Tag Archives: movies

RoboCop (2014)

Image

Saya ingat betapa saya begitu terpesona dan takjub dengan polisi berbentuk robot ini ketika saya menontonnya di Laser Disc beberapa waktu silam. Dahulu, petualangan superhero salah satu favorit saya ini adalah pengalaman seru ketika menontonnya di piringan obesitas yang kakak saya sewa di tempat penyewaan terdekat. Dengan harga sewa 5 ribu rupiah kala itu, saya bisa membawa pulang film ini untuk kemudian ditonton dengan penuh penghayatan. Aksi yang seru dan tembak-tembakan disertai robot-robot besar yang saling menghancurkan, benar-benar hiburan yang membuat saya sebagai anak kecil tercengang, meskipun kalau dilihat di zaman ini efek yang digunakan di tahun tersebut pasti jadul sekali dan aneh, namun sangat berjaya pada masanya.

Dan belasan tahun kemudian, film ini kembali di remake di era teknologi perfilman masa kini yang serba wah dan mampu menghidupkan fantasi jauh menjadi lebih nyata. Kini, film yang dibintangi Joel Kinnaman dan Michael Keaton itu mampu menyedot animo penonton yang ingin bernostalgia, melihat seperti apa tampilan polisi robot masa kini, atau juga generasi baru yang tidak pernah menonton film lamanya tapi ingin melihat bahwa Detroit juga punya polisi masa depan yang sanggup mengatasi berbagai tindak kriminalitas kota.

RoboCop baru ini menceritakan ketika tahun 2028, kala itu manusia telah mampu mengembangkan teknologi untuk membuat robot yang mampu digunakan sebagai mesin perang. Dan OmniCorp adalah sebuah perusahaan raksasa yang meraup keuntungan besar dari produksi robot-robot tempur yang digunakan oleh pihak militer di berbagai negara. Hanya Amerika yang enggan menggunakan robot dan OmniCorp mengincar Amerika sebagai pasar yang sangat potensial jika negara tersebut bersedia membel robot buatan mereka.

Alex Murphy (Kinnaman), hampir meninggal dengan tubuh hancur akibat ledakan mobilnya, dan OmniCorp menyelamatkan Murphy dan menggunakan teknologi mereka untuk memadukan tubuh hancur Murphy dengan mesin robot yang canggih. Hasilnya, seorang polisi setengah robot yang tangguh dan tak terkalahkan. Pembuatan RoboCop menjadi langkah awal bagi OmniCorp untuk membuat robocop-robocop lainnya dan mengeruk keuntungan milyaran dollar dari produksi tersebut.

Menggabungkan manusia dengan mesin memang sebuah ide brilian, namun mereka lupa memperhitungkan bahwa adanya unsur manusia membuat RoboCop berbeda dengan robot-robot lain dalam hal “kepatuhan”. Sosok kemanusiaan Murphy yang ada dalam tubuh RoboCop adalah sosok yang sangat berdedikasi dalam membasmi kejahatan, hal ini membuat RoboCop tidak bisa diatur seenaknya oleh OmniCorp. Bahkan RoboCop berbalik menentang perusahaan yang membuatnya.

Film ini memang pada awalnya bertema action superhero yang pantas dilihat anak kecil, namun percayalah bahwa beberapa scene di film ini bukan untuk anak-anak dan please, jauhkan anak anda dari bioskop bila ingin melihat film ini. Atau yang ada hanyalah tangisan dan jeritan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa, seperti yang saya alami ketika menontonnya. Overall, scene-scene menarik berserakan di film ini diantaranya adalah ketika Murphy “dihidupkan” kembali dan dia melihat tubuhnya yang hanya menyisakan jantung dan paru-paru saja. Emosi yang timbul mengena di penonton, terutama ketika untuk pertama kalinya ia hadir dan bertemu anak istrinya dengan kondisi fisik yang telah menjadi robot yang kaku dan menimbulkan suara elektrik bila sendi-sendinya bergerak.

Kemudian dari sisi aksi, RoboCop hadir menawan dengan aksi senjata juga motor yang sebenarnya tidak terlalu keren, tapi gagah. Yang keren justru evolusi kostum RoboCop dimana dahulu berwarna putih sekarang dirubah menjadi hitam pekat yang menonjolkan sisi elegan dan kuat. Oh ya, jangan sampe anda melewatkan scene ketika sang polisi robot menyerbu markas penjahat orang yang telah mengebomnya. Dimana kemudian para musuh mematikan lampu dan mencoba menembaki RoboCop dan yang terlihat hanya kilatan senjata saja, menurut saya itu keren.

