All The People.. Well, here’s your lucky day! (a review of BLUR Live in Jakarta 2013)

welcoming the God of Britpop

welcoming the God of Britpop

Perhatian: Tulisan ini bakal panjang.

Well, ini saya masih bermimpi. Saya masih ga bisa move on dari kenyataan, bahwa apa yang saya alami semalam benar-benar luar biasa. Amazing! It’s the best live music show i have ever had. Thanks Blur, kalian memang benar-benar bikin mimpi saya jadi nyata dan menyuguhkan world class music di depan mata dan benar-benar experience yang sampe sekarang susah tergantikan. Oh well, mungkin Coldplay atau U2 bisa bikin pengalaman konser saya menakjubkan juga. Tapi kalian, Blur, sukses bikin saya terbengong-bengong ga karuan. I was flying high on the sky last night.

Mungkin bagi kalian yang berteman sama saya di Twitter, BBM ataupun social media lain sudah mengetahui bahwa saya excited sekali Blur mau datang ke Indo. Yep, Blur adalah dewa britpop dan menggelegar sekali namanya ketika saya SMP. Blur dan Oasis. Itulah dia, dua band yang menjadi inspirasi saya dahulu ketika SMP. Band yang lagu-lagunya sering saya nyanyiin pake gitar dan saya kulik chordnya. Saya beli kasetnya dan saya dengar hampir setiap hari di tape milik abang saya dan di Walkman merk Aiwa. Band yang harus saya tonton karena alasannya pernah saya tulis disini. Dan saya memang benar-benar harus nonton. Harus.

Dan ketika saya cari teman-teman saya ga ada yang punya rencana nonton Blur, the show must go on. Saya tahu pasti garing nonton sendiri. Cuma saya tekankan lagi, saya nonton for a sake of good music, and good soul. Jadilah saya nonton sendiri, dan saya berterimakasih pula kepada Ouval Research yang telah memberikan harga presale, dikala harga jual tiketnya sudah normal price yang tentunya mahal. Oke, saya bersiap menonton Blur. Persiapan saya adalah:

1. Karena saya ternyata ga punya outfit Blur, maka saya membeli kaos Blur di Twitter.

2. Mendengarkan lagu Blur dan The Temper Trap all album lewat iPod, waktu mendengarkannya adalah setiap perjalanan pulang pergi ke kantor.

3. Udah.

Well, begitulah persiapan saya. Dan satu lagi, bersiap merencanakan rundown jam berapa dari kantor, menuju venue dan mau parkir motor dimana. Syukurlah di kantor sedang tidak banyak kerjaan, jadi selepas Ashar saya langsung meluncur ke Senayan dan parkir di halaman parkir motor Lapangan D.

Setelah menemukan tempat parkir yang pewe dan cukup dekat menuju gate, saya segera menukar kwitansi pembelian tiket saya dengan tiket asli di tempat yang telah ditentukan. Sore itu sekitar pukul 17.00 keadaan sudah berangsur ramai. Setelah menukar tiket, saya mulai berjalan masuk gate dengan segala pemeriksaan tiket serta barang-barang bawaan. Dan sekejap masuklah saya di venue.

image (1)Ternyata, sebelum ke main stage ada tempat untuk segala merchandise, food and beverages, dan satu panggung yang bertitel Telkomsel Stage. Disana ternyata akan manggung 2 band alternative cadas lokal, yaitu Morfem dan The Brandals. Menarik! Secara saya belum pernah melihat performance keduanya. Oke dari info yang saya dapat mereka tampil bergiliran masing-masing jam 6 dan 7, dan mereka bertugas mengisi kekosongan dari artis-artis main stage macam Van She, Tegan And Sara dan The Temper Trap.

Akhirnya saya mencoba masuk ke Lapangan D dimana main stage dengan gagah berdiri dan disana telah ada bebunyian yang berasal dari band Van She. Apa dan bagaimanakah band tersebut saya juga kurang begitu paham. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat disini.Β Van She bakal tampil hingga magrib, menurut jadwal. Dan penonton yang hadir juga masih sepi. Mungkin beberapa yang datang bukan berarti ingin melihat penampilan mereka, tapi saya pikir sih mau ngetekin tempat di front row buat Blur, haha.

Waktu terasa begitu cepat, dan magrib menjelang saya merasa harus mencari tempat buat sholat. Celingak celinguk saya liat sekeliling sembari bertanya pada satpam dimana tempat barang sekedar sujud, mereka bilang jauh harus keluar pagar. Saya ga percaya dan saya ingat dulu pernah sholat dikala konser Java Rockinland, dan saya pikir pasti ada tenda yang disediakan, dan voila! Nemu lah saya dan saya bisa magriban sebelum jejingkrakan.

