Tag Archives: liverpool

Day 6: Football Moment has Made You the Saddest.

Gerrard's first goal

Gerrard’s first goal

Setelah sebelumnya saya bercerita tentang momen sepakbola apa yang membuat saya bahagia, kini saya akan bercerita sebaliknya, yaitu momen sepakbola apa yang membuat saya bersedih. Atau lebih tepatnya bersedih sekali pake banget. Dan kalo dipikir-pikir lagi lebih dalam, inilah jawabannya, sesuatu yang dinamakan “Tragedi Istanbul 2005.”

Istanbul adalah sebuah kota di Turki yang ketika itu dijadikan tempat perhelatan Final Liga Champion Eropa tahun 2005. Stadion Ataturk. Kala itu, Milan yang telah menjuarai Liga Champions 2 tahun silam (2003) berkesempatan kembali untuk merebut gelar juara dari tangan FC Porto yang memenangi kejuaraan setahun sebelumnya. Milan sempat ga jadi mentas di final karena di semifinal harus bersusah payah menghentikan langkah PSV Eindhoven (Belanda), kalau saja ga ada gol dari Massimo Ambrosini di menit-menit akhir laga. Begitulah, singkatnya Milan melaju ke final unuk melawan wakil Liga Inggris dalam diri Si Merah Liverpool.

Dan final yang digelar dini hari waktu Indonesia itu masih tersimpan jelas di memori saya. Ketika itu final Liga Champions masih digelar pas weekdays, bukan weekend seperti sekarang ini. Dan saya lagi itu masih kuliah, kuliah pagi malah. Dan kuliah pagi tidak menjadi halangan bagi saya untuk mendukung Milan, dan seperti biasa, saya ga tidur.

Milan kala itu masih diisi pemain berkualitas macam kuartet lini tengah Andrea Pirlo, Clarence Seedorf, Gennaro Gattuso dan Ambrosini. Belum lagi Kaka yang masih muda belia masih cepet banget larinya, dan lini depan dihuni Andriy Shevchenko, pahlawan Milan di 2003 dan tandemnya Hernan Crespo yang dipinjam dari Chelsea. Pippo Inzaghi saya lupa lagi itu kenapa ga main ya, mungkin cedera. Barisan belakang jangan ditanya, duo Paolo Maldini dan Alessandro Nesta masih kokoh berdiri, ditambah Jaap Stam, lengkap lah Milan saat itu.

Di menit-menit awal, histeria pecah ketika Maldini menjebol gawang Jerzy Dudek. Itu adalah salah satu gol tercepat Liga Champions, dan saya bersuka cita kaget sekali waktu itu, ga nyangka Milan bakal unggul sedemikian cepatnya. Sisa waktu pasca gol Maldini, Milan menguasai permainan dan alhasil terjadilah 2 gol susulan dari kubu Setan Merah yang selalu memakai jersey warna putih di setiap partai final kejuaraan. Dua gol lanjutan datang dari Crespo. Gol kedua malah dibuat cantik, umpan panjang Kaka dari sisi tengah menyusur lapangan untuk kemudian menemukan Crespo yang berlari dan dengan first touch, men-chop bola melewati Dudek. Babak pertama berakhir dengan skor tak terduga, 3-0 untuk Milan.

Belum pernah ada jeda istirahat seindah waktu itu. Komentator yang biasanya mengeluarkan komen-komen sotoy bagai indah saja di telinga. Saya tak perduli mereka bicara apa, kenyataannya Milan unggul jauh dan sisa waktu tinggal 45 menit saja. Itu berarti makin dekat dengan titel ke-7. Permainan Milan dipuji luar biasa bagusnya di babak pertama itu.

Babak kedua pun dimulai, dan saya nonton agak santai. Eh ndilalah kok tiba-tiba Pool mencuri gol lewat tandukan Gerrard. Oh gapapa deh. Satu gol gapapa lah sebagai hiburan, pikir saya. Tapi belum selesai mikir, 2 menit kemudian Pool ngegolin lagi, kali ini lewat tendangan jarak jauh Vladimir Smicer.

Ini ga masuk akal. Dua gol hanya dalam waktu 2 menit benar-benar bikin shock pemain Milan yang bertarung di atas lapangan, juga para fans. Skor kini tinggal selisih 1 gol dan gol-gol balasan tersebut memang menjadi senjata ampuh meruntuhkan mental Milan. Akhirnya ya bisa diduga, dan semua ketakutan pun menjadi kenyataan. Lahir lah gol penyama kedudukan 4 menit kemudian lewat Xabi Alonso. Kalo ga salah sebelumnya penalti terjadi, dan bola sempat diblok Dida tapi Alonso bisa mengkonversi menjadi gol.

Sheva missed the penalty

Sheva missed the penalty

Unbelievable. 3-3 hanya dalam waktu 6 menit. Dan mental Milan benar-benar jatuh. Yang ada malah momentum berbalik ke Pool dan suporternya. Liverpudlian yang hadir di Stadion Ataturk malam itu berhasil membuat nuansa stadion menjadi Anfield. Milan makin tenggelam dengan jadi groginya permainan dan keterkejutan melihat fakta bahwa lawan bisa menyamakan keunggulan 3 gol. Pool makin semangat. Hal ini kelihatan dari peluang-peluang Milan yang mentah padahal sudah 90% persentase golnya. Yang paling jelas usaha dari Shevchenko yang berhasil diblok Dudek 2 kali di depan gawang!

Sial? Sepertinya begitu.

Hingga pertandingan harus dilanjutkan di babak adu penalti, karena skor sama kuat hingga 90 menit plus perpanjangan waktu. Dan parahnya, adu penalti pun pendulum masih bergerak ke arah Pool. Mereka unggul mental sehingga 3 dari 4 penendang bisa menjebol gawang Dida. Milan? Algojo-algojo yang menjadi langganan penalti macam Serginho dan Pirlo gagal. Puncaknya ada pada tendangan terakhir.

Shevchenko, yang sepakannya 2 tahun lalu menjadi momen kemenangan Milan atas Juventus di 2003, kembali diturunkan sebagai penendang penutup. Namun dewi fortuna memang tidak berada di sisi Sheva. Tendangan lurusnya berhasil dibaca Dudek, dan meninggalkan luka mendalam karena malam itu Sheva otomatis berpredikat “from hero to zero.” Dari pahlawan menjadi pecundang. Dari penentu kemenangan menjadi biang kekalahan. Sakit.

Itulah sepakbola dan segala keajaibannya. Malam itu menjadi malam yang penuh pelajaran berharga bagi dunia sepakbola. Ada 2 pelajaran yang bisa dipetik, dari sisi kemenangan dan kekalahan. Pertama, jangan jumawa dengan keunggulan berapapun, hingga wasit meniup peluit panjang, anda belum menjadi pemenang. Kedua, jangan pernah menyerah akan ketertinggalan karena berapapun anda tertinggal, anda masih punya peluang mengejar, tentunya sebelum pertandingan berakhir.

Impossible is nothing bagi Liverpool, worst nightmare bagi Milan.

Dan setelahnya, adalah hari yang tidak bisa dipercaya bagi saya khususnya, dan Milanisti pada umumnya. Saya berjalan gontai melewati hari, dan lemas sepanjang kuliah di kampus. Apalagi menahan kantuk yang sangat. Ketika itu saya bersumpah, tidak akan membaca berita sepakbola di tabloid atau koran manapun, dan tidak bernafsu menonton seluruh berita olahraga di televisi hingga seminggu ke depan, haha.

Advertisements
Tagged , , , , ,