Peran Gary Oldman sebagai Dr. Dennett Norton disini juga krusial. Tak bisa membayangkan bila peran dokter yang merawat dan membuat RoboCop disini tidak diserahkan kepada aktor kawakan tersebut. Oldman mampu menghidupkan suasana di tengah peran aktor-aktor dan aktris lain yang terkesan standar. Oh ya, Abbie Cornish (Clara Murphy) yang berperan sebagai istri Murphy disini mirip banget sama Raisa, haha. Dan Samuel L. Jackson (Pat Novak) juga hadir dengan aktingnya yang konyol sebagai pembaca berita.

Nikmati saja film ini dan hadirkan kembali pengalaman masa kecil anda. Oh ya, robot OmniCorp yang berkaki dua dan menjadi trademark RoboCop jaman dulu masih ada lho, haha (kalo inget suka nongol di video game Nintendo/SEGA), dan backsoundnya, masih tetap sama! Namun satu yang disayangkan, saya lebih terpukau dengan cara mati Murphy jaman dulu dibanding yang sekarang. Yang dulu kan ditembakin dan disiksa tuh, nah kalo sekarang “hanya” kena bom saja, hehe.

Akhir kata, selamat menonton!

(Rate: 3/5)

Advertisements
Tagged , ,

Escape Plan (2013)

escape_plan_ver2

Ray Breslin (Sylvester Stallone) adalah seorang yang ahli dalam bidang keamanan dan pelarian dari berbagai sistem keamanan penjara. Setelah sukses, Ray menerima pekerjaan terakhir untuk menjebol fasilitas penjara yang memiliki tingkat keamanan tertinggi yang disebut The Tomb. Tapi ia ditipu dan akhirnya benar-benar dijebloskan dalam The Tomb, yang membuat ia harus bekerja sama dengan narapidana lainnya yang bernama Emil Rottmayer (Arnold Schwarzenegger). Keduanya akhirnya bahu membahu dan menyiapkan segala sesuatunya demi lolos dari penjara tersebut. Berhasilkah mereka melakukannya?

Sepanjang menonton film ini, saya sembari mikir.. Kapan ya Stallone sama Schwarzenegger pernah bareng main dalam satu film sebelum ini? Googling juga ga nemu. Jadi ini kayaknya film pertama mereka bersama ya? Dan dahsyat sekali mengingat 2 bintang ini adalah bintang paling top dan terkenal di masa jayanya.

Sylvester Stallone adalah bintang action yang paling saya kenal ketika saya masih kecil. Pas Rambo muncul tuh filmnya, saya masih SD udah kenal Stallone. Bahkan generasi kakak saya pun berada di jaman ketika Stallone berjaya lewat Rocky. Dan Arnold? Siapa yang ga kenal doi. Udah puluhan film aksi dia bintangi, dari kecil hingga saya gede. Karirnya sempet agak stop ketika dia menjabat sebagai gubernur, dan kayaknya ini adalah film pertama dia pasca dia udah ga ngejabat lagi sebagai Gubernur California (CMIIW).

Kalo dulu Stallone tenar gegara Rambo – Rocky. Arnold apalagi kalo bukan karena Terminator yang kesohor itu. Memorable role pas doi di Terminator 2: Judgment Day, dan itu benar-benar menginspirasi masa kecil saya. Berminggu-minggu film itu terbayang di kehidupan masa kecil saya, karena Arnold tampil luar biasa disitu. Apalagi pas scene Arnold membawa bunga mawar dan kemudian melepas bungkusnya trus isinya senapan itu, wuidih. Selain Terminator, paling Total Recall yang juga memorable, trus ada True Lies, dan lain sebagainya.

Dulu ga pernah kepikiran mereka main dalam satu film bareng. Sebelum akhirnya hadir film ini. Oh ya, selain judul Escape Plan, film ini juga dikasih judul The Tomb. Mana yang sebenarnya seharusnya dipake ga jadi masalah, yang penting alur cerita dan bagaimana 2 jagoan ini bisa klop.

Stallone seperti biasa, hadir sebagai jagoan utama yang mencoba menggunakan segala cara dan intelegensinya untuk memecahkan rahasia lolos dari penjara yang super canggih sekalipun. Dan Arnold tampil slenge’an dengan janggut lebat yang membuatnya tampil layaknya narapidana beneran, dan kesan sebagai badboy lekat sekali dengan Arnold di film ini. Well dia memang didandani sesangar mungkin karena memang penghuni narapidana di penjara dalam film ini adalah penjahat-penjahat kelas berat. Ada 1 penjahat yang digambarkan sebagai penjahat muslim (mungkin si sutradaranya bermaksud bikin penjahat teroris kali ya), dan kalau kita jeli si penjahat itu adalah aktor yang biasa mainin penjahat ras Arab (Faran Tahir) dan kalo ga salah dia jadi penjahat teroris juga di Iron Man. Dan disini si penjahat Arab (Javed) beberapa kali mengatakan kalimat-kalimat Islami dan juga berakting sholat hehe (no offense). Ga usah dibahas masalah gituannya ya, udah sering juga film asing dibumbui oleh akting-akting islami.

escape

Yang lebih seru dibahas adalah, perpaduan akting Stallone – Schwarzenegger yang apik di film ini. Dua aktor sarat pengalaman tersebut seakan tahu apa yang mereka lakukan. Pada awalnya saya menyangka Arnold akan menjadi lawan dari Stallone disini, dan mereka akan berduel hingga akhir film. Namun ternyata mereka berkolaborasi dalam memecahkan “kode” bagaimana caranya lolos dari penjara tersebut. Baik scene aksi, komunikasi maupun scene yang mengundang gelak tawa mereka lahap habis disini, dan semua seru lagi menyenangkan.

Yang kurang mungkin hanyalah siapa yang menjadi lawan mereka disini. Jim Caviezel (Hobbes) sebagai kepala sipir penjara menakutkan tersebut nampak kurang sangar, dan kalah tongkrongan dari kegagahan duo Stallone – Schwarzenegger. Udah gitu endingnya juga menurut saya bisa dibuat lebih memorable dan wow lagi, ga cuma kayak begitu saja. Kekurangan-kekurangan versi saya tersebut yang sepertinya mengurangi pemberian bintang film ini hehe. Tapi tanpa kekurangan tersebut film ini tetap menarik kok. Mungkin Vinnie Jones sebagai Drake yang menjadi lawan cukup seimbang secara fisik dan kesangaran tampang bagi Stallone.

Dan saya masih ga habis pikir Vinnie Jones dulu “pernah” jadi pemain sepakbola profesional Wimbledon, haha.

Harusnya siapa gitu ya, yang dipasang jadi lawannya Stallone. The Rock misalkan? Ah, sudah terlalu sering Dwayne Johnson. Berantemnya The Rock sama Vin Diesel di Fast and Furious udah yang paling pas sih dari segi lawan seimbang. Hmm, atau bahkan bisa dicoba nih untuk besok-besok kalo mau bikin film lagi, sekuel Escape Plan mungkin.. Stallone yang langsung berduel musuh-musuhan sama Schwarzenegger, hehe.

Oke, itu cuma sekedar saran dan fantasi saya saja. So just enjoy the movie.

Rate: 3/5.

Tagged , , , , ,

Ender’s Game (2013)

Image

Bumi pernah diserang dengan brutal oleh sebuah ras alien yang dijuluki Formic di masa lalu. Korban yang tak terhitung jumlahnya berjatuhan di pihak manusia. Beruntung salah seorang pilot pesawat tempur dengan cerdik dan juga patriotik mengorbankan diri menabrak pesawat induk Formic.

Manusia bisa bernafas lega meski sejenak. Kini manusia bersiap menghadapi potensi serangan balasan yang lebih besar dari para Formic. Salah satu jalan yang ditempuh untuk mengatasinya adalah membidik remaja jenius seperti Andrew “Ender” Wiggin (Asa Butterfield) untuk dijadikan komandan tentara. Remaja yang punya daya imajinasi tinggi dianggap pas sebagai komandan untuk melawan Formic.

Namun bukan perkara gampang bagi Ender untuk bisa memahami bahwa ia secara tak langsung ditunjuk sebagai sang penyelamat umat manusia. Ia yang bermasalah dalam pergaulan tentu bukan kandidat yang pas sebagai komandan perang tertinggi umat manusia. Saat pertama kali masuk sekolah pelatihan perang, ia menjadi korban bullying.

Bagaimana perjalanan Ender dalam memimpin tim melawan Formic? Apakah ia bisa menggunakan talentanya dengan baik untuk kemudian menyelamatkan ras manusia? Bagaimana pula kisah pergaulannya dengan teman-teman setim juga pihak-pihak yang tidak suka dengannya?

