Day 18: Favourite Footballer Bromance

Reus-Gotze-1024x683

Apakah bromance itu? Secara awam saya memandang bromance itu (bahasa slank-nya) adalah sebuah “hubungan” antara sesama jenis, dalam hal ini laki-laki, dimana 2 orang itu memiliki ikatan hati dan chemistry yang tidak biasa dan keintiman yang lebih dari sekedar teman atau sahabat, haha bener ga sih. Pokoknya bahasa yang tidak baku ya kurang lebih seperti itu. Kalau bahasa resmi menurut Wikipedia, bromance adalah a close non-romantic relationship between two (or more) men, a form of affectional or homosocial intimacy. Bromance dapat terjadi di mana saja, dalam persahabatan khususnya. Dan apabila ada pertanyaan siapakah bromance pilihan saya dalam sepakbola, mungkin jawabannya adalah mereka berdua di atas: Mario Götze dan Marco Reus. Götze dan Reus adalah 2 pemain muda yang menjadi andalan, baik di Borussia Dortmund klub mereka saat itu dan juga tim nasional Jerman, dimana mereka berdua adalah rising star timnas.

Keduanya menjadi harapan Dortmund saat klub asal Jerman itu melangkah jauh di Liga Champions, dengan keduanya menjadi protagonis klub berwarna kuning hitam tersebut. Reus yang berposisi sebagai gelandang serang dan piawai pula bermain di sebelah kiri lapangan menjadi pemain yang stylish, dengan kontrol bola menawan dan penyelesaian yang akurat, membuatnya tak sulit untuk menjadi pemain pujaan dan berhasil membawa Dortmund menjuarai Bundesliga musim 2010-11. Sedangkan Götze yang lebih berposisi sebagai gelandang, sangat ahli memberikan assist untuk terciptanya gol-gol dari Reus maupun sang striker asal Polandia, Robert Lewandowski.

Begitu pula di tim nasional Jerman. Kekompakan duo yang berbahaya ini tentunya tak lepas dari pengamatan pelatih kepala timnas, Joachim Löw. Sebagai pelatih yang mengambil alih tongkat kepemimpinan dari tangan Jürgen Klinsmann pasca Piala Dunia 2006, Löw yang sangat percaya dengan kemampuan pemain-pemain muda, lebih mengeksplorasi bakat-bakat luar biasa pemain Jerman yang bermain di kompetisi lokal maupun di luar negeri. Dan radar Löw tak mungkin lepas dari duet Götze – Reus. Keduanya diproyeksikan menjadi andalan timnas Jerman untuk tahun-tahun ke depan, mengingat usia keduanya yang masih sangat muda.

Sayangnya, kisah indah dan chemistry Götze – Reus terganggu dan sirna dengan kepindahan Götze menuju rival abadi Dortmund, Bayern München. Memang sedari dulu, klub yang kini dilatih Josep Guardiola itu dikenal sebagai tim yang gemar mengambil talenta-talenta dari klub sesama mereka, terutama Dortmund. Bahkan setelah sukses membajak Götze, München pun kemudian mengangkut Lewandowski. Dan persetujuan Götze untuk meninggalkan Dortmund, sepertinya membuat Reus kecewa, karena pemilik nomor punggung 11 ini tetap menyatakan kesetiaannya pada publik Westfalen. Entah apa alasan yang membuat Götze pindah, kesempatan untuk menjuarai Liga Champions Eropa karena melihat Muenchen lebih memiliki peluang, atau ada alasan lain dibalik kepindahan itu. Bila alasannya hanya karena peluang juara, sepertinya Dortmund juga merupakan tim yang kuat, bahkan mereka sempat juara sebelum dihentikan München pula di final Champions beberapa tahun lalu. Karena uang? Dunno. Yang jelas duet abadi ini terpisah, dan ini menghancurkan hati Reus dan para fans Dortmund sendiri yang dikenal fanatik mendukung klub favorit mereka. Reus pun terus berjuang membangun Dortmund menjadi tim yang lebih bagus, bersama pemain lain yang masih tersisa. Sedangkan Götze, bersama bintang-bintang Hollywood lainnya (julukan untuk München) yang tentunya lebih memiliki nama mentereng, juga merangkai pengalaman barunya.

Publik seakan sudah melupakan garangnya duet Götze dan Reus hingga suatu saat kembali takdir akan mempertemukan mereka. Yup, perhelatan Piala Dunia 2014 yang diadakan di Brasil beberapa waktu lalu, seharusnya menjadi ajang reuni mereka membela satu panji yang sama, bendera negara. Namun apa mau dikata, takdir berkata lain ketika Reus harus menepi dan melupakan mimpinya bermain untuk tim nasional Jerman akibat cedera parah yang dideritanya ketika membela Die Nationalmannschaft pada partai ujicoba. Dan sedihnya lagi, Reus harus menonton perayaan teman-temannya yang meraih gelar juara pertama bagi negara Eropa di tanah Amerika Selatan. Kehilangan Reus menjadi blunder yang sangat menyedihkan bagi timnas, karena betapapun Der Panzer memiliki skuad yang kedalaman timnya diatas rata-rata, mungkin yang terbaik di dunia saat ini, ketika kualitas pemain inti dan pemain cadangan tak jauh berbeda. Betapapun itu, absennya Reus adalah momen yang kurang bagus bagi pecinta sepakbola, minimal, karena kehilangan peluang menyaksikan aksi salah satu bintang muda dunia.

Apalagi Götze telah menjadi pahlawan Jerman setelah gol tunggalnya mengakhiri perlawanan Argentina dan menghindarkan Jerman dari adu penalti yang tentunya melelahkan dan menguras emosi, ketika pertandingan memasuki extra time babak kedua. Götze yang menjadi pemain termuda dalam sejarah yang mencetak gol di final Piala Dunia, seakan tak lupa memberikan penghormatan kepada rekan setim dan sahabatnya Reus, yang gagal tampil, dengan membentangkan jersey Reus bernomor 21 pada saat penyerahan trofi dan selebrasi di lapangan.

Tagged , , , , , ,

4 thoughts on “Day 18: Favourite Footballer Bromance

  1. ayanapunya says:

    Gotze cakeep. Hihi

  2. welly prazh says:

    Barthez dl juga biasa dicium kepalanya tuh sama rekan setim, duh lupa namanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: