Tag Archives: shevchenko

Day 17: Transfer(s) That Has Broken Your Heart

andriy-shevchenko-chelsea-liverpool_3416823

Patah hati tidak hanya terjadi pada kisah asmara. Patah hati juga terjadi dalam sepakbola. Objeknya sama, yaitu terputusnya kebahagiaan kita akan suatu orang yang kita cintai, entah karena kepergian, perpisahan, sudah tidak lagi saling mencinta atau menyayangi, bahkan pindah ke lain hati. Ini yang kadang agak sulit kita terima bila terjadi pada kita. Yup, jika anda merasakan salah satu atau lebih dari hal-hal seperti itu, bisa dibilang anda sedang patah hati.

Dan itulah yang terjadi pada kisah saya sepanjang usia menggemari sepakbola. Setelah beberapa kali patah hati dalam aspek asmara di kehidupan nyata haha (kalo dibiarin bisa curhat nih), maka dalam sepakbola ada juga hal-hal yang membuat patah hati, yaitu kepergian jagoan atau pemain andalan ke klub lain.

Adalah Andriy Shevchenko, pemain andalan Milan yang telah banyak berjasa bagi klub, telah memberikan banyak gelar dan menjadi pahlawan, yang harus menyakiti hati para tifosi saat itu dengan keputusannya untuk pindah ke klub lain. Tidak bisa pindah ke lain hati, begitu mungkin anggapan para tifosi melihat loyalitas Sheva saat itu. Apalagi Sheva pun sebelumnya sempat berkata kepada fans dan media bahwa ia tidak akan pindah dan menegaskan akan mengakhiri karirnya di San Siro. Namun, kami para fans telah belajar. Saya pikir sepakbola tidak begitu jauh beda dengan politik, dan pesepakbola juga hampir sama dengan politikus. Tidak ada yang pasti dalam sepakbola, begitu juga dengan statement para pemainnya. Segala sesuatu bisa terjadi dalam sepakbola. Jangan pernah merasa seorang pemain akan berada benar-benar di klub tersebut bahkan apabila ia masih termasuk ke barisan pemain yang memperkenalkan jersey terbaru klub tersebut untuk musim depan. Begitu pula dengan pendelegasian pemain sebagai kapten tim. Kadang ada klub yang mencoba menahan pemain bintangnya agar tidak hengkang dengan cara memberikannya jabatan sebagai kapten tim untuk musim depan. Beberapa berhasil, namun tidak sedikit pula yang bergeming dan tetap hijrah ke klub lain. Kami, para fans, telah mengetahui seluk beluk hal tersebut dan tidak akan kaget lagi bila fenomena itu terjadi pada pemain favorit kami.

Sheva sebenarnya bisa menjadi legenda di Milan, apabila ia pensiun dan mengakhiri karirnya di sana. Terlalu naif memang, tapi jersey nomor 7 bisa saja dipensiunkan mengikuti nomor punggung 3 dan 6. Hal itu sempat menenangkan hati para Milanisti ketika Sheva berbicara kepada pers bahwa tifosi tidak perlu khawatir dirinya akan pindah, mengingat saat itu Chelsea sedang kaya-kayanya dan sangat bernafsu memboyong Il Tsar (Sang Kaisar) ke Stamford Bridge. Di bawah nakhoda Roman Abramovich, sang taipan Rusia yang seakan uangnya tidak berseri, Chelsea terus menerus merayu Milan agar melepas bintangnya. Apalagi sebelum itu, Sheva mendapat Ballon d’Or meskipun setelahnya gagal membawa Milan menjuarai Liga Champions tahun 2005. Kegagalan 2005 kala itu seakan kontradiktif karena 2 tahun sebelumnya justru Sheva menjadi pahlawan setelah tendangannya di adu penalti memastikan kemenangan Milan atas Juventus. Rayuan Chelsea dan Roman coba dibentengi Milan dan Silvio Berlusconi dengan memberikan perpanjangan kontrak pada Sheva.

Saya masih ingat sebagai tifosi saat itu, betapa khawatirnya kami bahwa sang pujaan hati kami akan benar-benar pindah. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Sheva di mata kami, meskipun akibat tendangannya Milan kalah dari Liverpool, tetap saja menjadi pahlawan dan kami tidak akan rela kalau ada klub lain yang berani membawanya pergi. Saya pun ingat ketika itu Milanisti seluruh dunia sampai membuat petisi online yang bisa diisi oleh para fans seluruh dunia, untuk mengubah pendirian Sheva yang sepertinya sudah mulai goyah keputusannya untuk pindah.

Biasanya, pemain terindikasi pindah apabila sudah ada tanda ia mulai terlihat di kota tim tujuan dengan alasan mencari rumah atau tempat tinggal. Dan itu pula yang terlihat dari Sheva. Ia sudah beberapa kali nongol di London bersama sang istri. Dan benar saja, tahun 2006 berita buruk itu terjadi. Saya ingat masih kuliah saat itu ketika di kampus mendengar berita yang mengagetkan. Saya yang lama-lama sudah bisa pasrah akhirnya mengetahui kalau Shevchenko telah sepakat pindah ke Chelsea dengan nilai transfer yang cukup besar kala itu.

Shevchenko, yang karirnya di Milan ditutup dengan pencetak gol sepanjang masa kedua di Milan dengan 175 gol dari 296 penampilan, benar-benar resmi pindah untuk bergabung dengan skuad Jose Mourinho di Inggris. Ia memilih Chelsea kala itu dengan alasan salah satunya ingin mencoba tantangan lain dan ingin lebih bisa berkembang istri dan keluarganya dalam berbicara Inggris. Intinya lebih ke arah pertimbangan keluarga. Namun tak sedikit pula yang mengatakan Sheva pindah karena uang. Money can buy everything, itu semboyan yang terkenal saat itu. Dan Sheva diklaim Milanisti telah menodai kesetiaannya pada Milan, klub yang telah memberikan segalanya.

Apalagi lama kelamaan waktu berbicara bahwa keberadaan Sheva di Chelsea menjadi makin membuat hati Milanisti sakit dan juga ternodai akibat ulahnya yang langsung menyium logo Chelsea di jersey dada sebelah kiri ketika menjadi pencetak gol saat Charity Shield, persis di partai debutnya. Segitu mudahkah Sheva mencintai Chelsea yang baru dibelanya hanya dalam 1 pertandingan? Dan sebegitu mudahnya Sheva melupakan Milan yang telah kurang lebih 7 tahun dibelanya, hanya untuk kemudian dilupakan saat ia membela The Blues di partai perdana? Kalau pada akhirnya pun Sheva kembali ke Milan, itu seakan tidak bisa menutupi luka Milanisti yang pernah ditinggalkannya. Itu hanya sikap wajar Milan memperlakukan dengan baik legendanya yang kembali ke rumah.

Apapun itu, transfer Sheva ke Chelsea adalah salah satu transfer yang membuat saya sebagai fans Milan patah hati.

Advertisements
Tagged , , , , ,