Tag Archives: milan

Day 24: Player(s) You Really Can’t Stand

maxresdefault

Ketika Robson de Souza atau yang lebih dikenal dengan Robinho datang ke Milan sebagai pemain baru di bursa transfer akhir musim 2010, Milanisti bergembira dan sepakat Milan telah menjalani musim transfer pemain (mercato) yang sukses. Dua nama besar, Zlatan Ibrahimović dan Robinho datang dengan kualitas yang masih bagus sebagai seorang pemain. Ibra dipinjam dari Barcelona sedangkan Robinho tiba dari Manchester City. Dua-duanya meninggalkan klub lamanya dengan kondisi tidak bagus. Dan seperti biasa, tangan Milan selalu terbuka untuk pemain-pemain “terbuang” seperti mereka. Robinho dan Ibra langsung menjadi andalan di skema pelatih kala itu, Max Allegri, dan benar saja, Milan langsung menjuarai Serie A di musim pertama Robinhi dan Ibra mengarungi Liga Italia.

Robinho yang sempat menjadi hot stuff timnas Brasil dan bintang di Real Madrid, masih memiliki taji sebagai pemain yang lincah, atraktif dan jenius layaknya pemain-pemain Brasil lainnya. Itu yang membuatnya istimewa. Di luar tipikalnya sebagai pesepakbola bad boy dan kerap berselisih paham dengan pelatih klub yang dibelanya. Lagipula, Robinho adalah pemain yang memiliki skill di atas rata-rata. Demikian halnya pun dengan Ibra, 2 pemain itu adalah pemain yang diharapkan bisa “jinak” dan menjadi good boy ketika bermarkas di Milanello. Sudah menjadi rahasia umum bila Milan adalah klub yang bisa menenangkan pemain-pemain yang bertipe liar. Dan anggapan itu tidak salah, Robinho dan Ibra jarang terdengar kabar buruk atau kelakuan negatifnya yang menjadi sorotan media.

Meskipun kiprah Robinho di Milan terbilang cukup baik, performa Robinho menurun seiring dengan menurunnya pula prestasi Milan pasca scudetto, apalagi setelah ditinggal Ibra dan juga Thiago Silva. Kuantitas golnya pun tak lagi sebagus musim-musim pertamanya. Namun ada satu hal dari Robinho yang tidak dapat dilupakan. Agak kurang baik ini kedengarannya, tapi memang betul terjadi. Yup, Robinho sering melewatkan peluang emas untuk mencetak gol, bahkan bila peluang tersebut memiliki persentase 99,9% gol.

Well, peluang hilang untuk mencetak gol pun sebenarnya bisa terjadi pada pemain lain dan pemain manapun di dunia ini, tidak hanya Robinho saja. Namun yang menjadi masalah, Robinho terbiasa melakukannya, hingga ia dicap pemain yang sangat sering membuang peluang emas di depan gawang. Dan kadang inilah yang membuat Milanisti “benci” kepadanya, dan sumpah serapah santer terdengar agar klub menjualnya. Robinho kadang dianggap sebagai biang kegagalan Milan meraih kemenangan, karena hampir di setiap pertandingan ia melewatkan peluang mencetak gol, meskipun tak sedikit pula gol lahir dari kakinya. Begitulah tipikal manusia, ketika ada satu keberhasilan maka dianggapnya biasa, namun bila ada satu kegagalan, akan diingat sepanjang masa, haha.

Apapun itu, Robinho tetaplah Robinho. Pemain yang telah memiliki nama besar dan salah satu yang terbaik di Brasil. Milan yang punya tradisi sebagai klub tempat berlabuh pemain-pemain hebat asal Brasil pun beruntung pernah dibela Robinho. Dan sejujurnya, Robi merupakan pemain yang masih bagus dan masih memiliki skill-skill berkelas, meskipun sudah tidak lagi secepat dulu. Aksi dribbling bolanya masih menawan dan gocekannya masih mengingatkan kita akan masa jaya-jayanya. Namun, Milan tidak membutuhkan itu saat ini.

Apa yang Milan butuhkan adalah peremajaan dan penyegaran, dalam arti pemain baru. Artinya bukan hanya diisi pemain-pemain muda, namun pemain senior di Milan juga penting keberadaannya. Robi bisa menjadi pemain senior yang dimaksud itu, namun kualitasnya yang menurun pasca cedera pun tidak bisa terlalu lama ditolerir. Atau trademark pemain yang sering membuang peluang kadang juga menjadi hal yang merugikan klub. Pada intinya, masih banyak pemain di Milan yang memiliki kualitas setara atau bahkan lebih darinya, dan juga lebih muda sehingga perannya lambat laun tergantikan. Dan ingat, bila mempertahankan pemain bintang yang kerap menjadi cadangan, Milan harus merogoh kocek lebih dalam secara rutin untuk membiayai gajinya, sesuatu yang sebenarnya bisa dikurangi, apalagi di saat-saat klub Italia kini sedang dilanda krisis, untuk digunakan hal-hal lain macam membeli pemain baru.

Kabar baiknya, setelah lama mendapat berita bahwa ia “susah” dijual. Akhirnya mulai musim ini Robi dipinjamkan ke Santos, klub lamanya di Brasil. Meskipun statusnya masih pinjaman sehingga ada kemungkinan ia kembali lagi, tempat yang lowong ditinggalkannya cukup baik untuk diisi pemain baru atau pemain muda yang membutuhkan jam terbang lebih tinggi. Dan berharap saja Robi sukses kembali di Santos sehingga ia bisa dijual secara permanen. Akhir kata, Milanisti mengucapkan terima kasih atas jasa-jasa Robinho selama ini. Good luck!

Advertisements
Tagged , , , ,

Day 21: Favourite Legendary Player Who Is No Longer Playing

1585338_w2

Saya saat itu sedang bermain di rumah teman ketika mendengar berita besar nan membahagiakan yang menyangkut klub idola saya, AC Milan. Saat itu terpampang berita di sebuah tabloid olahraga bahwa Milan baru saja membeli seorang bek yang sedang naik daun dan merupakan kapten tim dari lawan Milan di Serie A, SS Lazio. Siapakah ia? Tentu saja tak lain tak bukan adalah sang maskot, Alessandro Nesta.

Pembelian itu luar biasa karena saat itu Nesta menjadi kapten Lazio dan ia sedang naik daun sebagai bek tengah klub maupun timnas. Nesta pun harus ridho dijual oleh manajemen klub karena klub biru langit berlambang burung elang tersebut sedang mengalami kesulitan keuangan. Dan saya ingat sekali foto dari berita di tabloid itu sangat melegenda, yaitu gambar Nesta sedang berpose memegang jersey Milan. Wow, luar biasa. Hingga kini transfer Nesta ke Milan masih menjadi salah satu transfer terbaik Milan sepanjang masa. Bayangkan saja, kapten Lazio kok dibeli. Itu kan ibaratnya sama aja dengan mindahin Paolo Maldini dari Milan atau membeli Javier Zanetti dari Inter atau Alessandro Del Piero dari Juventus. Atau ngangkut Francesco Totti dari Roma. Luar biasa. Pemilihan Milan sebagai klub Nesta selanjutnya juga menjadi suatu hal yang melegakan karena desas desusnya, Nesta sempat ingin pindah ke Inter. Ah, untung Nesta memilih jalan yang lurus, hehe.

Sebelum transfer itu terjadi juga kabarnya Milan melirik Fabio Cannavaro, yang saat itu juga tengah naik daun di Parma. Duet Nesta dan Cannavaro sedang menjadi duet paling diandalkan di timnas Italia. Mereka berdua adalah bek tengah klasik yang menjadi andalan di masing-masing klub. Namun akhirnya Cannavaro hijrah ke Inter dan takdir memilih Nesta sebagai seorang Rossonero, dan sisanya adalah sejarah.

Bersama Milan, Nesta datang dan langsung mempersembahkan gelar juara Liga Champions di musim pertamanya. Final di Old Trafford menjadi saksi dimana Nesta bersama Maldini, Marcos Cafu, Billy Costacurta dan Jaap Stam menjadi barisan belakang yang kokoh bagai tembok. Nesta bahkan mendapat julukan Minister of Defence karena kepiawaiannya mengawal barisan pertahanan Milan. Kami para Milanisti pun merasa tenang bila Nesta hadir di barisan belakang. Nomor 13 pun seakan lekat pada diri Nesta, ketika turun ke lapangan dan mengisi salah satu dari 4 bek sejajar Milan. Nesta dan Maldini menjadi duet klasik sepakbola Italia yang tenar dengan pakem catenaccio-nya, dan Nesta – Maldini menjadi wujud dari kokohnya sistem pertahanan grendel tersebut.

Sayang karir gemilang Nesta di klub seakan tidak terlalu mengikuti perjalanan hidupnya bersama La Nazionale. Berbaju biru timnas Italia, Nesta lebih sering dihantui cedera sehingga performance-nya tidak selalu maksimal. Masih lekat di ingatan saya ketika Nesta tidak selesai menjalani gelaran Piala Dunia 2006 karena harus mengakhiri turnamen lebih cepat akibat cedera. Ironisnya, Italia saat itu keluar menjadi juara. Itulah sebagian dari kisah sedih Nesta, selain kekalahan menyakitkan atas Korea Selatan di perdelapanfinal Piala Dunia 2002.

Selain menjadi dewa di barisan pertahanan, kehadiran Nesta di Milan sepanjang 10 tahun karirnya juga menjadi mentor bagi bek-bek baru Milan sepeninggal Maldini, Stam, Cafu, Billy dan lainnya. Oke sebut saja satu nama yaitu Thiago Silva. Kapten Brasil masa kini itu menyebut Nesta sebagai salah satu bek yang menginspirasinya dan berpengaruh pada permainannya. Duet Nesta – Silva sempat menjadi andalan Milan sebelum Nesta pensiun dan Silva dijual ke Paris Saint-Germain. Silva yang saat itu anak baru dari Fluminense mendapat ilmu, teknik dan taktik dalam hal mengorganisir pertahanan dari seorang bek legendaris Italia macam Nesta. Duet Silva – Nesta sebenarnya menjadi angin segar bagi Milan dan mungkin bisa melebihi Nesta – Maldini, namun waktu dan keadaan tidak memungkinkan dan Milan harus ikhlas mengakhiri kebersamaan mereka itu.

Kini Nesta telah mengakhiri 10 musim yang tak terlupakan bersama Milan dan meraih semua gelar level klub. Nesta menjadi salah satu legenda Milan, juga Lazio dan tim nasional Italia. Kehadirannya di Milan menjadi suatu bagian dari keluarga besar Rossoneri, dan membuat Milan semakin lekat menjadi tim yang kerap melahirkan bintang-bintang kelas dunia dan bek-bek legendaris. Nesta kini bermain di Kanada bersama tim Montreal Impact dan masih menjadi nama besar yang menjual bagi klub mana pun yang dibelanya. Dan tahun lalu, Nesta kabarnya telah mundur sebagai pesepakbola profesional.

Tagged , , ,

Day 20: Favourite Player From A Team You Dislike

56450620-1450949497-800

Adalah suatu penyesalan yang baru terasa di akhir suatu keputusan, ketika Milan menjual Andrea Pirlo ke Juventus. Memang ga pernah yang namanya penyesalan itu di awal, karena itu namanya pendaftaran *krik* namun yang jelas, keputusan untuk tidak memakai kembali jasa Pirlo menjadi suatu tanda tanya besar bagi kami, para fans, akan kebijakan manajemen Milan dan tanda tanya itu seakan mengendap dan menjadi suatu peninggalan yang luar biasa di era kepelatihan Massimiliano Allegri kala itu.

Pirlo dijual karena waktu itu Milan sedang mengalami euforia akibat menjuarai Scudetto-nya tahun 2011. Kala itu, Pirlo mengalami cedera yang membuatnya harus absen di beberapa pertandingan Milan, dan perannya diluar dugaan tergantikan dengan baik oleh Mark Van Bommel, pemain asal Belanda yang datang di paruh musim kedua. Milan juara, dan Allegri juga manajemen klub merasa bahwa Pirlo sudah bisa tergantikan. Perannya sudah tidak lagi sentral di barisan tengah Milan dan umpan-umpan khasnya sudah mulai terlupakan. Apalagi Allegri pun identik sebagai pelatih yang gemar memainkan pemain-pemain yang bertenaga di lini tengah, bukan lagi gaya stylish khas Pirlo. Pemain bertenaga macam Sulley Muntari dan Van Bommel dijamin mendapat tempat utama di skuad Max. Strategi itu cukup berhasil di awal kepelatihannya, karena secara tidak langsung Milan masih memiliki pemain yang bisa menciptakan perbedaan di diri Zlatan Ibrahimović. Ibra menjadi protagonis dan mampu membuat pemain-pemain lain menunjukkan sisi terbaiknya. Tanyakan hal itu pada Kevin Prince Boateng dan Antonio Nocerino yang seakan gaya permainannya terbantu oleh kehadiran Ibra.

Selain itu, yang membuat Pirlo harus hijrah adalah juga kenyataan bahwa Milan melakukan regenerasi akan pemain-pemain senior mereka. Nama-nama besar seperti Clarence Seedorf, Gennaro Gattuso, Alessandro Nesta dan lainnya, hanya diberikan perpanjangan kontrak 1 tahun, karena kalau tidak begitu Milan akan terus mengandalkan pemain veteran mereka dan akan lupa dengan kata regenerasi yang sangat penting dilakukan oleh sebuah klub yang telah melewati masa keemasannya. Perpanjangan kontrak 1 tahun dilakukan dengan opsi pilihan bagi si pemain, apakah akan menerima kebijakan tersebut atau tidak. Dan nyatanya, Pirlo termasuk dalam golongan pemain yang berkeberatan. Konon, Pirlo merasa masih bisa memberikan andil bagi Milan untuk beberapa tahun ke depan. Ah, mungkin karena cintanya Pirlo terhadap Milan yang sudah dibelanya selama 10 tahun dan memberikan semua gelar. Namun takdir memang harus memisahkan. Allegri dan manajemen Milan telah mengambil keputusan, dan Pirlo hengkang ke Juventus, dan untungnya bukan kembali ke Inter, meskipun saya memiliki feeling kuat kalau Pirlo tidak akan setega itu mengkhianati Milanisti.

Di Juventus, Pirlo menemukan kembali kejayaannya. Alih-alih dikatakan masanya telah habis karena usia. Di umur yang makin menua Pirlo justru hadir sebagai pemain yang kian matang. Penampilannya pun diubah, brewok yang membuatnya hampir mirip Chuck Norris pun menjadi ciri khasnya kini. Penampilan berantakan itu pulalah yang memberikan image makin tua makin jadi pada diri centrocampista bernomor 21 itu. Juventus seperti mendapatkan roh baru, dan merasakan apa yang dirasakan Milan selama 10 tahun belakangan, yaitu kehadiran seorang fantasista di lini tengah. Sudah beberapa tahun berlalu sejak mereka memiliki Zinedine Zidane, tampaknya kini mereka mulai mengalami masa dejavu dengan adanya Pirlo menempati posisi defending midfielder, posisi favorit Pirlo yang ditemukan oleh Carlo Ancelotti, mentornya selama di Milan.

Hadirnya Pirlo menjadi petaka bagi Milan. Agak aneh tadinya melihat Pirlo memakai seragam bercorak putih hitam berduel dengan koleganya sendiri macam Massimo Ambrosini dan Nesta, juga pemain Milan lain. Tapi sungguh hal itu terjadi, dan Milanisti harus membiasakan diri. Alhasil, Juve dibawanya juara liga hingga kurang lebih 3 kali, dan Pirlo semakin mendapat tempat dan hati publik Juventus Stadium. Sementara Milan mengalami masa terpuruknya sepeninggal Zlatan dan Thiago Silva atas nama finansial, juga bintang-bintang seniornya atas nama regenerasi. Di tim nasional Italia, peran Pirlo juga makin tak tergantikan. Cesare Prandelli sebagai pelatih membuat “kesalahan” Milan membuang pemain berharganya itu menjadi sebuah contoh untuk kembali menempatkan Pirlo sebagai jenderal lapangan tengah La Nazionale. Pirlo tetap memimpin timnas dengan gayanya yang flamboyan dan cool. Tengok bagaimana tendangan panenka-nya melegenda ketika Euro 2012 berlangsung. Dan ketika perhelatan Brasil 2014 kemarin pun Pirlo masih menjadi andalan meskipun Italia tidak mampu lolos di fase grup.

Menengok bagaimana dulu peran Pirlo di Milan, ia sempat menjadi pemain idola saya. Mengingat chemistry yang terjalin di antara Pirlo dengan Ancelotti kala itu, sungguh membuat saya semakin memahami arti kehidupan keluarga di Milan, pada era keemasan Milan menguasai Eropa periode 2003 hingga 2007. Pirlo adalah contoh pemain yang bisa dikatakan late-bloomer (atau pemain yang lambat berkembang), karena di awal karirnya hanya menjadi pemain pelapis atau cadangan, namun bisa muncul menjadi pemain yang tak tergantikan. Saya ingat dulu ketika Milan masih dihuni oleh Manuel Rui Costa sebagai centrocampista, Pirlo selalu menjadi bayang-bayang Rui Costa. Pirlo yang semasa di Inter juga menempati posisi yang sama seperti Rui, tidak pernah diberikan kesempatan menggantikan peran pria Portugal tersebut. Sesekali Ancelotti memasang Pirlo bila Rui berhalangan tampil, hingga akhirnya Don Carlo menemukan pattern baru dalam skema permainan yang mengubah sejarah Milan dan juga takdir Pirlo, menjadikannya metronom tim.

Pirlo ditempatkan dalam pola 4-3-2-1 dengan posisi tepat berada di depan empat bek sejajar. Perannya sebagai centrocampista namun agak ditarik ke belakang membuat Milan saat itu menjadi tim yang bisa bermain dengan 4 fantasista sekaligus: Pirlo – Rui Costa – Seedorf – Rivaldo. Ancelotti pun saat itu disebut sebagai jenius karena mampu memadu madankan 4 pemain bertipe penyerang lubang tersebut, posisi yang biasa ditempati mereka di klub terdahulunya. Dan Pirlo makin menikmati perannya menjadi penyeimbang tim. Ia menjadi pemain pertama yang mengalirkan bola dalam skema penyerangan bila bola datang dari belakang, dan menjadi pemain pertama pula yang memutus alur serangan lawan. Di posisi tersebut ia mampu menterjemahkan peran dari seorang gelandang bertahan dan gelandang menyerang. Umpan-umpannya pun akurat, tanyakan pada Andriy Shevchenko maupun Pippo Inzaghi bagaimana mereka dimanjakan oleh bola-bola pemberian Pirlo. Dan perlakuannya pada bola mati, tidak perlu diragukan. Ia menjadi master of free kick hingga kini.

Tak ada yang perlu disesali. Kejayaan sebuah tim sepakbola beserta pemainnya datang dan pergi dan tidak ada yang abadi. Pirlo masih menjadi pemain favorit saya meskipun berada di klub yang tidak saya sukai. Minimal, ia masih menjadi andalan Azzurri, timnas yang juga masih saya gemari.

Tagged , , , , ,

Day 19: Team You Hate With Passion

a.espncdn.com

Ada tim yang saya suka, dari kecil, dan mungkin akan saya bawa hingga mati, yaitu Milan. Kecintaan saya terhadap Milan tak perlu diragukan, dan mungkin hanya bisa terkalahkan oleh cinta pada istri dan anak saya nanti haha. Milan adalah cinta mati dan cinta abadi dalam sepakbola. Dan sebaliknya, kalau ada tim yang saya benci, yang saya tidak suka, yang saya wajibkan untuk diejek atau di-bully dalam sepakbola, pasti hanya satu jawabannya: Internazionale.

Kenapa Inter? Simpel saja jawabannya. Karena Inter adalah Inter. Menjadi musuh abadi Milan dalam perseteruan tim sekota, Inter otomatis menjadi pihak yang saya tidak sukai eksistensinya. Warna biru sebenarnya adalah salah satu warna favorit, namun ketika warna itu dipakai untuk warna kostum Inter, seketika saya langsung tidak tertarik lagi. Memang saya bukanlah penggemar karbitan yang sensitif sekali akan kehadiran pesaing, karena semakin lama saya menggemari sepakbola dan memahami esensi dari permainan sepakbola itu sendiri, juga menempatkan diri sebagai fans dewasa, saya melihat persaingan antara 2 tim yang menjadi musuh bebuyutan bukanlah sebagai ancaman, melainkan lebih kepada kualitas dari atmosfir sepakbola itu sendiri. Dan Inter, sebagai tim saudara Milan di kota Milano, menjadi antagonis di sudut pandang saya sebagai penggemar.

Kehadiran Inter sebagai lawan Milan tentunya sudah panas bila keduanya bertemu di Serie A. Pertandingan derby (antar tim sekota) sudah menjadi cerita klasik dan tak terbantahkan serunya semenjak musim-musim lalu. Tak hanya di Serie A, persaingan Inter dan Milan tentunya merambah ke kompetisi yang lebih general, yaitu Liga Champions. Dan persaingan mereka disini bukan hanya persaingan ketika terjadi bentrok kedua tim, namun juga persaingan gelar juara. Milan puas sekali membuat Inter bermuram durja karena prestasi mereka yang tak kunjung bersinar di Eropa, ketika Milan menguasai Liga Champions dengan 3 kali masuk final pada periode 5 tahun (2003 – 2007), dengan meraih 2 gelar juara. Sedangkan Inter akhirnya membalas dengan meraih treble di 2010, membuat Milan tenggelam dalam kedengkian karena hanya Inter satu-satunya klub Italia hingga kini yang meraih treble (juara liga, Piala Italia dan Liga Champions). Dan jelas, itu membuat hampir seluruh fans Milan di seluruh dunia mendidih darahnya. Untung saja bila berbicara sejarah, Milan masih unggul cukup jauh karena koleksi gelar Eropa mereka lebih banyak dibanding apa yang dimiliki Inter.

Tim yang saya benci dengan passion, itu judul dari tulisan ini. Saya baru tahu jika passion bisa digunakan dalam hal yang berkonotasi negatif, tidak hanya sesuatu yang positif. Dan bila dikaitkan dengan kebencian terhadap suatu tim sepakbola, membenci Inter adalah tepat untuk disematkan pada kata passion dalam judul tulisan ini, haha. Saya masih ingat betapa bahagianya kami (saya menyebut Milanisti dengan kami) ketika berhasil menang derby. Ini adalah contoh paling sederhana. Betapapun skornya, kemenangan pada derby sangat membahagiakan karena pada derby Milan dan Inter bersaing untuk memperebutkan siapa tim nomor satu di Milano. Juga sebagai pentasbihan siapa yang terbaik saat itu. Derby adalah derby. Derby merupakan point of view kemenangan dan kejayaan, diluar sejarah dan posisi aktual. Artinya, jika satu tim pada klasemen posisinya lebih rendah daripada tim lain, namun berhasil memenangi derby, seketika posisi klasemen tidak berarti. Ia adalah pemenang derby. Titik. Dan ia adalah yang terbaik. Beberapa derby yang masih lekat di ingatan adalah ketika Milan menang 3-0. Saat itu Inter dilatih Leonardo, bekas pelatih dan pemain Milan yang sempat dicap pengkhianat. Puas sekali. Atau ketika Ronaldo Nazario, pemain yang lama membela Inter, namun akhirnya mampu menceploskan bola ke gawang mantan klubnya dan melakukan selebrasi silenzio saat membela Milan pada derby yang (sayangnya) berakhir 1-2, itu juga menghadirkan kepuasan tersendiri.

Dan bila ingin lebih bombastis, ingatlah kemenangan sensasional Milan 6-0 atas Inter, yang sepertinya masih terekam dengan jelas hingga saat ini, dan menjadi mimpi buruk Interista. Meskipun Milan juga pernah kalah 0-4 pada derby beberapa tahun lalu, namun tetap saja kekalahan 0-6 itu sulit diterima. Atau bila berbicara level Eropa, Milan dan Inter juga pernah bertemu. Salah satunya di semifinal Liga Champions, dimana Andriy Shevchenko menjadi protagonis Milan yang mengantarkan Rossoneri menuju final melawan Juventus, dan banyak lagi. Atau ketika final Piala Super Italia, dimana gol Zlatan Ibrahimovic dan Kevin Prince Boateng menyudahi perlawanan Inter 2-1, dan setelah itu muncul gambar jokes untuk membuang seragam biru ke tong sampah.

Perihal transfer pemain juga bisa menjadi tolak ukur “kebencian” saya terhadap Inter. Milan seperti punya prinsip bahwa pemain kami haram hukumnya untuk hijrah ke Inter setelah membela Milan, dan Milan akan mencap mereka sebagai pengkhianat apabila berani melakukannya. Tengok bagaimana Leonardo yang sempat dipuja Milanisti semasa menjadi pemain dengan santainya menerima tawaran Inter untuk menjadi pelatih, umurnya pun tidak panjang di Inter akibat tekanan yang dideritanya. Leo harusnya berkaca dari para legenda yang mendeklarasikan fatwa haram bila pindah ke Inter, dan kalaupun harus pindah klub setelah Milan, sebaiknya pindah ke klub lain di Italia (Juventus masih bisa ditoleransi), atau paling tepat ke luar Serie A sekalian. Hal ini yang berkali-kali ditegaskan Gennaro Gattuso saat ingin pensiun di Milan.

Sebaliknya, saya melihat justru banyak bekas pemain Inter yang malah meraih sukses ketika berseragam merah hitam. Dua pemain yang paling kentara adalah Clarence Seedorf dan Andrea Pirlo. Semasa membela Nerazzuri, mereka sulit mendapat gelar. Bahkan Pirlo bukan siapa-siapa di Inter. Dan ketika berseragam Milan, mereka mendapatkan segalanya. Seedorf menjadi pemain pertama yang meraih gelar Liga Champions di 3 klub berbeda. Pirlo menjadi legenda dan maestro di posisinya. Begitu pula Ronaldo Nazario yang meskipun hanya bermain tidak lebih dari 2 musim di Milan, mendapati Milan sebagai rumah baginya, sesuatu yang bahkan tidak ia dapatkan selama di Inter. Kebetulan? Bisa jadi. Namun hal tersebut juga menjadi kisah nyata.

Kehadiran Erick Thohir (ET) sebagai presiden Inter tentunya juga menambah ironi kami, para Milanisti WNI karena pimpinan tertinggi klub yang kami benci adalah orang Indonesia sendiri hehe. Hal ini kadang membuat iri karena logikanya dengan memiliki presiden saudara sendiri, Inter akan lebih mudah aksesnya untuk setiap tahun berkunjung ke Tanah Air dan memainkan pertandingan tur pra musim, seperti yang telah mereka lakukan beberapa waktu lalu. Makin membuat iri karena personel yang datang adalah tim utama, bukan seperti Milan yang hanya menampilkan pemain-pemain pensiunan dalam bendera Milan Glorie. Sebagai penggemar, tentunya Milanisti ingin juga menyaksikan tim utama datang dan bermain. Dan ini adalah keuntungan tersendiri bagi fans Inter. Namun satu hal yang membuat kami “kecewa” sebagai orang Indonesia yang masih memiliki solidaritas kepada Presiden Thohir adalah, gebrakan ET sebagai penguasa kurang memiliki greget. Hal ini bisa dilihat dari kebijakan dan pergerakan transfer pemain yang biasa-biasa saja atau malah cenderung kurang gairah bagi Inter sendiri. Dan sempat menjadi objek kritik para fans Inter dan pengamat sepakbola di sana, dan kalau sudah begini kan orang Indonesia juga yang malu, haha. Jadi Pak ET, kalau boleh saya memberi saran meskipun saya bukan Interisti, namun tolonglah jaga nama baik Indonesia di mata publik sepakbola internasional, khususnya di negara yang Bapak miliki klubnya, hehe.

Namun sebagai fans, Inter juga bisa menyemai luka. Satu momen yang sebagai penggemar sepakbola harus objektif saya acungkan jempol adalah ketika mereka meraih treble tahun 2010. Hal itu membanggakan sekaligus menyesakkan dada. Membanggakan bagi Italia karena kemenangan tersebut mendongkrak posisi Italia sebagai negara yang klub-klubnya sempat terpuruk dan dipandang sebelah mata, karena prestasi dan faktor keuangan rata-rata klub, yang berpengaruh pada koefisien (poin berdasarkan UEFA), dalam hal ini berkaitan dengan seberapa banyak negara tersebut boleh mengirimkan wakil mereka di kompetisi Eropa, kurang lebih seperti itu. Menyesakkan karena, hal yang diraih Inter tersebut adalah sesuatu pencapaian luar biasa yang akan sulit ditandingi Milan, minimal hingga beberapa tahun ke depan. Inter saat itu memang menjadi tim juara, dengan pemain dan pelatih yang jempolan pada diri Jose Mourinho. Milan harus belajar dan menjadikan itu sebagai cambuk motivasi untuk kembali menancapkan kuku sebagai tim kuat Eropa.

Tagged , , ,

Day 17: Transfer(s) That Has Broken Your Heart

andriy-shevchenko-chelsea-liverpool_3416823

Patah hati tidak hanya terjadi pada kisah asmara. Patah hati juga terjadi dalam sepakbola. Objeknya sama, yaitu terputusnya kebahagiaan kita akan suatu orang yang kita cintai, entah karena kepergian, perpisahan, sudah tidak lagi saling mencinta atau menyayangi, bahkan pindah ke lain hati. Ini yang kadang agak sulit kita terima bila terjadi pada kita. Yup, jika anda merasakan salah satu atau lebih dari hal-hal seperti itu, bisa dibilang anda sedang patah hati.

Dan itulah yang terjadi pada kisah saya sepanjang usia menggemari sepakbola. Setelah beberapa kali patah hati dalam aspek asmara di kehidupan nyata haha (kalo dibiarin bisa curhat nih), maka dalam sepakbola ada juga hal-hal yang membuat patah hati, yaitu kepergian jagoan atau pemain andalan ke klub lain.

Adalah Andriy Shevchenko, pemain andalan Milan yang telah banyak berjasa bagi klub, telah memberikan banyak gelar dan menjadi pahlawan, yang harus menyakiti hati para tifosi saat itu dengan keputusannya untuk pindah ke klub lain. Tidak bisa pindah ke lain hati, begitu mungkin anggapan para tifosi melihat loyalitas Sheva saat itu. Apalagi Sheva pun sebelumnya sempat berkata kepada fans dan media bahwa ia tidak akan pindah dan menegaskan akan mengakhiri karirnya di San Siro. Namun, kami para fans telah belajar. Saya pikir sepakbola tidak begitu jauh beda dengan politik, dan pesepakbola juga hampir sama dengan politikus. Tidak ada yang pasti dalam sepakbola, begitu juga dengan statement para pemainnya. Segala sesuatu bisa terjadi dalam sepakbola. Jangan pernah merasa seorang pemain akan berada benar-benar di klub tersebut bahkan apabila ia masih termasuk ke barisan pemain yang memperkenalkan jersey terbaru klub tersebut untuk musim depan. Begitu pula dengan pendelegasian pemain sebagai kapten tim. Kadang ada klub yang mencoba menahan pemain bintangnya agar tidak hengkang dengan cara memberikannya jabatan sebagai kapten tim untuk musim depan. Beberapa berhasil, namun tidak sedikit pula yang bergeming dan tetap hijrah ke klub lain. Kami, para fans, telah mengetahui seluk beluk hal tersebut dan tidak akan kaget lagi bila fenomena itu terjadi pada pemain favorit kami.

Sheva sebenarnya bisa menjadi legenda di Milan, apabila ia pensiun dan mengakhiri karirnya di sana. Terlalu naif memang, tapi jersey nomor 7 bisa saja dipensiunkan mengikuti nomor punggung 3 dan 6. Hal itu sempat menenangkan hati para Milanisti ketika Sheva berbicara kepada pers bahwa tifosi tidak perlu khawatir dirinya akan pindah, mengingat saat itu Chelsea sedang kaya-kayanya dan sangat bernafsu memboyong Il Tsar (Sang Kaisar) ke Stamford Bridge. Di bawah nakhoda Roman Abramovich, sang taipan Rusia yang seakan uangnya tidak berseri, Chelsea terus menerus merayu Milan agar melepas bintangnya. Apalagi sebelum itu, Sheva mendapat Ballon d’Or meskipun setelahnya gagal membawa Milan menjuarai Liga Champions tahun 2005. Kegagalan 2005 kala itu seakan kontradiktif karena 2 tahun sebelumnya justru Sheva menjadi pahlawan setelah tendangannya di adu penalti memastikan kemenangan Milan atas Juventus. Rayuan Chelsea dan Roman coba dibentengi Milan dan Silvio Berlusconi dengan memberikan perpanjangan kontrak pada Sheva.

Saya masih ingat sebagai tifosi saat itu, betapa khawatirnya kami bahwa sang pujaan hati kami akan benar-benar pindah. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Sheva di mata kami, meskipun akibat tendangannya Milan kalah dari Liverpool, tetap saja menjadi pahlawan dan kami tidak akan rela kalau ada klub lain yang berani membawanya pergi. Saya pun ingat ketika itu Milanisti seluruh dunia sampai membuat petisi online yang bisa diisi oleh para fans seluruh dunia, untuk mengubah pendirian Sheva yang sepertinya sudah mulai goyah keputusannya untuk pindah.

Biasanya, pemain terindikasi pindah apabila sudah ada tanda ia mulai terlihat di kota tim tujuan dengan alasan mencari rumah atau tempat tinggal. Dan itu pula yang terlihat dari Sheva. Ia sudah beberapa kali nongol di London bersama sang istri. Dan benar saja, tahun 2006 berita buruk itu terjadi. Saya ingat masih kuliah saat itu ketika di kampus mendengar berita yang mengagetkan. Saya yang lama-lama sudah bisa pasrah akhirnya mengetahui kalau Shevchenko telah sepakat pindah ke Chelsea dengan nilai transfer yang cukup besar kala itu.

Shevchenko, yang karirnya di Milan ditutup dengan pencetak gol sepanjang masa kedua di Milan dengan 175 gol dari 296 penampilan, benar-benar resmi pindah untuk bergabung dengan skuad Jose Mourinho di Inggris. Ia memilih Chelsea kala itu dengan alasan salah satunya ingin mencoba tantangan lain dan ingin lebih bisa berkembang istri dan keluarganya dalam berbicara Inggris. Intinya lebih ke arah pertimbangan keluarga. Namun tak sedikit pula yang mengatakan Sheva pindah karena uang. Money can buy everything, itu semboyan yang terkenal saat itu. Dan Sheva diklaim Milanisti telah menodai kesetiaannya pada Milan, klub yang telah memberikan segalanya.

Apalagi lama kelamaan waktu berbicara bahwa keberadaan Sheva di Chelsea menjadi makin membuat hati Milanisti sakit dan juga ternodai akibat ulahnya yang langsung menyium logo Chelsea di jersey dada sebelah kiri ketika menjadi pencetak gol saat Charity Shield, persis di partai debutnya. Segitu mudahkah Sheva mencintai Chelsea yang baru dibelanya hanya dalam 1 pertandingan? Dan sebegitu mudahnya Sheva melupakan Milan yang telah kurang lebih 7 tahun dibelanya, hanya untuk kemudian dilupakan saat ia membela The Blues di partai perdana? Kalau pada akhirnya pun Sheva kembali ke Milan, itu seakan tidak bisa menutupi luka Milanisti yang pernah ditinggalkannya. Itu hanya sikap wajar Milan memperlakukan dengan baik legendanya yang kembali ke rumah.

