Tag Archives: piala dunia

Day 25: Describe Your Typical Matchday Routine

brazil-fans-tv

My typical matchday routine? Well karena saya bukanlah seorang pemain sepakbola, hanyalah penikmat sepakbola. Dan menurut saya bahasan ini adalah cocok bagi mereka yang bermain, maka saya akan menganalogikan challenge hari ini dengan typical matchday routine bagi seorang penikmat. Yup, saya akan mengambil contoh pagelaran Piala Dunia 2014 yang telah berlalu kemarin.

Piala Dunia memang selalu memunculkan kisah menarik. Tidak hanya bagi para pemainnya, namun juga seisi negara dari tim nasional yang bertanding, dan melibatkan seluruh aspek negara tersebut: entah itu mulai dari rakyat jelata hingga kepala negara. Semua dijamin mendukung negara mereka yang sedang bertanding. Bahkan Barack Obama, Presiden AS pun sesekali di sosial media nampak fotonya menonton timnas AS ketika bertanding, bahkan beliau sampai membuat suatu surat untuk khusus untuk perusahaan-perusahaan AS agar meliburkan karyawannya, karena hari itu bertepatan dengan timnas AS bermain untuk menentukan apakah mereka lolos ke babak selanjutnya atau tidak. Luar biasa. Jangankan mereka yang negaranya terlibat, para pecinta sepakbola yang negaranya tidak (pernah) ikut serta saja kadang lebih heboh seakan-akan negara mereka ikut berpartisipasi. Salah satunya di Indonesia.

Pecinta sepakbola Indonesia dihadapkan pada kenyataan yang cukup berat bila ada turnamen besar yang diselenggarakan di luar benua mereka (Asia). Contoh yang paling kentara adalah bila ada pertandingan (kompetisi) di Eropa. Perbedaan waktu membuat penikmat sepakbola Asia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya, harus “mengalah” karena kebagian jatah menonton live match pada malam dan dini hari. Memang hal itu semakin lama menjadi kebiasaan, tapi bila menyangkut Piala Dunia, akan tercipta suatu dilematisasi yang besar (bahasa apa ini). Karena Piala Dunia adalah event 4 tahunan yang tidak boleh dilewatkan, dan nyatanya Piala Dunia selalu hadir pada jam-jam yang tidak nyaman bagi pecinta sepakbola tanah air, dan ironisnya hal tersebut berlangsung selama 1 bulan penuh. Itu pastinya akan mengganggu jam biologis kita yang harus bekerja di siang harinya. Jika malam dibuat begadang terus menerus, tentu kinerja kita di siang hari akan terganggu. Dan itulah yang terjadi pada gelaran Piala Dunia Brasil 2014 lalu.

World Cup 2014 bisa menghadirkan rata-rata 3 pertandingan setiap harinya, kadang 4. Dan bila dicocokkan dengan waktu Indonesia bagian barat, 4 pertandingan tersebut hadir di jam 23.00, 2.00, 5.00 dan beberapa 8.00 pagi. Yang sampai jam 8 pagi adalah pertandingan yang dimainkan di akhir pekan, mungkin di sana malam sekali. Yang jadi pertanyaan, jangankan sampai jam 8 pagi. Bila dikonversikan waktu Indonesia, sungguhlah menjadi suatu hal yang mustahil bagi pecinta sepakbola semaniak apapun untuk kuat dan tahan mengikuti seluruh pertandingan jam 11, 2 pagi dan 5 subuh, dan mereka pun juga harus bekerja keesokan harinya. Kuat sih, tapi menurut saya hanya bisa bertahan 1-2 hari, dan itu juga catatannya tidak tidur. Jika tidak tidur pun, niscaya di kantor bakal ngantuk abis. Atau malah bisa ketiduran tanpa disengaja dan bablas bangun keesokan harinya.