Setelah sholat, dari panggung mini diluar terdengar suara hingar bingar. Coba tebak, yap, Morfem sudah naik panggung. Tak perlu pikir panjang bagi saya untuk datang dan melihat penampilan mereka. Dan benar saja, band yang salah satu personilnya adalah kakak dari teman saya itu sudah menghentak panggung dengan lagu-lagu mereka yang enerjik. Dan vokalis mereka, Jimi Multhazam tampil kocak dan ekspresif. Mantan vokalis Upstairs tersebut menghentak panggung selama kurang dari setengah jam, dan penampilan mereka yang ga lama itu adalah untuk mengisi waktu sebelum Tegan And Sara tampil.

Tegan and Sara on stage. Gambar ga jelas karena kejauhan, hehe.

Tegan and Sara on stage. Gambar ga jelas karena kejauhan, hehe.

Tegan And Sara adalah duo vokalis cewek asal Kanada yang memiliki aliran musik apa ya, ga bisa dibilang rock juga tapi lebih dari sekedar pop. Indie rock lah tepatnya. Sekilas mengingatkan kita pada duo M2M jaman dahulu kala, tapi yang ini lebih macho dan gagah karena bisa main alat musik (well M2M juga ada yang bisa main gitar sih). I mean, Tegan dan Sara ini lebih ngerock lah tampilannya. Dan musiknya pun unik dengan bunyi-bunyian yang ga lazim. Entah yang mana yang namanya Tegan atau Sara, dan saya juga ga sebegitu paham dengan lagu-lagu mereka. Tapi lagu mereka cukup asik meskipun di beberapa part ada yang membosankan. Tegan (atau Sara) beberapa kali mengatakan bahwa Indo panas, like “this is the hottest weather i’ve ever experienced” ya kurang lebih gitu deh dia bilang dengan suara mungil nan menggemaskan layaknya suara dubbing film-film kartun yang tokohnya princess gitu. Dan mereka cukup mengapresiasi beberapa fans yang (mungkin) berdiri di front row, karena dari tempat saya berpijak ga kelihatan.

Tegan And Sara tampil selama kurang lebih setengah jam lewat sedikit. Dan masyarakat Big Sound sudah mulai ga sabaran untuk acara inti yaitu Blur. Eh tapi tunggu dulu, masih ada The Temper Trap dan untuk mengisi jeda waktu, The Brandals main di Simpati Stage di luar. Okelah, daripada menunggu dan lagian perut saya lapar dan haus, saya berjalan dengan menempuh jarak yang lumayan keluar. Di luar dan di tempat food and beverages, pilihan saya jatuh ke hot dog yang well, harganya ga perlu dibilang lah ya, ga awam lah pokoknya haha. Gapapa deh yang penting bisa mengganjal perut sebentar. Sembari makan saya menonton penampilan Brandals yang juga enerjik dan vokalisnya ga bisa diam. Anyway, meskipun kalo dipikir-pikir beda jauh, tapi saya prefer melihat The S.I.G.I.T. dibandingkan Brandals. Tapi yah, masih jauuuhhhh lebih baik Brandals kemana-mana dibandingkan Changcuters *palm face*

The Temper Trap.

Seusai Brandals turung panggung, panitia memberitahukan bahwa The Temper Trap akan segera perform. Segera saja saya beranjak menuju main stage untuk melihat penampilan mereka. The Temper Trap (TTT), band yang digawangi oleh vokalis asal Indonesia, Dougy Mandagi, menurut saya adalah salah satu band bagus potensial yang penampilannya sayang untuk dilewatkan. Namun sayang sekali, animo penonton tak seperti yang diharapkan. Dougy yang seperti pulang kampung malah sampe bilang: “ayo Jakarta, jangan sopan sopan dong” yang menurut saya adalah sindiran kenapa crowds lebih banyak diam sepanjang Temper Trap menggelontorkan beberapa lagu. Well, entah karena memang banyak yang belum tahu atau ga tahu lagu-lagunya, atau di kepala para penonton sudah terbayang Blur Blur dan Blur, maka jadinya ya mereka adem ayem saja. Track pembuka yang sebenarnya bagus luar biasa, Lost Love terkesan datar dan ga ada klimaksnya. Mungkin diantara sederetan penonton di barisan depan reguler festival, hanya saya aja yang bisa mengikuti lirik mereka.