Apapun itu, transfer Sheva ke Chelsea adalah salah satu transfer yang membuat saya sebagai fans Milan patah hati.

Tagged , , , , ,

Day 12: Favourite Ever Match

AC Milan's Alexandre Pato kicks to score his first goal during their Champions League soccer match against Real Madrid at the Santiago Bernabeu stadium in Madrid

Banyak pertandingan menarik, yang melibatkan tim favorit. Baik itu di ajang domestik liga, kejuaraan antar klub Eropa (Liga Champions dan semacamnya), atau bahkan tim nasional di ajang sekelas Piala Dunia dan piala-piala regional lain. Dan kali ini saya diberikan tantangan untuk memilih salah satunya. Oke, tanpa perlu berpikir panjang, ini adalah salah satu pertandingan terbaik yang terjadi di Liga Champions yang melibatkan Milan melawan salah satu raksasa Eropa yang saat itu sangat diunggulkan, Real Madrid.

Pertandingan ini dilangsungkan tahun 2009 silam di kandang Madrid, Santiago Bernabeu, yang terkenal sebagai salah satu stadion terbesar dunia. Bayangkan, melawan tim superior seperti Madrid di ajang sekelas Liga Champions dengan bermain di bawah tekanan lawan, membuat banyak pihak tidak mengunggulkan Milan sama sekali di partai ini. Hasil paling bagus adalah bisa menahan seri Los Galacticos. Dan Milan datang ke Bernabeu dengan kekuatan penuh.

Ketika itu Kaka baru saja hijrah ke Madrid dan ini adalah perjumpaan pertama kali Kaka dengan bekas klubnya, sebagai lawan. Agak aneh melihat Kaka berbaju putih berebut bola dengan Ambrosini, Pirlo ataupun Seedorf. Dimana dulu mereka saling bahu membahu. Untung saja pertandingan tidak dilangsungkan di San Siro, dan seingat saya ketika leg kedua dimainkan di San Siro, Kaka tidak turun ke lapangan.

Milan saat itu baru saja memulai sebuah revolusi sepeninggal Carlo Ancelotti dan pensiunnya Paolo Maldini. Leonardo yang ditunjuk sebagai pelatih baru, mencoba melanjutkan hegemoni Milan dengan permainan cepat khas Brasil, meskipun tidak bisa disamakan dengan gaya bermain era Ancelotti. Milan saat itu merupakan tim yang berbeda dari ketika juara tahun 2007. Meskipun lini tengah masih diisi skuad ex-juara seperti Pirlo, Seedorf dan Ambrosini sebagai kapten suksesor Maldini. Di lini belakang, Milan kedatangan bek sentral Thiago Silva yang baru saja memulai masa keemasannya. Di depan, Ronaldinho coba memimpin Rossoneri bersama Pato dan Inzaghi.

Pertandingan sendiri berjalan seru dan seperti biasa, Milan berada di bawah tekanan bila bermain di kandang lawan. Madrid yang saat itu belum kedatangan Cristiano Ronaldo masih mengandalkan Raul dan Karim Benzema di depan. Akhirnya benar saja, Madrid lebih dulu unggul lewat gol Raul di menit ke-19 memanfaatkan kesalahan Dida. Skor 1-0 bertahan hingga babak pertama usai.

77123200405127172481

Di babak kedua, Milan mencoba untuk menyamakan kedudukan, dan meladeni permainan cepat Madrid yang semakin gencar menyerang karena telah unggul 1 gol. Dan akhirnya lewat suatu lemparan ke dalam, bola mendarat di kaki Pirlo yang secara tiba-tiba melakukan tendangan jarak jauh ke gawang Iker Casillas. GOL! Tendangan yang berbau spekulasi namun mengindikasikan kecerdasan Pirlo karena bola diarahkan ke tiang dekat membuat Madrid terkejut dan kedudukan jadi sama kuat.

Belum sempat pasukan Si Putih mengambil nafas panjang, 4 menit kemudian wonder boy Milan yang saat itu masih menjadi andalan, Pato, membuat Milanisti bersorak kegirangan karena umpan yang ditujukan ke Si Bebek berhasil dimanfaatkan dengan baik lewat kecepatan larinya, dan sanggup memperdayai Casillas. 1-2 Milan. Tertinggal dan tak ingin malu di depan publik sendiri, Madrid coba mengejar dan mereka berhasil membalas lewat tendangan pemain asal Belanda, Royston Drenthe di menit ke-76. Kedudukan menjadi 2-2.

Yang berikutnya ini epic. Setelah sempat menjebol kembali gawang Madrid lewat tandukan Thiago Silva menyambut tendangan penjuru, namun dianulir karena Silva dianggap melakukan pelanggaran terhadap Casillas, Milan secara tak terduga mampu menjungkirbalikkan semua prediksi dan dugaan para pengamat dan publik sepakbola. Umpan sederhana namun akurat Seedorf dari luar kotak penalti menemukan Pato yang dengan cerdik luput dari kawalan bek-bek Merengues dan perangkap offside, dan dengan sepakan first time kaki kanan nya mampu menceploskan bola ke gawang Madrid untuk ke-3 kalinya. Milan menang dan perjuangan mereka malam itu menjadi salah satu pertandingan tak terlupakan dalam sejarah keikutsertaan mereka di arena Liga Champions.

Tagged , , , ,

Day 11: Favourite Manager

Carlo Ancelotti

Carlo Ancelotti

Berbicara mengenai pelatih atau manajer sebuah klub, banyak yang sukses mempersembahkan berbagai gelar, tapi sedikit yang bisa konsisten mempersembahkan gelar di beberapa klub berbeda, yang menandakan kemampuan yang baik dalam hal manajerial dan kepelatihan di berbagai klub. Salah satunya adalah ia yang saya pajang gambarnya diatas. Yup, dialah Carlo Ancelotti.

Ancelotti adalah sosok pelatih yang mampu mempersembahkan gelar hampir di semua tim yang ditanganinya. Sukses bersama Milan sebagai pemain di era 80-an, dengan merebut 2 gelar juara Piala Champions tahun 1989-1990, ia mengawali karir kepelatihannya di Reggiana, kemudian pindah ke Parma dan lalu Juventus. Di tiga klub tersebut, Ancelotti belum menemukan sisi kebintangannya sebagai pelatih, hingga ia hijrah ke Milan di tahun 2001. Dan selanjutnya adalah sejarah.

Ancelotti sukses besar di Milan selama 7 tahun karir kepelatihannya. Bersama Rossoneri, ia meraih segalanya dari berbagai gelar di tingkat klub. Mulai dari Serie A, Coppa Italia, Piala Super Italia yang merupakan gelar domestik pernah dicicipinya. Di tingkat Eropa, Liga Champions dipersembahkannya untuk Milan 2 kali, bahkan nyaris 3 kali kalau saja tragedi Istanbul 2005 tidak terjadi. Piala Super Eropa pun diberikannya 2 kali, sementara Piala Dunia Antarklub dimenanginya sekali, hampir 2 kali apabila tahun 2003 tidak kalah dari Boca Juniors.

Milan 2007

Milan 2007

Di Milan pula, prestasi Don Carlo tak hanya di dalam lapangan. Di luar lapangan, ia pun terkenal dekat dengan pemain dan bagaimana ia membangun hubungan yang baik dengan anak buahnya. Ia mampu menjalin komunikasi dengan berbagai golongan usia pemain, baik senior maupun para pemain muda. Banyak pemain-pemain Milan yang kini sudah pada pensiun menaruh respek pada Don Carlo dan menganggap beliau sebagai pelatih yang berjasa akan perkembangan karirnya. Tengok ucapan legenda macam Alessandro Nesta, Paolo Maldini, Gennaro Gattuso, Andrea Pirlo atau Filippo Inzaghi. Juga tak ketinggalan Clarence Seedorf. Tujuh tahun di Milan benar-benar menjadikan Ancelotti dan para pemainnya lebih dari sebuah keluarga.

Namun bukan berarti karir kepelatihan Ancelotti di Milan berjalan mulus-mulus saja. Ketika Milan terpuruk di tangannya pun, banyak kritik dan suara-suara sumbang yang meminta ia dipecat atau diganti oleh pelatih lain. Sudah bosan dan kelamaan, kata mereka. Atau sudah terbaca taktiknya. Mungkin itu pula yang membuat Ancelotti tahun 2009 memutuskan mundur dari Milan dan mencari pengalaman baru di luar Italia. Saat itu, Don Carlo meninggalkan Milan bersama dengan La Bandiera Maldini yang pensiun. Itulah periode dimana Milan membuka era baru kepelatihan dan kepemimpinan. Dan saat itu pulalah Ancelotti membuka lembaran barunya di klub kaya Inggris milik taipan asal Rusia, Roman Abramovich: Chelsea.

Ancelotti diminta Roman untuk membawa Chelsea berjaya di Inggris dan memutus dominasi Manchester United. Dan Ancelotti berhasil memenuhi keinginan miliarder Rusia tersebut dengan mempersembahkan gelar juara Liga Inggris dan Piala FA di musim pertamanya! Gelar juara tersebut menurut saya tidaklah diraih dengan mudah karena Liga Inggris seperti diakui oleh pelatih-pelatih lain, sebagai liga yang paling kompetitif diantara liga-liga unggulan Eropa. Liga Inggris dengan tim-tim yang relatif merata berkompetisi di dalamnya (berbeda dengan yang terjadi di Spanyol atau Jerman dimana dominasi Madrid, Barca, Muenchen begitu besar) adalah suatu reli kompetisi yang panjang dan berat, namun Ancelotti berhasil menaklukan rimba EPL hanya dalam musim pertamanya.

Namun ada satu keinginan Abramovich yang belum (atau tidak) bisa diwujudkan Ancelotti ketika membesut The Blues. Yup, apalagi kalo bukan gelar juara Liga Champions, sesuatu yang sangat diidam-idamkan Abramovich dari pertama kali ia membeli klub biru tersebut. Roman tidak sabar dan Don Carlo dipecat di penghujung musim keduanya karena alasannya tidak bisa mempertahankan gelar juara liga.

Di-PHK Chelsea tak membuat pelatih sekaliber Ancelotti lama mendapat pekerjaan. Klub yang juga kaya dari Prancis, Paris Saint-Germain (PSG) merekrutnya untuk memimpin sebuah revolusi besar dari rencana jangka panjang manajemen PSG membangun tim kuat dengan sokongan dana melimpah yang berakibat datangnya pemain-pemain bintang. Dan benar saja, lagi-lagi di bawah kepemimpinan Ancelotti, PSG berhasil meraih gelar juara Ligue 1 tahun 2012.

The DNA of Champions' manager

The DNA of Champions League’s manager

Nama besar Ancelotti yang makin mengkilap sebagai pelatih papan atas Eropa sampai ke telinga Florentino Perez, Presiden Real Madrid. Madrid frustasi karena gelar yang telah lama diidam-idamkan mereka sejak terakhir kali diraih tahun 2001, yaitu Liga Champions tak kunjung didapat. Bahkan pelatih sekaliber The Special One, Jose Mourinho saja gagal membawa Madrid mengangkat The Big Ears. Dan pilihan setelah Jose jatuh kepada Ancelotti, dengan DNA Champions nya Don Carlo diharapkan mampu membawa Madrid meraih La Decima atau gelar ke-10 Champions klub ibukota tersebut.

Dan benar saja, lagi-lagi tak butuh waktu lama bagi Carletto untuk mengetahui seluk beluk Madrid, dengan modal para pemain bintang yang bertebaran di setiap sisi skuad, juga 2 pemain termahal dunia posisi 1 dan 2 dalam diri Gareth Bale dan Cristiano Ronaldo, pun performa Cristiano yang sedang naik daun dengan gelar Ballon d’Or nya, membuat langkah Carletto dalam misinya memburu La Decima terbantu dengan baik. Kereta berjalan cepat. Akhirnya di partai puncak lewat sebuah perjuangan heroik Atletico Madrid bisa dikalahkan setelah sempat tertinggal lebih dahulu, dan disitulah DNA Ancelotti terbukti.

Saya sebagai pendukung Milan tidak keberatan bila mendukung langkah Carletto di setiap tim yang dilatihnya. Well bukan yang tiba-tiba menjadi fans klub yang dilatih Carletto, namun saya mendukung Don Carlo berprestasi dimanapun ia berada, karena sebagai Milanisti, ia telah memberikan banyak untuk klub, disamping ia juga mantan punggawa klub saat era keemasan The Dream Team. Tapi ga tau ya kalo tetiba doi ngelatih Inter atau Juventus haha.. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi. Kalau Roma sih ga jadi masalah ya. Roma adalah tim yang pernah dibela Ancelotti di ranah Italia sebelum bermain untuk Milan, dan ia pun sempat mengatakan memiliki obsesi melatih Roma untuk menambah daftar Curriculum Vitae nya.

Tagged , , , , ,

Day 10: If You were the Manager of your Fav Club, What Would You Change in Terms of Starting Team, Tactics, etc.

Clarence Seedorf

Clarence Seedorf

Oke, gelaran liga telah usai dan saya mendapati Milan telah menyelesaikan perjalanannya di Serie A dengan menduduki peringkat ke-8, yang artinya Milan tidak mendapat jatah sama sekali ke kompetisi Eropa, baik itu yang namanya Liga Europa sekalipun. Ini adalah hal yang tidak lazim untuk didapatkan oleh tim sebesar Milan namun sebaliknya ini adalah sebuah keniscayaan menyusul musim yang dilalui dengan tidak bagus.

Dua pelatih telah berganti bagi Milan musim ini dan mereka telah menunjukkan effort terbaik mereka namun tetap saja Milan harus bersusah payah merangsek ke papan atas setelah sebelumnya sempat tipis berada di atas zona degradasi. Baik itu Max Allegri sebagai pelatih pertama yang membawa Milan hingga pertengahan musim, dengan kondisi yang sedikit hancur, atau Clarence Seedorf sebagai suksesornya yang coba mengembalikan jiwa permainan Milan sebagai tim besar, meskipun pada akhirnya hanya mampu mencapai papan tengah klasemen.

Dan kini pertanyaannya adalah apabila saya menjadi pelatih tim, apa yang akan saya bawa atau saya rubah, menyangkut taktik atau starting eleven Milan, tanpa menyinggung bursa transfer atau pembelian penjualan pemain, apakah saya sependapat dengan Allegri atau Seedorf, atau ada pilihan lain bagi saya menyangkut taktik atau komposisi pemain, mari kita bahas.

Seedorf terus terang membawa perubahan bagi Milan pasca hancur-hancuran ditangani Allegri. Seberapapun gagal nya Seedorf menurut jajaran manajemen Milan sehingga harus menerima pemecatan, harus diakui dengan jiwa yang besar bahwa legenda Milan dan Belanda itu sedikit demi sedikit telah memperbaiki sisi psikologis pemain Milan dan itu juga berimbas kepada gaya dan pola bermain. Memang waktu yang diberikan kepada Seedorf bisa dibilang singkat. Menurut saya apabila ingin menilai objektifitas kinerja Seedorf benar-benar bagus atau tidak, cobalah diberikan waktu 1 musim dari awal, dengan materi pemain yang sesuai dengan keinginannya. Tapi manajemen Milan punya pikiran berbeda dan sepakat untuk memberikan tongkat estafet kepelatihan pada legenda lain, Filippo Inzaghi.

Seedorf datang di pertengahan musim dengan tambahan pemain baru Milan seperti Keisuke Honda, Adil Rami serta Adel Taarabt. Ini menjadi amunisi yang lumayan karena Milan memang kekurangan pemain berkualitas masing-masing di barisan belakang dan tengah. Rami adalah bek tangguh berpostur besar asal Prancis yang cukup bagus bermain di central back, bila diduetkan dengan Philippe Mexes atau Cristian Zapata. Taarabt adalah pemain tengah yang memiliki skill jempolan layaknya orang Brasil yang berlari cepat dan menusuk lewat sayap. Sedangkan Honda adalah samurai Jepang yang bisa menjadi trequartista bermain di belakang 2 penyerang. Belum lagi ditambah kembalinya Kaka dari Real Madrid, meskipun masa keemasannya telah jauh berlalu, kembalinya mantan pujaan Milan tersebut cukup membuat fans menaruh keyakinan akan terulangnya kesuksesan Milan dahulu.

Dari starting eleven, sepertinya saya tak akan melakukan banyak perubahan. Christian Abbiati tetap pada posisi penjaga gawang, meskipun sebenarnya saya ingin banyak memberikan kesempatan kepada Gabriel. Di barisan pertahanan, Ignazio Abate dan Mattia De Sciglio tak akan tergoyahkan dari posisi dua bek sayap kanan dan kiri. Di tengah, duet Rami dan Mexes patut dikedepankan, dengan Zapata sebagai pelapis salah satunya. Barisan tengah masih dikomandoi Nigel De Jong sebagai defensive midfielder, dan ini yang sulit sebenarnya.. Dengan pilihan 2 gelandang kreatif yang masing-masing bisa dijadikan trequrtista pada diri Kaka dan Honda, agak gambling sepertinya untuk menaruh salah satu dari mereka diluar posisi yang biasa mereka mainkan, atau malah menjadi mubazir bila membangkucadangkan salah satunya. Mengingat Honda selama ini tidak berkembang bila ditaruh Seedorf di posisi kanan, maka menempatkan ia di habitat aslinya sebagai penyerang lubang mungkin menjadi pemecah kebuntuan selama ini.

Kaka and Keisuke Honda

Kaka and Keisuke Honda

Sekarang tinggal di posisi kiri-kanan. Oh ya, formasi yang saya gunakan adalah 4-2-3-1. Atau bisa berubah menjadi 4-3-1-2 apabila Stephan El Shaarawy pulih dari cedera. Kita anggap Il Faraone belum reguler bermain, jadi saya akan menempatkan Mario Balotelli sendirian di depan sebagai target man. Posisi kedua lini tengah di depan 4 bek sejajar bisa menjadi milik kapten Riccardo Montolivo atau, apabila saya ingin Milan tampil lebih bertenaga dan tidak mudah kehilangan bola di lini tengah, maka saya akan menggeser Monty melebar ke arah kanan, kemudian menempatkan Sulley Muntari sebagai pihak yang menemani De Jong di posisi gelandang bertahan. Namun sepertinya hal tersebut menjadi opsi kedua karena tim butuh gelandang kreatif pada diri Montolivo yang bisa memberikan umpan dari zona lebih jauh ke tengah.

Lalu dimana posisi Kaka? Gelandang elegan itu mau tak mau harus berada di 2 posisi tersisa yaitu kanan atau kiri di barisan tengah. Memang hal ini bukanlah posisi optimal pemain Brasil tersebut, namun saya pikir Kaka masih lebih bisa beradaptasi untuk digeser lebih ke pinggir dibanding Honda, untuk menyisir dari sisi lapangan dan memberikan umpan ke depan. Baik di posisi kanan atau kiri, Kaka dan Taarabt akan bahu membahu membantu penyerangan dari sisi lapangan.

Hal ini  sekali lagi, bisa berubah dengan kehadiran El Sha. Bila El Sha fit dan siap bermain, adalah suatu formasi ideal menempatkannya berduet dengan Super Mario, dan apabila hal ini menjadi pilihan pada format 4-3-1-2 maka penyerang lubang ideal ada pada diri Kaka. Trio Kaka – El Sha – Balo jika berada di form terbaiknya akan cukup menakutkan dan menebar ancaman bagi lawan. Ketika trisula depan telah ditentukan, maka trio lini tengah saya jatuhkan pilihan pada De Jong, Montolivo dan Taarabt atau Muntari.

Memang apabila diteliti lebih jauh, skuad Milan yang ada kini masih harus bekerja keras bila berhadapan dengan klub yang memiliki kedalaman skuad yang bagus macam Barcelona, Bayern Muenchen, Madrid ataupun Manchester City. Namun dengan komposisi pemain yang pas, dan dengan tambahan pemain yang tepat pada posisinya sebagai pelapis, maka Milan masih bisa bersaing, minimal di kompetisi lokal.

Dan hal itu sebenarnya tidak menjadi masalah, dalam hal ini saya sependapat dengan pola pikir Seedorf dibanding Allegri, dimana Seedorf telah memberanikan diri mencoba pemain-pemain muda macam Riccardo Saponara, Bryan Cristante ataupun memanggil kembali striker Andrea Petagna yang dipinjamkan ke Sampdoria. Seperti kita ketahui bersama bahwa Allegri agak anti dengan pemain muda, dan hal ini menurut saya bukan suatu pertanda bagus mengingat Milan saat ini harus lebih memperhatikan pembinaan pemain-pemain mudanya, dengan diantaranya memberikan kesempatan bermain yang lebih banyak. Milan mungkin masih harus kembali membangun era kejayaan dan dalam waktu 3-4 tahun ini agaknya harus melupakan peluang kembali berjaya di Eropa (mengingat kondisi keuangan saat ini, kecuali bila dan jor-joran disiapkan untuk membeli pemain bintang), dengan fokus membina dan mematangkan pemain muda yang diharapkan bersinar beberapa tahun ke depan.

Tagged , , ,

Day 9: If You Were the President of Your Fav Club, Name One Player You Would Buy and One Player You Would Sell

Thiago Emiliano da Silva

Thiago Emiliano da Silva

Klub favorit saya Milan, dan pertanyaannya sekarang adalah apabila saya menjadi Presiden Milan menggantikan Silvio Berlusconi, siapa yang akan saya beli dan siapa dari salah satu pemain Milan yang akan saya jual. Oke, pertanyaan yang pada dasarnya mudah tapi sulit apabila benar-benar dipikirkan untuk kebutuhan tim.

Pemain yang akan saya beli adalah Thiago Silva. Ini namanya pembelian kembali. Yup, bek asal Brasil ini telah membuat saya jatuh cinta sejak pertama kali didatangkan Milan dari Fluminense beberapa tahun silam. Ketika didatangkan, Milan saat itu benar-benar berharap banyak pada bek tengah yang kuat di udara dan jago dalam player marking ini. Silva menjadi salah satu harapan akan kebesaran Milan di barisan pertahanan, apalagi saat itu kompatriotnya masih seorang Alessandro Nesta, bek senior Italia yang bahkan disebut-sebut sebagai mentornya kala itu. Duet Nesta dan Silva sukses sepanjang musim menjaga gawang Milan dari serangan lawan dan turut mengantarkan Milan menjadi juara liga di musim pertamanya, dan Milan seperti mendapat ketenangan dengan kedatangan bek kelahiran 29 tahun silam tersebut.

Tak perlu lama bagi Milan untuk menaruh kepercayaan terhadap Silva dengan segala kapabilitasnya, hanya dengan menghabiskan 1 musim waktu “perkenalan”, ban kapten sudah dipercayakan untuk disematkan di lengan pemain Brasil tersebut. Ini menjadi sesuatu yang langka dan tak lazim di klub dengan tradisi sekuat Milan, dimana sebelumnya ban kapten hanya boleh dilingkarkan ke lengan pemain yang memang senior dan lama berkiprah di klub merah hitam tersebut. Ada hierarki atau struktur berdasarkan senioritas yang kuat. Namun Silva berhasil mendobrak budaya tersebut dengan kemampuannya mengomandoi lini belakang Rossoneri. Hal ini mungkin yang menginspirasi manajemen Milan hingga kini dimana pemilihan kapten lebih didasarkan pada kemampuan si pemain, bukan dari hierarki seberapa lama pemain tersebut membela Milan, seperti halnya Riccardo Montolivo yang juga telah menjadi memegang ban kapten di musim keduanya.

Ironisnya, belum sempat Silva memimpin Milan sepenuhnya untuk mengarungi musim baru sebagai kapten, sulitnya kondisi keuangan membuat Milan tak punya pilihan lain untuk menjualnya demi mendapat dana segar yang bisa digunakan mengembalikan keseimbangan neraca keuangan klub. Saat itu, Silva dijual bersama dengan striker yang juga berjasa membawa Milan ke puncak prestasi, Zlatan Ibrahimovic. Silva dan Ibra menjadi 1 paket pemain bintang Milan yang harus dilepas karena nilai jual mereka tinggi, dan peminatnya kala itu siapa lagi kalau bukan klub yang sedang membangun tim dengan dukungan dana melimpah macam Paris Saint-Germain (PSG).

Akhirnya kini, Silva dan Ibra menjadi pemain andalan PSG. Silva pun memenuhi takdirnya sebagai pemimpin klub yang ia bela dengan menjadi kapten. Tak hanya di tingkat klub, di tim nasional Brasil pun Silva berdiri di depan rekan-rekannya saat memasuki lapangan untuk berjuang merebut gelar juara dunia di Tanah Air mereka sendiri.

Dan kenapa saya sebagai Presiden klub ingin memboyong Silva kembali? Pertama, ia masih terikat secara emosional dengan Milan. Silva masih mengamati perkembangan Milan dan beberapa kali menyatakan dukungannya kepada Milan di sosmed, atau dari statement yang dikeluarkannya. Hal ini menandakan betapa Silva tak melupakan klub yang melejitkan namanya di Eropa dan membawanya hingga menempati posisi saat ini.

Kedua, Silva sudah berumur 29 tahun, yang menjadi patokan dari seorang pemain sepakbola yang berada di usia emasnya. It’s now or never, jika masih ingin mendapatkan servis optimal dari seorang Thiago Silva, waktu-waktu inilah saatnya. Ketiga, Milan membutuhkan minimal seorang bek kelas dunia, dan Silva adalah salah satu pemain yang tepat di posisi itu. Bek-bek yang kini menghuni barisan belakang Milan bukanlah world class defender, tanpa mengecilkan arti Philippe Mexes, Cristian Zapata atau Adil Rami dan kawan-kawan. Mereka semua bagus, tapi bukan seorang pemain bertahan yang memiliki kualitas level dunia. Dan yang paling terakhir alasannya, Thiago Silva adalah bek terbaik di dunia saat ini. Itu adalah konklusi betapa ingin saya membawa kembali Silva ke Milan.

Philippe Mexès

Philippe Mexès

Di satu sisi, bila berbicara siapa pemain yang akan saya jual.. Hmm, ini agak sulit karena sesungguhnya banyak pemain Milan yang pantas masuk dalam daftar jual. Alasannya bermacam-macam, mulai dari gaji tinggi yang malah akan membawa kerugian secara finansial bagi klub, kualitas permainan yang menurun, cedera yang berkepanjangan hingga mereka yang berada pada masa akhir kontrak dan tidak ada keinginan klub untuk memperpanjang. Untuk menghindari free transfer yang malah klub tidak mendapat pemasukan dari penjualan pemain, si pemain harus secepatnya dijual. Dari sekian alasan dan nama-nama yang ada, saya memilih untuk menjual Philippe Mexes.

