Day 8: Five Things You Hate About Football

Selain 5 hal yang saya suka dari sepakbola yang sudah saya ceritakan kemarin, hari ini giliran 5 hal yang saya tidak suka atau saya benci dari sepakbola. Jadi selain sepakbola menimbulkan hal-hal yang disukai, sepakbola pun bisa memicu sesuatu yang tidak disuka. Tapi setidak sukanya saya terhadap hal-hal yang mengganggu, tetap rasa cinta terhadap olahraga satu ini tak pernah padam, halah. Inilah yang dinamakan cinta. Oke deh daripada ngelantur langsung aja kita simak hal-hal tersebut. Apakah itu? Inilah diantaranya:

Belanda saat kalah dari Spanyol di Final Piala Dunia 2010.

Belanda saat kalah dari Spanyol di Final Piala Dunia 2010.

1. The Defeats

Yup, kekalahan. Memang dalam berkompetisi, kalah dan menang adalah sesuatu yang tak bisa dihindarkan dan menjadi satu bagian dari permainan sepakbola itu sendiri. Kalo ga menang ya kalah, kalo ga kalah ya menang. Itu aja yang bisa dipilih, bila kita mengindahkan hasil imbang atau seri atau draw. Kalo anda ingin berkompetisi, ya harus siap menang siap kalah. Jangan maunya menang doang tapi kalah ga mau. Karena orang ga ada yang mau kalah dan ga mau menang. Itu yang harus ditanamkan ke dalam hati setiap kesebelasan atau tim yang ingin bertanding di lapangan hijau.

Namun tetap, kekalahan dalam sepakbola itu memang menyakitkan. Apalagi bila terjadi di partai penentuan atau partai final. Lagi-lagi saya mengambil contoh Final Champions 2005 yang kekalahannya itu sakitnya disini *sambil megang dada*. Atau kekalahan lain macam kekalahan dalam derby, atau kekalahan yang membuat peluang juara tim kesayangan kita menipis, atau poinnya jadi bisa disalip tim lain dan sebagainya.

Belum lagi bila kekalahan disebabkan oleh adu penalti, itu juga sakit. Karena menurut saya adu penalti atau tos-tosan itu murni keberuntungan atau nasib sial. Hanya beberapa persen yang ditentukan oleh skill penendang dalam menendang atau skill kiper dalam menahan tendangan. Sisanya? Yang paling banyak ya hoki.

Adu penalti sakit? Tunggu dulu. Anda mungkin belum pernah ngerasain tim kesayangannya kalah karena golden goal. Haha, yup peraturan golden goal sekarang sudah tidak lagi dimainkan dalam menentukan seorang pemenang, karena golden goal ini memang sadis dan tega. Kalo menurut saya lebih sadis dari adu penalti. Tanyakan pada Italia yang harus pulang kandang setelah dikandaskan golden goal Korea Selatan di World Cup 2002, atau Italia (lagi) yang harus gagal menjuarai Piala Eropa 2000 setelah di final tumbang oleh golden goal Prancis.

Apapun bentuk dan namanya, sekali lagi kekalahan memang menjadi hal yang harus dihindari bagi mereka yang ingin berprestasi dalam sebuah pertandingan sepakbola.

"Polisi huru hara" suporter sepakbola

“Polisi huru hara” suporter sepakbola

2. Supporters’ Riot

Ini salah satu yang menjadi momok menakutkan bagi mereka-mereka yang ingin menikmati dengan datang langsung menonton pertandingan di stadion. Sebenarnya menonton di stadion tingkat keseruannya berlipat-lipat dibanding nonton di layar kaca segede apapun. Tapi bila mendengar 1 kata inilah orang jadi males ke stadion. Yup, kata itu adalah “kerusuhan.”

Kerusuhan adalah asap yang pasti didahului api sebagai penyebabnya. Api nya bisa macam-macam, bisa kekalahan dimana pihak yang kalah tidak menerima, atau juga kepemimpinan wasit yang buruk, itu juga bisa menjadi pemicu. Bahkan perselisihan antar suporter dengan modus awal saling meledek dan sebagainya bisa memicu kerusuhan. Dan hal tersebut terjadi di dalam maupun di luar lapangan. Tidak usah jauh-jauh kalo mau liat kerusuhan dalam sepakbola, karena Indonesia adalah gudangnya haha. Di Indonesia, apa-apa bisa jadi kerusuhan. Perkelahian antar suporter pun ga kalah dengan yang terjadi di luar negeri. Malah menurut saya lebih banyakan perkelahian suporter Indonesia dibanding di luar.

Itu yang menyebabkan banyak orang-orang malas untuk datang langsung ke stadion melihat tim kesayangannya bermain. Oke disini kita berbicara Liga Indonesia, soalnya kalo yang main tim nasional atau tim asing, kerusuhan relatif bisa diredam. Kenapa malas? Karena ya itu, takut kerusuhan. Meskipun di kota-kota besar (terutama Jakarta) hal tersebut sudah sedikit berkurang, namun telah menjadi stigma bahwa sepakbola Indonesia isinya ribut melulu.

Sehingga jarang kita lihat pemandangan keluarga yang menonton bola di stadion, atau ayah yang membawa anak-anaknya seperti yang kita lihat di stadion luar negeri. Ini mungkin yang masih menjadi pe-er PSSI dan pemerintah, bagaimana ke depannya mampu menciptakan atmosfir sepakbola yang damai, aman dan nyaman bagi seluruh warga negara tua dan muda, tanpa takut dibayangi kerusuhan.

Gambar nyomot dari Google.

Gambar nyomot dari Google.

3. Midnight Live Broadcast

Kalo yang ini, kayaknya hanya berlaku buat gw deh di era-era midlife crisis haha. Maksudnya gini, seperti kita ketahui bersama bahwa siaran sepakbola di negara-negara Asia dan sekitarnya (khususnya Indonesia) pasti dapat giliran tengah malam atau dinihari bila berhadapan dengan siarang langsung mereka yang bermain di Eropa atau Amerika. Singkatnya, nonton bola itu pasti identik dengan begadang di malam hari sampe pagi, dan paginya pasti kesiangan nahan kantuk belepotan di kantor, hehe.

Itulah yang kadang bikin saya kesel. Emang sih kalo yang namanya nonton bola itu seninya adalah begadang. Apalagi bila menyangkut turnamen-turnamen besar macam Piala Dunia atau Liga Champions, kalo ga begadang ya agak aneh. Jadi ingat ketika World Cup dilangsungkan di Korea Jepang yang selisih waktunya hanya 1-2 jam dengan Indo, ya jadinya nonton bola siang-siang atau paling malem jam 7 haha, aneh bukan?

Tapi bila dikaitkan dengan kondisi saya sekarang.. Saya udah ga kuat begadang! Haha. Kalo ditarik kembali waktu 5-6 tahun lalu, mungkin saya masih seger buat begadang dan masih fit lahir batin buat nunggu bola semaleman bahkan ga tidur. Tapi kalo sekarang? Boro-boro. Tidur di awal dengan memasang weker selalu berakhir dengan kebablasan, alias weker tak terdengar. Mau begadang ga tidur sampe bola mulai? Setengah babak atau paling pol babak kedua lebih dikit paling juga ketiduran haha.

Begitulah, mungkin karena pengaruh aktifitas yang makin dewasa makin padat, kita jadi ringkih seperti ini daya tahannya *alasan*. Intinya adalah, saya udah ga kuat lagi begadang dan mulai jadi agak sedikit mengeluh bila ada pertandingan-pertandingan seru yang mulai main dini hari. Jadi, apa kabar Piala Dunia nih nanti? Haha.

Tiziano Crudelli, salah satu komentator/host di televisi Italia

Tiziano Crudelli, salah satu komentator/host di televisi Italia

4. Bad Commentators

Salah satu hal yang bikin ilfil lagi atau yang saya ga suka lagi di sepakbola adalah ketika siaran pertandingan berlangsung, khususnya bagi kita-kita yang menonton via televisi, karena artinya kita-kita para pemirsa dekat sekali dengan yang namanya komentator atau cuap-cuap sepanjang siaran pertandingan. Komentator ini bagai 2 sisi mata uang, di satu sisi menjadi suatu hal yang penting keberadaannya dalam sebuah siaran, namun di sisi lain bisa menjadi bumerang karena kadang komentatornya nyebelin.

Komentator nyebelin bisa dikategorikan misalnya komentator yang sotoy, atau komentator bawel, atau komentator yang ga bisa membawakan siaran pertandingan. Sotoy maksudnya si komentator sok tau. Okelah mereka memiliki data yang berkaitan dengan pertandingan. Namun ketika mulai berbicara mengenai strategi pelatih, atau apa yang harusnya dilakukan oleh si pelatih ini pada babak kedua (biasanya pertanyaan ini mulai dilontarkan host pas jeda babak pertama), nah disini si komentator kadang mulai mengeluarkan jurus ke-sotoy-annya. Well tak bisa disalahkan memang komentator itu senjata utamanya adalah sotoy, tapi kadang saya yang ngedengernya jadi males, hehe.

Komentator bawel adalah mereka yang diundang tapi ngoceh terus. Well sekali lagi kalo ga bawel ya ga mungkin diundang jadi komentator haha. Tapi plis deh, mereka yang terlalu bawel justru malah membuat saya malas untuk nonton acara talkshow sebelum pertandingan dimulai. Pernah suatu hari saking malesnya denger ocehan meraka, saya ganti channel setiap acara talkshow komentator.

Yang terakhir, komentator yang ga bisa membawakan “commentary” ketika pertandingan berjalan. Ini makanya, kenapa nonton bola enakan langsung denger commentary dalam bahasa Inggris dibanding dalam bahasa Indonesia yang dibawakan host/komentator hehe.

Tapi ada juga kok komentator yang saya suka dan saya tunggu kehadirannya. Mereka diantaranya Bung Towel, Hardimen Koto dan Bung Kusnaeni. Atau Tiziano Crudelli, seperti gambar diatas. Crudelli adalah komentator resmi di Milan Channel sepertinya. Dan Crudelli pasti heboh setiap membawakan commentary pertandingan Milan. Apalagi kalo Milan ngegolin, coba deh liat sekali-kali di YouTube. Crudelli menjadi contoh bagus dari komentator yang ditunggu-tunggu kehadirannya.

Byron Moreno

Byron Moreno

5. Bad Referees

Yang ini, bisa menjadi pemicu tingkat kekesalan saya terhadap sepakbola, apalagi bila menyangkut tim kesukaan yang menjadi korban. Yup, beberapa kali tim kesayangan saya dirugikan oleh kepemimpinan wasit bedebah. Memang kesalahan wasit tak bisa dilepaskan dari sepakbola, dan sudah satu paket dengan seni permainan itu sendiri. Namun, kadang bila berbenturan dengan tim jagoan kita yang sedang bermain, itu lain cerita.

Tercatat beberapa pertandingan diantaranya Korea vs Italia di perdelapan final Piala Dunia 2002, itu salah satu contoh. Bagaimana kepemimpinan wasit Byron Moreno (Ekuador) yang sangat buruk dan merugikan Azzurri, dimana lagi itu dia mengeluarkan Francesco Totti.

Atau yang ini, masih ingat kan sama gol Frank Lampard di Piala Dunia 2010 ketika Inggris melawan Jerman? Saat itu Inggris tertinggal dan butuh gol untuk menaikkan moral mereka. Namun Jorge Larrionda (Uruguay) memupuskan harapan hooligans ketika secara mengejutkan menganulir gol Lampard yang sudah jelas melewati garis gawang Manuel Neuer.

Banyak lagi sebenarnya kalo mau dicari. Namun 2 insiden diatas cukup untuk menggambarkan betapa kepemimpinan wasit bisa membuat sepakbola menjadi tidak indah lagi untuk dinikmati, hehe.

Advertisements
Tagged , ,

2 thoughts on “Day 8: Five Things You Hate About Football

  1. Reny Payus says:

    setuju deh sama loe, terutama bagian Goalnya Lampard. Masih sakit ati ampe sekarang bokkk =))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: