Day 1: Team Do You Support

milan

Milan ketika menjuarai UEFA Champions League, Athena 2007

Oke, marilah kita mulai “30 Days Of” atau yang biasa disebut MEME dengan hari pertama yaitu: Team Do You Support. Tim yang saya dukung, tim yang saya sukai, tim yang saya gemari. Yup, kalo ditanya seperti itu ya gampang jawabnya. Rata-rata semua orang udah pada tau, yaitu saya suka Associazione Calcio Milan atau biasa dikenal dengan AC Milan. Milan, kalo lebih singkatnya. Tim yang berdiri tahun 1899 ini adalah satu dari 2 tim yang bermarkas di kota Milan, Italia. Satunya itu namanya Internazionale (Inter), yang tenar dengan warna biru. Milan sendiri memakai warna kebesaran merah.

Kenapa saya suka dan mendukung sekali Milan? Oke mari kita mulai bercerita singkat. Pertama-tama, awal perkenalan saya dengan sepakbola adalah di tahun 1994 – 1996, dimana saat itu saya masih SD dan berusia kurang lebih 9 tahun. Dan kita ketahui bersama bahwa tahun itu adalah tahunnya Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat (AS). Ketika itu saya nonton Piala Dunia di TV pagi dan siang hari, karena waktu AS bila dikonversikan ke Indo jadi pagi dan siang hari, beberapa dini hari. Piala Dunia ’94 adalah awal mula saya mengenal sepakbola, kemudian dilanjut dengan Piala Eropa 1996 di Inggris.

Euro ’96 menjadi pintu gerbang yang makin mentasbihkan saya sebagai penggemar bal-balan, dan juga mengenalkan saya pada tim nasional Inggris. Oke Inggris ada sendiri bahasannya bukan disini, hehe. Dan pada masa-masa itu pula saya mulai mengenal Milan, dari siapa? Dari ayah (bokap) saya. Bokap adalah orang yang paling berjasa membuat saya mencintai Milan. Karena dulu bokap hampir selalu mengajak nonton, membangunkan tengah malam, kalo Milan main di TV, kala itu RCTI yang masih nayangin Liga Italia Serie A. Kenapa bisa seperti itu? Karena bokap adalah penggemar Ruud Gullit dan tim nasional Belanda. Dulu, ketika Milan masih mendominasi Italia dan Eropa dengan predikat The Dream Team-nya, Trio Belanda Gullit – Marco Van Basten – Frank Rijkaard menjadi 3 aktor utama rezim kala itu. Dan saat itu siapa sih yang tidak takut bila berhadapan dengan Milan? Well, mungkin bila dianalogikan masa kini, seperti era Barcelona jaman keemasan Guardiola kali ya? Atau mungkin Real Madrid ketika dijuluki Los Galacticos. Tapi sebenarnya sih tidak, karena Milan dahulu bukanlah tim dengan uang berlimpah dan pemain mahal berseliweran, tapi lebih kepada tim dengan pemain-pemain tepat dan penting pada posisinya, mengingat jaman dulu uang dalam transfer sepakbola tidak digelontorkan seperti sekarang.

Layaknya bayi kucing yang baru lahir kemudian mencari kehangatan induknya, itulah yang terjadi pada saya. Begitu “melek” sepakbola, langsung saya dikenalkan dengan Milan. Dan mau tidak mau, secara alamiah, naturally saya semakin terbiasa dengan baju merah hitam, permainan Milan era Arrigo Sacchi dan Fabio Capello, juga secara naluriah pun, saya jadi mendukung sepak terjang Milan. Saya masih ingat ketika Final Piala Champions tahun 1995, ketika itu Milan harus bentrok dengan Ajax Amsterdam di final, dan disitulah awal mula saya mulai mengekspresikan bentuk dukungan secara riil kepada Milan. Sayang sekali ketika itu gol tunggal Patrick Kluivert membawa Ajax menjuarai kompetisi nomor 1 Eropa tersebut. Tapi meskipun kalah, itu adalah awal mula saya memiliki ikatan batin dengan Milan.

milanajax

Ajax vs Milan, 1995

Setelah itu, selebihnya sejarah. Dari periode 90-an hingga kini, Milan selalu di hati dan tak (akan) ada tim lain yang saya dukung dengan hati dan cinta selain Milan. Oh ya, saya dulu sempat suka Newcastle United di Liga Inggris, ketika saya baru pertama kali kenal sepakbola juga. Tapi itu ga bertahan lama. Luntur seiring berjalannya waktu. Saya tak punya jago lagi, baik di Liga Inggris atau di liga-liga belahan Eropa (dunia) lain, selain Milan. Seperti misalnya, saya kadang malas nonton pertandingan yang mempertemukan tim lain selain Milan, kecuali mungkin partai-partai penting seperti misalnya final kompetisi Eropa. Mendukung Milan juga menandakan saya bukan “glory hunter”, atau mereka yang mendukung suatu tim karena sedang bagus atau naik daun. Ya ga usah disebutkan disini lah ya misalnya apa, haha. In good times and bad times, always Milan always with you. Ah, bahasa Italia nya saya lupa haha. Pokoknya, meskipun Milan turun kasta ke Serie B pun, niscaya cinta dan dukungan saya tak pernah luntur. Tapi amit-amit dah kalo sampe degradasi *ketok meja 3 kali*.

Itulah mungkin yang namanya cinta kali. Udah ga mandang lagi baik atau buruk, cakep jelek, menang kalah, terbang tenggelam, naik daun atau terpuruk, kaya miskin. Begitulah, mudah-mudahan cinta saya kepada Milan ini sama nantinya bila dianalogikan dengan cinta saya kepada istri dan keluarga kelak, haha. Lucunya kalo lagi lebay, saya punya niat ngasih nama anak saya nanti dengan ada unsur-unsur Milan nya. Padahal saya selalu ngeledek kalo ada anak dinamain dengan nama pemain sepakbola, haha.

Mendukung Milan, bisa pula diibaratkan seperti agama. Ups, jangan salah sangka dulu. Maksudnya, saya memeluk agama Islam karena turunan orang tua. Dan saya “memeluk” tim kesayangan juga karena turunan orang tua (bokap). Saya sangat bersyukur akan keduanya, dan saya berharap apa yang telah saya dapatkan dari keturunan ini akan abadi hingga akhir hayat, hehe.

Advertisements
Tagged , , ,

8 thoughts on “Day 1: Team Do You Support

  1. anchaanwar says:

    HIDUP INTERRRRR!!! 😀

  2. hensamfamily says:

    Olala Bim, meme lagi??? Taruhan…bakal bertahan sampe hari ke berapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: