Tag Archives: KI kelasinspirasi KIbekasi

Let’s Get Inspired! (Catatan mengenai Kelas Inspirasi Bekasi)

IMG_0943

Udah pantes jadi guru belum? Hehe.

Tulisan ini bakalan panjang lho. Hehe.

Baiklah, kini saya mau menyampaikan sesuatu tentang.. Hmm, Kelas Inspirasi! Oke, ini sudah basi, karena Kelas Inspirasi yang saya ikuti di Bekasi sudah dilaksanakan tanggal 11 September kemarin. Dan, saya baru bisa menulis sekarang, hehe. Oke tak apa. Mari kita mulai.

Kelas Inspirasi (KI) adalah salah satu “cabang” dari program Indonesia Mengajar (IM) yang diprakarsai Anies Baswedan. IM adalah suatu program dimana para pengajar yang ikut serta, dikirim ke pedalaman untuk mengajar selama kurang lebih 1 tahun lamanya, dan digaji juga. Nah, bagi mereka yang berjiwa pengajar dan bertujuan mengajar demi kemajuan dunia pendidikan, program ini layak diikuti. Namun, bagaimana dengan orang-orang yang (juga) memiliki jiwa pengajar, namun berat untuk sampai meninggalkan keluarga, kantor jika harus pergi selama 1 tahun? Atau mereka yang memiliki jiwa pengajar namun tidak sanggup untuk hidup di pedalaman, karena tidak ada mall, bioskop dan tempat hiburan lain (halah ini mah kayaknya salah satu alasan gue).

Oke, mereka bisa mengikuti yang namanya Kelas Inspirasi.

KI adalah salah satu sarana bagi kita-kita, para profesional, untuk menularkan ilmu kita, atau apa yang kita kerjakan sehari-hari, atau profesi kita, atau pekerjaan kita, kepada anak-anak Sekolah Dasar, dengan segmentasi SD menengah ke bawah, dengan tujuan agar mereka para tunas-tunas bangsa dapat termotivasi dan terinspirasi akan pekerjaan kita. Dan mungkin suatu saat, mereka akan mengikuti jejak kita dan menjadi penerus kita.

Mulia sekali bukan? Hehe.

Seperti kita ketahui bersama bahwa anak-anak SD (kayak dulu kita jaman SD aja), sepertinya minim akan suatu gambaran profesi atau pekerjaan, atau kata lainnya: CITA-CITA. Kita dan teman-teman pasti dulu pas ditanya guru di depan kelas mau jadi apa nanti gedenya? Pasti jawabannya sudah bisa ketebak. Kalo ga DOKTER, paling INSINYUR.

Dokter mungkin terinspirasi dari salah satu lagu anak jaman dulu, Susan & Ria Enes kalo saya ga salah, yang bilang “Susan kalo udah gede mau jadi dokter biar bisa nyuntik orang lewat, jus.. jus.. jus..!”, begitulah kalo saya ga lupa liriknya, hehe. Atau karena dokter identik dengan suatu pencapaian cita-cita tertinggi, pencapaian suatu maksimalisasi materi dan kekayaan? *terVicky*

Kalo Insinyur, sepertinya 80% terinspirasi dari Si Doel Anak Sekolahan.

Kericuhan di kelas.

Kericuhan di kelas.

Hanya satu-dua anak yang berani mendobrak paradigma cita-cita jaman SD dengan profesi lain seperti ABRI (oke, ketahuan deh gue hidup di jaman apa), atau sekarang TNI kali ya (karena kebanyakan nonton film perang yang jagoannya menang terus), pelukis (dulu terkenal pas Basuki Abdullah baru meninggal), atau bahkan pemain sepakbola. Kalo pemain bola, sepertinya cita-cita yang everlasting, khususnya bagi anak cowok.

Pernah ga kalian membayangkan kalo anak-anak SD pas ditanya cita-cita, mereka akan menjawab:

“Mau jadi presideeeennn..”, “Mau jadi fotograferrrr…”, “Mau jadi pegawai telekomunikasiiii…”, atau “Mau jadi Travellleeeeerrrr..”, akan lebih seru kan kedengarannya, hehe. Dan gambaran seperti itulah yang akan kita coba berikan kepada mereka kemarin. *hasek*

Singkat cerita, saya mendaftar pengajar KI dari website, isi biodata, dan voila.. Lolos seleksi. Kemudian saya ditempatkan di Kelompok 2 dan disediakan kawah candradimuka nya, yaitu SD Negeri Margahayu XII, Bekasi Timur.

