Tag Archives: padi

Musikimia, the new Padi?

Fadly, Stephan, Yoyo, Rindra (Musikimia)

Rindra, Stephan, Yoyo, Fadly (Musikimia)

Bagi kalian pecinta Padi, atau yang biasa disebut Sobat Padi, termasuk saya ya.. Tentunya sedih dong sekarang ini Padi sedang vakum. Yep, Padi yang dahulu sempat menjadi band fenomenal Indonesia, atau the most wanted band in Indonesia (barengan sama Sheila on 7 waktu itu booming-nya), sedang tidak memproduksi album, atau sedang tidak manggung lagi, atau sedang tidak ngeband lagi, atau bahasa simple-nya ya, sedang vakum, off, berhenti sesaat (semoga bukan selamanya ya, hiks).

Padi, yang telah menelurkan banyak album, well perlu waktu bagi saya untuk menghitung album-album Padi memang meninggalkan banyak fans di Indonesia yang sepertinya susah move-on kalo Padi bener-bener ga ngeband lagi, katakanlah bubar. Padi, yang dikomandai Satriyo Yudi Wahono alias Piyu, sang gitaris memang sepertinya “bergantung” pada keberadaan Piyu. Piyu kini sedang sibuk-sibuknya dan asyik-asyiknya melakukan project solo. Seperti yang pernah saya baca di biografinya, Piyu memang menjadi seseorang yang penuh ide dan kreatif. Ia benar-benar menjadi arwah Padi, dan apabila Padi pun tidak berjalan, Piyu bisa bekerja sendiri. Ia bisa bersolo karir, bisa nyanyi, bisa jadi produser, bahkan bisa menemukan bibit-bibit band atau penyanyi baru. Tengoklah Drive dengan Anji-nya yang “ditemukan” Piyu. Atau kalau berbicara lagu, ia telah menelurkan beberapa single, sebagai contoh Sakit Hati yang video klipnya berupa film mini.

Sekarang pertanyaannya, bisakah Padi bertahan tanpa Piyu? Okelah, bila dilihat dari lagu-lagu Padi selama ini, dari album pertama Lain Dunia hingga album terakhir Tak Pernah Padam, memang kebanyakan lagu-lagu hits Padi berasal dari tangan dingin Piyu. Ia yang menciptakan single-single hit yang meledak di pasaran seperti Begitu Indah, Mahadewi, Sesuatu Yang Indah, Kasih Tak Sampai dan lain sebagainya. Memang dalam sebuah band selalu ada sosok yang menjadi inspirator atau megamind di balik lagu-lagu hits band tersebut. Sebut saja Ahmad Dhani di Dewa 19, Enda di Ungu, Azis di Jamrud atau Eross Chandra di Sheila on 7, begitupun Piyu di Padi.

Bisakah Padi bertahan tanpa Piyu? Okelah, ada Fadly ataupun Rindra yang pernah menciptakan satu dua lagu bagi Padi. Tapi saking sedikit porsinya, saya sampai lupa hehe. Disitulah pertanyaannya, bisakah Padi bertahan tanpa Piyu, dan inilah yang coba mereka cari dalam Musikimia.

Padi di album Lain Dunia (1999)

Padi di album Lain Dunia (1999)

Apakah Musikimia? Mereka adalah Fadly, Rindra, Yoyo dan Stephan Santoso. Ada yang janggal? Yap, Musikimia adalah Padi tanpa Piyu dan Ari. Dua gitaris yang selama ini saling melengkapi satu sama lain di Padi. Dahulu, mereka adalah duet gitaris yang sinergis, Ari mengisi distorsi, rhythm dan efek, sedangkan Piyu merajalela dengan lead guitar-nya yang menyayat dan mengiris hati *halah* dan begitulah realita yang ada, Musikimia coba untuk bertahan, meskipun tanpa sang inspirator mereka, Piyu. Untuk Ari, kenapa ia tidak hadir, saya belum mengetahui dengan jelas infonya. Ada yang tahu? Sebenarnya disayangkan juga Ari tidak join di Musikimia, karena ia adalah salah satu gitaris terbaik di Indonesia (IMO).

Fadly, Rindra dan Yoyo di Musikimia coba merekrut Stephan Santoso sebagai pengisi gitar. Siapakah Stephan? Ia adalah gitaris dan music engineer terbaik di Tanah Air (denger-denger sih begitu). Namun kayaknya benar kok, nama Stephan sudah ga asing lagi di industri musik Indonesia. Bagi “angkatan lama” yang sering membeli kaset dan CD, nama Stephan sering tercantum di ucapan terima kasih para artis dan credit title proses rekaman. Dan bagi Padi pun, nama Stephan sudah menjadi langganan sejak album Lain Dunia, Sesuatu Yang Tertunda, Save My Soul, self-titled Padi dan Tak Hanya Diam.

Musikimia coba bertahan dan mengikis kerinduan para Sobat Padi akan lagu-lagu yang diisi oleh lantunan khas vokal Andi Fadly Arifuddin yang berat dan bernuansa laid-back. Apalagi di single mereka yang sedang beredar, Apakah Harus Seperti Ini. Lantunan dan irama lagu khas Padi jaman mereka sedang jaya-jayanya sangat kental sekali. Orang yang belum pernah tahu mungkin mengira Padi lahir kembali. Namun mereka masih harus banyak membuktikan, dan saya juga mau tahu, apakah Musikimia mampu memainkan nada-nada upbeat dan rock kental dengan baik sebaik Padi dahulu, dengan lead guitar tentunya. Saya juga ga tahu apakah Stephan bisa melakukannya atau ia punya sentuhan lain, kita lihat saja.

Padi di album Tak Hanya Diam (2007)

Padi di album Tak Hanya Diam (2007)

Yang jelas, di lubuk hati terdalam saya masih berharap bahwa Musikimia ini adalah proejct sementara, untuk memberi waktu kepada Padi hadir kembali. Formasi lengkap. Piyu dan Ari kembali bersatu dalam duet gitar, Rindra yang serius bermain bass, Yoyo yang gebukannya mantap dan penuh power, dan Fadly yang karakter vokalnya beda dari band-band manapun di Indonesia, dan penampilan mereka yang selalu dipenuhi fans. Entah apa yang menggelayuti benak Piyu sehingga ia sepertinya masih enggan untuk “kembali” ke Padi. Well, mungkin saya berpikir Piyu agak “sakit hati” dengan komitmen yang dilanggar oleh salah satu personilnya yang terkena kasus narkoba dan obat-obatan terlarang. Atau mungkin Piyu sedang “nanggung” menyelesaikan proyek solo nya yang sepertinya sayang bila ditinggalkan karena ia kembali ke Padi.

Apapun itu, saya dan Sobat Padi yang lain berharap agar Padi kembali eksis dan membuat lagu-lagu baru dan tentunya album baru. Anda setuju?

Advertisements
Tagged , , , ,

5 Phenomenal Indonesian Album

Sudah lama ga menulis disini. Baiklah, untuk memanaskan jari-jari dan kumpulan ide yang menggunung di kepala, marilah coba kita menulis yang ringan-ringan dahulu. Sebenarnya tulisan ini sudah lama ingin saya edarkan, namun baru sempat sekarang. Mari kita mulai.

Musik adalah jiwa saya. Musik menjadi bagian terpenting dari diri saya mulai saya kecil hingga besar seperti sekarang ini. Kakak saya yang mengenalkan saya akan musik. Kamarnya dahulu selalu jadi markas saya sepulang sekolah, karena di kamarnya ada sebuah tape dengan kumpulan kaset yang hingga 4 rak banyaknya. Dan tak terasa saya mengikuti jejak beliau. Dulu, kalo punya uang saya rela beli kaset daripada beli baju atau makanan. Alhasil kaset saya juga banyak jumlahnya, ya adalah 2 rak, hehe.

Musik Indonesia pun menjadi bagian penting dari diri saya. Dulu saya penggemar stasiun radio Trend Musik Indonesia (TMI) yang khusus memutar lagu-lagu dalam negeri. Hingga stasiun tersebut almarhum, saya masih mengingatnya hingga kini, dan menjadikan stasiun tersebut sebagai barometer informasi musik Indonesia saya.

Oke, kepanjangan ini intronya. Mari kita mulai countdown 5 album band Indonesia yang paling megah pada masanya. Dan terus terang, saya merindukan masa-masa itu. Masa dimana dunia digital belum seperti sekarang dan pengunduhan merajalela. Masa dimana kaset dan pensil menjadi teman akrab untuk menggulung pita yang kusut, dan walkman yang berat masih menjadi penghuni tas dari anak-anak sekolah dan kuliahan.

