Tag Archives: band

Mereka katakan, musik Indonesia berhenti di tahun 90-an… (review of /rif & Sheila on 7 concert)

326610_620

Apa yang tersisa dari musik Indonesia dewasa ini? Begitu banyak artis dan band bermunculan, juga tentunya di era digitalisme sekarang ini, mau tak mau memutar kembali memori kita ke beberapa tahun lalu, khususnya bagi mereka yang juga besar bersama saya di akhir-akhir tahun 90-an, yang ketika itu sedang mengikuti perkembangan musik yang ada. Stasiun radio saat itu masih menjadi barometer mana saja musik terbaru yang sedang hangat dibicarakan, menarik untuk didengar dan diikuti. Dan juga kemunculan video klip menjadi sesuatu yang sakral. Video klip baru kehadirannya selalu ditunggu setiap akhir pekan, bahkan sutradaranya pun menjadi buah bibir, jika berhasil men-direct klip yang memiliki sinematografi ciamik, dan banyak lagi penghargaan untuk menilai keberhasilan sebuah video klip bukan hanya dari sisi gambar, namun skrip cerita bahkan modelnya. Dan saat itu, bentuk tertinggi akan suatu karya musik adalah penjualan album yang masih berbentuk kaset atau piringan cakram padat (Compact Disc/CD). Itulah masa-masa dimana saya tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak yang menggemari musik dan juga artis-artisnya, dalam hal ini musik Indonesia.

Bila kita berbicara musik yang dimainkan oleh sekumpulan orang alias band, /rif dan Sheila on 7 adalah salah dua band yang mewakili kedigdayaan musik Indonesia saat itu.

Dan ketika saya melewati daerah Fatmawati, saya melihat baliho di pinggir jalan kalau dua band itu akan menggelar konser tanggal 19 September, saya tanpa pikir panjang segera mencari infonya dan mencanangkan tekad harus menontonnya, karena saya lekat dengan musik-musik mereka dan seperti memiliki ikatan emosional, meskipun saya bukanlah anggota fans club kedua band itu.

Sheila dan /rif adalah 2 band dengan jenis musik berbeda. Sheila band asal Jogjakarta, memiliki warna musik mayoritas pop dengan sedikit ala-ala rock, paling banyak terdapat di raungan gitar pada beberapa lagu, atau bahkan kadang mereka memainkan blues, dikemas dalam bentuk musik yang amat sangat easy listening, berirama menyenangkan dan mudah diikuti dan jaminan digemari. Musik-musik Sheila adalah obat bius bagi kebanyakan rakyat Indonesia yang suka mendengar musik, dan dari berbagai golongan usia. Sedangkan /rif, ya begitu cara menulisnya, dengan garis miring dan huruf kecil, adalah band rock tulen yang saya masih ingat kepanjangannya adalah Rhythm In Freedom. Kepanjangan itu hanya mereka sebutkan di awal-awal kemunculan, sementara nama /rif sudah tenar hingga mereka merasa tidak perlu memperkenalkan nama panjang itu lagi. /rif adalah band rock yang sangat berkarakter, memainkan mayoritas musik rock dengan sedikit warna pop (kebalikan dari Sheila). Namun asiknya, karakter lagu rock di setiap tembang /rif kebanyakan mudah diikuti dan dimengerti, sehingga masih bisa dinyanyikan dan dimainkan lagunya oleh orang-orang. /rif semakin lama tumbuh menjadi band dengan aksi panggung yang sangat menawan dan atraktif, dengan kostum yang total dan enak untuk dipandang. Bila berpatokan pada aksi panggung band luar negeri, maka Marilyn Manson bisa menjadi parameter. Ditambah lagi, keahlian skill masing-masing personel band asal Bandung tersebut dalam memainkan alat musiknya tidak perlu diragukan.

Apa hubungan kedua band diatas dengan saya? Oke. Semenjak kemunculan Sheila dan /rif pertama kali di blantika musik Indonesia, saya sudah tertarik dan memiliki kaset serta mendengarkan lagu keduanya. Memang yang membeli kaset adalah kakak-kakak saya, namun setelah itu otomatis saya menjadi plagiator dengan membeli kaset-kaset mereka juga di album ke-2, 3 dan seterusnya. Khusus Sheila, lagu-lagu mereka praktis pula menjadi soundtrack kehidupan saya di jaman SMA. Dulu, kegemaran saya dan teman-teman adalah bermain band di studio dekat rumah. Dengan uang sewa 35 ribu rupiah, saya bersama 5-6 anak lain patungan masing-masing 5000 rupiah. Hanya dengan bermodalkan buku Music Book Selection (MBS) yang berisi chord-chord gitar, maka kami sudah bisa bermain band 1 jam lamanya.

Selain bermain band, lagu-lagu Sheila dan /rif juga menjadi lagu-lagu untuk saya belajar bermain gitar. Atau kasetnya mengisi walkman saya yang dibawa-bawa ke sekolah atau awal kuliah saat itu, hehe. Kaset-kaset Sheila dan /rif juga menjadi pengisi rak kaset abang saya ketika itu di kamar, salah satu ruangan yang menjadi markas bersejarah saya mengenal musik, dari rak berisi kaset-kaset koleksinya beserta sebuah mini compo merk Polytron. Disitulah singgasana saya bersemayam setiap pulang sekolah hingga malam hari. Oh ya, dulu lagu-lagu Sheila dan /rif juga menjadi jagoan di tangga-tangga lagu radio yang kini telah almarhum semacam Trend Musik Indonesia (TMI), atau bahkan video klip mereka saling berlomba meramaikan kompetisi video klip macam Video Musik Indonesia (VMI) atau tayangan-tayangan MTV yang dulu menjadi makanan kita sehari-hari. Okelah singkat kata, anak Generasi 90-an pasti sangat akrab dengan hal-hal ini, haha.

Dan mari kita langsung menuju konsernya. Karena konsernya diadakan weekend tepatnya Jum’at malam, saya menyangka panggung di Istora akan penuh dengan penonton, seperti halnya ketika saya menonton GIGI ketika mengadakan konser ulang tahun di tempat yang sama. Namun yang terjadi adalah, penonton datang melambat bagaikan siput. Sempat khawatir bahwa konser ini kurang mendapat apresiasi music lovers karena hingga pukul 19.30 penonton belum juga berdatangan, namun beberapa menit menjelang salah satu band naik panggung (yang terus terang saat itu saya belum tahu siapa), audiens sudah mulai penuh. Pandangan saya tertuju pada kelas festival yang berdiri dan saya merasa beruntung tidak membeli tiket di tempat itu, karena saya memiliki pengalaman yang kurang asoy ketika berada di kelas festival saat konser GIGI. Saat itu kaki saya rasanya mau rontok karena pegal luar biasa ketika harus berdiri selama 3 jam, dan aroma yang hadir di arena festival luar biasa, bau asam ketiak dimana-mana. Untuk kaki yang rontok, nampaknya saya sudah renta karena saya iri melihat mereka yang sepertinya menikmati konser sembari duduk. Oke, ini bukan konser metal yang HARUS DITONTON SAMBIL BERDIRI seperti Metallica, dan pilihan saya kali ini tepat. Untuk showcase semacam ini memang lebih baik diikuti sambil duduk. Jadilah saya membeli kelas Silver, duduk. Dan duduk pun masih menjadi masalah karena bangku Istora tidak nyaman untuk dipakai duduk lebih dari 1 setengah jam, pantat saya panas haha.

Sempat terpikir konsep apa yang diusung promotor untuk pertunjukan 2 band seperti ini, namun pada akhirnya memang giliran satu persatu Sheila dan /rif yang tampil selama kurang lebih 1 setengah jam. Dan saat lampu panggung dimatikan, layar yang berada di atas panggung yang dibangun di tengah-tengah Istora menampilkan profil /rif beserta wawancara singkat dengan personil-personilnya, produser label tempat mereka bernaung, dan klip-klip yang pernah mereka buat. Kita semua tahu bahwa sebentar lagi Andy dan kawan-kawan yang akan memanaskan Istora. Dan benar saja, setelah kita semua dilatih untuk memiliki jiwa nasionalis dengan terlebih dahulu menyanyikan Indonesia Raya, kelima personel /rif naik panggung untuk menggebrak dengan lagu pembuka, Dunia. Lagu ini memang cocok dijadikan awalan setlist konser. Lagu yang menjadi soundtrack Spider-Man untuk regional Asia itu sukses membuat panas istora, untuk kemudian disambung dengan lagu ke-2, Jeni.

Jeni adalah lagu yang sangat saya gemari. Lagu yang berasal dari album perdana /rif bertitel Radja dengan gambar katak di sampul albumnya itu, menjadi lagu yang sangat enak untuk dinyanyikan bersama. Kalau saja saya berada di festival, mungkin saya sudah jejingkrakan sembari teriak-teriak ikut bernyanyi. Posisi saya yang duduk pun tidak membuat saya diam, saya bernyanyi sekuat tenaga karena saya hapal betul setiap liriknya (ya iyalah orang jaman dulu muter lagu ini terus haha). Saya sangat menikmati lagu /rif di awal-awal kemunculannya. Menurut saya lagu-lagu mereka saat itu sangat orisinil dan enerjik. Apalagi setelah Jeni, hadirlah Bintang Kejora. Lagu yang terdapat di track 1 album 1 itu benar-benar membuat saya sing along. Tidak peduli kalau di kelas Silver tempat saya duduk, saya aja sepertinya yang hapal benar setiap lirik yang dinyanyikan Andy. Bintang Kejora adalah salah satu lagu ballad /rif yang tak banyak orang tau, namun begitu enak untuk didengar. Itulah lagu dimana saya pertama kali mengenal /rif, hehe. Bintang Kejora dinyanyikan Andy dengan penuh penghayatan, dan tata lampu panggung berubah meredup. Ah, nostalgia yang mantap!

Setelah dibawa ke dalam mesin waktu bersama Bintang Kejora, Andy mulai berinteraksi dengan penggemar. Say hello, cerita sana sini sampai mulai masuk ke lagu berikutnya. Lagu selanjutnya adalah lagu yang menjadi jagoan di album The Best of /rif, lagu ini menjadi lagu terakhir /rif yang masih bisa “diikuti” menurut saya. Lagu yang dimaksud adalah Joni Esmod, yang bercerita tentang koruptor. Joni Esmod masih sanggup membuat saya bergoyang mengikuti irama. Andy membawakan ambience dengan aksi panggungnya yang baik. Tak bisa dibayangkan bila bukan Andy yang menjadi frontman /rif. Setelah Joni Esmod, lagu yang paling tenar yang dibawakan, Radja. Agak aneh karena sejujurnya saya kurang begitu menggemari Radja, namun karena lagu ini sudah automatically tersimpan di memori kepala, jadi setiap bait lirik yang dinyanyikan, saya pun otomatis bernyanyi. SAYA HAPAL DI LUAR KEPALA. Dan kalau bukan “jasa” dari Radja yang membuat saya belajar bermain gitar, mungkin lagu tersebut akan berkurang value-nya, haha. Saya berterima kasih kepada /rif dan Radja atas ilmu bagaimana “memencet” chord gitar sampai jari-jari saya kapalan dan bengkak. Kalau tidak begitu, mungkin saya tidak bisa menggalau genjrang-genjreng gitar hingga saat ini.

Setelah Radja, /rif mencoba cooling down dengan membawa lagu orang lain, dan pilihan mereka jatuh kepada High and Dry. Lagu legendaris Radiohead tersebut dibawakan dengan santai yang membuat semua penonton bernyanyi. Lepas High and Dry, ada satu lagu yang saya sangat tidak menyangka dibawakan. Apakah itu? Ternyata Bunga, saudara-saudari sekalian.

Bunga menjadi lagu di album pertama /rif yang juga saya gemari. Saya jadi ingat dahulu sering sekali menyetel lagu Bunga dan menganggap itu adalah masterpiece kedua /rif di album Radja, sampai kaset abang saya itu kepotong di reff-nya karena saya tidak sengaja menekan tombol REC dengan posisi penutup kanan kiri kaset belum dipatahkan. Oke, ini tidak perlu saya jelaskan, hanya mereka yang mengerti saja yang paham, haha. Bunga adalah parameter lagu ballad /rif saat itu. Karena di album-album selanjutnya, publik menanti apakah ada lagu ballad lagi dari /rif yang seperti Bunga. Kembali ke konser, Bunga dibawakan dengan aransemen sama dengan yang di kaset, dan itu benar-benar membuat saya senang. Kalau kalian belum pernah mendengar lagu Bunga, coba search YouTube, dan saya bisa katakan, itulah yang disebut ballad rock Indonesia yang keren, dan itu hanya terjadi di tahun 90-an kawan.

