Tag Archives: ac milan

Day 20: Favourite Player From A Team You Dislike

56450620-1450949497-800

Adalah suatu penyesalan yang baru terasa di akhir suatu keputusan, ketika Milan menjual Andrea Pirlo ke Juventus. Memang ga pernah yang namanya penyesalan itu di awal, karena itu namanya pendaftaran *krik* namun yang jelas, keputusan untuk tidak memakai kembali jasa Pirlo menjadi suatu tanda tanya besar bagi kami, para fans, akan kebijakan manajemen Milan dan tanda tanya itu seakan mengendap dan menjadi suatu peninggalan yang luar biasa di era kepelatihan Massimiliano Allegri kala itu.

Pirlo dijual karena waktu itu Milan sedang mengalami euforia akibat menjuarai Scudetto-nya tahun 2011. Kala itu, Pirlo mengalami cedera yang membuatnya harus absen di beberapa pertandingan Milan, dan perannya diluar dugaan tergantikan dengan baik oleh Mark Van Bommel, pemain asal Belanda yang datang di paruh musim kedua. Milan juara, dan Allegri juga manajemen klub merasa bahwa Pirlo sudah bisa tergantikan. Perannya sudah tidak lagi sentral di barisan tengah Milan dan umpan-umpan khasnya sudah mulai terlupakan. Apalagi Allegri pun identik sebagai pelatih yang gemar memainkan pemain-pemain yang bertenaga di lini tengah, bukan lagi gaya stylish khas Pirlo. Pemain bertenaga macam Sulley Muntari dan Van Bommel dijamin mendapat tempat utama di skuad Max. Strategi itu cukup berhasil di awal kepelatihannya, karena secara tidak langsung Milan masih memiliki pemain yang bisa menciptakan perbedaan di diri Zlatan Ibrahimović. Ibra menjadi protagonis dan mampu membuat pemain-pemain lain menunjukkan sisi terbaiknya. Tanyakan hal itu pada Kevin Prince Boateng dan Antonio Nocerino yang seakan gaya permainannya terbantu oleh kehadiran Ibra.

Selain itu, yang membuat Pirlo harus hijrah adalah juga kenyataan bahwa Milan melakukan regenerasi akan pemain-pemain senior mereka. Nama-nama besar seperti Clarence Seedorf, Gennaro Gattuso, Alessandro Nesta dan lainnya, hanya diberikan perpanjangan kontrak 1 tahun, karena kalau tidak begitu Milan akan terus mengandalkan pemain veteran mereka dan akan lupa dengan kata regenerasi yang sangat penting dilakukan oleh sebuah klub yang telah melewati masa keemasannya. Perpanjangan kontrak 1 tahun dilakukan dengan opsi pilihan bagi si pemain, apakah akan menerima kebijakan tersebut atau tidak. Dan nyatanya, Pirlo termasuk dalam golongan pemain yang berkeberatan. Konon, Pirlo merasa masih bisa memberikan andil bagi Milan untuk beberapa tahun ke depan. Ah, mungkin karena cintanya Pirlo terhadap Milan yang sudah dibelanya selama 10 tahun dan memberikan semua gelar. Namun takdir memang harus memisahkan. Allegri dan manajemen Milan telah mengambil keputusan, dan Pirlo hengkang ke Juventus, dan untungnya bukan kembali ke Inter, meskipun saya memiliki feeling kuat kalau Pirlo tidak akan setega itu mengkhianati Milanisti.

Di Juventus, Pirlo menemukan kembali kejayaannya. Alih-alih dikatakan masanya telah habis karena usia. Di umur yang makin menua Pirlo justru hadir sebagai pemain yang kian matang. Penampilannya pun diubah, brewok yang membuatnya hampir mirip Chuck Norris pun menjadi ciri khasnya kini. Penampilan berantakan itu pulalah yang memberikan image makin tua makin jadi pada diri centrocampista bernomor 21 itu. Juventus seperti mendapatkan roh baru, dan merasakan apa yang dirasakan Milan selama 10 tahun belakangan, yaitu kehadiran seorang fantasista di lini tengah. Sudah beberapa tahun berlalu sejak mereka memiliki Zinedine Zidane, tampaknya kini mereka mulai mengalami masa dejavu dengan adanya Pirlo menempati posisi defending midfielder, posisi favorit Pirlo yang ditemukan oleh Carlo Ancelotti, mentornya selama di Milan.

Hadirnya Pirlo menjadi petaka bagi Milan. Agak aneh tadinya melihat Pirlo memakai seragam bercorak putih hitam berduel dengan koleganya sendiri macam Massimo Ambrosini dan Nesta, juga pemain Milan lain. Tapi sungguh hal itu terjadi, dan Milanisti harus membiasakan diri. Alhasil, Juve dibawanya juara liga hingga kurang lebih 3 kali, dan Pirlo semakin mendapat tempat dan hati publik Juventus Stadium. Sementara Milan mengalami masa terpuruknya sepeninggal Zlatan dan Thiago Silva atas nama finansial, juga bintang-bintang seniornya atas nama regenerasi. Di tim nasional Italia, peran Pirlo juga makin tak tergantikan. Cesare Prandelli sebagai pelatih membuat “kesalahan” Milan membuang pemain berharganya itu menjadi sebuah contoh untuk kembali menempatkan Pirlo sebagai jenderal lapangan tengah La Nazionale. Pirlo tetap memimpin timnas dengan gayanya yang flamboyan dan cool. Tengok bagaimana tendangan panenka-nya melegenda ketika Euro 2012 berlangsung. Dan ketika perhelatan Brasil 2014 kemarin pun Pirlo masih menjadi andalan meskipun Italia tidak mampu lolos di fase grup.

Menengok bagaimana dulu peran Pirlo di Milan, ia sempat menjadi pemain idola saya. Mengingat chemistry yang terjalin di antara Pirlo dengan Ancelotti kala itu, sungguh membuat saya semakin memahami arti kehidupan keluarga di Milan, pada era keemasan Milan menguasai Eropa periode 2003 hingga 2007. Pirlo adalah contoh pemain yang bisa dikatakan late-bloomer (atau pemain yang lambat berkembang), karena di awal karirnya hanya menjadi pemain pelapis atau cadangan, namun bisa muncul menjadi pemain yang tak tergantikan. Saya ingat dulu ketika Milan masih dihuni oleh Manuel Rui Costa sebagai centrocampista, Pirlo selalu menjadi bayang-bayang Rui Costa. Pirlo yang semasa di Inter juga menempati posisi yang sama seperti Rui, tidak pernah diberikan kesempatan menggantikan peran pria Portugal tersebut. Sesekali Ancelotti memasang Pirlo bila Rui berhalangan tampil, hingga akhirnya Don Carlo menemukan pattern baru dalam skema permainan yang mengubah sejarah Milan dan juga takdir Pirlo, menjadikannya metronom tim.

Pirlo ditempatkan dalam pola 4-3-2-1 dengan posisi tepat berada di depan empat bek sejajar. Perannya sebagai centrocampista namun agak ditarik ke belakang membuat Milan saat itu menjadi tim yang bisa bermain dengan 4 fantasista sekaligus: Pirlo – Rui Costa – Seedorf – Rivaldo. Ancelotti pun saat itu disebut sebagai jenius karena mampu memadu madankan 4 pemain bertipe penyerang lubang tersebut, posisi yang biasa ditempati mereka di klub terdahulunya. Dan Pirlo makin menikmati perannya menjadi penyeimbang tim. Ia menjadi pemain pertama yang mengalirkan bola dalam skema penyerangan bila bola datang dari belakang, dan menjadi pemain pertama pula yang memutus alur serangan lawan. Di posisi tersebut ia mampu menterjemahkan peran dari seorang gelandang bertahan dan gelandang menyerang. Umpan-umpannya pun akurat, tanyakan pada Andriy Shevchenko maupun Pippo Inzaghi bagaimana mereka dimanjakan oleh bola-bola pemberian Pirlo. Dan perlakuannya pada bola mati, tidak perlu diragukan. Ia menjadi master of free kick hingga kini.

Tak ada yang perlu disesali. Kejayaan sebuah tim sepakbola beserta pemainnya datang dan pergi dan tidak ada yang abadi. Pirlo masih menjadi pemain favorit saya meskipun berada di klub yang tidak saya sukai. Minimal, ia masih menjadi andalan Azzurri, timnas yang juga masih saya gemari.

Advertisements
Tagged , , , , ,