Dougy pun tampil seperti biasa, dengan goyangan dan gaya yang santai dan asik mengikuti irama lagu. Ditambah kualitas vokalnya yang sudah tak diragukan lagi, band asal Australia yang dipimpin oleh orang Indonesia itu menghentak dengan lagu-lagu dari album Conditions dan self-titled album mereka. Penampilan TTT pun lebih banyak memainkan lagu yang tidak enerjik dan upbeat. Bahkan I Need Your Love yang memiliki tempo tinggi tidak dibawakan. Entah karena ingin mengeksplor suara khas Dougy atau lebih banyak ingin bermain dengan instrumen seperti di lagu Rabbit Hole, dan lain sebagainya. Dougy pun menunjukkan kelebihannya dengan menabuh drum juga (atau perkusi) ya seperti itulah. Dan entah kebetulan atau tidak, namun yang saya heran adalah, penonton bule lebih bisa menikmati penampilan TTT dibanding kita penonton tuan rumah. Ini menimbulkan pertanyaan apakah, TTT di luar sana lebih terdengar dan lebih dikenal dibanding kita, negeri dimana sang vokalis berasal. Hmm.. Oke cukup beranalisa ria, karena setelah lagu terakhir yang ditunggu banyak orang, dan sepertinya lagu yang paling banyak orang kenal, atau mungkin SATU-SATUNYA lagu dari TTT yang orang kenal, Sweet Disposition dikumandangkan, venue bergemuruh.

Bagi yang belum pernah mendengar Sweet Disposition dibawakan live, patut dicoba sekali-kali. Dengan intro panjang yang menenangkan disambung petikan gitar khas dari lagunya, membuat lagu yang menurut saya pantas masuk dalam “One of the Best Song In Universe” ini memuaskan untuk didengar. Dari awal sampai selesai, saya tak berhenti bernyanyi bersama Dougy.

Time For Blur.

Oke, Dougy dan teman-temannya pamit, dan inilah saatnya The Band From Essex tampil. Dan mereka ga tampil begitu aja ujug-ujug ya, pasti ada jeda dulu untuk memberi waktu pada kru menyiapkan tata panggung. Gitar-gitar Graham digerek masuk. Dan yang jelas terlihat adalah, drum set Dave yang ditaruh di tengah-tengah stage. Lampu gelap dan penonton sudah mulai gelisah. Dan juga deg-degan! Itulah yang saya rasakan, karena dalam hitungan menit saya akan melihat band yang dulu lagunya saya nyanyikan hampir setiap hari di rumah, melalui kaset, tampil di depan mata saya! And you can’t describe those feelings. Background yang berbentuk tirai diturunkan, dan tampaklah gambar besar jembatan layang (entah dimana itu). Hal tersebut serupa senada seirama dengan nuansa lagu terbaru Blur, Under The Westway.

Saya gelisah, berkali-kali saya melihat jam tangan melihat apakah sudah mulai jam 9. Waktu dimana sesuai itinerary Blur akan tampil. Dan tepat saja, backsound telah berkumandang dan penonton mulai koor Tender. Dan tanpa basa basi, lampu dinyalakan dan britpop heroes itu menempati posnya masing-masing. Dan terakhir giliran Damon Albarn sang vokalis keluar dengan memakai kaos dan jaket kulit, diiringi intro yang sudah tak asing lagi sebagai pembuka setlist, Girls And Boys! Penonton tak kuasa menahan histeria dan mulai melompat-lompat.

Damon tampil enerjik kesana kemari sambil sesekali menyiram air mineral ke barisan depan. Alex sesekali tersenyum dan Graham Coxon, sang dewa gitar tampil tanpa ekspresi. Dave juga nampak serius sambil menggebuk drumnya. Setelah Girls And Boys paripurna dibawakan, meninggalkan saya dengan deru nafas terengah-engah dan keringat bercucuran, dilanjut dengan Popscene, dan There’s No Other Way. Tiga lagu awal yang sangat sangat cukup membuat suara saya serak, habis dan mungkin membuat sebelah dan depan saya kapok ga mau dekat-dekat saya lagi kalo ada konser karena wajah mereka dan kepala sesekali kena sikut atau tabokan tangan tak sengaja (maaf ya mbak) hahaha.

Huft, nampaknya mereka mengerti keadaan audiens dan memberikan kesempatan kepada kami untuk istirahat dan mengatur napas. Oke, Badhead menjadi lagu yang pas untuk berdendang sembari santai juga mengangkat tangan. Nikmat sekali singalong sembari memejamkan mata dan menatap langit yang seakan tersenyum melihat kami semua bermaBLUR ria. Setelah Badhead usai, venue kembali histeris karena the one and only Mr. Coxon mulai mengocok-ngocok gitarnya dengan efek distorsi sembari memberi isyarat pada kami semua untuk tidak terbuai terlena, karena Blur meminta kami kembali menarik urat suara dengan kencang, because of… BEETLEBUM!!!

