Tag Archives: mexes

Day 9: If You Were the President of Your Fav Club, Name One Player You Would Buy and One Player You Would Sell

Thiago Emiliano da Silva

Thiago Emiliano da Silva

Klub favorit saya Milan, dan pertanyaannya sekarang adalah apabila saya menjadi Presiden Milan menggantikan Silvio Berlusconi, siapa yang akan saya beli dan siapa dari salah satu pemain Milan yang akan saya jual. Oke, pertanyaan yang pada dasarnya mudah tapi sulit apabila benar-benar dipikirkan untuk kebutuhan tim.

Pemain yang akan saya beli adalah Thiago Silva. Ini namanya pembelian kembali. Yup, bek asal Brasil ini telah membuat saya jatuh cinta sejak pertama kali didatangkan Milan dari Fluminense beberapa tahun silam. Ketika didatangkan, Milan saat itu benar-benar berharap banyak pada bek tengah yang kuat di udara dan jago dalam player marking ini. Silva menjadi salah satu harapan akan kebesaran Milan di barisan pertahanan, apalagi saat itu kompatriotnya masih seorang Alessandro Nesta, bek senior Italia yang bahkan disebut-sebut sebagai mentornya kala itu. Duet Nesta dan Silva sukses sepanjang musim menjaga gawang Milan dari serangan lawan dan turut mengantarkan Milan menjadi juara liga di musim pertamanya, dan Milan seperti mendapat ketenangan dengan kedatangan bek kelahiran 29 tahun silam tersebut.

Tak perlu lama bagi Milan untuk menaruh kepercayaan terhadap Silva dengan segala kapabilitasnya, hanya dengan menghabiskan 1 musim waktu “perkenalan”, ban kapten sudah dipercayakan untuk disematkan di lengan pemain Brasil tersebut. Ini menjadi sesuatu yang langka dan tak lazim di klub dengan tradisi sekuat Milan, dimana sebelumnya ban kapten hanya boleh dilingkarkan ke lengan pemain yang memang senior dan lama berkiprah di klub merah hitam tersebut. Ada hierarki atau struktur berdasarkan senioritas yang kuat. Namun Silva berhasil mendobrak budaya tersebut dengan kemampuannya mengomandoi lini belakang Rossoneri. Hal ini mungkin yang menginspirasi manajemen Milan hingga kini dimana pemilihan kapten lebih didasarkan pada kemampuan si pemain, bukan dari hierarki seberapa lama pemain tersebut membela Milan, seperti halnya Riccardo Montolivo yang juga telah menjadi memegang ban kapten di musim keduanya.

Ironisnya, belum sempat Silva memimpin Milan sepenuhnya untuk mengarungi musim baru sebagai kapten, sulitnya kondisi keuangan membuat Milan tak punya pilihan lain untuk menjualnya demi mendapat dana segar yang bisa digunakan mengembalikan keseimbangan neraca keuangan klub. Saat itu, Silva dijual bersama dengan striker yang juga berjasa membawa Milan ke puncak prestasi, Zlatan Ibrahimovic. Silva dan Ibra menjadi 1 paket pemain bintang Milan yang harus dilepas karena nilai jual mereka tinggi, dan peminatnya kala itu siapa lagi kalau bukan klub yang sedang membangun tim dengan dukungan dana melimpah macam Paris Saint-Germain (PSG).

Akhirnya kini, Silva dan Ibra menjadi pemain andalan PSG. Silva pun memenuhi takdirnya sebagai pemimpin klub yang ia bela dengan menjadi kapten. Tak hanya di tingkat klub, di tim nasional Brasil pun Silva berdiri di depan rekan-rekannya saat memasuki lapangan untuk berjuang merebut gelar juara dunia di Tanah Air mereka sendiri.

Dan kenapa saya sebagai Presiden klub ingin memboyong Silva kembali? Pertama, ia masih terikat secara emosional dengan Milan. Silva masih mengamati perkembangan Milan dan beberapa kali menyatakan dukungannya kepada Milan di sosmed, atau dari statement yang dikeluarkannya. Hal ini menandakan betapa Silva tak melupakan klub yang melejitkan namanya di Eropa dan membawanya hingga menempati posisi saat ini.

Kedua, Silva sudah berumur 29 tahun, yang menjadi patokan dari seorang pemain sepakbola yang berada di usia emasnya. It’s now or never, jika masih ingin mendapatkan servis optimal dari seorang Thiago Silva, waktu-waktu inilah saatnya. Ketiga, Milan membutuhkan minimal seorang bek kelas dunia, dan Silva adalah salah satu pemain yang tepat di posisi itu. Bek-bek yang kini menghuni barisan belakang Milan bukanlah world class defender, tanpa mengecilkan arti Philippe Mexes, Cristian Zapata atau Adil Rami dan kawan-kawan. Mereka semua bagus, tapi bukan seorang pemain bertahan yang memiliki kualitas level dunia. Dan yang paling terakhir alasannya, Thiago Silva adalah bek terbaik di dunia saat ini. Itu adalah konklusi betapa ingin saya membawa kembali Silva ke Milan.

Philippe Mexès

Philippe Mexès

Di satu sisi, bila berbicara siapa pemain yang akan saya jual.. Hmm, ini agak sulit karena sesungguhnya banyak pemain Milan yang pantas masuk dalam daftar jual. Alasannya bermacam-macam, mulai dari gaji tinggi yang malah akan membawa kerugian secara finansial bagi klub, kualitas permainan yang menurun, cedera yang berkepanjangan hingga mereka yang berada pada masa akhir kontrak dan tidak ada keinginan klub untuk memperpanjang. Untuk menghindari free transfer yang malah klub tidak mendapat pemasukan dari penjualan pemain, si pemain harus secepatnya dijual. Dari sekian alasan dan nama-nama yang ada, saya memilih untuk menjual Philippe Mexes.

Mexes sebenarnya bek bagus dan salah satu pemain yang saya idam-idamkan bila bergabung dengan Milan, dulu semasa masih berkostum AS Roma. Postur tubuh yang tinggi dan kuat berduel di udara membuat barisan belakang Milan sepertinya akan aman bila pemain Prancis itu bergabung di San Siro. Mexes pun termasuk pemain belakang yang “gagah” dan garang bila berada di atas lapangan. Meskipun termasuk pemain emosional, namun Mexes juga salah satu yang bisa diandalkan.

Namun melihat kiprahnya akhir-akhir ini, dan terkadang ia kerap melakukan blunder yang sering merugikan klub, tampaknya menjualnya ke klub lain adalah pilihan terbaik, apalagi bila Milan versi saya berhasil kembali mendatangkan Silva, maka sungguh bukan suatu kerugian bila Mexes dilepas untuk memberikan jalan kepada Silva. Disamping itu, gaji Mexes yang tinggi juga menjadi salah satu alasan kenapa sebaiknya klub melepasnya. Di saat kondisi finansial Milan yang kembang kempis seperti sekarang dan perlu adanya pengetatan keuangan dengan bijak, melepas pemain bergaji tinggi namun minim kontribusi, atau perannya masih bisa ditutupi oleh pemain lain, adalah suatu pilihan yang tepat demi kebaikan tim. Adios, Philippe!

Advertisements
Tagged , , , , ,