Setelah Bunga, ada salah satu lagu di album pertama (juga) yang ternyata enak juga didengar di masa sekarang ini, setelah sepuluh tahunan lamanya tidak didengar, yaitu Planet Kosong. Dan saya bernyanyi lagi, tak peduli deh saya dianggap yang paling senior (atau tua) di tribun Silver, karena dari awal saya nyanyi terus di lagu-lagu /rif lama. Tapi memang kekuatan /rif adalah di album-album awal mereka. Planet Kosong selesai, mereka mulai menyiapkan peralatan akustik. Oh ternyata ada sesi akustik yang mereka bawakan, agak-agak sedikit jazzy mereka membawakan Aku Ingin dari album kedua, Salami. Sesi akustik itu nampaknya sayang untuk dilewatkan tanpa membawakan lagu-lagu ballad. Jadilah setelah itu, Salah Jurusan yang dibawakan. Lagu yang berasal dari album ke-4, … Dan Dunia Pun Tersenyum itu bukanlah lagu yang menurut saya terbaik dari /rif di album tersebut, mungkin saat itu mereka ingin sedikit merubah image dengan menerbitkan nomor yang ringan dan lucu dari sudut lirik untuk didengar. Setelah itu, tampil kejutan dengan datangnya seorang vokalis yang juga legendaris bernama Ari Lasso. Mantan vokalis Dewa 19 itu hampir tak bisa saya kenali karena tubuhnya yang sekarang agak melebar. Namun Alass tampil dengan kualitas dan karakter suara yang tidak berubah. Ia hadir menyanyikan lagu everlasting Motley Crue, Home Sweet Home berduet dengan Andy dan adiknya sang drummer, Magi.

Setelah penampilan bintang tamu tersebut, /rif kembali menggebrak di sisa waktu yang ada dengan memainkan tembang bertitel 1. Yap, Satu yang penulisan judulnya harus dengan angka tersebut adalah lagu di album kedua mereka (Salami) yang bercerita intinya tentang persatuan. Saat itu, Indonesia sempat didera perpecahan dan suasana chaos yang sangat hebat, sehingga di awal-awal kemunculan lagu dan album ini, /rif sengaja mendedidasikan lagu 1 ini sebagai tema persatuan dan rekonsiliasi kembali Indonesia. Lagu 1 sebenarnya memiliki ciri khas berupa intro dengan melodi gitar Jikun yang iconic, namun ketika konser saya tidak bisa mendengar intro ini dikarenakan aransemen yang berbeda. Agak kecewa sebenarnya, hehe. Dan waktu semakin lama, kita semua menyadari bahwa Sheila belumlah tampil, /rif kembali menggebrak dengan lagu Pemenang. Lagu yang saya tidak suka, haha. Maaf, dikarenakan saya sudah tidak lagi mengikuti album /rif pasca The Best Of. Well, time flies dan saya tidak bisa move on saja dari album-album /rif di awal kemunculannya. Mereka sempat mengeluarkan 1 single dari album Pil Malu (2006) yang tidak kena di telinga saya, itu mungkin yang menjadikan saya tidak lagi interest dengan album-album kesini pasca The Best Of.

Dua lagu terakhir diisi oleh Lo Toe Ye, yang biasanya dijadikan lagu penutup. Dan encore yaitu Si Hebat. Saya lebih tertarik mendengar Si Hebat karena lagu ini sudah lama sekali tidak saya dengar dan dibawakan, recorded or live. Si Hebat menjadi lagu pamungkas, dan /rif malam itu pamit dengan menyuguhkan pertunjukan yang seperti biasa atraktif, dengan skill mumpuni dari masing-masing personilnya. Kehilangan satu basis dan gitaris (Iwan dan Denny) seperti tidak berpengaruh karena Ovy mampu menjadi pengganti yang sepadan. Dan bagaimana dengan kostum panggungnya? /rif seperti biasa tampil maksimal. Malam itu Jikun sang gitaris hadir dengan topi dan dandanan Slash. Ovy berpenampilan mirip dengan personil Marilyn Manson, atau personil generasi terbaru Guns N’ Roses, dan sedikit mirip Wes Borland gitaris Limp Bizkit. Saya pribadi puas dengan penampilan mereka, karena menjadi obat kangen tersendiri. /rif malam itu saya berikan nilai 3,5 dari skala 5.

Perfectly-Back-To-90s-In-Rif-Sheila-On-7-Concert_1411151652

Setelah /rif puas mengguncang stage, panitia memberikan jeda sesaat untuk memberi waktu bagi Sheila on 7 bersiap-siap. Penonton di kanan kiri dan atas bawah saya, yang rata-rata wanita, dan sepertinya pegawai Gen FM, karena stasiun radio itu ternyata menjadi sponsor, sudah histeris duluan dan tak sabar sepertinya untuk bernyanyi bersama. Kalau cewek sih ga masalah ya, yang agak-agak gimana gitu kalau ada cowok yang suka Sheila tapi diimplementasikan dengan berdiri, bernyanyi sambil joget-joget. Kayaknya ga cocok gitu, haha. Oke saya juga suka Sheila, saya hapal lagu-lagunya, tapi itu tidak membuat saya serta merta ikut “antusias banget” sampai nyanyi berdiri dan joget-joget begitu haha. Dan itu terjadi pada penonton cowok di depan saya (oke biarlah), haha.

Sheila hadir di panggung dengan membawa beberapa pemain trombone, saxophone, terompet dan semacamnya. Untuk apa mereka semua? Ketika intro lagu pembuka diperdengarkan, saya baru sadar kalau ada beberapa lagu di album Sheila yang menggunakan instrumen alat-alat musik tersebut. Yup, album Pejantan Tangguh (2004) adalah album yang lagu-lagunya paling banyak menggunakan alat musik itu, dan lagu berjudul sama dibawakan sebagai pembuka. Lagu yang cocok untuk memancing adrenalin penonton. Selesai lagu pertama, Eross mencabik-cabik senar gitarnya memperdengarkan intro lagu yang tak asing di telinga. Lagu ini sempat merajai tangga lagu Indonesia pada masa jayanya. Yup, lagu pembuka dari album kedua mereka, Sahabat Sejati. Lagu ini pas sekali dibawakan di awal-awal performance mereka. Sahabat Sejati mengeksplorasi kemampuan para personil Sheila dalam bermusik. Dan Brian sebagai drummer baru pengganti Anton, terasa cocok membawakan lagu dengan tempo cepat seperti ini. Tak mengherankan karena Brian dulu pernah menjadi drummer Tiket yang secara musikalitas lebih ngerock. Sahabat Sejati usai, dan penonton dibuat bernyanyi bersama dengan lagu perdana mereka yang mengenalkan band asal Jogja ini ke seantero Indonesia, Kita.

Terus terang saya tidak begitu menyukai lagu Kita. Selera sih, tapi nampaknya hanya saya saja yang tidak antusias menyanyikan lagu tersebut. Sedangkan penonton lainnya berdiri dan bergoyang kesana kemari. Yang pacaran merangkul pacarnya dengan mesra sembari bernyanyi. Yang single pun (kebanyakan perempuan) bernyanyi bersama teman-temannya sembari memukul-mukul balon stasiun radio yang menjadi sponsor, Gen FM. Eh tapi mana saya tau ya mereka single atau tidak, soalnya kan bisa saja pacarnya ga ikut nonton, haha. Dan cowok yang ada di depan saya masih saja berjoget pemirsa, haha. Yasudah biarkan saja. “Kita” adalah lagu awal pembuka album self-titled mereka. Di layar diputar video klip yang dahulu masih memperlihatkan para personil Sheila masih kurus-kurus berambut gondrong.

Kita usai, Duta sebagai frontman mulai melakukan tes ombak kepada penonton dengan menyuruh mereka (khususnya yang di festival) mengayunkan tangan ke kanan dan ke kiri sembari menyenandungkan sebuah lagu. Lagu yang awalnya kita tidak sadar namun setelahnya irama mulai terbentuk. Yup, lagu ini dari album Pejantan Tangguh, sebuah lagu dimana Sheila mencoba bereksperimen dengan membiarkan Duta ngerap. Pemuja Rahasia. Saya juga tidak terlalu suka dengan lagu ini, hanya karena dibawakan secara live saja menjadi agak menarik, karena terus terang saya baru pertama kali mendengar lagu itu dibawakan langsung di depan mata. Selesai lagu itu, Duta mencoba berjalan ke pinggir panggung.

Disana telah disiapkan sebuah piano, dan sembari mencoba membuka obrolan dengan penonton, Duta memainkan beberapa not dari piano tersebut. Pria yang juga Milanista itu memainkan sebuah intro dari lagu yang kita semua tidak tahu itu apa. Dan ketika ia mulai menyanyikan bait awal dari sebuah lagu, hadirin langsung bergemuruh karena yang dibawakan adalah lagu untuk semua orang. Saya belajar gitar dengan lagu itu, dan saya tumbuh di masa remaja/sekolah dengan lagu itu pula. Lagu itu tidak akan saya lupa karena kord gitarnya pun adalah yang paling termudah hingga kini. Dengan hanya 2 kord gitar, G dan C, Eross mampu menciptakan lagu yang indah dan bermakna, Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki.

Dan setelahnya, sudah bisa ditebak tembang apa yang akan dibawakan. Dengan masih menggunakan instrumen piano, lagu yang paling tepat dibawakan selanjutnya sudah bisa tertebak lewat intro yang dimainkan. “Itu Aku,” masih dari album Pejantan Tangguh yang dimainkan. Lagu itu menurut saya adalah salah satu karya Eross yang cukup baik. Meskipun agak-agak berbau dan (mungkin) terinspirasi Hey Jude-nya The Beatles, lagu ini cukup mengundang antusiasme penonton. Yang membuat lagu ini berkarakter adalah lirik dan perpaduan musik, piano dan terompet/saxophone yang menjadikan harmonisasi lagu ini kuat. Dan malam itu Sheila mendapat bala bantuan dari salah satu penyanyi yang memiliki suara khas, Sandy Sandhoro. Sandy membuat lagu ini berwarna jazz dengan lengkingan suaranya yang berat. Namun menurut saya Sandy tampil dengan improvisasi agak berlebihan, maksud hati ingin mengisi kekosongan-kekosongan dengan vokal pada instrumen di akhir lagu, namun hal itu malah terdengar seperti teriak-teriak tidak jelas. Apalagi dengan penampilannya yang memakai kacamata hitam padahal panggung dan Istora gelap. Maksud hati (lagi) mungkin ingin menjaga identitas Sandy yang khas dengan kacamata hitam (agak mirip Ian Kasela jadinya), namun kok saya jadi risih ya melihatnya. Okelah. Setelah Sandy berlalu pergi, Duta dan kawan-kawan membawakan lagu yang menjadi lagu jagoan mereka di album Berlayar (2011), Hari Bersamanya.

Hari Bersamanya adalah satu lagu Sheila bernuansa menyenangkan. Lagu ini asik didengar dan merupakan lagu langganan saya kalau karaoke. Tak heran bila saya semangat sekali mengikuti Duta bernyanyi di lagu ini, tapi ga pake joget-joget ya, haha. Selanjutnya, Sheila memperkenalkan lagu baru mereka dari album yang kata mereka akan keluar sebentar lagi, masih di tahun ini. Lagunya saya tidak tahu judulnya apa, tapi dari lagu yang diperdengarkan, Sheila banget deh musiknya. Sepertinya menjadi salah satu lagu yang bisa memompa semangat. Lagu baru yang ketika dinyanyikan itu, kami para penonton masih diam semua karena baru pertama kali mendengar, disambung dengan lagu dari album 07 Des, salah satu yang saya suka, juga lagu yang memompa semangat pula, Saat Aku Lanjut Usia. Lagu yang sempat mendapat kritikan karena Eross dianggap menjiplak salah satu lagu Beatles yang berjudul dan berlirik hampir sama (hanya dalam bahasa Inggris) menjadi satu lagu yang membuat riuh seisi Istora kembali. Eross sebelumnya sempat mengatakan kepada para penonton, ketika sesi perkenalan personil band, bahwa Duta memang menjadi frontman atau andalan dari band asal Jogja tersebut. Duta dengan karakter vokalnya yang khas dan merdu, mampu membawakan lagu dalam suara rendah dan tinggi, adalah nyawa dari Sheila itu sendiri. Duta adalah salah satu dari sedikit vokalis yang saya rasa akan membawa kehancuran bagi band yang ditinggalkannya, karena tidak bisa tergantikan oleh vokalis lain (mungkin sama dengan peran Krisyanto di Jamrud).

Layaknya konser-konser yang umum diselenggarakan, ada sesi khusus band tersebut membawakan versi akustik. Serupa dengan /rif, Sheila pun hadir membawakan beberapa lagu dengan tema akustik dan aransemen yang dirubah. Seperti yang terjadi pada JAP (Jadikanlah Aku Pacarmu), Terimakasih Bijaksana, Temani Aku dan Yang Terlewatkan. Empat lagu tersebut menjadi lagu yang asik untuk dinikmati dengan instrumen yang berbeda. Ambil contoh JAP, lagu yang seringkali digunakan oleh cowok yang ingin menembak gebetannya itu dibawakan dengan aransemen berbeda yang lebih jazzy, dengan gitar akustik yang dimainkan Eross. Terimakasih Bijaksana pun menjadi lebih elegan dibanding lagu aslinya. Temani Aku yang diambil dari masterpiece Kisah Klasih Untuk Masa Depan tidak perlu dirombak secara total karena pada dasarnya sudah beraransemen akustik. Dan yang terakhir, Yang Terlewatkan, juga bernuansa akustik. Lagu ini adalah lagu yang cukup spesial bagi saya karena saya dulu pernah memberikan lagu ini kepada gebetan saya, dan mendapat nilai 100 ketika karaoke bersamanya (yaelah curhat).

Sesi selanjutnya kembali normal, dan 2 lagu yang dibawakan kemudian adalah 2 hits utama dari 2 album yang berurutan. Bila Kau Tak Disampingku mengajak semua penonton bernyanyi dari album Kisah Klasik. Dan selanjutnya Seberapa Pantas dari album 07 Des, yang lebih dikenal ketika menjadi theme song sinetron duplikat Meteor Garden jaman dulu. Waktu semakin malam ketika lagu Sephia diperdengarkan. Lagu yang pada masanya sangat melegenda dan menjadi soundtrack perselingkuhan itu kebetulan menjadi salah satu lagu Sheila yang tidak saya sukai (lagi), haha. Bukan karena temanya lho ya, tapi entah kenapa saya cepat bosan mendengar lagi itu. Jadi ketika Sephia dimainkan, saya hanya menonton saja dan sesekali bergumam mengikuti irama. Sephia kemudian disambung dengan Betapa, lagu yang menjadi andalan di album Menentukan Arah. Nah kalau Betapa ini termasuk lagu yang saya gemari karena beda dari lagu-lagu Sheila yang lain. Saya terhibur dan senang ketika Betapa dibawakan, menurut saya Betapa menjadi salah satu lagu yang tidak membosankan untuk dibawakan secara langsung.

Akhir konser semakin dekat menjelang. Duta, Eross, Adam dan Brian mulai memainkan intro dari lagu yang kerap menjadi penutup di setiap performance mereka, Melompat Lebih Tinggi. Soundtrack film 30 Hari Mencari Cinta ini lagi-lagi masuk ke dalam list lagu Sheila yang tidak saya suka, haha. Musiknya asik dan enerjik, namun sekali lagi, lagunya bukanlah lagu yang ingin saya dengar berulang-ulang. Dan ketika semua menganggap bahwa konser akan berakhir, masih ada 1 lagu yang belum dimainkan. Kalau tidak ada lagu ini sepertinya bukanlah konser Sheila on 7 namanya. Mungkin konser Wali atau Armada (krik). Apakah itu? Tidak lain tidak bukan adalah lagu dengan lirik lupakanlah saja diriku bila itu bisa membuatmu dan seterusnya. Yup, bila ada konser band luar negeri yang saya ingin sekali rasakan atmosfir karaoke bareng dari salah satu lagunya, itu adalah Don’t Look Back In Anger, dibawakan oleh Oasis bila suatu saat konser disini. Atau Tender-nya Blur. Alhamdulillah untuk yang disebut terakhir saya sudah pernah mengalaminya. Dan sepertinya Eross dkk menangkap fenomena itu. Dengan cerdasnya Eross mengajak semua penonton untuk “membantu” Duta yang ia katakan telah lelah bernyanyi sepanjang konser. Jadilah Dan… dibawakan dengan koor bareng seisi Istora, khususnya para perempuan mulai dari bait awal hingga reff pertama. Begitulah, nuansa 90-an sangat terasa ketika Dan… merajai tangga lagu seluruh radio dan televisi saat itu. Dan… menjadi anthem lagu galau dan hubungan yang galau, atau lagu putus ketika itu. Dan kini, memori semua orang di Istora kembali hadir. Setelah Dan… usai dinyanyikan, Sheila menutup dengan apik konsernya dengan lagu Sebuah Kisah Klasik yang menurut saya sangat tepat sekali untuk dijadikan lagu penutup.

Well, hampir selama 3 jam pertunjukan digelar dan saya sebagai penggemar musik Indonesia, dan anak yang belajar mengenal dan menggemari musik ketika 2 band di atas sedang menapaki puncak karier, merasa puas telah meluangkan waktu untuk menontonnya. Sungguhlah kalau bukan karena pada jaman dulu ketika saya sekolah, Sheila on 7 dan /rif benar-benar mewarnai masa-masa saya saat itu, saya lebih memilih nongkrong di tempat lain atau tidur di rumah. Menonton mereka secara langsung saya anggap sebagai sebuah pengalaman. /rif saya sudah sering menontonnya, namun Sheila baru beberapa kali. Untuk /rif, sekali lagi mereka telah memperlihatkan aksi panggung menawan seperti biasanya. Dan untuk Sheila, terus terang saya menontonnya dikarenakan jarang melihat performance mereka, tidak sebanyak saya menonton /rif. Mereka juga tampil apik dan menghibur.

Saya jadi teringat kata Andy, vokalis /rif, ia berucap: “Musik berhenti di tahun 90-an. Musik masa kini hanya pengulangan dari model-model lagu jaman itu.” Saya beruntung bisa tumbuh dan berkembang saat musik Indonesia, dan juga internasional sedang mengalami masa jayanya. Saya juga beruntung mendapat referensi musik yang original dengan sedikit pengaruh dari musisi belahan dunia lain. Mungkin hanya Beatles, U2, The Police, Radiohead dan tidak banyak lagi yang masih menjadi patokan para musisi bermusik saat itu. Dan yang terpenting, band-band saat itu muncul dengan kualitas yang bagus. Anyway, suatu malam yang indah untuk mengingatkan betapa saya gembira lahir dengan nuansa musik 90-an, tumbuh dan berkembang dan mencari jati diri dalam bermusik dan menggemari musisi yang beberapa bertahan hingga kini. Terima kasih untuk Sheila on 7 dan /rif!

images from Google

Advertisements
Tagged , , , , ,

5 concerts worth to wait.

Bagi penggemar musik seperti saya, menonton konser suatu band adalah sebuah hal yang memiliki sensasi berbeda dari mendengarkan musik biasa. Dan juga memiliki kasta yang berbeda pula dengan mengikuti perkembangan band tersebut dari album-albumnya. Dan, meskipun dewasa ini menonton konser harganya kadang ga masuk akal, udah gitu harus merogoh kantong dalam-dalam juga, tapi bila ada band yang saya ingin lihat secara live, ya pasti saya belain ujung-ujungnya. Pikiran saya gini aja, mereka pasti ga setahun sekali dateng ke Indo, jadi ya.. Menurut saya itu menjadi suatu kesempatan langka dan berharga menonton langsung band yang biasanya hanya saya dengarkan lewat kaset atau CD.. Ya sekarang iPod kali ya haha.

Meskipun ga sering-sering banget nonton konser (diantaranya karena masalah budget itu tadi), membuat saya harus selektif dalam memilih. Kalo ga suka-suka banget ya ngapain ditonton. Namun saya cukup bersyukur bahwa saya telah diberi kesempatan nonton beberapa band favorit saya yang tadinya ga pernah kepikiran bisa nonton live, malah bisa nyanyi bareng sama mereka. Seperti misalnya kalo band lokal, macam GIGI, Padi atau Sheila on 7 udah ga jarang saya tonton. Kalo yang bule.. Metallica, Blur, Mr. Big dan lain-lain adalah beberapa band yang saya udah pernah sing-along bareng vokalisnya langsung.

Tapi, ada beberapa band yang belum pernah saya tonton hingga saat ini, dan saya pengen banget lihat konsernya, baik kalo mereka perform di dalam maupun luar negeri. Kalo udah nonton konser mereka, kayaknya riwayat perkonseran saya bakal lebih lengkap, meskipun musik terus berkembang dan perkonseran adalah sesuatu yang dinamis dan terus bergejolak perubahannya (boso opooo iki).

Berikut adalah beberapa band yang saya gemes liat performance nya:

1. OASIS

20131012-171432.jpgBand yang sebenarnya udah bubar ini bener-bener bikin saya penasaran. Kalau udah bubar, tentunya saya hanya bisa berharap mereka reuni kembali dan menggelar tur konser keliling dunia, atau minimal Asia, supaya mereka bisa mampir ke Indo. Kalo enggak, ya impian nonton Oasis tetaplah menjadi mimpi. Lagian kenapa juga sih Liam pake berantem sama Noel, yang bikin Oasis jadi bubar? Dan Liam bikin band Beady Eye. Saya sebagai penggemar Oasis tentu kecewa, karena Oasis itu adalah band yang berpotensi bikin Gelora Bung Karno penuh kembali kalo mereka konser disana, seperti yang dilakukan Metallica 2 bulan lalu.

Lagian, naik haji britpop saya yang udah terjadi sekali pas Blur dateng kemaren bakal lebih sahih kalo Oasis dateng. Udah merinding kalo bayangin koor bareng penonton di lagu Don’t Look Back In Anger menggema di GBK.

Ada beberapa wacana atau gosip yang mengatakan Oasis akan reuni lagi. Well saya berharap sih demikian. Karena Oasis adalah band pertama yang kasetnya saya beli kelas 2 SMP, sebelum saya mulai ngoleksi kaset tentunya.. Album Be Here Now dulu, dengan hit single Stand By Me sama Don’t Go Away. Hmm, kaset itu setia menemani walkman Aiwa yang saya bawa tiap hari ke sekolah.. *jadul bener boosss…* haha.

2. COLDPLAY

20131012-170504.jpgKalo yang ini agak masuk akal, meskipun setengah pesimis juga. Kenapa? Pertama karena Coldplay adalah band terbaik di blantika musik saat ini. Dan mengundang mereka datang berarti mengupayakan sesuatu yang amat sangat luar biasa dan menjadi prestasi besar. Kedua, karena Chris Martin cs. pernah mengumandangkan ultimatum bahwa band nya tidak akan berkonser selama 3 tahun dari konser terakhir mereka awal tahun ini. Itu kan berarti menutup segala spekulasi yang ada bahwa mereka bakal datang ke Indonesia.

Coldplay terkenal dengan aksi panggungnya yang luar biasa. Dengan gelang-gelang lampu menyala yang dipakai oleh penonton dikala gelap, akan tercipta lautan lampu berwarna-warni. Seorang teman pernah menonton konsernya di Sydney kemarin, dan hasilnya bener-bener bikin ngiri abeeesss..!!!!

3. U2

20131012-170939.jpgSiapa tak kenal dengan band legendaris asal Irlandia yang baru saja saya sebut? Father of all bands ini sempat saya katakan sebagai penutup perjalanan konser saya sepanjang hidup. Artinya, riwayat perkonseran saya bisa dibilang sudah khatam kalo udah nonton Bono, The Edge, Adam Clayton dan Larry Mullen Jr ini. Lebay? Tidak juga, karena memang U2 adalah band yang pantas dibilang lebih besar daripada sekedar besar.

Selain itu, aksi panggung mereka juga sangat luar biasa. Banyak stage di tiap konser dibuat berbeda sedemikian rupa, dan performance mereka sudah ga pantas lagi kalo digelar indoor. Suatu saat mereka pernah menggelar konser dengan stage seperti tarantula, dengan posisi di tengah stadion, stage tersebut bisa dilihat dari setiap sudut, alias 360 derajat. Bagaimana betuknya? Silakan googling, hehe.

Yang membuat harapan nonton U2 menipis karena Bono sang vokalis pernah menyatakan kalo ia ga mau manggung di suatu negara yang bermasalah dengan lingkungan nya. Well Indonesia? Kalian bisa nilai sendiri lah apakah Bono tertarik untuk mampir kesini kalo dilihat dari keadaan lingkungan kita, hehe. Oh ya, selain itu masalah pelanggaran HAM juga sesekali diangkat oleh vokalis yang juga aktifis ini. Ribet yaaa..!!??!!

4. PEARL JAM

20131012-173155.jpgYang ini masih masuk akal dan peluang saya bisa nonton pentolan Grunge ini cukup terbuka lebar. Saat ini sedang didekati oleh salah satu promotor Indonesia dan gosipnya, mereka akan datang tahun depan. Apalagi, mereka baru saja mengeluarkan album baru dan ada chance mereka buat tur ke beberapa negara. Dedengkot alternative band era 90-an sudah cukup lama menjadi favorit saya. Dulu saya mengenal mereka lewat kaset-kaset kakak saya yang saya dengarkan terus hampir setiap hari di kamar. Ah, masih ingat saya pernah menggemari album live mereka “Live On Two Legs” ketika jaman SMP.

Pearl Jam terkenal dengan lagu-lagu yang menjadi hits meskipun tidak ada video klip nya. Karena basis massa dan karakter musiknya yang kuat, meskipun tidak melakukan promosi melalui video musik seperti yang dilakukan band lain pada umumnya, namun mereka tetap laku dan tak melepaskan cengkeraman kuat mereka di blantika musik dunia.

5. MATCHBOX TWENTY

20131012-172754.jpgAgak mengejutkan bisa masuk list saya, tapi memang kekaguman saya akan sosok dan karakter suara Rob Thomas sebagai vokalis, membuat band ini layak tonton. Matchbox adala Rob dan Rob adalah Matchbox. Dan melihat mereka tampil live di depan mata adalah suatu pengalaman berharga bagi khazanah perkonseran saya. Peluang masih terbuka lebar untuk band satu ini.

Tinggal melihat perkembangan mereka untuk membuat album baru lagi, dan ada tur keliling Asia, atau meskipun mereka tidak/belum mengeluarkan album lagi, toh lagu dan album-album mereka sudah banyak dan tetap bisa menggelar show di sini, hehe.

Tagged , ,

5 Phenomenal Indonesian Album

Sudah lama ga menulis disini. Baiklah, untuk memanaskan jari-jari dan kumpulan ide yang menggunung di kepala, marilah coba kita menulis yang ringan-ringan dahulu. Sebenarnya tulisan ini sudah lama ingin saya edarkan, namun baru sempat sekarang. Mari kita mulai.

Musik adalah jiwa saya. Musik menjadi bagian terpenting dari diri saya mulai saya kecil hingga besar seperti sekarang ini. Kakak saya yang mengenalkan saya akan musik. Kamarnya dahulu selalu jadi markas saya sepulang sekolah, karena di kamarnya ada sebuah tape dengan kumpulan kaset yang hingga 4 rak banyaknya. Dan tak terasa saya mengikuti jejak beliau. Dulu, kalo punya uang saya rela beli kaset daripada beli baju atau makanan. Alhasil kaset saya juga banyak jumlahnya, ya adalah 2 rak, hehe.

Musik Indonesia pun menjadi bagian penting dari diri saya. Dulu saya penggemar stasiun radio Trend Musik Indonesia (TMI) yang khusus memutar lagu-lagu dalam negeri. Hingga stasiun tersebut almarhum, saya masih mengingatnya hingga kini, dan menjadikan stasiun tersebut sebagai barometer informasi musik Indonesia saya.

Oke, kepanjangan ini intronya. Mari kita mulai countdown 5 album band Indonesia yang paling megah pada masanya. Dan terus terang, saya merindukan masa-masa itu. Masa dimana dunia digital belum seperti sekarang dan pengunduhan merajalela. Masa dimana kaset dan pensil menjadi teman akrab untuk menggulung pita yang kusut, dan walkman yang berat masih menjadi penghuni tas dari anak-anak sekolah dan kuliahan.

Kisah_Klasik_Untuk_Masa_Depan5. Sheila on 7 – Kisah Klasik Untuk Masa Depan (2000)

Siapa tak kenal band asal Jogja ini? Fenomenal sejak kemunculan album pertama mereka dengan menelurkan hits single macam Dan dan Kita, Sheila yang dahulu beranggotakan Duta, Eross, Adam, Sakti dan Anton ini semakin menancapkan kuku mereka di blantika musik Indo dengan kemunculan album kedua yang fenomenal bertajuk Kisah Klasik Untuk Masa Depan. Sahabat Sejati, Bila Kau Tak Disampingku menjadi hits dan merajai tangga lagu dalam negeri. Bahkan Sephia, lagu yang menceritakan tentang perselingkuhan menjadi kata resmi selingkuhan bagi sebagian masyarakat.

Album ini konon terjual hingga 1,7 juta kopi. Dahulu, penjualan di atas 1 juta kopi untuk musisi dalam negeri adalah sesuatu yang luar biasa. Dan Sheila adalah salah satu band yang berhasil melakukan itu. Setiap lagu di album ini enak-enak dan mudah dicerna untuk didengar. Bahkan beberapa lagu menjadi soundtrack sinetron-sinetron di Indonesia, dan mengawali era itu.

 

Jamrud_Ningrat4. Jamrud – Ningrat (2000)

Kalau ada ancaman terbesar dari band-band hebat yang bermunculan di awal 2000-an, tentunya Jamrud adalah satu-satunya nama yang bisa membuat bergidik. Bagaimana tidak, band alternative rock yang diproduseri oleh label kaya Log Zhelebour itu muncul dan langsung mencuri perhatian penikmat musik Indonesia, tua muda, kaya miskin dan dari berbagai lapisan masyarakat. Para pengamen dan anak jalanan membawakan lagu-lagu mereka di lampu merah, sedangkan pekerja kantoran dan orang yang naik mobil pun menyetel lagu-lagu mereka di dalam mobil.

Album Ningrat ini adalah album tersukses Jamrud, dimana mereka menjadi pionir band yang membuat video klip di hampir seluruh lagu mereka dalam sebuah album. Ditambah lagi dari lirik mereka yang nakal dan selalu mengundang kontroversi di beberapa judul lagunya. Satu yang fenomenal di album ini adalah Surti Tejo yang sempat mengalami pencekalan. Belum lagi Pelangi di Matamu yang merajai berbagai tangga lagu di Indonesia dalam hitungan bulan.

Album yang terjual 1,8 juta kopi ini berisi lagu-lagu yang kebanyakan diciptakan gitaris mereka, Azis. Dan satu lagi, olah vokal Krisyanto juga tak perlu diragukan lagi dan menjadi nyawa Jamrud selama ini. Terbukti setelah Krisyanto sempat cabut dan digantikan vokalis baru, pamor Jamrud menurun. Dan saat ini, mereka coba meraih kembali popularitas yang hilang dengan Krisyanto sebagai vokalis mereka kembali.

Bintang_Lima3. Dewa – Bintang Lima (2000)

Tak ada lagi comeback dari sebuah band yang paling dinantikan jagad musik Indonesia kecuali kembalinya Dewa 19. Ya, sepeninggal Ari Lasso yang tersandung kasus narkoba dan beberapa member lain yang hengkang, Dewa 19 lama mencari vokalis hingga mereka menemukan Elfonda Mekel alias Once sebagai pengganti. Vokalis baru mereka ini memiliki karakter suara khas dan mirip Sting sehingga tak ada tandingannya di Indonesia. Dan untuk drummer sebagai suksesor Wong Aksan, terpilihlah Tyo Nugros, menemani Ahmad Dhani dan Andra Junaidi.

Album Bintang Lima berisikan lagu-lagu yang bisa dikatakan semua menjadi hits. Bahkan 4 lagu awal dari album ini merupakan Fantastic Four dengan menghadirkan Roman Picisan, Dua Sedjoli, Risalah Hati dan Separuh Nafas. Siapa yang tak mengenal keempat lagu tersebut? Once dengan karakter vokal khasnya mampu melepaskan bayang-bayang Ari Lasso dengan Dewa 19 selama ini. Bahkan untuk lebih melepaskan image itu, angka 19 di belakang nama Dewa dihilangkan.

Album ini menjadi tak henti mewarnai hari-hari penikmat musik Indonesia kala itu, hingga terjual kurang lebih sebanyak 1,7 juta kopi. Album ini menjadi penanda era baru Dewa (19) semenjak kesuksesan album terakhir Pandawa Lima yang masih dikawal Ari Lasso. Setelah Bintang Lima, berturut-turut album Dewa mengalami perubahan jenis musik (IMO), yaitu Cintailah Cinta, Laskar Cinta dan Republik Cinta.

Sesuatuyangtertunda2. Padi – Sesuatu Yang Tertunda (2001)

Padi mulai merengkuh kesuksesan semakin dalam di dunia musik Indonesia lewat album kedua ini. Setelah memberikan shock therapy di album pertama Lain Dunia, Piyu cs. semakin menguatkan image Superband yang ada pada diri mereka lewat kedigdayaan Sesuatu Yang Tertunda. Album ini menjadi titik tolak mereka sebagai Most Wanted Band kala itu dengan terjual sebanyak 1,8 juta kopi.

Band yang lahir lewat album kompilasi Indie Ten tersebut tadinya tidak terlalu diperhitungkan, malah band lain yang menjadi jagoan dalam promosi album tersebut, Wong, menjadi kalah pamor. Dan Sesuatu Yang Tertunda lewat single-single mereka seperti Sesuatu Yang Indah, Semua Tak Sama dan lagu tergalau tahun itu, Kasih Tak Sampai merajai tangga-tangga lagu dalam negeri. Band yang terkenal kalem dalam setiap penampilannya sanggup menyihir penggemar musik Indonesia dengan falsafah Padi yang semakin berisi semakin merunduk. Padi kalau tak salah bahkan menjadi band Indonesia pertama yang memenangkan sebuah kategori award di MTV Asia dan perform di acara tersebut. Jangan lupakan keikutsertaan mereka dalam soundtrack World Cup 2002 sebagai perwakilan artis Asia.

Album ini adalah juara dan lagu-lagunya masih memorable hingga saat ini. Setelah album ini, Padi mengalami sedikit penurunan dalam hal penjualan album dan mereka kini vakum sehingga dirindukan penggemarnya. Piyu sang gitaris yang menciptakan sebagian besar hits-hits Padi memilih bersolo karir dan menjadi produser. Mari kita tunggu kehadiran mereka kembali.

Bintang_di_Surga1. Peterpan – Bintang di Surga (2004)

Namun semua cerita indah band-band legendaris di atas sirna ketika sebuah band dari Bandung yang menggunakan tokoh fantasi dongeng masa kecil ini muncul. Ya, Peterpan. Band yang dikomandoi Nazriel Irham itu sanggup memutarbalikkan nominal penjualan album dari artis-artis Indonesia menjadi suatu rekor penjualan yang sepertinya sangat sulit dipecahkan hingga masa-masa mendatang, terlebih di era digital belakangan ini.

Album Bintang di Surga terjual sebanyak 2,7 juta kopi dan menjadi album terlaris di Indonesia. Bagaimana tidak jika hampir semua orang yang saya temui dahulu memiliki setidaknya 1 buah kaset Peterpan di rumah mereka. Bahkan saya masih ingat supir angkot pun memutar album ini di mobilnya. Lucunya, ketika muncul pertama kali album ini tidak mencantumkan teks dari lagu-lagu mereka di sampul kasetnya. Kemudian dikeluarkan lagi edisi dengan teks lagu setelah album ini berpotensi meledak.

Fenomena maha dahsyat nya penjualan album ini tak lepas dari pesona dan kharisma Ariel sebagai front man. Juga lagu-lagu yang sangat easy listening dan mengena. Ada Apa Denganmu, Mungkin Nanti, Kukatakan Dengan Indah dan seluruh lagu lain di album ini tak bisa lepas dari telinga para pendengar musik Indonesia. Konser-konser mereka dipadati penonton dan album ini merupakan puncak dari kehadiran mereka di dunia musik Indonesia semenjak kemunculan mereka lewat album pertama, Taman Langit.

Kini Peterpan telah berganti nama menjadi Noah dan menurut saya, mereka masih menjadi band nomor 1 di Indonesia.

 

Ungu_MelayangHonorable mention:

Ungu – Melayang (2005)

Setahun setelah Peterpan mengambil alih tongkat estafet Superband di Indonesia, hadir Ungu sebagai band besar baru Tanah Air. Ungu yang tadinya hanya band biasa yang kurang begitu diperhitungkan (dari penjualan album) nyatanya unjuk gigi dengan lagu-lagu mereka yang merakyat, khususnya di album Melayang ini. Demi Waktu, Seperti Yang Dulu, Beri Aku Cinta dan lagu lainnya menjadi lagu rakyat yang sering didendangkan, terlebih familiar di kalangan para pengamen dan anak jalanan (tolok ukur dari keberhasilan suatu band melemparkan lagu-lagu di pasaran). Ungu bersama Peterpan saat itu menjadi 2 band besar di Indonesia, seiring meredupnya band-band lama seperti Sheila atau Padi.

Tagged , , , , , , , , , ,