik dan intrik yang terjadi pra-pemilihan, ketika pemilihan, bahkan pasca pemilihan hingga sekarnag menjelang penetapan suara. Parahnya, isu akan terjadi kerusuhan tanggal 22 sudah menyebar ke masyarakat yang menurut saya hanya akan menimbulkan keresahan. Isu kerusuhan menurut saya lebih ke arah omong kosong dan hanya menakut-nakuti, karena saya yakin bahwa massa kedua calon telah mendapat pengarahan dari masing-masing capres untuk menahan diri dan tidak berbuat anarkis. Baik Prabowo maupun Joko Widodo adalah negarawan yang tidak akan membiarkan negara yang akan mereka pimpin terpecah belah karena perbedaan pilihan. Saya meyakini itu, karena apabila nantinya terjadi ketidakpuasan, dapat dilakukan upaya hukum sesuai dengan jalur yang ada yaitu gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Di persidangan itu nantinya, para pihak yang bersengketa akan mencari kebenaran dengan bukti-bukti dan saksi.

Jadi, mari kita dukung KPU yang sekarang sedang bekerja untuk menyelesaikan rekapitulasi suara seluruh provinsi, untuk kemudian ditetapkan dan dibacakan hasilnya ketika sudah selesai, siapa yang akan menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI 2014. Siapapun itu, selamat kepada kita rakyat Indonesia sebagai pemenangnya. (BSAP)

Tagged , , , , ,

Day 19: Team You Hate With Passion

a.espncdn.com

Ada tim yang saya suka, dari kecil, dan mungkin akan saya bawa hingga mati, yaitu Milan. Kecintaan saya terhadap Milan tak perlu diragukan, dan mungkin hanya bisa terkalahkan oleh cinta pada istri dan anak saya nanti haha. Milan adalah cinta mati dan cinta abadi dalam sepakbola. Dan sebaliknya, kalau ada tim yang saya benci, yang saya tidak suka, yang saya wajibkan untuk diejek atau di-bully dalam sepakbola, pasti hanya satu jawabannya: Internazionale.

Kenapa Inter? Simpel saja jawabannya. Karena Inter adalah Inter. Menjadi musuh abadi Milan dalam perseteruan tim sekota, Inter otomatis menjadi pihak yang saya tidak sukai eksistensinya. Warna biru sebenarnya adalah salah satu warna favorit, namun ketika warna itu dipakai untuk warna kostum Inter, seketika saya langsung tidak tertarik lagi. Memang saya bukanlah penggemar karbitan yang sensitif sekali akan kehadiran pesaing, karena semakin lama saya menggemari sepakbola dan memahami esensi dari permainan sepakbola itu sendiri, juga menempatkan diri sebagai fans dewasa, saya melihat persaingan antara 2 tim yang menjadi musuh bebuyutan bukanlah sebagai ancaman, melainkan lebih kepada kualitas dari atmosfir sepakbola itu sendiri. Dan Inter, sebagai tim saudara Milan di kota Milano, menjadi antagonis di sudut pandang saya sebagai penggemar.

Kehadiran Inter sebagai lawan Milan tentunya sudah panas bila keduanya bertemu di Serie A. Pertandingan derby (antar tim sekota) sudah menjadi cerita klasik dan tak terbantahkan serunya semenjak musim-musim lalu. Tak hanya di Serie A, persaingan Inter dan Milan tentunya merambah ke kompetisi yang lebih general, yaitu Liga Champions. Dan persaingan mereka disini bukan hanya persaingan ketika terjadi bentrok kedua tim, namun juga persaingan gelar juara. Milan puas sekali membuat Inter bermuram durja karena prestasi mereka yang tak kunjung bersinar di Eropa, ketika Milan menguasai Liga Champions dengan 3 kali masuk final pada periode 5 tahun (2003 – 2007), dengan meraih 2 gelar juara. Sedangkan Inter akhirnya membalas dengan meraih treble di 2010, membuat Milan tenggelam dalam kedengkian karena hanya Inter satu-satunya klub Italia hingga kini yang meraih treble (juara liga, Piala Italia dan Liga Champions). Dan jelas, itu membuat hampir seluruh fans Milan di seluruh dunia mendidih darahnya. Untung saja bila berbicara sejarah, Milan masih unggul cukup jauh karena koleksi gelar Eropa mereka lebih banyak dibanding apa yang dimiliki Inter.

Tim yang saya benci dengan passion, itu judul dari tulisan ini. Saya baru tahu jika passion bisa digunakan dalam hal yang berkonotasi negatif, tidak hanya sesuatu yang positif. Dan bila dikaitkan dengan kebencian terhadap suatu tim sepakbola, membenci Inter adalah tepat untuk disematkan pada kata passion dalam judul tulisan ini, haha. Saya masih ingat betapa bahagianya kami (saya menyebut Milanisti dengan kami) ketika berhasil menang derby. Ini adalah contoh paling sederhana. Betapapun skornya, kemenangan pada derby sangat membahagiakan karena pada derby Milan dan Inter bersaing untuk memperebutkan siapa tim nomor satu di Milano. Juga sebagai pentasbihan siapa yang terbaik saat itu. Derby adalah derby. Derby merupakan point of view kemenangan dan kejayaan, diluar sejarah dan posisi aktual. Artinya, jika satu tim pada klasemen posisinya lebih rendah daripada tim lain, namun berhasil memenangi derby, seketika posisi klasemen tidak berarti. Ia adalah pemenang derby. Titik. Dan ia adalah yang terbaik. Beberapa derby yang masih lekat di ingatan adalah ketika Milan menang 3-0. Saat itu Inter dilatih Leonardo, bekas pelatih dan pemain Milan yang sempat dicap pengkhianat. Puas sekali. Atau ketika Ronaldo Nazario, pemain yang lama membela Inter, namun akhirnya mampu menceploskan bola ke gawang mantan klubnya dan melakukan selebrasi silenzio saat membela Milan pada derby yang (sayangnya) berakhir 1-2, itu juga menghadirkan kepuasan tersendiri.

Dan bila ingin lebih bombastis, ingatlah kemenangan sensasional Milan 6-0 atas Inter, yang sepertinya masih terekam dengan jelas hingga saat ini, dan menjadi mimpi buruk Interista. Meskipun Milan juga pernah kalah 0-4 pada derby beberapa tahun lalu, namun tetap saja kekalahan 0-6 itu sulit diterima. Atau bila berbicara level Eropa, Milan dan Inter juga pernah bertemu. Salah satunya di semifinal Liga Champions, dimana Andriy Shevchenko menjadi protagonis Milan yang mengantarkan Rossoneri menuju final melawan Juventus, dan banyak lagi. Atau ketika final Piala Super Italia, dimana gol Zlatan Ibrahimovic dan Kevin Prince Boateng menyudahi perlawanan Inter 2-1, dan setelah itu muncul gambar jokes untuk membuang seragam biru ke tong sampah.

Perihal transfer pemain juga bisa menjadi tolak ukur “kebencian” saya terhadap Inter. Milan seperti punya prinsip bahwa pemain kami haram hukumnya untuk hijrah ke Inter setelah membela Milan, dan Milan akan mencap mereka sebagai pengkhianat apabila berani melakukannya. Tengok bagaimana Leonardo yang sempat dipuja Milanisti semasa menjadi pemain dengan santainya menerima tawaran Inter untuk menjadi pelatih, umurnya pun tidak panjang di Inter akibat tekanan yang dideritanya. Leo harusnya berkaca dari para legenda yang mendeklarasikan fatwa haram bila pindah ke Inter, dan kalaupun harus pindah klub setelah Milan, sebaiknya pindah ke klub lain di Italia (Juventus masih bisa ditoleransi), atau paling tepat ke luar Serie A sekalian. Hal ini yang berkali-kali ditegaskan Gennaro Gattuso saat ingin pensiun di Milan.

Sebaliknya, saya melihat justru banyak bekas pemain Inter yang malah meraih sukses ketika berseragam merah hitam. Dua pemain yang paling kentara adalah Clarence Seedorf dan Andrea Pirlo. Semasa membela Nerazzuri, mereka sulit mendapat gelar. Bahkan Pirlo bukan siapa-siapa di Inter. Dan ketika berseragam Milan, mereka mendapatkan segalanya. Seedorf menjadi pemain pertama yang meraih gelar Liga Champions di 3 klub berbeda. Pirlo menjadi legenda dan maestro di posisinya. Begitu pula Ronaldo Nazario yang meskipun hanya bermain tidak lebih dari 2 musim di Milan, mendapati Milan sebagai rumah baginya, sesuatu yang bahkan tidak ia dapatkan selama di Inter. Kebetulan? Bisa jadi. Namun hal tersebut juga menjadi kisah nyata.

Kehadiran Erick Thohir (ET) sebagai presiden Inter tentunya juga menambah ironi kami, para Milanisti WNI karena pimpinan tertinggi klub yang kami benci adalah orang Indonesia sendiri hehe. Hal ini kadang membuat iri karena logikanya dengan memiliki presiden saudara sendiri, Inter akan lebih mudah aksesnya untuk setiap tahun berkunjung ke Tanah Air dan memainkan pertandingan tur pra musim, seperti yang telah mereka lakukan beberapa waktu lalu. Makin membuat iri karena personel yang datang adalah tim utama, bukan seperti Milan yang hanya menampilkan pemain-pemain pensiunan dalam bendera Milan Glorie. Sebagai penggemar, tentunya Milanisti ingin juga menyaksikan tim utama datang dan bermain. Dan ini adalah keuntungan tersendiri bagi fans Inter. Namun satu hal yang membuat kami “kecewa” sebagai orang Indonesia yang masih memiliki solidaritas kepada Presiden Thohir adalah, gebrakan ET sebagai penguasa kurang memiliki greget. Hal ini bisa dilihat dari kebijakan dan pergerakan transfer pemain yang biasa-biasa saja atau malah cenderung kurang gairah bagi Inter sendiri. Dan sempat menjadi objek kritik para fans Inter dan pengamat sepakbola di sana, dan kalau sudah begini kan orang Indonesia juga yang malu, haha. Jadi Pak ET, kalau boleh saya memberi saran meskipun saya bukan Interisti, namun tolonglah jaga nama baik Indonesia di mata publik sepakbola internasional, khususnya di negara yang Bapak miliki klubnya, hehe.

Namun sebagai fans, Inter juga bisa menyemai luka. Satu momen yang sebagai penggemar sepakbola harus objektif saya acungkan jempol adalah ketika mereka meraih treble tahun 2010. Hal itu membanggakan sekaligus menyesakkan dada. Membanggakan bagi Italia karena kemenangan tersebut mendongkrak posisi Italia sebagai negara yang klub-klubnya sempat terpuruk dan dipandang sebelah mata, karena prestasi dan faktor keuangan rata-rata klub, yang berpengaruh pada koefisien (poin berdasarkan UEFA), dalam hal ini berkaitan dengan seberapa banyak negara tersebut boleh mengirimkan wakil mereka di kompetisi Eropa, kurang lebih seperti itu. Menyesakkan karena, hal yang diraih Inter tersebut adalah sesuatu pencapaian luar biasa yang akan sulit ditandingi Milan, minimal hingga beberapa tahun ke depan. Inter saat itu memang menjadi tim juara, dengan pemain dan pelatih yang jempolan pada diri Jose Mourinho. Milan harus belajar dan menjadikan itu sebagai cambuk motivasi untuk kembali menancapkan kuku sebagai tim kuat Eropa.

Tagged , , ,

Day 18: Favourite Footballer Bromance

Reus-Gotze-1024x683

Apakah bromance itu? Secara awam saya memandang bromance itu (bahasa slank-nya) adalah sebuah “hubungan” antara sesama jenis, dalam hal ini laki-laki, dimana 2 orang itu memiliki ikatan hati dan chemistry yang tidak biasa dan keintiman yang lebih dari sekedar teman atau sahabat, haha bener ga sih. Pokoknya bahasa yang tidak baku ya kurang lebih seperti itu. Kalau bahasa resmi menurut Wikipedia, bromance adalah a close non-romantic relationship between two (or more) men, a form of affectional or homosocial intimacy. Bromance dapat terjadi di mana saja, dalam persahabatan khususnya. Dan apabila ada pertanyaan siapakah bromance pilihan saya dalam sepakbola, mungkin jawabannya adalah mereka berdua di atas: Mario Götze dan Marco Reus. Götze dan Reus adalah 2 pemain muda yang menjadi andalan, baik di Borussia Dortmund klub mereka saat itu dan juga tim nasional Jerman, dimana mereka berdua adalah rising star timnas.

Keduanya menjadi harapan Dortmund saat klub asal Jerman itu melangkah jauh di Liga Champions, dengan keduanya menjadi protagonis klub berwarna kuning hitam tersebut. Reus yang berposisi sebagai gelandang serang dan piawai pula bermain di sebelah kiri lapangan menjadi pemain yang stylish, dengan kontrol bola menawan dan penyelesaian yang akurat, membuatnya tak sulit untuk menjadi pemain pujaan dan berhasil membawa Dortmund menjuarai Bundesliga musim 2010-11. Sedangkan Götze yang lebih berposisi sebagai gelandang, sangat ahli memberikan assist untuk terciptanya gol-gol dari Reus maupun sang striker asal Polandia, Robert Lewandowski.

Begitu pula di tim nasional Jerman. Kekompakan duo yang berbahaya ini tentunya tak lepas dari pengamatan pelatih kepala timnas, Joachim Löw. Sebagai pelatih yang mengambil alih tongkat kepemimpinan dari tangan Jürgen Klinsmann pasca Piala Dunia 2006, Löw yang sangat percaya dengan kemampuan pemain-pemain muda, lebih mengeksplorasi bakat-bakat luar biasa pemain Jerman yang bermain di kompetisi lokal maupun di luar negeri. Dan radar Löw tak mungkin lepas dari duet Götze – Reus. Keduanya diproyeksikan menjadi andalan timnas Jerman untuk tahun-tahun ke depan, mengingat usia keduanya yang masih sangat muda.

Sayangnya, kisah indah dan chemistry Götze – Reus terganggu dan sirna dengan kepindahan Götze menuju rival abadi Dortmund, Bayern München. Memang sedari dulu, klub yang kini dilatih Josep Guardiola itu dikenal sebagai tim yang gemar mengambil talenta-talenta dari klub sesama mereka, terutama Dortmund. Bahkan setelah sukses membajak Götze, München pun kemudian mengangkut Lewandowski. Dan persetujuan Götze untuk meninggalkan Dortmund, sepertinya membuat Reus kecewa, karena pemilik nomor punggung 11 ini tetap menyatakan kesetiaannya pada publik Westfalen. Entah apa alasan yang membuat Götze pindah, kesempatan untuk menjuarai Liga Champions Eropa karena melihat Muenchen lebih memiliki peluang, atau ada alasan lain dibalik kepindahan itu. Bila alasannya hanya karena peluang juara, sepertinya Dortmund juga merupakan tim yang kuat, bahkan mereka sempat juara sebelum dihentikan München pula di final Champions beberapa tahun lalu. Karena uang? Dunno. Yang jelas duet abadi ini terpisah, dan ini menghancurkan hati Reus dan para fans Dortmund sendiri yang dikenal fanatik mendukung klub favorit mereka. Reus pun terus berjuang membangun Dortmund menjadi tim yang lebih bagus, bersama pemain lain yang masih tersisa. Sedangkan Götze, bersama bintang-bintang Hollywood lainnya (julukan untuk München) yang tentunya lebih memiliki nama mentereng, juga merangkai pengalaman barunya.

Publik seakan sudah melupakan garangnya duet Götze dan Reus hingga suatu saat kembali takdir akan mempertemukan mereka. Yup, perhelatan Piala Dunia 2014 yang diadakan di Brasil beberapa waktu lalu, seharusnya menjadi ajang reuni mereka membela satu panji yang sama, bendera negara. Namun apa mau dikata, takdir berkata lain ketika Reus harus menepi dan melupakan mimpinya bermain untuk tim nasional Jerman akibat cedera parah yang dideritanya ketika membela Die Nationalmannschaft pada partai ujicoba. Dan sedihnya lagi, Reus harus menonton perayaan teman-temannya yang meraih gelar juara pertama bagi negara Eropa di tanah Amerika Selatan. Kehilangan Reus menjadi blunder yang sangat menyedihkan bagi timnas, karena betapapun Der Panzer memiliki skuad yang kedalaman timnya diatas rata-rata, mungkin yang terbaik di dunia saat ini, ketika kualitas pemain inti dan pemain cadangan tak jauh berbeda. Betapapun itu, absennya Reus adalah momen yang kurang bagus bagi pecinta sepakbola, minimal, karena kehilangan peluang menyaksikan aksi salah satu bintang muda dunia.

Apalagi Götze telah menjadi pahlawan Jerman setelah gol tunggalnya mengakhiri perlawanan Argentina dan menghindarkan Jerman dari adu penalti yang tentunya melelahkan dan menguras emosi, ketika pertandingan memasuki extra time babak kedua. Götze yang menjadi pemain termuda dalam sejarah yang mencetak gol di final Piala Dunia, seakan tak lupa memberikan penghormatan kepada rekan setim dan sahabatnya Reus, yang gagal tampil, dengan membentangkan jersey Reus bernomor 21 pada saat penyerahan trofi dan selebrasi di lapangan.

Tagged , , , , , ,

Day 17: Transfer(s) That Has Broken Your Heart

andriy-shevchenko-chelsea-liverpool_3416823

Patah hati tidak hanya terjadi pada kisah asmara. Patah hati juga terjadi dalam sepakbola. Objeknya sama, yaitu terputusnya kebahagiaan kita akan suatu orang yang kita cintai, entah karena kepergian, perpisahan, sudah tidak lagi saling mencinta atau menyayangi, bahkan pindah ke lain hati. Ini yang kadang agak sulit kita terima bila terjadi pada kita. Yup, jika anda merasakan salah satu atau lebih dari hal-hal seperti itu, bisa dibilang anda sedang patah hati.

Dan itulah yang terjadi pada kisah saya sepanjang usia menggemari sepakbola. Setelah beberapa kali patah hati dalam aspek asmara di kehidupan nyata haha (kalo dibiarin bisa curhat nih), maka dalam sepakbola ada juga hal-hal yang membuat patah hati, yaitu kepergian jagoan atau pemain andalan ke klub lain.

Adalah Andriy Shevchenko, pemain andalan Milan yang telah banyak berjasa bagi klub, telah memberikan banyak gelar dan menjadi pahlawan, yang harus menyakiti hati para tifosi saat itu dengan keputusannya untuk pindah ke klub lain. Tidak bisa pindah ke lain hati, begitu mungkin anggapan para tifosi melihat loyalitas Sheva saat itu. Apalagi Sheva pun sebelumnya sempat berkata kepada fans dan media bahwa ia tidak akan pindah dan menegaskan akan mengakhiri karirnya di San Siro. Namun, kami para fans telah belajar. Saya pikir sepakbola tidak begitu jauh beda dengan politik, dan pesepakbola juga hampir sama dengan politikus. Tidak ada yang pasti dalam sepakbola, begitu juga dengan statement para pemainnya. Segala sesuatu bisa terjadi dalam sepakbola. Jangan pernah merasa seorang pemain akan berada benar-benar di klub tersebut bahkan apabila ia masih termasuk ke barisan pemain yang memperkenalkan jersey terbaru klub tersebut untuk musim depan. Begitu pula dengan pendelegasian pemain sebagai kapten tim. Kadang ada klub yang mencoba menahan pemain bintangnya agar tidak hengkang dengan cara memberikannya jabatan sebagai kapten tim untuk musim depan. Beberapa berhasil, namun tidak sedikit pula yang bergeming dan tetap hijrah ke klub lain. Kami, para fans, telah mengetahui seluk beluk hal tersebut dan tidak akan kaget lagi bila fenomena itu terjadi pada pemain favorit kami.

Sheva sebenarnya bisa menjadi legenda di Milan, apabila ia pensiun dan mengakhiri karirnya di sana. Terlalu naif memang, tapi jersey nomor 7 bisa saja dipensiunkan mengikuti nomor punggung 3 dan 6. Hal itu sempat menenangkan hati para Milanisti ketika Sheva berbicara kepada pers bahwa tifosi tidak perlu khawatir dirinya akan pindah, mengingat saat itu Chelsea sedang kaya-kayanya dan sangat bernafsu memboyong Il Tsar (Sang Kaisar) ke Stamford Bridge. Di bawah nakhoda Roman Abramovich, sang taipan Rusia yang seakan uangnya tidak berseri, Chelsea terus menerus merayu Milan agar melepas bintangnya. Apalagi sebelum itu, Sheva mendapat Ballon d’Or meskipun setelahnya gagal membawa Milan menjuarai Liga Champions tahun 2005. Kegagalan 2005 kala itu seakan kontradiktif karena 2 tahun sebelumnya justru Sheva menjadi pahlawan setelah tendangannya di adu penalti memastikan kemenangan Milan atas Juventus. Rayuan Chelsea dan Roman coba dibentengi Milan dan Silvio Berlusconi dengan memberikan perpanjangan kontrak pada Sheva.

Saya masih ingat sebagai tifosi saat itu, betapa khawatirnya kami bahwa sang pujaan hati kami akan benar-benar pindah. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Sheva di mata kami, meskipun akibat tendangannya Milan kalah dari Liverpool, tetap saja menjadi pahlawan dan kami tidak akan rela kalau ada klub lain yang berani membawanya pergi. Saya pun ingat ketika itu Milanisti seluruh dunia sampai membuat petisi online yang bisa diisi oleh para fans seluruh dunia, untuk mengubah pendirian Sheva yang sepertinya sudah mulai goyah keputusannya untuk pindah.

Biasanya, pemain terindikasi pindah apabila sudah ada tanda ia mulai terlihat di kota tim tujuan dengan alasan mencari rumah atau tempat tinggal. Dan itu pula yang terlihat dari Sheva. Ia sudah beberapa kali nongol di London bersama sang istri. Dan benar saja, tahun 2006 berita buruk itu terjadi. Saya ingat masih kuliah saat itu ketika di kampus mendengar berita yang mengagetkan. Saya yang lama-lama sudah bisa pasrah akhirnya mengetahui kalau Shevchenko telah sepakat pindah ke Chelsea dengan nilai transfer yang cukup besar kala itu.

Shevchenko, yang karirnya di Milan ditutup dengan pencetak gol sepanjang masa kedua di Milan dengan 175 gol dari 296 penampilan, benar-benar resmi pindah untuk bergabung dengan skuad Jose Mourinho di Inggris. Ia memilih Chelsea kala itu dengan alasan salah satunya ingin mencoba tantangan lain dan ingin lebih bisa berkembang istri dan keluarganya dalam berbicara Inggris. Intinya lebih ke arah pertimbangan keluarga. Namun tak sedikit pula yang mengatakan Sheva pindah karena uang. Money can buy everything, itu semboyan yang terkenal saat itu. Dan Sheva diklaim Milanisti telah menodai kesetiaannya pada Milan, klub yang telah memberikan segalanya.

Apalagi lama kelamaan waktu berbicara bahwa keberadaan Sheva di Chelsea menjadi makin membuat hati Milanisti sakit dan juga ternodai akibat ulahnya yang langsung menyium logo Chelsea di jersey dada sebelah kiri ketika menjadi pencetak gol saat Charity Shield, persis di partai debutnya. Segitu mudahkah Sheva mencintai Chelsea yang baru dibelanya hanya dalam 1 pertandingan? Dan sebegitu mudahnya Sheva melupakan Milan yang telah kurang lebih 7 tahun dibelanya, hanya untuk kemudian dilupakan saat ia membela The Blues di partai perdana? Kalau pada akhirnya pun Sheva kembali ke Milan, itu seakan tidak bisa menutupi luka Milanisti yang pernah ditinggalkannya. Itu hanya sikap wajar Milan memperlakukan dengan baik legendanya yang kembali ke rumah.

Apapun itu, transfer Sheva ke Chelsea adalah salah satu transfer yang membuat saya sebagai fans Milan patah hati.

Tagged , , , , ,

Day 16: Other Current Player You Are A Fan Of

664xauto-barca-incar-evan-dimas-dan-dua-pemain-timnas-u-19-140925n

Berbicara mengenai pemain idola atau kesukaan, saya telah menuliskan di awal-awal tantangan meme bahwa pemain favorit saya saat ini adalah Cristiano Ronaldo, dengan alasan-alasan yang telah saya kemukakan. Kalau ditanya lagi siapa pemain favorit atau pemain yang sedang saya perhatikan akhir-akhir ini dan membuat saya berdecak kagum akan kemampuannya di lapangan maupun personalitasnya di luar lapangan, tak berlebihan kalau saya menyebut satu nama, yaitu kapten tim nasional Indonesia U-19, Evan Dimas Darmono.

Siapakah Evan Dimas? Publik tentu tidak mengetahui siapakah dia hingga ia membawa PSSI lolos ke babak putaran final Piala Asia U-19 di Myanmar tahun ini. Publik sebelumnya juga tidak akan pernah tahu siapa dia sampai dia memimpin rekan-rekannya dengan heroik mengalahkan macan sepakbola Asia, Korea Selatan di GBK beberapa waktu silam. Sekaligus dengan kemenangan itu Indonesia berhak lolos ke Myanmar dan secara mengejutkan membalikkan prediksi pengamat sepakbola Asia, bahkan saat itu saya juga masih ga percaya kalo Indonesia bisa begitu digdaya Korea dikalahin.

Evan Dimas adalah pemain asal Surabaya, yang sepintas mengingatkan saya akan sosok Andres Iniesta, gelandang andalan timnas Spanyol dan Barcelona. Evan Dimas memiliki gaya permainan sama seperti Iniesta. Nomor punggungnya 6, pun sama dengan Iniesta haha. Cukup piawai dalam membantu pertahanan dan unggul dalam mengendalikan tempo penyerangan adalah kelebihannya. Ia pun tak jarang menceploskan gol-gol krusial yang kadang bahkan lebih banyak dari para striker timnas U-19 sendiri. Tendangan kerasnya juga menyerupai Iniesta. Ia mengomandoi rekan-rekannya dari barisan tengah. Meskipun posturnya terbilang mungil, tak jarang pula ia berani berduel dengan pemain lawan yang lebih besar, untuk kemudian merebut bola, membawanya hingga jantung pertahanan lawan, melepaskan umpan-umpan akurat atau bahkan menembak langsung ke gawang.

Evan Dimas masih berumur 19 tahun (lahir 1995) namun telah memiliki jiwa dan karakter seorang pemimpin bagi rekan-rekannya di lapangan. Hal itu menjadi suatu hal yang langka bagi pesepakbola usia muda, dan Evan Dimas telah menunjukkan pribadi itu di atas lapangan. Ia juga saya lihat adalah sosok yang religius dan rendah hati. Hal itu tercermin dari sikapnya (dan juga sikap seluruh tim, pelatih dan ofisial) yang memilih melakukan sujud syukur setiap kali timnas mencetak gol dan meraih kemenangan di akhir laga. Hal itu mau tak mau menjadi sesuatu yang positif bagi perkembangan sisi psikologis dan spiritual mereka. Mudah-mudahan hal tersebut tetap terjaga.

Kita sebagai warga negara Indonesia sekaligus pecinta sepakbola yang sangat haus akan kesuksesan timnas juga mengharapkan bahwa pembinaan pemain muda khususnya anak-anak U-19 berjalan dengan baik. Segala hal yang berhubungan dengan publikasi dan eksploitasi yang tidak penting, kita harapkan bersama tidak dialami mereka, agar fokus dan konsentrasi para pemain tidak terbelah, tidak seperti kakak-kakak seniornya yang tetiba menjadi selebritis. Mohon agar PSSI memperhatikan benar hal ini. Juga kalaupun bisa, agar mereka semua nantinya dikirim saja untuk berlatih dan berkompetisi di luar negeri, jangan di Indonesia yang liganya sudah terkenal busuk dan aneh-aneh saja isinya.

Publikasi dan eksploitasi berlebih itu pula yang akan mengurangi beban mereka sebagai pesepakbola yang kita harapkan berprestasi. Namun mengingat usia mereka yang masih sangat muda, beban berlebih di pundak masing-masing pemain dikhawatirkan akan mengganggu permainan, yang nantinya tidak lagi lepas seperti anak-anak yang sedang berlarian mengejar bola di jalan-jalan dan lapangan sore hari di Indonesia. Ingatlah bahwa permainan lepas seperti itu yang membuat timnas U-19 menang atas Korea Selatan di partai terakhir babak kualifikasi.

Terakhir, mudah-mudahan Evan Dimas sebagai pemain yang saya jadikan pusat perhatian mampu mengemban tugas mulia ini dengan baik. Bertanding di Piala Asia U-19, Indonesia bergabung di Grup B bersama Uzbekistan, Australia dan UEA. Tidak ada lawan yang ringan bila telah memasuki putaran final. Namun seperti kata Evan Dimas “Tidak ada yang tidak bisa dikalahkan, kecuali orang tua dan Tuhan..” hal itu benar-benar membuat kepercayaan diri dalam jiwa masing-masing kita sebagai rakyat dari bangsa yang besar tumbuh.

Hanya dengan lolos ke semifinal, kita akan membuat sejarah baru. Indonesia akan tampil untuk pertama kalinya di Piala Dunia. Mungkin bukan ajang World Cup tingkat senior, namun Piala Dunia U-20 di Selandia Baru juga merupakan turnamen akbar seluruh dunia. Evan Dimas dan kawan-kawan telah optimis dan akan memperjuangkan itu. Kini kita sebagai rakyat Indonesia yang harus mengaminkan dengan dukungan dan doa.

Tagged , , , , , ,

Day 15: Dream XI of All Time

photo

Banyak sekali pemain sepakbola bagus di jagat ini, dan pilihan semua orang pasti berbeda-beda tergantung dari siapa pemain yang mereka suka. Dan kali ini saya akan mencoba menyusun starting eleven pilihan saya sendiri. Mari kita simak siapa saja mereka:

KIPER:

1. Gianluigi Buffon (Italia).

Tak berlebihan kalo Buffon disebut sebagai salah satu kiper legendaris dunia era 2000-an hingga kini. Italia memang dikenal sebagai penghasil kiper-kiper papan atas dunia. Setelah era Dino Zoff, maka Azzurri memiliki Buffon sebagai pewarisnya. Tampil sejak Piala Dunia 1998 namun masih menjadi cadangan, di tim nasional karirnya mulai dirintis ketika menjadi kiper utama di Piala Dunia 2002. Setelah kalah menyakitkan dari Korea Selatan di babak perdelapanfinal kala itu, Buffon tak terbantahkan lagi menjadi andalan palang pintu terakhir di depan gawang Italia. Ia bahkan menjadi suksesor Fabio Cannavaro sebagai capitano. Hingga usianya sekarang yang sudah beranjak 36 tahun, Buffon masih menjadi andalan di timnas maupun klubnya Juventus. Loyalitas Buffon pada tim yang dibelanya pun bukan main, ketika Juventus harus turun ke Serie B karena terlibat kasus pengaturan skor, Buffon tetap setia hingga kembali lagi ke Serie A. Berdiri di bawah mistar gawang tim impian saya, Buffon memberikan ketenangan.

BELAKANG:

2. Marcos Cafu (Brasil).

Salah satu bek kanan terbaik di dunia. Pada masa keemasannya, Cafu menjadi pemain andalan di tim nasional Brasil dan klubnya, Milan. Lebih dulu bermain di Roma sebelum menjadi rossonero, Cafu yang mengkapteni Samba meraih Piala Dunia Korea Jepang 2002, menjadi bek sayap kanan yang cepat dalam membantu serangan dan piawai memutus akselerasi lawan yang beroperasi di sebelah kiri. Pemain bernama asli Marcos Evangelista de Moraes ini benar-benar menjadi momok menakutkan karena umpan-umpan silangnya ke kotak penalti yang akurat. Banyak gol dari striker-striker Milan macam Andriy Shevchenko atau Filippo Inzaghi yang lahir akibat dimanjakan umpan Cafu. Satu lagi, Cafu menjadi pemain yang ramah, sopan dan disukai karena kebiasaannya yang murah senyum. Berada di sisi kanan tim impian saya, Cafu adalah pemain yang tepat untuk membantu barisan pertahanan dan penyerangan.

3. Paolo Maldini (Italia).

Bila saya menempatkan Cafu di sebelah kanan, pilihan yang cocok menjatuhkan pilihan pada Paolo Maldini di sebelah kiri. La Bandiera menjadi trademark bek kiri modern kelas dunia. Sama halnya dengan Cafu, akselerasi Maldini dalam menyerang menjadi jaminan mutu. Memang Maldini tidak seperti Cafu yang piawai memberi crossing, tapi Maldini bak dewa di barisan pertahanan tim yang dibela sepanjang karirnya, Milan. Tanyakan pada Ronaldo Nazario atau Zinedine Zidane siapa bek yang paling sulit dihadapi mereka sepanjang karir, maka Maldini jawabannya. Pada masa jayanya, siapa yang meragukan kapasitas Maldini di timnas dan Milan. Bicara loyalitas, dipensiunkannya nomor 3 Milan adalah bukti sahih betapa ia begitu dihormati. Dalam hal membantu serangan, beberapa kali gol diciptakannya. Dalam hal membantu pertahanan, ia pun kapabel diplot sebagai bek tengah. Sayang, hanya Ballon d’Or yang belum pernah diraihnya sepanjang karir. Bagaimanapun itu, Maldini menjadi nama yang paling pantas ditempatkan di posisi kiri tim impian saya.

4. Franz Beckenbauer (Jerman).

Der Kaiser atau Sang Kaisar, adalah julukan yang disematkan kepada legenda ini. Berbicara mengenai tim nasional Jerman, tentu tak lepas dari namanya. Ia adalah maestro sepakbola di barisan belakang, dan menjadi pemain paling digdaya untuk ditempatkan lini pertahanan dalam sistem libero, yaitu seorang bek yang berdiri tepat di depan penjaga gawang. Beckenbauer sangat fasih menjalani peran itu, sehingga bila berbicara mengenai libero, maka Beckenbauer adalah orangnya. Tampil sebagai kapten Jerman ketika menjuarai  Piala Dunia 1974, ia kembali membawa Jerman menjuarai trofi nomor satu dunia itu ketika menjadi arsitek tim di tahun 1990. Sebagai pemain dan pelatih ia sudah lengkap dengan penghargaan, dan meskipun saya sebagai penggemar sepakbola tidak sempat melihatnya bermain, namun hal itu tidak mengurangi respek saya untuk menempatkannya sebagai salah satu bek tengah pada tim impian saya.

5. Franco Baresi (Italia).

Siapa yang patut mendampingi Beckenbauer dalam pola center back lini belakang? Bila harus memilih satu nama yang pantas, pikiran ini langsung menuju Franco Baresi. Duet Baresi dan Beckenbauer adalah bicara kualitas dan keagungan sepakbola. Baresi, bersama Maldini menjadi salah dua pemain yang dikeramatkan nomor punggungnya di Milan. Hal itu mengindikasikan bagaimana peran sentralnya semasa menjadi pemain. Berbagai gelar telah diraihnya di level klub, mulai dari liga domestik sampai gelar eropa dan antar benua. Di tingkat negara, Piala Dunia 1982 pernah direngkuhnya. Baresi menjadi simbol pola catenaccio atau sistem pertahanan gerendel yang tersohor di Italia. Penguasaan zona marking dan man to man marking-nya tak perlu diragukan lagi. Bersama Der Kaiser, ia benar-benar akan membuat saya bisa tidur nyenyak, karena yakin bahwa gawang tim impian saya akan suliti dibobol lawan.

TENGAH:

6. Andrea Pirlo (Italia).

Beranjak ke lini selanjutnya, pilihan saya akan pemain yang menempati salah satu posisi di barisan tengah tak bisa dilepaskan dari nama Andrea Pirlo. Sang Metronom, begitu julukannya selama masih membela Milan, membuat tim impian saya tidak perlu khawatir akan kehadiran seorang pemain yang mampu melepaskan umpan-umpan jitu dari tengah lapangan. Segala macam tipe dan metode umpan, pendek maupun panjang, adalah pekerjaan Pirlo dan ia melakukannya seperti memejamkan mata. Pemain yang di awal karirnya menjalani peran sebagai trequartista atau penyerang lubang ini, di masa keemasannya lebih maksimal sebagai deep-lying midfielder, yaitu posisi pemain tengah yang berada tepat di depan empat bek sejajar. Melalui posisinya ini, Pirlo sangat leluasa mengendalikan tempo permainan. Ia menjadi pemain pertama yang memutus alur serangan lawan, pun menjadi pemain utama yang memberikan umpan ke segala sisi lapangan. Berbicara bola mati, Pirlo juga ahlinya. Tak terhitung tendangan bebas indah yang diciptakan dari kakinya. Memiliki pemain yang menjalani 10 tahun karirnya di Milan ini sebagai salah satu personil lini tengah, akan membuat setiap orang menikmati indahnya permainan sepakbola dari tim impian saya.

7. David Beckham (Inggris).

Salah satu pemain terbesar Inggris dan dunia di era sepakbola modern. Kalo bicara tentang pemain kelas wahid yang beroperasi di sayap kanan, maka orang ini akan muncul di posisi paling atas dari daftar nama yang ada. Beckham tidak hanya menjadi pemain sepakbola, ia adalah ikon sepakbola itu sendiri. Becks adalah megabintang sepakbola, dimana kualitas permainannya di dalam maupun di luar lapangan sama hebatnya. Becks adalah pemain yang apabila melepaskan umpan, maka kakinya seperti punya mata, artinya bola akan mencari pemain yang dikasih umpan, bukan si pemain yang sewajarnya mencari bola. Becks adalah pemain nomor satu dalam urusan mengirim crossing dari sisi kanan. Dan saya jamin striker manapun akan tersanjung dan merasa istimewa mendapatkan Beckham sebagai pelayanannya. Untuk urusan bola mati atau free kick, saya sendiri juga bingung siapa yang bakal ngambil, dia atau Pirlo. Saya suruh suit aja palingan.

8. Cristiano Ronaldo (Portugal).

Menempatkan Cristiano di posisi sebelah kiri tim impian saya sebenarnya sama dengan perjudian. Cristiano seakan mubazir bila “hanya” ditempatkan sebagai pemain sayap, karena memang sesungguhnya bila namanya ada dalam setiap starting eleven di klub mana saja, pelatih manapun akan memberinya kebebasan bermain di segala penjuru lapangan. Sudah habis kata-kata saya untuk menggambarkan pemain yang satu ini, salah satu pemain besar yang sudah layak menjadi legenda sepakbola. CR7 Memiliki skill, gocekan dan dribbling ala pemain Amerika Selatan dan kecepatan lari pemain Eropa, merupakan perpaduan mumpuni yang sangat jarang dimiliki pemain manapun di belahan dunia ini. Bila ditempatkan di sayap kiri, saya membayangkan Cristiano berlari dengan bola di kakinya, melewati satu, dua bahkan tiga pemain lawan dengan step over-nya, untuk kemudian mendekati kotak penalti dan melepaskan tembakan keras menghunjam gawang lawan. Well, kita menonton Real Madrid atau Portugal bermain hanya untuk melihat Cristiano mencetak gol, bukan?

9. Zinedine Zidane (Prancis).

Kalau ada yang nanya siapa pemain yang membuat bola seakan betah nempel di kakinya, tidak bisa lepas apalagi direbut lawan, ia mungkin sedang melihat Zinedine Zidane bermain. Zizou, panggilan akrabnya, memang sang empunya ciri khas ini. Sisi indah sepakbola salah satunya bisa dilihat dari caranya bermain, melihatnya membawa bola, mengontrol bola dengan satu dua sentuhan, untuk kemudian melepaskan umpan-umpan yang kadang tak masuk akal dan seringkali ia mencetak golnya sendiri dengan spektakuler. Namanya mulai harum semenjak membawa Prancis menguasai Eropa dan dunia era 1998 hingga 2000-an. Setelahnya adalah sejarah. Zizou sempat menjadi pemain termahal dunia ketika ditransfer Real Madrid dari Juventus, namun harga segitu menjadi sangat pantas untuk mendapatkan servis dirigen sepakbola ini. Dalam tim impian saya, Zizou saya tempatkan sebagai trequartista atau penyerang lubang di belakang duet penyerang.

DEPAN:

10. Lionel Messi (Argentina).

Pemain yang terus menapaki karirnya sebagai yang terbaik di dunia. Lebih dari itu, orang ini sedang, telah dan akan terus menjalani hidupnya sebagai legenda sepakbola. Bila Argentina memenangi Piala Dunia, maka lengkaplah sudah pencapaian Lionel Messi sebagai yang terbaik di dunia, karena seluruh gelar yang ada di kolong langit telah dimenanginya. Akan menjadi suatu perdebatan yang tiada habisnya bila bertanya apakah ia merupakan titisan sang legenda Maradona atau bukan. Namun yang jelas, Messi nyatanya lebih dari Maradona. Saya sudah tak punya kata-kata lagi untuk mendeskripsikan The Messiah. Yang saya takutkan malah tim saya menjadi Messi-dependent bila pemain Barcelona ini berada di tim impian saya. Tapi tunggu dulu, Messi-dependent masihkah berlaku di skuad semacam ini?

11. Ronaldo Nazario (Brasil).

Ada 2 Ronaldo di tim ini. Well, untuk membedakannya, kalian sudah pasti tahu kalau pemain yang saya deskripsikan ini adalah “The Real” Ronaldo. Yup, Ronaldo Luis Nazario de Lima adalah striker yang hingga detik ini masih saya anggap sebagai striker paling berbahaya yang pernah dilahirkan di Brasil. Ia dijuluki Sang Fenomena, untuk menandakan betapa kemunculannya di jagad sepakbola membawa suatu hal yang luar biasa mencengangkan dan menjadi buah bibir seluruh dunia. Pada masa keemasannya, mungkin kemunculan Ronaldo sendiri mampu melawan 11 pemain lawan. Ia mampu mencetak gol melewati berapa pun bek lawan. Terlalu indah untuk menjadi kenyataan, melihat Ronaldo akan berduet dengan Messi di lini depan suatu tim sepakbola.

PELATIH: Carlo Ancelotti (Italia).

Untuk melengkapi formasi tim impian saya, mereka butuh pelatih yang tak hanya ahli strategi, tapi juga pelatih yang mampu dan cakap dalam hal meramu pemain bintang dengan segala talenta dan juga egonya. Dan menurut saya, saat ini pelatih yang handal menangani itu adalah Carlo Ancelotti. Hal tersebut sudah terbukti dengan mampunya ia membawa klub yang ditanganinya meraih berbagai gelar, dengan komposisi para bintang di dalamnya. Don Carlo menjadi pelatih yang sanggup membawa harmonisasi dalam tim. Juga sebagai ahli strategi, Ancelotti mampu menampilkan sepakbola menyerang dengan baik, namun tetap mengedepankan kualitas pertahanan. Agak subjektif sih ini, karena Ancelotti merupakan pelatih favorit saya.

Yang jelas dengan tim seperti ini, skuad saya siap lahir batin untuk melawan tim yang berisi alien dari planet manapun, dengan kualitas bagaimanapun, bahkan kami siap apabila diutus untuk menyelamatkan peradaban umat manusia sekalipun.

Tagged , , , ,

Day 14: Live Match(es) Have You Been To

gonzalesfires

Kalo berbicara mana pertandingan yang saya tonton secara langsung, tentu saya akan mengingat pertandingan yang secara empiris berkesan bagi saya. Tentunya pula, pertandingan itu melibatkan keriuhan puluhan ribu suporter yang bersorak tiada henti mendukung salah satu tim yang bertanding. Dan beruntungnya, puluhan ribu orang itu sama mendukung tim yang saya dukung pula. Ya, tim itu adalah Tim Merah Putih, Garuda Indonesia. Apalagi bila pertandingan dilangsungkan di Stadion terbesar kebanggan Indonesia, Gelora Bung Karno. Dan menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi saya sebagai warga negara, pecinta sepakbola, sekaligus pendukung tim nasional Indonesia untuk menonton langsung di stadion bersama puluhan ribu suporter lain.

Well, ketika itu saya menonton hajatan besar sepakbola Asia Tenggara yang dilangsungkan di Indonesia sebagai tuan rumah. AFF Cup, atau yang dahulu bernama Tiger Cup, kompetisi sepakbola paling akbar se Asia Tenggara tengah digelar. Dan ketika itu Indonesia sedang dilanda euforia, karena penampilan timnas sedang bagus-bagusnya.

Garuda tengah berpesta karena penampilan timnas baik sekali di fase grup. Semua lawan dilibas satu persatu, termasuk raja sepakbola Asia Tenggara, Thailand. Faktor tuan rumah tentunya menjadi nilai plus yang membuat penampilan Bambang Pamungkas dkk menggila. Dukungan suporter fanatik Indonesia yang terkenal luar biasa gila bila menyangkut solidaritas mendukung tim nasional, membuat kita patut berbangga menjadi salah satu fans terbaik Asia Tenggara, bahkan mungkin Asia. Berlebihan? Jika kalian pernah datang langsung dan melihat timnas bermain main saat stadion sedang penuh-penuhnya, hal itu nyata dan benar-benar bisa bikin bulu kuduk merinding.

Penampilan ciamik timnas saat itu juga dipengaruhi oleh beberapa amunisi pemain-pemain “baru”. Baru disini artinya Indonesia mulai memperkenalkan pemain naturalisasi, yaitu pemain warga negara lain yang bisa mendapatkan status WNI dengan syarat dan ketentuan tertentu. Yang paling terkenal saat itu adalah Cristian Gonzales yang telah lama malang melintang di blantika sepakbola nasional. El Loco yang lahir di Uruguay akhirnya berhasil membela timnas, meskipun saat itu usianya sudah tidak lagi muda, 34 tahun. Satu lagi pemain keturunan Belanda yang lahir di Indonesia, kalau yang ini bukan lahir dari proses naturalisasi karena ia hanya lama berkelana di luar negeri untuk dipanggil membela Tanah Air. Irfan Haarys Bachdim menjadi idola penonton saat itu, khususnya kaum hawa yang mulai rela datang ke stadion atau hanya menonton lewat layar kaca. Bachdim yang berwajah tampan cukup memukau permainannya dan sempat menorehkan namanya di papan skor.

Singkatnya, Indonesia lolos ke semifinal dan harus berhadapan dengan Filipina. Negeri yang dulu ga ada apa-apanya kalo main bola itu berubah menjadi negara yang tiba-tiba ditakuti di kawasan Asia Tenggara. Yup, apalagi kalo bukan lagi-lagi tentang naturalisasi. Kalo Indonesia lebih banyak mengimpor pemain-pemain keturunan Belanda yang menjadi negara penjajah kita, Filipina banyak menyegel pemain-pemain keturunan Inggris yang bule-bule. Juga karena latar belakang kolonialisasi. Dan mereka menjadi andalan tim yang sebelumnya lebih dikenal sebagai jagonya basket itu. Nama-nama seperti Phil dan James Younghusband bersaudara dan kiper Neil Etheridge tentunya akan diingat terus sebagai bintang kala itu. Dan hal itu pula yang sempat merepotkan Indonesia ketika 2 negara ini bentrok di semifinal. Anehnya, laga yang harusnya dilangsungkan home and away itu secara kebetulan dua-duanya dilangsungkan di GBK, karena seingat saya Filipina tidak memiliki stadion yang layak digunakan untuk partai internasional sekelas AFF Cup. Jadilah Indonesia dan suporternya beruntung karena punya 2 match home.

Meskipun main di kandang dan didukung gemuruh suporter, timnas Garuda kerepotan meladeni permainan Filipina. Di match pertama timnas hanya menang 1-0 dan juga skor serupa terjadi di leg kedua. Ketika itu saya dan teman-teman menonton partai kedua, dan saking sulitnya mendapat tempat karena kepenuhan suporter yang sudah lebih dulu memasuki stadion, kita kebagian di belakang gawang agak serong sebelah kiri. Saya ingat pandangan saya pas di obor besar yang berada di sebelah kiri gawang haha. Ketutupan dan ga enak banget. Mau pindah, tapi keadaan sudah mustahil karena banyaknya manusia.

Dan benar saja, ketika El Loco menjebol gawang Filipina dengan satu tendangan keras kaki kiri yang menghunjam gawang Etheridge, GBK seakan pecah dan tribun di atas seperti hendak mau runtuh. Saya langsung mikir, hebat banget ya konstruksi GBK jaman dahulu ketika dibangun karena bisa menampung sekitar 80 ribu orang lebih. Penonton bersorak dan sungguh, pengalaman menonton pertandingan live di stadion tidak ada yang bisa menggantikan suasananya dibanding nonton di televisi, meskipun ga bisa liat tayangan ulang, hehe.

Sayangnya hingga akhir laga, penonton ga bisa lagi bersorak lompat-lompat merayakan gol-gol lanjutan dari Garuda. Karena skor 1-0 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan. Dengan agregat 2-0 timnas berhasil lolos ke final untuk menantang musuh bebuyutan, Malaysia. Pertandingan yang juga dilangsungkan home and away nantinya itu, menjadi antiklimaks perjalanan timnas di AFF Cup 2010. Ga usah saya ceritakan disini, karena kalian juga sudah ingat hasilnya yang tragis itu.

Itulah salah satu pertandingan yang saya saksikan langsung di stadion. Ada beberapa yang lain misalkan kedatangan Milan Glorie atau pertandingan timnas melawan negara lain. Tapi saya belum pernah lho menonton pertandingan Liga Indonesia. Jika merunut beberapa tahun lalu ketika Liga Indonesia masih saya gemari, mungkin ada niat bagi saya untuk menonton langsung di stadion, bila sudah masuk ke babak penentuan yang (dulu) diadakan di GBK. Namun seiring waktu, makin kemari saya makin tidak mengikuti gegap gempita Liga Indonesia, alhasil saya sudah tidak paham lagi akan sepak terjang liga lokal kita tercinta itu. Dan satu lagi, hal klasik yang membuat rakyat malas untuk datang ke stadion: keamanan. Itu yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah PSSI. Bila masyarakat masih belum ingin datang ke stadion, faktor keamanan dan juga kualitas pertandingan mungkin masih menjadi sorotan. Bila sudah teratasi, saya merindukan suasana penuh stadion dengan anak-anak kecil, perempuan dan keluarga, seperti yang biasa diperlihatkan liga-liga di Eropa dan negara-negara lainnya.

Tagged , , ,

My 5 Favourite Coldplay Songs.

121126-Coldplay

Karena baru semalam saya mendengarkan playlist Coldplay di dalam mobil, khususnya lagu-lagu di album konser Coldplay Live (2012) yang sepertinya direkam pada saat mereka manggung di beberapa kota Eropa, salah satunya Paris. Setelah itu tangan saya gatel mau nulis apa aja sih lagu Coldplay yang saya suka. Karena sungguhlah, band yang satu ini memiliki daftar lagu yang tak biasa, setlist konser yang hampir semuanya mumpuni, dan menonton mereka live adalah salah satu impian yang belum terwujud hingga kini. Dan berikut saya hitung mundur 5 lagu Coldplay yang menjadi favorit saya. Cekidot gan:

5. Shiver (album Parachutes, 2000)

Lagu ini diambil dari album perdana mereka yang menjadi titik awal perkenalan Coldplay di blantika musik dunia. Diletakkan di track 2 setelah Don’t Panic, Coldplay mulai menyebar bius musiknya ke telinga penggemar musik sejagat raya di album pertama mereka ini. Lagu yang bertempo cepat ini enak didengar karena alunan musiknya yang mengalun konstan bergenre alternaive rock, dengan bunyi-bunyian gitar yang menggariskan dengan keras karakter Coldplay saat itu.

Chris Martin, Guy Berryman, Jonny Buckland dan Will Champion dalam video klipnya masih sangat muda. Martin memakai kaos lidah menjulur khas The Rolling Stones. Dan mereka bermain dalam suatu studio dengan posisi melingkar. Klip ini memunculkan kesan perkenalan Coldplay sebagai suatu band yang solid dengan skill yang sebenarnya biasa, namun apik dan kompak. Video klip yang bagus untuk ukuran band yang ingin mencoba mengenalkan diri mereka pada dunia.

4. A Sky Full Of Stars (album Ghost Stories, 2014)

Menarik bila lagu ini masuk ke dalam list, karena selain tergolong baru, sebuah lagu masuk kategori favorit bila telah lama didengar dan merasuk ke dalam jiwa raga, dan kuping seakan lekat menerima tanpa syarat akan lagu tersebut. Dan kemunculan Ghost Stories belum ada 2 bulan lebih, namun lagu ini seakan sudah menjadi yang paling akrab di telinga.

Mengakomodir musik baru bertema EDM, Coldplay mengguncang kebiasaan musik mereka yang biasanya alternative rock dengan mempertunjukkan jenis musik satu ini. Musik dugem, kata mereka yang baru pertama kali denger. Ya memang tidak salah. Reff dari lagu ini memang akrab di telinga kita-kita atau mereka yang tahu dan menyimak lagu-lagu Avicii atau Armin Van Buuren dan semacamnya. Coldplay dengan rasa trance, dan menurut saya keberanian empat orang asal London itu untuk menunjukkan musik jenis ini patut diacungi jempol. A Sky Full Stars resmi masuk ke dalam golongan lagu-lagu akbar yang pantas dinyanyikan dengan khidmat di konser, bersama dengan Yellow, Every Teardrop Is A Waterfall, Viva La Vida, Paradise, dan lainnya.

3. Speed Of Sound (album X&Y, 2005)

Lagu ini masuk dalam daftar karena saya ingat pertama kali Coldplay mengeluarkan X&Y dengan Speed Of Sound sebagai jagoan. Saya terpana dan terpukau akan kedalaman nuansa lagu ini. Hingga saya ingat ketika itu saya mencoba merekam lagu ini dari radio (dulu belum jaman digital), ketika lagu ini di-request dalam acara permintaan putar memutar lagu di radio.

Sesuai dengan tema album X&Y yang bernuansa elektronik, video klip lagu ini juga dibuat dengan tone gelap, dimana para personil Coldplay perform di depan sebuah lampu LED raksasa yang menyala dengan terang, sehingga hanya siluet mereka saja yang tampak dalam klip. Meskipun saya jarang melihat lagu ini dibawakan ketika live, namun Speed Of Sound cukup menarik perhatian saya dan menjadi salah satu yang terfavorit dengan alunan irama dan tempo yang khas.

2. Charlie Brown (album Mylo Xyloto, 2011)

Mengejutkan ketika lagu ini masuk dalam daftar lagu-lagu Coldplay favorit saya, dan duduk di posisi runner-up. Kenapa? Karena sebenarnya lagu ini hanyalah single ke-3 dari album Mylo Xyloto. Namun nuansa yang dibawa lagu ini mengingatkan saya akan satu masa dimana saya menganggap hidup saya berada di alam mimpi. Ini serius, bunyi-bunyian yang mereka ciptakan seakan membawa saya ke dunia masa kecil, yang tidak bisa saya terjemahkan ke dalam tulisan namun ada di alam pikiran. Video klip yang dihadirkan pun mendukung, dengan warna warni wrist band yang menyala yang biasa dipakai oleh mereka yang menonton Coldplay secara live ketika konser. Penuh dengan aura khayalan, fantasi dan nuansa positif.

Argh, menonton klip ini seakan membuat diri saya tak sabar untuk segera menjalani pengalaman menonton mereka manggung di depan mata, dengan segala entertainment yang mereka hadirkan pada saat konser. Khususnya bila saya amati, aksi panggung dengan wrist band warna warni dan semacamnya merupakan atribut konser tema Mylo Xyloto. Nah untuk album Ghost Stories yang terbaru, entah tema apa yang akan dipakai. Well, sekali lagi saya berharap untuk bisa secepatnya merasakan atmosfir konser mereka, hehe.

1. Fix You (album X&Y, 2005)

Kalau yang ini, sudah jelas merupakan lagu Coldplay terfavorit saya yang paling saya sukai. Baik dari segi lirik, musikalitas, tempo dan nuansa yang hadir setiap mendengar lagu ini, membuat saya terdiam sejenak dan coba mengikuti dan menghayati dengan seksama esensi lagu ini. Saya pikir Chris Martin adalah seorang jenius ketika bisa membingkai suatu kejadian yang buruk, yang pernah dialami oleh setiap orang dalam hidupnya, rasa kehilangan, rasa kesia-siaan, rasa lelah, dan rasa tak berarti untuk dituangkan dalam rangkaian nada dan instrumen musik yang menjadi elemen penting Fix You. Konon lagu ini bercerita tentang kehilangan. Terinspirasi dari sang mantan istri, Gwyneth Paltrow yang baru saja kehilangan orang tuanya.

Saking ngefans nya saya dengan lagu ini, saya ingat ketika itu saya menonton konser sebuah band yang sedang digandrungi anak muda dengan lagu-lagu alternatif mellownya, dan saya yang sama sekali tidak mengerti diam saja sepanjang konser. Hingga akhirnya si artis membawakan intro lagu ini dan wow, saya langsung bersorak. Ternyata, si artis dalam albumnya sengaja meng-cover lagu ini dan alhasil saya otomatis nyanyi sepanjang lagu dan teriak paling kencang sendiri. Well meskipun ga sebagus versi asli Coldplay. Atau ini, saya sengaja merekam suara saya sendiri menyanyi lagu ini dan meng-aplotnya di SoundCloud dalam sesi genjrang genjreng tengah malam di kamar, haha. Atau ini lagi, saya sengaja membeli lagu ini dari iTunes seharga 7 ribu rupiah untuk disimpan dalam iPad, hehe. Jarang banget saya beli lagu digital, lho. Intinya, lagu ini jenius dan cocok didengarkan di segala musim situasi dan kondisi.

Tagged , , ,
Advertisements