Saya dan teman-teman (ada 4 pengajar dan 1 fotografer), diberikan waktu selama 1 hari penuh untuk mengajar di kelas 1 sampai 6, mengenai apa yang kita kerjakan sehari-hari.

Dan inilah wajah-wajah kami:

The team.

The team.

  1. Wulan Busono. Wanita mungil nan luar biasa pendidikannya ini berprofesi sebagai dosen lulusan Teknik Sipil. Ia akan menginspirasi anak-anak agar mampu membuat konstruksi bangunan dan membuat gedung-gedung tinggi dan jembatan-jembatan besar mampu berdiri kokoh.
  2. Alvan Alvian. Pria berkacamata ini bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi terkemuka. Cerdasnya, ia akan membawa anak-anak melalui kemajuan teknologi dengan melakukan teleconference via Skype dengan teman-teman di luar negeri.
  3. Alexander Arie. Cowok penggemar (musuh saya) Inter ini adalah eks pengajar di KI sebelumnya. Ia adalah seorang apoteker, blogger, dan juga fotografer plus penulis buku lho. Bukunya bisa dilihat disini (iklan gratis nih Ri, traktir yak, haha). Di KI kali ini ia membawa kamera nya dan berbaik hati ngejeprat jepret kita semua seharian penuh. Hasil fotonya bisa dilihat di tulisan ini (karena saya memang ambil dari foto-foto dia, hehe).
  4. Petra Sinambela. Ia adalah seorang pegawai swasta yang akan menginspirasi anak-anak melalui hobinya, yaitu travelling. Petra akan mengajak anak-anak berkeliling dunia lewat merchandise, foto-foto dan pengalaman yang indah luar biasa.
  5. Terakhir, Bimo. Siapakah Bimo? Ya begitu deeehh.. Haha. Saya akan mencoba mengenalkan anak-anak mengenai sistem Pemilihan Umum dan demokrasi di Indonesia, lewat mekanisme pemilihan ketua kelas. Dan juga akan mencoba mengetahui seberapa kenal mereka dengan presiden nya, hehe.

Jadi.. Kelas dimulai. Kami semua mendapat giliran mengajar selama 30 menit. Dan pertama kali, saya mendapat giliran kelas 1 dan 2. Oke, setelah saya melihat wajah-wajah mereka anak-anak kelas 1 SD, kesan pertama: mereka lucu-lucu! Mereka (sepertinya) penurut dan kalem. Saya akan perform setelah Alvan yang menyajikan pengalaman ber-Skype ria. Oalah, tak sabar rasanya untuk bercerita di depan mereka. Wajah mereka manis-manis lho.

Selain Alvan, Mba Wulan sama Petra juga ngajar di kelas sebelah. Tinggallah saya berdiri mondar mandir di depan kelas sambil deg-degan nunggu giliran. Persis dulu waktu SD saya mondar mandir karena nahan boker.

Dan eng ing eng, tibalah giliran saya untuk menginspirasi (pret) mereka, langsung saya masuk dengan tampang sumringah.. Dan inilah opening conversation saya dengan murid-murid nan lutju itu:

“Ya anak-anak.. Tadi udah belajar nelpon ya sama kak Alvan.. Sekarang kalian belajar sama Kak Bimo yaa.. Kita main games yaa..”

“Iya kaaakkk…”

“Tapi kakak mau tanya dulu.. Sekarang siapa yang mau ke belakang? Mau pipis? Ke belakang dulu sekarang yaa.. Biar nanti ga bolak balik keluar kelas lagii..”

Satu anak menunjuk.

“Iya kamu”

Satu lagi menunjuk.

“Iya kamu juga”

Dua, tiga, empat orang menunjuk.

Oke saya bingung.

“Saya kaaakk mau ke belakaanng…”

Dan semua murid keluar.

(…..)

Mari menggambar.

Mari menggambar.

TIDAAAK..!! Salah strategi saya, haha. Namanya juga bocah, sekali keluar ya semua ikut-ikutan keluar. Yang ada sekarang ibu guru beneran yang tadinya istirahat di ruang kepala sekolah, sibuk ngangon anak-anak kelas 1-2 itu berhamburan di luar kelas. Ada yang ke kantin, lari-lari, ada yang benar-benar pipis (kalo yang ini jujur), dan ada juga yang masuk masuk WC tapi cuma masuk trus keluar lagi, haha rusuh.

Alhamdulillah-nya, entah bagaimana caranya, mereka semua bisa masuk kelas lagi. Pfiiuuuhhh.

Kemudian saya memulai pelajaran. Oh ya, fyi, saya memberikan pelajaran mengenai Tata Negara. *berat yee*

Saya akan bertanya, sejauh mana mereka mengenal sosok seorang presiden. Dan bagaimana presiden itu bisa terpilih. Saya sudah menyiapkan beberapa properti: gambar-gambar presiden mulai dari Soekarno hingga SBY. Dan sebagai perbandingan, saya buat pula gambar-gambar artis seperti Iqbal Coboy Junior (saya tau Iqbal ini begitu terkenal dari ponakan saya), Tukul, Sule, Cherrybelle (saya ga tau siapa gambar personilnya yang saya comot dari Google, tapi kata anak-anak itu namanya Angel), dan gambar Jokowi.

Lalu, saya menyiapkan pula kotak suara mini yang saya bikin dari kardus roti. Saya akan bikin simulasi pemilihan ketua kelas. Terdengar menarik, bukan? Hehe.

Oke, beberapa kesimpulan saya untuk anak kelas 1 dan 2 adalah:

  1. Mereka masih belum mengerti. Jadi, sebisa mungkin sampaikan apa yang bisa mereka pahami. Jangan pake kata-kata susah seperti: demokrasi, pemilu, jurdil, luber, konstitusi, atau bahkan sengketa pilkada yang menyebabkan ketua Mahkamah Konstitusi tertangkap tangan KPK (halah). Jadi gunakan kata sesimpel mungkin.
  2. Mereka liar. Mohon dipahami kata “liar” dari perspektif positif ya. Liar disini maksudnya susah dikendalikan. Coba apa yang bisa kalian perbuat ketika kalian sedang bercerita (dengan harapan semua anak-anak memperhatikan), tapi hanya beberapa anak yang dengerin. Sisanya.. main sendiri! Ada yang guling-gulingan di lantai, corat coret papan tulis pake spidol yang ga bisa kehapus, ada juga yang main ledek-ledekan sampe nangis, ada yang main hardcore: nendang meja yang nyaris kena perut temannya, dan ada yang ngobrak abrik properti saya karena ngeliat gambar. Duh, gusti.
  3. Mereka kenal Jokowi. Luar biasa kan Gubernur Jakarta itu? Ketika saya tanya “siapa yang tahu presiden kita?”, mereka bukan jawab SBY lho, tapi malah Jokowi, haha. Ada lagi yang jawab Barack Obama. Dan mereka lebih kenal artis-artis lho dibanding presiden kita. Apalagi si Iqbal tadi, wuih.
  4. Udah ga jaman lagi ledek-ledekan nama bokap ya, hehe. Ga terdengar tuh dari kelas 1 sampai 6 kata-kataan nama bokap. Padahal dulu saya jaman SD parah banget tuh. Sepertinya tren itu telah dimakan usia *sedih inget umur* Oke, ga penting.

Nah pas saya melakukan simulasi pemilihan ketua kelas, saya mencoba menterjemahkan pemilihan itu menjadi kata yang akrab bagi anak-anak kelas 1. Alhasil, ketua kelas yang (tadinya) saya rencanakan beberapa murid saya panggil maju ke depan sebagai calon, saya ganti dengan buah. Yep, saya bilang kalo kalian pilih jeruk gambar buah jeruk, kalo kalian pilih apel gambar apel. Dan mereka excited! Ada yang gambar lama banget, pas saya liat kok ga selesai-selesai, satu kertas digambar jeruk semua, haha.

Tapi percayalah, cerita diatas terjadi dengan kerusuhan, tenggorokan kering dan peluh bercucuran menyelamatkan properti saya diatas meja yang ditarik-tarik mereka. Huft.

Terpujilah engkau wahai ibu bapak guru yang dengan sabar, ngajarin anak kelas 1 dan 2 yang bandel, ceria, ekspresif dan eksplosif tersebut. Eh tapi tunggu dulu, perasaan saya kelas 1 lagi itu ga bandel deh. Saya dulu pendiam, pemalu, pintar, dan duduk manis ga banyak tingkah, ditambah cute juga lagi. *kemudian diamuk massa*

Defli dan Naura

Defli dan Naura

Oke, kelas 1 dan 2 selesai. Kelas yang tersisa itu kelas 3 sampai 6. Prediksi saya, kelas lebih dewasa itu (seharusnya) lebih gampang dan kondusif kok. Kenapa? Karena mereka lebih ngerti kali ya. Dan dugaan saya tepat. Malahan baru masuk aja saya udah kena cengan anak kelas 4:

“Kakak namanya Bimo ya?”

“Iya.. Kamu namanya siapa?”

“Defli kak..”

“Oh Defli..”

“Kak Bimo, kakak abis makan apa sih? Itu di pipinya kotor tuh, ada sisa ya, bersihin dulu dong..”

DHUAR! Bocah kecil kelas 4 SD udah bisa cengin tahi lalat gw yang supermanis ini di pipi, haha.. Untung yang ngomong anak SD, saya masih sabar. Coba kalo yang ngomong wanita dewasa siap nikah, cantik, setia, ga macem-macem lagi baik hatinya, udah saya lamar deh.. *lah malah curhat*

Dan mengajar anak kelas 3 sampai 6 itu mekanismenya sama kok. Yang berbeda cuma simulasi pemilihan. Saya panggil 3 anak maju ke depan, biasanya ada ceweknya, untuk dipilih jadi “ketua kelas”.

Dasar bocah SD jaman sekarang udah tau romansa dan cinta-cintaan kali ya (eh tapi ga ding, dulu gw juga udah tau haha). Pas ada cewek yang maju ke depan, malah dijodoh-jodohin sama temennya yang cowok.

“Cieee.. Naura sama Defli ciyee… Suit suit.”

Maksudnya yang maju ke depan Defli, anak yang sukses ngeledek tahi lalat saya itu tadi, sama Naura, temennya cewek.

Oh, ada juga lho yang sudah bisa menebak hasil pemilihan, layaknya LSI. Coba simak prediksi berikut:

“Ah, ini pasti yang menang Naura ini.. Pasti semua pada milih Naura semua.. Cewek soalnya..”

Dan prediksi jadi-jadian itu tepat. Naura yang menang karena dipilih secara demokratis oleh seluruh rakyat kelas 3 dan 4, hehe.

Selanjutnya, tidak jauh beda. Ketika saya tunjukkan poster besar para presiden, mereka menjawab seadanya dan secukup tahunya. Namun ketika saya tunjukkan foto artis (yang saya kasih clue dengan potongan-potongan mata, hidung, bibir) mereka langsung heboh dan jejeritan.

“IQBAAAL.. IQBAAAL.. IQBAAAL..”

“ANGEL CHERRYBEELLEEE..”

Makanya banyak selebritis yang bisa kepilih jadi anggota dewan ya, hehe.

Terakhir, saya ajak anak-anak semua nyanyi Indonesia Raya. Well sebenarnya saya mau ngetes aja sih, sampe sejauh mana mereka hapal dan tahu lagu kebangsaan kita. Apa sudah tergerus oleh lagu-lagu barat, boysband cilik dan girlsband, halah. Lagian itu juga buat ngisi waktu sih, karena kalo udah terakhir-akhir gitu saya suka habis ide, haha.

Untuk penutupan, saya dan teman-teman pengajar mengumpulkan mereka di lapangan, dan kemudian menyediakan papan besar yang ditempeli oleh tulisan cita-cita mereka. Lucu-lucu lho cita-citanya. Selain cita-cita umum macam dokter, insinyur, pilot dan sebagainya, kemudian cita-cita universal di kalangan anak laki, yaitu pemain bola. Ada satu anak yang mau jadi Spider-Man.. Mungkin dia udah tahu with great power comes great responsibility? Atau dia mau dapet cewek macam Mary Jane Watson? Halah. Trus kenapa ga mau jadi Bima Satria Garuda?

Rame!

Rame!

Sayangnya, cuma satu-dua orang yang mau jadi Presiden.

Atau mau jadi anggota KPK aja kali ya biar bisa nangkepin pejabat? Hehe.

Sampai jumpa di Kelas Inspirasi berikutnya!

 

Credits:

Foto-foto diambil dari blog dan Fb nya Arie. Thanks bro!

Advertisements
Tagged