Day 11: Favourite Manager

Carlo Ancelotti

Carlo Ancelotti

Berbicara mengenai pelatih atau manajer sebuah klub, banyak yang sukses mempersembahkan berbagai gelar, tapi sedikit yang bisa konsisten mempersembahkan gelar di beberapa klub berbeda, yang menandakan kemampuan yang baik dalam hal manajerial dan kepelatihan di berbagai klub. Salah satunya adalah ia yang saya pajang gambarnya diatas. Yup, dialah Carlo Ancelotti.

Ancelotti adalah sosok pelatih yang mampu mempersembahkan gelar hampir di semua tim yang ditanganinya. Sukses bersama Milan sebagai pemain di era 80-an, dengan merebut 2 gelar juara Piala Champions tahun 1989-1990, ia mengawali karir kepelatihannya di Reggiana, kemudian pindah ke Parma dan lalu Juventus. Di tiga klub tersebut, Ancelotti belum menemukan sisi kebintangannya sebagai pelatih, hingga ia hijrah ke Milan di tahun 2001. Dan selanjutnya adalah sejarah.

Ancelotti sukses besar di Milan selama 7 tahun karir kepelatihannya. Bersama Rossoneri, ia meraih segalanya dari berbagai gelar di tingkat klub. Mulai dari Serie A, Coppa Italia, Piala Super Italia yang merupakan gelar domestik pernah dicicipinya. Di tingkat Eropa, Liga Champions dipersembahkannya untuk Milan 2 kali, bahkan nyaris 3 kali kalau saja tragedi Istanbul 2005 tidak terjadi. Piala Super Eropa pun diberikannya 2 kali, sementara Piala Dunia Antarklub dimenanginya sekali, hampir 2 kali apabila tahun 2003 tidak kalah dari Boca Juniors.

Milan 2007

Milan 2007

Di Milan pula, prestasi Don Carlo tak hanya di dalam lapangan. Di luar lapangan, ia pun terkenal dekat dengan pemain dan bagaimana ia membangun hubungan yang baik dengan anak buahnya. Ia mampu menjalin komunikasi dengan berbagai golongan usia pemain, baik senior maupun para pemain muda. Banyak pemain-pemain Milan yang kini sudah pada pensiun menaruh respek pada Don Carlo dan menganggap beliau sebagai pelatih yang berjasa akan perkembangan karirnya. Tengok ucapan legenda macam Alessandro Nesta, Paolo Maldini, Gennaro Gattuso, Andrea Pirlo atau Filippo Inzaghi. Juga tak ketinggalan Clarence Seedorf. Tujuh tahun di Milan benar-benar menjadikan Ancelotti dan para pemainnya lebih dari sebuah keluarga.

Namun bukan berarti karir kepelatihan Ancelotti di Milan berjalan mulus-mulus saja. Ketika Milan terpuruk di tangannya pun, banyak kritik dan suara-suara sumbang yang meminta ia dipecat atau diganti oleh pelatih lain. Sudah bosan dan kelamaan, kata mereka. Atau sudah terbaca taktiknya. Mungkin itu pula yang membuat Ancelotti tahun 2009 memutuskan mundur dari Milan dan mencari pengalaman baru di luar Italia. Saat itu, Don Carlo meninggalkan Milan bersama dengan La Bandiera Maldini yang pensiun. Itulah periode dimana Milan membuka era baru kepelatihan dan kepemimpinan. Dan saat itu pulalah Ancelotti membuka lembaran barunya di klub kaya Inggris milik taipan asal Rusia, Roman Abramovich: Chelsea.

Ancelotti diminta Roman untuk membawa Chelsea berjaya di Inggris dan memutus dominasi Manchester United. Dan Ancelotti berhasil memenuhi keinginan miliarder Rusia tersebut dengan mempersembahkan gelar juara Liga Inggris dan Piala FA di musim pertamanya! Gelar juara tersebut menurut saya tidaklah diraih dengan mudah karena Liga Inggris seperti diakui oleh pelatih-pelatih lain, sebagai liga yang paling kompetitif diantara liga-liga unggulan Eropa. Liga Inggris dengan tim-tim yang relatif merata berkompetisi di dalamnya (berbeda dengan yang terjadi di Spanyol atau Jerman dimana dominasi Madrid, Barca, Muenchen begitu besar) adalah suatu reli kompetisi yang panjang dan berat, namun Ancelotti berhasil menaklukan rimba EPL hanya dalam musim pertamanya.

Namun ada satu keinginan Abramovich yang belum (atau tidak) bisa diwujudkan Ancelotti ketika membesut The Blues. Yup, apalagi kalo bukan gelar juara Liga Champions, sesuatu yang sangat diidam-idamkan Abramovich dari pertama kali ia membeli klub biru tersebut. Roman tidak sabar dan Don Carlo dipecat di penghujung musim keduanya karena alasannya tidak bisa mempertahankan gelar juara liga.

Di-PHK Chelsea tak membuat pelatih sekaliber Ancelotti lama mendapat pekerjaan. Klub yang juga kaya dari Prancis, Paris Saint-Germain (PSG) merekrutnya untuk memimpin sebuah revolusi besar dari rencana jangka panjang manajemen PSG membangun tim kuat dengan sokongan dana melimpah yang berakibat datangnya pemain-pemain bintang. Dan benar saja, lagi-lagi di bawah kepemimpinan Ancelotti, PSG berhasil meraih gelar juara Ligue 1 tahun 2012.

The DNA of Champions' manager

The DNA of Champions League’s manager

Nama besar Ancelotti yang makin mengkilap sebagai pelatih papan atas Eropa sampai ke telinga Florentino Perez, Presiden Real Madrid. Madrid frustasi karena gelar yang telah lama diidam-idamkan mereka sejak terakhir kali diraih tahun 2001, yaitu Liga Champions tak kunjung didapat. Bahkan pelatih sekaliber The Special One, Jose Mourinho saja gagal membawa Madrid mengangkat The Big Ears. Dan pilihan setelah Jose jatuh kepada Ancelotti, dengan DNA Champions nya Don Carlo diharapkan mampu membawa Madrid meraih La Decima atau gelar ke-10 Champions klub ibukota tersebut.

Dan benar saja, lagi-lagi tak butuh waktu lama bagi Carletto untuk mengetahui seluk beluk Madrid, dengan modal para pemain bintang yang bertebaran di setiap sisi skuad, juga 2 pemain termahal dunia posisi 1 dan 2 dalam diri Gareth Bale dan Cristiano Ronaldo, pun performa Cristiano yang sedang naik daun dengan gelar Ballon d’Or nya, membuat langkah Carletto dalam misinya memburu La Decima terbantu dengan baik. Kereta berjalan cepat. Akhirnya di partai puncak lewat sebuah perjuangan heroik Atletico Madrid bisa dikalahkan setelah sempat tertinggal lebih dahulu, dan disitulah DNA Ancelotti terbukti.

Saya sebagai pendukung Milan tidak keberatan bila mendukung langkah Carletto di setiap tim yang dilatihnya. Well bukan yang tiba-tiba menjadi fans klub yang dilatih Carletto, namun saya mendukung Don Carlo berprestasi dimanapun ia berada, karena sebagai Milanisti, ia telah memberikan banyak untuk klub, disamping ia juga mantan punggawa klub saat era keemasan The Dream Team. Tapi ga tau ya kalo tetiba doi ngelatih Inter atau Juventus haha.. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi. Kalau Roma sih ga jadi masalah ya. Roma adalah tim yang pernah dibela Ancelotti di ranah Italia sebelum bermain untuk Milan, dan ia pun sempat mengatakan memiliki obsesi melatih Roma untuk menambah daftar Curriculum Vitae nya.

Advertisements
Tagged , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: