Tag Archives: aff cup

Day 14: Live Match(es) Have You Been To

gonzalesfires

Kalo berbicara mana pertandingan yang saya tonton secara langsung, tentu saya akan mengingat pertandingan yang secara empiris berkesan bagi saya. Tentunya pula, pertandingan itu melibatkan keriuhan puluhan ribu suporter yang bersorak tiada henti mendukung salah satu tim yang bertanding. Dan beruntungnya, puluhan ribu orang itu sama mendukung tim yang saya dukung pula. Ya, tim itu adalah Tim Merah Putih, Garuda Indonesia. Apalagi bila pertandingan dilangsungkan di Stadion terbesar kebanggan Indonesia, Gelora Bung Karno. Dan menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi saya sebagai warga negara, pecinta sepakbola, sekaligus pendukung tim nasional Indonesia untuk menonton langsung di stadion bersama puluhan ribu suporter lain.

Well, ketika itu saya menonton hajatan besar sepakbola Asia Tenggara yang dilangsungkan di Indonesia sebagai tuan rumah. AFF Cup, atau yang dahulu bernama Tiger Cup, kompetisi sepakbola paling akbar se Asia Tenggara tengah digelar. Dan ketika itu Indonesia sedang dilanda euforia, karena penampilan timnas sedang bagus-bagusnya.

Garuda tengah berpesta karena penampilan timnas baik sekali di fase grup. Semua lawan dilibas satu persatu, termasuk raja sepakbola Asia Tenggara, Thailand. Faktor tuan rumah tentunya menjadi nilai plus yang membuat penampilan Bambang Pamungkas dkk menggila. Dukungan suporter fanatik Indonesia yang terkenal luar biasa gila bila menyangkut solidaritas mendukung tim nasional, membuat kita patut berbangga menjadi salah satu fans terbaik Asia Tenggara, bahkan mungkin Asia. Berlebihan? Jika kalian pernah datang langsung dan melihat timnas bermain main saat stadion sedang penuh-penuhnya, hal itu nyata dan benar-benar bisa bikin bulu kuduk merinding.

Penampilan ciamik timnas saat itu juga dipengaruhi oleh beberapa amunisi pemain-pemain “baru”. Baru disini artinya Indonesia mulai memperkenalkan pemain naturalisasi, yaitu pemain warga negara lain yang bisa mendapatkan status WNI dengan syarat dan ketentuan tertentu. Yang paling terkenal saat itu adalah Cristian Gonzales yang telah lama malang melintang di blantika sepakbola nasional. El Loco yang lahir di Uruguay akhirnya berhasil membela timnas, meskipun saat itu usianya sudah tidak lagi muda, 34 tahun. Satu lagi pemain keturunan Belanda yang lahir di Indonesia, kalau yang ini bukan lahir dari proses naturalisasi karena ia hanya lama berkelana di luar negeri untuk dipanggil membela Tanah Air. Irfan Haarys Bachdim menjadi idola penonton saat itu, khususnya kaum hawa yang mulai rela datang ke stadion atau hanya menonton lewat layar kaca. Bachdim yang berwajah tampan cukup memukau permainannya dan sempat menorehkan namanya di papan skor.

Singkatnya, Indonesia lolos ke semifinal dan harus berhadapan dengan Filipina. Negeri yang dulu ga ada apa-apanya kalo main bola itu berubah menjadi negara yang tiba-tiba ditakuti di kawasan Asia Tenggara. Yup, apalagi kalo bukan lagi-lagi tentang naturalisasi. Kalo Indonesia lebih banyak mengimpor pemain-pemain keturunan Belanda yang menjadi negara penjajah kita, Filipina banyak menyegel pemain-pemain keturunan Inggris yang bule-bule. Juga karena latar belakang kolonialisasi. Dan mereka menjadi andalan tim yang sebelumnya lebih dikenal sebagai jagonya basket itu. Nama-nama seperti Phil dan James Younghusband bersaudara dan kiper Neil Etheridge tentunya akan diingat terus sebagai bintang kala itu. Dan hal itu pula yang sempat merepotkan Indonesia ketika 2 negara ini bentrok di semifinal. Anehnya, laga yang harusnya dilangsungkan home and away itu secara kebetulan dua-duanya dilangsungkan di GBK, karena seingat saya Filipina tidak memiliki stadion yang layak digunakan untuk partai internasional sekelas AFF Cup. Jadilah Indonesia dan suporternya beruntung karena punya 2 match home.

Meskipun main di kandang dan didukung gemuruh suporter, timnas Garuda kerepotan meladeni permainan Filipina. Di match pertama timnas hanya menang 1-0 dan juga skor serupa terjadi di leg kedua. Ketika itu saya dan teman-teman menonton partai kedua, dan saking sulitnya mendapat tempat karena kepenuhan suporter yang sudah lebih dulu memasuki stadion, kita kebagian di belakang gawang agak serong sebelah kiri. Saya ingat pandangan saya pas di obor besar yang berada di sebelah kiri gawang haha. Ketutupan dan ga enak banget. Mau pindah, tapi keadaan sudah mustahil karena banyaknya manusia.

Dan benar saja, ketika El Loco menjebol gawang Filipina dengan satu tendangan keras kaki kiri yang menghunjam gawang Etheridge, GBK seakan pecah dan tribun di atas seperti hendak mau runtuh. Saya langsung mikir, hebat banget ya konstruksi GBK jaman dahulu ketika dibangun karena bisa menampung sekitar 80 ribu orang lebih. Penonton bersorak dan sungguh, pengalaman menonton pertandingan live di stadion tidak ada yang bisa menggantikan suasananya dibanding nonton di televisi, meskipun ga bisa liat tayangan ulang, hehe.

Sayangnya hingga akhir laga, penonton ga bisa lagi bersorak lompat-lompat merayakan gol-gol lanjutan dari Garuda. Karena skor 1-0 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan. Dengan agregat 2-0 timnas berhasil lolos ke final untuk menantang musuh bebuyutan, Malaysia. Pertandingan yang juga dilangsungkan home and away nantinya itu, menjadi antiklimaks perjalanan timnas di AFF Cup 2010. Ga usah saya ceritakan disini, karena kalian juga sudah ingat hasilnya yang tragis itu.

Itulah salah satu pertandingan yang saya saksikan langsung di stadion. Ada beberapa yang lain misalkan kedatangan Milan Glorie atau pertandingan timnas melawan negara lain. Tapi saya belum pernah lho menonton pertandingan Liga Indonesia. Jika merunut beberapa tahun lalu ketika Liga Indonesia masih saya gemari, mungkin ada niat bagi saya untuk menonton langsung di stadion, bila sudah masuk ke babak penentuan yang (dulu) diadakan di GBK. Namun seiring waktu, makin kemari saya makin tidak mengikuti gegap gempita Liga Indonesia, alhasil saya sudah tidak paham lagi akan sepak terjang liga lokal kita tercinta itu. Dan satu lagi, hal klasik yang membuat rakyat malas untuk datang ke stadion: keamanan. Itu yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah PSSI. Bila masyarakat masih belum ingin datang ke stadion, faktor keamanan dan juga kualitas pertandingan mungkin masih menjadi sorotan. Bila sudah teratasi, saya merindukan suasana penuh stadion dengan anak-anak kecil, perempuan dan keluarga, seperti yang biasa diperlihatkan liga-liga di Eropa dan negara-negara lainnya.

Advertisements
Tagged , , ,