Tag Archives: inter

Day 19: Team You Hate With Passion

a.espncdn.com

Ada tim yang saya suka, dari kecil, dan mungkin akan saya bawa hingga mati, yaitu Milan. Kecintaan saya terhadap Milan tak perlu diragukan, dan mungkin hanya bisa terkalahkan oleh cinta pada istri dan anak saya nanti haha. Milan adalah cinta mati dan cinta abadi dalam sepakbola. Dan sebaliknya, kalau ada tim yang saya benci, yang saya tidak suka, yang saya wajibkan untuk diejek atau di-bully dalam sepakbola, pasti hanya satu jawabannya: Internazionale.

Kenapa Inter? Simpel saja jawabannya. Karena Inter adalah Inter. Menjadi musuh abadi Milan dalam perseteruan tim sekota, Inter otomatis menjadi pihak yang saya tidak sukai eksistensinya. Warna biru sebenarnya adalah salah satu warna favorit, namun ketika warna itu dipakai untuk warna kostum Inter, seketika saya langsung tidak tertarik lagi. Memang saya bukanlah penggemar karbitan yang sensitif sekali akan kehadiran pesaing, karena semakin lama saya menggemari sepakbola dan memahami esensi dari permainan sepakbola itu sendiri, juga menempatkan diri sebagai fans dewasa, saya melihat persaingan antara 2 tim yang menjadi musuh bebuyutan bukanlah sebagai ancaman, melainkan lebih kepada kualitas dari atmosfir sepakbola itu sendiri. Dan Inter, sebagai tim saudara Milan di kota Milano, menjadi antagonis di sudut pandang saya sebagai penggemar.

Kehadiran Inter sebagai lawan Milan tentunya sudah panas bila keduanya bertemu di Serie A. Pertandingan derby (antar tim sekota) sudah menjadi cerita klasik dan tak terbantahkan serunya semenjak musim-musim lalu. Tak hanya di Serie A, persaingan Inter dan Milan tentunya merambah ke kompetisi yang lebih general, yaitu Liga Champions. Dan persaingan mereka disini bukan hanya persaingan ketika terjadi bentrok kedua tim, namun juga persaingan gelar juara. Milan puas sekali membuat Inter bermuram durja karena prestasi mereka yang tak kunjung bersinar di Eropa, ketika Milan menguasai Liga Champions dengan 3 kali masuk final pada periode 5 tahun (2003 – 2007), dengan meraih 2 gelar juara. Sedangkan Inter akhirnya membalas dengan meraih treble di 2010, membuat Milan tenggelam dalam kedengkian karena hanya Inter satu-satunya klub Italia hingga kini yang meraih treble (juara liga, Piala Italia dan Liga Champions). Dan jelas, itu membuat hampir seluruh fans Milan di seluruh dunia mendidih darahnya. Untung saja bila berbicara sejarah, Milan masih unggul cukup jauh karena koleksi gelar Eropa mereka lebih banyak dibanding apa yang dimiliki Inter.

Tim yang saya benci dengan passion, itu judul dari tulisan ini. Saya baru tahu jika passion bisa digunakan dalam hal yang berkonotasi negatif, tidak hanya sesuatu yang positif. Dan bila dikaitkan dengan kebencian terhadap suatu tim sepakbola, membenci Inter adalah tepat untuk disematkan pada kata passion dalam judul tulisan ini, haha. Saya masih ingat betapa bahagianya kami (saya menyebut Milanisti dengan kami) ketika berhasil menang derby. Ini adalah contoh paling sederhana. Betapapun skornya, kemenangan pada derby sangat membahagiakan karena pada derby Milan dan Inter bersaing untuk memperebutkan siapa tim nomor satu di Milano. Juga sebagai pentasbihan siapa yang terbaik saat itu. Derby adalah derby. Derby merupakan point of view kemenangan dan kejayaan, diluar sejarah dan posisi aktual. Artinya, jika satu tim pada klasemen posisinya lebih rendah daripada tim lain, namun berhasil memenangi derby, seketika posisi klasemen tidak berarti. Ia adalah pemenang derby. Titik. Dan ia adalah yang terbaik. Beberapa derby yang masih lekat di ingatan adalah ketika Milan menang 3-0. Saat itu Inter dilatih Leonardo, bekas pelatih dan pemain Milan yang sempat dicap pengkhianat. Puas sekali. Atau ketika Ronaldo Nazario, pemain yang lama membela Inter, namun akhirnya mampu menceploskan bola ke gawang mantan klubnya dan melakukan selebrasi silenzio saat membela Milan pada derby yang (sayangnya) berakhir 1-2, itu juga menghadirkan kepuasan tersendiri.

Dan bila ingin lebih bombastis, ingatlah kemenangan sensasional Milan 6-0 atas Inter, yang sepertinya masih terekam dengan jelas hingga saat ini, dan menjadi mimpi buruk Interista. Meskipun Milan juga pernah kalah 0-4 pada derby beberapa tahun lalu, namun tetap saja kekalahan 0-6 itu sulit diterima. Atau bila berbicara level Eropa, Milan dan Inter juga pernah bertemu. Salah satunya di semifinal Liga Champions, dimana Andriy Shevchenko menjadi protagonis Milan yang mengantarkan Rossoneri menuju final melawan Juventus, dan banyak lagi. Atau ketika final Piala Super Italia, dimana gol Zlatan Ibrahimovic dan Kevin Prince Boateng menyudahi perlawanan Inter 2-1, dan setelah itu muncul gambar jokes untuk membuang seragam biru ke tong sampah.

Perihal transfer pemain juga bisa menjadi tolak ukur “kebencian” saya terhadap Inter. Milan seperti punya prinsip bahwa pemain kami haram hukumnya untuk hijrah ke Inter setelah membela Milan, dan Milan akan mencap mereka sebagai pengkhianat apabila berani melakukannya. Tengok bagaimana Leonardo yang sempat dipuja Milanisti semasa menjadi pemain dengan santainya menerima tawaran Inter untuk menjadi pelatih, umurnya pun tidak panjang di Inter akibat tekanan yang dideritanya. Leo harusnya berkaca dari para legenda yang mendeklarasikan fatwa haram bila pindah ke Inter, dan kalaupun harus pindah klub setelah Milan, sebaiknya pindah ke klub lain di Italia (Juventus masih bisa ditoleransi), atau paling tepat ke luar Serie A sekalian. Hal ini yang berkali-kali ditegaskan Gennaro Gattuso saat ingin pensiun di Milan.

Sebaliknya, saya melihat justru banyak bekas pemain Inter yang malah meraih sukses ketika berseragam merah hitam. Dua pemain yang paling kentara adalah Clarence Seedorf dan Andrea Pirlo. Semasa membela Nerazzuri, mereka sulit mendapat gelar. Bahkan Pirlo bukan siapa-siapa di Inter. Dan ketika berseragam Milan, mereka mendapatkan segalanya. Seedorf menjadi pemain pertama yang meraih gelar Liga Champions di 3 klub berbeda. Pirlo menjadi legenda dan maestro di posisinya. Begitu pula Ronaldo Nazario yang meskipun hanya bermain tidak lebih dari 2 musim di Milan, mendapati Milan sebagai rumah baginya, sesuatu yang bahkan tidak ia dapatkan selama di Inter. Kebetulan? Bisa jadi. Namun hal tersebut juga menjadi kisah nyata.

Kehadiran Erick Thohir (ET) sebagai presiden Inter tentunya juga menambah ironi kami, para Milanisti WNI karena pimpinan tertinggi klub yang kami benci adalah orang Indonesia sendiri hehe. Hal ini kadang membuat iri karena logikanya dengan memiliki presiden saudara sendiri, Inter akan lebih mudah aksesnya untuk setiap tahun berkunjung ke Tanah Air dan memainkan pertandingan tur pra musim, seperti yang telah mereka lakukan beberapa waktu lalu. Makin membuat iri karena personel yang datang adalah tim utama, bukan seperti Milan yang hanya menampilkan pemain-pemain pensiunan dalam bendera Milan Glorie. Sebagai penggemar, tentunya Milanisti ingin juga menyaksikan tim utama datang dan bermain. Dan ini adalah keuntungan tersendiri bagi fans Inter. Namun satu hal yang membuat kami “kecewa” sebagai orang Indonesia yang masih memiliki solidaritas kepada Presiden Thohir adalah, gebrakan ET sebagai penguasa kurang memiliki greget. Hal ini bisa dilihat dari kebijakan dan pergerakan transfer pemain yang biasa-biasa saja atau malah cenderung kurang gairah bagi Inter sendiri. Dan sempat menjadi objek kritik para fans Inter dan pengamat sepakbola di sana, dan kalau sudah begini kan orang Indonesia juga yang malu, haha. Jadi Pak ET, kalau boleh saya memberi saran meskipun saya bukan Interisti, namun tolonglah jaga nama baik Indonesia di mata publik sepakbola internasional, khususnya di negara yang Bapak miliki klubnya, hehe.

Namun sebagai fans, Inter juga bisa menyemai luka. Satu momen yang sebagai penggemar sepakbola harus objektif saya acungkan jempol adalah ketika mereka meraih treble tahun 2010. Hal itu membanggakan sekaligus menyesakkan dada. Membanggakan bagi Italia karena kemenangan tersebut mendongkrak posisi Italia sebagai negara yang klub-klubnya sempat terpuruk dan dipandang sebelah mata, karena prestasi dan faktor keuangan rata-rata klub, yang berpengaruh pada koefisien (poin berdasarkan UEFA), dalam hal ini berkaitan dengan seberapa banyak negara tersebut boleh mengirimkan wakil mereka di kompetisi Eropa, kurang lebih seperti itu. Menyesakkan karena, hal yang diraih Inter tersebut adalah sesuatu pencapaian luar biasa yang akan sulit ditandingi Milan, minimal hingga beberapa tahun ke depan. Inter saat itu memang menjadi tim juara, dengan pemain dan pelatih yang jempolan pada diri Jose Mourinho. Milan harus belajar dan menjadikan itu sebagai cambuk motivasi untuk kembali menancapkan kuku sebagai tim kuat Eropa.

Advertisements
Tagged , , ,