Day 10: If You were the Manager of your Fav Club, What Would You Change in Terms of Starting Team, Tactics, etc.

Clarence Seedorf

Clarence Seedorf

Oke, gelaran liga telah usai dan saya mendapati Milan telah menyelesaikan perjalanannya di Serie A dengan menduduki peringkat ke-8, yang artinya Milan tidak mendapat jatah sama sekali ke kompetisi Eropa, baik itu yang namanya Liga Europa sekalipun. Ini adalah hal yang tidak lazim untuk didapatkan oleh tim sebesar Milan namun sebaliknya ini adalah sebuah keniscayaan menyusul musim yang dilalui dengan tidak bagus.

Dua pelatih telah berganti bagi Milan musim ini dan mereka telah menunjukkan effort terbaik mereka namun tetap saja Milan harus bersusah payah merangsek ke papan atas setelah sebelumnya sempat tipis berada di atas zona degradasi. Baik itu Max Allegri sebagai pelatih pertama yang membawa Milan hingga pertengahan musim, dengan kondisi yang sedikit hancur, atau Clarence Seedorf sebagai suksesornya yang coba mengembalikan jiwa permainan Milan sebagai tim besar, meskipun pada akhirnya hanya mampu mencapai papan tengah klasemen.

Dan kini pertanyaannya adalah apabila saya menjadi pelatih tim, apa yang akan saya bawa atau saya rubah, menyangkut taktik atau starting eleven Milan, tanpa menyinggung bursa transfer atau pembelian penjualan pemain, apakah saya sependapat dengan Allegri atau Seedorf, atau ada pilihan lain bagi saya menyangkut taktik atau komposisi pemain, mari kita bahas.

Seedorf terus terang membawa perubahan bagi Milan pasca hancur-hancuran ditangani Allegri. Seberapapun gagal nya Seedorf menurut jajaran manajemen Milan sehingga harus menerima pemecatan, harus diakui dengan jiwa yang besar bahwa legenda Milan dan Belanda itu sedikit demi sedikit telah memperbaiki sisi psikologis pemain Milan dan itu juga berimbas kepada gaya dan pola bermain. Memang waktu yang diberikan kepada Seedorf bisa dibilang singkat. Menurut saya apabila ingin menilai objektifitas kinerja Seedorf benar-benar bagus atau tidak, cobalah diberikan waktu 1 musim dari awal, dengan materi pemain yang sesuai dengan keinginannya. Tapi manajemen Milan punya pikiran berbeda dan sepakat untuk memberikan tongkat estafet kepelatihan pada legenda lain, Filippo Inzaghi.

Seedorf datang di pertengahan musim dengan tambahan pemain baru Milan seperti Keisuke Honda, Adil Rami serta Adel Taarabt. Ini menjadi amunisi yang lumayan karena Milan memang kekurangan pemain berkualitas masing-masing di barisan belakang dan tengah. Rami adalah bek tangguh berpostur besar asal Prancis yang cukup bagus bermain di central back, bila diduetkan dengan Philippe Mexes atau Cristian Zapata. Taarabt adalah pemain tengah yang memiliki skill jempolan layaknya orang Brasil yang berlari cepat dan menusuk lewat sayap. Sedangkan Honda adalah samurai Jepang yang bisa menjadi trequartista bermain di belakang 2 penyerang. Belum lagi ditambah kembalinya Kaka dari Real Madrid, meskipun masa keemasannya telah jauh berlalu, kembalinya mantan pujaan Milan tersebut cukup membuat fans menaruh keyakinan akan terulangnya kesuksesan Milan dahulu.

Dari starting eleven, sepertinya saya tak akan melakukan banyak perubahan. Christian Abbiati tetap pada posisi penjaga gawang, meskipun sebenarnya saya ingin banyak memberikan kesempatan kepada Gabriel. Di barisan pertahanan, Ignazio Abate dan Mattia De Sciglio tak akan tergoyahkan dari posisi dua bek sayap kanan dan kiri. Di tengah, duet Rami dan Mexes patut dikedepankan, dengan Zapata sebagai pelapis salah satunya. Barisan tengah masih dikomandoi Nigel De Jong sebagai defensive midfielder, dan ini yang sulit sebenarnya.. Dengan pilihan 2 gelandang kreatif yang masing-masing bisa dijadikan trequrtista pada diri Kaka dan Honda, agak gambling sepertinya untuk menaruh salah satu dari mereka diluar posisi yang biasa mereka mainkan, atau malah menjadi mubazir bila membangkucadangkan salah satunya. Mengingat Honda selama ini tidak berkembang bila ditaruh Seedorf di posisi kanan, maka menempatkan ia di habitat aslinya sebagai penyerang lubang mungkin menjadi pemecah kebuntuan selama ini.

Kaka and Keisuke Honda

Kaka and Keisuke Honda

Sekarang tinggal di posisi kiri-kanan. Oh ya, formasi yang saya gunakan adalah 4-2-3-1. Atau bisa berubah menjadi 4-3-1-2 apabila Stephan El Shaarawy pulih dari cedera. Kita anggap Il Faraone belum reguler bermain, jadi saya akan menempatkan Mario Balotelli sendirian di depan sebagai target man. Posisi kedua lini tengah di depan 4 bek sejajar bisa menjadi milik kapten Riccardo Montolivo atau, apabila saya ingin Milan tampil lebih bertenaga dan tidak mudah kehilangan bola di lini tengah, maka saya akan menggeser Monty melebar ke arah kanan, kemudian menempatkan Sulley Muntari sebagai pihak yang menemani De Jong di posisi gelandang bertahan. Namun sepertinya hal tersebut menjadi opsi kedua karena tim butuh gelandang kreatif pada diri Montolivo yang bisa memberikan umpan dari zona lebih jauh ke tengah.

Lalu dimana posisi Kaka? Gelandang elegan itu mau tak mau harus berada di 2 posisi tersisa yaitu kanan atau kiri di barisan tengah. Memang hal ini bukanlah posisi optimal pemain Brasil tersebut, namun saya pikir Kaka masih lebih bisa beradaptasi untuk digeser lebih ke pinggir dibanding Honda, untuk menyisir dari sisi lapangan dan memberikan umpan ke depan. Baik di posisi kanan atau kiri, Kaka dan Taarabt akan bahu membahu membantu penyerangan dari sisi lapangan.

Hal ini  sekali lagi, bisa berubah dengan kehadiran El Sha. Bila El Sha fit dan siap bermain, adalah suatu formasi ideal menempatkannya berduet dengan Super Mario, dan apabila hal ini menjadi pilihan pada format 4-3-1-2 maka penyerang lubang ideal ada pada diri Kaka. Trio Kaka – El Sha – Balo jika berada di form terbaiknya akan cukup menakutkan dan menebar ancaman bagi lawan. Ketika trisula depan telah ditentukan, maka trio lini tengah saya jatuhkan pilihan pada De Jong, Montolivo dan Taarabt atau Muntari.

Memang apabila diteliti lebih jauh, skuad Milan yang ada kini masih harus bekerja keras bila berhadapan dengan klub yang memiliki kedalaman skuad yang bagus macam Barcelona, Bayern Muenchen, Madrid ataupun Manchester City. Namun dengan komposisi pemain yang pas, dan dengan tambahan pemain yang tepat pada posisinya sebagai pelapis, maka Milan masih bisa bersaing, minimal di kompetisi lokal.

Dan hal itu sebenarnya tidak menjadi masalah, dalam hal ini saya sependapat dengan pola pikir Seedorf dibanding Allegri, dimana Seedorf telah memberanikan diri mencoba pemain-pemain muda macam Riccardo Saponara, Bryan Cristante ataupun memanggil kembali striker Andrea Petagna yang dipinjamkan ke Sampdoria. Seperti kita ketahui bersama bahwa Allegri agak anti dengan pemain muda, dan hal ini menurut saya bukan suatu pertanda bagus mengingat Milan saat ini harus lebih memperhatikan pembinaan pemain-pemain mudanya, dengan diantaranya memberikan kesempatan bermain yang lebih banyak. Milan mungkin masih harus kembali membangun era kejayaan dan dalam waktu 3-4 tahun ini agaknya harus melupakan peluang kembali berjaya di Eropa (mengingat kondisi keuangan saat ini, kecuali bila dan jor-joran disiapkan untuk membeli pemain bintang), dengan fokus membina dan mematangkan pemain muda yang diharapkan bersinar beberapa tahun ke depan.

Advertisements
Tagged , , ,

2 thoughts on “Day 10: If You were the Manager of your Fav Club, What Would You Change in Terms of Starting Team, Tactics, etc.

  1. ayanapunya says:

    Semoga musim depan inzhagi bisa membawa kebaikan bagi milan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: