Tag Archives: inggris

Day 22: Biggest Footballing Injustice Still Not Over

lampard-420x0

Ada hal menarik ketika di gelaran Piala Dunia 2014 lalu bila kita melihat, wasit memiliki “senjata” yang selalu mereka ambil dari belakang celana ketika terjadi tendangan bebas beberapa meter dari kotak penalti. Ya, setelah mereka meniup peluit, mereka akan menghitung jarak untuk berdiri membuat pagar betis dan kemudian menyemprot dengan semacam foam di rumput, sebagai batas berdiri pemain. Itu salah satu terobosan FIFA dalam sepakbola, dan satu lagi terobosan yang diciptakan oleh organisasi yang dikepalai Sepp Blatter yaitu: Goal Line Technology.

Biasa kita sebut teknologi garis gawang. Teknologi ini memungkinkan wasit mendapat kabar melalui jam tangan yang dikenakannya, apabila terjadi gol tipis di bibir garis gawang yang kerap menimbulkan kontroversi. Bila bola telah melewati garis gawang ada sensor yang berbunyi untuk kemudian mengirimkan sinyal pemberitahuan kepada wasit, dan prit prit, mereka akan meniup peluit tanda terjadinya gol. Para pemain tidak perlu lagi berdebat kusir hingga mengeroyok wasit atau menarik otot serta urat, berkelahi dengan pemain lawan untuk saling berargumen menentukan apakah bola telah melewati garis atau tidak. Bahkan terlihat para pemain menyarankan agar wasit melihat tayangan ulang yang ada dari layar stadion. Dan itu juga bukan saran yang baik karena di tayangan ulang pun tidak diberikan gambaran jelas prosesi bola apakah melewati garis gawang atau tidak. Dan wasit pun jadi semakin bingung. Biasanya mereka berkonsultasi dengan hakim garis, dan hakim garis pun tak jarang ragu-ragu mengambil keputusan yang akhirnya menjadi rancu dan merugikan salah satu pihak.

Lalu apa latar belakang ditemukannya teknologi garis gawang? Tidak lain tidak bukan salah satunya karena insiden ini: partai perdelapanfinal Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Tanggal 27 Juni 2010, di Bloemfontein, Jerman yang saat itu menjadi juara Grup D bertemu Inggris sebagai runner-up Grup C. Inggris yang seperti biasa selalu kesulitan lolos dari putaran grup harus langsung berhadapan dengan Der Panzer yang diisi pemain muda macam Mesut Özil, Thomas Müller, Sami Khedira dan striker kawakan Miroslav Klose. Inggris yang bermain dengan kostum away berwarna merah agak keteteran di menit-menit awal menghadapi serangan spartan khas Jerman. Alhasil baru 20 menit pertandingan berjalan, tendangan gawang Manuel Neuer yang langsung mengarah ke depan gawang Inggris, disontek dengan sekali sentuhan Klose. Inggris tersentak, skor 0-1 untuk Jerman.

frank lampard's goal

Unggul 1 gol membuat pemain-pemain asuhan Joachim Löw tampil lebih semangat. Inggris pun yang kelihatannya selalu apes setiap perhelatan major tournament harus kembali kebobolan, kali ini lewat Lukas Podolski. Jerman membuat gol itu dengan apik, rapih sekali lewat open play yang dibangun dengan cermat dari belakang. Ketinggalan 2 gol membuat Inggris mau tak mau harus bermain menyerang, dan akhirnya gol datang lewat tandukan Matthew Upson. Saat posisi hanya tertinggal 1 gol saja, Inggris tambah bersemangat untuk mengejar ketertinggalan dan akhirnya momen ini yang terjadi.

Lewat satu serangan balik yang coba dibangun anak-anak St. George Cross, bola ditendang dengan keras oleh Frank Lampard ke arah gawang Neuer. Bola keras itu menghantam mistar gawang tanpa bisa dijangkau kiper yang menjadi penerus Oliver Kahn itu. Bola tektok itu menghantam tanah jauh melewati garis dan sialnya dengan sigap ditangkap lagi oleh Neuer ketika ia bangun. Semua orang mengira itu gol dan Inggris telah berhasil menyamakan kedudukan. Tapi siapa sangka wasit bergeming dan tidak meniup peluit memerintahkan bola untuk ditaruh di tengah lapangan. Lampard seakan tak percaya bola itu tidak dianggap gol. Jangankan Lampard dan hooligans di lapangan, saya dirumah aja loncat-loncat kegirangan karena menyangka skor jadi sama kuat, eh tapi malah dianggap tidak gol. Padahal kalo diliat dari tayangan ulang, mau berapa kali pun diulang-ulang sampe pita tayangan ulang kusut, tetep aja keliatan bola udah lewat garis gawang. Dari sudut manapun juga begitu, dan nampaknya Neuer pun mengakui kalo bola udah lewat garis. Wasit pun kalo liat tayangan ulangnya lagi pasti bakal insaf, cuma ya begitu deh. Wasit keukeuh dengan keputusannya, dan mungkin ia berpikiran wasit Argentina vs Inggris di Piala Dunia 1986 aja bisa khilaf ga liat tangan Maradona di Gol Tangan Tuhan. Menyakitkan bagi Inggris dan semua tim yang dirugikan.

Itulah sedikit banyak latar belakang terciptanya teknologi garis gawang. Dari ketidakadilan itu FIFA membuat regulasi dan juga teknologi yang akan meminimalisir konflik-konflik yang terjadi bila bola dengan ganjennya antara mau tidak mau masuk ke gawang, menggoda si garis eh udah gitu keluar lagi. Dengan teknologi ini diharapkan akan lebih tercipta keadilan bagi para pihak. Meskipun sebenarnya, ada juga yang mengatakan bahwa terobosan seperti ini membuat sepakbola jadi tidak alamiah lagi. Artinya, sepakbola dan kesalahan mendasar manusia sekarang telah menjadi bagian tak terpisahkan. Kesalahan wasit dalam mengambil keputusan, menjadi hal yang lumrah. Kita melihat bagaimana hal-hal tersebut memberi warna tersendiri dari sebuah permainan sepakbola. Sepakbola tidak boleh menjadi sepenuhnya dikuasai teknologi yang mengalahkan unsur humanity dengan segala keterbatasannya itu sendiri.

Well, tapi cukuplah teknologi garis gawang yang menjadi suatu penemuan revolusioner mencegah ketidakadilan. Selebihnya, biarkan sepakbola tampil apa adanya.

Advertisements
Tagged , , , , , ,