Mexes sebenarnya bek bagus dan salah satu pemain yang saya idam-idamkan bila bergabung dengan Milan, dulu semasa masih berkostum AS Roma. Postur tubuh yang tinggi dan kuat berduel di udara membuat barisan belakang Milan sepertinya akan aman bila pemain Prancis itu bergabung di San Siro. Mexes pun termasuk pemain belakang yang “gagah” dan garang bila berada di atas lapangan. Meskipun termasuk pemain emosional, namun Mexes juga salah satu yang bisa diandalkan.

Namun melihat kiprahnya akhir-akhir ini, dan terkadang ia kerap melakukan blunder yang sering merugikan klub, tampaknya menjualnya ke klub lain adalah pilihan terbaik, apalagi bila Milan versi saya berhasil kembali mendatangkan Silva, maka sungguh bukan suatu kerugian bila Mexes dilepas untuk memberikan jalan kepada Silva. Disamping itu, gaji Mexes yang tinggi juga menjadi salah satu alasan kenapa sebaiknya klub melepasnya. Di saat kondisi finansial Milan yang kembang kempis seperti sekarang dan perlu adanya pengetatan keuangan dengan bijak, melepas pemain bergaji tinggi namun minim kontribusi, atau perannya masih bisa ditutupi oleh pemain lain, adalah suatu pilihan yang tepat demi kebaikan tim. Adios, Philippe!

Tagged , , , , ,

Day 6: Football Moment has Made You the Saddest.

Gerrard's first goal

Gerrard’s first goal

Setelah sebelumnya saya bercerita tentang momen sepakbola apa yang membuat saya bahagia, kini saya akan bercerita sebaliknya, yaitu momen sepakbola apa yang membuat saya bersedih. Atau lebih tepatnya bersedih sekali pake banget. Dan kalo dipikir-pikir lagi lebih dalam, inilah jawabannya, sesuatu yang dinamakan “Tragedi Istanbul 2005.”

Istanbul adalah sebuah kota di Turki yang ketika itu dijadikan tempat perhelatan Final Liga Champion Eropa tahun 2005. Stadion Ataturk. Kala itu, Milan yang telah menjuarai Liga Champions 2 tahun silam (2003) berkesempatan kembali untuk merebut gelar juara dari tangan FC Porto yang memenangi kejuaraan setahun sebelumnya. Milan sempat ga jadi mentas di final karena di semifinal harus bersusah payah menghentikan langkah PSV Eindhoven (Belanda), kalau saja ga ada gol dari Massimo Ambrosini di menit-menit akhir laga. Begitulah, singkatnya Milan melaju ke final unuk melawan wakil Liga Inggris dalam diri Si Merah Liverpool.

Dan final yang digelar dini hari waktu Indonesia itu masih tersimpan jelas di memori saya. Ketika itu final Liga Champions masih digelar pas weekdays, bukan weekend seperti sekarang ini. Dan saya lagi itu masih kuliah, kuliah pagi malah. Dan kuliah pagi tidak menjadi halangan bagi saya untuk mendukung Milan, dan seperti biasa, saya ga tidur.

Milan kala itu masih diisi pemain berkualitas macam kuartet lini tengah Andrea Pirlo, Clarence Seedorf, Gennaro Gattuso dan Ambrosini. Belum lagi Kaka yang masih muda belia masih cepet banget larinya, dan lini depan dihuni Andriy Shevchenko, pahlawan Milan di 2003 dan tandemnya Hernan Crespo yang dipinjam dari Chelsea. Pippo Inzaghi saya lupa lagi itu kenapa ga main ya, mungkin cedera. Barisan belakang jangan ditanya, duo Paolo Maldini dan Alessandro Nesta masih kokoh berdiri, ditambah Jaap Stam, lengkap lah Milan saat itu.

Di menit-menit awal, histeria pecah ketika Maldini menjebol gawang Jerzy Dudek. Itu adalah salah satu gol tercepat Liga Champions, dan saya bersuka cita kaget sekali waktu itu, ga nyangka Milan bakal unggul sedemikian cepatnya. Sisa waktu pasca gol Maldini, Milan menguasai permainan dan alhasil terjadilah 2 gol susulan dari kubu Setan Merah yang selalu memakai jersey warna putih di setiap partai final kejuaraan. Dua gol lanjutan datang dari Crespo. Gol kedua malah dibuat cantik, umpan panjang Kaka dari sisi tengah menyusur lapangan untuk kemudian menemukan Crespo yang berlari dan dengan first touch, men-chop bola melewati Dudek. Babak pertama berakhir dengan skor tak terduga, 3-0 untuk Milan.

Belum pernah ada jeda istirahat seindah waktu itu. Komentator yang biasanya mengeluarkan komen-komen sotoy bagai indah saja di telinga. Saya tak perduli mereka bicara apa, kenyataannya Milan unggul jauh dan sisa waktu tinggal 45 menit saja. Itu berarti makin dekat dengan titel ke-7. Permainan Milan dipuji luar biasa bagusnya di babak pertama itu.

Babak kedua pun dimulai, dan saya nonton agak santai. Eh ndilalah kok tiba-tiba Pool mencuri gol lewat tandukan Gerrard. Oh gapapa deh. Satu gol gapapa lah sebagai hiburan, pikir saya. Tapi belum selesai mikir, 2 menit kemudian Pool ngegolin lagi, kali ini lewat tendangan jarak jauh Vladimir Smicer.

Ini ga masuk akal. Dua gol hanya dalam waktu 2 menit benar-benar bikin shock pemain Milan yang bertarung di atas lapangan, juga para fans. Skor kini tinggal selisih 1 gol dan gol-gol balasan tersebut memang menjadi senjata ampuh meruntuhkan mental Milan. Akhirnya ya bisa diduga, dan semua ketakutan pun menjadi kenyataan. Lahir lah gol penyama kedudukan 4 menit kemudian lewat Xabi Alonso. Kalo ga salah sebelumnya penalti terjadi, dan bola sempat diblok Dida tapi Alonso bisa mengkonversi menjadi gol.

Sheva missed the penalty

Sheva missed the penalty

Unbelievable. 3-3 hanya dalam waktu 6 menit. Dan mental Milan benar-benar jatuh. Yang ada malah momentum berbalik ke Pool dan suporternya. Liverpudlian yang hadir di Stadion Ataturk malam itu berhasil membuat nuansa stadion menjadi Anfield. Milan makin tenggelam dengan jadi groginya permainan dan keterkejutan melihat fakta bahwa lawan bisa menyamakan keunggulan 3 gol. Pool makin semangat. Hal ini kelihatan dari peluang-peluang Milan yang mentah padahal sudah 90% persentase golnya. Yang paling jelas usaha dari Shevchenko yang berhasil diblok Dudek 2 kali di depan gawang!

Sial? Sepertinya begitu.

Hingga pertandingan harus dilanjutkan di babak adu penalti, karena skor sama kuat hingga 90 menit plus perpanjangan waktu. Dan parahnya, adu penalti pun pendulum masih bergerak ke arah Pool. Mereka unggul mental sehingga 3 dari 4 penendang bisa menjebol gawang Dida. Milan? Algojo-algojo yang menjadi langganan penalti macam Serginho dan Pirlo gagal. Puncaknya ada pada tendangan terakhir.

Shevchenko, yang sepakannya 2 tahun lalu menjadi momen kemenangan Milan atas Juventus di 2003, kembali diturunkan sebagai penendang penutup. Namun dewi fortuna memang tidak berada di sisi Sheva. Tendangan lurusnya berhasil dibaca Dudek, dan meninggalkan luka mendalam karena malam itu Sheva otomatis berpredikat “from hero to zero.” Dari pahlawan menjadi pecundang. Dari penentu kemenangan menjadi biang kekalahan. Sakit.

Itulah sepakbola dan segala keajaibannya. Malam itu menjadi malam yang penuh pelajaran berharga bagi dunia sepakbola. Ada 2 pelajaran yang bisa dipetik, dari sisi kemenangan dan kekalahan. Pertama, jangan jumawa dengan keunggulan berapapun, hingga wasit meniup peluit panjang, anda belum menjadi pemenang. Kedua, jangan pernah menyerah akan ketertinggalan karena berapapun anda tertinggal, anda masih punya peluang mengejar, tentunya sebelum pertandingan berakhir.

Impossible is nothing bagi Liverpool, worst nightmare bagi Milan.

Dan setelahnya, adalah hari yang tidak bisa dipercaya bagi saya khususnya, dan Milanisti pada umumnya. Saya berjalan gontai melewati hari, dan lemas sepanjang kuliah di kampus. Apalagi menahan kantuk yang sangat. Ketika itu saya bersumpah, tidak akan membaca berita sepakbola di tabloid atau koran manapun, dan tidak bernafsu menonton seluruh berita olahraga di televisi hingga seminggu ke depan, haha.

Tagged , , , , ,