Tag Archives: album

My Top 5 Linkin Park Album

Linkin Park adalah salah satu band yang berhasil menarik perhatian saya selama menggemari musik dari kecil hingga kini. Band asal AS yang beranggotakan Chester Bennington, Rob Bourdon, Brad Delson, Dave Farrell, Joe Hahn dan Mike Shinoda itu memang menjadi fenomena tersendiri dan berhasil mengukir nama mereka sebagai salah satu band tersukses beraliran new metal dan rock alternatif. Tidak hanya mengoleksi kaset dan CD live-nya (dulu), saya juga memperhatikan sepak terjang dan diskografi mereka. Oh ya, dan saya gemar untuk menyanyikan lagu-lagu mereka di ruang karaoke. Dan tahun ini, Linkin Park mengeluarkan album baru bertitel The Hunting Party. Untuk “merayakan” kelahiran album baru mereka, berikut saya countdown 5 album band asal California tersebut yang menurut saya terbaik:

Linkin_park_reanimation5. Reanimation (2002)

Album ini merupakan album remix atau album yang berisi lagu-lagu di Hybrid Theory yang menjadi album pertama mereka, dengan aransemen yang berbeda, lebih “elektronik,” lebih banyak instrumen dan bebunyian unik, dan lebih banyak suara-suara khas yang hampir semuanya diramu oleh DJ Hahn. Sependek pengetahuan saya Shinoda juga turut andil dalam arrange aransemen. Bersama Hahn, Shinoda adalah prosesor yang menjalankan Linkin Park. Dan Hahn sepertinya menunjukkan siapa dirinya di album ini. Ia mengacak-acak lagu Linkin Park di Hybrid Theory menjadi sebuah album dengan lagu-lagu yang tidak lazim kita dengar. Tapi tetap keren dengan kemewahannya sendiri.

Selain lagu-lagu yang lain dari biasanya, terobosan baru saat itu dibuat oleh Linkin Park dengan membuat video klip lagu dari album ini dengan tema animasi. Bila disesuaikan dengan film, mungkin Avatar adalah film yang cocok menggambarkan video klip tersebut. Gambaran robot, perang dalam animasi 3 dimensi yang canggih dan kabarnya juga buatan DJ Hahn membuat album ini menjadi terobosan yang membuka pecinta musik dunia kala itu, bahwa band rock alternative metal tidak melulu membawakan lagu cadas dengan lead guitar sangar. Namun juga diramu dengan sayatan-sayatan DJ dan suara melengking khas Chester.

Dengan judul-judul yang juga dibedakan dari judul aslinya, ditulis dengan gaya yang kalo dipikir kayak alay, haha macam Pts.of.athrty untuk remix Points of Authority, Enth E nd untuk In The End atau PprKut untuk Papercut, membuat album ini sekaligus menjadi “pemanasan” dari keluarnya album kedua mereka Meteora, dan tentunya mengukuhkan Linkin Park sebagai band papan atas.

Ralat: Reanimation ini sebenarnya bukan album murni Linkin Park, melainkan album remix dari lagu-lagu Linkin Park yang diproduseri oleh Mika Shinoda. Album remix ini di compose musiknya oleh para DJ-DJ termasuk DJ Hahn. Terima kasih untuk Mas Roel atas koreksinya.

minutes4. Minutes To Midnight (2007)

Album ini masuk list sebenarnya tidak disangka-sangka. Dengan cover bertema putih, para personil Linkin Park memakai baju hitam yang membuat album ini terlihat kontras di mata. Lahir dengan selang waktu yang cukup lama dari album sebelumnya, sekitar 4 tahun, Linkin Park mampu “mengingatkan” kembali pasar musik dunia dan music fan akan kehebohan album-album mereka dulu. Jangan pikir mereka telah habis disini, justru mereka datang dengan lagu-lagu yang agak lebih sederhana dari biasanya, dengan nuansa rock yang cukup kental dan lagu-lagu menarik yang tentunya berkarakter.

Linkin Park memiliki ciri khas membuka rangkaian lagu di albumnya dengan lagu yang menghentak, dan kali ini Given Up dijadikan andalan. Kemudian Leave Out All The Rest, yang membuat kerinduan fans akan suara Chester terobati. Lagu itu seakan menjadi pembuktian diri kematangan suaranya sebagai vokalis. Tapi tak hanya di lagu itu saja, album ini banyak mengeksplorasi vokal Chester seperti di lagu Shadow of the Day dan What I’ve Done. Lagu yang terakhir juga menjadi soundtrack film fenomenal Michael Bay kala itu, Transformers. Linkin Park menyatukan penggemar musik dengan pecinta film dengan lagu yang sangat cocok dengan film perang antar robot tersebut. Minutes To Midnight terangkat penjualannya sedikit banyak juga karena keberhasilan Transformers.

Beberapa lagu yang menarik dari album ini diantaranya Valentine’s Day. Awal mula terdengar biasa tapi bila didengar lebih jauh terasa sekali lagunya memiliki ciri khas yang berbeda dari lagu-lagu Linkin Park lain dan hanya ada di album ini. Dengar pula In Pieces sebagai lagu terakhir yang cocok bila dibawakan live.

A_Thousand_Suns_Cover23. A Thousand Suns (2010)

Saya sangat menggemari album ini meskipun hadir dalam nuansa gelap dan gloomy. Tampaknya Shinoda dkk mencoba menggarap album dengan karakter alternative rock yang tidak seperti biasanya. Tetap pada pakem vokal Chester yang melengking dengan gaya rap Shinoda ditambah bunyi-bunyian unik yang dihasilkan Hahn, hasilnya muncul album ini yang masuk kategori worth to hear.

Tidak ada lagi lagu menghentak sebagai pembuka. Sebagai gantinya, Burning In The Skies menjadi ballad menarik yang dibawakan dengan apik oleh Chester. Demikian apiknya hingga saya selalu ikut bernyanyi setiap mendengar lagu ini. Linkin Park berhasil menerobos kebiasaan menempatkan track keras untuk pembuka dengan kehadiran lagu ini. Ditambah awalan narasi intro yang dibawakan J. Robert Oppenheimer mengenai perang nuklir. Hmm, apabila kalian menyadari korelasi nuansa gelap album ini dengan perang nuklir, anda mengerti jawabannya.

Album ini merupakan album konsep, dimana Linkin Park coba membuat album dengan konsep tertentu, dan kali ini perang nuklir menjadi tema yang diangkat. Lagu-lagu yang ada di dalamnya berkaitan satu sama lain, oleh karenanya berbeda dari album-album sebelumnya. Nuansa dark sangat terasa di lagu When They Come For Me dengan tabuhan gendang, juga ada Robot Boy yang memiliki nada datar dan “aneh” untuk didengar, namun lekat di telinga.

Lagu jagoan dalam titel Waiting For The End pun meskipun ga sesangar lagu utama Linkin Park biasanya, tetap saya suka dan menjadi andalan untuk berkaraoke haha. Juga jangan lupakan Iridescent yang lagi-lagi menjadi soundtrack Transformers: Dark Of The Moon, kali ini tidak seperti What I’ve Done terdahulu, Iridescent adalah lagu soft yang tetap berkarakter. Ah, The Catalyst juga menjadi lagu jagoan yang aneh. Kenapa? Hingga 5 kali mendengar saya belum bisa menemukan dimana bagusnya lagu tersebut. Sampai semakin terbiasa saya mendengar, saya akhirnya mendapatkan sisi enaknya lagu itu hehe. The Catalyst bahkan menjadi single pembuka album ini.

Dengan alasan-alasan diatas, A Thousand Suns menjadi album underrated yang menurut saya jenius untuk diciptakan Shinoda dan teman-temannya.

Linkin_park_hybrid_theory2. Hybrid Theory (2000)

Inilah album yang membuat nama Linkin Park mengangkasa di awal 2000-an. Saat itu saya mendengar ada band bagus dengan vokalis yang nyanyinya teriak-teriak, dan ada yang ngerap. Itu saja sudah membuat saya tertarik, apalagi di tengah gegap gempita band-band macam Limp Bizkit atau Korn, Linkin Park muncul dengan menawarkan musik baru yang lebih alternatif, lebih kencang dan lebih gahar. Lagu One Step Closer sering diputar di radio, saya masih ingat bagaimana di kepala saya terngiang single pertama mereka itu di bioskop ketika selesai menonton film Dracula 2000. Entah soundtrack resmi atau tidak dari film itu, One Stop Closer membuat saya bertanya pada teman “eh lagu siapa sih ini?” “Oh ini Linkin Park, bro” jawab teman saya kala itu.

Linkin Park. Kemudian saya ingat-ingat nama bandnya dan saya cari kasetnya. Saya menemukan kaset dengan logo album diatas, saya dengarkan ketika sampai rumah, dan selebihnya adalah sejarah.

Hybrid Theory adalah album yang luar biasa. Mulai dari lagu pertama hingga terakhir, semuanya luar biasa. Kencang, ganas dan menunjukkan siapa Linkin Park sebenarnya. Cocok untuk darah mudah saya ketika itu halah. Sayatan piringan DJ Hahn juga membuat jatuh hati. Musik mereka orisinil, seperti diciptakan tanpa dibuat-buat, dan permainan musik mereka layaknya dari hati. Kaset itu menjadi kaset favorit saya. Saya setel di mobil, di walkman, di kamar dan di mana-mana. Papercut sebagai lagu pembuka adalah legenda. Shinoda bagai menunjukkan bahwa kolaborasinya dengan Chester sebagai frontman Linkin Park merupakan perpaduan dahsyat. Formula lagu-lagu Linkin Park secara sederhana adalah: Shinoda ngerap, dan Chester mengguncang reff-nya. Begitu saja pola dasarnya di album ini.

Setelah Papercut mengguncang, berturut-turut One Step Closer, With You dan Points Of Authority. Jangan lupa Crawling. Anak mana yang ga tau lagu Crawling dan video klipnya dulu? Crawling begitu fenomenal, meskipun saya tak begitu suka lagunya hehe. In The End? Selain menjadi lagu wajib karaoke, rap Shinoda di lagu ini luar biasa. Saya suka banget dan terobsesi untuk membawakannya semirip mungkin ketika nyanyi haha. Ah, satu lagi lagu yang keren namun sayang ga dijadikan video klip di album ini, yaitu A Place For My Head. Sekian ulasan Hybrid Theory. Album ini fenomenal.

MeteoraLP1. Meteora (2003)

Dan album terbaik Linkin Park menurut saya adalah Meteora. Album ke-2 ini menjadi album yang memiliki kualitas “setara” dengan Hybrid Theory, namun sedikit unggul dalam kematangan musikalitas dari album pertama mereka. Sudah menjadi suatu kebiasaan band yang sukses di album pertamanya, sangat dinanti kiprah dan karyanya di album kedua dan biasanya mereka memperlihatkan totalitas dan puncak hasil karyanya di album kedua. Adalah suatu pembuktian bila band yang sudah sukses di album pertama, apakah berlanjut di sekuel albumnya. Bisa bagus bisa jelek. Kalau bagus diingat dan jelek dihujat. Dan itu juga yang terjadi pada Linkin Park.

Meteora sangat ditunggu kala itu, dengan single jagoan Somewhere I Belong yang terlebih dahulu wara wiri di radio, membuat fans penasaran akan seperti apa “lanjutan” dari Hybrid Theory. Pilihannya: lebih baik, setara atau bahkan lebih buruk. Dan diluncurkannya Somewhere I Belong merupakan strategi jitu karena lagu itu datang dengan fenomenal, easy listening namun bisa mewakili comeback Linkin Park yang sudah terlanjur harum namanya di blantika musik new metal. Dan ternyata lagu-lagu lainnya di album Meteora ini adalah legenda.

Meteora lebih matang dari Hybrid. Lebih terkonsep dan lebih terukir jelas kemana arah musik mereka. Hentakannya lebih terasa dan bukan lagi menjadi band kemarin sore seperti ketika mereka meluncurkan Hybrid. Masih ingat formula Shinoda ngerap dan Chester nyanyi reff yang saya tulis diatas? Hal itu terulang sempurna di lagu Lying From You. Don’t Stay sebagai lagu pembuka kembali menjadi trademark Linkin Park untuk selalu mengeluarkan album dengan lagu keras dan menghentak, intinya Chester teriak-teriak mulu deh kalau di lagu pertama haha. Easier To Run muncul untuk mengingatkan kita akan keberhasilan Crawling di Hybrid, dengan musik yang lebih lembut. Jangan lupakan Faint, yang video klipnya memorable dengan memperlihatkan point of view para personil Linkin Park ketika sedang manggung menghadap penonton.

Breaking The Habit menjadi lagu favorit saya dengan klip animasi yang bagus dan tempo lagu yang cepat. Juga di album ini ada Nobody’s Listening dengan musik ala Jepang dan ninja, dan akhirnya ditutup oleh Numb yang sering diputar dan juga sangat terkenal di televisi. Dan kemunculan Meteora ini juga menjadi tonggak sejarah dari datangnya mereka untuk pertama kalinya ke Indonesia dan manggung di Pantai Carnaval, Ancol. Itu juga sejarah karena untuk pertama kalinya saya menonton konser dengan tiket seharga 200 ribu rupiah. Tahun 2011 mereka pun sempat datang kembali namun inflasi menggerus harga tiketnya sehingga yang paling murah saja dibandrol 700 ribu haha. Pengalaman menonton Linkin Park langsung di depan mata adalah suatu hal yang tidak bisa dilupakan bagi penggemar musik ingusan seperti saya kali itu haha. Apapun itu, Meteora adalah salah satu album new metal dan alternative rock terbaik di awal 2000-an, dan album terbaik Linkin Park versi saya.

Advertisements
Tagged , , , , , ,

[album review] Love, Lust, Faith and Dreams – Thirty Seconds To Mars

Image

Album yang dinanti-nanti bagi para Echelon (sebutan fans Thirty Seconds To Mars) hadir di tahun 2013 ini. Sebuah album yang woro-woronya sudah lama terdengar di Twitter namun baru akhir-akhir ini keluar single pertamanya yang berjudul Up In The Air. Ternyata, single tersebut hanyalah sebuah teaser dari rangkaian lagu-lagu lain yang bernaung di bawah judul Love, Lust, Faith and Dreams.

Terbentuk sebagai sebuah band yang punya branding bagus dalam hal kemasan album, dari segi art dan juga mencakup video klip yang dilempar ke pasaran, band yang dikomandoi Jared Leto ini menjadi salah satu komoditi band yang dicari di pasar musik Internasional. Tentunya masih ingat di ingatan kita bagaimana kesuksesan This Is War (2009), album yang berhasil meluncurkan Kings And Queens sebagai hit single favorit beberapa tahun lalu, dengan konsep video klip yang lagi-lagi extra-ordinary, dengan menampilkan sepeda-sepeda atau yang biasa disebut biker dengan segala jenis sepedanya. Dan lagu itu bahkan bisa dibilang menjadi theme song kaum pesepeda yang sempat menjamur di Indonesia baru-baru lalu.

Kali ini, album yang mari kita singkat dengan LLFD itu, tampil pula dengan kemasan yang apik. Dengan cover sederhana, hanya berupa titik-titik berbagai warna yang tentunya ada filosofinya (silakan googling sendiri untuk tahu artinya, hehe) dan beberapa lagu yang kita baru tahu apabila telah mendengarkannya.

Di lagu pertama, ada “pancingan” lagu berjudul Birth. Dengan bunyi trombone sebagai intro, sebait lirik dari Jared dan kemudian full music ditambah strings, membuat lagu ini menjadi pilihan terbaik lagu pembuka yang mewakili seluruh album. Well, bisa dibilang bukan merupakan full song sih, tapi dengan mendengar track ini dijamin anda akan dibawa menuju gerbang penuh tanda tanya, sebenarnya apa yang diberikan 30 STM di album kali ini.

Track 2: Conquistador. Cocok untuk full track pertama band asal Los Angeles ini. Dan nampaknya lagu enerjik ini bisa jadi lagu jagoan selanjutnya. “We will, we will rise again” jadi kalimat penegasan mereka untuk eksis kembali tentunya. Dan tahan nafas anda karena lagu ini bakal disambung dengan hit single Up In The Air, yang butuh beberapa kali bagi kita, bahkan bagi kita yang sering mendengar lagu-lagu 30 STM sebelumnya, untuk mencerna. Dan setelah kita dengar berkali-kali, ah lagu itu masuk di telinga! Apalagi bila sembari ditonton klipnya, keren deh.

City of Angels, track selanjutnya dari album ini, menyajikan lagu ballad dengan komposisi synth yang apik dan drum beat khas Shannon Leto. Plus, kehadiran keyboard menambah manis lagu yang tak sulit akrab di telinga ini. Lagu keren!

Kemudian, The Race, menampilkan lagu yang sama seperti album-album terdahulu dan menurut saya kurang begitu istimewa. Dilanjutkan dengan End Of All Days, dimana kita bisa mendengar vokal Jared dengan hanya ditemani piano. Dan sepertinya mereka mulai berbicara hal religius disini. Ah, menarik. Disambung dengan Pyres of Varanasi, satu lagu dengan intro yang bernuansa spooky namun kemudian diiringi strings beserta gumaman bahasa Arab yang memacu detak jantung layaknya di film-film thriller. 30 STM memang piawai dalam memainkan bunyi-bunyian yang megah dan memiliki nuansa orkestrasi.

Ah, sepertinya rangkaian lagu di album ini memiliki beberapa part. Bila anda jeli, anda bisa mendengar suara wanita menyebutkan beberapa part di awal beberapa lagu. Seperti Love, Lust, Faith dan Dreams. Dan di “bab” Faith, dibuka oleh lagu menarik bertitel Bright Lights. Disini kita bisa mendengar alunan nada simple namun tetap catchy dari trio yang pernah tampil di Indonesia tersebut. Perhatikan baik-baik lagu ini dan dijamin anda akan menggemarinya.

Track 9, Do Or Die. Lagu ini juga menarik. Jared mengatakan bahwa album ini adalah album terbaik selama ini dari perjalanan karir mereka, jadi anda akan sering menemukan lagu-lagu dengan tema dan nuansa sama di album ini. Dan menurut saya, hal tersebut adalah perubahan cukup mendasar dari album-album mereka selama ini. Dengan lengkingan kuat Jared, sudah mulai terbentuk pasti karakteristik musik mereka. Disambung dengan Convergence, Northern Lights dan Depuis Le Debut, nikmatilah album yang paling on fire di tahun ini.

Rate: 3,5/5

Tagged , , , ,