Itulah yang terjadi pada saya ketika itu. Bangun kesiangan sudah bukan barang baru lagi. Hari-hari saya di era Piala Dunia sungguhlah menjadi suatu hal yang mudah ditebak. Dari pagi hingga malam ngantor, pas pulang sampai rumah sudah jam 10-11, masuklah saya ke dalam kamar dan menyalakan TV, kemudian melihat di ANTV atau TV One pasti sedang menyiarkan pertandingan malam itu berbarengan. Jika matchday ke-3 fase grup, maka pertandingan akan berbeda karena 1 grup pasti main secara bersamaan. Setelah mandi dan beres-beres, saya tiduran di kasur ditemani pertandingan itu hingga jam 1. Kalau masih kuat, saya teruskan hingga match yang jam 2. Di beberapa kasus kalau menunggu tanpa tidur, saya masih bisa kuat nonton yang jam 2 mungkin sampai babak pertama usai, tapi kebanyakan ya bablas haha. Saya ingat kalau saya hanya kuat di 1-2 hari awal pembukaan Piala Dunia.

Alhasil untuk pertandingan subuh hari, saya kebanyakan melewatkannya dengan asumsi, saya bangun kesiangan untuk solat subuh (jangan ditiru). Ya begitulah yang terjadi selama 30 hari gelaran Piala Dunia. Sempat ingin merubah pola dengan melewatkan pertandingan jam 11 demi mengejar yang jam 2 karena biasanya pertandingannya seru, tapi amat jarang terjadi. Well, dilihat juga sih ya jam berapa partai serunya main. Karena kadang jam 11  atau subuh big match terjadi. Tapi saya punya kebiasaan agak buruk nih, bila ada pertandingan penting, katakanlah mungkin partai puncak atau final sebuah turnamen apapun (tidak hanya Piala Dunia), pasti saya akan bela-belain untuk tidak tidur. Karena saya tidur seperti kerbau yang dibius terlelap dan niscaya akan kelewatan alias bablas. Baik itu alarm beneran atau alarm handphone bersatu pun belum tentu bisa membangunkan saya. Begitulah pengalaman saya, bagaimana dengan anda?

Advertisements
Tagged , , , , ,

Day 22: Biggest Footballing Injustice Still Not Over

lampard-420x0

Ada hal menarik ketika di gelaran Piala Dunia 2014 lalu bila kita melihat, wasit memiliki “senjata” yang selalu mereka ambil dari belakang celana ketika terjadi tendangan bebas beberapa meter dari kotak penalti. Ya, setelah mereka meniup peluit, mereka akan menghitung jarak untuk berdiri membuat pagar betis dan kemudian menyemprot dengan semacam foam di rumput, sebagai batas berdiri pemain. Itu salah satu terobosan FIFA dalam sepakbola, dan satu lagi terobosan yang diciptakan oleh organisasi yang dikepalai Sepp Blatter yaitu: Goal Line Technology.

Biasa kita sebut teknologi garis gawang. Teknologi ini memungkinkan wasit mendapat kabar melalui jam tangan yang dikenakannya, apabila terjadi gol tipis di bibir garis gawang yang kerap menimbulkan kontroversi. Bila bola telah melewati garis gawang ada sensor yang berbunyi untuk kemudian mengirimkan sinyal pemberitahuan kepada wasit, dan prit prit, mereka akan meniup peluit tanda terjadinya gol. Para pemain tidak perlu lagi berdebat kusir hingga mengeroyok wasit atau menarik otot serta urat, berkelahi dengan pemain lawan untuk saling berargumen menentukan apakah bola telah melewati garis atau tidak. Bahkan terlihat para pemain menyarankan agar wasit melihat tayangan ulang yang ada dari layar stadion. Dan itu juga bukan saran yang baik karena di tayangan ulang pun tidak diberikan gambaran jelas prosesi bola apakah melewati garis gawang atau tidak. Dan wasit pun jadi semakin bingung. Biasanya mereka berkonsultasi dengan hakim garis, dan hakim garis pun tak jarang ragu-ragu mengambil keputusan yang akhirnya menjadi rancu dan merugikan salah satu pihak.

Lalu apa latar belakang ditemukannya teknologi garis gawang? Tidak lain tidak bukan salah satunya karena insiden ini: partai perdelapanfinal Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Tanggal 27 Juni 2010, di Bloemfontein, Jerman yang saat itu menjadi juara Grup D bertemu Inggris sebagai runner-up Grup C. Inggris yang seperti biasa selalu kesulitan lolos dari putaran grup harus langsung berhadapan dengan Der Panzer yang diisi pemain muda macam Mesut Özil, Thomas Müller, Sami Khedira dan striker kawakan Miroslav Klose. Inggris yang bermain dengan kostum away berwarna merah agak keteteran di menit-menit awal menghadapi serangan spartan khas Jerman. Alhasil baru 20 menit pertandingan berjalan, tendangan gawang Manuel Neuer yang langsung mengarah ke depan gawang Inggris, disontek dengan sekali sentuhan Klose. Inggris tersentak, skor 0-1 untuk Jerman.

frank lampard's goal

Unggul 1 gol membuat pemain-pemain asuhan Joachim Löw tampil lebih semangat. Inggris pun yang kelihatannya selalu apes setiap perhelatan major tournament harus kembali kebobolan, kali ini lewat Lukas Podolski. Jerman membuat gol itu dengan apik, rapih sekali lewat open play yang dibangun dengan cermat dari belakang. Ketinggalan 2 gol membuat Inggris mau tak mau harus bermain menyerang, dan akhirnya gol datang lewat tandukan Matthew Upson. Saat posisi hanya tertinggal 1 gol saja, Inggris tambah bersemangat untuk mengejar ketertinggalan dan akhirnya momen ini yang terjadi.

Lewat satu serangan balik yang coba dibangun anak-anak St. George Cross, bola ditendang dengan keras oleh Frank Lampard ke arah gawang Neuer. Bola keras itu menghantam mistar gawang tanpa bisa dijangkau kiper yang menjadi penerus Oliver Kahn itu. Bola tektok itu menghantam tanah jauh melewati garis dan sialnya dengan sigap ditangkap lagi oleh Neuer ketika ia bangun. Semua orang mengira itu gol dan Inggris telah berhasil menyamakan kedudukan. Tapi siapa sangka wasit bergeming dan tidak meniup peluit memerintahkan bola untuk ditaruh di tengah lapangan. Lampard seakan tak percaya bola itu tidak dianggap gol. Jangankan Lampard dan hooligans di lapangan, saya dirumah aja loncat-loncat kegirangan karena menyangka skor jadi sama kuat, eh tapi malah dianggap tidak gol. Padahal kalo diliat dari tayangan ulang, mau berapa kali pun diulang-ulang sampe pita tayangan ulang kusut, tetep aja keliatan bola udah lewat garis gawang. Dari sudut manapun juga begitu, dan nampaknya Neuer pun mengakui kalo bola udah lewat garis. Wasit pun kalo liat tayangan ulangnya lagi pasti bakal insaf, cuma ya begitu deh. Wasit keukeuh dengan keputusannya, dan mungkin ia berpikiran wasit Argentina vs Inggris di Piala Dunia 1986 aja bisa khilaf ga liat tangan Maradona di Gol Tangan Tuhan. Menyakitkan bagi Inggris dan semua tim yang dirugikan.

Itulah sedikit banyak latar belakang terciptanya teknologi garis gawang. Dari ketidakadilan itu FIFA membuat regulasi dan juga teknologi yang akan meminimalisir konflik-konflik yang terjadi bila bola dengan ganjennya antara mau tidak mau masuk ke gawang, menggoda si garis eh udah gitu keluar lagi. Dengan teknologi ini diharapkan akan lebih tercipta keadilan bagi para pihak. Meskipun sebenarnya, ada juga yang mengatakan bahwa terobosan seperti ini membuat sepakbola jadi tidak alamiah lagi. Artinya, sepakbola dan kesalahan mendasar manusia sekarang telah menjadi bagian tak terpisahkan. Kesalahan wasit dalam mengambil keputusan, menjadi hal yang lumrah. Kita melihat bagaimana hal-hal tersebut memberi warna tersendiri dari sebuah permainan sepakbola. Sepakbola tidak boleh menjadi sepenuhnya dikuasai teknologi yang mengalahkan unsur humanity dengan segala keterbatasannya itu sendiri.

Well, tapi cukuplah teknologi garis gawang yang menjadi suatu penemuan revolusioner mencegah ketidakadilan. Selebihnya, biarkan sepakbola tampil apa adanya.

Tagged , , , , , ,