Awalnya saya kira film ini adalah film epic yang penuh dengan peperangan spektakuler dengan ledakan di sana sini, dan dengan penampakan alien jahat berbentuk aneh dan beringas yang berniat meluluhlantakkan bumi. Namun ternyata, film ini lebih cerdas dari itu. Film ini lebih mengedepankan unsur-unsur filosofis yang dalam, salah satunya adalah tentang bagaimana seseorang harusnya “memenangi” sebuah pertempuran.

enders-game-tv

Ah, saya jadi ingat kisah nyata mengenai filosofis sepakbola, dimana ada 2 paham yang memandang sebuah “kemenangan” itu. Ada satu pelatih yang sangat mengagungkan keindahan permainan tim. Dalam sepakbola, rakyat dan sejarah tim nasional Brasil sangat mengedepankan keindahan permainan yang disebut “Jogo Bonito”. Kemenangan yang diraih tanpa permainan indah dianggap suatu hal yang disayangkan dan mengecewakan. Namun ada pula pelatih yang lebih mementingkan hasil akhir dibanding keindahan permainan tim. Jose Mourinho salah satunya. Ketika membesut Inter Milan dan Chelsea, terkadang tim tampil mengecewakan dan cenderung bertahan namun efektif dalam memanfaatkan peluang sehingga akhirnya keluar sebagai pemenang.

Kok malah jadi ngomongin sepakbola…

Kembali ke film. Namun bukan berarti ketegangan tidak ada dalam film besutan sutradara Gavin Hood ini. Kisah hidup Ender di dalam pesawat luar angkasa, bagaimana mimpi-mimpi dan masa lalunya juga menjadi warna film ini. Ditambah dengan kehadiran Harrison Ford (Colonel Graff) sebagai orang yang percaya akan kapasitas Ender dalam memimpin tim dan menjadi atasan Ender membuat film ini terasa lebih megah. Saya sempat membayangkan Ford disini menjadi Han Solo tua dalam Star Wars Episode VII yang tayang 2 tahun lagi.

One of a good movie.

Rate: 3/5.

Tagged , ,

Carrie (2013)

carrie_ver3

Ini sebenarnya film yang udah ga asing lagi, terlebih ceritanya. Dan kini di tahun 2013, kembali difilmkan dengan cerita yang hampir atau bahkan sama.

Sependek pengetahuan saya tentang film, Carrie pernah difilmkan pertama kali tahun 1976 dengan titel sama dengan fimnya yang sekarang. Carrie pada saat itu diperankan oleh Sissy Spacek. Dan seingat saya juga, saya pernah nonton film itu dahulu di tv atau di video ya.. Dan memang menyeramkan untuk ukuran anak seusia saya dulu. Oh ya, setelah itu Carrie sempat “dihancurkan” image nya oleh film tahun 1999, The Rage (Carrie 2). Saat itu, saya sedang mengalami masa-masa curiosity yang besar terhadap film (masih inget banget dulu jaman VCD) dan masih nyewa seharga 2.500 rupiah di rental untuk jangka waktu 2 hari. The Rage kalo ga salah menjadi film yang ga jelas dan kehilangan daya magisnya sebagai franchise cewek yang punya kekuatan telekinetis itu.

Dan kini, sutradara Kimberly Peirce coba mengangkat kembali kisah Carrie dengan dunianya lewat akting aktris Chloe Grace Moretz, yang entah kenapa, melihat wajahnya mengingatkan saya akan Avril Lavigne haha. Dan adek Chloe ini (lahir tahun 1997 bok) benar-benar menghadirkan nuansa mistis Carrie di film tersebut. Saya memang belum pernah dengan seksama sekali melihat penampilan Spacek di original Carrie. Tapi untuk masalah penempatan aktris yang memiliki wajah gothic, Chloe pantes lah. Apalagi yang jadi emaknya Julianne Moore, dan dengan dandanan yang asli menyeramkan dengan rambut ga keurus, sudah cukup deh menghadirkan keluarga mistis dengan rumah spooky yang mistis pula.

Carrie (Chloe) adalah seorang gadis pemalu yang diasingkan oleh teman-temannya di sekolah serta “disembunyikan” oleh ibu kandungnya dirumah. Karena perilaku teman-teman serta ibunya yang semakin kelewatan, sesuatu yang sangat mengerikan muncul pada diri Carrie yang pada akhirnya meneror seluruh warga di desa kecil tempat ia tinggal. Kurang lebih begitu deh. Cerita menuju klimaks setelah Carrie yang freak tersebut diajak ke prom night oleh Tommy Ross (Ansel Elgort), idola sekolah. Apa yang terjadi di prom night tersebut? Tonton deh filmnya, hehe.

Cast sudah cukup baik. Cerita, sudah pada tau semua. Apa lagi? Yang tersisa hanyalah duduk manis di kursi bioskop dan nikmati saja alur filmnya, dengan gambar versi kini tentunya. Well, bagi kalian yang sudah pernah menonton sebelumnya dan membandingkan dengan film tahun 70-annya, tentunya hanya akan menjadi pop corn movie dan tak perlu diambil pusing kekurangannya disana sini. Menurut saya, ceritanya lebih ke arah teen movie. Film yang cukup menghibur dengan alur cerita yang cukup menegangkan, namun sayangnya, agak tidak terasa dari awal hingga akhir. Hingga pada akhirnya, tahu-tahu kok sudah habis. Tapi ya beginilah, memang seperti itu filmnya hehe.

Dan pada endingnya, kita hanya bisa melihat kekacauan-kekacauan dari dampak kemarahan Carrie dengan ledak-ledakan, chaos dan orang-orang berlarian. Dan kita juga bisa tahu sejarah Carrie dan keluarganya, ada semua di akhir film. Hingga ketika selesai, kita hanya mendapatkan tagline “You Will (Only) Know Her Name”.

Rate: 2,5/5

Tagged , ,

[movie review] 9 Summers 10 Autumns

20130613-205640.jpg

Satu film yang sudah saya tonton sejak lama, namun baru bisa ditulis disini. Adalah sebuah film yang diangkat dari novel yang sejujurnya saya mau baca awalnya, tapi setelah menonton filmnya, saya jadi beranggapan tidak perlu untuk membaca bukunya dan tidak tertarik lagi. Well, sebenarnya ide cerita film dan yang diangkat dari novel ini bagus, namun menurut saya tidak terlalu istimewa. Bagus untuk inspirasi dan banyak quotes-quotes menarik bertebaran disini. Seperti misalnya “dunia ini hanyalah untuk orang-orang berani” atau apa lagi ya saya lupa. Oh ya “never let anyone steal your dreams” atau “jangan sampai ada yang mencuri mimpi kamu” kurang lebih begitulah. Dan sepanjang film dipenuhi dengan ekspektasi, apakah setelah saya menonton film ini saya akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa untuk perkembangan jiwa saya, hehe.

Saya coba mengikuti alur dari film ini dengan sabar, awalnya terasa mengasyikkan dan membuat penasaran ketika film coba diceritakan dari awal keadaan pemeran utama (Iwan Setyawan sang pengarang novel) dilahirkan di Batu, kota di Jawa Timur, dan masa kecilnya. Dimana dia menjadi anak lelaki satu-satunya dan seluruh adik-adik dan kakaknya perempuan. Ia diharapkan menjadi penerus ayahnya yang pekerja keras dan mau agar anak lelakinya mengikuti jejak ayahnya yang menjadi supir angkot. Namun apa dikata, Iwan tumbuh menjadi anak yang agak feminim (kalo bisa dibilang demikian) dan sukanya main di dapur. Di satu scene diceritakan Iwan yang ketauan ayahnya sedang main di dapur lalu dihukum ayahnya dengan disiram di kamar mandi (spoiler ga nih ya, hehe).

Yang perlu saya garisbawahi disini adalah penampilan Ihsan Tarore. Ihsan yang merupakan pemenang Indonesian Idol memang sepertinya pantas memerankan tokoh utama di film ini yang setelah saya googling, memang bertubuh kecil dan agak nerd gitu. Well memang saya ga baca novelnya, namun jangan salahkan saya kalo ekspektasi saya tehadap film ini agak diluar dugaan. Saya mengharapkan alur yang cepat, tegang dan intense dan kisah heroik namun ga lebay. Tapi yang saya dapatkan adalah alur yang lambat, cerita yang kemasannya kurang greget dan inspirasi yang biasa-biasa saja.

Yang tak perlu diragukan aktingnya tentu saja Alex Komang yang memerankan tokoh ayah. Disini Alex pun seperti tak banyak mengeluarkan kemampuan aktingnya, karena memang challenge di film ini menurut saya tidak ada apa-apanya bagi seorang Alex Komang. Namun saya agak terharu di bagian agak akhir ketika….. Ah sudahlah nanti dibilang spoiler saya hehe. Pokoknya chemistry antara Alex dengan Ihsan yang pada awalnya kurang terbangun menjadi cukup berasa gitu di bagian dimana sang ayah akhirnya harus membuktikan cintanya pada si anak laki-lakinya yang dulunya sering dimarahi.

Dan endingnya pun yang saya harapkan menjadi sebuah klimaks yang oke, ternyata hanya meninggalkan komentar “yah begini aja toh” bagi yang menontonnya haha. Well begitulah mungkin bagi sebagian orang film ini sangat berarti dan menghibur juga menginspirasi, namun bagi saya hanya sedikit hiburan yang bisa saya tangkap sepanjang satu setengah jam lebih durasi film ini berjalan.

Rate: 2/5

Tagged ,

Oz the Great and Powerful (2013)

oz_the_great_and_powerful_ver8

Ini adalah film yang memberikan sensasi luar biasa kepada saya. Bukan hanya karena efek dari film ini yang saya tonton dalam bentuk tiga dimensi, namun memang ceritanya cukup menarik dan mudah diikuti, serta sekali lagi seperti halnya film-film fantasi Hollywood, membawa penonton ke dunia alam mimpi dan imajinasi yang tampak nyata di layar lebar. Terlebih lagi, saya menontonnya di IMAX, bioskop dengan 3D terbesar dan layarnya juga lebih besar dari bioskop biasa, dan sensasi yang dihasilkan tentunya lebih mantap untuk dirasakan.

Saya sendiri sudah lama mendengar kata Oz di dalam sebuah film. Oz-Oz yang pernah saya dengar diantaranya adalah film The Wizard of Oz atau The Wonderful Wizard of Oz, dan sepertinya kalau saya tidak salah memahami, ini ada hubungannya dengan Oz-Oz terdahulu itu, meskipun saya sendiri juga tidak tahu hubungannya itu apa.

Film ini bercerita tentang Oscar Diggs (James Franco) yang merupakan pesulap gadungan dari sirkus keliling di Kansas. Ia adalah pesulap yang memiliki ambisi terhadap popularitas sehingga kadang ia mengesampingkan kasih sayang, persahabatan dan kepercayaan orang lain. Pada suatu ketika Oz melarikan diri dari sirkus keliling tersebut, dan ia mendapat “balasan” dari kelakuannya dengan terombang-ambing dalam balon udara yang berada di lingkaran angin puting beliung. Angin tersebut membawa Oz ke dalam dunia baru dan ia mulai berpetualang di dunia tersebut. Disana ia bertemu penyihir-penyihir cantik yang jahat dan baik, diperankan Rachel Weisz, Mila Kunis dan Michelle Williams. Begitulah secara garis besar ceritanya.

Yang menarik dari film ini adalah awalannya yang hanya membuka separuh layar, mungkin kalau yang tidak tahu dan tidak sabar mengira studio yang memutar film ini rusak atau kecewa karena memang gambarnya hanya segitu. Selain layarnya yang cuma separuh, warnanya juga hanya hitam putih. Barulah, setelah Oz terbang dengan balon terbangnya dan masuk ke dalam lingkaran angin puting beliung dan terombang ambing untuk kemudian mendarat di negeri khayalan Oz, layar bergeser menjadi penuh dan menjadi berwarna, sungguh indah.

Oh ya, film ini juga mudah dimengerti kok, terbukti dari saya yang mengerti percakapan dan alur cerita film meskipun nontonnya ga pake teks bahasa (karena di IMAX ga pake teks), dialognya juga mengalir dan celutukan celutukan dari tokoh-tokohnya yang seperti biasa juga lucu, cukup membuat tertawa terbahak-bahak.

Dan satu lagi, Rachel Weisz di film ini yummy banget *astaga*. Yummy kenapa? Mrs. Weisz makin tua makin menjadi cantiknya, ga hilang seperti saat doi main dulu pertama kali saya liat di The Mummy. Disini ia tampak lebih mature dan dewasa, makin matang dan berisi *halah* Weisz pun dapat saingan berat dari Mila Kunis yang jadi adiknya, tapi sori Mila, saya lebih tertarik sama Mbak Weisz.

Rate (3,5/5)

Tagged , , ,