Kisah_Klasik_Untuk_Masa_Depan5. Sheila on 7 – Kisah Klasik Untuk Masa Depan (2000)

Siapa tak kenal band asal Jogja ini? Fenomenal sejak kemunculan album pertama mereka dengan menelurkan hits single macam Dan dan Kita, Sheila yang dahulu beranggotakan Duta, Eross, Adam, Sakti dan Anton ini semakin menancapkan kuku mereka di blantika musik Indo dengan kemunculan album kedua yang fenomenal bertajuk Kisah Klasik Untuk Masa Depan. Sahabat Sejati, Bila Kau Tak Disampingku menjadi hits dan merajai tangga lagu dalam negeri. Bahkan Sephia, lagu yang menceritakan tentang perselingkuhan menjadi kata resmi selingkuhan bagi sebagian masyarakat.

Album ini konon terjual hingga 1,7 juta kopi. Dahulu, penjualan di atas 1 juta kopi untuk musisi dalam negeri adalah sesuatu yang luar biasa. Dan Sheila adalah salah satu band yang berhasil melakukan itu. Setiap lagu di album ini enak-enak dan mudah dicerna untuk didengar. Bahkan beberapa lagu menjadi soundtrack sinetron-sinetron di Indonesia, dan mengawali era itu.

 

Jamrud_Ningrat4. Jamrud – Ningrat (2000)

Kalau ada ancaman terbesar dari band-band hebat yang bermunculan di awal 2000-an, tentunya Jamrud adalah satu-satunya nama yang bisa membuat bergidik. Bagaimana tidak, band alternative rock yang diproduseri oleh label kaya Log Zhelebour itu muncul dan langsung mencuri perhatian penikmat musik Indonesia, tua muda, kaya miskin dan dari berbagai lapisan masyarakat. Para pengamen dan anak jalanan membawakan lagu-lagu mereka di lampu merah, sedangkan pekerja kantoran dan orang yang naik mobil pun menyetel lagu-lagu mereka di dalam mobil.

Album Ningrat ini adalah album tersukses Jamrud, dimana mereka menjadi pionir band yang membuat video klip di hampir seluruh lagu mereka dalam sebuah album. Ditambah lagi dari lirik mereka yang nakal dan selalu mengundang kontroversi di beberapa judul lagunya. Satu yang fenomenal di album ini adalah Surti Tejo yang sempat mengalami pencekalan. Belum lagi Pelangi di Matamu yang merajai berbagai tangga lagu di Indonesia dalam hitungan bulan.

Album yang terjual 1,8 juta kopi ini berisi lagu-lagu yang kebanyakan diciptakan gitaris mereka, Azis. Dan satu lagi, olah vokal Krisyanto juga tak perlu diragukan lagi dan menjadi nyawa Jamrud selama ini. Terbukti setelah Krisyanto sempat cabut dan digantikan vokalis baru, pamor Jamrud menurun. Dan saat ini, mereka coba meraih kembali popularitas yang hilang dengan Krisyanto sebagai vokalis mereka kembali.

Bintang_Lima3. Dewa – Bintang Lima (2000)

Tak ada lagi comeback dari sebuah band yang paling dinantikan jagad musik Indonesia kecuali kembalinya Dewa 19. Ya, sepeninggal Ari Lasso yang tersandung kasus narkoba dan beberapa member lain yang hengkang, Dewa 19 lama mencari vokalis hingga mereka menemukan Elfonda Mekel alias Once sebagai pengganti. Vokalis baru mereka ini memiliki karakter suara khas dan mirip Sting sehingga tak ada tandingannya di Indonesia. Dan untuk drummer sebagai suksesor Wong Aksan, terpilihlah Tyo Nugros, menemani Ahmad Dhani dan Andra Junaidi.

Album Bintang Lima berisikan lagu-lagu yang bisa dikatakan semua menjadi hits. Bahkan 4 lagu awal dari album ini merupakan Fantastic Four dengan menghadirkan Roman Picisan, Dua Sedjoli, Risalah Hati dan Separuh Nafas. Siapa yang tak mengenal keempat lagu tersebut? Once dengan karakter vokal khasnya mampu melepaskan bayang-bayang Ari Lasso dengan Dewa 19 selama ini. Bahkan untuk lebih melepaskan image itu, angka 19 di belakang nama Dewa dihilangkan.

Album ini menjadi tak henti mewarnai hari-hari penikmat musik Indonesia kala itu, hingga terjual kurang lebih sebanyak 1,7 juta kopi. Album ini menjadi penanda era baru Dewa (19) semenjak kesuksesan album terakhir Pandawa Lima yang masih dikawal Ari Lasso. Setelah Bintang Lima, berturut-turut album Dewa mengalami perubahan jenis musik (IMO), yaitu Cintailah Cinta, Laskar Cinta dan Republik Cinta.

Sesuatuyangtertunda2. Padi – Sesuatu Yang Tertunda (2001)

Padi mulai merengkuh kesuksesan semakin dalam di dunia musik Indonesia lewat album kedua ini. Setelah memberikan shock therapy di album pertama Lain Dunia, Piyu cs. semakin menguatkan image Superband yang ada pada diri mereka lewat kedigdayaan Sesuatu Yang Tertunda. Album ini menjadi titik tolak mereka sebagai Most Wanted Band kala itu dengan terjual sebanyak 1,8 juta kopi.

Band yang lahir lewat album kompilasi Indie Ten tersebut tadinya tidak terlalu diperhitungkan, malah band lain yang menjadi jagoan dalam promosi album tersebut, Wong, menjadi kalah pamor. Dan Sesuatu Yang Tertunda lewat single-single mereka seperti Sesuatu Yang Indah, Semua Tak Sama dan lagu tergalau tahun itu, Kasih Tak Sampai merajai tangga-tangga lagu dalam negeri. Band yang terkenal kalem dalam setiap penampilannya sanggup menyihir penggemar musik Indonesia dengan falsafah Padi yang semakin berisi semakin merunduk. Padi kalau tak salah bahkan menjadi band Indonesia pertama yang memenangkan sebuah kategori award di MTV Asia dan perform di acara tersebut. Jangan lupakan keikutsertaan mereka dalam soundtrack World Cup 2002 sebagai perwakilan artis Asia.

Album ini adalah juara dan lagu-lagunya masih memorable hingga saat ini. Setelah album ini, Padi mengalami sedikit penurunan dalam hal penjualan album dan mereka kini vakum sehingga dirindukan penggemarnya. Piyu sang gitaris yang menciptakan sebagian besar hits-hits Padi memilih bersolo karir dan menjadi produser. Mari kita tunggu kehadiran mereka kembali.

Bintang_di_Surga1. Peterpan – Bintang di Surga (2004)

Namun semua cerita indah band-band legendaris di atas sirna ketika sebuah band dari Bandung yang menggunakan tokoh fantasi dongeng masa kecil ini muncul. Ya, Peterpan. Band yang dikomandoi Nazriel Irham itu sanggup memutarbalikkan nominal penjualan album dari artis-artis Indonesia menjadi suatu rekor penjualan yang sepertinya sangat sulit dipecahkan hingga masa-masa mendatang, terlebih di era digital belakangan ini.

Album Bintang di Surga terjual sebanyak 2,7 juta kopi dan menjadi album terlaris di Indonesia. Bagaimana tidak jika hampir semua orang yang saya temui dahulu memiliki setidaknya 1 buah kaset Peterpan di rumah mereka. Bahkan saya masih ingat supir angkot pun memutar album ini di mobilnya. Lucunya, ketika muncul pertama kali album ini tidak mencantumkan teks dari lagu-lagu mereka di sampul kasetnya. Kemudian dikeluarkan lagi edisi dengan teks lagu setelah album ini berpotensi meledak.

Fenomena maha dahsyat nya penjualan album ini tak lepas dari pesona dan kharisma Ariel sebagai front man. Juga lagu-lagu yang sangat easy listening dan mengena. Ada Apa Denganmu, Mungkin Nanti, Kukatakan Dengan Indah dan seluruh lagu lain di album ini tak bisa lepas dari telinga para pendengar musik Indonesia. Konser-konser mereka dipadati penonton dan album ini merupakan puncak dari kehadiran mereka di dunia musik Indonesia semenjak kemunculan mereka lewat album pertama, Taman Langit.

Kini Peterpan telah berganti nama menjadi Noah dan menurut saya, mereka masih menjadi band nomor 1 di Indonesia.

 

Ungu_MelayangHonorable mention:

Ungu – Melayang (2005)

Setahun setelah Peterpan mengambil alih tongkat estafet Superband di Indonesia, hadir Ungu sebagai band besar baru Tanah Air. Ungu yang tadinya hanya band biasa yang kurang begitu diperhitungkan (dari penjualan album) nyatanya unjuk gigi dengan lagu-lagu mereka yang merakyat, khususnya di album Melayang ini. Demi Waktu, Seperti Yang Dulu, Beri Aku Cinta dan lagu lainnya menjadi lagu rakyat yang sering didendangkan, terlebih familiar di kalangan para pengamen dan anak jalanan (tolok ukur dari keberhasilan suatu band melemparkan lagu-lagu di pasaran). Ungu bersama Peterpan saat itu menjadi 2 band besar di Indonesia, seiring meredupnya band-band lama seperti Sheila atau Padi.

Tagged , , , , , , , , , ,