Whoaa.. Bernyanyilah saya (dan kami) dengan penuh semangat. Seakan ingatan saya kembali ke jaman SMP dimana saya pertama kali kenal Blur dari klip Beetlebum di MTV Most Wanted. Dulu saya nyanyi di depan tivi begitu ada klipnya, dan kini, 10 tahun lebih kemudian, bernyanyi bersama penyanyinya! Oh Gosh, it’s the best experience of music yang bisa terjadi pada diri lo! Setelah Beetlebum usai, intro Out Of Time yang sudah tak asing lagi memenuhi seisi venue. Di lagu ini, saya lebih banyak memejamkan mata sembari berkonsentrasi penuh bernyanyi. Ah, luar biasa bisa koor bareng, tak mengindahkan keringat bercucuran, yang penting nyanyi!

Setelah Out Of Time, suasanya kembali dihangatkan lewat Trimm Trabb. Lagu di album 13 yang dulu saya suka karena nuansa spooky-nya dan kelam. Damon menyanyikan lagu ini dengan penuh penghayatan dan bener-bener bikin gw nyanyi “That’s the way it is… That’s the way it is…” emang bener-bener bikin sakau penampilan Blur malam itu. Meskipun setlist mereka persis sama dengan yang di Hong Kong dan sepertinya ga ada perubahan sama sekali (dan saya udah tau bocorannya duluan), namun tetap aja bikin nyandu dan kita ga sabar menantikan lagu apa yang dibawakan selanjutnya. Setelah Trimm Trabb lanjut Caramel dengan nuansa yang ga biasa, Damon memainkan semacam piano tapi kecil gitu ga tau namanya. Setelah itu, lagu yang sempat hits di akhir 90-an (lagi-lagi dari album 13), Coffee & TV, dibawakan. Dan yang bawa Milky mungkin pada mengacungkan Milky ya. Saya sih ga bawa, namun lagi-lagi, saya singalong sampe suara saya habis (lagi). Dan keringetan lagi setelah lagu selesai. Fiuhh.

“Udah pada puas belum? Lanjut?” begitulah mungkin kalo Damon jadi Ariel Noah, atau sebaliknya. Karena setelah Coffee & TV, inilah momen klimaks (menurut saya) dari Blur Live In Jakarta 2013. Kenapa begitu? Karena disinilah 4 lagu dibawakan secara berurutan dan kesemuanya luar biasa. Catat: Tender, Country House, Parklife, End Of A Century. NAH LO! Setlist di pertengahan konser ini bikin jantung ga sehat bro. Asli. Pertama-tama Tender. Nah udah pada tau kan apa yang terjadi kalo Coxon udah mainin intro Tender, dijamin koor bareng satu venue! Dan bener aja, buat kalian yang ga tahan-tahan atau gampang terenyuh, dijamin nangis ketika nyanyi lagu ini. Mungkin yang bisa nandingin feel nyanyi Tender di konser cuma lagu Oasis yang Don’t Look Back In Anger. Dan saya, saya hanya bisa nyanyi selantang-lantangnya, mengangkat tangan, memejamkan mata, atau sesekali melihat langit hitam tanpa bintang sembari berkata “I’m waiting for that feeling, waiting for that feeling to come..” Aaaarrgghh histeria melanda jiwa raga.

Selesai Tender, jangan cepat puas karena Damon, membuka jaket kulitnya dan dimulailah intro Country House. Yes Country House! Dan disinilah saatnya Damon “turun gunung”, menyapa para penggemarnya lebih dekat, turun stage dan bernyanyi diantara kami. Yes, dia merelakan tangannya dijamah ribuan fans yang duduk di barisan paling depan, dan dia bernyanyi sangat dekat dengan kami, sangat dekat. Dan di tengah lagu ia berkata: “i forgot the lyric, you sing..!!” dan seketika para jamaah Blur larut dalam euforia.

Jangan puas lagi, lagi-lagi karena Parklife sekarang giliran dinyanyikan. Suara belum balik, kaki udah pegel banget namun otomatis bisa lompat-lompat karena inilah saatnya kita berteriak “Parklife!” dan harusnya ada Phil Daniels disini, tapi ga masalah karena Damon seorang sudah bikin suasana Senayan seperti Hyde Park atau bahkan Glastonbury. Shit. Yang punya riwayat penyakit jantung mungkin bisa ngaso dulu di pinggir lapangan. Setelah Parklife, suasana agak selon karena kali ini End Of A Century yang ditampilkan. Selon namun tetep aja, koor bareng jatuhnya. Dan, suara saya sudah menghilang entah kemana.

Setelah rangkaian sadis itu, 2 lagu slow ditampilkan sebelum encore. Death Of A Party dan This Is A Low. Oke, saya akui saya sudah kehabisan nafas. Dan saya cuma bisa bernyanyi seadanya. Saya benar-benar capek. Huft, namun saya tahu konser ini belum selesai dan saya harus menyiapkan untuk akhiran yang benar-benar luar biasa.

Apakah akhiran itu? Setelah Blur ke backstage dan penonton teriak “we want more!” akhirnya mereka berempat muncul kembali dan kali ini Damon bersiap di belakang piano, Under The Westway! Setelah itu Damon mengambil gitarnya, “he’s a twentieth century boy!” For Tomorrow! Saya yang sedang berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaga hanya bernyanyi seadanya, namun tetap takjub dan bengong.

Dan akhirnya, 2 lagu terahir benar-benar khusnul khotimah, akhiran yang baik. Disinilah untuk pertama kalinya, Jakarta merasakan yang namanya bernyanyi bersama The Universal. Yes, The Universal. Well it really really really could happen. Semua memang bisa terjadi. Apapun, termasuk Blur yang sudah 14 tahun saya tunggu datang ke Indonesia. Itu terjadi, dan kita semua merayakan hari keberuntungan kita malam kemarin, here’s our lucky day.

Setelah The Universal, Song 2 yang menjadi penutup sudah lebih dari klimaks. Kaki pegel tak saya indahkan. Di lagu terakhir ini saya harus lompat sekuat tenaga. Dan benar saja, Song 2 menjadi lagu penutup yang klimaks meskipun durasinya hanya kurang dari 2 menit. Setelah itu, Blur mengucapkan terima kasih dan pamit. Benar-benar pamit. Kami semua melongo dan merasakan orgasme telinga yang luar biasa hingga puas. Saya pun sempat terbengong di lokasi sebelum akhirnya berjalan berduyun-duyun keluar karena haus luar biasa. Keringat saya masih gembrobyos (kalo kata orang Jawa), dan saya sempat berdiam diri di depan kipas angin besar di salah satu stand minuman buat ngadem sembari minum air. Disitu saya bengong dan mencoba flash back kembali konser dari awal. Luar biasa. Dalam hati, tinggal Oasis, sama The Cure yang belum, hehe. Ini yang orang sebut haji maBLUR sepertinya.

Dan saya pulang dengan kondisi puas. Blur telah memberikan tontonan kelas dunia. Dan saya beruntung menjadi bagian dari sejarah Jakarta sebagai ibukota britpop Asia. Catatan: iPhone saya yang bermuatan 16 giga bytes full dengan video dan foto, maksud hati mau merekam semua lagu, apa daya hanya beberapa dan di tengah jalan memory full. Hmpf, besok-besok harus bawa digital handycam sepertinya. Niatnya sih memang seperti itu, namun apa daya tak ada yang punya, sekalinya punya, masih handycam kaset yang ga bisa dipindah dalam bentuk file.

Sampai jumpa di naik haji britpop selanjutnya.

link courtesy of: @upiel and Fetboy Slim

Advertisements

13 thoughts on “All The People.. Well, here’s your lucky day! (a review of BLUR Live in Jakarta 2013)

  1. ayanapunya says:

    wuiiihhh Bimo total banget nulisnya. keren, bim! πŸ™‚

  2. Inggrid says:

    Kalo ntn konser, better jgn tau setlistnya Bim.. Lebih wow rasanya! Btw youtube videonya @pokcay lbh bagus2 hasilnya..

  3. heavendrive says:

    Terus terus terus sekarang suara lo udah balikan lagi belom…

  4. heavendrive says:

    Haaayyyy Ciiiinnnnn…

  5. debapirez says:

    dulu ngetrend banget tuh lagu Coffee & TV πŸ™‚

  6. tinsyam says:

    keren kalu nonton dan fans sekaligus nulisnya jadi enak ngikutin ceritanya..
    lagu barunya blur ga ada ya..

    ku suka tuh sweet dipositionnya ttt..

  7. ente kl demen blur mulai smp berarti seangkatan sm ane bro πŸ˜€ ane bela2in dr malang ninggal kerjaan buat nonton salah satu band lejen genre britpop ini. syg sekali oasis sdh bubar. btw Keren tulisannya. salam kenal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: